Akashi Seijuurou menemukan kembali Kuroko Tetsuya yang sempat menghilang beberapa tahun, tetapi pada kenyataannya Kuroko kini masih seorang siswa sebuah high school padahal mereka seusia. Untuk mengetahui kebenaran ini Akashi berusaha menggali banyak informasi tentang mahluk bersurai biru yang sangat disukainya itu. Saat ini sosoknya sangat dekat, ia ingin mengembalikan ingatannya yang terhapus.
.
Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadathosi
Story by Mel
DLDR
Cerita ini diilhami dari banyak kisah sebelumnya, maaf bila banyak kesamaan – mohon tidak di-flame :)
Please enjoy
.
.
Chapter 9
He's Back!
.
~Case have to closed~
Sebuah ruangan di lantai lima belas Akashi Corp. Tower, ditata secara artistik dengan peralatan dan furniture yang extraordinary sungguh memanjakan mata yang melihatnya, tetapi suasana di ruang kerja Akashi Masaomi yang luas tampak begitu tegang, walaupun beberapa orang hadir di sana, dan hampir semuanya sebaya. Bila ditilik tampak seperti kisedai dalam versi yang lebih tua 30 tahunan, mereka masih tampak tampan dan gagah. Sementara dua wanita cantik duduk di kursi sudut, keduanya terisak.
"Kita harus menutup kasus anakmu, Hiro" suara tegas terdengar sangat berwibawa. Akashi Masaomi yang duduk di sofa marun dengan sandaran tinggi bersuara tegas.
Kuroko Hiroaki, menatap nyalang pria di depannya, sementara isakan dari sudut sana terdengar tertahan.
"Ini menyangkut kita semua, Hiro, banyak yang dipertaruhkan disini, terutama kita para orang tuanya, juga perusahaan, kalau kejadian ini sampai tersebar ke luar. Kita semua akan membantu kesembuhan anakmu" kembali suara tegas itu terdengar.
"Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan semua itu, Masaomi, anakku hancur!" Nada marah bercampur kecewa, tidak setuju dengan keputusan sepihak.
"Hiro, kita semua akan mendukungmu, kesembuhan anakmu adalah prioritas utama, aku akan perintahkan dokter terbaik menanganinya, juga psikolog, kalau perlu tenaga psikiater terbaik akan aku datangkan untuk membantu penyembuhannya." ucap kepala rumah sakit Midorima Hospital, Midorima Shinzuki.
"Kau harus merahasiakan ini semua, Shinzuki, tidak ada catatan apa pun yang bisa diketahui selain oleh timmu!" Masaomi mengingatkan. Maka tidak ada medical record baik di komputer maupun pada kartu periksa atas nama Kuroko Tetsuya di rumah sakitnya. Ataupun rumah sakit lain yang menangani Tetsuya, karena masih dalam lingkaran mereka.
"Tidak ada investigasi lagi dari kepolisian di sekolah itu, Daimura, hentikan semua penyelidikan!" tatapan iris merah itu kemudian beralih pada seorang perwira polisi berpostur tinggi tegap, yang saat ini tengah berdiri di depan jendela. Kepala berambut navy pendek menoleh, rahangnya tampak tegas, Aomine Daimura, mengangguk.
"Dan kau Riyo, harus mengurus keimigrasian, kalau suatu saat nanti keluarga Kuroko harus ke luar negeri, atur tidak ada catatan sama sekali!" pria bersurai keemasan mengangguk. Tidak sulit untuk seorang kepala Kantor Imigrasi di Tokyo seperti Kise Riyo, untuk menghapus jejak seseorang yang keluar dari negaranya. Siapa pun yang mencari keluarga Kuroko, akan menemui kebuntuan, seperti yang kemudian Tanaka alami, saat mencari keberadaan Kuroko, untuk membantu tuan mudanya.
Pertemuan itu diadakan sesaat setelah kejadian tragis Tetsuya.
Semua pria dewasa yang ada disana mengadakan pertemuan yang tidak pernah diketahui oleh anak-anak mereka. Segala perkembangan diawasi.
"Akemi, apakah kau tahu kalau Sei sangat menyukai anakmu?" Suara Shiori terdengar diantara isakan, ibu muda itu mengangguk. Digenggamannya dua lembar surat yang sudah beberapa kali ia remat. Hasil visum. Ia mendapatkannya dari perwira polisi yang berdiri tak jauh dari suaminya. Surat keterangan dari rumah sakit yang ditunjuk pihak berwajb untuk memeriksa anaknya kini ada ditangannya. Lembaran itu adalah alat bukti untuk penyelidikan lebih lanjut pihak kepolisian. Tapi tidak, surat itu berakhir ditangannya. Shiori memintanya untuk melenyapkan surat itu.
"Kita harus memisahkan mereka, kau setuju untuk pindah ke Kyoto 'kan? Bukankah kalian ingin pindah dari Tokyo? Kami akan mengurus semuanya." lanjut nyonya besar Akashi, tampak ada keberatan pada iris biru langit di wajah wanita yang duduk di sampingnya. Hal ini telah diputuskan, orang tua Tetsuya tetap bekerja di perusahaan yang sama, tetapi venue-nya berpindah ke Kyoto, masih tetap dibawah naungan Akashi Corporation segmen bisnis jasa.
Ternyata sesaat setelah pemisahan itu dilakukan, Akashi Shiori mendapati putra satu-satunya patah hati. Ia kehilangan, setelah tak menemukan bocah biru kesukaannya.
"Tidak apa, biarkan ia belajar untuk menata hatinya, Shiori, Seijuurou masih terlalu muda, biar ia tambah kuat." hibur suaminya saat sang istri mengkhawatirkan putra tunggalnya.
Keluarga Akashi sering mengadakan pertemuan dengan keluarga lain yang secara level sosial hampir sama dengan mereka, mengenalkan anak-anak mereka, terutama keluarga yang mempunyai anak gadis, siapa tahu ada yang menarik perhatian sang Akashi muda, berharap bisa menghapus entitas biru langit yang disukainya. Alih-alih berteman dan akrab dengan gadis-gadis, ia lebih membenamkan dirinya dengan urusan bisnis dan perusahaan, memperkenalkan dirinya pada keluarga rekan bisnis sang ayah hanya demi sopan santun semata. Hal ini terus berlangsung hingga kini. Berkali pula Akashi muda diajak ayahnya ikut gathering di perusahaan, untuk lebih mengenal pegawai dan rekanan serta keluarganya. Yang intinya siapa tahu ada gadis cantik yang menarik perhatian pemuda itu.
Saat Seijuurou memilih untuk melanjutkan sekolahnya di Kyoto, orang tuanya khawatir anaknya akan menemukan Kuroko Tetsuya di kota itu. Maka dengan alasan mengurus bisnis dan pengobatan yang lebih modern, Akashi Masaomi sengaja menemui kepala keluarga Kuroko yang saat itu tengah menjaga anaknya di rumah sakit. Lelaki penuh wibawa itu meminta keluarga Kuroko untuk pindah ke negara paman Sam menangani perwakilan Akashi ada di Los Angeles.
Kedua keluarga itu berusaha yang terbaik demi anak-anak tunggal mereka.
.
.
~Present~
Mata biru jernih, menatap dalam sepasang iris rubi yang indah. Tetsuya entah mengapa betah berlama-lama menatap iris rubi indah sang sensei. Sementara Akashi merasa hatinya menghangat, ia ingin Tetsuya membuka hatinya, percaya padanya, bergantung padanya.
"Sensei, mengapa kau baik sekali padaku?" tanyanya. Seulas senyum dibibir pria muda itu.
"Apa yang Tetsuya rasakan?" Mantan sensei itu malah balik bertanya. Kedua alis Kuroko bertaut.
"Aku tidak tahu, tapi rasanya aku telah mengenal sensei lama sekali, rasanya tidak asing..." lengan kokoh itu terangkat, membelai pipi Kuroko. 'Apakah kau masih ingat Tetsuya, betapa aku suka sekali melakukannya dulu, membelai pipi gembilmu? Batinnya.
"Begitu menurutmu?" tanyanya lagi, Kuroko mengangguk.
"Atau mungkin dikehidupan sebelumnya kita pernah sangat dekat, sensei?" kepalanya meneleng. Akashi hanya terkekeh. Bukan di kehidupan yang lalu, dear, tapi hanya beberapa tahun yang lalu, sebelum kau menghilang, dan membuatku putus asa.
Sepenggal perbincangan suatu saat ketika mereka bertemu.
.
Akashi semakin sering berkunjung ke apartemen Kagami. Tidak saja menjaga Tetsuya-nya tetapi ia juga sukarela menjadi guru privat mereka. Seperti saat ini, menjelang ujian tengah semester, matematika pelajaran yang sulit untuk dua orang itu, setelah 20 menit satu soal tidak terpecahkan.
"Sensei, Kagami-kun tidak bisa mengerjakan soal nomor 4, katanya sulit sekali." nadanya datar, yang disebut namanya melotot, memang tidak salah sih, tapi kenapa juga namanya disebut.
"Temee!" umpatnya
"Bukannya kau juga tidak bisa mengerjakannya, Tetsuya?" suara tenang mengalihkan tatapannya dari buku bertajuk bisnis modern. Kagami terkekeh merasa menang.
"Aku sedang berusaha, sensei, tapi Kagami-kun mengeluh terus, aku jadi terganggu." diucapkan dengan datar, sementara pensil ditangannya mencoret-coret kertas buram.
Pluk! Karet penghapus mendarat mulus di kening Kuroko.
"Sakit Kagami-kun!" serunya, "tanggung jawab kalau berdarah lagi!" rajuknya menunjuk kening yang masih ditempeli plester. Kagami balas menjulurkan lidah, Akashi menghela nafas. Kalau dibiarkan mereka tidak akan berhenti bertengkar.
"Sudah-sudah, mana yang sulit?"
.
"Taiga, sepertinya sudah terlalu malam untuk aku pulang, aku menginap di sini saja!" setengah minta ijin dan setengah memaksa. Jarum jam hampir menunjuk ke angka dua belas. Kuroko menelungkup di meja rendah, tertidur. Buku-buku masih berserakan.
"Akan aku siapkan futon, sensei." Kagami beranjak. Sementara Akashi membereskan buku, menumpuknya dengan rapi. Membangunkan Kuroko yang sudah terlelap. Tapi sosok mungil itu sudah tidak sanggup lagi membuka mata, hanya gumaman yang keluar dari bibir mungilnya. Akashi mengangkat tubuh ringan itu.
"Aku bantu, sensei." suara Kagami terdengar dari belakang punggungnya. Akashi hanya menggeleng. Sensei yang lebih pendek itu samasekali tidak kesulitan membopong tubuh mungil, lalu menidurkannya di atas kasur bersprei biru muda, di kamar Kuroko.
.
"Taiga, berapa lama kau mengenal Tetsuya?" sesaat setelah keluar dari kamar bercat biru muda itu.
"Aku mengenalnya sejak kelas dua middle school, di LA, sensei." mereka duduk berhadapan.
"Kau tahu tentang treatment kesehatannya?" Kagami mengangguk, bibirnya membentuk garis, enggan membahas masalah ini, tapi seperti dugaannya, sensei pasti ingin tahu tentang masa lalu sahabatnya. Akhirnya Kagami bercerita. Wajah Akashi terkadang mengeras bila Kagami menceritakan hal-hal sulit yang dihadapi sang sahabat, terutama saat Kagami mengatakan bahwa Kuroko beberapa kali menyayat pergelangan tangan, hati pemuda itu kembali berdenyut nyeri. Meski telah menjalani begitu banyak treatment, keinginan untuk melenyapkan dirinya masih juga belum hilang, pikirnya sendu.
"Sensei, sepertinya sudah mengenal Kuroko sejak lama." Akashi hanya mengangguk. "Ya, begitulah. Sudah malam Taiga, sebaiknya kau segera tidur, besok kalian ujian." pungkas Akashi menutup pembicaraan.
"Un, sensei, futonnya mau kuletakan di sini atau di kamar Kuroko?"
"Di situ saja, biar aku nanti yang membereskannya." Kagami mengangguk lalu langkahnya menjauh, masuk ke dalam kamarnya. Buku tentang bisnis modern kembali di bacanya, namun hanya beberapa menit saja, rasa lelah mulai menjalari tubuhnya. Futon yang Kagami letakan di samping sofa dibawa ke kamar Kuroko, menggelarnya di sebelah ranjang tanpa kaki itu, mereka berbaring hampir sejajar. Di sudut ruangan Nigou terbangun, kupingnya berdiri, mendengus, ekornya bergoyang ke kanan ke kiri, lalu menyamankan tubuh gemuknya pada kotak tidur yang hangat. Mata yang sama dengan tuannya menutup.
Wajah tidur Kuroko terlihat sangat damai, mereka berhadapan. Dengkuran halus menandakan betapa pulasnya tidur sosok mungil itu. Akashi bisa menatapnya dengan bebas, helaian biru muda yang sebagian menutup kening disibak, jarinya menelusur pada alis tipis biru muda, pelipis, pipi lembut, dagu, lalu pada bibir yang sedikit terbuka, diusapnya halus. Matanya terkunci disana, tubuhnya bergerak sendiri, jarak dikikis habis, bibirnya bertemu dengan bibir sewarna koral, sedikit mengulum bibir bawah mungil yang kenyal. Sesaat bibir Kuroko menghisap miliknya. Akashi tersentak, matanya terbelalak, ia melepas kecupannya, perlahan ia menjauh, menatap wajah damai itu, Tetsuya masih terlelap, saat ini ia mengulum bibir bawahnya sendiri, di mata Akashi pemandangan itu begitu indah. Kantuk sama sekali hilang. Sepanjang malam ia hanya memandangi wajah itu. 'Aku harus tidur' batinnya. Jarak kembali dikikis, dikecupnya dengan sayang kening putih itu.
"Oyasumi Tetsuya" bisiknya.
"Oyasuminasai, Seijuurou-kun" suara itu lirih, serupa gumaman, mata Akashi membulat sempurna. 'Apa katanya? Dia memanggil namaku seperti dulu!' batinnya.
"Tetsuya." Panggil pemuda itu, namun yang dipanggil hanya menggerakkan tubuhnya perlahan, menarik selimut sampai dagunya tanpa terbangun sama sekali.
"Tetsuya!" panggilnya sekali lagi, diguncangnya pelan pangkal lengan yang tertutup selimut, tapi sosok itu benar-benar pulas. 'Barusan itu nyata 'kan? Tetsuya memanggil namaku' batinnya. Ia sama sekali tidak bisa memicingkan matanya, terjaga sampai pagi, arsir kehitaman tampak di bawah kedua matanya.
.
Akashi menyesap teh, saat Kuroko keluar dari kamar, seragamnya sudah rapi melekat pada tubuhnya yang mungil, sedangkan Kagami menyiapkan sarapan di konter dapur, tinggal telur mata sapi yang masih ia goreng di fry pan.
Kuroko mengeluarkan susu vanilla dalam kemasan dari lemari es. Akashi hanya duduk sambil memperhatikan kedua sahabat itu. Sosok mungil itu tampak segar, rambutnya masih sedikit basah pada ujung-ujungnya.
"Selamat pagi sensei, apa kau menginap di sini?" sapanya saat Akashi mendekati mereka, beranjak dari sofa. Pria muda itu mengangguk meletakan cangkir di atas meja. Kagami yang meletakan telur setengah matang di piring hanya melirik interaksi itu.
"Apa kau tidak tahu, kalau sensei tidur di kamarmu, Kuroko?" katanya
"Eeh." mata lebar itu semakin bulat menatap pria muda itu, seolah bertanya, 'benarkah?' Akashi hanya terkekeh.
"Tidurmu pulas sekali, Tetsuya."
"Sensei, kenapa tidak membangunkanku?" alisnya sedikit menukik.
"Kau bahkan tidak tahu 'kan kalau sensei menggendongmu ke tempat tidur." goda Kagami. Alis biru muda semakin menukik, menatap sang sensei dengan tidak percaya.
"Bohong, Kagami-kun yang gendong aku, seperti biasa." rengutnya pada Kagami yang masih menata tiga piring. Akashi kembali terkekeh.
"Sudah, sudah, cepat sarapan, nanti kalian kesiangan sekolah. Tetsuya, jangan lupa makanan Nigou habis, itu yang terakhir." telunjuk Akashi mengarah pada piring makan yang hampir habis isinya dilahap si anjing kecil.
"Kagami-kun ingatkan aku membeli makanan anjing sepulang sekolah!" yang hanya dibalas gumaman.
Jam 7.20 mereka sampai di sekolah diantar Akashi, yang kemudian melaju menuju mansionnya.
.
"Selamat pagi, Sei." saat ia sampai di kediamannya yang sangat besar itu, Ibunya baru saja melepas kepergian suaminya untuk bekerja, sesaat lalu mereka berpapasan di gerbang, wanita cantik itu menggunakan blouse putih dipadukan celana warna coklat muda, berdiri di depan taman mawar kesukaannya.
"Selamat pagi, okaa-sama." ibunya menatap tajam pada garis-garis hitam halus di sekitar matanya.
"Ada apa dengan matamu?"
"Aku kurang tidur, belajar untuk UAS dan mengajari anak-anak itu matematika." ujar Akashi muda sambil merangkul pundak sang bunda.
"Yang satu bukan anak-anak lagi, Sei." kata ibunya, hanya dibalas anggukan.
"Apakah kau masih menyukai Tetsuya?" nyaris tersedak pemuda itu ditanya demikian.
"Apakah setelah sekian lama kau masih menyukainya, bahkan sekarang keadaannya sudah berbeda?" lanjut ibunya. Pemuda itu menghela nafas, semuanya tidak ada yang luput dari perhatian ibunya. Seperti cenayang saja, semua yang ia punya, ia rasa, ia lakukan, seolah diketahui wanita itu.
"Iya, okaa-sama." Matanya dilarikan pada rumpun mawar yang saat ini sedang bermekaran.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" iris bening ibunya mencari sepasang iris rubi.
"Aku ingin mengembalikan ingatannya…" gelengan kuat ia terima dari ibunya
"Jangan! jangan pernah lakukan itu!" suara sang bunda naik setengah oktaf.
"Kenapa?" sergah anaknya, ia memutar kepalanya, iris mereka kini bertemu.
"Apa kau tega membuatnya sakit lagi? Setelah sekian lama proses penyembuhannya?"
"Tapi Tetsuya sama sekali lupa padaku, okaa-sama." ada nada putus asa.
"Buat lembaran baru, untuknya, untukmu, Sei, lupakan semua masa lalu." ujar ibunya serius.
"Kaa-sama, ba-san memintaku menjaga Tetsuya." hati-hati ia berkata. Tapi hanya anggukan yang ia terima. Pemuda itu yakin bahwa ibunya pasti sudah tahu.
Ya, tentu saja Nyonya Akashi tahu, setelah beberapa hari yang lalu ia dihubungi ibu Tetsuya, bahwa Akashi muda sudah dekat lagi dengan anaknya.
.
.
Minggu pagi, udara terasa lebih hangat daripada sebelumnya, angin yang bertiup pun hanya sepoi-sepoi. Matahari bersinar terang, langit biru seolah memantul dari kedua iris biru yang tampak serius membaca di balkon apartemen. Dari arah bawah Akashi dapat melihat sosok mungil itu. Ia telah merencanakan sesuatu.
"Kita mau kemana, sensei?" Akashi hanya tersenyum lalu memarkirkan mobilnya di halaman sebuah sekolah.
"Ikuti aku Tetsuya" lengan kokoh itu menggandengnya.
"Tapi kenapa mataku harus ditutup? lagian ini jauh, sensei, banyak sekali tangganya" rajuknya, Akashi sesekali memperingatkan langkah Tetsuya, beberapa kali hampir terjerembab karena perbedaan tinggi undakan, dan lengan kokoh itu tidak sekalipun membiarkannya terjatuh.
"Nah, sudah sampai." Tetsuya dapat merasakan angin yang berhembus sedikit kencang, ia berjengit.
"Apa Tetsuya tahu ini dimana?" penutup mata dilepas, Kuroko mengerjap beberapa kali, beradaptasi dengan sinar yang tiba-tiba menyerang retinanya. Kepalanya berputar, bahkan tubuhnya ikut bergerak, mengitari tubuh pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya. Matanya berbinar.
"Tetsuya tahu?" ulang Akashi
"Un!" jawaban singkat disertai anggukan. Mata Akashi berbinar.
"Lalu?"
"Ini middle school-ku, sensei."
"Lalu?"
"Lalu aku pindah ke Kyoto, terus ke Amerika." kening Akashi berkerut. 'Sesimpel itu kah?' batinnya. Kuroko berjalan ke arah pagar pembatas, kedua lengannya berpegangan pada besi pagar itu. Matanya terpejam menikmati hembusan angin yang menyapu pipinya, kulit putihnya yang halus memantul sinar matahari pagi. Sungguh indah di mata Akashi yang sekian lama merindukannya. 'Aku harap ini waktu yang tepat' batinnya.
"Tetsuya, aku menyukaimu" bisiknya tepat di telinga kanan Kuroko, tubuhnya tepat di belakang tubuh mungil, sementara masing-masing tangannya menangkup di atas kedua tangan mungil itu.
"Sensei…" belum sempat Kuroko menyelesaikan ucapannya, bibir Akashi sudah menempel di pipinya. Hangat. Semburat merah mengarsir parasnya bahkan sampai daun telinganya. Lengan itu kini melingkar di perut Kuroko. Tubuh kokoh memerangkap tubuh mungil di depannya. Wangi vanilla dan mint bercampur. Akashi terlena, Kuroko terbuai. Kedua pasang mata mereka terpejam. Menikmati sensasi hangat.
"Seijuurou-kun…" bibir mungil itu bergumam, menyebut sebuah nama.
"Tetsuya!" seketika mata Akashi membulat, membalikan tubuh mungil itu, menghadapkan wajah itu padanya. Kuroko tidak kalah kaget, menangkup rapat bibir dengan kedua tangannya. Ada rasa bersalah pada iris biru mudanya. Wajahnya mengeras.
"M maaf, maafkan aku, sensei, maaf…" Kuroko tidak bisa berpaling, karena kedua tangan itu menangkup pipi gembilnya. Mata rubi itu menusuk tajam iris biru langit. Kuroko ingin menghilang saat ini juga. 'Kenapa nama itu tiba-tiba saja keluar dari bibirku' sesal Kuroko.
Dalam satu hentakan tubuh itu dipeluk erat. Wajah Akashi membenam dalam pundak ringkih.
"Aku sangat merindukanmu, Tetsuya" bisiknya. Ada gelenyar dihatinya.
"Sensei, maafkan aku, aku…" Kuroko berusaha keluar dari pelukan Akashi.
"Kenapa Tetsuya?" kening Akashi berkerut, hatinya hangat, hatinya bahagia. Tapi mengapa Tetsuya-nya merasa bersalah.
"Tetsuya…" Akashi khawatir, mata lebar itu berair.
"Aku tidak sengaja, sensei…." Akashi semakin bingung. Ditariknya pelan lengan kurus itu, ia dudukan di pangkuannya.
"Apa yang salah, Tetsuya?" yang ditanya hanya mampu menunduk.
"A aku…hanya…aku… tidak tahu tiba-tiba menyebut namanya, sensei." suaranya lirih. Akashi tersenyum membelai surai lembut itu.
"Hmm, siapa dia?" pancingnya.
"Di dia…aku tidak ingat " Kuroko menggeleng dua tiga kali.
"Dia orang yang kau sukai?" Kuroko mengangkat bahu, "mu mungkin…". Senyuman di bibir sang sensei semakin lebar.
"Apa aku bisa menggantikan posisinya?" kini kepala itu mendongak, mempertemukan iris biru lebar itu dengan rubi yang tampak berpendar bahagia.
"Aku tidak tahu, sensei."
"Kau ingat dia seperti apa?" mata Kuroko terpejam membayangkan sesuatu.
"Aku lupa sensei, tapi rasanya dia sedikit mirip seperti sensei, tapi…" ingatan Kuroko benar-benar kabur.
"Tetsuya, aku tidak keberatan kau mengingat orang itu, tapi kau harus tahu, kau milikku seutuhnya"
"Sensei, apa di dunia ini ada dua orang yang sangat mirip?"
"Mungkin…" Akashi menggantung jawabannya.
"Sepertinya sensei sedikit mirip dengannya, wanginya… ah entah aku lupa…" membuat Akashi tersenyum geli, 'tentu saja Tetsuya'.
Orang paling dicintainya sudah kembali, berada nyaman dalam pelukan.
"Sensei, mengapa membawaku kemari?"
"Aku hanya ingin Tetsuya mengingat sesuatu."
"Tentang apa sensei, rasanya banyak sekali yang aku lupa."
Sekolah itu sepi, gym tempat mereka berlatih dulu masih kokoh berdiri. Tidak berubah sedikit pun, mungkin hanya cat yang melabur temboknya nampak sedikit kusam.
Di Gym itu, di ruang loker itu, di ruang ganti itu…. Tiba-tiba tubuh Kuroko berbalik mendekap tubuh kokoh di depannya, tangannya mencengkeram kuat punggung Akashi. Tubuh ringkihnya bergetar. Dia sangat ketakutan.
"Tetsuya…"
"Sensei, tolong bawa aku pergi dari sini, kumohon..." suaranya memelas. Akashi membisikan kata-kata penenang, mengusap punggung kecil itu dengan penuh sayang. Menatap biru bening itu dengan sangat intens menyalurkan kekuatan.
"Tidak akan terjadi apa-apa, Tetsuya."
Jemari lentik itu bergetar, Akashi meraih, menggenggamnya ia dapat merasakan tubuh di depannya gemetar.
"Apa yang Tetsuya takutkan?" Tanyanya lembut. Kuroko sesak, ia hanya bisa membuka mulutnya tapi tak ada satu suara pun yang keluar dari sana.
"Tidak akan ada yang menyakiti Tetsuya sedikit pun, kau paham?" Entah apa yang menjadi ketakutannya, namun rasa tak nyaman itu berangsur hilang. Sosok kokoh yang ada di dekatnya benar-benar mampu membuatnya sedikit tenang. Tapi tiba-tiba Kuroko memberontak, melarikan diri ke luar ruangan, Akashi tersentak kaget, ia segera berlari menyusulnya.
"Tetsuya... Tetsuya..." panggilnya, ia mencari ke setiap sudut terdekat gedung olah raga ini.
Akhirnya ia mendapati pemuda itu tersudut di depan gudang penyimpanan alat-alat olah raga. Tengah berjongkok kepalanya terbenam diantara lututnya, isakannya terdengar.
"Tetsuya." panggil Akashi dengan khawatir.
"Jangan mendekat Seijuurou-kun, jangan dekati aku, aku kotor, aku menjijikkan". Lengan putih itu mengibas, seolah berkata 'menjauh…menjauhlah!'
Suara Kuroko seperti lolongan, air matanya berurai. Matanya terlihat kosong. Akashi panik. Diterjangnya tubuh mungil itu. Rasa bersalah merajai hatinya.
"Jangan seperti ini lagi, sayang!" ucapannya lolos begitu saja.
"Aku tidak pantas bersamamu, Seijuurou-kun, aku ...aku...mau mati saja…"
"Tidak, tidak, lihat aku, Tetsuya!" mata itu basah.
Akashi menolak mengalami kejadian itu lagi.
"Tetsuya dengarkan aku, lihat aku!" Bahunya dicengkeram kuat. Iris lebar biru langit itu redup, sama sekali tidak ada cahaya didalamnya. Hanya ada luka. Keping biru muda bergulir, menatap iris rubi yang menatapnya khawatir.
"S sensei...sensei" suaranya tercekat, dan tubuh itu pun ambruk. 'Benar kata okaa-sama, aku tidak boleh melakukannya, aku hanya menyakiti Tetsuya' batinnya. Tubuh mungil itu ia peluk erat. Ia menyesal. Sangat.
.
.
~Kuroko side~
Mata lebar Kuroko semakin membesar ketika menoleh ke arah ruang ganti itu.
Kilatan peristiwa enam tahun yang lalu seakan seperti sebuah film rusak yang diputar ulang, dalam rentetan gambar yang kadang tersendat dan buram.
Beberapa kilasan muncul di kepalanya, ketika seseorang yang sangat ia kagumi menyatakan perasaannya padanya. 'Seijuurou-kun' ia memanggil nama pemuda itu. Ingatan kaburnya seolah memperlihatkan saat mereka berada di atap sekolah beberapa minggu sebelumnya. Hatinya hangat, mulai saat itu remaja tampan yang dipuja di seantero sekolah memilihnya menjadi kekasih. Hari-hari dilalui dengan perasaan senang, dan sensasi hangat yang menggelayuti hatinya. Seolah semua tersenyum padanya. Hari-hari terasa indah dan ringan.
Rasa bahagia membuatnya lengah, ketika ia sedang mengganti seragam seorang diri di ruang loker, tubuh bagian atasnya terekspos. Tiba-tiba sepasang tangan kokoh mendekap tubuhnya, dia memberontak tapi kepalanya membentur pintu loker dengan keras, sesaat kesadarannya hilang. Setengah sadar ketika merasakan tubuhnya dijamah dengan liar, leher belakangnya digigiti basah, ia berusaha untuk kembali memberontak, tapi kini tangannya terikat. Ketakutan luar biasa menderanya. Apalagi saat ia merasakan celana olahraga ditarik, air matanya meluncur, ia berusaha menggerakkan tubuhnya saat dua lapis fabrik itu dilepas paksa ia berteriak namun mulutnya dibekap, dalam ketakutan yang membuncah ia merasa genitalnya diremas. Mata lebar itu membeliak saat bagian belakangnya merasakan sesuatu yang tumpul dan keras memenetrasi bagian itu. Rasa sakit yang tak terperi menyebabkan jiwanya seolah keluar dari tubuhnya yang ringkih. Ia menjerit namun hanya sampai rongga mulut saja, karena dekapan tangan besar itu, ia tak tahan dengan sakit dan perihnya. Air matanya bercucuran. Rasa sakit yang membekukan pikirian serta tubuhnya, semua sendinya seakan terlepas. Tanpa sadar ia hanya mampu menggeleng-geleng kepala.
"Kaa-san tolong Tetsuya, sakiit! kaa-saan…", bola matanya memutih. Setelah itu pemuda mungil itu merasa semuanya menjadi gelap. 'Apakah ini akhir dari hidupku? kaa-san, tou-san…kami-sama…'
Ia tidak pernah bisa melupakan sakit dibagian belakang tubuhnya, ia masih bisa merasakan bagian itu robek dan berdarah.
.
Saat mulai masuk sekolah setelah menjalani pengobatannya yang pertama ia merasa seluruh mata yang menatapnya seakan menuduhnya jalang. Kuroko ingin lenyap dari muka bumi saat itu juga. Ia malu. Teramat sangat. Tidak pernah ada lagi hari cerah dalam hidupnya.
Rasa sakit yang mendera dan rasa terluka yang dalam membuat jiwanya goncang. Ia tak mau bertemu siapapun, tak mau disentuh siapa pun. Terutama 'dia' juga teman-temannya di klub basket yang hampir setiap hari berlatih bersama sebelum kejadian itu, Kuroko tidak mungkin bisa bersama mereka lagi, dirinya sudah ternoda, sudah hancur. Meski begitu Aomine Daiki, Kise Ryouta, Midorima Shintaro, dan Murasakibara Atsusi, serta manajer mereka, Momoi Satsuki, tidak pernah sekalipun memperlakukannya secara buruk, bahkan mereka lebih melindunginya lagi. Tidak pernah membiarkannya sendiri. Apalagi sang kapten, tak pernah sekalipun membiarkannya lepas dari penjagaan.
Saat dia yang sangat disukainya selalu ada didekatnya, bukan membuat Kuroko senang tetapi semakin merasa bersalah, dirinya tidak bisa menjaga diri dan tubuhnya, rasa bersalah itu semakin menjadi, membuatnya ingin mati. Ia tak kuat melihat mata berwarna rubi indah itu menitik air mata, saat dia menemaninya malam-malam, saat diperlakukan secara lembut, ia akan memilih menyakiti dirinya sendiri. Ingin meninggalkannya agar tak usah melihat paras tampan itu bersedih pada mahluk sampah seperti dirinya.
Kuroko semakin lama seperti tubuh tanpa nyawa, ia hanya mengikuti semua yang dilakukan pada tubuhnya, pikirannya, apa pun itu. Ia berkali-kali ingin lenyap dari muka bumi, dari semua orang yang pernah dikenalnya. Ia benar-benar ingin menghilang untuk selamanya. Hal yang masih ia pikirkan adalah bagaimana menghapus air mata dari wajah ayu okaa-sannya, ia ingin wajah otou-sannya tidak tertekan lagi. Hanya itu. Mantra yang selalu dikatakan okaa-sannya setiap waktu menjadi penguatnya.
"Tetsuya anak okaa-san yang kuat, semua akan baik-baik saja," lalu bundanya melanjutkan "Tetsuya hanya tinggal mengikuti semua yang dokter katakan, dan kau akan segera sembuh, melupakan semuanya." Ucapan yang menenangkan.
"Semua akan baik-baik saja." Kata yang terus berputar di kepalanya.
Perlahan sosok dengan surai merah itu mengabur seiring waktu, seiring sinar-sinar biru lembut memasuki retinanya yang rutin disorotkan oleh dokternya, seiring obat-obat yang ia telan, seiring hitungan angka yang hypnotherapist sebutkan. Makin lama makin tenang, sosoknya hilang dari ingatan Kuroko, semua tentang kejadian menyedihkan itu mengabur. Tidak ada lagi yang menyakitkan. Semua seolah terbarukan. Terasa ringan. Disampingnya ada ayah, ibu, juga sahabat baiknya yang selalu siap membantu, mendukung, bahkan menjadi sandarannya.
Saat ini sandarannya bertambah satu, seorang sensei baik hati yang rela ada untuknya. Ada pendar bahagia saat sensei bersurai merah itu memberikan perhatian lebih. Ada rasa hangat yang meyusupi hati waktu sensei berada di dekatnya. Entah mengapa Kuroko seperti mengalami déjà vu. Tapi ia tidak ingat dibagian mananya. Hanya saja ia merasa pernah merasakan perasaan yang sama yang tengah ia alami sekarang, tapi entah kapan, entah dengan siapa.
.
.
Mata biru lebar mengerjap saat ini ia ada di kamarnya, berbaring, sementara pemuda dengan surai merah, berada disampingnya. Jemarinya bertaut.
"Tetsuya sudah bangun?" tanya sebuah bariton dengan lembut. Tubuh ringkih itu mencoba bangkit, mendudukan diri di kasur single-nya.
"Sensei…" ada nada getir pada suaranya, Akashi dapat mendengarnya, ada sayatan dihatinya. Jemari mungil itu melepas tautannya. Wajah pucat itu semakin pucat.
"Sensei, aku mengingat beberapa hal, apakah…apakah kau Seijuurou-kun?" suaranya bergetar, wajah manisnya tertunduk surai depannya menutupi sebagian wajahnya. Iris rubi melebar, sesaat ia tidak tahu harus menjawab apa, ada rasa khawatir, takut akan kehilangan sosok di depannya lagi bila ia salah menjawab. Tapi bagaimana pun juga hatinya sudah tidak kuat bila menahannya terlalu lama.
"Tetsuya, aku, ya aku Seijuurou-kun mu." suaranya pelan. Wajah di depannya berpaling, air matanya tak dapat ditahan, meluncur begitu saja.
"Seijuurou-kun" bisiknya pilu. Tiba-tiba tubuh mungil itu didekap, surai biru langitnya diusap lembut.
"Tetsuya, aku merindukanmu, tolong jangan jauhi aku lagi."
"Tapi, Sen – Seijuurou-kun, aku…aku…hiks…" kalimatnya terputus, tak sanggup untuk melanjutkannya.
"Semua akan baik-baik saja, Tetsuya" ditepuknya punggung mungil itu, dan sekali lagi ia mengucapkan mantra itu, "Semua akan baik-baik saja".
"Aku akan selalu ada disisimu selamanya" janji yang diucapkan dengan tulus dari dasar hatinya yang terdalam. Janji yang pernah ia ucapkan dulu.
.
'Dear, aku akan selalu ada untukmu, berusaha menghapus memori buruk yang telah aku lakukan padamu dulu, walaupun aku takkan pernah sekalipun melupakannya, karena aku hanya milikmu, Seijuurou hanya terikat pada Tetsuya seorang. Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu menderita. Aku tak pernah menyangka aku telah menyebabkanmu trauma seperti ini. Hanya saja aku terlalu mencintaimu, menginginkanmu lebih dari apapun di dunia ini. Kau tak pernah tahu jika hatiku sebagian telah mati rasa karena merindukanmu. Aku akan menutup semuanya, aku akan memulai cerita baru untuk kita, Tetsuya '.
Sulur-sulur hangat itu merambati hati keduanya, mengikat jiwa yang saling merindu. Mereka ungkapkan dengan pelukan yang semakin erat.
.
~TBC~
.
Note:
Dear readers….
Mohon maafkan karena keterlambatan Mel melanjutkan cerita ini...~bowing
Chapter depan adalah yang terakhir dari cerita ini. Pastinya reader sudah tahu akhirnya akan seperti apa, tapi boleh kan kalau Mel minta saran bagusnya diakhiri seperti apa?… XD
Terimakasih untuk yang sudah membaca, follow, favorit, dan review cerita ini XD
Especially for miichan maru, ShirShira, killua san, Vanilla Parfait, Sunsuke UzuChiha, kyokohikari, Gaby, Akashi Seira, cbx, thanks for your review, energizing me…^^
~Love you all
and
happy new years~~
