My Smartphone Namja

Author:flystyle024; Maincast: Yewook, Jaejoong, Sungmin, Kangteuk and other; Rate: T; Genre: fantasy, romance?

Disclaimer: Yewook milik mereka, SM, Orangtua, author#plak!

FF Asli pemikiran kalau mungkin ada kesamaan cerita, karena

Bisa aja pemikirannya sama..

Saya Cuma minjem nama, dan bentuk castnya (?)

Warning: GS, Gaje, aneh, alurberbelit, typo

Hehe, ada yang mau gebukin saya karena lama update? Oke, sebenarnya jadwal update saya itu setiap sabtu-minggu, tapi karena beberapa hal, kadang saya tidak bisa update. Maaf ya!

Sedikit mereview chap kemarin, udah pada ngerti Siwon siapa kan? Nah, sebenarnya kemunculan Siwon itu bertujuan untuk memuluskan hubungan Yewook.

Saatnya membalas review

Bummie : Terimakasih ya, saya sendiri juga tak menyangka akan ada Sibum moment, dan ternyata ada yang suka. Mungkin lain kali saya bias buat kelanjutan cerita Sibum di situ.

Cloud prince : Terimaksih sudah mereview ff Nay. Wah, saya semangat balas review kamu. Gemes ya, silahkan di tampar Siwonnya *dibakar duluan ama Siwonest*

Iya, Kibum kasian, kalau banyak yang penasaran sama ceritanya kibum, saya akan berusaha buat. Kyuhyun dikit karena dia memang jadi slight sama Sungmin. Yewook dan Kyumin akur? Wah, kalau untuk Yesung dan Kyuhyun nya ikutan akur, mungkin perlu proses karena memang Yesung masih menaruh benci ke Kyuhyun, tapi, tunggu aja chap-chap selanjutnya mungkin bakal ketemu.

.

.

Kota Seoul yang sibuk. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan siang ini. Mobil-mobil memenuhui jalan raya, tak sampai macet memang, tapi terlihat menyesakkan. Kantor-kantor sibuk beroperasi,beberapa karyawan memprosese berbagai data, rapat, atau juga sedang menyesap kopi bersama karyawan lain ketika pekerjaan sudah mereka selesaikan.

Tak hanya kantor, kampus, rumah sakit, beberapa sekolah, café-café, restoran, toko di pinggir jalan pusat perbelanjaan, hingga kantor-kantor entertainment juga sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Seorang yeoja berambut hitam keluar dari sebuah gedung universitas. Yeoja itu menenteng beberapa buku di tangan kirinya, sementara tangan kanannya sibuk bergerak-gerak selagi dia sedang bercerita pada keempat teman yang berjajar di sampingnya.

"Aku baru tahu kalau ternyata dia menjadi stalker. Pantas saja aku tak melihatnya di kampus" ucap salah seorang yeoja dengan tas punggung biru.

"Pantas saja, aku sering melihatnya berdiri di depan kantor SM" yeoja bernama Key, tak mau kalah dengan cerita salah seorang temannya.

Ryeowook mengangguk-angguk mendengarkan pengakuan teman-temannya tentang si stalker itu. Pembicaraan yang cukup menarik, namun yeoja itu seakan cuek. Dia menggeser layar handphonenya dan melihat kearah jam. Tanpa pikir panjang diketukkan jarinya di atas menu pesan, dan mengetikkan beberapa kata. setelah selesai ia menekan tombol send dan kembali memasukkan ponsel ke saku bajunya.

"Key, Ryeowook kami pulang dulu. Ada beberapa yang harus di kerjakan. Sampai jumpa" kata salah seorang yeoja yang tadi berjalan di sisi Key. Yeoja itu menggandeng tangan temannya dan berjalan meninggalkan Ryeowook dan Key.

"Iya sampai jumpa!" Key melambaikan tangannya.

Ryeowook menghela nafasnya berat. "Hhhh.." ia berhenti berjalan dan kembali mengambil ponselnya berharap ada balasan atas pesan yang di kirimnya tadi. Namun, yang dilihatnya hanya fotonya bersama Sungmin dengan pose aegyo di layar ponsel. Tak ada tanda pesan yang di carinya.

Melihat Ryeowook yang berlaku gelisah, Key memperhatikan sahabatnya itu, "Wookie?"

Ryeowook sedikit tersentak "Ah, Key, maaf ya, aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku ada sedikit urusan"

Key mengangguk, "Iya, tidak apa-apa, aku bisa pulang sendiri"

"Kalau begitu aku duluan Key, Bye!" Ryeowook segera berlari menuju parkiran mobil di kampusnya. Meninggalkan Key yang masih mematung di tempat. Ia membuka pintu mobil dan segera menyalakan mesinnya.

"Dia kemana sih?" gumam yeoja itu sambil melirik kaca spion dan melajukan mobilnya.

Ryeowook sangat cemas, dari tadi Yesung tak mengangkat teleponnya. Sms pun tak kunjung dibalas.

Sebentar lagi jam pulang kerja Yesung akan tiba, jadi Ryeowook berniat untuk perg ke flat Yesung. barangkali Yesung sudah pulang.

.

.

TIIIT..TIIIT

Yesung membuka sebelah matanya. Ia melirik jam yang ada di meja, dan memegang dahinya.

Dengan malas, Yesung menyingkap selimutnya dan berjalan ke luar kamar untuk tamu yang sedari tadi memencet bel dengan keras. Tak tahu kah si tamu kalau kepalanya sedang pusing saat ini.

Yesung berhenti berjalan dan memijit keningnya. Pandangannya sedikit kabur.

Drrrt..drrrt..

Namja itu menoleh, handphonenya meraung-raung di atas meja menerima sebuah panggilan. Yesung mendapati nama Ryeowook tertera di layar handphonenya, namja itu mengacuhkan handphonennya dan membuka pintu.

Sesosok gadis yang dengan wajah cemas berdiri di depan pintu flatnya. Yesung terkejut. Bukan karena kehadiran yeoja itu, tapi karena wajah cemasnya.

"Kenapa tak angkat teleponku?" Tanya Ryeowook berjalan masuk ke dalam flat Yesung.

"Kau meneleponku?" Tanya Yesung balik.

Ryeowook melepas sepatunya "Berkali-kali." Ryeowook meletakkan tasnya di sofa dan memperhatikan seisi flat Yesung. ruangan itu begitu berantakan. Kertas-kertas berserakan, kabel charger saling terlilit, dan juga beberapa benda lainnya.

Ryeowook beralih memperhatikan penampilan Yesung "kenapa berantakan sekali?"

Yesung berjalan menuju meja dan membereskan kertas-kertasnya "Aku tak sempat membereskan"

Nada bicara Yesung berbeda dari biasanya. Ada yang tidak beres dengan Yesung. kelihatannya ia tak masuk kerja hari ini. Ryeowook mendekati Yesung dan menempelkan dahinya dengan dahi Yesung.

Yesung terkejut. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Ryeowook. Pandangan keduanya bertemu "Kau sakit ya?"

Yesung tak menjawab. Merasa kurang yakin, Ryeowook memeluk Yesung dan menyelipkan wajahnya di perpotongan leher Yesung.

Yesung mati-matian menahan perasaan yang meledak-ledak dalam dirinya. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat dan darahnya berdesir hebat.

Ryeowook menempelkan pipinya di leher itu dan bisa merasakan panas suhu tubuh Yesung yang melebihi kadar normal.

"A-Apa yang kau lakukan?"

Ryeowook melepas pelukannya "benar, kau sedang sakit. Kalau begitu, istirahatlah, aku akan buatkan makanan"

"Aku sudah lebih baik dari pagi tadi. Sekarang sudah tidak apa-apa" Yesung memasukkan kertas-kertas itu ke dalam sebuah map. Ryeowook menepis tangan Yesung dan meletakkan map itu.

"Sudahlah, biar ku bereskan. Badanmu masih panas, kalau tak istirahat besok kau tidak bisa kerja"

Yesung menurut. Ryeowook menggenggam tangan Yesung dan menuntunnya menuju kamar.

Ryeowook menyibakkan selimut berwarna biru itu dan menyuruh Yesung untuk segera naik ke atas tempat tidur.

Yesung berbaring dan Ryeowook menutupnya menggunakan selimut. "Tidurlah dulu, nanti saat kau bangun, makanannya sudah jadi"

Yesung menahan tangan Ryeowook yang hendak pergi "Kau tidak dimarahi? Setelah pulang dari kampus dan langsung kesini, mereka pasti mencarimu"

"Sudahlah, aku bukan anak kecil lagi" Ryeowook berjalan keluar kamar "Aku tinggal dulu, ya! Kalau perlu sesuatu, panggil saja aku"

Yesung menatap punggung Ryeowook yang perlahan menjauh. Ada sesuatu yang di sesali dalam dirinya.

Sejauh ini, selama ini, sampai saat ini. benarkah Ryeowook merasa bahagia dengannya? Benarkah ia bisa membahagiakan Ryeowook? Dulu ia berusaha sekeras mungkin agar Ryeowook bisa menjadi miliknya, seolah memaksa gadis itu untuk merasa bahagia dengannya. Sekarang, perlahan-lahan hubungan mereka semakin dekat, suatu saat nanti Yesung sadar harus menikahi Ryeowook.

Tapi…bagaimana jika ia gagal membuat Ryeowook bahagia? Ah..kata bahagia memang sulit di jelaskan untuk orang seperti dirinnya.

Yesung menutup matanya. Mengistirahatkan pikirannya sejenak.

.

Ryeowook beralih menuju meja dapur setelah selesai membersihkan ruang tengah flat Yesung. sebenarnya ia merasa lelah, tapi, tidak apalah. Bayangkan saja sekarang ia sedang membersihkan rumahnya sendiri suatu saat nanti. Suaminya sakit, dan dia harus menjaganya.

Ryeowook tertawa geli membayangakan kehidupan rumah tangga bersama Yesung.

Kini Ryeowook sudah duduk di bangku universitas. Mempunyai kelompok kerja untuk menjadi seorang desainer interior dan wedding organizer adalah impiannya sejak dulu. Jika sudah terwujud, Ryeowook ingin sekali melengkapi kebahagiannya dengan menikah.

Yesung pun begitu. Sekarang namja itu bekerja di kantor perusahaan appa Ryeowook. Karyawan di bagian keuangan.

Ryeowook menatap langit-langit menerawang masa depannya. Kelihatannya sangat menyenangkan mengurus anak, pergi bekerja, menyiapkan makanan, belanja berbagai kebutuhan, Ah, terlalu menyenangkan untuk di bayangkan!

Diambilnya panci dan mengisinya dengan air. Bubur sayur, mungkin cocok untuk orang yang sedang sakit.

.

.

"Oppa? Buburnya sudah siap, mau makan sekarang?"

Gundukan selimut yang berisikan Yesung masih tak bergerak. Ryeowook berjalan mendekatinya. Tangannya tergerak untuk membangunkan namja itu

"Oppa, kau tidak lapar? Ayo, makan. Buburnya sudah siap" Ryeowook menyibakkan selimut.

Yesung yang tadinya tertidur sangat lelap, perlahan membuka matanya, "Hmm?" gumamnya pelan.

Ryeowook memegang dahi Yesung, "sudah sembuh panasnya, sekarang makan dulu, lalu minum obat. Aku tadi keluar sebentar untuk membeli obat"

Yesung mendudukkan dirinya dan melihat sekeliling kamar. Barang-barangnya sudah tidak berserakan. Semuanya kelihatan rapi.

"Aku tunggu di luar ya" Ryeowook berjalan keluar kamar. Perlahan Yesung menjejakkan kakinya di lantai dan berjalan mengikuti Ryeowook.

Ryeowook duduk di bawah dan meletakkan kedua tangannya di meja "Bubur sayur. Eomma bilang kalau sakit makan bubur sayur."

Selagi Ryeowook mengambil bubur untukknya, Yesung memperhatikan Ryeowook. Terus diamatinya sang yeoja yang mengambil bubur dan menghidangkan makanan itu di depannya. Merasa di perhatikan Ryeowook balik melihat Yesung.

"Sejak kapan kau bisa memasak?" Tanya Yesung.

Ryeowook mengaduk-aduk bubur di mangkuknya "Sudah lama. Mmm..maksudku belum lama ini?"

"Sebelumnya kau tidak bisa memasak?"

Ryeowook menunduk "Ya! Jangan mengejekku. Aku sudah berusaha belajar memasak untukmu!"

Yesung tertawa "Untukku? Maksudmu kau belajar memasak untuk membuatkanku bubur ini?"

Yesung pura-pura pabo atau memang pabo, tentu saja bukan hanya untuk memasak bubur! "Jika aku menikah denganmu, bukankah berarti aku memasak untukmu? Jangan pura-pura bodoh"

Yesung kembali tertawa melihat wajah Ryeowook yang memerah karena malu "Jadi kau ingin menikah denganku?"

"Lalu dengan siapa lagi? Setelah menikah nanti, aku ingin mempunyai anak kembar, oppa"

Yesung terkekeh, Ryeowook benar-benar lucu. Sepertinya Yesung lupa kalau ia baru saja sembuh dari sakit.

"Oh..kalau begitu kau istriku" Yesung menepuk tempat di sebelahnya "kemarilah, istriku harus duduk di sampingku.

Ryeowook tertawa dan menggeser duduknya ke samping Yesung. Yesung tersenyum. Dengan gerakan cepat, ia meraih tengkuk Ryeowook. Yeoja itu terkejut dan hampir berteriak, namun suaranya kalah cepat dengan bibir Yesung yang meraup bibirnya membawa yeoja itu ke dalam ciuman hangat.

Hanya sebentar, tapi Yesung melakukannya atas dasar rasa sayang. Tautan itu terlepas.

Ryeowook menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ini yang pertama Yesung menciumnya. Sebenarnya yeoja itu memiliki satu pertanyaan, kenapa Yesung menciumnya begitu cepat? Bukankah ciuman pertama harusnya lebih lama? Baik, lupakan.

.

.

"Sunny, barang-barangnya sudah ku pesan. Katanya sore ini akan langsung diantar"

Sunny menerima daftar barang yang di diberikan Ryeowook "Baiklah, sore ini aku akan datang ke kantor interior. Kau tidak datang ke sana, ya?"

"Sebenarnya aku ingin sekali datang, tapi, aku ada janji untuk bertemu temanku" Ryeowook melirik jam di pergelangan tangannya, "Baiklah, aku percayakan barangnya padamu, aku pergi dulu"

Ryeowook berjalan menuju sebuah café. Ada seseorang yang ingin bertemu dengannya siang ini. café hanya terletak beberapa meter dari kampusnya.

Ryeowook mendorong pintu café, di carinya yeoja yang telah membuat janji dengannya. Pandangan Ryeowook menyapu seluruh pengunjung café. Ia tersenyum mengetahui temannya telah datang dan menunggu.

"Hyukie!" Ryeowook menggeser bangku dan duduk di hadapan Eunhyuk.

Eunhyuk memasukkan handphonenya ke dalam saku baju "Aku pikir kau sibuk, jadi tidak bisa datang"

Ryeowook mencubit pipi Eunhyuk "Bagaimana mungkin aku tidak meluangkan waktu, ketika Nyonya dari Mokpo datang"

Eunhyuk tersenyum "Kau ini. kau sendiri, aku dengar juga mulai membangun usaha. Bakatmu dari SMA dulu memang sangat berguna"

Ryeowook meminum cappuccino yang di pesan Eunhyuk untuknya "Hm"

"Donghae kemana? Kau ke Seoul sendirian?" Tanya Ryeowook

"Iya. Eomma Donghae sakit, Donghae bilang aku harus pergi ke Seoul untuk menemani eommanya" jawab Eunhyuk. Dari nada bicaranya kelihatannya Eunhyuk sedang bersedih.

"Jadi eommanya sudah mau menerimamu?"

"Justru itu, eomma Donghae tak menyukaiku dan sekarang Donghae manyuruhku untuk menjaga eommanya. Aku merasa kesal setiap kali eomma mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan padaku"

Mata eunhyuk berkaca-kaca. Ia memandang langit Seoul yang cerah karena musim semi.

Ryeowook menggenggam tangan Eunhyuk, ikut merasakan apa yang dirasakan sahabatnya "Sabar ya, aku yakin Donghae menyuruhmu datang, karena dia ingin eommanya menyadari kalau kau juga menyayangi eomma."

"Tapi kata-kata wanita itu sangat pedas. Aku bukan wanita kerajaan yang memiliki hati sekuat baja ketika di hina. Aku ini lemah" Eunhyuk menyeka air matanya sebelum butiran bening itu turun ke pipinya. "Dia mengatakan aku ini parasit yang hanya menumpang makan pada Donghae, dia bilang aku wanita murahan yang hanya ingin tidur di kasur empuk, dia juga bilang aku mandul"

Ryeowook tersentak, benarkah Eunhyuk mandul? Bertanya langsung mungkin tidak sopan bagi Eunhyuk. Tapi Ryeowook benar-benar ingin tau.

"Benarkah?"Tanya Ryeowook meminta kepastian.

"Aku mandul?"

"Eungg..maksudku, sampai sekarang kau belum menggendong bayi"

Eunhyuk menghela nafasnya, satu lagi yang harus dikatakan pada Ryeowook. Tapi Eunhyuk tak yakin.

"Bukan begitu. Tapi dokter mengatakan aku Donghae akan sulit memperoleh keturunan" eunhyuk mengukir-ukir air yang menetes di meja café "Sebenarnya aku juga ingin punya anak. Tapi aku dan Donghae..ya, sudahlah, itu ujian untuk kami berdua"

Ryeowook tersenyum, senang melihat Eunhyuk bisa menerima semuanya, "Kalau begitu, aku doakan semoga kau cepat memiliki anak"

"Gomawo. Tapi ngomong-ngomong, kau dan Yesung, kapan kalian menikah?"

Ryeowook tertawa mendengar pertanyaan Eunhyuk "kau jangan menyakan hal itu. Tunggu saja, dan undangannya akan sampai di rumahmu"

"Sebentar lagi ya?" tebak Eunhyuk sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan Ryeowook.

Ryeowook menepis telunjuk itu "Masih lama Hyukie. Appa bilang, Sungmin eonni harus menikah dulu, baru aku boleh menyusul menikah"

"Wah, kita semua sangat unik ya, Dari SMA sampai sekarang namjanya tetap itu-itu saja. Aku dengar Baekhyun dan Key juga tetap dengan namjanya masing-masing"

"Begitulah, Baekhyun se kampus denganku, sedangkan Key, dia bekerja sambil kuliah"

Kedua yeoja itu larut dalam pembicaraan yang seru tentang teman-teman mereka. Ryeowook juga memberitahukan pada Eunhyuk kalau sebentar lagi ia akan di wisuda. Keduanya beru keluar café saat matahari mulai bosan bertengger menjaga siang dan perlahan terbenam.

.

.

.

"Aku pulang" Ryeowook menutup pintu rumahnya.

"Ryeowookie! Kau sudah pulang?"

Mendengar namanya di panggil, Ryeowook berjalan menuju asal suara. Tadinya ia berpikir kalau rumahnya kosong.

Begitu naik ke lantai atas, ia melihat si pemilik suara yang memanggilnya tadi.

"Eonni? Kau memanggilku?" Ryeowook melihat kakaknya yang sedang berbincang dengan seseorang "Jae eonni?!" lanjutnya setelah mengetahui bahwa Jaejoong lah yang sedang mengobrol dengan Sungmin.

"Jaejoong eonni, kau datang? Kapan?"

"kau darimana?" Jaejoong balik bertanya.

"Bertemu temanku" Ryeowook memperhatikan penampilan Jaejoong sekilas "Wah, eonni bahkan masih terlihat cantik! O..iya, mana Yunho oppa?"

Jaejoong tersenyum mendengar pujian Ryeowook, "Yunho sedang ada kegiatan di luar kota, dia baru saja pergi saat mengantarku kesini tadi."

"Changmin?"

"Changmin sudah tidur. Ada di kamar Sungmin"

Ryeowook mengangguk. Ia melihat ke meja dihadapan Sungmin dan Jaejoong. Beberapa katalog dan juga coret-coretan. Ryeowook duduk dan mengambil katalog itu "Eh, siapa yang mau menikah? Kenapa ada katalog pernikahan?"

Sungmin tertawa "Hahaha..kau pikir Jaejoong eonni akan menikah lagi? Dia kan masih dengan Yunho oppa"

"Jika Jaejoong eonni tidak ingin menikah lagi, lalu yang menikah…" Ryeowook menatap Sungmin "Eonni akan menikah?"

Sungmin mengangguk.

Ryeowook menatapnya tak percaya "Benarkah?"

"Jika bukan aku, lalu siapa yang akan menikah? Kau? Yesung saja tak pernah datang ke rumah untuk memperkenalkan diri pada eomma dan appa"

"Yesung? siapa? kekasih Ryeowook?" Jaejoong menggoyang-goyangkan lengan Ryeowook.

"Iya, kekasih Ryeowook" sahut Sungmin. Ryeowook memberi deathglare pada Sungmin yang telah membocorkan hal tentang Yesung.

Jaejoong terkekeh "Yesung itu seperti apa? Boleh aku lihat fotonya?"

"Dia sangat tampan eonni. Pertama melihatnya, aku terpesona pada Yesung itu, tapi setelah kuamati.." Sungmin menggantungkan kalimatnya. Ryeowook dan Jaejoong menunggu kalimat itu penasaran

"Setelah kau amati bagaimana?" Desak Jaejoong.

"Aku jatuh cinta kepadanya!"

"MWO!"

Sungmin dan Jaejoong tertawa bersamaan melihat ekspresi terkejut Ryeowook. Ia berekspresi seolah tak rela Sungmin jatuh cinta pada Yesung.

"Ya! Hentikan! Hei, eonni, kenapa tak bilang padaku kalau kau mau menikah?" Ryeowook berusaha mengganti topik pembicaraan

"Menikahnya masih satu atau dua bulan ke depan sambil menunggu Kyuhyun pulang dari luar negeri. Oh.. aku sanagt merindukan Kyunie ku"

"Kudengar Sungmin akan menikah, Seminggu lagi Ryeowook juga akan tamat kuliah. Itu kabar gembira yang kudengar dari kalian. Semoga semuanya berjalan dengan lancar. Tapi, aku juga punya kejutan dan kabar gembira untuk kalian"

"Kabar apa eonni?" desak Sungmin.

Jaejoong tersenyum. Perlahan tangan kanannya bergerak dan mengusap perutnya "Changmin punya adik!"

"Whoa! Benarkah?" Koor Sungmin dan Ryeowook bersamaan.

"Berapa usia kandungan eonni?"

"Memasuki bulan ke dua. Aku harap sampai kelahiran nanti, akan baik-baik saja"

"Apa eonni tidak repot? Eonni masih jadi dosen kan?" Ryeowook melepas jaketnya. Ia baru sadar kalau sedari tadi masih memakai jaket.

"Kalau dibilang repot sebenarnya iya, tapi Changmin sudah besar dan meminta adik. Apalagi usia Changmin sudah 4 tahun. Ia mulai aktif dan membuatku lelah. Tapi semua itu kumanfaatkan untuk memberikannya pengertian."

"Pasti menyenangkan" Sungmin merapikan katalog dan kertas-kertas yang berserakan

" Kalau Sungmin sudah menikah, berarti, kita masih punya satu bayi lagi! Kapan kau menikah Wookie?" goda Jaejoong yang membuat Ryeowook jadi salah tingkah.

"I-Itu masih lama" Ryeowook berdiri dan berjalan menuju kamarnya "Eonni, aku masuk kamar dulu, ya!"

.

.

"Kyuhyun tak memberimu kabar?"

"Kau pikir bocah itu masih menganggapku?"

"kalau kulihat-lihat, kelihatannya Kyuhyun menyayangimu sebagai seorang Hyung. Tapi aku tidak tahu, mungkin namja akan merasa malu kalau harus mengakui hal itu"

Yesung mengeratkan genggaman tangannya dengan Ryeowook. Karena hari ibur, Yesung ingin mengajak jalan-jalan Ryeowook sesekali. Bukan ketempat-tempat yang menghabiskan banyak uang. Sekedar berjalan-jalan menyusuri jalanan Seoul saja sudah cukup bagi pasangan ini.

"Kalau Sungmin eonni menikah, Lalu, kapan kita menikah?"

Ryeowook mendongakkan kepalanya mendengar pertanyaan Yesung "Menurutmu, kapan?"

"Entahlah"

Ryeowook memandang Yesung tak suka. Jawaban Yesung benar-benar terdengar mengacuhkannya "kenapa entahlah? Kau tidak pernah memikirkan hal itu?"

"Bukannya aku tak memikirkan. Aku hanya belum siap" jawab Yesung pelan.

"Aku..berpikir kita akan menikah setelah Kantor desainer ku berjalan. Lalu kita akan menikah dan hidup bersama. Aku ingin membeli rumah yang sedikit jauh dari rumah eomma dan appa. Lalu anak kembar"

"Lalu, kantor desainer itu? Sudah berapa persen persiapannya?"

"Mungkin 65-70 persen. Aku bekerja dengan Yuri, Sunny, Jinyoung, dan Youngmin, mereka jadi partner kerjaku"

Yesung mengangguk paham. Menikah. Setelah Sungmin menikah, kelihatannya Ryeowook jadi berpikir untuk segera mengikat hubungan dengan Yesung menjadi lebih kuat.

"Oppa, sebenarnya ada yang ingin ku katakan" ucap Ryeowook sambil duduk di salah satu bangku. Yesung ikut duduk disampingnya "Katakanlah"

"Mmm..kata Sungmin eonni, jika ingin menikah, harusnya kau datang menemui eomma dan appa ku. Bukan untuk bertunangan!" Ryeowook menyilangkan tangannya dihadapan Yesung agar namja itu tidak kaget mendengar penuturannya "Memeprkenalkan diri dulu, agar mereka lebih akrab denganmu."

"Aku tahu. Salah satunya, itulah yang membuatku belum siap" Yesung menarik nafasnya dan melanjutkan perkataannya "Bukannya aku tak siap menemui orang tuamu, tapi aku tak siap kalau mereka menolakku."

Ryeowook memandang Yesung prihatin "Aku bisa mengerti maksudmu. Kalau eomma, kelihatannya dia setuju-setuju saja dengamu, tapi kalau appa aku tidak tahu. Jika melihat hubungannya dengan Kyuhyun, untuk membangun kecocokan dengan appa, Kyuhyun harus bekerja keras bertahun-tahun. Itulah, mengapa appa percaya pada Kyuhyun."

"Jika dengaku?" Tanya Yesung.

"Bagaimanapun, aku akan berusaha membujuknya. Oppa dan appa belum pernah bertemu, mungkin sulit bagi oppa untuk melakukan hal ini. tapi aku akan terus membujuk appa"

Yesung menunduk. Perasaan takut, gugup, dan khawatir akan tanggapan orangtua Ryeowook tentang dirinya terus berkelebat. Diantara semuanya yang paling Yesung pikirkan adalah dua masalah. Pertama, Ia tak punya keluarga bagaiaman harus menjelaskannya? Dan yang kedua jujur saja, tabungannya belum cukup untuk mengadakan pesta pernikahan dengan keluarga sekelas Ryeowook. Kalau pesta biasa mungkin sudah cukup.

"Bagaimana oppa?" Ucap Ryeowook

Yesung mengangkat wajahnya "Baiklah, akan kucoba"

Ryeowook mengukir senyum di wajahnya. Ia senang bisa segera mengenalkan Yesung pada kedua orangtuanya. Mungkin akan sulit. Tapi kalau belum dicoba, kita tak pernah tau kan, bagaiamana hasilnya.

.

.

-TBC—

Akhirnya selesai chapter 9! Terimakasih buat yang sudah meluangkan waktunya untuk mereview saya. Saya merasa senang karena ada yang memberi semangat. Maaf ya, untuk Siwon bias atau siapapun yang merasa biasnya saya jadikan pemeran berwatak buruk. Saya hanya meminjam saja, karakter Siwon di ff ini jangan di bawa ke Siwon aslinya, ya!

Special thanks yang sangat special buat

hanazawa kay, Simba, spykjw, Anik0405, JSJW407, cloud prince, kime simiyuki, MyryeongkU, Guest1, Guest2, EternalClouds2421, bumkeyk, Guest3, Clouds dan semua yang telah memfollow dan memfavoritkan saya. Sekali lagi terimakasih!