June, 2001

Cas terduduk di tempat tidurnya, bercucuran keringat dan gemetar ketakutan. Ia bermimpi buruk. Ia mengambil ponselnya di bawah bantalnya, memeriksa waktu saat itu. Masih pukul dua pagi, pikir Cas. Ia meletakkan ponselnya kembali di tempatnya, dan berguling, menjulurkan tangannya untuk menjangkau Dean, tapi tidak ada apa-apa selain sisi kosong di sampingnya.

Ia lupa

Dean tidak tidur bersamanya selama dua malam terakhir. Mereka bertengkar. Sejak Benny pergi dari flat mereka, Dean menjadi sangat ketus dan dingin. Kemudian, malam itu. Cas sudah membuatkan makan malam untuk mereka bertiga. Sam kebetulan menginap di flat mereka, sejak Cas melaporkan kelakuan Dean yang aneh. Dean tidak makan. Cas tidak tahu apa yang terjadi. Sam sepertinya juga tidak tahu seperti Cas

Dean pergi ke rumah Benny, berkata dengan ketus pada Cas untuk membiarkannya sendirian, dan tidak kembali ke rumah sebelum akhirnya Cas menyerah dan pergi tidur sebelum Dean pulang

Cas berdiri dan menyalakan lampu kamarnya. Ia beranjak keluar, dan membuka pintu kamarnya menuju ruang santai mereka yang gelap. Dengan hati-hati ia berjalan dalam kegelapan, menuju kamar mandi di ujung ruangan. Sesekali ia menabrak sofa atau piano yang ada di situ

Ada suara aneh, yang berasal dari kamar Dean, disusul dengan erangan keras dan suara benda yang pecah.

Dean sedang bermimpi buruk

Cas segera lupa akan persoalan yang mereka alami saat itu, pikirannya yang masih setengah tidur segera iba dan kasihan pada Dean. Ia melangkah menuju pintu kamarnya dan membukanya, dan menunggu matanya menyesuaikan diri terhadap kegelapan di kamarnya

Tapi tidak ada kegelapan

Lampu kamarnya menyala, memperlihatkan Dean yang sedang terduduk di lantai, bersandar di sisi kasurnya, memegang sebotol minuman keras. Bau alkohol memenuhi kamarnya. Pecahan botol-botol kaca berserakan di lantai kamarnya

"Oh tuhan.."

Mata Dean terbuka perlahan, memperhatikan Cas yang berdiri di ambang pintunya. Ia berusaha untuk berdiri, tapi ia terlalu mabuk, dan ia terduduk kembali di kasurnya. Botol yang dipegangnya tadi terjatuh dan kembali pecah

"Cas.."

"Ada apa?" Sam tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Cas. Matanya membelalak begitu melihat kakaknya yang mabuk. "Apa yang terjadi?"

Cas tidak bisa berpikir. Tidak bisa berbicara. Ia menatap Dean yang masih berada di lantai, mata hijaunya tidak berani menatap Cas. Tanpa sadar, ia berputar dan berlari ke kamarnya tanpa mempedulikan panggilan Sam. Ia membanting pintu kamarnya, menguncinya, lalu merebahkan dirinya di tempat tidurnya.

Cas memendam wajahnya dengan bantal, suara tangisannya diredam oleh bantal yang dipeluknya saat itu. Ia membiarkan tangisan itu menghanyutkannya sampai perlahan ia tertidur dengan lelap


Ia terbangun keesokan paginya mendengar suara-suara yang berargumen, pintu dibanting, dan suara marah Dean yang menandingi suara Sam. Sesaat kemudian, ia mendengar, dan merasakan, suara Impala kesayangan Dean, meraung dengan nyaring, bannya mendecit saat mobil itu keluar dari pekarangan flat mereka.

Cas menghiraukan suara ketukan lembut di pintu, dan bisikan, "Cas, kau baik-baik saja?". Ia mendengar Sam kemudian pergi meninggalkannya

Saat ia yakin flat mereka sudah sepi dan kosong, ia keluar dari kamarnya dan beranjak ke kamar mandi. Ia menyalakan shower, membiarkan air membasahi dirinya, dan ia kembali menangis di bawah pancuran air, kepalanya bersandar di dinding di hadapannya

Kepalanya sakit. Ia pusing memikirkan kejadian semalam. Lebih dari itu, ia ingin tahu kenapa. Cas tidak bisa memikirkan itu

Cinta pertamanya. Dan luka pertamanya

Dean sangat mabuk saat itu. Itu terlihat sangat jelas. Jadi mungkin, mungkin mereka bisa mengatasi hal ini. Tapi belakangan ini ia bersikap sangat aneh..

Ia harus berbicara dengan Dean. Secara bertahap

Hari-hari berlangsung dengan lambat dan canggung. Sam kembali ke flat mereka, dan mereka membuat makan malam bersama. Pria di hadapan Cas kelihatan tidak tahu akan berkata apa, tapi Cas tidak melewatkan rasa simpati dalam mata Sam saat ia menatap dirinya. Ia tidak melewatkan kekhawatiran yang terlihat dalam mata cokelatnya. Ia tidak melewatkan gestur Sam yang selalu memeriksa telepon genggamnya, maupun jam tangannya, atau melihat ke luar jendela dan menatap ke kejauhan.

Mereka baru saja duduk di sofa ketika suara Impala memecah keheningan malam itu, dan ketegangan tiba-tiba saja meningkat

Sam menyentuh bahu Cas dengan perlahan. "Semua akan baik-baik saja, Cas," ujarnya lembut dengan meyakinkan

Dean terlalu diam. Ia menaiki tangga dengan umpatan-umpatan pelan disertai hentakan setiap kali ia melangkah

"Ia mabuk," Cas menghela nafasnya. "Lagi."

"Sialan."

Mereka baru saja bersiap meninggalkan ruangan itu ketika Dean tiba di lantai atas. Kaus putihnya bernoda, dan robek di sisi bawahnya. Celana jeansnya juga kotor. Dean benar-benar kacau

"Aku akan mandi," ia menggerutu pelan

"Dean—"

"Apa, Sammy?" Dean berbalik menatap Sammy, hampir memasuki kamar mandi. Matanya terlihat lelah

Sam mengangkat bahunya, sambil melirik Cas yang tengah duduk tidak bergerak sama sekali di pinggir sofa. "Tidakkah kau pikir kita harus, kau tahu, berbicara? Tentang kejadian semalam?"

"Apa yang harus dibicarakan? Aku mengacau. Lagi. Bukankah itu sesuatu yang normal?" Cas bisa mencium bau alkohol dari arah Dean berdiri sekarang

Sam juga mencium bau yang sama. "Kau mabuk! Kau meninggalkan kami! Dari mana saja kau selama seharian ini?"

"Apa itu penting? Huh? Sejak kapan kau menjadi ibuku, Sam?" Mata Dean dipenuhi dengan kemarahan, dan ia berhadapan dengan adiknya yang lebih tinggi beberapa inci darinya

"Apa masalahmu? Kau tidak memperhatikan Cas lagi, atau kau terlalu mabuk untuk mengingatnya?"

Sebuah ekspresi melintas di wajah Dean sesaat, dan Cas ingin kabur dari ruangan itu. Ia tidak mau mendengar apapun yang Dean katakan. Ia mulai berjalan mundur ke arah kamarnya

"Jadi aku sudah tidak bertanggung jawab. Lalu kenapa?"

"Dean—" Cas mengeluh lemah. "Jangan. Kita bisa menyelesaikan ini. Kita bisa."

Mata Dean benar-benar dingin dan menunjukkan kemarahan. "Mungkin aku tidak ingin menyelesaikan ini."

"Apa—"

"Ini bukan masalahmu, Sam! Dengar, Cas, hari-hari itu memang menyenangkan, okay? Tapi semua itu sudah berakhir."

"Kenapa kau bersikap begitu ketus? Kau tidak.. Kau tidak bermaksud seperti itu, Dean, please, tidak, tidak—"

"Aku tidak mencintaimu."

Keheningan memenuhi ruangan itu. Mata Sam melebar dan ia menganga tidak percaya.

"Kau t-tidak be-bermaksud seperti i-itu," Cas tergagap, suaranya perlahan pecah

"Persetan denganmu, Cas!" Dean berteriak di hadapan Cas. Mukanya memerah karena marah. "Aku sudah tidak peduli dengan kita lagi. Kau bertingkah seolah aku mau kembali bersamamu. Tapi, tidak. Hubungan kita selesai di sini."

Dan Dean membalikkan badannya, dengan langkah panjangnya ia memasuki kamarnya, menutup pintunya dengan kasar, dan suara pintu terkunci terdengar dari kamarnya

Cas tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernapas.

"Cas, aku akan bicara padanya, ia tidak bermaksud seperti itu. Ia tidak—"

"Tidak, Sam. Ia memaknainya. Ia serius tentang setiap kata yang ia ucapkan tadi. Ia serius."

"Cas—"

Ia tidak mendengarnya. Ia meninggalkan Sam berdiri dengan matanya yang melebar kebingungan, di tengah-tengah ruangan itu, kembali ke kamarnya, menutup pintu dan mengunci pintu kamar di belakangnya

Ia tidak bisa tidur malam itu

Sementara itu, Dean berkemas dan sudah meninggalkan flat itu keesokan harinya sebelum semua orang terbangun


Dean menarik tas duffel dari bawah lemarinya dan mulai memasukan pakaian miliknya ke dalamnya. Tas itu sangat padat terisi dengan pakaian dan terkemas dengan rapi. Ia melangkahkan kakinya perlahan menuruni tangga, menjaga agar ia tidak membangunkan siapapun di flat itu

Ia mencari sebuah taksi, dan berangkat menuju bengkel milik Bobby. Ia bisa melihat Impala nya terparkir di pekarangan flat mereka. Aku bisa meminjam mobil Bobby, pikirnya.

Bengkel milik Bobby masih tertutup, tapi pick-up tua miliknya masih terparkir di halaman luar. Pintu ke arah kantor Bobby terbuka, sehingga Dean masuk begitu saja. Bobby mengangkat wajahnya dari tumpukan kertas di hadapannya, merasa terganggu. Wajahnya kembali cerah ketika sadar siapa yang datang

"Dean! Kemana saja kau selama ini? Kau terlihat kacau.. Yang sebenarnya lebih baik dari yang kubayangkan."

"Bisakah kupinjam salah satu mobilmu?"

Bobby melirik tas duffel yang dipanggul oleh Dean di bahunya.

"Kau akan pergi?" katanya perlahan, dan Dean memejamkan matanya. Ia tidak akan menjawab pertanyaannya. Ia hanya ingin pergi, meninggalkan kota ini sejauh mungkin yang ia bisa. Ia bisa melihat Bobby bersiap memberinya ceramah panjang

"Biar kuulang: apa kau akan pergi?"

Dean tidak berkata apa-apa

"Bagaimana dengan—"

"Jangan beritahu dia, tolong.." ujar Dean lemah

Dean menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya, sementara Bobby berjalan ke arahnya dan menariknya ke dalam pelukannya. Dean menangis di bahunya, dan Bobby dengan lembut menepuk punggungnya sebelum melepaskan pelukannya. Tangannya masih menggenggam lengan Dean

"Kau tidak bisa melakukan ini padanya."

"Aku tidak baik untuknya, Bobby," tangis Dean. Ia menyeka air matanya. "Aku menyakitinya. Aku membunuhnya. Aku bersumpah aku membunuhnya perlahan."

"Dean, please—"

"Kau tidak berhak membicarakan itu di hadapanku!" Dean menarik lengannya dari genggaman Bobby, dan menyeimbangkan duffel di bahunya. "Aku pinjam mobilmu. Aku ingin keluar dari kota jahanam ini secepat mungkin."

Bobby dengan enggan mengambil kunci mobilnya dari dasar laci di mejanya dan memberinya kepada Dean, memberinya sebuah pelukan sebelum ia sempat berbalik dan keluar

Ia menahan dagu Dean, agar ia tetap menatapnya

"Kau harus kembali. Kau bisa kembali. Kapanpun yang kau inginkan," ujarnya

Dean mengangguk, dan membalas pelukannya, menggenggam kunci mobil di tangannya erat-erat dan keluar dari ruangan itu, berjalan menuju pick-up tua milik Bobby. Ia mencintai Cas, ia selalu mengatakan hal itu kepada dirinya sendiri.

Cas, pikirnya sambil menyalakan mesin kendaraan itu. Aku masih mencintaimu. Tapi dunia tidak menginginkan kita untuk bersama selamanya


Cas terbangun di pagi harinya, masih teringat akan kejadian semalam. Ia beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan dengan enggan menuju kamar Dean. Hanya ada dua kemungkinan: Dean masih tertidur atau Dean sudah bangun dan keluar. Ia membuka pintu kamar Dean yang berwarna putih, dan bau alkohol segera tercium dari dalamnya. Kamar tersebut kosong saat ia mengintip ke dalamnya. Selimut berwarna peach terhampar begitu saja di atas tempat tidur dan bantal-bantal bertebaran di lantai

Ia masuk ke dalam, dan menemukan lemari pakaian Dean di sudut kamar. Pintunya setengah terbuka, dan lampu di dalamnya dibiarkan menyala. Saat ia mengintip ke dalamnya, ia sadar kalau sebagian besar pakaian Dean hilang. Tas duffel miliknya hilang. Sepatu boots nya. Cas melangkah mundur hingga ia merasakan ujung tempat tidur menyentuh belakang lututnya. Ia terduduk di kasur Dean, tidak kuat lagi untuk berdiri.

"Tidak," katanya ketakutan. Air matanya berjatuhan ke pangkuannya. Ia menggelengkan kepalanya, tidak percaya. "Tidak, tidak—"

"Cas?" Terdengar suara Sam di belakangnya. "Kau baik-baik—"

Sam tertegun, melihat lemari pakaian Dean yang terbuka, memperlihatkan isinya yang hampir kosong sama sekali.

"Dean, please, kau tidak bermaksud meninggalkanku.." Cas terisak. Sam segera mendekat dan memeluk Cas. Air matanya bercucuran di lengan Sam. "Ia meninggalkanku—"

"Ssshh.. Semua akan baik-baik saja, Cas. Aku akan mencarinya sekarang juga, okay?"

Cas terduduk di depan piano di ruang santai mereka, setelah sam pergi untuk mencari Dean. Ia menunggu suara langkah kaki menaiki anak tangga, menunggu suara Dean untuk menyapa dirinya. Tapi tidak ada yang terjadi..

Ia menutup mukanya dan berteriak sekencang mungkin, membiarkan air matanya menetes ke tuts piano dihadapannya. Sebagian dari diri Cas tahu kalau hal itu akan terjadi, tapi ia tidak menyangka Dean akan meninggalkannya begitu cepat.

Ia meletakkan jari-jarinya di atas tuts piano di depannya, suaranya pecah akibat tangisan dan teriakannya

"If heaven's grief brings hell's rain.." Cas memejamkan matanya dan membiarkan jari-jarinya bergerak. "Then I'd trade all my tomorrows for just one yesterday—"

Cas tidak tahan lagi. Ia membanting tutup piano itu dengan kasar seketika itu juga.

Bullshit, pikirnya

Gitar di atas piano itu dilemparkannya ke dinding disampingnya. Suara retakannya terdengar sangat jelas. Ia membanting turnover kesayangannya. Ia sudah tidak peduli akan semua itu.

Cas tidak ingin menangis lagi, karena menangis tidak akan membuat Dean kembali padanya


Author's Note:

Tune in for tragedy ( ͡o ͜ʖ ͡o)