Memory 02:

Seorang penembak jitu membidik Satoru, Kazuto dan Asuna berlari melompati atap rumah. Kazuto melempar pisau ke penembak jitu sambil berkata, "Lari semua!"

Saat itulah, penembak jitu terus menembak mereka yang terus berlari. Satoru berdiam diri sejenak, lalu melihat sekitar ada peluang untuk kabur dari sini.

"Di sana! kita bisa langsung melompat, dan mencoba bersembunyi di semak-semak. Hati-hati, dan jangan kita ditangkap. Paham?!" perintah Satoru.

Kazuto dan Asuna mengangguk. Mereka langsung bergegas dan bersembunyi di semak-semak. Sementara itu, Kazuto melihat seorang pria yang mengenakan jubah templar, dan berkata, "Halo, Satoru. Sudah lama tidak jumpa."

"Kau. Kau yang mengincar kubus ini sejak awal, bukan? Jadi kau menggunakan istilah manuscript dan box itu adalah ulah kamu. Betul, kan?" kata Satoru.

"Kau tahu banyak tentang para member Templar maupun Grandmaster Templar. Hebat juga kau."

"Aku memang dari dolo Templar, dasar bodoh sebelum kau mengkhianatiku, Wolf McCarthy!" geram Satoru.

"Hahahhaa. Coba saja kalau berani!" teriak Wolf McCarthy.

Saat itulah, Asuna dan Kazuto menyerang dari arah belakang membunuh pengawal di samping Wolf. Dia terkejut, dan langsung menghunus pedang tepat ke mereka. Tetapi Wolf meremehkan Asuna dan Kazuto. Meski mereka sepasang kekasih, tetapi kalau soal pertarungan, mereka jauh lebih kuat jika bersama. Karena itulah, Wolf menggunakan segenap kekuatannya untuk membunuh mereka. Kazuto mencoba menekling kakinya, dan Asuna menusuk ke bagian titik vitalnya. Wolf mencoba mengimbanginya, tetapi dia kesulitan karena kecepatannya melebihi apa yang dia perkirakan, sehingga mudah saja dia dibunuh oleh mereka. Wolf tersungkur ke tanah. Satoru terkejut semua fieldnya tiba-tiba menjadi axis dan kabur. Lalu, dia mencoba untuk bertanya kepada Wolf sebelum mati.

"Di mana mereka?" Tanya Kazuto

"Maksudmu Kagami-sama dan Sudou, huh? Kau selangkah lebih lambat dari biasanya. Mereka sudah di Istana untuk negosiasi dengan Raja. Aku tidak menyangka kau bisa membunuhku dengan cepat, Kazuto. Aku yakin kau tidak mengetahui apa-apa mengenai Piece of Eden."

"Apa maksudmu?" Tanya Asuna bernada geram.

"Manusia memang seperti itu. Ketika sudah dapat barang, mereka belum puas. Tetapi aku tidak,"

"Tetapi kau membunuh orang tidak bersalah! Aku ingat saat di TV kau berkata bahwa kau bertanggung jawab soal pemusnahan di Afghanistan. Tetapi kau cuci tangan dan menyalahkan orang lain. Aku sudah mengetahui trikmu, Templar!" geram Kazuto.

"Eh?" Tanya Asuna bingung

"Asuna, dia adalah orang yang bertanggung jawab melakukan pembunuhan 121 jiwa, termasuk perempuan, dan balita." Kata Kazuto.

"Kau sudah tahu, Assassin. Sayang sekali aku tidak bertemu denganmu secara langsung, Satoru. Kau memiliki partner Assassin yang mena…kutkan." Dan Wolf mati menghembuskan nafas terakhir.

Sementara itu, Koichirou membuntuti Francois Thomas-Germain sambil berjalan dan berpura-pura menjadi seorang pendeta. Francois Thomas-Germain memungut benda tersebut, dan ternyata…itu adalah surat perang dari Templar. Saat itulah, Germian sadar dan kabur dari keramaian. Sadar Koichirou melihatnya, dia bergegas untuk mengejar Germain. Tetapi di cegah oleh seorang Assassin berhoodie biru. Dia mencegah dengan menubrukkan tubuhnya sendiri.

"Siapa kau? Kenapa kau mengangguku?!" geram Koichirou.

"Tenang dolo. Germain sudah tidak ada. Aku yang telah membunuhnya." kata Assassin berhoodie biru.

"Kau pasti…Arno Dorian, kan? Sang Assassin?" Tanya Koichirou.

"Mantan Assassin. Itu benar. Tetapi aku juga tidak memihak Templar, karena dia telah membunuh orang tuaku." Kata Arno.

"Lantas kenapa kau tidak kembali ke Brotherhood?" Tanya Koichirou.

Arno Dorian membalikkan badan sambil berucap, "Ada kalanya, aku tidak ingin memihak manapun. Aku kehilangan Elise, orang yang aku sayangi."

Next