THE ONLY ONE LOVE

CHAPTER 9

.

.


Cahaya bulan menerangi bumi, berpijar pada daratan dan mematul pada lautan. Detik terasa begitu panjang ketika angan itu berubah menjadi perih dan harapan kandas bersamanya. Dalam kesunyian malam, ia berdoa, untuk kegelisahan hati yang memeluk jiwa-jiwa sepi dan demi kerinduan yang mengggerogotinya tanpa ampun.

Tao masih sendiri, duduk di antara bangku bandara yang berjejer, membenamkan wajahnya pada sudut diantara pertemuan dua lutut. Memeluk kaki jenjangnya yang semakin lelah untuk menapak.

Pada barisan ingatan, ia mengenang hidupnya. Ada satu wajah yang terus mengantri dalam ingatan-ingatan itu, wajah yang mengusiknya, wajah yang menggetarkan jantungnya. Seketika semuanya terhenti, ketika ia teringat pada masa-masa paling menyakitkan dalam hidupnya, saat cintanya terkhianati, saat dirinya dicampakan. Wajahnya memerah, dan bulir air mulai menggenangi matanya. Ia merasakan sakit pada setiap hirupan napas.

Syukurlah bahwa ia tak akan pernah bertemu lagi dengan dia, yaa dia tak akan pernah bertemu denganny. Tao membatin saat seketika dadanya terasa sesak . Semua mengabur, hancur, musnah dalam hitungan waktu.

Demi apapun dia masih mencintai Kris hingga detik ini.

Tapi juga –membencinya... ? entahlah..

Hatinya hanya terlalu sakit untuk bertahan, namun juga terlalu sulit untuk meninggalkannya.

'Kau tahu, ketika aku mengatakan –aku membencimu- sebenarnya aku hanya ingin kau tahu bahwa kau terlalu banyak menyakitiku'

Dalam bisikan udara yang semakin dingin menyentuh kulitnya, balutan kain tipis yang melekat pada tubuhnya tak mampu membuat hangat dirinya, tapi ia tak peduli.

Karena dalam diamnya ia hanya ingin mengenang Kris dan saat ia membuka matanya, Tao hanya ingin melihat wajahnya –sekali lagi. Hanya itu ! mungkin..

Hitungan jam berlalu saat lamunan itu terusik oleh sebuah siluet hitam yang menghalangi jarak pandangnya saat Ia mendongak, matanya membulat, mengacuhkan sakit yang mendekap hatinya erat. Titik air yang menggenang kini terjatuh dengan sempurna.

"kau.. datang ?", tanyanya dalam ragu

"jangan pergi..", bisiknya lirih

Lelaki yang kini berdiri di depannya melihat dirinya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Dengan keringat yang bercucur dari tubuhnya ia tak tampak lelah. Seolah menemukan dirinya adalah pelepasan seluruh beban hidupnya, lelaki itu seolah ingin tersenyum, namun matanya seolah mengatakan bahwa ia ingin menangis.

Tao terpaku dalam ketidakpastian, benarkah lelaki didepannya saat ini adalah dia ?

"Kris gege... gege itu kau.. ?"

Tao berdiri, memastikan penglihatan matanya. Menghapus jejak air yang telanjur terjatuh di atas wajahnya.

"aku merindukanmu.. sangat.." lirihnya sekali lagi lengkap dengan pelukan spontan atas dirinya.

Kris memeluk Tao yang mulai membeku.

Ada bisikan cinta dalam hati mereka yang mengunci pelukan itu. Kris mengurung erat tubuh tipis Tao dalam dekapannya seolah ia tak berniat melepasnya. memeluk kencang tuhuh lelaki itu dengan segenap rindu yang seolah membuncak penuh harap.

"kenapa kau pergi ? aku mencemaskanmu...",

Ada ribuan kata dalam pikiran Tao saat ia memutuskan untuk pergi, tapi semua menghilang begitu saja, terbawa angin malam, mungkin.

"tidak apa-apa jika kau marah, maafkan aku, aku mohon maafkan aku", pinta tulus Kris

"aku tidak marah, aku hanya tidak mengerti denganmu dan diriku sendiri.."

Kris diam,

"Aku menyukaimu sejak awal, tapi kau hanya terus membenciku. Lalu untuk apa aku berada disana ?", ada senyuman lirih dari Tao

"Katakan padaku Kris ge' kenapa aku harus bertahan untuk mencintaimu disaat kau sangat mem-benciku ? disaat aku tahu kau hanya akan memilih Luhan dan akan meninggalkanku ? jadi aku pergi, -aku harus pergi sebelum kau benar-benar menghancurkanku. Tapi kenapa aku bahkan masih disini, karena seharusnya aku sudah pergi dari tadi siang, tapi aku justru membiarkan orang lain membeli tiket terakhir siang itu dan menunggu jam penerbangan berikutnya.. aku ingin pergi, tapi tak ingin pergi, aku merindukanmu tapi juga tidak merindukanmu.. aku terus berpikir, bukan tentang apa yang ingin kulakukan, tapi tentang apa yang harus kulakukan.. aku bingung, aku tidak mengerti.. ketika aku menyadarinya, aku masih berada disini.. ", Tao mulai terisak

Napasnya terengah saat ia bicara, ia jatuhkan pandangan matanya ke arah langit, agar air matanya tidak jatuh. Berpura-pura tegar saat tubuhnya gemetar.

"aku tidak mungkin sedang menunggumu bukan ? aku tidak mungkin sebodoh itu bukan ?", lanjut Tao hampir berteriak, isakan itu mulai mengental, matanya kini sudah basah oleh buliran air yang mengisyaratkan pedihnya.

Kris melihat mata itu dengan sejuta rasa bersalahnya. Sesal yang tak akan pernah menjadi abu, tak akan pernah hilang dengan mudah.

"aku disini..",

Kris menggenggam erat tangan dingin yang kini bergetar, mencoba menenangkan sang pemilik tangan.

"ayo kita pulang... ke rumah kita",

Kalimat berikutnya bukanlah sebuah kata yang bisa terdengar, begitu tipis, terlalu pelan. Tao tak punya nyali mengatakannya, dan hanya mampu menggerakan bibirnya membentuk sebuah bisikan kalimat. "aku mencintaimu hingga membuatku sangat membencimu.."

Dalam pekatnya malam, genggaman Kris mampu menepiskan semua penat di dadanya.

Genggaman tangan yang kini berubah menjadi dekapan, sebuah pelukan yang diberikan untuk dia, pemilik jiwa-jiwa sepi miliknya, membenamkan tubuh lemahnya pada bidang dadanya yang kokoh. Ia hirup udara malam itu dengan senyuman.

.

Masih ada ribuan kata yang sedang dinantikan oleh Tao, ribuan pertanyaan yang ingin sekali ia tanyakan, kenapa dia ada disini, untuk apa dia disini, apa yang sebenarnya ia rasakan padanya.. tapi semua tertelan oleh waktu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Tao menangis dalam dekapan lelaki tinggi itu, tetes air mengalir deras oleh sebuah kata yang diucapkan oleh lelaki bermata elang yang kian erat memeluknya, "aku mencintaimu".

Entah kemana rasa marah itu pergi, entah kemana rasa sakit hatinya lenyap. Niat untuk meninggalkan Kris, niatnya untuk menyudahi semua hal tentangnya, hilang dalam hitungan sepersekian detik detik.

Bisa saja saat itu Tao memilih untuk pergi, mengatakan bahwa penyesalan tak akan pernah merubah apapun, tak akan mewakili apapun. Bahwa kata-kata darinya tak berarti apapun lagi. Tapi... tapi ia tidak melakukannya, padahal ia bisa saja membalas semua perlakuan tak adil Kris pada dirinya dengan mencampakkannya saat ini, tapi ia tak cukup hati melakukannya. Sekali lagi ia luluh, menyerah dengan logikanya, dan kembali pada jalan hatinya, kembali ia percayakan hatinya pada lelaki itu.

Malam itu, ditemani kesunyian dan gema. Pertama kali Tao mampu menafsirkan sebuah kalimat dari Paulo Coelho dalam buku karyanya yang berjudul 'By the River Piedra I Sat Down and Wept', ia berkata :

"Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya."

Dan bersama cahayanya, Tao menyambut uluran tangan dari seorang lelaki bersurai pirang bermata elang, mata yang kini tengah melihat dirinya dalam kekaguman, dalam hangatnya cinta yang begitu indah untuk disambut.

Tao menggenggam tangan itu dalam erat, hingga tangan itu melingkar di pinggangnya, mereka berjalan mengikuti cahaya malam di luaran sana. Tak peduli dengan tatapan mata yang kini mengarah kepada mereka, tak banyak, karena bandara sedang sepi malam itu. Ditemani tatapan aneh dan sarkartis mereka tetap berjalan seolah dunia hanyalah tentang mereka, dan siapa yang akan peduli dengan apa yang orang lain pikirkan.

Yaa tak ada yang peduli, kecuali dia, diantara sepasang mata itu, ada dia yang melihat kepergian mereka dengan berat, terus menatap 2 insan itu hingga titik keberadaannya menghilang di ujung gelap lorong ruang. Dia menundukan wajahnya dengan kekecewaan yang terlalu terlihat jelas.

.

.


Luhan memegang jas itu erat, sedang tangan satunya sudah bersiap untuk merobek, menghancurkan jas-jas elegan itu, seperti hatinya yang telah hancur berkeping

"Luhannnn.. jangannn..", tangan Sehun segera memeluk tubuh Luhan , berusaha mencegahnya untuk merobek jas itu dengan gunting

Sreeetttttttttttt

Suara robekan baju dari gunting yang sudah telanjur Luhan gunakan, menyeruakan suara yang berbarengan dengan teriakan Sehun.

Ada jeda waktu dimana mereka terjatuh diatas lantai, saat Luhan masih menangis walau ia tak bersuara, ketika Sehun memeluk tubuh mungil Luhan dalam kekhawatirannya.

"untunglah tidak apa-apa, jas nya masih dalam baik-baik", Sehun menghela napas lega, setelah bangkit untuk melihat keadaan dari 2 jas favoritnya itu.

Sehun tersenyum menatap Luhan.

"Sehun... tanganmu.. berdarah", bibir Luhan bergetar ketika ia mengucapkannya.

Tetes darah segar menetes di hampir seluruh lantai dalam jangkauan tubuh mereka. mengalir keluar dari lengan Sehun, gunting itu menyobek jas di lengan Sehun sekaligus merobek kulitnya sepanjang 3 cm.

Sehun memaksakan sebuah senyuman canggung, menyunggingkan bibirnya walau ia tengah meringis. "tidak apa-apa"

"ini adalah karya terbaikmu bukan ? kau harus menjaganya dengan baik, jika kau menghancurkannya, hatimu akan lebih sakit dari ini..",

Dalam hening, Luhan menangis menderu, isakan yang semakin menjadi kala ia melihat darah menumpuk semakin banyak pada lengan Sehun

"kau bodohhh... -Oh Sehun... ", lirihnya

Luhan berkata seiring tangisannya yang semakin tak terkendali.

Sekali lagi Sehun tersenyum, senyuman tipis menebarkan cintanya. Namun akankah Luhan mampu memahaminya ?. Karena Luhan tak pernah tahu, tak pernah sadar. Bahwa ada lelaki lain yang selalu memperhatikannya, selalu menjaganya, bahwa ada seorang penggemar rahasia yang selalu mencintainya. dan itu adalah Sehun.

Dengan tangan yang belum bisa ia gerakkan, Sehun menapak lantai disamping Luhan dengan kedua lututnya sebagai tumpuan. Memeluk tubuh mungil itu dengan sebelah tangan.

"menangislah sepuasmu, jika itu bisa membuatmu lebih tenang"

"maaf...", cicit Luhan seraya menyentuh sepelan mungkin lengan Sehun yang penuh darah.

"ini tidak sakit", bohongnya

"untuk apa kau melakukan ini semua untukku ?", Luhan bertanya dengan suaranya yang sudah serak, karena menangis sedari tadi.

"kau tidak tahu ? alasan kenapa aku terus berada disampingmu ? kenapa aku terus menolongmu selama ini? apakah kau benar-benar tidak tahu ?,, lirih Sehun, penuh penekanan dalam pertanyaan terakhirnya.

Luhan menggeleng, menyatakan ketidaktahuannya. Dan mata lain didepannya, menyipit lalu berkedip, menelan semua rasa kecewa dan rasa sakitnya.

Pertama kali bagi Luhan ketika Sehun berbicara seserius itu, apa yang tidak pernah ia ketahui ? apa sebenarnya maksud Sehun, Luhan tidak mengerti. Tapi ia tahu ada sesuatu yang sangat penting, karena mata Sehun kini mulai basah.

"aku mencintaimu, Luhan... aku-mencintaimu... apa kata itu sudah cukup ?",,

Mereka saling memandang, mencoba saling mencerna perasaan mereka masing-masing.

Dengan permainan waktu, Luhan hanya melihat wajah Sehun yang tampak serius, seperti biasa ketika ia mendekatkan wajahnya padanya, semakin mendekat dan berakhir ketika bibir mereka saling menyapa. Bukan ciuman, hanya kecupan berdurasi 3 detik.

Luhan melihat Sehun dengan mata bulatnya yang semakin membulat tak percaya.

Sehun kembali mendekatkan wajahnya, dan Luhan kembali terperangah melihat bibir Sehun yang tadi sempat mendarat di bibirnya. Namun kini Luhan memilih mundur, ia menahan tubuh Sehun agar ia tak mendekat. Kepalanya menggeleng pelan.

"tidak... ini bukan cinta.. kau tidak mencintaiku.. kau hanya-merasa kasian padaku"

Sehun menyeringai.

"kasian,, ? aku mencintaimu selama 7 tahun, dan kau mengganggapku hanya kasian ?", Sehun memegang pundak Luhan, menatapnya dalam, menjawab semua tanya Luhan yang tak sempat ia ucapkan

"aku butuh waktu..",, Luhan mendesis pelan

"kau ingin aku menunggumu berapa lama lagi, Luhan ?"

"setidaknya hingga aku bisa menenangkan diri.. aku tidak ingin mengambil langkah dengan terburu-buru.. kau tak ingin jika aku bersamamu hanya karena pelarian bukan ?"

"tentu saja, aku tidak mau..", ucapnya berbisik

"kalau begitu, tunggu aku.. sebentar lagi. Aku berjanji padamu hanya sebentar saja"

"baiklah.. aku akan menunggumu"

Sehun mulai menyeimbangkan posisinya untuk berdiri.

"Sekarang bangkitlah ,, move on..",, kalimat dengan 2 arti berbeda terlontar dari mulut Sehun, sambil membantu Luhan berdiri.

"tidak semudah yang kau bayangkan",, lirih Luhan,

Luhan meraih lengan Sehun untuk membantunya berdiri.

"aaahhhhh,, jangan lengan yang itu",, Sehun tersekat, wajahnya menunjukan rasa kesakitan.

"maaf,, maaf... aku lupa.. masih sakit ?",, tanya Luhan khawatir

"he..emm",, Sehun mengangguk manja.

"kau ini...",, Luhan tertawa kecil

.

.


Di tengah malam pada hari yang sama saat Kris berhasil membawa kembali Tao. Baekhyun menunggu dengan cemas kabar tentang mereka. Banyak ke khawatiran di benaknya saat ini.

Baekhyun berlari kecil menuju pintu rumahnya saat pintu itu akhirnya terbuka.

"Chanyeol hyung.. kau sudah menemukannya ?", tanyanya khawatir

Kekhawatiran yang bukan mengartikan tentang kecemasan dirinya pada Tao seorang, atau karena Kris yang terus menelpon mereka dengan panik untuk selalu menanyakan apakah Tao mungkin ada dirumah mereka saat ini. tapi..

Chanyeol tersenyum tipis,

"kau benar Baekhyun, seharusnya aku tak perlu mencarinya..",

Melihat senyuman palsu kakaknya, Baekhyun menghembuskan napas berat. Ia mungkin masih berusia belasan tahun, dan sering bertengkar dengan Chanyeol dengan mengatakan bahwa ia membencinya dan tidak menginginkannya. Tapi itu hanya sebuah ungkapan yang tak penar-benar berasal dari hatinya. Dengan kilat Baekhyun memeluk kakaknya, matanya berair karena apa yang ia khawatirkan akhirnya terjadi.

"hyung... tenanglah, aku ada disini"

Senyuman Chanyeol memudar, walau dengan mata yang memancarkan rasa sakit, ia paksakan dirinya untuk tersenyum.

"tidak apa-apa Baekhyun.. aku mau mandi dulu, kau tidurlah..", ucap Chanyeol sambil menepuk pundak adiknya dan pergi menuju kamarnya.

Suara Chanyeol tak setajam biasanya, tak sekeras biasanya. Seharusnya suaranya tak pernah selemah itu. Alih-alih merasa tenang, Baekhyun justru berlari kecil menyeimbangkan langkah kaki jenjang kakaknya. Sesaat tubuh kecilnya berhasil mengejar punggung yang bergerak menjauh itu. Dengan sedikit menubruk pelan punggungnya, Baekhyun memeluk pinggang Chaenyol, -back hug. Ia yang seharusnya berusaha menenangkan Chaenyeol justru bertindak sebaliknya, karena kini ia menangis kencang dan semakin kencang.

"jangan berpikir kau sendirian, aku akan selalu disampingmu. Kau mengerti ?!"

"heii heiiii.. kenapa kau menangis ? kau terlihat seperti wanita sekarang..", canda Chanyeol.

"lalu kenapa kau masih bisa bersikap sok tegar seperti sekarang ?"

"entahlah, mungkin Proud men- Harga diri laki-laki- ?"

"kalau begitu sudahlah, jika kau tidak bisa menangis, biarkan aku yang menangis mewakilimu saat ini", jawab Baekhyun terisak.

Chanyeol sedikit terperangah dengan ucapan Baekhyun, sekali lagi ia tersenyum. Bukan senyum palsu tapi ada rasa syukur dalam hatinya, bahwa setidaknya ada seseorang yang menyokong tubuhnya sekarang. Walau jauh dalam hatinya sebuah torehan luka telanjur membekas.

"mulai sekarang aku akan lebih menyayangimu daripada Kris hyung.. jadi tenanglah, semua akan baik-baik saja"

"kau lah yang sejak tadi tidak tenang.." Chanyeol terkekeh

"berhentilah menangis.. aku akan baik-baik saja.. tapi, terimakasih... terimakasih sudah menangis untukku.. tetaplah disampingku, aku menyayangimu adikku..", lanjutnya

.

.

Malam kian larut dan dalam gelap ruang kamarnya, Chanyeol memejamkan kedua matanya di atas kasur, bersiap untuk tidur. Hampir tertidur karena sebuah usikan kecil mengganggu tidurnya yang hampir pulas.

"Hyung geser sedikit.."

Chanyeol membuka paksa matanya, menekan tombol 'ON' pada lampu tidur di atas nakas samping tempat tidurnya. Sedikit terkejut ketika matanya kini menangkap sosok adiknya sedang berdiri dengan selimut tebal yang tergulung sembarang di atas kepala hingga tubuhnya, tubuh mungil itu hampir terlihat mirip kepompong.

"kenapa kau disini.. Bae.. Baekhyun ?"

Tanpa menggubris pertanyaan Chanyeol, Baekhyun mengambil alih ruang sisa di kasur nya.

"ada apa dengan kamarmu ?"

"aku akan tidur disini mulai malam ini..."

"tidak mau.. pergilah ke kamarmu sendiri"

"hyung.. kau yang bilang agar aku selalu disampingmu kan ?", ucap Baek manja

"bukan seperti itu maksudku,, aku hanya.."

"hanya malam ini saja, aku akan menemanimu.. sudah lama kan kita tidak tidur bersama.."

Baekhyun memiringkan tubuhnya menghadap Chanyeol yang masih terduduk, menarik tubuh tinggi besar itu agar mau tertidur.

"ahhh sempiitt... dadaku sesak", batin Chnyeol

Sekilas ia lirik wajah adiknya yang sudah pulas tertidur sambil memeluk Chanyeol, tangannya menindih dada bidangnya.

Dengan satu gerakan, tangan panjangnya berhasil mencapai tombol lampu dan mematikannya.

"baiklah... selamat tidur Baekhyun", ucapan selamat malam Chanyeol, sambil mengusap lembut anak-anak rambut di ubun-ubun adiknya.

"sekali lagi.. terimakasih"

.

.


Pagi buta di rumah Kris..

Kris mengerjapkan matanya yang masih sangat mengantuk, ia ingin membangunkan paksa tubuhnya, namun terasa sangat berat, ia kembali tertidur.

"kau baik-baik saja ? "

Kris mengangguk sambil masih memejamkan matanya.

"ayo bangun.."

Kris menggelung selimut ke wajahnya, berbalik dan melanjutkan tidur.

"kau marah karena aku kemarin pergi ?" , bisiknya kecewa

Kris tidak menjawabnya, ia terlelap dalam tidur yang begitu nyaman baginya.

Hati lelaki bersurai hitam itu merasa kecewa, karena merasa diabaikan. Ia ingin bicara namun, ia tak menemukan kata-kata apapun, semua tenggelam dalam kekecawaannya. Melihat gege kesayangannya mendiamkannya. Tao jengah, ia bangkit, dan memilih untuk ke dapur saja.

-ayolah Tao, Kris hanya ingin tidur-

Di Dapur..

"aahhhh,, panas,, panas..." , Tao setengah berteriak, ia kurang berhati-hati, hingga memegang panci yang masih panas tanpa sarung tangan.

"ada apa tuan ?", tanya dari seorang maid

"tidak apa-apa, aku hanya terlalu ceroboh",

"sudahlah tuan biar kami yang memasak, kau kembali saja ke kamarmu", pinta maid tadi dengan sopan

Tao kembali menundukkan kepala, semua yang ia lakukan hari ini, tampak tak beres. Tao melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Ia sedikit khawatir mengingat ada seseorang disana yang sedang marah padanya.

"gegeeeeee, aku masukkkk" , bisik Tao meminta izin, masih memegang gagang pintu, dan hanya memasukkan kepalanya saja ke kamar, seperti sedang mengintai keadaan disana

'ehhhhh',, Tao setengah heran, tak ada seorangpun tengah berada di kamar itu

"gegeee kau dimana ?",, Kris memanggil gegenya, sambil mencari

Tao membuka pintu kamar mandi pelan,

"terbuka.. ehh dia tidak didalam,"

"gegeee,, kau dimana ?" teriaknya

Tao terhenti saat melihat keluar jendela, melihat sosok namja tinggi sedang berdiri menghadap langit di ujung balkon. Ia berdiri dengan santai, menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan beban tubuhnya di atas kayu, pembatas balkon dan udara.

Memandangi Kris dari belakang, Tao menelan ludah tak lama kemudian. Punggung Kris sangat menggoda baginya.

"gege kau sedang apa ? aku mohon jangan terus mengabaikanku seperti ini", Tao menyentuh punggung Kris dengan ujung jarinya, tak ingin membuat Kris marah. Kepalanya tertunduk.

Kris memandangi namja yang sedang berdiri dibelakangnya. Tertunduk seperti anak kecil yang sedang meminta maaf pada ibunya, Kris lupa tentang betapa polos namja itu yang mungkin sudah lupa tentang semua masalah bertubi yang menghampiri kehidupan mereka. wajah Tao sangat manis saat ini, membuat Kris luluh.

"geeee..." , panggil Tao perlahan

"ada apa ?", jawab Kris

"emmm,, apa kau sangat terluka jika harus berpisah dengan Luhan hyung.. ? apa kau berubah pikiran sekarang ?" tanya Tao ragu.

Kris melirik namja murung itu yang bersiap berbalik meninggalkannya, Kris menarik tangan kurusnya, dan menariknya ke dalam tubuhnya. Menenggelamkan kepala Tao untuk kembali masuk ke dadanya, memeluk erat namja itu.

"kau masih tidak mengerti Tao ?", tanya Kris lembut

"kau sudah tidak marah ?",

"aku mencintaimu...",

"itu..."

"ssstttt diamlah.. ",

Kris meraih tubuh Tao untuk mendekat padanya. Memaksakan wajahnya untuk berada di hadapannya.

"Andai di depanku saat ini ada 1000 bahkan jutaan Luhan. Aku akan tetap memilih 1 Tao. Bahkan jika kau tidak ada di depanku, aku akan mencarimu, bahkan jika aku harus mengejarmu hingga ke ujung dunia sekalipun"

Tao tersenyum lebar.

"tapi.. apa kau peduli dengan itu ? bukankah kau yang selalu memintaku menjauh darimu ? kau bahkan merasa sangat takut jika aku menyentuhmu", Kris melepas pelukan itu, kembali menatap langit biru yang terbentang luas disana

"maaf.. aku tidak takut padamu, dan tidak pernah seperti itu.." , jawab Tao sedikit takut.

"lalu kenapa saat aku... sudahlah lupakan", Kris mencoba menutup pembicaraan

"beberapa hari yang lalu saat Luhan kemari.. dia selalu mengatakan kalian akan begini dan begitu,, kalian saling menyukai dan sudah merencanakan masa depan kalian. Kau sudah merencanakan hidupmu tanpaku... akuuu" , lirih Tao, Kris hanya memandang udara sekitar

"kau cemburu ?", tanya Kris percaya diri, Kris tersenyum nakal

"aku takut.. kau akan meninggalkanku", bidik Tao

"tapi kau selalu saja marah dan tidak suka jika aku menyentuhmu", keluh Kris lagi

"bukan begitu.. tapi kau menyentuhku di waktu yang salah", wajah Tao memerah, Kris menahan tawanya

"lalu kapan waku yang tepat..? "

"tidak tahu..", Tao mengangkat kedua pundaknya bersamaan.

"berjanjilah untuk tidak pernah menolak jika aku menyentuhmu", jawab Kris tegas

"jika kau bisa berjanji untuk tetap berada di sampingku..",

Kontrak perjanjian tanpa materai dan tanda tangan berhasil dibuat.

"jadi bolehkah aku 'melakukannya' denganmu ?" tanya Kris sedikit terbata-bata

"hahhhh?", Tao terlihat terkejut

Sepertinya ada kibaran bendera putih dari kedua kubu,, tanda dari sebuah perdamaian. Tao menunduk diam di tempatnya, Kris menatap dalam mata hitam Tao yang sebenih mutiara itu, Tao menelan ludah, sedikit khawatir. Kris tersenyum lembut, melihat Tao yang seperti mulai memasang tameng namun tidak jadi karena bahkan namja polos itu sudah menerima aba-aba dari Kris. Mata sebening mutiara hitam itu tertutup rapat, Kris mengusap lembut rambut hitam pekat milih Tao, dan mencium leher namja itu dan menjilatnya lembut

"ahhhh,, gege itu menggelikan..", rintih Tao membuka matanya

Kris tertawa geli melihat Tao seperti itu,

"bisakah..." , belum sempat kalimat itu diselesaikan oleh Tao, bibir Kris sudah membungkam bibir tipis Tao, membuatnya tak dapat berbicara lagi, matanya kembali menutup, ia membalas ciuman itu untuk pertama kalinya, sesuai janjinya yang tak akan pernah menolak.

Kris memeluk erat pinggang langsing Tao, sementara Tao mengalungkan tangannya ke pundak namja yang lebih tinggi darinya itu.

Ciuman penuh gairah tanda perdamaian berlangsung beberapa menit, dan tak ada satupun dari mereka yang melepaskan tautan bibir itu. semakin dalam, dan menggeliat dengan permainan lidah mereka.

Kris mendorong tubuh Tao, menuju ke dalam kamar, Tao hanya mengikuti alur yang diciptakan oleh Kris. Sesampainya di kamar, Kris melepaskan ciuman itu, membuat Tao menatap penuh tanya pada Kris, dan terjawab kala Kris membuka bajunya dengan cepat dan melempar sembarang di sana. Kesempatan beberapa detik itu, dimanfaatkan Tao untuk bernapas, menghirup udara sebanyak yang ia bisa. Dan... kecupan penuh hasrat mendarat kembali pada bibir merahnya.

Kini mereka sudah sampai di atas ranjang, masih sambil menautkan bibir mereka, Kris menidurkan pelan namja yang mirip panda itu di kasur, dan membuka seluruh pakaiannya, melemparkan ke sembarang tempat pada sudut kamar itu..

"tunggu dulu,, apa kau tahu caranya gee ?", tanya Tao meluapkan semua kekhawatiran dalam hatinya

"tenang saja, aku sudah mempelajarinya di internet", Kris tersenyum hangat menenangkan namja yang berada di bawah tubuhnya.

"apa rasanya akan sakit ?", Tao rupanya masih khawatir

"tenanglah, aku akan melakukan dengan hati-hati" Kris kembali mencium namja itu.

.

.

.

.

*SKIP

.

.

.

.

"baekhyuuunnn bangun ! sudah jam berapa ini ?" chaenyol berteriak membangunkan adiknya yang masih terlelap dengan mipinya

"aaahhhh,, berisik...",, keluh sang raja mengeluh

"berisik katamuuuu..", chaenyol membuka horden di kamar Baekhyun, membuat semua sinar matahari menyinari seluruh tubuh Baekhyun, membuat Baekhyun terbangun kaget

"jam berapa ini ?",, Baekhyun mengambil jam yang ada di atas meja di samping kasurnya.

"..."

"jam 8.30 ?! kenapa kau tidak membangunkan ku ,, ishhh kau benar-benar !" tanpa peduli apapun, Baekhyun langsung loncat ke kamar mandi, mengingat bahwa 30 menit lagi mata kuliah pertamanya akan dimulai, dan di masih di rumahnya, bahkan belum mandi

"aku sedang membangunkanmu bukan ?", chaenyol mengggelengkan kepalanya menyaksikan tingkah sang adik durhakanya

"hyunggg... siapkansarapan untukku pleaseee..", teriak Baekhyun dari kamar mandi

"kau benar-benar durhaka pada hyungmu ini",, chaenyol melangkah keluar dari kamar Baekhyun

"tunggu akuuu,, antarkan aku ke sekolah...", teriak Baekhyun sekali lagi

"jika kau siap dalam waktu 10 menit aku akan mengantarkanmu, jika tidak,, sorry to say my bacon brother, i am sorry goodbye", chaenyol menyeringai setelah memberi ancaman pada adiknya

Baeyun semakin mempercepat cara kerja tubuhnya. Dalam 10 menit dan harus menyelesaikan semua pekerjaan, dan siap berangkat.

"ayoo kita berangkat"

"wowww daebak.. kau bisa selesai secepat ini..", chaenyol bertepuk tangan, Baekhyun tersenyum bangga

"ahhh tak ada waktu untuk itu,, cepatlahhh,, aku sudah terlambat", keluh Baekhyun sambil melahap roti isi yang sudah disiapkan kakanya sambil setengah berlari ke mobil

"..."

"aku benar-benar akan merindukan nasi hari ini", keluh prihatin Baekhyun karna hanya sempat memakan roti isi dan segelas susu.

"..."

"siang-siang begitu pasti kantin akan ramai dan aku hanya akan memakan roti lagi", Baekhyun kembali mengeluh, chaenyol hanya menghembus napas beratnya

"aku tahu kau akan mengeluh seperti itu,,,," chaenyol melirik adiknya yang terus saja mengomel tentang nasi

"..."

"ini bekal untukmu", chanyol memberikan kotak bekal pada adiknya sebelum adiknya keluar dari mobil

"untukku ? ohhh hyungg.. kau hyung terbaik dalam hidupku,, aku sangat terharu.. byee hyung", Baekhyun mengucapkan kalimat begitu panjang tanpa ada kata 'terimakasih'. Chaenyol hanya menyeringai, terbiasa dengan tingkah adiknya

"D.O... tunggu aku,, kita kekelas bersama...",, yang di panggil d.o menoleh kearah Baekhyun dan chaenyol.

"ehhh tungguu...", Chaenyol menarik tangan adiknya

"apalagi hyungg,, aku sudah sangat terlambat..", Baekhyun memelas, meminta chaenyol membiarkannya pergi

"siapa wanita itu ?",, tanya chaenyol dengan senyum bodohnya

"D.O Kyungso... teman sekelasku... wheo ?",, tanya Baekhyun heran

"tidak apa-apa,, dia sangat cantik..",, Chanyeol tersenyum girang

"ahhh terserah kau saja,, aku berangkat...bye!",, Baekhyun menarik tanganny dari kakanya kencang, berlari secepat kilat menyusul kyungso dan dalam hitungan detik, langkah Baekhyun sudah sangat jauh.

.

.


"Tao-er,, ayo kita makan", Kris sudah siap menyantap makanan yang ada di depannya, sambil mengeringkan rambutnya setelah mandi

"..."

"Taoooo..." , panggil Kris kembali, namun yang dipanggil masih saja berselimut tak bergerak

"..."

"babyyy.. ",, panggil canggung Kris, memanggil dengan nama yang sangat diinginkan oleh namja di atas ranjang itu, Kris bahkan hampir tertawa geli usai memanggil nama itu.

Tao hanya melirik tajam Kris, menggigit bibirnya kesal.

"apa rasanya masih sakit... ? ", tanya Kris

"kau bilang rasanya tidak sakit...", keluh Tao, menatap sinis namja bermata elang itu

"maaf,, maaf,, aku terlalu bersemangat,, ayolahhh cepat mandi, dan berpakaian.. aku sudah sangat lapar.."

"tidak mau... ",, tanggap Tao manja,, dan menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya, wajahnya memerah dan semakin memerah menahan malu, tiap kali ia harus melihat Kris.

"apa kau ingin aku menggendong dan memandikanmu saat ini ?",

"tidak akan.. !", sentaknya

Kris tersenyum, dia sedikit bingung dengan tingkah kekanakan Tao. Ia tak menyangka bahwa sifat asli dari orang yang ia nikahi ternyata seperti itu. Tapi tak mengurangi tingkat keluguan yang membuat Kris semakin jatuh hati.

"Baby Huang.. ayo mandi...", ujar Kris lagi.

"Huang ? baiklah Kris, aku akan kembali pada keluargaku !", sentak Tao kesal.

"maaf maaf.. maksudku,, emmm.. Baby.. Wu ?,, errrr Wu Zhitao...", bisik Kris sedikit mendesah di balik selimut tepat dimana telinga Tao berada.

"baby wuuu... baby zhiiii,, baby tao... emmm baby baby baby... babyy... ayo bangun dan temani aku sarapan" Kris terkekeh mempermainkan semua nama-nama itu, tapi tak juga mampu membuat Tao keluar dari gulungan kain tebalnya.

"Kris gege.. ", panggil Tao tiba-tiba di balik selimut. Suaranya terdengar serius.

"kau tidak akan meninggalkanku bukan ? bahkan jika suatu hari kau menemukan laki-laki lain yang lebih tampan dariku.. atau..", Tao membuka sedikit balutan selimut yang bersarang penuh di tubuhnya, hingga kini kepalanya terbuka.

Kris miringkan wajahnya dan tersenyum, mendekatkan posisi duduknya dengan Tao, meraih tangannya dan menyematkannya di atas dada bidangnya, dengan lembut ia selimuti seluruh bagian tangan itu dengan kedua tangannya.

"ingatlah bahwa detakan jantung ini adalah milikmu dan akan selalu menjadi milikmu. Katakan semua keingananmu sebanyak yang kau mau... dan aku akan mengabulkannya untukmu"

Sebuah senyuman khas dari Kris terselip dari ruas-ruas wajah tampannya. Berbarengan dengan itu, Tao berusaha mengalihkan wajahnya yang sudah semakin memerah menahan malu.

"aku mencintaimu, Baby Tao.."

.

.

Apa yang kau tahu tentang cinta ?

Cinta bukan sesuatu yang bisa kau definisikan dengan kata2 , ia hanya akan kau rasakan, pada hatimu...

Saat kau hanya ingin ia ada didekatmu, saat hanya ada wajahnya ketika kau memejamkan matamu..hanya sesederhana itu..

Kau hanya butuh satu hari untuk mencintai seseorang, namun untuk melupakan,, kau butuh seumur hidup..

Maka ketika ada seseorang dihadapanmu sekarang, jangan pernah menyakitinya, jangan pernah kau mendobrak kencang menutup pintu hatinya, karna kau tak'kan pernah tau kapan kau mungkin akan kembali mengetuk pintu yang sama...

-ADARA KALANGKANG-

.

.

.

END

NOTE AUTHOR :

Akhirnya selesai juga, maaf jika mengecewakan, tapi semoga kalian puas dengan endingnya..

Tak lupa Adara sampaikan rasa terimakasih pada semua yang mau menunggu kelanjutan FF ini, maaf jika terlalu lama. Karena ada kesibukan pribadi.. hehehe

Abaikan penulisan Zitao menjadi Zhitao.. karena udah telanjur dari awal seperti itu, dan karena alasan pribadi.. ^^

Jadi, bagaimana dengan ending The Only One Love ? Puas.. puas ? saya tunggu jawaban kalian. ^^

Okee readers, saya masih punya satu FF lagi berjudul 'HEAL ME !' , JADI JANGAN LEWATKAN ITU !.. baca yaaaa.. FF ini diadaptasi dari drama 'Kill Me Heal Me'.. tentang Kris yang memiliki kepribadian ganda, dimana dua pribadinya saling bertarung memperebutkan satu tubuh demi sebuah identitas. sssttt 2 pribadi itu juga menyukai Tao , lalu siapa diantara mereka yang akan berhasil menempati tubuh Kris dan memenangkan hati Tao ?.. uppsss Tao masih bingung cara membedakan mereka berdua..

DON'T FORGET ABOUT YOUR REVIEW AT THE LAST CHAPTER On My FanFiction... i'll be glad for you :))

SALAM,

Adara Kalangkang