"MiFan … jangan menarik roknya begitu, Sayang." Changmin mencoba menjauhkan tangan mungil MiFan yang mencoba menarik renda-renda di baju yang tengah dicobanya. Changmin Menggendong aegyanya untuk duduk dipangkuan YiFan. Menggeleng pada MiFan yang memasang wajah kesal padanya. Sepertinya MiFan tertarik pada seragam maid yan tengah dicobanya.
"MiFan duduk dengan umma dulu. Appa mau selesaikan pakaian aneh ini," ujar Changmin kembali berkutat dengan seragam maid dari calon mertua tersayangnya. Jika saja ia bisa membuang baju memalukan ini, Changmin pasti sudah melakukannya. Tidak jika mertuanya itu mengancam mereka dengan mengirimkan Qian besok untuk mengambil gambar dirinya sebagai bukti.
"YiFan? Kau baik-baik saja?" tanya Changmin tersadar kalau YiFan hanya diam saja sejak mereka memasuki kamar mereka. Ah, tepatnya sejak kedatangan kedua hyungnya di café mereka.
"Apa kau keberatan hyungku berada di sini?" tanya Changmin duduk di samping YiFan yang tengah menundukkan kepalanya dengan memeluk tubuh MiFan yang juga kini menatapnya bingung.
"Tidak hyung. Bisakah kita tidur sekarang?" tanya YiFan mengalihkan pandangannya dari Changmin yang kini menatapnya curiga.
"Baiklah tidurlah dulu. Setelah melepas seragam ini aku akan menyusul," ujar Chanmin mencium dahi YiFan lembut kemudia beralih pada MiFan yang tertawa lalu menarik rambutnya. Membuat Changmin mendelik pada balita manis yang acuh pada tatapannya—sudah kebal dengan appanya.
YiFan mengangguk, membawa MiFan ke tengah ranjang dan menidurkannya di tengah. Mengambil susu botol milik MiFan dan memberikannya pada sang aegya yang langsung menenggaknya lapar. Benar-benar mengantuk dan kehausan. Salahkan keaktifan MiFan saat bertemu ahjumma kesayangannya seharian ini.
'Umma menyayangimu, Sayang.' YiFan berbisik pelan sebelum menutup matanya saat melihat MiFan yang mulai tertidur. Memeluknya erat dan menciumnya berulang kali. Tak menyadari kalau setiap gerakannya diperhatikan oleh maniks milik Changmin.
'Apa yang kau sembunyikan, YiFan?' bisik Changmin pelan. Walau YiFan tersenyum tipis padanya namun ada sebersit kesedihan yang terlukis jelas di wajahnya, 'jangan pernah melakukan hal bodoh lagi, Wu YiFan.'
.
Back to Ours
(Sekuel Key of Heart)
Cast:
EvilDragon aka Shim Changmin & Wu Yi Fan Kris
With MiFan and YunJae
Genre: Family
Rated: T
Waning:
AU, crack pair(?) gila-gilaan, typo, alur cepat, M-Preg, genderswitch (Just for Kimbum & Heechul)
.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
Berniat meneruskan? silahkan…
.
.
Kalau tidak suka tolong beranjak dan menjauh, Mizu gak mau ngotori fict Mizu dengan flame bodoh di fandom ini, Ok^^
.
.
Anda sudah diperingatkan dear
.
.
Changmin sepertinya terlalu khawatir saat keesokan harinya YiFan bersikap biasa lagi. Bahkan pipinya sampai menerima bogem mentah saat bibirnya mencium YiFan di depan kedua hyungnya dan juga MiFan. Membuat Changmin menggeleng ngeri terlebih melihat hyung cantiknya sudah 'menawarkan' spatula untuk kepalanya.
"Kenapa dari tadi memperhatikan YiFan?"
Sontak Changmin gelagapan saat Yunho sudah berada di sampingnya. Changmin tak tahu harus menjawab apa saat Yunho malah tertawa terbahak mendapati Changmin yang tengah memperhatikan YiFan yang sedang membersihkan meja.
"A—aku tidak memperhatikan YiFan hyung," tukas Changmin menolehkan kepalanya ke samping. Memperhatikan beberapa hiasan dinding asal bukan maniks milik Yunho yang menelisiknya tajam.
"Ah begitukah ya sudah bearti hyung salah. Padahal YiFan manis begitu ya."
"Ya hyung jangan menikung jalan adikmu sendiri. Dia adik iparmu sendiri … masa kau makan juga. Dia milikku," ujar Changmin merengut kesal pada Yunho yang langsung tertawa terbahak dengan perkataanya. Terjebak dengan perkataan Yunho.
"Ne aku tahu food monster pabbo. Kalau begitu jangan buang-buang waktu," ujar Yunho menepuk kepala Changmin berlalu ke dapur dimana 'istri'nya berada bersama jagoan kecil yang membantu 'menghancurkan' dapur, "ah kau cocok mengenakan seragam itu Min," tambah Yunho semakin tertawa berlalu cepat sebelum Changmin melemparinya.
Changmin menghempaskan bokongnya pada salah satu kursi yang ada di dekatnya. Menopang wajahnya dengan satu tangan dengan maniks yang kembali memperhatikan satu namja yang kini berurai keringat sedang bekerja. Memperhatikan bagaimana cairan berasa asin itu turun melalui leher milik YiFan.
"Ahjussi … kalau kau punya waktu memperhatikanku begitu lebih baik bantu membersihkan meja ini." YiFan berujar tanpa mengalihkan pandangannya pada Changmin.
"Tidak tertarik. Rasanya matanya lebih memilih melihatmu bekerja dengan tubuh basah begitu. Kau tahu—kau terlihat seksi—"
Plok
Changmin merengut kesal sesaat ia belum menyelesaikan kalimatnya, YiFan sudah melemparinya dnegan kain kotor bekas mengelap meja. Membuat Changmin mendecih kesal pada pemuda blasteran tersebut.
"Jangan bicara macam-macam hyung atau kau mau pel ini juga melayang ke kepalamu?" ancam YiFan kesal pada Changmin yang sedari tadi memperhatikannya. YiFan tahu kalau Changmin masih curiga dengan sifat anehnya kemarin. Dan ia tak mungkin mengatakan kalau ia cemburu pada pemuda cantik yang kini tengah memasak di belakang. Bahkan MiFan juga lebih nyaman bersama pemuda itu daripada dirinya.
"Ayo makan. YiFan kau cicipi juga masakan ini. Hyung berencana membantu kalian dengan menyajikan beberapa makanan ini."
Satu lagi hal yang membuat YiFan semakin tenggelam di dalam pemikirannya sendiri. Melihat banyaknya ragam makanan yang berada diatas meja dengan tampilan yang menggiurkan. Terlihat mengundang selera. Kalau dengan begini mereka bisa memenangkan permainan sang cinderella dengan mudahnya. Namun ada satu sisi dihati YiFan yang berdenyut sakit memikirkannya.
"YiFan … apa masakan hyung tak enak?" tanya Jaejoong khawatir melihat YiFan yang hanya melihat piringnya saja. Tangan pemuda itu menggantung di udara dengan tatapan kosong.
"Ah—bu—bukan begitu. Aku hanya sedikit tabjub dengan kemampuan memasak hyung," jawab YiFan tersenyum kecil pada Jaejoong yang mengangguk mengerti. Di pangkuan pemuda cantik itu malaikat mungilnya tengah asyik memakan makan siangnya. Mulutnya berantakan dengan sisa makanan di kedua sisi pipinya.
"Aish … sayang. Bisakah kau makan dengan lebih rapi?" tanya Jaejoong mengelap sudut bibir MiFan dengan tisu basah. Tak menyadari kalau ada sepasang mata yang menatapnya mendung. Datar dengan dada yang kembali berdenyut sakit.
"Min … YiFan kenapa?" tanya Yunho pelan menyinggung lengan Changmin menunjuk dengan matanya pada adik iparnya yang menikmati makanan dalam diam. Pemuda itu sedikit aneh. Padahal seperti cerita Changmin YiFan bukanlah namja dingin walau pemuda itu sering memasang wajah datarnya.
"Entahlah hyung. Aku sudah tak bisa menanyainya lagi. YiFan terlalu keras kepala kalau sudah menyangkut perasaanya sendiri."
"Kalau begitu kau harus memperhatikannya dengan matamu. Apa kau tak takut kalau dia kembali membuat keputusan sendiri dengan menghilang di depan matamu lagi?"
Changmin mengangguk. Itulah yang mengganggu pikirannya sedari kemarin. Ia takut kalau YiFan akan kembali menghilang. Bahkan saat ia belum mengikat pemuda itu disisinya. YiFan terlalu banyak menyimpan misterinya sendiri kalau sudah bersangkutan dengan perasaanya.
"MiFan~~~"
Sontak empat orang pemuda dewasa di café tersebut menoleh ke arah pintu dimana seorang gadis berambut panjang tengah masuk menenteng sebuah paper back. Wajahnya sumringah menemukan keponakan manisnya yang langsung bersembunyi di balik tubuh seorang pemuda cantik yang baru pertama kali ditemuinya.
"Ah … maaf terlambat memperkenalkan diri. Wu Qian." Qian menundukkan kepalanya saat berkenalan dengan dua pemuda yang berada dihadapannya. Dua orang yang akan menjadi keluarganya nanti. Walau sesaat Qian terkejut mendengar status keduanya yang merupakan pasangan suami-suami.
"Ah tidak apa-apa. Qian. Apa kau ingin ikut makan bersama kami?" tanya Jaejoong ramah masih dengan MiFan yang memeluk erat lehernya. Bocah ajaib itu sedikit aneh melihat Qian berada diantara mereka.
"Hahaha masih marah dengan aunty sayang?" canda Qian menoel tubuh MiFan membuat bocah mungil itu mendelik marah padanya. Tersenyum kecil Qian mengeluarkan sesuatu dari dalam paper backnya. Membuat maniks bulat MiFan mulai menoleh ke arahnya.
MiFan, bocah yang akan berusia dua tahun itu terlihat tertarik dengan apa yang kini dipegang oleh sang bibi. Menarik tangan Jaejoong untuk turun dan mulai berlari ke arah Qian berada. Maniks bulatnya berbinar saat menemukan benda yang sama yang tengah dikenakan sang appa semalam namun dalam model berbeda—pakaian butler khas butler maid berukuran balita.
"Au ini—" ujar MiFan sembari menarik pakaian di tangan Qian dan memintanya dengan celotehan riangnya..
"Iya, sayang … ini untuk MiFan dari Halmoni."Qian hanya tertawa saat melihat MiFan yang menurunkan celana yang tengah dikenakannya tak sabar menggantinya dengan baju yang didominasi warna hitam putih ditangannya. Menggeleng saat melihat maniks keponakan kecilnya berbinar pada dasi kupu-kupu sebagai pelengkap pakaian lucunya.
"Mama yang membuatkannya beberapa hari yang lalu. Katanya MiFan pasti lucu mengenakannya," jelas Qian pada YiFan yang bertanya padanya. Gadis itu melirik kecil pada kakaknya yang tak tertarik sedikit pun. Bahkan saat Jaejoong menggendong MiFan dengan antusias. YiFan hanya terdiam tanpa ekpresi.
"MiFan benar-benar lucu, beda dengan maid jelek disebelah sana" ujar Jaejoong tertawa melirik Changmin yang langsng mendeliknya kesal. Adik iparnya itu masih mengenakan pakaian maidnya dengan MiFan yang berlari minta dipeluk.
"Oppa … ayo kufoto dulu. Mama memintaku memotret MiFan kenapa tidak sekalian saja dirimu juga?" ujar Qian menarik Changmin untuk duduk dengan MiFan yang berdiri di atas pahanya. MiFan terlihat senang dengan menarik kepala appanya yang memakai bando gemas.
"MiFaaannnn …"
Ckrik
Qian, Jaejoong, dan Yunho tertawa saat sebuah potret dimana Changmin tengah dianiaya oleh MiFan terfoto dengan jelas. Dan rasanya Ny. Wu akan tertawa senang melihatnya nanti.
"Kris … kau tak ingin bergabung dengan Changmin-ssi? Aku bisa mengambilkan fotonya."
"Tak usah. Aku ke atas dulu," ujar YiFan menundukkan kepalanya sejenak sebelum menaiki tangga meninggalkan Changmin yang masih menatapnya heran.
"Hyung … tolong pegang MiFan sebentar. Aku akan melihat YiFan dulu." Changmin menyerahkan MiFan ke tangan Yunho dan berlari menyusul YiFan ke atas.
"Kalau begitu aku permisi juga. Uhm—"
"Kau boleh memanggil oppa sama dengan kau memanggil Changmin, Qian."
Qian mengangguk kepalanya kemudian mencium gemas pipi MiFan yang langsung menepuk pipinya kesal. Balita itu terlihat memasang tatapan tajamnya pada Qian karena sudah berani menciumnya.
"Hahaha sampai jumpa lagi sayang. Aunty akan kemari lagi saat café ini rame, ok?" Qian mengambil tasnya kemudian berlalu keluar dari café milik keluarganya tersebut yang masih terlihat tanpa pelanggan. Qian tersenyum senang dengan kamera mungil ditangannya dimana foto keponakan kecilnya berada di sana.
"Mama pasti akan senang melihatnya.'
Sepeninggal Qian. Hanya tinggal Yunho dan Jaejoong berada di lantai satu tersebut. Dimana Jaejoong tengah membereskan sisi makan siang mereka dengan Yunho yang masih menggendong MiFan yang kini bermain dengan rambutnya.
"Apa mereka baik-baik saja?" tanya Jaejoong khawatir. Sebenarnya ia merasa tak enak hati sejak kemarin. Karena YiFan terlihat memandangnya dengan tatapan gelap. Pemuda itu acap kali memperhatikannya terlebih saat ia bersama MiFan.
"Tenang saja, Joongie. Changmin bisa mengatasinya. Jika dia tidak berhasil kali ini. Changmin bahkan tak akan bisa membawa YiFan kembali ke Korea nantinya."
"Chi~ ain … yuk?"
"Hn?"
Yunho memandang bingung pada MiFan yang menunjuk ke arah luar. Mengajak ahjussi tampannya untuk bermain keluar sana dengan baju barunya. Sepertinya balita itu ingin memperlihatkan baju kerennya pada orang-orang di luar sana.
"MiFan mengajakmu keluar Yunnie. Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja sehabis ini. Lagi pula mereka mungkin butuh privasi untuk berdua."
Yunho mengangguk, mengikuti arah Jaejoong yang sudah menyelesaikan pekerjaannya. Berjalan keluar bersama menikmati langit di negeri China. Bergandengan tangan dengan satu tangannya menggendong MiFan.
Yunho tersenyum saat merasakan tangan Jaejoong balas menggenggamnya. Keduanya tampak terdiam mengikuti trotoar berjalan kaki diiringi celotehan ringan dari balita yang terus berbicara dengan kosakata lucunya.
'Hyung harap kau bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya, Min.'
.
.
.
"Apa yang kau pikirkan YiFan?" tanya Changmin pada pemuda yang sedari tadi berdiri di balkon kamar mereka di lantai dua. Ikut melihat apa yang tengah dilihat YiFan. Tersenyum kecil saat melihat aegyanya yang baru saja keluar bersama kedua hyungnya.
"…"
Changmin melepas bando yang berada di kepalanya. Melemparnya ke sembarangan arah. Tak peduli kalau ia kebingungan mencarinya besok. Tangannya kembali melucuti pakaian maidnya. Melempar stelan rok dan baju berwarna hitam dan putih itu ke lantai dan dengan santainya menggantinya dengan satu celana panjang berbahan lembut tanpa atasan.
Pemuda itu kembali mendekati YiFan yang masih melihat ke jalanan luar. Pemuda ini benar-benar tak pernah bisa ditebaknya.
Diawal Changmin tak pernah menyangka ia akan melayangkan satu tamparan di pipi YiFan. Mengutuk tangannya yang terlalu mudah melayang melukai pipi umma aegyanya.
Tersenyum saat ia merasakan kecupan lembut dari bibir YiFan untuk pertama kalinya—dalam keadaan sadar tentunya.
Satu yang lebih membuatnya bahagia saat YiFan dengan lantang mengatakan kalau ia mencintai dirinya di depan nyonya Wu.
Dan saat ini pemuda ini tengah kehilangan kepercayaan dirinya sendiri tentang posisinya di dalam hidup Changmin dan juga MiFan. Changmin sungguh mengerti. YiFan tak bisa berbohong melalui maniks matanya yang selalu memperhatikan MiFan. Ada sedikit kecewa saat aegya mereka lebih memilih bersama ahjummanya dibandingkan umma kandungnya.
"Kau tak akan pernah kehilangan MiFan. Kau tetap orang yang telah melahirkan bocah evil itu."
Plak
Tangan YiFan menepuk kepala Changmin karena sudah seenaknya menyebut aegyanya dengan sebutan evil.
"…"
"Hahaha … kenapa? Kau belum mengenal aegya kita YiFan. Bahkan kau sudah mendapatkan salam saat ia pertama kali bertemu denganmu bukan?" kekeh Changmin mengingat bagaimana merahnya wajah YiFan saat pemuda itu memintanya menjemput MiFan di dalam mobil dengan aegya mereka di dada YiFan.
"Kau tahu? MiFan memang akan menempeli orang-orang yang menurutnya baik di dalam kamus bocah itu—memberinya makanan dan mainan—tapi ia akan kembali mencariku. Kecuali pada Jaejoong hyung, karena hyungku itu yang membantuku merawat MiFan sedari bayi." Changmin menyandarkan tubuhnya dipagar balkon dengan maniks yang melihat tajam ke arah YiFan.
"Kenapa kau keras kepala, YiFan? Jangan pernah berpikir kalau kami tak membutuhkanmu. Kalau kau pikir semua yang sudah kujalani adalah sempurna. Aku tak akan mengejarmu sampai kemari," ujar Changmin mendesis kesal karena sedari tadi YiFan terus saja mengatupkan bibirnya. Pemuda itu lebih memilih memandang tempat lain dibandingkan dirinya.
"Wu YiFan!"
YiFan membalikkan tubuhnya dan menemukan maniks gelap Changmin yang sama saat ia pertama kali bertemu dengan pemuda yang berusia lebih tua darinya tersebut. YiFan menarik napas pelan mencoba menghentikan perasaan bodohnya yang muncul hanya karena ketidakpercayaan dirinya sendiri.
"Hyung … apa kau benar-benar mencintaiku? Bukan karena aku adalah umma MiFan? Rasanya sesak saat melihat kau dan MiFan bisa tertawa dengan orang lain. Itu berarti kehadiranku bahkan tak dibutuhkan bukan?"
"Bodoh. Kenapa otakmu bisa sepayah itu kalau sudah menyangkut MiFan. Apa kau berpikir untuk pergi lagi kalau melihat MiFan bersama orang lain dan ia tak melihatmu?" tanya Changmin pelan dan tentu saja tepat sasaran. Karena itulah yang dipikirkan YiFan dikepalanya.
"Mungkin."
Changmin menarik tubuh jangkung YiFan ke dalam pelukannya. Menahan kepala pemuda itu tetap berada dibahunya.
"Dengarkan aku YiFan. Aku tak akan melakukan hal sebodoh ini dengan menyanggupi permintaan ummamu kalau aku hanya ingin mendapatkanmu sebagai umma MiFan. Haruskah aku mengatakan kalau aku sudah jatuh cinta padamu saat melihat kau malam dimana kita bertemu di Korea?" ujar Changmin berbisik pelan ditelinga YiFan. Memeluk tubuh pemuda itu lebih erat sembari menyesap wangi tubuh YiFan dipenciumannya.
"Aku bahkan bisa mencari gadis lain kalau hanya untuk menggatikan peran ibu bagi MiFan. Tapi aku tak melakukannya. Kenapa kau tak percaya padaku?" tanya Changmin lagi.
"Karena kau memang tak bisa dipercaya."
Changmin tertohok dengan perkataan YiFan. Menggeleng dengan semua kekeraskepalaan calon 'istrinya' itu. Rasanya kepalanya sudah buntu menghadapi seorang Wu YiFan yang kini tengah memasang ekpresi datar padanya. Padahal senyuman tipis di bibir merah itu lebih menggoda.
"Hah~ baiklah. Bagaimana kalau kita menyusul Jaejoong hyung saja—"
"Aku tak berminat, Hyung—"
"Wah … aku tak menyangka … Kau lebih menyukai berada berdua bersama denganku di sini?" goda Changmin sembari terkekeh pelan merasakan tonjokan siku YiFan di perutnya. Pemuda pirang itu mendelik kesal dan mendorongnya ke belakang.
Entah sial atau untung, Changmin terjatuh di ranjang di belakang mereka. Dengan tangannya yang menarik tangan YiFan dan membuat tubuh YiFan ikut jatuh menimpa badannya. Rasanya sedikit sakit merasakan dagunya terantuk kepala YiFan yang mendongak tiba-tiba.
"Mau kemana YiFan? Bukankah sekarang saat yang tepat untuk menyelesaikan urusan kita yang belum selesai di kamar mandi waktu itu?" tanya Changmin mengeratkan pelukannya pada YiFan yang mencoba bangun dari atas tubuhnya. Menggoda YiFan yang sepertinya hendak memakannya hidup-hidup.
"Lepaskan pelukanmu Ahjussi mesum. Aku mau berdiri bodoh."
"Aku akan membuatmu percaya dengan perasanku, Wu YiFan. Kalau aku mencintaimu bukan hanya karena YiFan. Tapi karena dirimu sendiri," ujar Changmin menarik kepala YiFan kearahnya dan melumat bibir yang sedari tadi menyumpah serapah dirinya. Mengacuhkan maniks milik YiFan melebar karena serangan dadakannya.
Namun hanya sekejap saat YiFan ikut menurunkan kelopak matanya. Mengikuti permainan lidah Changmin yang kini menelusup masuk ke dalam mulutnya.
Ini mungkin kali kedua Changmin akan menyentuhnya namun sekarang mereka melakukannya dengan keadaan sadar. Tanpa alkohol tanpa kehilangan kesadaran. Changmin benar-benar melakukannya dalam keadaan sadar. Membuat pemuda yang kini mengerang dibawahnya merasakan betapa Changmin mencurahkan perasaanya di setiap sentuhan yang diberikannya. Meyakinkan kalau semua yang pernah dikatakannya bukan omong kosong belaka.
"Aku akan mengenyahkan pikiran bodohmu itu selamanya, Little dragon. Sampai kau tak akan pernah berpikir untuk menghilang lagi," seringai Changmin pelan sebelum kembali menghentak pemuda yang tengah menggila mendesahkan namanya. Membiarkan nirwana menggapai puncak surga mereka.
.
.
.
Jaejoong dan Yunho yang baru saja pulang tak heran saat tak mendapati siapa pun berada di lantai satu. Berpikir kalau YiFan dan Changmin keluar terbantahkan saat melihat dua kepala yang menyembul keluar saat mereka masuk hendak mencari pakaian ganti milik MiFan.
"MiFan ikut ahjuhsi saja dulu?" tanya Yunho pelan saat MiFan bersikeras untuk diturunkan dari pelukannya. Balita itu merengek meminat turun di atas ranjang milik orang tuanya yang pastinya sudah tak steril lagi.
"Sayang …. Ke kamar ahjumma saja ya?"
"Dak … dak … lun." MiFan mencoba turun dan melepaskan diri. Dan setelah berhasil, MiFan mencoba naik ke atas ranjang yang sebenarnya tak terlalu tinggi hanya saja karena terhalang selimut MiFan tak sengaja menariknya hingga membuat salah satu tubuh kepala itu terlihat.
"Yunnie … kita keluar saja. Biarkan saja MiFan yang mengurusnya,"ujar Jaejoong menarik lengan Yunho menjauh sebelum matanya ternodai dengan tubuh adik iparnya sendiri yang entah dengan bodohnya masih tertidur dan tak menyadari kehadiran mereka.
"Kau yakin?" bisik Yunho yang sedikit khawatir meninggalkan MiFan seorang diri.
"Percaya saja. Keponakan kecilmu itu akan melakukanya dengan caranya sendiri. Dan lain kali ingatkan Changmin untuk mengunci kamarnya bila ingin melakukanya," decak Jaejoong kesal. Kalau tahu dua namja itu melakukan hal gila itu mereka tak akan naik ke atas dimana akhirnya MiFan melihatnya dan tak mengikuti mereka lagi. Karena bagaimana pun juga balita itu hanya akan mencari Changmin diakhirnya.
"Hah … akan kukatakan sayang." Yunho berjalan beriringan bersama Jaejoong menutup pintu kamar milik Changmin dan YiFan. Menuju kamar mereka di sebelahnya, "Boo … bagaimana kalau kita juga—"
"Tidak beruang mesum. Aku harus memastikan MiFan tak kenapa-kenapa dengan dua orangtua yang keterlaluan itu," ujar Jaejoong menjauhkan tangan Yunho yang hendak meremas bokongnya. Mendelik kesal pada suaminya yang selalu saja 'naik' dengan mudahnya.
"Tapi, Boo~"
"Jung Yunho~" Jaejoong mengecup singkat bibit Yunho sebelum melarikan diri menuju kamar mandi. Badannya sendiri lengket sedari tadi bermain bersama MiFan tak menyadar kalau ada beruang lapar yang menyusulnya dan mungkin akan membuatnya memberikan apa yang diinginkannya. Well Jung Yunho selalu mendapatkan apa pun yang diinginkannya terlebih bila itu menyangkut seorang Kim Jaejoong. Dan tak butuh waktu lama suara guyuran air berubah menjadi desaha milik 'istri' cantiknya.
.
.
.
YiFan membuka perlahan kelopak matanya sesaat ia tak mendengar suara milik kedua hyung Changmin di kamar mereka. Tersenyum kecil saat mendengar suara milik MiFan memanggil appanya. Sepertinya balita itu mulai kesal karena gagal untuk naik ke atas ranjang.
'Hufftt.' YiFan menggeleng pelan melihat dada Changmin yang terekpos karena selimut mereka sudah turun ke bawah ditarik MiFan. Bersyukur mereka sudah mandi tadi walau tak mencoba mengenakan pakaian karena Changmin mengatakan ingin memeluk tubuhnya langsung. YiFan tak bisa membayangkan sekotor apa ranjang mereka tadi.
"Issshh! Ppa! Ppa!"
Mencoba untuk duduk, YiFan mengulurkan tangannya pada MiFan yang bergerak mendekatinya. Sepertinya balita itu sudah melupakan kalau ia pernah marah dengan sang umma. Bahkan tanpa segan menelusupkan kepalanya ke leher YiFan.
"Ppa?"
MiFan merangkak turun mendekati satu kepala lagi yang masih terlelap di dalam mimpinya. Balita itu terlihat tersenyum sebelum tangan mungilnya menarik hamparan hitam milik Changmin yang sontak membuat Changmin langsung membuka matanya kaget.
"Mi—MiFan~ lepaskan, Sayang." Changmin yang baru membuka mata sontak mencoba melepaskan tangan MiFan yang masih menjumput rambutnya dengan tawa yang masih belum berhenti. Sepertinya balita itu menyukai wangi sampo yang berada di kepala Changmin-mirip sampo miliknya—dan sepertinya Changmin jangan iseng menggunkan milik little evil. Tak kasihan pada sang appa yang susah meringis kesakitan.
"YiFan … tolong lepaskan tangan MiFan dari kepalaku, please~"
YiFan tertawa melihat bagaimana MiFan menganiaya kepala Changmin. Tanpa berniat untuk menolong. Bahkan ia membiarkan saja MiFan yang duduk ke dada polos Changmin menepuki wajah Changmin dengan satu tangannya yang lain.
"Ppa kal … ndak kai aju."
"Hahaha … salahmu hyung. Kenapa meminta tidur tidak berpakaian seperti ini," ujar YiFan menelungkupkan tubuh MiFan di atas tubuh Changmin dan menghadapkannya ke arah berlawanan—sedikit kasihan pada pipi Changmin yang memerah.
YiFan lalu berjalan pelan dengan tubuh telanjangnya. Tak mungkin ia berganti pakaian dengan maniks bulat itu yang melihatnya dan tak mungkin lagi kalau ia menarik selimut yang sedang mereka pakai. Bisa-bisa MiFan mendapatkan mainan baru di tubuh Changmin. Menarik satu stelan pakaian santai yang ada kemudian berbalik kembali ke arah ranjang dengan memasang wajah datar—tahu kalau Changmin melihat tubuhnya, walau tangan besar Changmin menahan MiFan tetap ditempatnya.
"Apa yang kau lihat? Jangan tularkan sifat gilamu pada MiFan, Ahjussi me—"
"Sssttt." Changmin sontak menghentikan kalimat yang hendak dikatakan YiFan saat MiFan melihat wajahnya dengan maniks bulatnya.
"Mulai sekarang jangan ucapkan kata kasar dihadapan MiFan, Ok? Kau boleh mengatakannya bila bersamaku saja. Cukup satu kali umma mengataiku dan MiFan langsung memanggilku begitu."
YiFan mengangguk. Untung saja Changmin menghentikannya kalau tidak ia bisa mengajari MiFan hal tak pantas tanpa sengaja.
"Maafkan umma MiFan?"
MiFan hanya melihat YiFan dengan pandangan bingung saat tubuh mungilnya diangkat dan dipeluk erat oleh sang umma. Tertawa kecil tangan mungilnya segera melingkar di leher YiFan. Menelusup dibalik surai pirang sang umma.
"Baju MiFan basah. Ganti dulu ya?" tanya YiFan yang sontak digeleng oleh MiFan. Balita itu sudah terlalu berat untuk membuka matanya dan leher ummanya adalah tempat yang tepat untuk beristirahat. Membuat YiFan mengira-ngira apa dia dulu pernah mengidam bertemu anak koala dikala kehamilannya.
"Tidurlah sebentar. Biarkan saja MiFan seperti itu," ujar Changmin mengelus pelan surai gelap milik MiFan dan mengecupnya berkali kali. Turun perlahan dari ranjang dengan selimut yang melingkari tubuh bawahnya, Changmin mencari pakaian yang bisa digunakannya. Tak mungkin ia bertelanjang ria kecuali kalau hanya YiFan tanpa aegya kecil mereka. Bahkan tadi ia terpaksa berpura-pura tidur saja saat mendengar suara kedua hyungnya.
"Hyung sekalian ambilkan baju MiFan," ujar YiFan pelan meletakkan MiFan dengan perlahan ke ranjang—MiFan sudah tertidur dengan lelap. Tangannya perlahan membuka pakaian MiFan tanpa mengusik tidur tenang sang aegya yang benar-benar terlelap lelah. Pasti balita imut itu habis menarik kedua hyung Changmin kemana-mana.
YiFan mengambil air hangat dan kain mengelap tubuh MiFan yang lengket karena keringat. Pasti tak nyaman kalau harus tidur dengan tubuh basah.
"Apa kau masih berpikir kalau MiFan tak menyayangimu?" ujar Changmin yang sudah duduk di samping MiFan. Membantu MiFan mengenakan pakaian tidur milik aegya mereka.
"Lihat, bahkan ia terlalu nyaman dengan sentuhanmu dan tak terbangun sedikit pun. Percaya diri sedikitlah, YiFan. Kau mengenalnya sejak di dalam kandunganmu."
YiFan mengangguk dan tersenyum kecil sembari mengecup lembut dahi MiFan. Wajar seorang balita seusia MiFan marah karena diganggu—karena ia menghentikan acara makan MiFan. Tapi bagaimana pun juga yang terbaik bagi seorang anak adalah kehadiran kedua orang tua kandungnya. Tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun karena seorang anak mengenalinya bahkan sejak di dalam kandungan. Detakan jantung sang ibu yang membuai tidurnya selama sembilan bulan sebelum ia lahir dan melihat dunia ini.
Changmin yang melihatnya ikut tersenyum kecil. Menaiki ranjang dengan perlahan ia memposisikan diri di sisi berlawanan MiFan. Ikut memeluk tubuh mungil diantara mereka dengan meletakkan tangannya di atas tangan YiFan.
"Tidurlah. Kita masih ada hari esok untuk dijalani," bisik Changmin pelan. Namja jangkung itu masih asyik melihat dua malaikatnya tengah terlelap. Menarik napas pelan karena masih ada yang harus dilakukannya besok sebelum waktu berlalu. Changmin akan memastikan ia akan selalu melihat wajah damai ini sampai kapan pun nantinya.
.
.
.
"Ya Evil jangan menarik roknya begitu!"
"Jangan lepaskan bandonya, Jung Changmin."
"Jangan—"
"Ya Jaejoong hyung, kenapa kau malah sepertinya senang melihatku tersiksa begini?" rajuk Changmin memelas pada Jaejoong yang sedari tadi menariknya menuju jalan utama untuk membagikan selebaran café mereka.
"Hihihi … ppa." Changmin menundukkan kepalanya melihat MiFan yang sudah bergelayut manja dikakinya. Balita itu mengikuti langkah Changmin yang diseret Jaejoong ke depan café. MiFan terlihat lucu dengan stelan bernada sama dengan Changmin walau dalam wujud yang berbeda. Dibelakang MiFan tampak YiFan yang mengikuti dari belakang.
"MiFan mau membantu appa?" tanya Changmin yang diangguki Changmin. Membuat seringaian Changmin naik mendapatkan ide bagus.
"Nah sekarang bagikan kertas ini pada noona di sana, ok?" tunjuk Changmin pada sekumpulan gadis yang tampak tengah duduk di bangku panjang di depan sebuah taman bunga. Membisiki sesuatu sebelum kaki mungil MiFan sudah berlari dengan puluhan kertas di dalam pelukannya.
Plak
Jaejoong memukul kepala Changmin yang sudah seenaknya menggunakan keponakannya untuk melakukan tugasnya. Café mereka sedari tadi tak ada yang datang itulah mengapa Jaejoong berniat melakukan promosi dengan Changmin di dalam balutan baju maidnya walau kalau diperhatikan wajah evil food monster itu terlihat mengerikan dibandingkan imut seperti café-café maid di Jepang. Tentu saja kalau yang dipasang dibibinya adalah seringaian bukan senyuman.
"Sakit hyung."
"Salahmu sendiri menggunakan MiFan."
YiFan yang melihat Jaeojoong menganiaya Changmin hanya tertawa pelan. Sepertinya ia mulai biasa melihat keakraban keduanya. Bahkan tak jarang memberikan hiburan tersendiri bagi dirinya.
"Kyaaaaa … imuttnyyya."
"Adik kecil apa yang kau bawa?"
"Ikut pulang bersama Jie-jie yuk, manis."
YiFan segera berlari menuju arah MiFan sebelum aegya satu-satunya berakhir di tangan gadis-gadis yang sepertinya mulai mencubiti pipi MiFan. Namun sepertinya YiFan salah mengira MiFan akan menangis karena perlakuan mereka. Bahkan MiFan dengan tawa diwajahnya menarik tangan salah satu diantara mereka melewatinya. Maniks gelapnya semakin bingung saat MiFan membawa gadis-gadis itu ke arah café mereka.
"Nah lihat kan hyung. MiFan mengerti apa yang kukatakan," tawa Changmin yang langsung berlari saat melihat YiFan berniat memukulinya karena sudah mengajarkan hal yang dianggapnya buruk pada aegyanya. Sejak kapan MiFan bisa menggunakan wajah imutnya menarik perhatian orang.
"Sabar ya YiFan. Begitulah kelakuan Changmin sebenarnya tak sebanding dengan usia dewasanya. Bahkan MiFan bisa lebih dewasa dari food monster pabbo itu."
YiFan tak tahu harus memasang wajah apa saat tangannya sendiri gatal ingin memukul kepala Changmin bahkan saat Changmin sudah berlari membawa MiFan pergi keluar dari café lagi. Hanya dadahan ringan dan tawa MiFan yang menjadi salam pamitnya.
"Sudah tak apa, kita kembali ke café saja dulu."
Jaejoong mengajak YiFan untuk kembali sebelum ia membuat beruang besarnya kesulitan untuk melayani gadis-gadis itu. Tapi sepertinya Jaejoong malah membuat gadis-gadis itu berlarian keluar karena ketahuan menggoda beruangnya.
"Yak! Keluar kalian dari sini gadis-gadis penggoda!"
Dan YiFan hanya bisa menggeleng melihat kelakuan absurb kelakuan Jung ini. Tak ada kepura-puraan diantara mereka. Bahkan ia baru menyadari kalau keduanya bahkan tak melihatnya buruk saat tahu kalau dirinyalah yang sudah melahirkan keponakan mereka.
'Tak seharusnya aku memiliki perasaan buruk ini,' bisik YiFan pelan kemudian menarik beberapa lembar selebaran dari dalam laci dan membawanya keluar menyusul Changmin dan MiFan sebelum aegya imutnya diajari hal aneh lainnya oleh appanya yang memiliki otak evil itu.
"Aku pergi dulu, Jaejoong hyung. Yunho hyung."
Keduanya terlihat sedikit kaget karena baru pertama kali ini YiFan memanggil nama mereka sejak beberapa hari yang lalu. Hanya sedetik saat senyum keduanya terlihat sama—bahagia.
"Sepertinya YiFan sudah sedikit lebih nyaman untuk masuk ke dalam keluarga kita, Yunnie."
"Kau benar. Menikahi seseorang bukan hanya menikahi personal—pribadi pasangan kita. Tapi juga 'menikahi' keluarganya bukan?"ujar Yunho sembari memeluk pinggang Jaejoong. Tersenyum memikirkan saat waktu dimana keponakannya mendapatkan keluarga yang sebenarnya akan segera terwujud dan tentu saja dalam waktu dekat ini. Mereka yakin.
.
TBC
.
A/N:
Ayo siapa yang kemarin nanyain MiFan ampe nodong Mizu? *glare atu-atu* gak nongol, ntar MiFan-nya Mizu sembunyiin lebih lama lagi. Hahaha bercanda kok ^^
Happy New Year Chingudeull~
Maaf yah baru bisa update ff Minkris sekarang. Banyak yang terjadi sebulan terakhir ini dan Mizu gak bisa janji apa-apa soal ff lagi. Bakal random update kapan Mizu sempat, maaf yah #bow.
Special thanks:
Guest| Augesteca| Kyuhyuk07| Aspirerainbow| Faomori| AyumKim| Hyona21| Michi93| PandaMYP| Kim Jaerin| Hyunieeeh| Frea-chan Exotic Shipper| Mymi| Meyla Rahma| Krisyeol Lover| Sagako Bengbeng| Juli Constantine| Hyoorahottest| MimiJJW| Bluefire0805| Adilia Taruni7| Mayumi Fujika| Kim Jaerin| Ruii419| Realyoungest529| Zheyra Sky| Minniechangkyu56| TheAKTF| All siders ini this ff
Gomawo ne sudah Rnr chapter sebelumnya. Dan Welcome buat reader yang baru nongol xDD
Beberapa chapter lagi ff ini End. Dan semoga Mizu bisa menyelesaikan tanpa halangan. Dan akan ada kejutan kecil diakhirnya nanti walau ada satu orang yang sudah tahu =_= #fansMiFanAkut
Ada yang nanya fisik MiFan? MiFan itu wajahnya mirip ama Changmin kecil tapi mata ama bibirnya ngambil punya Kris. Rambutnya hitam pendek, kulitnya putih. Sifatnya sudah tahu gimana kan, seringaian tuh baby mirip banget ama Changmin kecil. Sayang Mizu ga bisa editing pictnya masih gagal mulu *pundung* Haha Kris itu manis kok kalau mau lihat koleksi Mizu main adja di FB Mizu banyak kok pict koleksi Mizu #pukpuKris
Model baju Changmin yang ada di maid café yang roknya tepat di atas lutut sama stoking hitam panjang. Terus model atasannya yang berenda-renda sampai setengah lengan.
Model baju MiFan kek yang dipakai butler café. Celananya berwarna hitam setengah tiang dengan atasan kemeja putih ditambah vest warna hitam plus dasi kupu-kupu berwarna putih.
Pai … Pai … sampai jumpa di chapter selanjutnya.
Mizuno
