Hai, terima kasih telah me-review JMA chapter 8: marina malfoy, Rise Star, WatchFang, mrsbubugig, Atsilla, Shine, mikhaela malfoy, Rin, driccha, yanchan, megu takuma, seekersnitch91, Putri Greengrass, deejareed, Beatrixmalf, Lily Purple Lily, Ochan malfoy, mei anna aihina, SeiraAiren, tinaweasley, Last-Heir Black, kira, herianiyulia, Yuiki Nagi-chan, evita yukina, tukang nguntit, Ferra.

Tinaweasley: sequel Louis/Alice nti setelah KNG Hugo.


Selamat membaca JMA chapter 9!

Disclaimer: J. K. Rowling

Prequel: KNG 1,2,3,4,5,6,7,8 dan sequel-sequelnya.

JANGAN MENG-IMPERIUS AKU!

Chapter 8

Tanggal: Sabtu, 14 February 2023

Waktu: 7 p.m

Tempat: Aula Besar

Dear Diary,

Proposal Pesta Valentine Yolanda ternyata disetujui kepala sekolah. Sangat mengejutkan tentu saja, karena Profesor McGonagall tidak pernah tertarik pada sesuatu seperti pesta Valentine. Tetapi, tampaknya Yolanda dan Bryan berhasil berdebat dengannya tentang itu. Menurut kabar, pesta ini jadi diadakan di Hogwarts, dengan syarat tanpa Wiski Api. Tentunya kepala sekolah tidak ingin anak-anak yang mabuk karena Wiski Api membuat keributan di Aula Besar. Namun dia tidak tahu Yolanda sering mengunjungi Hogwarts' Night Club. Mereka pasti, entah bagaimana, akan menyusupkan beberapa botol Wiski Api, tanpa diketahui oleh Bryan, para Prefek dan para staff pengajar yang ditugaskan oleh Profesor McGonagall untuk berjaga.

Seluruh sekolah tampak hadir di pesta Valentine malam ini; mulai dari anak-anak kelas satu yang berpakaian jubah putih dan bergaun pink sampai Mr Root yang memakai jas bulukan berwarna kuning menyala dan berbau kapur barus. Semua tampak menikmati pesta ini; Profesor McGonagall, Profesor Longbottom, Profesor Patil dan beberapa pengajar lainnya kelihatan benar-benar santai; dan aku mendengar anak-anak berseru 'Oh' atau 'Wow' saat memandang dekorasi Aula Besar yang spektakuler. Wajar saja, makanan yang dihidangkan oleh para peri-rumah benar-benar enak, dan dekorasi ruangan, yang didominasi warna pink dan putih sangat indah.

Yah, aku harus mengatakan bahwa Aula Besar sangat berbeda dari biasanya. Suasananya benar-benar romantis. Sebuah panggung berukuran sedang berdiri megah di bagian depan aula, sejajar dengan pintu. Di atas panggung dihamparkan karpet merah yang terbuat dari beludru, sementara sejumlah balon bentuk hati berwarna merah, pink dan putih bertebaran di atasnya. Dua buah patung cupid diletakkan di bawah panggung; salah satu patung memegang busur dan anak panah, sementara patung yang lain memegang sebuah alat musik petik, yang biasa dimainkan oleh para dewa dan dewi Yunani, bentuknya mirip kecapi tapi dengan ukuran lebih kecil—entah namanya apa, mungkin lyra atau lyre, atau apalah yang sejenis dengan itu.

Selain panggung, di aula juga ada sebuah lampu gantung berukuran sangat besar, terbuat dari kaca. Lampu itu digantung di langit-langit tepat di tengah aula, dan menerangi seluruh aula dengan cahaya putih yang terang benderang. Kertas-kertas pink panjang dan berkilau menghiasi seluruh langit-langit aula, sementara di sudut-sudut aula ada patung-patung cupid berukuran lebih kecil dari dua patung cupid di bawah panggung. Meja-meja berbentuk bulat disusun dengan rapi di dalam aula, dihiasi oleh sebuah vase bunga berisi setangkai mawar yang warnanya berbeda di setiap meja. Dan yang membuat suasana pesta lebih meriah lagi adalah cupid-cupid hidup, bukan patung, yang terbang dengan riang di atas kepala anak-anak sambil menebarkan konfeti.

Kurasa aku harus menghargai usaha kedua Ketua Murid dan para Prefek yang telah membuat Aula Besar menjadi lebih indah dari biasanya, meskipun aku tidak setuju dengan para cupid penebar konfeti ini. Mereka menebarkan konfeti hampir di kepala semua orang, tak peduli apakah orang itu sendirian, atau bersama pasangannya. Dan, sambil menyingkirkan konfeti dari rambut, juga dari gaun merah gelap yang kukenakan, aku bertanya-tanya bagaimana Yolanda berhasil mengundang para cupid menyebalkan ini. Namun, mau tidak mau aku mengakui bahwa cupid penebar konfeti jauh lebih berkelas daripada kurcaci-kurcaci pembawa pesan cinta yang pernah diundang di Hogwarts tahun 1992 oleh Profesor Lockhart.

"Makanannya enak," komentar Helen, saat sedang menghadapi piringnya yang berisi sayuran hijau. Kurasa dia sedang berdiet atau apa, karena sayuran seperti itu tidak akan menjadi makanan utama pilihanku saat sedang menghadiri pesta.

Jujur saja, aku tidak pernah berdiet. Sistem metabolisme tubuhku sangat sempurna, sehingga aku tidak perlu berdiet untuk menjaga tubuh agar tetap bugar. Yah, Helen tidak tahu, aku kadang berolahraga malam, berjalan keliling kastil di malam hari. Itulah alasan mengapa aku selalu bertemu anak-anak sok, seperti Nott dan James di malam hari. Tetapi aku tidak lagi melakukannya (jalan-jalan di malam hari), sekarang aku lebih suka berjalan-jalan di pagi hari sambil menghirup udara segar. Nah, mengapa juga aku menceritakan caraku menjaga tubuh agar tetap bugar?

"Peri-rumah berusaha sangat keras malam ini," kata Louis.

Helen dan Louis, keduanya, duduk satu meja denganku. Entah bagaimana mereka bisa ada di sini aku juga tidak begitu mengingatnya. Awalnya hanya aku sendiri di sini, duduk memandang berkeliling aula dengan takjub. Tiba-tiba mereka muncul. Dan tanpa mengatakan apapun seolah aku sama dengan setangkai mawar jingga dalam vase di atas meja, mereka duduk dan mengklaim meja itu sebagai milik mereka. Tidak ada yang bisa kulakukan tentu saja, ini bukan meja pribadiku. Lagipula, aku tidak mungkin membiarkan mereka terus berdiri, karena tidak ada meja kosong lain di dalam aula. Tetapi, setidaknya mereka bisa melibatkanku dalam pembicaraan mereka kan? Bukannya berbicara sendiri dan menganggapku tak tampak.

Meskipun sebal pada mereka berdua, mau tidak mau aku mengakui bahwa keduanya sangat cocok berdua. Helen tampak cantik dalam gaun berwarna pink lembut yang melambai saat dia melangkah, sedangkan Louis luar biasa tampan dengan jas putih bersih yang sempurna di tubuhnya. Tapi, kebalikan dari Helen yang begitu bahagia, Louis kelihatannya tidak ingin berada di pesta ini. Yah, aku kan sudah pernah mengatakan bahwa Louis sebenarnya tidak jatuh cinta pada Helen. Wajar kalau dia tidak menikmati pesta ini. Jika ingin bahagia di pesta Valentine, kita harus menghadirinya bersama orang yang memang benar-benar kita cintai.

Dalam kasus Louis, aku tidak mengerti mengapa dia tetap bertahan bersama Helen, kalau memang dia tidak menyukainya. Mengapa dia tidak meninggalkan Helen? Bukankah dia tahu Helen menyukainya? Helen-lah yang akan patah hati, jika suatu saat nanti Louis meninggalkannya. Dan itu pasti akan terjadi. Kasihan Helen!

Aku memandang Louis dengan sebal. Yah, semua anggota keluarga Potter/Weasley kan aneh-aneh. Cewek-ceweknya menganggap diri mereka pintar dan tahu semua hal, padahal sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa. Karena itulah, mereka kemudian melakukan hal-hal aneh yang membuat mereka terjebak dalam masalah. Dan cowok-cowoknya, egois abis. Aku baru saja menemukan cowok-cowok egois seperti mereka. Aku tidak begitu mengenal Fred, tapi dari cerita anak-anak tentangnya (beberapa hal yang tidak bisa kuceritakan di sini), aku bisa menyimpulkan bahwa dia memang egois. Lalu, James... Huh, tidak usah ditanyakan lagi, dia sudah jelas paling egois dari mereka semua. Mengherankan, dari apa yang kudengar tentang Harry Potter, dia adalah orang yang paling tidak egois yang pernah ada. Tetapi, mengapa anaknya seperti itu? Mungkin itu karena darah Weasley yang mengalir dalam tubuhku. Yah, semua sikap aneh dan temperamen itu mungkin karena darah Weasley-nya. Kemudian Louis... Lihat saja, dia mempertahankan Helen di sisinya, meskipun dia tidak mencintainya. Bukankah itu namanya egois? Padahal dia tahu dengan pasti bahwa Helen sangat menyukainya. Ah sudahlah, semua itu bukan urusanku. Aku tidak ingin terlibat.

Memandang Helen dan Louis yang masih tak mempedulikanku, aku tiba-tiba menyadari alasan mengapa mereka mengabaikanku. Yah, seharusnya aku sudah menyadarinya sejak awal, jadi aku tidak perlu terkejut. Para anggota keluarga Potter/Weasley mungkin telah dilarang oleh James untuk berbicara denganku. Dan mereka tentu tetap tidak akan bicara denganku, meskipun aku duduk di depan mereka ataupun kami berbagi meja yang sama. Sementara itu, sikap acuh Helen padaku mungkin ada hubungannya dengan Bryan, yang selama beberapa minggu terakhir ini sering menghabiskan waktunya bersamaku. Kukira Helen tidak suka aku dekat dengan Bryan, meskipun dia seharusnya sudah tahu bahwa kami tidak berkencan.

Menurutku, kedua alasan itu adalah alasan aneh dan kekanak-kanakan. Tetapi, yah, karena yang aku hadapi adalah orang-orang aneh, aku akan berusaha menerima itu sebagai sesuatu yang wajar. Kurasa aku adalah satu-satu orang waras yang terlibat di sini. Ataukah aku juga gila? Sudahlah, mengapa aku mempermasalahkan hal itu? Terserahlah, mau mengabaikanku, mau membenciku aku tak peduli! Asalkan aku masih bisa makan dan minum tanpa ada yang melarang.

Helen meletakkan sendok dan garpunya, lalu memandang ke panggung dengan gelisah. "Aku tidak yakin Yolanda benar-benar serius saat mengatakan bahwa mereka berhasil mengundang Snow Plan ke acara ini."

Yah, Snow Plan adalah alasan mengapa aku meninggalkan ruang rekreasi yang hangat dan melupakan kesedihanku karena James selama beberapa waktu untuk ada di sini malam ini. Kurasa Snow Plan juga adalah alasan mengapa hampir seluruh Hogwarts hadir di sini malam ini, karena tidak semua orang sedang terlibat dalam romantisme, sehingga perlu mengikuti pesta Valentine, juga tidak semua orang menyukai keramaian dan pesta-pesta seperti ini. Tetapi, aku yakin hampir seluruh Hogwarts menyukai Snow Plan. Karena tahu hal ini, Yolanda (sebelum pesta) dengan penuh semangat telah menyebarkan ke semua orang bahwa bintang tamu malam ini adalah Snow Plan. Jadi di sinilah aku malam ini berusaha sebisa mungkin untuk tidak mencari James di antara kerumunan anak-anak, dan mencoba menghabiskan pasta ikan lezat di depanku.

"Semua orang masih makan. Acara utamanya kan setelah makan malam," kata Louis, juga memandang panggung.

Setelah beberapa saat hening, Helen melirikku. Akhirnya dia menyadari bahwa aku juga ada di sini. Aku senang, dia tidak menganggapku tak tampak lagi. Mencoba bersikap ramah, aku tersenyum, tapi dia segera membuang muka dan mengalihkan pandangannya pada Louis. Baiklah, aku akan menutup mulutku sepanjang malam.

"Mana James?" tanya Helen pada Louis.

"Entahlah," jawab Louis tak peduli. "Mungkin bersama Farley. Kau tahu kan mereka berkencan."

"Oh," kata Helen, tampak kecewa. Dia memandangku dan mengangkat bahu.

Aku mendengus dalam hati, setelah pelan-pelan menebak apa yang dipikirkan Helen. Kurasa dia kecewa, karena James bersama Farley dan bukannya sendirian, seperti yang diharapkannya. Dia mungkin ingin aku bersama James lagi, agar Bryan bisa bersama Yolanda. Sebenarnya dia tidak perlu kuatir. Meskipun akhir-akhir ini aku sering bersama Bryan, tidak ada yang terjadi di antara kami. Bryan adalah sahabatku dan aku tidak akan jatuh cinta lagi padanya, karena aku mencintai James. Seharusnya Helen sudah tahu tentang itu, kan?

"Selina!"

Bryan, orang yang baru saja kupikirkan, datang dan duduk di sampingku. Helen tampak sebal, dan entah kenapa, Louis juga. Apakah dia mungkin menyukaiku dan cemburu pada Bryan? Hah, mana mungkin? Suasana Aula Besar yang romantis ini membuatku memikirkan hal aneh.

"Bukankah kau seharusnya bersama Yolanda?" tanya Helen.

"Benar, Ketua Murid kan harus mengawasi jalannya pesta," ujar Louis.

Bryan tidak menghiraukan mereka, tapi memandangku. "Aku senang kau mau datang."

Aku tersenyum padanya. "Kau kan tidak mengharapkan aku melewatkan Snow Plan."

Bryan tertawa kecil, memandangku, lalu berkata, "Kau cantik..."

"Terima kasih," kataku, lalu mengedip. "Kau juga tidak buruk. Beberapa anak kelas tiga di ujung sana memandangmu dengan terpesona." Aku mengangguk ke beberapa anak kelas tiga yang duduk beberapa meja dari tempat kami.

Bryan memandang mereka, memandangku lagi, lalu mengangkat bahu.

Aku tertawa. "Oh ayolah, mereka tidak seburuk itu. Kau harus mengajak salah satu dari mereka untuk berdansa..."

"Mungkin nanti," kata Bryan, lalu kami tertawa bersama.

Suara tawa kami tampaknya membuat Helen dan Louis semakin sebal.

"Yolanda tampak benar-benar bercahaya dengan gaun pink itu," kata Helen, mengangguk pada Yolanda yang duduk tidak jauh dari meja kami, dan tampak sedang berbicara serius dengan beberapa orang yang di dada mereka terdapat pin bertuliskan hurup besar P. Yah, dia memang terlihat sama berkilaunya seperti Nona Kelabu dengan gaun pink berimpel itu.

Dan Louis berkata dengan ceria, "Lihat itu James!" Dia menunjuk James dan Farley yang baru saja masuk ke Aula Besar, lalu memandangku. "Dia tampan, bukan?"

Apakah Louis memang perlu menanyakan pertanyaan itu? Pertanyaan itu tidak perlu ditanyakan, karena James jelas-jelas sangat tampan dengan jas hitam itu. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya, dan aku bahkan tidak bisa bernafas dengan baik saking terpesonanya. Oh ayolah, kendalikan dirimu!

"Oh, dia memang sangat tampan," kata Helen dengan gaya berlebihan, lalu dengan teriakan keras dia memanggil, "James, Gemma!"

James dan Farley yang masih memandang berkeliling mencari meja, segera berpaling untuk memandang Helen.

"Kemarilah!" panggil Helen.

Oh no! Apakah Helen tidak tahu bahwa aku tidak ingin berada di dekat James saat dia sedang bersama Farley? Apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa bersembunyi, mereka telah melihatku. Lagipula mau sembunyi di mana? Lampu di aula terlalu terang dan tidak ada meja kosong lain sejauh ini.

James dan Farley segera berjalan ke arah kami.

"Sebaiknya kau menyingkir Eastley," kata Louis. "Mejamu bukan di sini, kau harus duduk bersama Ketua Murid dan para prefek, bukan?"

Bryan menatapku, kuatir. "Kau tidak apa-apa?" Dia sepertinya menyadari ketidak-nyamananku.

"Ya, aku—"

"Tentu saja dia tidak apa-apa, Bryan," jawab Helen sebal. "Apakah kaupikir kami akan menjadikannya makanan penutup?"

"Aku baik-baik saja," kataku tersenyum pada Bryan, tak ingin membuatnya cemas.

"Aku ada di sana kalau kau memerlukanku," kata Bryan, menunjuk meja tempat Yolanda dan para Prefek duduk.

Aku mengangguk mengerti.

"Aku pergi dulu," katanya lagi, lalu berjalan meninggalkan meja kami, sementara Helen dan Louis mendelik padanya.

"Kau terlalu berlebihan, tahu!" geram Helen padaku.

Aku menatapnya bingung. "Apa maksudmu?"

"James, Gemma, hai!" Helen menyapa James dan Farley yang sudah ada di dekat meja kami, dan tak mempedulikanku.

"Hai Helen, Louis!" kata Farley ceria, lalu mendelik padaku, sementara James menatap Louis dengan tajam.

"Helen yang memanggilmu, bukan aku!" kata Louis, lalu mengangkat bahu. "Tetapi kalau kau ingin berdiri, silakan saja!"

"Semua meja sudah penuh, James," kata Helen. "Ini satu-satu meja yang tersisa. Atau kau ingin bergabung dengan Mr. Roots dan Madam Pince?"

Mr Roots dan Madam Pince duduk berdua di meja yang letaknya paling jauh dari panggung.

Farley mendengus, memandang berkeliling lagi. Menyerah, dia segera menarik kursi di dekat Helen. James juga menyerah, dia menarik satu-satu kursi yang tersisa, yaitu di dekatku, dan duduk.

Jantungku berdebar kencang tanpa bisa kucegah. Wajahku terasa panas. Dan untuk menutupi wajahku yang mungkin sudah sama merahnya seperti gaunku, aku menunduk memandang pasta ikan yang ada di depanku, mencoba untuk makan lagi. Tapi aku tidak bisa makan, tanganku gemetar saat aku memegang garpu. Oh, sial! Apakah tidak bisa makan tanpa merasa gugup?

"Mengapa kalian terlambat?" tanya Louis, setelah James menancapkan garpu dan pisau ke beef steak di depannya.

"Apakah kau perlu menanyakan pertanyaan itu?" James balik bertanya. "Tanya Gemma!"

Farley tampak tak sabar. "Aku kan harus tampil cantik. Ini malam yang istemewa..."

"Gemma telah empat kali mengganti gaunnya, sampai dia mendapatkan gaun yang cocok. Dan tidak ada yang berubah dari wajahnya, meskipun dia memakai gaun yang berbeda."

Louis tertawa, sementara Farley cemberut.

"Teman sekamarku mengatakan bahwa warna merah tidak cocok dengan rambutku," katanya membela diri.

James memutar bola matanya, lalu kembali menekuni beef steak-nya.

Sementara percakapan itu berlangsung, aku terus menunduk memandang pasta ikan. Aku benar-benar ingin makan, tapi aku tidak bisa menelan. Yah, ini adalah cara diet yang bagus. Panggil saja orang yang sedang kita sukai untuk duduk di samping kita, dan kita tidak akan bisa makan dengan baik karena salah tingkah.

"Selina, kau sendirian malam ini?" tanya Farley, memberiku senyum licik yang membuatku segera mempersiapkan diri. Aku tahu dia pasti tidak akan melewatkan kesempatan untuk menghinaku. "Dengan penampilan seperti itu, tentu saja tidak ada yang mengajakmu kencan."

Penampilan seperti itu? Apa maksudnya? Kurasa gaunku cantik, dan aku merasa nyaman memakainya. Buat apa memakai gaun yang satu nomor lebih kecil, hanya untuk membuat bentuk tubuh terlihat jelas dan membuat kita sulit bernafas?

"Cowok juga tidak akan tertarik dengan sikapmu yang sok dingin dan sok jual mahal itu," lanjut Farley.

Sok dingin? Sok jual mahal?Kapan aku bersikap seperti itu?

Aku menegarkan diri dan memandangnya dengan tajam. "Sebenarnya Farley, jika matamu tidak hanya memandang dirimu sendiri, kau akan melihat bahwa Bryan dan aku tak terpisahkan selama beberapa minggu ini... Aku duduk sendirian di sini, karena Bryan harus duduk bersama sesama Ketua Murid. Tetapi aku yakin dia tidak akan melewatkan dansa bersamaku."

Itu bohong, aku tahu. Aku memang datang sendirian ke sini, tapi aku tidak ingin James tahu bahwa aku tidak berhubungan dengan siapa pun saat dia meninggalkanku. Harga diriku melarangku untuk terlihat menyedihkan di depannya. Sedikit kebohongan tidak masalah selama aku bisa membuat wajah Farley merah padam karena marah. Tetapi, aku merasa bersalah pada Helen yang mendelik padaku dari atas sayuran hijaunya. Dan juga merasa heran, saat melihat Louis memberikan pandangan prihatin pada James, yang menancapkan garpu ke beef steak-nya dengan sebal. Yah, kurasa Louis pasti kasihan pada James karena memiliki Farley, cewek sok tahu itu, sebagai pacar.

"Tapi sebagai Ketua Murid, Bryan harus berdansa dengan sesama Ketua Murid," kata Helen. "Dia harus membuka acara dansa bersama Yolanda..."

Aku berusaha tersenyum ceria. "Tentu saja, aku bisa menunggu."

"Kita kan tidak harus berdansa dengan pasangan kita," kata Helen cepat, lalu tersenyum, tampaknya dia baru saja mendapatkan sebuah ide menarik. "Ya, kita bisa berdansa dengan orang lain. Louis, kau bisa berdansa dengan Gemma, dan kau James, kau bisa berdansa dengan Selina... Mau kan, Selina?" Dia mendelik padaku.

Aku mengabaikannya dan kembali menghadapi pasta ikan-ku. Sedetik kemudian aku merasakan kakiku ditendang dengan keras di bawah meja. Beruntung, aku berhasil menyamarkan jeritan kesakitan dengan berdehem keras. Aku tidak ingin menarik perhatian orang padaku.

"Kau mau berdansa dengan James, kan, Selina?" Helen masih terus mendelik.

"Kurasa itu ide yang bagus," kata Louis, tersenyum pada James, yang masih menyantap makan malamnya. "Bosan juga kan, kalau terus berdansa dengan orang yang sama sepanjang malam."

"Tetapi, kita tidak bisa memaksa seseorang berdansa dengan orang yang tidak disukainya," kataku, mendelik pada Helen, lalu berusaha balas menendang kaki Helen di bawah meja. Namun tarikan nafas tajam di sampingku membuatku sadar bahwa bukannya kena kaki kaki Helen, tapi kaki James.

James meletakkan pisau dan garpunya, lalu memandang berkeliling meja—mencari siapa yang baru saja menendang kakinya. Louis dan Helen tampak santai, mendengarkan Farley yang berkata, "Aku tidak mau berdansa dengan dengan orang lain. Aku mau berdansa dengan James."

Akhirnya James memandangku. Aku menghindari pandangannya, dan berusaha bersikap santai (memandang Farley dengan tertarik) seolah aku tidak baru saja menendang kakinya. Namun, ternyata warna merah di wajahku mengkhianatiku.

"Mengapa kau menendang kakiku?" dia bertanya dalam bisikan tajam, sementara Farley masih mengumumkan penolakannya untuk berdansa dengan Louis.

"Bukan aku," jawabku berbohong, masih memandang Farley yang sekarang berkata, "Aku tidak mau James berdansa dengan orang lain, apalagi dengan Selina. Aku tidak mau!"

"Kau yang melakukannya!" bisik James, berkeras.

"Mengapa? Kau takut, Gemma? James dan Selina sudah putus. Tidak ada yang perlu ditakutkan," kata Helen.

"Bukan aku yang melakukan," balasku, masih tak memandangnya. "Mengapa kau menuduhku?"

"Kaulah satu-satunya orang di meja ini yang terlihat merasa bersalah..."

"Benar, tidak perlu takut!" kata Louis. "Satu kali berdansa tidak akan membuat pasangan yang sudah berpisah kembali berkencan."

"Seharusnya kau tidak bicara denganku, kan? Seingatku, kau pernah berjanji untuk tidak berbicara dengan denganku lagi."

"Aku memang pernah berjanji seperti itu. Tetapi aku tidak akan bisa menepati janjiku, jika kau melakukan hal-hal tak masuk akal hanya untuk menarik perhatianku," bisik James tajam.

Apa? Aku melakukan hal-hal tak masuk akal untuk menarik perhatiannya? Oke, aku memang pernah dengan sengaja menumpahkan sisa ramuan Veritaserum ke jubahnya di kelas Ramuan. Aku pernah sengaja memantrainya kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, meskipun dia bukan partnerku. Aku pernah sengaja men-Transfigurasinya menjadi setengah orang utan di kelas Transfigurasi. Dan, aku juga pernah beberapa kali sengaja menabraknya di koridor. Tetapi, aku tidak sengaja menendang kakinya.

"Aku tidak melakukan hal-hal seperti itu," bisikku, sementara Helen berkata, "Ya, aku setuju denganmu, Louis. Jika sekali berdansa bisa membuat pasangan kembali bersatu, tidak akan ada lagi sakit hati dan airmata."

"Tetapi aku tetap tidak ingin Selina berdansa dengan James... Selina tidak bisa dipercaya. Bisa saja, dia merebut James dariku," kata Farley, cemberut, mendelik padaku.

Aku tersenyum kaku sambil menggeleng, sedangkan James berbisik, "Kau memang melakukan hal-hal seperti itu... Apakah kau ingin membalaskan apa yang sudah kulakukan padamu? Mengapa? Bukankah kau sudah memaafkanku?"

"Selina tidak akan merebut James darimu, dia punya Eastley," kata Louis, sementara aku berpaling untuk memandang James—hal yang terus kuhindari sepanjang percakapan berlangsung.

Dan wajar jika aku berusaha untuk tidak memandangnya, karena saat memandangnya, seperti saat ini, aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya. Aku melupakan apa yang ingin kukatakan, yaitu tentang aku yang sudah memaafkannya, tentang aku yang tidak akan melakukan hal buruk untuk membuatnya sengsara, juga tentang aku yang tidak sengaja menendang kaki. Ya, aku melupakan semuanya saat menatapnya.

Dia juga sedang menatapku, dan sesuatu dalam matanya membuatku tak bisa bernafas dengan baik, jantungku berdebar kencang. Semua orang di sekelilingku seolah lenyap. Suara Helen, Louis dan Farley yang masih berdebat tentang pasangan dansa tak terdengar lagi. Waktu seolah berhenti, dan dunia hanya berpusat pada dia dan aku. Tidak ada seorangpun di dunia ini, kecuali kami.

Oh, mengapa aku merasa seperti ini? Mengapa dia membuatku seperti ini? Bukankah di sini ada Farley, pacarnya? Seharusnya tidak boleh seperti ini! Dan aku—aku ingin sekali menciumnya.

Beberapa detik berlalu, dan aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi wajahku hanya tinggal beberapa inci dari wajahnya. Tanpa sadar aku sudah memajukan wajahku ke wajahnya. Nah, apa yang kulakukan? Apakah aku benar-benar tidak mempedulikan sekelilingku dan akan menciumnya? Benar, aku hanya ingin berciumannya dengannya sekarang!

"Kau kadang membuatku bingung, tahu tidak?" katanya serak, di wajahku.

"Apa?" tanyaku agak bingung. Sesaat tadi aku tidak memikirkan apa-apa, selain ingin menciumnya.

Dia mengulurkan tangan, menyentuh anting yang berada di telinga kiriku, lalu memandangku selama beberapa saat. "Dan, kalau kau terus menatapku seperti itu, aku akan menciummu, lalu kita berdua akan menyesalinya setelah itu."

"Aku—" Aku ingin berkata bahwa aku tidak akan menyesali apapun, aku akan senang kalau kami berciuman. Tetapi, suara Farley yang tajam dan marah terdengar berkata, "Apa yang kalian lakukan?"

Aku berpaling dan melihat Farley sedang mendelik padaku. James dan aku lalu saling menjauhkan diri. James tampak santai, sedangkan aku berusaha menghindari pandangan semua orang dengan meraih garpu untuk memakan sisa pasta ikanku yang sudah dingin.

"Kami tidak melakukan apa-apa," kata James, memandang Farley dengan tak sabar. "Aku hanya membisikkan sesuatu padanya."

"Apa? Apa yang kaubisikkan padanya?" tuntut Farley. Dan, dari sudut mataku, aku melihatnya mendelik padaku.

"Aku bilang..." James memandangku, dan aku mengangkat muka untuk memandangnya—ingin tahu apa yang akan dikatakannya pada Farley. "Kau malam ini sangat cantik... Aku benar-benar terpesona," katanya, menatapku beberapa detik lagi, lalu berpaling dan tersenyum pada Farley.

"Ya, dia memang berkata seperti... kau memang sangat cantik, Farley," kataku, tersenyum pada Farley, dengan wajah yang sama panasnya seperti kobaran api.

"Oh, James, aku sudah tahu kau akan menganggapku cantik," kata Farley tersenyum ceria pada James.

Aku tahu kata-kata itu bukan untuk Farley, tapi untukku. Rasanya senang karena dia menganggapku cantik, tapi aku menyesal karena tidak bisa balas memuji penampilannya. Tidak di depan Farley, tentunya.

"Selina," kata Helen tiba-tiba. "Bisakah kau menemaniku ke kamar mandi?"

"Kau kan bisa pergi sendiri, mengapa dia harus menemanimu?" tanya Louis.

"Cewek tidak pernah pergi ke kamar mandi sendirian... Ayo Selina!" kata Helen memaksa, mendelik padaku.

"Baiklah," kataku, lalu berdiri. Tetapi, seseorang telah mencengkram pergelangan tanganku tanpa diketahui oleh yang lain.

Aku memandang tanganku, lalu memandang James. Dia telah mencengkram tanganku dengan kuat membuatku tak bisa bergerak. Tetapi, dia tidak memandangku, dia sedang memandang Farley yang berkata, "Kurasa malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk kita berdua, James."

"Selina, ayo!" kata Helen tak sabar. Dia juga sudah berdiri dan sudah berjalan beberapa langkah dari meja kami.

Aku menarik tanganku, dan James melepaskannya. Saat aku memandangnya, dia mengedipkan sebelah matanya padaku, membuatku hampir saja pingsan karena tak kuat menanggung efek kedipan maut.

Dengan tak sabar, Helen segera menyeretku meninggalkan Aula Besar dan memojokkanku di Aula Depan.

"Nah?" tuntut Helen.

"Nah apa?" tanyaku bingung. "Bukankah kita harus ke kamar mandi?"

"Omong kosong," katanya tak sabar. "Jadi, bagaimana kau dan James? Jangan bohong! Aku tahu tadi dia hampir saja menciummu."

"Hah?"

"Ayolah, meskipun kalian bisa menipu Gemma, tapi kalian tidak bisa menipuku. Katakan padaku!"

"Tidak ada yang perlu dikatakan," kataku menyesal. Memang tidak ada yang perlu dikatakan. "Tidak terjadi apa-apa..."

"Aku akan memakan telur Doxy, kalau tidak terjadi apa-apa," kata Helen, memandangku dengan sebal. Setelah menarik nafas dia berkata lagi, "Aku akan memaksa Louis menyingkirkan Gemma. Dan kau bisa berdansa dengannya... Kalian bisa jadian lagi dan Bryan bisa bersama Yolanda."

Tak percaya, aku memandang Helen. Dia rupanya belum menyerah juga, meskipun aku sudah pernah mengatakan bahwa Bryan dan aku sekarang tidak lebih dari seorang sahabat.

"Hei, kalian di sini?" tanya suara Farley. Dia baru saja muncul dari pintu Aula Besar, dan sedang berjalan ke tempat kami.

"Gemma," kata Helen.

"Kupikir kalian di kamar mandi..."

"Yah, Selina dan aku sedang membicarakan beberapa hal yang tidak boleh dikatakan di depan cowok-cowok itu," kata Helen, tersenyum penuh arti padaku.

"Sebenarnya, aku juga ingin berbicara denganmu, Selina," kata Farley, memandangku.

Aku mempersiapkan diri untuk mendengar apa yang dikatakan Farley. Aku tahu apapun yang dikatakannya pasti bukanlah hal yang menyenangkan.

"Menyerahlah, Selina!" katanya. "James sekarang sudah benar-benar jatuh cinta padaku. Dia milikku dan tidak akan pernah lagi menjadi milikmu."

Aku memandangnya tanpa berkedip. "Aku tahu. Kau tidak perlu mengatakannya..."

Farley tersenyum, menerawang. "Kami sudah melakukannya dan itu adalah malam yang paling indah dalam hidup kami..."

"Melakukannya?" tanyaku tak mengerti, sedangkan Helen memandang tak percaya pada Farley.

"Kami tidur bersama," kata Farley tersenyum ceria. "Kau tahu, dia sangat hebat... Berciuman dengannya membuat seluruh tubuhku luluh di pelukannya. Sentuhannya membuatku bergetar dan—"

"Diam!" aku tidak sadar telah meneriakkan kata itu. Suaraku bergema di Aula Depan yang kosong dan dingin. Namun, dinginnya udara di aula ini, tidak sedingin udara yang masuk ke dalam hatiku. Membayangkan apa saja yang dilakukan James dan Farley, membuat hatiku terasa perih.

Dengan susah payah aku menahan airmata, dan memandang Farley yang tertawa ceria. Menahan keinginan untuk mencakar wajahnya, aku berkata, "Aku tidak ingin mendengarkannya... Aku tidak ingin dengar apapun yang kau dan James lakukan..."

"Oh, aku tahu kau juga pernah merasakan hal yang sama saat bersamanya," katanya, tersenyum licik. "Tetapi, sekarang jangan pernah berharap lagi! Kuberitahu, ya, James tidak menyukaimu. Dia hanya kasihan padamu, karena kau melemparkan dirimu padanya. Kau tahu apa yang dia katakan tentangmu? Dia bilang, menciummu seperti mencium batu..."

"Bohong!" aku memandang Farley penuh kengerian.

Tidak mungkin! Menciumku tidak mungkin seperti mencium batu. James tampak senang-senang saja saat menciumku. Dia mencintaiku, tidak mungkin dia merasa seperti itu.

Sekali lagi, aku memandang Farley yang masih tersenyum ceria. Tiba-tiba aku menyadari bahwa mungkin bagi James, dibandingkan mencium Farley, Yolanda dan beberapa cewek lain, berciuman denganku adalah yang paling buruk. Aku kan tidak pernah dilatih untuk berciuman, aku hanya pernah berciuman dengannya, juga sekali dengan Bryan. Aku tidak tahu kalau teknik menciumku sangat mengerikan.

"Dia terlalu baik hati untuk mengatakannya padamu secara langsung," kata Farley lagi. "Oh ya, dia pernah bercerita tentang malam Halloween, di mana kau memaksa agar dia menciummu...Fluge, Fluge, dari luar kau tampak berkelas dan bermoral, tapi aku tidak pernah tahu bahwa kau sebenarnya tidak ada bedanya dengan pelacur..."

Aku berdiri terpaku di tempatku. Kepalaku pusing dan pandanganku kabur oleh airmata. Aku sakit hati. Aku tidak menduga James mengatakan semua hal ini pada Farley. Mengapa? Apakah seseorang memang harus bercerita tentang mantan pacarnya pada pacar terbarunya? Apakah dia perlu menceritakan pada pacarnya semua yang telah kulakukan bersamanya? Apakah dia tidak bisa menyimpan hal itu untuk dirinya sendiri?

"Satu hal lagi, James berkata dia senang terbebas dirimu..." Farley menyeringai. Dan aku, setelah menguatkan diri, berbalik dan melangkah masuk kembali ke Aula Besar. Tak menghiraukan Helen yang berteriak memanggilku.

Aula Besar telah berubah saat aku masuk. Lampu kaca yang digantung di langit-langit ruangan telah dipadamkan. Sekarang cahaya hanya berasal dari patung-patung cupid yang ada dalam aula. Dan dua patung cupid di depan panggung bercahaya lebih terang daripada yang lain. Semua meja dan kursi juga telah disingkirkan merapat ke dinding, meninggalkan lantai kosong di tengah ruangan, di mana beberapa pasangan sedang berdansa mengikuti musik yang dimainkan oleh para personil Snow Plan di atas panggung.

Sambil menghapus airmataku, aku berjalan menghindari anak-anak yang berkeliaran di aula menuju meja kosong di sebelah kiri panggung, tepat di dekat sebuah patung cupid yang bercahaya. Dari sini aku bisa melihat panggung dengan jelas. Di atas panggung vokalis Snow Plan, James Ryan sedang menyanyikan lagu Dekat Denganmu.

Kehidupan terus berjalan dan mimpi indah pun berakhir

Jadi aku segera melupakan mimpi itu untuk melanjutkan hidupku

Tak pernah tahu bahwa mimpi itu sangat dekat, dan kita sedang menunggunya.

Namun aku tahu tangan ini ingin memelukmu selamanya.

Kita bahagia, dan susah sekali percaya ini hanya pura-pura

Dan kebersamaan kita hanyalah sementara

Sekarang kau ada di sampingku dan besok semua akan berbeda

Kau sangat dekat, tapi terasa sangat jauh

Sementara di samping James Ryan,Scodior O'Connoly memetik gitarnya dengan lembut, menciptakan irama melodi yang menyentuh hati. Airmataku menetes lagi tanpa bisa kubendung. Ah, mengapa mendengarkan lagu ini membuatku menangis? Aku menghapus airmataku, lalu dengan menyesal memandang Scodior O'Connoly. Kalau saja dia tidak setua ini dan kalau saja aku tidak jatuh cinta pada James, aku mungkin akan jatuh cinta padanya.

"Cupid sialan!" aku mendengar seseorang mengumpat. Kedengarannya seperti suara Rose.

Aku berpaling dan melihat Rose, yang berdiri beberapa meter dari tempatku duduk, sedang memandang sebal pada cupid yang terbang di atas kepalanya sambil menebarkan konfeti.

"Cukup!" katanya lagi.

Si cupid terkikik, lalu terbang menjauh untuk menebarkan konfeti ke kepala Lily dan Lysander Scamander yang berdansa dengan kaku beberapa meter dari tempat Rose berdiri.

"Kau terus menginjak kakiku, Lily Luna," aku mendengar Lysander berkata, saat si cupid terbang untuk menebarkan konfeti ke pasangan lain.

"Oh, maafkan aku, Lysander," Lily mendesah dengan sangat manis, sama sekali tidak seperti Lily. "Aku benar-benar tidak pandai berdansa. Yah, jika kau ingin kita berhenti berdansa—"

"Tidak apa-apa... Terus berdansa!" geram Lysander.

Lily berpaling dan mengedip pada Rose yang terkikik geli di tempatnya.

Yah, kurasa Lily sedang melakukan misi musuh dalam selimut-nya pada Lysander Scamander. Sebenarnya, aku tetap tidak yakin bahwa misi ini akan berhasil.

"Merasa bahagia, karena sepupumu berbahagia, Weasley?" Scorpius Malfoy sudah berada di dekat Rose. "Bukankah kau seharusnya merasa iri karena tidak ada yang mengajakmu berdansa?"

Rose memberi Malfoy pandangan menghina, lalu berjalan menuju meja kosong di sebelah mejaku. Malfoy mengikutinya, dan mereka duduk di sana, tanpa menyadari bahwa aku duduk di dekat situ.

Aku merasa bersalah. Aku ingin beranjak dari tempat ini, karena sebentar lagi akan dilakukan pembicaraan pribadi ala Scorpius dan Rose. Sungguh, aku tidak ingin menguping pembicaraan mereka! Tetapi, aku mau ke mana? Ini adalah tempat sempurna untuk memandang Scodior O'Connoly.

"Tinggalkan aku, Malfoy!" kata Rose, sementara cupid lain yang mencium roman dalam jarak satu kilometer segera terbang menghampiri meja mereka.

Malfoy bersandar dengan santai di kursinya, memandang lantai dansa, sedangkan si cupid menebarkan konfeti di atas kepalanya. Dia mengumpat sambil menyingkirkan konfeti dari matanya, sementara si cupid beralih pada Rose, yang langsung memiringkan kepalanya, sehingga seluruh pundaknya tersiram konfeti. Si cupid terkikik, lalu meninggalkan mereka. Kurasa untuk mencari roman lain yang tercium olehnya.

"Kau tidak berdansa?" tanya Rose, menyingkirkan konfeti dari pundaknya yang terbuka.

"Kau tidak mau berdansa denganku," kata Malfoy santai.

Rose mendelik, lalu merapikan gaunnya.

"Gaun apa itu?" tanya Malfoy, memandang gaun Rose.

"Jangan berkomentar!"

"Apakah gaun ini merupakan salah satu rancangan Miss Weasley yang terkenal aneh itu?"

"Tutup mulut, Malfoy!"

Aku memperhatikan gaun Rose dan menyadari bahwa kata-kata Malfoy memang benar. Gaun Rose tampak aneh, tapi juga seksi sebenarnya. Sebelah kiri gaun itu terbuka dari pundak ke dada, sementara bagian perut sampai pinggang penuh cabikan yang artistik. Bawahannya sebatas lutut dan jatuh dengan manis di kaki Rose yang panjang. Yah, gaun itu cantik.

"Mengapa kau tidak memakai gaun biasa saja seperti gadis itu?" kata Malfoy, mengangguk pada seorang gadis berambut pirang yang lewat di depan mereka. Gadis itu memakai gaun berpotongan sederhana, tapi elegan.

"Pakaianku bukan urusanmu, Malfoy!" gertak Rose.

"Ayolah, Red, cobalah untuk bicara dengan lebih sopan!" kata Malfoy lagi. "Lihat, semua orang sedang bahagia! Suasananya begitu romantis... Mengapa kau merusaknya dengan wajah cemberutmu itu? Wajahmu yang sudah jelek, semakin jelek sekarang!"

"Malfoy, silakan kau mencari sobat Slytherin-mu sendiri, jika ingin berbincang-bincang tentang penampilan seseorang atau tentang hal-hal romantis. Jangan libatkan aku, karena aku punya urusan lain yang lebih penting!"

"Urusan yang lebih penting? Menyusun rencana jahat bersama Lily Potter?" tanya Malfoy, melirik Lily dan Lysander di lantai dansa.

"Bukan urusanmu!" geram Rose.

"Tahu tidak, Red, aku sudah menghabiskan beberapa menit mencarimu, dan aku tidak akan pergi ke manapun setelah menemukanmu."

Rose memandangnya, bingung. "Mengapa kau mencariku?"

"Untuk menjagamu agar tidak terlalu mabuk dan menghabiskan malam dengan orang tak dikenal."

Rose mendengus. "Aku tidak akan mabuk... Dan, Malfoy, aku tidak ingin membicarakan hal itu lagi, karena sekarang aku sedang berusaha untuk melupakannya."

"Tetapi, aku tidak akan membiarkanmu melupakannya... Ingat, aku sudah bilang akan mengirim artikel tentang kita ke Witch Weekly!"

Rose tertawa sinis. "Kau tidak akan melakukannya, Malfoy... Kalau artikel itu tersebar luas, nama keluargamu juga akan hancur. Kau tidak mau keluargamu malu, kan?"

"Kami sudah biasa, Red... Nama keluargaku sudah hancur sejak tahun 1998, saat Pangeran Kegelapan kalah melawan Harry Potter. Kekayaan dan loyalitas kami pada Kementrian Sihir-lah yang membuat pandangan orang terhadap keluarga Malfoy perlahan-lahan berubah setelah perang Hogwarts itu. Dan kami bisa bertahan... Tetapi, masih ada beberapa masyarakat sihir yang menganggap kami sampah. Jadi, kami tidak akan terpengaruh pada sebuah kolom gosip di halaman depan Witch Weekly."

Rose memandang Malfoy dengan aneh.

"Tetapi kau, Red," Malfoy melanjutkan. "Keluargamu akan malu besar, jika berita itu tersebar luas..."

Dengan sedih, aku memandang Rose yang mendelik pada Malfoy. Aku tahu bahwa semua itu hanyalah kebohongan Malfoy. Mereka tidak pernah tidur bersama, dan Rose tidak perlu takut pada ancaman itu. Namun aku tidak bisa mengatakannya, aku tidak bisa memaksakan diri untuk berbicara dengan Rose, karena anggota keluarga Potter/Weasley tidak bicara denganku.

"Kau mencariku hanya untuk membicarakan hal ini?" tanya Rose geram.

"Itu, dan hal lain lagi," kata Malfoy.

"Hal lain apa?" tanya Rose ingin tahu.

"Aku dijodohkan..."

Rose tampak pucat. "Apa? Dijodohkan? Dijodohkan? Dijodohkan?"

"Nah, nah, suku kata mana yang tidak kaumengerti, Red?"

"Kau dijodohkan? Dijodohkan? Dijodohkan?"

"Dijodohkan... Tahu, kan? Orangtuamu mencarikanmu seorang yang menurut mereka cocok untukmu, untuk dijadikan suami atau istri di masa depan..."

"Aku tahu apa itu dijodohkan..."

"Lalu mengapa kau mengulang-ulang kata itu?"

"Aku hanya—yah, aku—"

"Shock? Terkejut? Lucu?"

"Lucu?" ulang Rose. "Apakah kau melihatku tertawa?"

Malfoy memandangnya. "Yah, kau memang tidak tertawa. Apakah kau shock?"

Rose balas memandang Malfoy, lalu mengangguk. "Yah, aku tidak menduganya, karena kupikir kau—Yah, aku seharusnya tidak boleh terkejut. Keluarga kalian memang seperti itu... Orangtuamu juga dijodohkan, bukan?"

"Yah, tapi mereka ternyata saling mencintai pada akhirnya. Apakah menurutmu, Veronica dan aku akan saling mencintai nantinya?"

"Veronica?"

"Namanya Veronica, cucu Mentri Sihir Rusia... Orangtuanya sedang menjalin kerjasama bisnis dengan orangtuaku."

"Oh..."

"Jadi?"

"Jadi apa?"

"Bagaimana menurutmu?"

"Kau ingin aku mengatakan apa?" tanya Rose kesal.

"Apakah menurutmu Veronica dan aku akan bahagia nantinya?"

"Memangnya aku peduli?" geram Rose. "Kau—silakan menikah dengan siapa saja! Anak mentri sihir, atau anak pemilik perusahaan atau apapun terserah. Aku tidak peduli!"

Malfoy menggelengkan kepala. "Aku tahu kau tidak peduli, tapi entah mengapa aku perlu mengatakannya padamu. Jadi, aku mengatakannya. Sekarang aku lega karena sudah mengatakannya... Oh ya, liburan musim panas ini Veronica akan tinggal bersamaku di Manor."

Rose tampak shock lagi. "Apa? Tinggal bersamamu di Manor? Tinggal bersamamu? Tinggal bersamamu?"

"Helo? Apakah kau perlu mengulang-ulang semua yang kukatakan?"

"Dia tinggal bersamamu? Tinggal bersamamu?"

"Bukan cuma aku... ada orangtuaku, kakek juga nenekku," kata Malfoy menjelaskan. "Banyak kamar di Manor, jadi dia tidak mungkin sekamar denganku, kalau itu yang kaukuatirkan..."

Rose tertawa, lalu berkata "Bagus..." dengan agak bingung.

Malfoy memandangnya dengan heran, lalu berkata, "Musim panas ini akan menjadi musim panas yang indah. Dan aku melarangmu untuk menulis surat cinta padaku, aku tidak ingin Veronica berpikiran lain."

Rose mendengus. "Aku tidak akan melakukannya... Dan kau tidak boleh memikirkan aku saat berkencan dengan Veronica..."

"Mengapa aku harus memikirkanmu?"

"Aku hanya memberimu peringatan..."

Keduanya berpandangan, sementara aku mendesah dalam hati. Hubungan Malfoy dan Rose memang sangat rumit. Sudah jelas mereka saling menyukai, tapi mereka berpura-pura tidak begitu. Ataukah mereka memang tidak menyadari bahwa mereka saling menyukai?

"Seharusnya aku yang memberimu peringatan, artikel tentang kita akan kukirim ke Witch Weekly pada hari pertama liburan musim panas!"

"Kau ingin aku terkurung di rumahku karena malu, Malfoy!"

"Ya, juga semua keluargamu... Aku benar-benar ingin tahu apa yang akan dilakukan ayah dan Grandpa Weasley-mu, saat mereka membaca tentang kau menggugurkan anak Scorpius Malfoy..."

Rose menarik nafas dan menunduk.

"Kehilangan kata-kata, Red?"

Mengangkat muka lagi, Rose berkata, "Kalau artikel itu sampai tersebar, kau tidak akan pernah melihatku lagi selamanya, Scorpius. Apakah kau tidak akan sedih, jika aku menghilang?"

"Mengapa aku harus sedih? Aku suka kalau kau menghilang dari muka bumi ini, Rose," kata Malfoy.

"Aku sudah memberimu peringatan, Malfoy... Kalau kau menyebarkan artikel itu, aku akan bunuh diri, dan menjadi hantu untuk menghantuimu selamanya?"

Malfoy tertawa. "Ayolah, Red, tidak ada hantu yang bisa menghantuiku... Tidakkah kau pernah mendengar tentang divisi di Kementrian Sihir yang mengatur para hantu? Aku akan melaporkanmu, dan kau akan diusir dari dekatku. Lalu kau bisa pergi menghantui rumahmu sendiri."

"Malfoy, apakah aku pernah bilang bahwa aku sangat membencimu?"

"Kurasa sudah ratusan kali," jawab Malfoy. "Katakan lagi, aku senang mendengarnya..."

"Aku membencimu," kata Rose tajam.

"Sama, Red, aku juga membencimu!"

Keduanya berpandangan lagi, dan aku mengeluh. Oke, tidak ada yang bisa kulakukan untuk membantu Rose dalam menghadapi Malfoy. Mereka berdua benar-benar aneh.

"Bisakah kau mengambil minuman untuk kita, Malfoy? Kita harus merayakan berita bahagiamu ini. Menemukan seorang calon pasangan hidup yang cocok dengan kita adalah hal yang sulit, tapi kau sudah menemukannya. Kita pantas merayakannya."

Malfoy memandang Rose selama beberapa saat, lalu berkata, "Baiklah." Dia meninggalkan meja, dan Rose berpaling memandang tanpa berkedip pada Snow Plan yang sedang menyanyikan Jika.

Jika aku tak ingin semuanya berakhir, jika aku tak ingin melepasmu

Maukah kau mendengarkanku? Maukah kau tetap di sini?

Ataukah kau berpikir aku tidak memiliki keberanian untuk sungguh-sungguh mencintaimu?

Jika, jika itu yang terjadi, biarkan aku pergi

Dan lupakanlah aku selamanya...

Malfoy kembali beberapa saat kemudian membawa dua gelas mead, menyerahkan satu gelas pada Rose, lalu duduk.

Rose mengangkat gelasnya dan berkata, "Semoga Scorpius Malfoy menemukan kebahagiannya bersama Rose Weasley. Semoga mereka suatu hari nanti menikah, punya banyak anak, dan hidup bahagia selamanya." Dia meneguk gelasnya.

Malfoy mengerjap. "Bukan... Bukan Rose Weasley, tapi Veronica. Veronica Balandere."

"Balandere? Nama yang aneh..." kata Rose agak heran. "Tetapi, aku tetap akan mengatakan Rose Weasley... Scorpius Malfoy dan Rose Weasley pasti akan bahagia selamanya."

Malfoy tertawa. "Apakah kau baru saja meneguk Wiski Api, Red? Mengapa kau mengatakan bahwa kau dan aku akan bahagia selamanya?"

"Aku tidak mengatakan kau dan aku... aku mengatakan Scorpius Malfoy dan Rose Weasley."

"Sama saja, kan?" tanya Malfoy bingung.

"Tidak... tidak sama. Kau dan aku saling membenci, tapi Scorpius Malfoy dan Rose Weasley tidak... Mereka saling menyukai."

"Ha?" Malfoy semakin bingung.

"Scorpius Malfoy cemburu saat Rose Weasley dekat dengan Bryan Eastley. Dia juga selalu mencari kesempatan untuk berbicara dengan Rose Weasley. Dan, dia memanggilnya 'Red'. Nah, bukankah itu berarti bahwa Scorpius Malfoy sebenarnya menyukai Rose Weasley?"

Malfoy cemberut. "Kau menulis surat cinta dan menciumku. Bukankah itu berarti bahwa kau sebenarnya menyukaiku?"

"Apakah menurutmu, Scorpius Malfoy akan meninggalkan Veronica Balandere demi Rose Weasley?"

Malfoy berpikir sebentar. "Tidak mungkin, aku tidak akan meninggalkan Veronica demi dirimu..."

"Jadi?" tanya Rose.

"Jadi apa?" tanya Malfoy.

"Scorpius Malfoy akan tetap bertunangan dengan Veronica, dan akan tetap mengirim artikel sialan itu ke Witch Weekly."

"Aku akan tetap bertunangan dengan Veronica dan akan tetap mengirim artikel menarik itu ke Witch Weekly."

"Meskipun dia menyukai Rose Weasley?"

"Meskipun kau menyukaiku, Red... aku tetap akan mengirim artikel itu."

Setelah beberapa saat hening, Rose berkata dengan kesal, "Lalu untuk apa kau masih duduk di sini, kalau kau tetap melakukan hal yang membuatku sedih? Pergilah!"

"Untuk merayakannya, tentu saja!" kata Malfoy, lalu meneguk gelasnya.

Rose memandang Malfoy beberapa saat, lalu mengatupkan tangannya di depan dada dan memejamkan mata.

"Apa yang kaulakukan?" tanya Malfoy.

"Berdoa," jawab Rose, tanpa membuka mata.

"Berdoa?"

"Memohon sesuatu..."

"Memohon apa?"

Setelah beberapa saat, Rose membuka matanya dan menatap Malfoy. "Aku memohon, Malfoy, agar suatu hari nanti Scorpius Malfoy tidak jadi menikah dengan Veronica Balandore, dan hidup bahagia bersama Rose Weasley."

Malfoy mengerjap. "Tidak, aku tetap akan menikah dengan Veronica Balandore..."

"Tidak, Scorpius Malfoy akan menikah dengan Rose Weasley," kata Rose berkeras.

Oh ya ampun, ada apa sih dengan mereka berdua? Mengapa Rose menggunakan nama diri untuk menggambarkan dia dan Malfoy? Mengapa dia tidak menggunakan kata 'kau dan aku'? Kan lebih sederhana dan tidak bertele-tele? Apakah dia berbicara tentang orang lain? Ah, tidak mungkin... Tidak ada Scorpius Malfoy dan Rose Weasley lain selain mereka berdua.

Ah, mataku berkaca-kaca memandang mereka berdua. Hubungan aneh mereka membuat hatiku sedih. Aku ingin melakukan sesuatu untuk mereka, tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Mereka sudah jelas-jelas saling suka, dan mereka tahu itu. Tetapi masing-masing tidak ingin mengambil inisiatif untuk bergerak maju. Mereka seperti sedang menunggu, dan membiarkan takdirlah yang akan menyatukan mereka. Dan tampaknya Rose sangat percaya pada takdir.

Aku memandang Rose lagi, melihatnya tersenyum pada Malfoy, yang memandangnya dengan agak bingung. Apakah aku juga harus percaya pada takdir? Apakah takdir akan menyatukan James dan aku suatu saat nanti? Ah mana mungkin!

Kurasa aku harus segera menyingkir dari sini. Mendengarkan pembicaraan mereka membuatku ingin menangis. Aku memandang Scodior O'Connoly untuk terakhir kalinya, berdiri dan melangkah meninggalkan mejaku. Aku sudah sampai di pintu depan, saat seseorang memanggil namaku. Berbalik, aku melihat James berjalan ke arahku setelah menghindari sepasangan anak kelas dua yang berdansa dengan penuh semangat.

Melihatnya membuatku semakin sakit hati, apalagi setelah mengingat semua kata-kata Farley. Jadi, aku berpaling dan segera meninggalkan Aula Besar.

Suara langkah kaki di belakangku menandakan James tidak menyerah. Dia menyusulku sampai di Aula Depan.

"Selina!"

"Apa?" aku berbalik dan menghadapinya.

"Aku mencarimu dan—"

"Untuk apa?" tanyaku dingin. "Untuk mengatakan bahwa kau jijik padaku? Untuk mengatakan bahwa kau merasa tidak nyaman saat aku melemparkan diriku padamu di malam Halloween?"

"Apa?" James tampak benar-benar terkejut. "Apa yang kau bicarakan? Aku hanya ingin mengajakmu berdansa—"

"Oh, tidak usah berbaik hati padaku!" kataku. "Jangan kasihan padaku! Aku tidak apa-apa... Katakan saja pada semua orang bahwa aku adalah pelacur murahan, bahwa kau merasa seperti mencium batu saat menciumku."

"Ada apa denganmu? Aku tidak—"

"Mengapa kau tidak mengatakan kebenarannya pada pacarmu, James? Mengapa kau tidak mengatakan padanya bahwa kaulah yang memaksa aku berada di sampingmu? Kau yang meng-Imperius aku! Aku juga tidak memaksamu untuk menciumku... Yah, dan katakan padanya bahwa aku tidak peduli pada apapun yang kalian lakukan di tempat tidur. Itu bukan urusanku... Selamat tinggal!" kataku dramatis, lalu berlari menuju tangga pualam, sebatas sepatu hak tinggiku mengijinkan.

"Selina," aku mendengarnya memanggilku, dan dia berhasil meraih lenganku saat aku tiba di kaki tangga pualam.

"Lepaskan aku!" aku menyentakkan lenganku dan dia melepaskanku.

"Dengar," katanya. "Aku tidak tahu apa yang dikatakan Gemma padamu, tapi apapun itu, itu bohong... Kau dengar aku! Aku tidak pernah mengatakan hal-hal seperti itu padanya..."

"Oh sudahlah, James, tidak apa-apa! Katakan apapun padanya! Aku sudah pernah mengalami hal yang lebih parah dari sebuah gosip murahan. Aku bisa mengatasinya."

"Aku tidak menganggapmu merepotkan!" katanya keras. "Aku juga tidak kasihan padamu atau apapun... Aku suka menciummu, aku suka pada semua hal tentangmu... Kau sudah tahu bagaimana perasaanku padamu."

Aku memberinya pandangan paling dingin yang bisa kuberikan. "Tidak James, aku tidak tahu bagaimana perasaanmu padaku. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu pada semua orang di sekelilingmu. Terlalu banyak orang yang kausayangi dan menjadi milikmu, sehingga kau tidak mengijinkan seseorang memilikimu... Kau adalah milik dirimu sendiri, kan?"

"Bukan, aku bukan milik diriku sendiri. Aku adalah milikmu... Kau boleh memilikiku!"

Aku tertawa, sekaligus ingin menangis. Oh, kalau saja dia mengatakan hal ini dalam situasi yang normal, tidak saat kami sedang bertengkar. Aku mungkin akan memeluknya dengan erat dan memaksa diriku untuk mengumumkan cinta matiku padanya.

"Katakan padaku!" kataku, setelah menghela nafas, menenangkan diri. "Berapa cewek yang sudah tidur denganmu di Hogwarts' Night Club dan di luar sana?"

Dia menatapku dengan mata terbelalak. "Aku tidak pernah tidur dengan siapa pun, aku menyukaimu, aku hanya menginginkanmu."

Aku mendengus tak percaya. "Kau yakin?"

"Oke, aku memang telah berciuman dengan banyak cewek. Aku juga telah melewatkan malam bersama banyak cewek, tapi kami tidak melakukan apa-apa. Ada banyak hal yang dilakukan di malam hari, selain tidur bersama... Kami minum-minum, main kartu, bertaruh..."

"Main kartu?" ulangku tak percaya. "Apakah kau mengharapkanku untuk mempercayaimu?"

"Apa lagi yang bisa kukatakan? Itulah kebenarannya."

"Oh, bagus sekali..." kataku. "Kebenaran yang tidak akan pernah kita ketahui, kan? Yah, dan apapun kebenarannya, itu tidak ada hubungannya denganku."

James tampak benar-benar frustrasi. "Berhenti mendramatisirkan keadaan! Sikapmu yang berlebihan itu membuatku sebal. Bagaimana kau bisa percaya pada Gemma? Dia tidak tahu apa-apa tentang kita."

"Dia tahu! Dia benar tentang malam Halloween itu, aku memang melemparkan diriku padamu dan memintamu menciumku, kan?"

"Lalu?"

"Lalu!" Ingin sekali aku menamparnya, dan membuatnya mengerti tentang perasaanku. Bukankah saat melemparkan diri padanya dan memintanya menciumku aku tampak seperti pelacur? Aku malu, apalagi saat Farley mengetahui hal itu. Berapa orang lagi yang tahu? Apakah seluruh Hogwarts sudah tahu? Mungkin saja! Bagaimana aku bisa menghadapi semua orang besok?

"Lalu apa? Hanya itu..."

"Hanya itu?" ulangku sedingin mungkin. "Hanya cowok yang tidak peka-lah yang mengatakan hal sensitif seperti itu sebagai hanya itu."

"Hal sensitif?" James tampak sebal. "Baiklah, aku minta maaf sudah mengatakan hal sensitif itu pada Gemma. Aku tidak mengerti apa yang salah dengan hal itu, tapi aku akan tetap minta maaf. Jadi, sekarang maukah kau kembali ke Aula Besar dan berdansa satu lagu denganku."

Aku memandangnya, agak bingung. Sebenarnya apa sih yang membuatku uring-uringan? Bukankah masalahnya sederhana saja? Farley berbicara tentang kebenaran, aku memang melemparkan diriku pada James malam itu. Lalu apa? Hanya itu! Aku tidak akan mati, walaupun semua orang berbicara tentangku di belakangku.

"Satu lagu saja..." kata James lagi. "Sekarang kan Valentine, lupakan semua kebencian! Untuk malam ini saja, berpura-puralah bahwa kau menyukaiku. Bantulah aku untuk menjadikan malam ini kenangan indah untukku! Setelah malam ini, kau boleh membenciku lagi, dan aku tidak akan mengganggumu..."

Membencinya? Bagaimana dia bisa mengira aku membencinya? Apakah dia tidak melihat aku memandangnya dengan terpesona? Tidak tahukah dia bahwa aku sakit hati karena Gemma mengatakan semua kebohongan itu, dan bahwa aku cemburu pada semua cewek yang pernah ada di sampingnya? Apakah dia tidak menyadari bahwa aku hampir saja menciumnya di depan pacarnya? Dan bukankah dia sudah tahu bahwa aku melakukan hal-hal tak masuk akal itu untuk menarik perhatiannya? Tetapi, mengapa dia tidak mengerti juga? Oh, mengapa cowok ini begitu tidak peka? Apakah dia menungguku untuk mengatakan sesuatu, untuk menyatakan perasaanku? Jika benar dia menunggu untuk menyatakan perasaanku, maka dia tidak akan mendapatkannya. Dia tahu aku tidak punya keberanian untuk mengatakan hal-hal seperti itu.

Dia masih menatapku, bertanya dengan ragu-ragu sambil mengulurkan tangannya, "Bolehkah kita berdansa?"

Aku mendengus sebal. Baik, jika dia ingin menungguku menyatakan perasaan, aku akan membiarkannya menunggu sampai mati. Aku tidak akan mengatakannya. Kita akan sama-sama melihat siapa yang bisa bertahan menghadapi sakit hati.

Dia menjatuhkan tangannya dengan sedih. "Baiklah, aku mengerti," katanya, berbalik dan berjalan pergi.

Setelah terpaku selama beberapa detik, aku memanggilnya,"Tunggu!" lalu berjalan mendekatinya.

Dia menungguku.

"Begini, aku—aku ingin bertanya, apakah kau—kau memang tidak tahu apa-apa tentang ini?" tanyaku. Tentang ini, maksudnya adalah bahwa aku juga mencintainya.

Dia tampak bingung. "Tentang ini apa?"

"Ya sudah kalau begitu..." kataku jengkel.

"Dengar, aku hanya ingin berdansa satu lagu denganmu... Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa, aku bisa mengatasinya—"

"Aku tidak bilang aku tidak mau."

"Hah?" dia tampak bingung. "Baiklah, aku bertanya sekali lagi, maukah kau berdansa denganku?"

"Baiklah," jawabku, mengulurkan tanganku padanya.

Tersenyum, dia menggenggam tanganku dan membawaku kembali ke Aula Besar.

Sepanjang perjalanan ke Aula Besar dan selama kami berdansa, dia terus saja tersenyum seperti ada sesuatu yang sangat membahagiakannya. Dan aku terus memandangnya tanpa berkedip, karena ini adalah pertama kalinya dia tersenyum riang saat bersamaku. Dia bahagia... Ya itu, dia bahagia, sekarang aku bisa bahagia karena bisa membuatnya tersenyum. Perasaan haru muncul di hatiku, dan mataku berkaca-kaca.

"Oh, hentikan!" dia tidak tersenyum lagi, tapi memandangku dengan jengkel.

"Apa?" tanyaku.

Dia memdorongku pelan, dan aku berputar di lantai dansa.

"Mengapa kau menangis?" dia bertanya, saat aku sudah menghadapinya lagi.

"Aku tidak menangis."

"Oh ya?" Dia melepaskan tangannya di pinggangku dan menghapus airmata di pipiku. "Ini apa?"

"Oh, itu..." kataku. "Aku sebenarnya senang..."

"Yah, aku mengerti. Kau kan punya kecenderungan untuk menangis saat kau sedang bahagia. Kali ini kau bahagia karena apa?" dia bertanya, meletakkan tangannya kembali ke pinggangku.

"Aku tidak punya kecenderungan untuk menangis saat sedang bahagia," kataku, menjauh darinya, berputar mengikuti musik dan kembali lagi padanya. Kali ini dia menarikku agak merapat ke tubuhnya.

"Bagaimana dengan waktu itu, di kelas Ramuan, bukankah kau menangis karena bahagia berbebas dariku?"

"Bukankah itu hanya kesimpulan yang kausimpulkan sendiri?"

"Jadi, apakah kesimpulanku itu benar?"

"Bagaimana menurutmu?" aku balik bertanya.

"Mana aku tahu? Itu kan masalahmu, bukan aku..."

"Oh, jadi ini hanya masalahku dan kau tidak terlibat di dalamnya?"

"Bagaimana aku bisa terlibat, aku kan sudah menjauhkan diri darimu? Kita tidak lagi terikat, dan kau tidak perlu melibatkan aku dalam hidupmu. Kau bisa hidup dengan baik dan bahagia sekarang..."

Setelah mendengus, aku menjauh darinya dan berputar. Mengapa dia hanya memikirkan kebahagianku saja? Bagaimana dengan kebahagiannya? Apakah sebenarnya dia tidak seegois seperti yang pernah kupikirkan?

"Tampaknya kau bahagia saat tidak ada aku di sisimu," aku berkomentar, saat sudah kembali menghadapinya.

Dia mengerut kening. "Tidak perlu mempedulikan kebahagianku... Bukankah kebahagianmu yang utama? Aku menjauh darimu untuk membuatmu bahagia. Kalau aku hanya mementingkan diri sendiri dan kebahagianku, tentu sekarang kau masih di-Imperius."

Aku menghela nafas dan memberanikan diri berkata, "Aku sebenarnya sangat peduli pada kebahagiaanmu... aku sangat peduli."

"Apa?"

Kami berhenti berdansa. Dia memandangku dengan aneh, seolah tidak mempercayai apa yang baru saja kukatakan.

"Apakah kau—kau—" dia memandangku, tampak kehilangan kata-kata.

Apakah dia ingin bertanya, apakah aku menyukainya?

Dengan tersenyum lebar, aku segera menjawab, "Ya, aku memang merasakan hal yang sama..."

"Apa?" dia tampak benar-benar bingung.

"Begitulah," kataku ceria. "Aku senang akhirnya bisa mengatakannya..."

Aku lega, akhirnya perasaan kami pada satu sama lain sudah jelas. Sekarang kami bisa memikirkan apa yang akan kami lakukan setelah ini. Aku mungkin akan membujuknya agar dia tidak usah pergi ke Irlandia, dan bergabung dengan klub Quidditch lokal saja.

"Kau merasakan hal yang sama apa? Apa yang membuatmu senang? Sebenarnya, tadi aku ingin bertanya, apakah kau selalu baik hati seperti itu? Peduli pada kebahagiaan semua orang?"

HA? Aku terbelalak memandangnya. Baik hati? Peduli pada kebahagiaan semua orang? Apakah dia sedang mempermainkanku?

"Kau!" aku melepaskan diri darinya dan menunjuknya dengan dramatis.

"Kau apa?" dia bertanya heran.

Aku menghentakkan kakiku di lantai, dan mengumpatnya dengan kata-kata yang dipakai Lily untuk mengumpat Lysander. Dia pasti sengaja. Aku yakin dia sengaja mempermainkan aku. Bukankah dia biasa mempermainkan orang?

Dia tertawa.

Nah, itu kan? Dia memang sengaja. Dia sengaja mempermainkan aku.

"Kau lucu," katanya, masih tertawa.

Aku lucu? Aku senang dia menganggapku lucu, tapi apakah aku terlihat sedang melawak?

"Kau hebat..." katanya, lalu mundur, menjauh dariku. Setelah menatapku selama beberapa saat dia berkata lagi, "Kau memang jauh lebih baik tanpa aku dalam hidupmu... Aku tidak akan menganggumu lagi. Tidak perlu takut kau akan bertemu denganku setelah lulus Hogwarts, aku akan pergi ke Irlandia. Dan terima kasih untuk malam yang indah ini, aku tak akan pernah melupakannya."

Dia pergi, pergi begitu saja setelah lagu itu berakhir. Dan aku terpaku di tempat, karena kakiku tak mampu bergerak. Aku baru bergerak beberapa saat kemudian setelah Snow Plan memainkan lagu berirama cepat, dan cupid pembawa konfeti mengotori rambutku lagi dengan konfeti.

Aku berjalan meninggalkan Aula Besar sambil memuji James. Bagus sekali, dia orang yang menepati janji. Dia berkata akan berdansa satu lagu denganku, dan dia memang berdansa hanya satu lagu denganku. Padahal, aku mengharapkan ada satu lagu lagi, atau minum-minum bersama setelah berdansa, atau berbincang-bincang selama beberapa saat.

Itu tidak terjadi tentu saja, karena James tidak akan melakukannya bersamaku. Katanya aku lebih bahagia tanpa dia di sisiku. Mungkin itu memang benar... Dia mungkin benar, aku mungkin akan lebih bahagia tanpa dia di sisiku. Jadi, aku harus mengucapkan selamat tinggal... Selamat tinggal, James, semoga kau menemukan kebahagiaanmu suatu hari nanti!

Diary, kurasa sudah berakhir. Aku tidak lagi akan melakukan hal-hal tak masuk akal untuk menarik perhatiannya. Aku akan melupakan cinta remaja, dan menjalani hidupku dengan baik. Mungkin, aku akan menemukan kebahagiaanku sendiri suatu saat nanti.

Sincerely

Selina Fluge

PS: Aku tidak menangis. Bagus! Aku tidak apa-apa!


Review, please

RR :D