Desclaimer : Mashasi Kishimoto
Rate : T
Genre : Mystery, Friendship
Warning : AU, OOC, Fem Naru, Typo's, Membingungkan, gaje, dll..
.
Maaf... Sierra mohon maaf dengan sangat atas keterlambatan apdet fanfic ini.
Semua ini salah *** (rahasia, hehe) karena dia itu, semua waktu Sierra tersita begitu aja. Benar-benar tersita !
Jadi Sierra harap, reader sekalian mau memaafkan Sierra.
Dan selamat menikmati lanjutan ceritanya!
.
Don't Like Don't Read !
.
.
Naruto, Sasuke, Sakura dan Neji sudah siap ditempatnya masing-masing, dan mereka hanya heran melihat Gaara yang tak juga beranjak dari tempat tidurnya yang tengah duduk bersila dan asyik membaca sesuatu pada sebuah sobekan kertas.
"Hey, Gaara... Kau tidak lihat kami sudah berkumpul?" seru Sakura yang mulai kesal.
Gaara menoleh dan menghela napas, lalu beranjak untuk berkumpul dengan yang lain.
"Apa sih yang kau baca?" tanya Neji saat Gaara duduk disebelahnya.
"Sebuah fakta... mungkin..." jawab Gaara yang membuat empat orang anak buahnya disana terkejut.
"Fakta?" tanya Naruto yang memiringkan kepalanya.
Gaara menunjukkan sobekan kertas yang sedari tadi menyita seluruh perhatiannya, lalu menatap ke arah Sasuke.
"Kau ingat ini?" tanyanya pada pemuda raven itu yang sedang mencoba mengingat apa yang dimaksudkan oleh Gaara.
"Saat hari pertama kita datang kesini, Neji melemparkan sebuah kertas dan aku membacanya, saat itu kau menarik kertas tersebut dan... Inilah sobekannya..." jelas Gaara.
"Lalu ada apa dengan sobekan kertas itu?" tanya Sasuke.
"Sudah kubilang tadi, mungkin ini sebuah fakta..."
Gaara menyerahkan sobekan kertas itu pada Sasuke yang membuat Sasuke mengerutkan dahinya. Naruto yang berada di samping Sasuke ikut melihat sobekan kertas tersebut.
"Ini hanya kertas kosong," gumam Naruto.
Gaara beranjak dari tempatnya, berjalan kembali menuju kasurnya dan mengambil sebuah senter yang lalu dia letakkan di hadapan Sasuke, "Dia menggunakan Invisible Ink."
Sasuke mengambil senter itu, menyalakannya dan menyorotkan cahaya senter pada bagian bawah kertas, hingga selanjutnya sebaris kalimat muncul disana yang membuat Sasuke dan Naruto kaget.
"I...Ini... Tidak mungkin..." tubuh Naruto lemas seketika, dia pun menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Memang apa isinya?" tanya Neji yang penasaran.
Sasuke menyerahkan sobekan kertas beserta senter kembali pada Gaara yang kemudian Gaara berikan pada Neji.
Neji pun melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh Sasuke tadi.
"Memang apaan sih? Sampai-sampai kalian shock gitu," tanya Sakura yang belum mendapat giliran.
Neji lalu mengoperkan benda yang dipegangnya pada Sakura.
Sangat terlihat jelas dari ekspresi yang ditunjukkan Sakura, kalau gadis berambut pink itu pun terkejut.
"Dan pertanyaanya sekarang adalah... Siapa yang menghuni kamar ini. Dengan begitu berakhirlah kasus ini," ujar Neji.
"Tidak," Gaara mulai memasang wajah seriusnya.
Semua mata mengarah pada Gaara dengan heran.
"Kau kemanakan kertas itu, Sasuke?" tanya Gaara yang membuat Sasuke mengangkat bahunya dengan santai dan membuat Gaara mendengus kesal.
"Ayolah, Teme... Kau harus mengingatnya. Kau kan di anugerahi otak yang jenius, jadi kau pasti bisa."
"Hn."
"Neji, apa kau ingat?" Gaara beralih pada Neji yang kini ikut berusaha memutar otaknya kembali ke beberapa hari yang lalu.
Neji yang tidak ingat malah menjadi kesal sendiri, "Makanya, kita geledah saja sekarang!"
Keempat orang disana menghela napas bersama-sama.
"Kalau sudah dibuang bagaimana?" tanya Sakura yang membuat Neji terdiam.
"Teme, apa kau membuangnya?"
"Sepertinya tidak."
"Jangan pakai sepertinya, Teme!"
"Lalu kau mau aku jawab apa, huh?"
"Apa saja, asal yang meyakinkan."
"Hentikan, kalian berdua!" Sakura geram.
"Asalkan Sasuke tidak membuangnya keluar, kertas itu pasti masih ada disini..." ujar Gaara.
"Eh?" gumam Naruto yang bingung.
Sasuke memukul kepala Naruto dengan genggaman tangannya pelan, "Dasar bodoh."
Naruto langsung mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangan di depan dada.
"Tidak ada yang masuk kamar ini selain kita, kan?"
Naruto menganggukkan kepalanya pada Gaara.
"Kalau begitu, kemungkinan besar kertas itu masihlah disini walaupun Sasuke membuangnya di tempat sampah kamar ini, kalau tidak dibuang keluar takkan jadi masalah."
Naruto menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Kau tidak membuangnya keluar 'kan, Sasuke?" tanya Gaara tiba-tiba dengan suara yang lumayan kuat hingga membuat Sasuke sedikit kaget.
"Tidak."
Gaara menghela napas lega, "Baguslah."
"Diluar masalah itu... Jadi apa yang mau kita bahas sekarang?" tanya Sakura, "...tentang Kabuto?"
Gaara mengangguk.
"Kalau Itachi..." Gaara melirik pada Sasuke sebelum kembali melanjutkan. "Aku sudah tahu kalau dia pernah tinggal disini."
"Ck, kalian berdua sama saja. Kenapa tidak bilang-bilang, huh?" seru Sakura kesal.
"Seperti kata Sasuke... Kupikir tidak penting..."
Sakura mengerling mendengar jawaban Gaara.
Tok...Tok...Tok...
Semua mata langsung menuju ke arah pintu yang diketuk dan Naruto beranjak dari tempatnya untuk membuka pintu.
"Sasori-nii... Ada apa?" tanya Gaara pada Sasori yang terlihat berdiri di depan pintu dengan melihat ke dalam kamar.
"Ada tamu untuk kalian," ujarnya.
Tamu?
Sebuah pertanyaan yang sama dalam pemikiran Naruto, Sasuke, Gaara, Sakura dan Neji.
"Siapa?" tanya Naruto mewakili yang lain untuk memuaskan pemikiran mereka.
"Kalau dari bajunya sih dia seorang polisi."
Dan perkataan Sasori barusan sukses membuat kelima anggota Jinchuuriki Detective terkejut dengan mengertukkan dahi mereka.
"Polisi?"
Sasori mengagguk lalu pergi meninggalkan para detektif itu dalam tanda tanya besar di otak mereka.
"Apa jangan-jangan... Ini masalah 'Jaringan' itu?" tanya Neji dengan ekspresi horornya.
Gaara beranjak dari duduknya dan mulai melangkah keluar, diikuti Sasuke, Sakura, Neji dan Naruto yang tak lupa menutup pintu, karena bagaimanapun itulah markas mereka untuk sementara waktu, jadi tak ada yang boleh seenaknya masuk begitu saja.
.
.
Mereka sangat terkejut saat mendapati seorang berseragam polisi tengah duduk di sofa dan polisi itu langsung beridiri dan membungkukkan badannya saat melihat Jinchuuriki Detective.
Sasori yang juga ada disana menarik tangan Naruto, "Kalian ada masalah apa sampai polisi datang kesini? Pelakunya sudah ketemu?" bisik Sasori.
"Aku tak tahu... dan pelakunya... itu rahasia..."
Naruto menyusul keempat rekannya yang telah duduk bersama sang polisi dan langsung mengambil tempat disebelah Sasuke yang memang disiapkan Sasuke untuknya.
"Jadi... Ada masalah apa Anda mendatangi kami?" tanya Gaara dengan sopan.
"Sebelumnya, nama saya Umino Iruka. Saya kemari karena di utus oleh Shikamaru..."
Kelima orang yang mendengar hal tersebut kembali tertegun, namun menghela napas lega setelah mengetahui kalau ini perbuatan Shika.
"Haaahh... ternyata Shika. Dia bikin panik saja..." seru Sakura yang kini bisa lebih bersantai.
"Tapi kenapa Shika sampai mengirim orang segala... Kenapa tidak lewat telpon seperti biasanya. Pasti ada sesuatu," ujar Neji yang mendapat anggukan dari Iruka yang memasang senyumnya.
"Ternyata kalian benar-benar detektif..."
"Maksudnya?" tanya Naruto bingung.
"Pemikiran kalian sangat cepat dan memang akurat untuk menganalisis keadaan..."
"Kurasa tidak," ujar Sasuke membuat yang lain kembali bingung terutama Iruka, "Tidak untuk orang bodoh disampingku ini."
Perkataan Sasuke otomatis membuahkan senyum disetiap wajah disana, kecuali Naruto yang menekuk wajahnya kesal.
"Awas saja nanti saat kita sudah kembali ke rumah... Aku tak akan meladeni-mu, Teme!" ancam Naruto yang kini membuat Sasuke terdiam.
"Memang bisa?" tanya Sasuke meremehkan.
"Kau mau bukti, huh? Baiklah kalau begitu dari sekarang saja!" Naruto melipat tangannya di depan dada dan membuang muka.
"Cih, baiklah. Kau tak akan sanggup, Dobe..."
Neji menutup wajah dengan sebelah tangannya melihat kelakuan Sasuke dan Naruto, sedangkan Sakura sedang berusaha menahan emosinya, dan Iruka malah tertawa melihat manusia yang sifatnya seperti kucing dan tikus itu, tak pernah akur.
"Heh! Kalian berdua ini bikin malu saja," seru Sakura dengan aura hitam berhawa dingin yang menyelubunginya.
Entah untuk yang keberapa kalinya, Gaara kembali menghela napas, "Maafkan kelakuan mereka Iruka-san."
Iruka tersenyum, "Ah tak apa... Kalian lucu."
"Jadi apa yang ingin anda sampaikan?" tanya Gaara to-the-point.
Wajah Iruka menjadi serius, "Aku dari kepolisian Iwa... Kurasa kalian tahu apa yang membuatku datang kemari."
Kelimanya tertegun dan entah sejak kapan Iruka melupakan bahasa formalnya.
"Masalah jaringan itu? Kami sungguh minta maaf atas kelancangan kami itu," ujar Gaara yang merasa bertanggung jawab sepenuhnya atas kejadian itu. Dia pun hanya dapat mengira-ngira apa yang akan di katakan seorang polisi di depannya ini. Gaara kembali menghela napas, dia sudah rela apabila dirinya harus mendekam di dalam penjara. Tapi tak mungkin Shika membiarkan hal sejahat itu terjadi padanya, kan?
"Ya, kalian membuat kantor kami seperti terjadi gempa bumi," canda Iruka, namun membuat Gaara tambah merasa bersalah.
Sasuke menyeringai melihat ekspresi Gaara, Neji dan Sakura terkekeh pelan, sedangkan Naruto sudah tak bisa lagi menahan tawanya. Gaara dengan seketika memberi deathglare paling ampuhnya pada keempat anak buahnya yang kurang ajar itu.
"Semua menjadi panik karena tiba-tiba akses jaringan terputus dan alarm darurat yang dinyalakan makin memperburuk keadaan. Anehnya kenapa semua bisa sepanik itu. Seharusnya para polisi menjaga emosinya dan dapat tenang. Yah seperti terjadi gempa bumi dan kebakaran kubilang," ujar Iruka tenang yang tak menyadari Gaara semakin memucat.
Gaara berdehem karena anak buahnya kembali berisik dengan tawa mereka.
"Tapi masalah itu sudah diatasi dengan baik oleh Shikamaru, dia bilang kalau dialah yang memutus akses jaringan itu untuk perbaikan. Semua langsung percaya, ya mengingat dia yang menjadi kepala kepolisian Jepang. Dan kemudian dia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan menyuruhku datang kesini menemui kalian."
Tampak kelegaan pada wajah Gaara. Ya, memang tak mungkin Shika membiarkannya mendekam di dalam penjara kan.
"Apa Shika datang ke kantor kepolisian kalian?" tanya Sakura yang membuat Iruka mengangguk.
"Ya dia memang datang."
"Haaah, bisa-bisanya dia datang ke Iwa tapi tidak menemui kita," gerutu Sakura.
Iruka mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang dibawanya. Sebuah amplop map coklat diberikan kepada Gaara.
"Shikamaru menyuruhku untuk memberikannya pada kalian."
Gaara membuka amplop tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar kertas. Dibolak balik kertas itu hingga menghadirkan senyum dalam wajahnya, "Terimakasih, Iruka-san."
Iruka menganggukkan kepalanya, Gaara memberikan amplop itu pada Sakura yang ada di sebelahnya.
"Ahaha..." Sakura berteriak senang setelah melihat isinya.
"Kupikir kalian tidak mendukung penyelidikan kami."
Sasuke dan Neji pun langsung mengetahui apa isi dari amplop coklat tersebut dari kata-kata yang Gaara ucapkan barusan.
"Sebenarnya... Data itu diambil oleh Shikamaru secara diam-diam."
"Diam-diam?" tanya Neji yang mengerutkan dahinya, "Kenapa harus diam-diam? Bukankah dia bisa dengan mudah memintanya?"
"Tidak... Tidak semudah itu."
Kelimanya tertegun.
"Aku tahu pembicaraan ini mengarah kemana... Sebaiknya kita cari tempat yang aman.," ujar Gaara.
"Bagaimana kalau dikamar saja?" Naruto mengusulkan yang ditanggapi dengan gelengan kepala dari Sakura.
"Tidak enak membawa orang lain masuk ke kemar yang bukan kamar kita... Sebaiknya tempat lain saja..." kata Sakura.
.
.
Dan disinilah mereka berada. Duduk diperbukitan dengan beralaskan rumput hijau.
"Ahh, disini lebih nyaman dan menyegarkan..." kata Naruto yang menikmati setiap terpaan angin diwajahnya.
Gaara tersenyum tipis saat menangkap basah Sasuke tengah memandangi Naruto dengan tatapan yang...
"Ehem..." sebuah suara yang keluar dari mulut Gaara membuat semuanya kembali fokus.
"Jadi sebenarnya ada apa Iruka-san?" tanya Neji yang sudah tak sabar.
"Kalian pasti tahu ada sesuatu yang salah dari kepolisian Iwa saat menangani kejadian yang sedang kalian selidiki ini."
Neji dan Sakura mengangguk.
"Jadi itu artinya, kau mau membenarkan dugaan kami?" tanya Sakura.
Dan kini giliran Iruka yang mengangguk, "Saat itu, aku salah satu polisi yang bertugas di bawah pimpinan Mizuki. Aku yakin kalian sudah tahu dia yang memimpin kasus ini."
"Hn."
"Dan aku yakin kalian menyadari kejanggalan yang terjadi, benar?"
"Jadi... Kepolisian Iwa... memang melakukan sesuatu di balik itu?"
"Tidak," Iruka menyanggah pertanyaan dari Sakura, "Bukan kepolisian Iwa, tapi... Mizuki."
"Ya, aku memang berpikir seperti itu," ujar Sasuke.
"Apa yang sebenarnya dia lakukan?" tanya Naruto
"Aku juga tidak tahu apa rencananya yang sebenarnya. Karena saat melakukan penyelidikan, dia terlihat sangat santai dan bisa kita anggap seperti tidak peduli. Aku saat itu memberi beberapa masukan mengenai kemungkinan terjadi pembunuhan dan tentang alibi dari penghuni rumah yang telah ku introgasi. Aku mencurigai beberapa orang disini yang memang tidak mempunyai alibi. Tapi Mizuki dengan santai bilang kalau ini hanya sebuah kecelakaan setelah hasil otopsi keluar dan kami hanya bisa mengikuti apa perintahnya. Aku benar-benar tak mengerti apa rencananya..."
"Sakura, apa di amplop itu ada hasil otopsinya?" tanya Gaara dan Sakura langsung membolak-balik lembaran dari dalam amplop dan menggeleng.
"Tidak."
"Kenapa Shika tidak mengambil hasil otopsinya?" gumam Gaara.
"Karena... Hasil otopsi itu dipegang oleh seorang dokter yang melakukannya."
"Dokter? Kabuto?"
Iruka mengangguk menanggapi pertanyaan Naruto.
"Ah ya... tadi kita tidak jadi membahas dokter itu..." gumam Sakura yang mendapat anggukan dari Naruto.
"Iruka-san, apa kau mengetahui hasil otopsi itu?" tanya Gaara.
Iruka menghela napas, "Sayang sekali... aku tidak tahu."
"Jadi sekarang kita harus mencurigai Mizuki ini?" tanya Naruto.
"Ya. Kita harus menyelidiki tentangnya juga," jawab Gaara yang tengah memikirkan sesuatu dalam otaknya.
"Haah.. Menyelidiki yang disini saja belum selesai. Kenapa harus bertambah lagi? Dan lebih parahnya kita harus menyelidiki seorang polisi? Benar-benar..." gerutu Neji yang terlihat frustasi.
Sakura menepuk-nepuk bahu Neji dengan senyuman dalam arti 'Ini sudah tugas kita Neji, terima saja, lakukan saja, pasrah saja... atau mati saja.'
"Ada yang ingin kau sampaikan lagi, Iruka-san?" tanya Gaara setelah selesai melihat 'acting' kedua rekannya itu.
"Ah ya, Shikamaru bilang padaku kalau sebaiknya kalian tidak 'menyentuh' Mizuki..."
Gaara, Sasuke, Neji, Sakura dan Naruto terdiam.
"Kenapa?" tanya Naruto mewakilkan pertanyaan yang ada di benak mereka.
"Aku tidak tahu alasannya apa, tapi dia hanya bilang kalau dialah yang akan mengurusi hal tersebut."
Senyum mengembang di wajah Sakura dan Neji.
"Yah, itulah Shika... Dia memang baik hati walau terkadang sangat menyebalkan," kata Sakura, "Atau jangan-jangan dia minta jatah saat kita telah berhasil mengungkap kasus ini nanti? Hah! Tak akan kubiarkan itu."
"Sudahlah, Sakura..." Kini giliran Neji yang menepuk bahu Sakura.
"Em Iruka-san... aku mau tanya..." setelah mendapat anggukan dari Iruka, Naruto melanjutkan... "Sebenarnya, bagaimana hubunganmu dengan Shika-nii? Kelihatannya kalian cukup dekat."
Iruka tertawa, "Sebenarnya dia itu kohaiku saat kuliah di Konoha University jurusan hukum dan keadilan. Kami bertiga sangat terobsesi ingin menjadi polisi."
"Bertiga?" tanya Sasuke menginterupsi.
"Ya, dengan Mizuki..."
"Mizuki?"
"Mizuki teman sekelasku. Kami bertiga sangat dekat. Dan Shikamaru dengan kepintarannya berhasil mengungguli kami yang merupakan senpainya ini."
"Mungkin karena itu Shika ingin mangatasinya sendiri," gumam Neji.
.
.
.
Pertemuan dengan seorang polisi bernama Iruka telah selesai, dan kini Gaara memberikan waktu istirahat pada anak buahnya selama beberapa jam.
Gaara bersandar pada jendelanya dan memperhatikan setiap rumput juga daun-daun yang bergoyang diterpa angin. Matanya melirik sekilas pada Sasuke yang datang menghampirinya.
Setelah Sasuke berada tetap disampingnya, Gaara menatap pemuda itu.
"Sasuke, aku punya tugas baru untukmu..."
"Hn?"
"Kau jagalah Naruto baik-baik. Aku jadi merasa bersalah telah memberikan tugas seperti itu padanya..."
"Tanpa kau suruh pun aku akan melakukannya."
"Aku merasa keadaan selanjutnya tak akan sama seperti hari-hari sebelumnya. Kita tidak bisa santai lagi, Sasuke. Kita harus segera mencari pelakunya sebelum terjadi sesuatu."
"Jangan bicara yang tidak-tidak."
"Aku merasa akan terjadi sesuatu dan akan menambah masalah kita."
"Ck, sudah kubilang ja..."
"Jaga Naruto baik-baik! Kalau terjadi apa-apa padanya aku akan menyalahkanmu!"
Gaara melangkah pergi meniggalkan Sasuke yang masih menatapnya. Sasuke melihat sesuatu di kakinya, sebuah gumpalan kertas dan Sasuke pun membukanya. Sebuah sobekan kertas kosong. Kini pemuda raven itu mengangkat kertas tersebut dan mengarahkannya pada cahaya matahari hingga tampaklah sebuah kalimat mencekam disana.
'Fuma Arashi... Aku... akan... membunuhmu!'
.
.
.
TBC...
.
Yak, begitulah... Bagi yang penasaran, Sierra minta maaf karena akan semakin membuat kalian lebih penasaran lagi... Hihihi #plak
.
Oya, ada yang suka Super Junior?
Sierra berencana mau bikin fanfic suju, karena belakangan ini memang lagi suka baca-baca fanfic tentang mereka... Tapi cuma rencana lho.. belum tentu jadi.
Ada yang mau request pairing di suju?
Kalo Sierra sih mau bikin KyuWook... hihihi...
.
Dan yah terimakasih untuk yang sudah menunggu apdetnya fanfic ini, terimakasih untuk yang sudah membaca dan lebih-lebih terimakasih untuk yang mereview.
