~She is My Girlfriend~

~Romance, Friendship, Humor (mungkin)~

~Disclaimer: Tite Kubo~

~This fic: mine~


Siang hari yang panas pun menghujani kota Karakura. Murid-murid di KHS sudah pulang, mereka dengan langkah cepat ingin segera sampai di rumah masing-masing. Walaupun begitu, masih ada beberapa murid yang masih di sekolah, entah mereka ingin mengerjakan pr, atau membaca buku di perpustakaan, dan sebagainya. Termasuk empat cowok dan satu cewek dari kelas yang sama ini. Mereka merencanakan sesuatu untuk memperbaiki hubungan Grimmjow Jeagerjaques dengan Nelliel Tu Odelschwanck. Sekarang mereka berada di koridor perpustakaan. Mereka berharap bisa menemukan Nelliel di sana, karena Grimmjow, yang sudah cukup dekat dengan Nelliel, merasa pasti ia akan ada di sana, di perpustakaan.

"Sudah sepi lagi, padahal baru beberapa menit tadi bel berbunyi," kata Abarai Renji. Ia memperhatikan ruangan perpustakaan dari luar. Hanya terlihat rak-rak buku yang saling berjejeran dengan rapi.

"Kita cek dulu saja ke dalam," Kurosaki Ichigo mengusulkan. Ia lalu berjalan duluan dan masuk ke dalam perpustakaan diikuti keempat teman lainnya. Tetapi tidak ada siapa-siapa di sana. Grimmjow langsung sedikit menunduk, ia berharap bisa menemukan Nelliel di sana, menghampirinya, dan mengatakan semuanya kepada gadis itu.

"Sudah lah, bagaimana jika kita mencarinya di luar? Tidak mungkin jika Nelliel terus-terusan berada di sini," ajak Ulquiorra, yang lain pun setuju. Lalu mereka keluar bersama-sama dari perpustakaan, menuju pintu untuk keluar dari sekolah.

Masih ada beberapa murid di sana, bercanda tawa, bersenda gurau. Grimmjow memperhatikan setiap murid itu dengan seksama. Tiba-tiba Orihime berseru.

"Itu Nelliel-chan, kan?" ia menunjuk salah satu perempuan yang sedang berdiri menyandar di salah satu pohon yang rimbun. Mungkin sedang menekuri ponselnya dengan kepala tertunduk.

Grimmjow memicingkan matanya, agar ia bisa melihat sedikit jelas apakah gadis itu benar-benar Nelliel apa bukan. Seperti dikomando, ia langsung berjalan. Teman-temannya memanggil namanya, kemudian mengikutinya dari belakang.

"Ia sedang sendiri, jadi ini kesempatan yang bagus untuk berbicara," kata Grimmjow.

Teman-temannya hanya saling melempar pandangan satu sama lain. Sebenarnya dalam hati Grimmjow sangat berdebar-debar untuk berbicara dengan Nelliel, tapi ia harus melakukannya jika ingin hubungan mereka berdua membaik, dan tidak terjadi kesalah pahaman.

"Nelliel," panggil Grimmjow pelan. Desiran angin sepoi-sepoi hampir menutupi suara berat Grimmjow, tapi untungnya gadis itu mendengar saat namanya dipanggil.

Ia lalu menoleh dengan pelan, ponsel bewarna hitam masih digenggam di kedua tangannya. Teman-teman Grimmjow masih diam di tempat, beberapa meter jauh darinya.

"Grimmjow?" gadis itu akhirnya bersuara. Suaranya bahkan lebih lembut dari sejak pertama mereka bertemu. Entah karena dicampur oleh desiran angin, atau memang telinga Grimmjow yang mengakuinya. Grimmjow diam sesaat karena merasa hanyut dalam kedua pasang mata hazel itu, tapi ia segera menyadarkan dirinya kembali.

"Begini," ia memulai pembicaraan dengan sedikit gugup. "Akhir-akhir ini kau menjadi jauh denganku. Entah aku juga tidak tahu apa yang sedang kaupikirkan, lalu Inoue-san bercerita padaku, kalau kau menjauhiku hanya karena aku takut terluka jika ketahuan oleh Nnoitra. Kenapa kau sampai berpikir sejauh itu?" tanya Grimmjow. Ia menatap Nelliel.

Gadis itu lalu membisu sementara. Ia tidak mengucapkan sepatah kata apa pun saat Grimmjow selesai berbicara. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu yang rumit. Matanya dialihkan ke kanan. Berusaha memproses kata-kata menjadi kalimat dalam otaknya.

"Bukankah ada banyak cara yang bisa kau gunakan dari pada menggunakan cara seperti ini? Aku khawatir saat tiba-tiba kau menjadi dingin setiap kali bertemu denganku, aku juga selalu takut saat tiba-tiba kau menjauh setiap kukejar."

"Sudah kubilang, aku takut jika harus melihatmu dimarahi oleh Nnoitra lagi, aku takut saat melihatmu babak belur oleh tangan-tangannya yang kejam, aku tidak mau seperti itu," Nelliel semakin menundukkan kepalanya. Grimmjow diam. Teman-temannya pun diam. Hanya suara canda tawa murid-murid yang masih terdengar.

"Aku bukan laki-laki lemah yang harus kau khawatirkan, Nelliel. Aku tahu perbuatanmu baik, kau berusaha menjauhkan Nnoitra denganku, kau berusaha menjaga agar Nnoitra tidak melukaiku. Tetapi aku tidak suka cara seperti ini. Semua ini terlalu tiba-tiba, membuatku frustasi karenanya. Jika tidak ingin membuatku dicelakai oleh Nnoitra, kau cukup mengatakannya kepadaku, kau hanya tinggal berbicara denganku. Mengerti, kan?" Grimmjow memegang kedua lengan Nelliel.

Gadis itu merapatkan kedua bibirnya. "Aku mengerti. Maafkan aku Grimmjow, mungkin semua ini memang salahku. Aku terlalu—"

"Sudah tidak usah diperpanjang," Grimmjow segera memotongnya. Ia memegang dagu Nelliel, mencoba agar wajahnya ditatap oleh mata Nelliel. Ingin membuktikan bahwa Grimmjow juga sangat mencintai Nelliel. Tidak ada kebohongan apa pun yang tersirat di matanya.

"Hei, kenapa cewek kita gak pernah sedramatis itu, ya? Aku jadi iri," Renji menyenggol lengan Ichigo yang berdiri tegap di sampingnya.

"Tentu saja. Tatsuki itu kan gadis yang tomboy, mana mungkin dia bisa sedramatis atau pun sebaik Nelliel," Ichigo memajukan dagunya ke samping kanan.

"Begitu juga dengan Rukia," Renji membalas.

Ulquiorra masih diam dalam tenang. Walaupun sebenarnya dalam hati ia bersyukur, Orihime miliknya itu sangat dramatis dan baik. Tidak ada yang bisa membayangkannya, bukan?

"Haah, akhirnya happy ending, deh," Renji menghela nafas. Membayangkan dirinya juga bisa seperti itu dengan Tatsuki. Ichigo hanya bisa menahan tawanya melihat Renji bernostalgia. Ichigo lalu mengalihkan pandangannya ke dua insan yang saling mencintai itu. Ia tersenyum hangat, ikut bahagia melihat keduanya sudah berbaikan. Ichigo lalu berjalan menghampiri mereka.

"Ichigo?" Nelliel tampak terkejut. Ternyata obrolan mereka berdua disaksikan oleh empat orang itu. Grimmjow awalnya senang temannya masih ada di sana, tetapi lama kelamaan rasa senangnya itu berubah menjadi rasa malu. Kenapa? Lihat saja tatapan yang diberikan oleh teman-temannya itu.

Renji tampak senyum-senyum seakan mengejek. Ichigo pun begitu. Tapi tidak dengan Orihime dan Ulquiorra. Orihime lebih terkesan senyum bahagia daripada Ulquiorra yang selalu datar.

"Apa sih?" Grimmjow langsung merasa risih. Ia memberikan tatapan yang tak kalah menyebalkan dari mereka. Lalu dua cowok itu tertawa terbahak-bahak.

"Bagaimana tadi? Kau bisa melihat raut wajah Grimmjow saat Nelliel masih menjauhinya, kan?" Ichigo bertanya pada Renji yang masih menepuk-nepuk lututnya dengan keras.

"Tentu! Wajahnya berubah dari kakek sihir madesu menjadi pangeran berambut biru!" ia melanjutkan tawa kencangnya. Tak heran jika dua cowok itu tertawa keras-keras, karena perubahan drastis dari raut wajah Grimmjow. Awalnya ia merasa sangat khawatir sekali, tetapi sekarang ia sudah mendapatkan gadis itu kembali ke tangannya.

"Sialan kalian berdua," Grimmjow langsung memberi deathglare pada temannya. Walaupun tidak bisa dipungkiri wajahnya sedikit memerah.

"Sudah sudah," Nelliel dan Orihime mencoba melerai amarah Grimmjow, juga menghentikan tertawaan Ichigo dan Renji. Ulquiorra hanya mengedarkan pandangannya ke penjuru tempat. Murid-murid masih saling bercanda, pohon-pohon rimbun saling menggoyangkan daunnya, mobil dan motor di jalan raya masih saling berlalu lalang. Tapi ia menangkap seseorang dengan badan tinggi sedang berjalan dengan gerombolannya.

Itu Nnoitra Jiruga. Mereka tampak sedang mengobrol, kata-kata kasar terkadang keluar di sela-sela kalimatnya. Seragam mereka yang selalu berantakan layaknya anak-anak berandalan. Suara mereka yang menggelegar cukup membuat Grimmjow dan yang lainnya menengok dengan mata membulat kaget.

"Hei, hei, rupanya ada yang sedang bersenang-senang di sini," ia mengeluarkan nada sarkastis. Menyenggol lengan anak-anak buahnya dengan senyum menyeringai.

Grimmjow dan teman-temannya tidak mengeluarkan sepatah kata apa pun, melainkan hanya memperhatikan gerak-gerik mereka dengan tatapan tajam, seolah-olah sedang mencoba untuk membaca apa yang ada di pikiran mereka sekarang.

"Oh, iya, Nelliel, bisakah kau jelaskan semua yang sedang terjadi di sini? Kau tentu tidak lupa dengan perjanjian kita waktu itu, kan?" tanya Nnoitra dengan senyum menyeringainya seperti biasa. Nelliel hanya bisa diam, tetapi pandangan matanya mengatakan kalau ia ketakutan sekarang, walaupun ada Grimmjow dan teman satu gengnya di sini, ia masih merasa tidak nyaman.

"Perjanjian apa?" Grimmjow angkat bicara. Ia mencoba menebak-nebak apa 'perjanjian' yang dimaksudkan oleh orang ini.

Senyum di wajah Nnoitra semakin melebar, sehingga menampakkan gigi putihnya yang berderet rapi. "Heh, orang bodoh sepertimu tidak perlu tahu, kan?"

"Oh, lalu, coba pertimbangkan konsekuensinya jika kau melanggar janji itu."

"Maaf, Nnoitra," Nelliel mencoba menyingkirkan helaian-helaian rambut hijau toskanya yang selalu berkibar di dekat wajahnya karena tertiup angin, "aku ambil kembali janji itu. Terserah kau ingin mengatakan apa, yang pasti, aku tidak akan menjauhi siapa-siapa lagi sekarang."

Nnoitra serta anak buahnya merasa tertegun kaget, tidak menyangka Nelliel berani melawan mereka. Padahal selama ini yang Nnoitra tahu itu, Nelliel gadis yang lemah, dan mungkin bisa dijahili, atau apa.

"Dan, tidak ada perkelahian lagi, tidak ada adu hantam fisik lagi, oke? Aku tidak mau kalian semua terluka hanya gara-gara AKU. Untuk apa memangnya memperebutkan seorang gadis yang sudah biasa dipanggil 'kutu buku'? Atau seorang gadis yang biasa menyendiri di perpustakaan hanya supaya bisa terhindar dari kalang kabut di luar kelas. Tidakkah kalian berpikir kalau ini sangat kenakak-kanakkan?" Nelliel berbicara panjang lebar.

"Iya, dia benar. Nelliel benar," Ichigo mengiyakan. "Sebaiknya kita bicarakan ini dengan baik-baik. Kelihatannya ini memang sudah diluar batas untuk anak-anak SMA seperti kita."

Nnoitra dan Grimmjow tampak diam, saling memandang dengan tatapan yang sulit dijelaskan, memperebutkan seorang gadis mungkin tidak seburuk yang mereka kira, tapi amat sangat merepotkan bagi gadis yang diperebutkannya itu. Akhirnya walaupun dengan tampang terpaksa, Nnoitra pun meninggalkan mereka tanpa sepatah kata apa pun. Saat ia melewati Grimmjow, mata Nnoitra memandang dengan sinis dari atas bahunya, dan berlalu pergi dengan anak-anak buahnya.

"Begitu saja?" tanya Renji, "kelihatannya mereka tidak mau diomongkan secara baik-baik, Ichigo."

"Yah, namanya juga anak berandalan. Lagipula aku juga tidak tahu bagaimana berbicara baik-baik dengan mereka."

"Bilang saja kau takut," ejek Renji.

"Jadi sebenarnya," Grimmjow menaruh satu jari di dagunya, "perjanjian apa yang kalian buat? Boleh aku mengetahuinya?"

"Iya, jadi, semenjak aku menjauhimu, aku… aku mengatakan pada Nnoitra kalau aku sudah menjauhi Grimmjow, dan tidak akan berhubungan lagi dengannya. Lalu ia membuat perjanjian, dengan mengatakan 'kalau kau mendekati ia lagi, kupastikan ia tidak akan selamat. Berjanjilah kau hanya boleh berbicara padaku seorang. Tidak boleh dengan laki-laki lain, terutama bocah berambut biru itu'. Yah, kurang lebih seperti itu. Dan sekarang aku sudah melanggar janjinya, karena aku mencintaimu, Grimmjow," cerita singkat Nelliel berhasil membuat empat cowok itu bengong terbengong-bengong. (?)

"Yah, ini aneh sekali," ujar Renji. "Kelihatannya Nnoitra terlalu sering menonton film drama, atau semacamnya. Karena kejadian ini memang sangat mencerminkannya."

Nelliel tertawa kecil. Grimmjow diam, tampak berpikir serius. Lalu tiba-tiba senyum di mulutnya kian melebar.

"Kelihatannya yang dikatakan olehmu memang benar, Renji. Happy ending untuk kita semua," kata Ichigo.

"Hah! Apa kubilang, prediksi Tuan Abarai Renji itu tidak pernah salah!"

"Ya, karena kupikir kau juga sering menonton film-film drama, karena pasti selalu berakhir bahagia, prediksi-film-drama-mu memang berhasil, Renji," Ichigo tertawa terpingkal-pingkal, begitu juga dengan Grimmjow dan Nelliel. Bagaimana dengan Ulquiorra? Ia ternyata sedang asyik menonton film drama dari ponselnya. (?)

Renji kemudian tampak malu, terlihat rona merah di pipinya, lalu berkata, "hei, jangan keras-keras dong ngomongnya, entar kedengaran sama yang lain kan malu."


Keesokan harinya, di Karakura High School.

BRUUK.

"Hei!"

"Ups, maaf Tuan Nnoitra Yang Sudah Turun Pangkat, aku tidak SENGAJA menyenggolmu, sehingga bokongmu harus berciuman dengan lantai," Renji menyunggingkan senyum jahil, lalu tertawa-tawa dengan ketiga temannya. Nnoitra langsung memicingkan matanya, sambil mengerang kesakitan.

"Sialan, mereka semakin sok jago sekarang."

Lalu 'four musketeers' itu tiba di depan kelas, dan tidak diduga-duga, mereka langsung disambut meriah oleh murid-murid yang ada di dalam kelas itu.

"Yah, kelihatannya mereka melihat aksi kita kemarin. Dan langsung menyebarkannya ke seluruh kelas," kata Ulquiorra.

"Apa maksudmu 'aksi kita kemarin'? Kita hampir tidak melakukan apa-apa. Karena hanya tatapan tajam antara Grimmjow dan Nnoitra, lalu sedikit pembicaraan dari Nelliel, semua selesai."

"Iya, lalu, setelah itu kita mendapat sambutan meriah ini karena berhasil menutup mulut Nnoitra anak berandalan itu," Renji tampak senang, karena menjadi terkenal di angkatannya.

"Bodoh, seharusnya yang mendapat sambutan meriah ini bukan kita, tetapi Grimmjow. Ngomong-ngomong, mana anak itu?" Ichigo mengedarkan pandangan, melihat sekeliling, tetapi Grimmjow sudah tidak ada di sana. Ia menghilang dengan cepatnya bagaikan debu yang disapu oleh angin.

"Oke, jadi bagaimana kalau yang ini?"

"Yang itu lebih bagus."

"Oh! Kau—"

"Ssst! Tidak boleh berisik di perpustakaan! Tidakkah kalian melihat?" sang pustakawan menunjuk tulisan 'KEEP QUIET' yang terpampang di dinding perpustakaan. Dua murid cowok itu lalu hanya bisa tersenyam-senyum, lalu pergi dengan beberapa buku di kedua tangannya.

"Sialan, gara-gara kau berisik, kita jadi dimarahi ibu-ibu gendut itu!"

"Oh yah? Kau duluan yang mulai, aku pilih buku ini, kau bilang yang tadi lebih bagus. Aku pilih buku itu, kau bilang yang tadi lebih bagus, bagaimana aku tidak stress jika kau berbicara seperti itu!"

Cowok itu menguap lebar, "sudah tahu aku ini laki-laki yang plin-plan. Lain kali ajaklah temanmu yang lain untuk memilih bukunya. Kalau kau ingin stress, ajaklah aku."

Cowok yang satunya hanya bisa menggeram.

Tiba-tiba Grimmjow dan Nelliel lewat di hadapan mereka berdua.

"Hei yo! Grimmjow!" cowok itu merangkul Grimmjow, seperti sok kenal dengannya.

"Keigo? Sedang apa kalian berdua di sini?"

"Yah, seperti yang kau lihat, kami sedang meminjam buku dari perpustakaan. Kami harus menyelesaikan tugas kelompok."

"Kalian belum selesai mengerjakannya?"

"Ya, belum… maksudku, tidak. Ya, sebenarnya kami baru membuatnya setengah, dan kami membutuhkan bantuan, dari… buku," Keigo menjawab dengan tergagap-gagap.

"Mungkin Grimmjow bisa membantu," kata Nelliel yang sedang berdiri di sampingnya.

"Kau berbicara apa, Nel? Aku mengerjakan ini saja membutuhkan waktu seharian, kau tahu. Dan tugas ini memang membuatku gila."

"Tidak seharian kurasa, bukankah dibantu oleh Ichigo, Renji-san, dan Ulquiorra?"

"Hohoho," Keigo tertawa penuh arti. Ia lalu mendekati Grimmjow, dan menyenggol-nyenggol lengannya. "Jadi, kalian sudah, ehem, ehem," ia tersenyum jahil, Mizuiro mengabaikannya dengan menempelkan earphone dan mendengarkan lagu dari ponselnya. Nelliel menatap dengan bingung.

"Apa maksudmu 'ehem, ehem'? Berbicara lah dengan jelas."

"Iya, maksudku, pacaran."

Setelah mendengar kata 'pacaran' dari Keigo, Grimmjow tiba-tiba merangkul Nelliel di lengannya.

"Iya, dia adalah pacarku sekarang," ucap Grimmjow pede.

Keigo langsung bengong. "Whoa, selama ini kan Nelliel tidak pernah dekat dengan laki-laki, dan kau, sudah berhasil, bahkan sampai menjadikannya kekasihmu! Pasti butuh perjuangan yang berat."

"Jika yang kau maksud perjuangan berat itu adalah 'berkelahi', maka iya."

"Kau hebat, pasti cukup sulit melawan Nnoitra Jiruga itu."

"Tidak, tentu saja dengan bantuan teman-temanku. Kalau mereka tidak ada, aku pasti sudah masuk rumah sakit sekarang."

Keigo mengangguk-angguk tanda mengerti, ia lalu berjalan kembali dengan Mizuiro. Grimmjow dan Nelliel tetap berdiri di tempat.

"Jadi, menurutmu, aku adalah gadis yang spesial?"

"Maksudmu?"

"Yah," Nelliel mengangkat bahu. "Banyak murid di sini tahu kalau Nnoitra menyukaiku, dan karena itu tidak ada laki-laki yang berani mendekatiku, karena takut dihajar olehnya. Jadi, itu membuatku merasa kalau aku gadis yang spesial, seperti semacam dilindungi oleh bodyguard, dan tidak boleh dimiliki oleh siapa-siapa."

"Oh, ya," Grimmjow menaikkan kedua alisnya. "Tentu saja, dan bagiku kau akan selalu spesial, Nel."

Lalu mereka berdua kembali berjalan ke arah perpustakaan.


"Hei, hei, yang ini apa jawabannya?"

"Aku—"

CTAAK!

"Tidak boleh bertanya! Hei, kau! Jika sekali lagi mencoba untuk mencontek, kedua tanganmu akan putus oleh ini!"

Nnoitra Jiruga langsung pucat pasi. Ia kembali berkonsentrasi ke buku di depannya sekarang. Ichigo dan Renji—layaknya senior yang sedang mengerjai adik-adik kelasnya—sedang menjaga Nnoitra, dan seluruh anak buahnya di dalam kelas mereka. Ulquiorra memperhatikan dari luar bersama dengan Orihime, sementara Rukia dan Tatsuki duduk di kursi sambil melahap ice cream. Sekarang memang sudah waktunya untuk pulang, tapi kelihatannya ada pelajaran tambahan untuk Nnoitra. Yaitu, mengerjakan semua pr anak-anak kelas 2-B. Ichigo memukul-mukul ikat pinggang ke atas meja guru, sementara Renji tersenyum menyeringai, berharap ia bisa mendapatkan satu korban untuk melampiaskan amarahnya.

"Sedang apa kalian?" Grimmjow datang dengan Nelliel.

"Ichigo dan Renji mempunyai ide cemerlang, atau lebih tepatnya ide sesat. Mereka menyuruh Nnoitra dan semua anak buahnya mengerjakan pekerjaan rumah di kelas kita," jawab Ulquiorra singkat.

"Memang itu diperbolehkan?" tanya Grimmjow, takut kalau ada guru lewat, nanti malah di keluarin dari sekolah karena melakukan kekerasan terhadap murid.

"Tidak tahu, mereka berbuat semaunya."

Nelliel kemudian menengok ke dalam, suasana seperti saat sedang ujian akhir. Murid-murid kelabakan, guru pengawas hanya tersenyum-senyum, dan mungkin bisa saja ada korban bergelimpangan akibat kekerasan yang dilakukan Ichigo dan Renji dengan ikat pinggang itu.

"Hei, sudah selesai belum? Ichigo, Renji!" panggil Grimmjow, dan sontak seluruh murid yang ada di situ menengok ke arahnya.

"Sebentar lagi. Ayo, cepetan! Kalau udah selesai, nanti ditaruh di atas meja ini, ya! Kita mau pulang dulu," Ichigo mendorong punggung Renji. Tapi tiba-tiba cemoohan datang dari mereka semua.

"JANGAN BERISIK! CEPETAN KERJAIN, KALAU UDAH SELESAI, KALIAN JUGA BOLEH PULANG!" Renji membanting ikat pinggang ke lantai, sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Murid-murid langsung diam membeku.

"Nah, bagus! Ayo!"

Setelah keluar, Rukia dan Tatsuki berkata, "bagaimana? Kalian sudah sukses menjadi anggota OSIS untuk tahun ini?"

Ichigo, Renji, dan Grimmjow tertawa. Lalu mereka berempat, dengan kekasihnya masing-masing, pulang ke rumah dengan hati yang bahagia.

~OWARI~


Review reply:

Pertama dari BlackRed, iyo, ini udah diupdate. Makasih Reviewnya! ^^

Kedua dari Resha, hehe, maaf semaaf-maafnya, ya. Di sini sama sekali gak ada duel, cuma gitu aja, dan akhirnya mereka bisa memperbudak (?) Nnoitra. Makasih Reviewnya! ^^

Terakhir dari Mrsgoldenweek gak log in, huwaa, maafkan Shizu, di sini gak ada datenya T.T. Iya ini udah ada GrimmNelnya, tapi kelihatannya gak memuaskan, ya. Makasih Reviewnya! ^^

Ya, akhirnya Shizu update juga nih fic. Tadinya HAMPIR mau di Discontinue, tapi sayang juga sih, soalnya udah jauh begini. Dan kerasa gak kalo alurnya jadi cepet? Iya, nih, soalnya Shizu udah gak punya ide lagi gimana ngebuat Grimmjow dan Nnoitra berantem. Huhuhuhu, maafkan Shizu ya T.T. Ceritanya jadi gaje dan ancur banget. Shizu yakin kalian semua kecewa sama fic ini, yah tapi mau gimana lagi, saia pengen cepet-cepet beresin, soalnya kalo kelamaan nunggak juga gak enak, kan.

Okelah, mungkin permintaan maaf juga gak bakal cukup, hiks, hiks. Jadi mohon Reviewnya aja, ya. Kritik, pujian, semuanya juga diterima. Asal gak FLAME, oke? Saia pengennya kritik yang membangun aja, bukan malah yang menjatuhkan.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir cerita ini. Have a nice Review, and Saiyonara!