Night Melody

Opus 09: Move

Disclaimer:

Tsubasa Reservoir Chronicle © CLAMP


Aku ingin kita bisa…

Berjalan bersama di bawah sinar matahari yang hangat…

Bisa bercanda dan tertawa bersama…

Maaf, karena jalanku lambat.

Tapi tidak apa, aku yakin kamu pasti mau menyesuaikan langkah denganku.

Meski bergerak pelan, kita akan berjalan ke depan bersama ya.


Kediaman Kinomoto, ruang kerja Touya…

Touya sedang duduk termenung di meja kerjanya. Dia terus terpikir adiknya, Sakura, yang penyakitnya semakin memburuk. Touya sudah mengirim e-mail pada Ayahnya yang sedang berada di Eropa.

Touya menghela napas, lalu memijat-mijat kepalanya. Dia disibukkan oleh berbagai pekerjaan kantor menggantikan Ayahnya, dan kuliah yang masih ia lanjutkan. Dan ia masih harus membagi waktu semua itu dengan adiknya yang sakit.

Lelah. Tentu saja Touya lelah. Tapi dia tidak ingin terlihat begitu. Touya adalah pria muda yang tegar dan keras. Didampingi Yukito, sahabat dan asistennya, Touya melakukan semua pekerjaannya dengan baik.

Touya menarik napas panjang, lalu bersender di kursinya. Dia melirik ke foto-foto di sisi meja kerjanya.

Foto keluarga saat masih ada Ibunya. Ibunya begitu cantik, namun juga begitu rapuh. Dia selalu begitu baik dan lembut padanya.

Lalu ada foto-foto masa kecil Touya dan Sakura. Saat-saat Sakura sehat, mereka suka bermain bersama. Saat Sakura tertawa riang dengan ceria. Hati Touya jadi pilu sendiri mengingat masa-masa itu.

Tok! Tok! Pintu ruangan Touya diketuk. Touya terlalu malas untuk mengangkat kepalanya, jadi dia hanya menjawab, "Masuk."

Pintu terbuka. Sesosok pria muda berwajah manis berkacamata masuk.

"Touya." Panggil Yukito. Begitu mengenali suara itu, Touya langsung mengangkat wajahnya dan menatap sahabatnya yang tersenyum lembut.

"Yuki? Ada apa?" tanya Touya.

"Makan malam sudah siap. Ayo makan." Ajak Yukito.

Touya tersenyum, lalu mengangguk dan beranjak dari kursinya.

Yukito memang tinggal di kediaman Kinomoto karena urusan pekerjaan. Ayah Touya dan Touya sendiri yang mengajaknya karena Yukito memang dibutuhkan untuk pekerjaan, selaku tangan kanan Touya.

Lalu ada Wei, pria keturunan Cina, semacam butler di keluarga Kinomoto. Dia adalah tangan kanan Ayah Touya dan Sakura. Saat ini, dia juga ikut menemani kepala keluarga Kinomoto mengelilingi Eropa.

"Sudah ada balasan mail dari Tuan Kinomoto?" tanya Yukito.

Touya tidak langsung menjawab. Dia menunduk sedikit, lalu menggeleng. "Ayah juga pasti sibuk disana. Bekerja sambil terus mencari pengobatan alternatif untuk Sakura." Jawab Touya.

"Begitu ya?" sahut Yukito. Wajahnya jadi agak murung. Touya tersenyum tipis, lalu menepuk kepala Yukito.

"Kenapa kau menekuk wajah begitu? Pasti nanti Ayah akan memberi kabar baik untuk kita dan Sakura. Tenang saja." Kata Touya. Yukito tersenyum dan mengangguk.

Ya, pasti akan ada kabar baik.

xXxXxXxXxXx

Disaat yang sama, Rumah Sakit kota, kamar 108…

Sakura membolak-balik lembaran album mini dari Tomoyo. Album itu penuh dengan foto-foto masa kecil mereka berdua. Sakura jadi senyum-senyum sendiri melihatnya.

"Sakura? Masih belum tidur?" Suster Kusanagi masuk ke kamar. Sakura tersentak, lalu cengengesan.

"Maaf, aku tidak sadar kalau sudah larut." Jawab Sakura. Suster Kusanagi mencibir.

"Lagi lihat apa?" tanyanya. Melirik ke album mini di tangan Sakura.

"Album foto jaman aku SD dan awal SMP, hehe." Jawab Sakura malu-malu. "Waah, Sakura manis sekali! Ini Tomoyo, bintang idola yang temanmu itu ya? Manisnyaa!" Kusanagi jadi asyik sendiri. Sakura tertawa-tawa.

"Sakura-chan waktu kecil manis sekali yaa!" sahut Kusanagi riang. Sakura tersipu malu. "Suster bisa saja. Lebih manis aku waktu SD dibanding sekarang ya?" tanya Sakura sambil tertawa.

"Iya sih." jawab Kusanagi tegas. Sakura langsung terdiam. Suster Kusanagi melirik sedikit lalu tertawa kecil.

"Sakura itu berkali-kali lipat manisnya kalau tersenyum dengan tulus dan ceria, seperti dalam foto-foto ini." Ujarnya lembut, sembari mengusap-usap kepala Sakura.

Kusanagi melirik jam dinding.

"Sebentar lagi siaran radio kesukaanmu 'kan? Habis itu tidur ya." Suster Kusanagi tersenyum lalu beranjak dari sisi tempat tidur Sakura. Sakura mengangguk mengerti dan tersenyum. Lalu Suster Kusanagi keluar dari kamar Sakura.

Sakura mengerti apa yang tadi dimaksud Suster Kusanagi. Senyum yang tulus dan ceria, bukan senyum yang memaksakan diri. Meski tahu maksud perkataannya, Sakura tidak dapat menjawab apapun.

Sakura menyalakan radio kecil di samping tempat tidurnya. Dia mendengarkan lagu-lagu dari radio itu sambil ikut bersenandung.

Sesi 'Acara Curhat' dimulai.

"Konbanwa, minna-san! Di malam musim panas yang agak lebih sejuk dibanding kemarin-kemarin, saya, Nina-tan akan mulai membacakan curhatan dari para pendengar!" sapa si penyiar ceria.

"Ngomong-ngomong, kami dapat lumayan banyak respon untuk Li-san. Mereka bertanya-tanya Li-san itu siapa, dan apa ada curhatan baru lagi dari dia. Ckck. Li-saaaan, apa kau mendengarkan siaran ini? Kau dapat banyak fans nih!"

Sakura spontan tertawa mendengar itu. Meski Syaoran tidak mengakuinya, Sakura tahu bahwa Li-san itu adalah Syaoran.

"Hei para fans Li-san! Berita bagus nih, ada e-mail dari Li-san!" suara riang dan renyah si penyiar itu terdengar lagi. Sakura memasang telinganya dan mulai mendengarkan dengan seksama.

"Ehem…"

'Setiap hari aku memikirkan Peri itu. Wajahnya, suaranya, senyumannya, tawanya… aku selalu memikirkan dia. Rasanya sulit untuk menghilangkan bayang-bayangnya dari benakku.

Sebisa mungkin, aku temui Peri itu tiap hari. Ya, tiap hari. Dan makin hari, Peri itu semakin rapuh. Seakan-akan sayapnya mulai patah. Oh bukan, dari awal, sayapnya memang sudah patah. Itu sebabnya aku bisa bertemu dengannya.

Peri itu semakin lemah dan lemah. Aku takut. Takut sekali… Peri itu akan menghilang. Mengalihkan pandangan sedikit, dan cahaya Peri itu semakin redup. Apa yang akan terjadi apabila cahaya itu menghilang? Apa Peri itu juga akan menghilang? Kuharap tidak.

Meski cahayanya meredup, Peri itu tetap tersenyum. Dia berusaha untuk tetap tegar. Itu membuatku terkesan dan tersentuh. Dia cantik, rapuh, namun tegar dan kuat.

Peri itu sudah memilih yukata untuk pergi ke festival. Dia terlihat gembira sekali. Aku ikut senang melihatnya.

Hei Peri, jangan sampai kau kehilangan cahaya mu sebelum festival ya. Aku ingin sekali pergi bersama denganmu ke festival itu. Kita berdua akan memakai yukata dan geta, lalu berjalan berdampingan.

Memutari festival, main bersama, beli cemilan, bercanda, tertawa. Aku ingin bisa tertawa bersama mu. Dengan mu.

Hei Peri, aku menyukaimu.'

Setetes air mata mengalir dari sudut mata Sakura. Wajahnya merah. Merah sekali. Sama seperti waktu sebelumnya. Dia menunduk, lalu menenggelamkan wajahnya diantara kedua tangannya.

"WAAH Li-san menyatakan cintanya!" Si Penyiar heboh. "Aih, Li-san semakin romantis saja ya. Tapi kok curhatannya agak sedih.. apa si Peri itu sedang sakit? Kasihan. Semoga si Peri cepat sembuh! Supaya Li-san tidak mengirim curhatan sedih lagi." Komentar Nina-tan ceplas-ceplos.

"Baiklah, curhatan selanjutnyaa…."

Sakura tidak mematikan radionya, tapi juga tidak mendengarkan siaran itu. Siaran curhatan Li-san terus berdengung di telinga dan dadanya.

Sakura jadi linglung. Akhirnya dia mematikan radionya, dan menarik selimut. Sebelum menutup mata, dia menggumam pada dirinya sendiri;

"Sembuh. Ya. Aku harus sembuh!"

xXxXxXxXxXxXx

Keesokan harinya, seperti biasa, Touya datang menjenguk Sakura. Bersama Yukito.

"Sakura," Touya menatap lurus adiknya. Tatapan yang tajam dan serius. Tangan kanannya menggenggam sebuah amplop putih. Sakura yang tidak begitu mengerti, hanya memiringkan kepala dengan bingung.

"Apa?" tanyanya.

"Begini, aku… sudah mengabari Ayah tentang kondisimu. Dan aku menanyakan apa Ayah sudah menemukan pengobatan alternative untukmu di luar (negeri). Dan... ini jawabannya." Touya mengangkat amplop putih itu, memperlihatkannya ke Sakura.

Sakura diam sejenak, menunduk, lalu mengangkat kepala lagi. Dia tersenyum tipis. "Lalu? Ayah jawab apa?"

Touya mendesah pelan, lalu menyerahkan amplop putih itu ke Sakura. "Bukalah, dan baca sendiri."

Sakura mengangguk, lalu meraih amplop itu. Dibukanya dengan hati-hati, dan dibaca dengan hati berdebar. Sakura membaca tanpa suara dan tanpa ekspresi.

Begitu selesai membaca, Sakura melipat kertas surat itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop. Dia tersenyum manis ke kakak dan sahabat kakaknya. Touya dan Yukito tertegun.

"Katanya… aku harus pindah rumah sakit ya? Ke yang di Jerman." Ujarnya.

Touya dan Yukito berpandangan, lalu Touya menatap adiknya. "Ya. Kau harus pindah rumah sakit, dan menjalani operasi disana. Juga pengobatan dan terapi lainnya."

"Aku mengerti. Syukurlah, Ayah sudah menemukannya." Sahut Sakura tenang.

"Sakura? Untuk pengobatan itu, kau harus menetap di Jerman selama beberapa tahun. Tidak apa?" Tanya Touya khawatir.

Sakura terdiam. Lalu mendesah pelan. "Kurasa…. tidak apa-apa."

"Ah, bukan kurasa lagi, tapi memang tidak apa-apa! Ini 'kan demi kesehatan ku sendiri!" seru Sakura tiba-tiba. Dengan senyum dan nada yang dipaksakan ceria.

"Sakura-chan…" Yukito terlihat prihatin. Sakura hanya tersenyum sekilas.

"Jerman ya… pasti cantik sekali disana. Oh, kuharap aku dapat kamar yang bisa melihat pemandangan sekitar!" gumam Sakura riang. "Kapan aku pindah kesana?"

Touya tidak langsung menjawab. Lalu berdehem. "Minggu depan."

Sakura sempat terbelalak, tapi kemudian dia terdiam. Dia menghela napas pendek, lalu tersenyum tipis.

"Secepat itu ya… nggak bisa ikut festival deh." Gumamnya pelan. Meski pelan, Touya yang bertelinga tajam bisa mendengarnya. Dia langsung merasa bersalah.

"Maaf Sakura, tapi lebih cepat diproses, lebih baik."

Sakura menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum lebar. "Kenapa Kakak minta maaf? Tenang saja! Aku juga mau cepat-cepat sembuh kok!"

Touya dan Yukito berpandangan. Touya menghela napas, lalu mengelus-elus kepala Sakura. Seulas senyum yang lembut tersungging di wajahnya. Sakura ikut tersenyum manis. Jarang-jarang kakaknya seperti itu. Yukito malah jadi gemas sendiri dan ingin memotret momen itu.

Malam harinya, Syaoran datang berkunjung. Sakura menyambut dengan riang dan senyum lebar.

"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Syaoran.

"Heem, aku masih merasa lemah. Tapi aku tidak apa-apa!" jawab Sakura buru-buru.

"Ya, kau selalu mengatakan itu." Syaoran tertawa kecil. Lalu tersenyum lembut. Dia menepuk kepala Sakura pelan. Sakura tersenyum.

"Oh iya, hari ini Kurogane-san dan Fay-san tidak bisa ikut menjenguk karena diajak minum sake oleh bos mereka." Kata Syaoran.

"Heeh? Haha pasti menyenangkan. Mereka memang seharusnya lebih menjalani hidup, daripada terus menemani anak perempuan penyakitan." Sahut Sakura, sambil tertawa renyah. Syaoran yang mendengarnya, tidak ikut tertawa. Dia malah menekuk wajahnya.

"Kenapa bicara begitu?" Tanya Syaoran.

Sakura tidak menjawab. Dia menunduk sedikit, lalu menggeleng. "Maaf."

"Kenapa minta maaf?" Tanya Syaoran lagi.

"Karena sepertinya Syaoran marah!" jawab Sakura.

"Aku tidak marah, aku hanya bingung kenapa Sakura bicara begitu. Kurogane-san dan Fay-san sayang padamu, makanya mereka memperhatikanmu. Kenapa Sakura sendiri malah bicara begitu?" ujar Syaoran.

Sakura menggigit bibir bawahnya. "A-aku… aku hanya… tidak ingin jadi beban. Tidak ingin merepotkan."

"Sakura bukan beban, dan tidak merepotkan." Syaoran memeluk Sakura dengan lembut. Sakura mengangguk pelan.

"Terima kasih." Gumamnya.

Syaoran tidak menjawab, dia hanya tersenyum sekilas.

Sakura melepaskan diri dari pelukan Syaoran. "Uhm.. Syaoran, festivalnya kapan?" Tanyanya.

"Festival? 15 hari lagi. Sakura tidak sabar ya?" balik Syaoran bertanya, sambil tertawa kecil.

"Hehe iya. Tidak sabar. Sangat tidak sabar. Aku jadi berharap festival itu datang sebelum minggu depan." Jawab Sakura sekenanya.

"Begitu?" Tanya Syaoran. Dia menyadari gelagat aneh Sakura. Sakura memalingkan pandangan.

"Ada apa?" Tanya Syaoran lagi.

Sakura menundukkan kepala. Lalu mulai membuka mulut.

"Aku… aku ingin sekali bisa berjalan berdua dengan Syaoran. Berdampingan, bergandengan tangan…." Sakura berbicara dengan terbata-bata. Syaoran tidak mengatakan apapun, dengan sabar ia mendengarkan tiap kata yang diucapkan Sakura.

"Aku… aku…." Sakura mencengkeram ujung selimutnya.

"Aku akan pindah ke rumah sakit di Jerman."

To be continued…


A/N: KONNICHIWA MINNA-CHAAAAAAAAAAAAAAAAAAN!

aaaaah akhirnya NM apdet yaaa 8D lama bgt sih apdetnya, authornya ga becus sih 8DD *.cc*

maaf ya updatenya lama, abis saya sempet kena writers block ;;A;; silakan belikan saya pulsa utk hukuman ;;A;; #salah

aih aih aih~ maaf klo ceritanya jd aneh, ga menarik, delele apalah yg jelek2. silakan beri saran, kritik bahkan pujian (ngarep) lewat review. DITUNGGU~ ^o^

Love,

authoryangtelatupdate, AkaHime13