Disclaimer Masashi Kishimoto

Story by Minazuki Miharu

Warning :

AU, OOC, Typo's, Gaje, Alur gak jelas, Bahasa Kaku.

Don't Like, Don't Read

No Flame!

.

.

.

.

.

.

.

Cavalier

.

.

.

Happy Reading.

.

.

.

Amegakure

.

.

.

"Dia Senju Sakura, bukan?"

Mendengar pertanyaan itu sontak saja Sasori, Gaara, Kankuro dan Temari mengalihkan perhatian mereka ke arah sumber suara tersebut. Lalu betapa terkejutnya mereka saat melihat siapa yang berdiri di hadapan mereka.

"Gadis itu, dia Senju Sakura 'kan?" ulangnya sekali lagi.

Hening cukup lama.

Tak ada jawaban dari Trio Sabaku serta Sasori. Mereka berempat sibuk menelisik seseorang yang berada didepan mereka saat ini dengan berbagai macam pertanyaan menari-nari dipikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya Gaara yang terlebih dahulu memutuskan untuk bersuara.

"Benar. Lalu siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau bisa tahu siapa Sakura yang sebenarnya?" jawab dan tanya Gaara sambil menatap tajam pemuda yang berdiri di depan mereka.

"Jika yang kau maksud adalah nama, kurasa kalian tidak mungkin lupa siapa namaku." ujar pemuda itu tenang.

"Kau tahu bukan itu maksud kami, Uchiha Sasuke." sahut Gaara dengan nada tidak suka sambil menekankan pada kata-kata Uchiha.

"Siapa aku, tidak ada hubungannya dengan kalian." balas Sasuke masih dengan sikap tenangnya.

"Kau-"

"Tunggu," tiba-tiba Temari berteriak, menginterupsi kata-kata Gaara. "Aku ingat sesuatu." lanjut Temari sambil memandang Sasuke dari atas ke bawah lalu keatas lagi kebawah lagi sampai berulang kali hingga Ia tampak yakin.

Gaara, Sasori dan Kankuro menatap Temari dan menunggu kalimat gadis itu berikutnya. Rasa penasaran terpancar jelas dimata ketiganya.

"Benar, tidak salah lagi." Temari mengangguk mantap.

"Apanya yang tidak salah lagi?" tanya Kankuro pada Temari.

"Sejak awal aku memang merasa tidak asing lagi dengannya," Temari masih memandangi Sasuke, sedangkan Sasuke hanya diam dengan raut wajah datarnya. "Terlebih lagi saat dia memperkenalkan diri sebagai seorang Uchiha." lanjut Temari.

"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengannya?" tanya Kankuro penasaran.

"Kalian ingat dengan perjodohan yang sempat ingin dilakukan oleh Tsunade-sama dan pemimpin Holy Mage waktu itu?" tanya Temari kepada kedua saudara dan sepupunya tersebut.

"Tentu saja." jawab Kankuro enteng dengan satu alis terangkat.

"Apa mungkin..." gumam Gaara tak yakin dengan kemungkinan yang terlintas di kepalanya. Sedangkan Sasori tampak mendengus kasar saat menyadari kemana arah pembicaraan mereka ini.

"Benar, Gaara. Dia adalah Uchiha yang dijodohkan dengan Sakura. Aku ingat pernah bertemu dengannya saat pertemuan para Sannin dan Kage." terang Temari.

"Hah? Kau serius?" tanya Kankuro kaget.

Temari mengangguk. "Dia adalah putra bungsu dari Uchiha Fugaku, pemimpin pertama dari Holy Mage."

Hening kembali melanda mereka untuk beberapa saat. Jelas sekali keterkagetan terpancar dari mata mereka.

"Lalu kenapa kau baru mengatakannya sekarang?!" tanya Kankuro pada Temari dengan sedikit kesal.

"Mau bagaimana lagi?! Aku juga baru mengingatnya sekarang. Lagi pula itu sudah setahun yang lalu dan aku hanya melihatnya sekali. Wajar saja 'kan kalau aku lupa." ujar Temari membela diri.

Sementara Kankuro dan Temari terlibat adu mulut, Gaara sedikit melirik ke arah Sasori yang sedari tadi diam saja. Tepatnya kearah tangan Sasori yang terkepal erat, namun raut wajahnya masih tetap tenang.

"Jadi kau adalah putra bungsu dari Uchiha Fugaku? Uchiha Sasuke yang dijodohkan dengan Senju Sakura?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Gaara ketika Ia beralih menatap Sasuke.

"Hn." jawab Sasuke disertai anggukan singkat.

"Lalu, apa maumu sekarang?" lanjut Gaara.

"Aku hanya ingin memastikan. Apakah-"

"Dia adalah Haruno Sakura. Senju Sakura hanyalah sebagian kecil dari masa lalunya, termasuk dirimu dan perjodohan bodohmu itu." potong Sasori tiba-tiba.

Mendengar kata-kata barusan membuat mata Sasuke berkilat marah, hampir saja dia mengeluarkan Sharingan-nya dan mengirim bocah berkepala merah itu kedalam dunia ilusi yang sangat menyakitkan. Ia paling tidak suka jika ada yang memotong kalimatnya apalagi sampai mempermalukannya seperti tadi. Untungnya Sasuke memiliki pengendalian diri yang baik, sehingga Ia tidak gegabah dalam mengambil tindakan seperti yang terlintas dipikirannya barusan.

Sasori pun menatap balik Sasuke tajam, seolah tak mau kalah dengan tatapan penuh intimidasi yang dilayangkan Sasuke padanya. Instingnya memang benar, bocah Uchiha ini benar-benar akan memberikan masalah padanya. Bahkan berkaitan dengan Sakura.

Untungnya perang tatapan dingin tersebut tidak berlangsung lama. Setelah Sasuke mendecih pelan, Ia kemudian memutuskan kontak matanya dengan Sasori dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun, menurutnya berurusan dengan Sasori hanyalah membuang-buang waktu dan tenaganya saja.

"Apa-apaan dia itu? Seenaknya saja." celetuk Temari setelah Sasuke berlalu.

Gaara hanya terdiam menatap kepergian Sasuke, sedangkan Kankuro hanya mengedikkan bahunya acuh. Kankuro pun beranjak dari tempat duduknya dan pindah tepat kesamping Sasori. Dengan senyuman aneh yang terkembang diwajahnya, tiba-tiba Kankuro merangkul bahu Sasori.

"Wah, aku tidak pernah melihatmu bersikap seperti itu sebelumnya, Sasori. Biar kutebak, kau cemburu yaa~" ujar Kankuro dengan suara menggoda dan senyuman jahil. Beberapa kali Kankuro mencolek dagu Sasori dengan tatapan menggoda.

"Ayo mengaku saja hahahaha." tawa Kankuro pun lepas setelah merasa berhasil menggoda Sasori. Ia sangat puas melihat wajah Sasori yang sudah memerah bak kepiting rebus.

Sasori pun mendengus sebal sambil memalingkan wajahnya ke arah lain asalkan jangan ke arah Kankuro. Sasori pun melepaskan rangkulan Kankuro dengan kasar.

"Urusai!"

"HAHAHAHA~" tawa Kankuro membahana. Bagus sekali, kali ini tidak hanya Kankuro tapi Gaara juga ikut-ikutan tersenyum tipis dan Temari tampak terkikik pelan.

Sasori tidak tahu sudah semerah apa wajahnya sekarang, yang pasti Ia merasa bahwa wajahnya benar-benar –sangat- panas.

"Sudah, sudah, hentikan, jangan ganggu dia lagi," ujar Temari sambil tersenyum tipis. Ia tidak tega melihat Sasori terus-terusan digoda seperti itu. Mau jadi semerah apa lagi wajahnya itu?

"Lebih baik kita melihat keadaan Shion. Sepertinya dia sedikit terguncang." usul Temari yang mau tidak mau langsung disetujui kedua saudara laki-lakinya.

"Dasar Deidara-baka, bisa-bisanya dia tertawa kencang seperti itu saat adiknya ketakutan setengah mati." Kankuro hanya geleng-geleng kepala saat menyaksikan Deidara tertawa riang karena puas menggoda Kisame habis-habisan. Sesekali Kankuro juga tampak masih tersenyum jahil kepada Sasori dan mencoba menggodanya.

"Baiklah Sasori, kau disini saja dan jaga Sakura sampai dia sadar. Jika terjadi sesuatu pada sahabatku, maka kau berada dalam masalah yang cukup serius. Ingat jangan melakukan hal-hal aneh." ancam Gaara dengan seringai menyebalkan miliknya itu. Sedangkan Sasori sudah mengambil ancang-ancang untuk melayangkan geta kesayangannya pada kepala merah menyebalkan itu.

.

.

.

Silau.

Itu adalah kesan pertama saat Sakura perlahan-lahan membuka kedua matanya. Ia lalu menggerejab beberapa kali untuk menyesuaikan matanya dengan keadaan sekitar. Lalu ia pun bangkit dari posisi tidurnya dan segera duduk. Kepalanya terasa sakit, rasanya seperti membentur sesuatu yang sangat keras. Untungnya ia masih bisa menggunakan sihir medis-nya untuk menghilangkan rasa sakit itu. Jika tidak, Sakura tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.

Saat ia merasa keadaannya mulai membaik, Sakura pun mengamati lingkungan sekitarnya untuk memastikan di manakah ia berada sekarang. Saat itulah ia terkejut dan mengernyit bingung. Seingatnya dia sedang berada di medan perang, tapi kenapa sekarang ia malah ada di tempat seperti ini?

Cepat-cepat ia berdiri untuk memastikan bahwa matanya tidak salah dalam mengenali tempat. Saat ini ia sedang berdiri disebuah padang rumput yang sangat luas. Tapi anehnya, rumput di padang rumput itu bukanlah berwarna hijau melainkan berwarna coklat dan layu. Tampak seperti kekeringan.

'Di mana aku...'

Sakura melangkahkan kakinya, berniat mencari tahu tempat macam apa yang sedang diinjaknya ini. Tapi baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba siluet seorang laki-laki yang tampak lebih tua beberapa tahun dari Sakura muncul begitu saja di hadapannya.

Sakura membulatkan matanya tak percaya saat pandangan matanya bersibobrok langsung dengan pandangan sosok itu.

'Tidak mungkin...'

Sakura mengenali sosok itu, bahkan sangat sangat mengenalinya. Tanpa ba bi bu lagi, segera saja Sakura berlari menerjang ke arah anak laki-laki itu.

'Tidak mungkin, dia...'

Hal ini sangat tidak masuk akal, bagaimana bisa dia bisa bertemu dengan orang itu di sini? Namun, Sakura tidak peduli. Dia tak peduli seberapa tidak masuk akalnya hal ini, yang terpenting baginya sekarang ini adalah ia dapat bertemu lagi dengan sosok itu. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Sakura terus berlari, mencoba menggapai sosok tersebut dan dengan segera memeluknya dengan erat. Tapi entah mengapa, Sakura seakan tidak dapat menggapai sosok itu, seolah-olah jarak yang memisahkan mereka sangatlah jauh. Padahal jarak mereka sekarang ini kurang dari sepuluh meter.

'Apa ini? Kenapa aku tidak bisa menggapainya?'

Air mata mulai menggenang menutupi manik emerald miliknya. Dengan sekuat tenaga ia terus berlari menuju sosok itu. Sosok berambut orange jabrik yang sangat disayanginya.

'Kenapa? Kenapa?'

Sakura mengulurkan tangannya mencoba untuk meraih anak laki-laki itu. Setidaknya ia ingin memeluknya satu kali lagi. Tapi sepertinya Sakura harus menelan kembali keinginannya itu bulat-bulat, karena sekarang sosok itu mulai bergerak menjauh.

'Tidak...'

Sakura mulai panik. Tidak. Sosok itu tidak boleh pergi. Tidak boleh meninggalkannya seorang diri lagi. Tidak untuk kali ini.

Lalu sosok itu tersenyum hangat ke arah Sakura. Senyuman yang sudah sangat lama tidak Sakura dapatkan, senyuman yang sangat dirindukan Sakura. Membuat airmata yang sejak tadi ditahannya mengalir begitu saja tanpa seizinnya.

"Nii-san..." lirih Sakura. Suaranya terdengar serak akibat tenggorokannya yang tercekat.

Sekarang jelaslah sudah siapa sosok yang membuat Sakura begitu rapuh. Dia adalah sang kakak tercinta. Senju Nawaki yang amat sangat disayanginya. Satu-satunya sandara yang Sakura miliki sejak kematian sang ayah. Namun hal itu tak bertahan lama karena tak lama setelah kematian sang ayah, Senju Dan, sang kakak pun menyusul sang ayah meninggalkannya dan ibunya sendiri.

"Aku ingin ikut denganmu, nii-san. Kumohon jangan tinggalkan aku..." pinta Sakura penuh harap. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia terus berlari menuju sang kakak.

Sosok itu menggeleng, dengan senyuman kepedihan yang terpampang jelas di wajahnya.

Lalu tiba-tiba saja Sakura terjatuh. Sepertinya ia tersandung sesuatu dan ia merasa kakinya sudah cukup lelah. Lutut dan sikunya terasa perih, mungkin ada sedikit lecet di sana.

"Belum saatnya Sakura-chan." sosok itu berhenti bergerak. "Kau harus menyelamatkan Kaa-san, memiliki kekasih, menikah, memiliki anak dan masih banyak lagi hal yang harus kau lakukan." ujar sosok itu dengan bijak.

"Tapi nii-san..."

Sakura berusaha bangkit, menahan rasa nyeri yang menyerang lutut dan pergelangan kakinya. Tapi tiba-tiba saja ada sesuatu yang menahannya untuk bangkit. Sakura pun melihat ke arah kedua kakinya, dan menemukan sumber dari sesuatu yang menghalanginya.

Ternyata kedua kakinya terlilit oleh tanaman rambat yang mengingatnya dengan sangat kuat.

"Pergilah, Imotou. Mereka membutuhkanmu." lagi-lagi sosok itu tersenyum. Namun kali ini berupa senyuman tulus yang penuh dengan kasih sayang.

"Tapi nii-san aku-" Kata-kata Sakura terhenti ketika tubuhnya ditarik oleh tanaman merambat yang tadi melilit kakinya. Sakura membelalakkan matanya. Entah sejak kapan, tumbuhan itu sudah melilit sampai ke pinggangnya.

"Apa ini? Nii-san, tolong aku!"

Sakura meronta-ronta dan mencoba melepaskan diri. Tapi tanaman itu terus menariknya menjauhi sang kakak.

"Nii-san! Nawaki nii-san!"

Sakura mengulurkan tangannya meminta bantuan sang kakak. Lalu mencengkram apa saja yang ada di dekatnya agar tubuhnya berhenti tertarik. Namun Nawaki tetap tidak bergeming. Ia hanya menatap adik kesayangannya itu dengan tatapan sendu.

"Pergilah, Sakura-chan." lirih Nawaki.

"Tidaaaaaak!"

.

.

.

Sasori menatap Sakura dengan tatapan khawatir. Tampaknya gadis itu tengah mengalami mimpi buruk. Peluh tampak mengucur dari dahinya, Sakura pun bergerak-gerak gelisah dan samar-samar Sasori mendengar Sakura sedikit meracau.

Sasori mengelus pelan pucuk kepala Sakura dengan sayang, seolah-olah hal tersebut dapat membuang mimpi buruk yang sedang dialami Sakura.

"Sakura, tenanglah." bisik Sasori, satu tangannya yang bebas menggenggam tangan Sakura dengan erat. "Aku disini, aku akan melindungi. Takkan kubiarkan kau sendirian lagi, Sakura." sambung Sasori sambil menatap Sakura dalam.

Sasori telah memantapkan tekadnya. Ia tidak akan membiarkan Sakura pergi lagi, tidak akan. Selama ini Sasori selalu menunggu Sakura kembali padanya, tapi hari itu tak kunjung tiba. Bahkan setelah bertahun-tahun menunggu, Sakura tak kunjung datang.

Namun kali ini gadis itu sudah berada didepan matanya. Ia tidak akan melepaskannya lagi. Sasori tidak peduli jika gadis itu benar-benar sudah berubah sekarang, bahkan sampai tidak mengenalinya. Ia akan mengembalikan Sakura-nya menjadi Sakura yang dulu. Sakura yang hangat dan manis, gadis yang ceria dan selalu bersikap ramah kepada orang-orang disekitarnya. Ia akan membuat gadis itu mengingat kembali tentang keberadaannya.

Tapi, hal yang menjadi prioritas Sasori saat ini adalah melindungi Sakura. Ia akan melindungi gadis itu walaupun harus mempertaruhkan nyawanya sampai perang ini berakhir, bahkan sampai maut memisahkan mereka berdua.

Sakura kembali meracau. Nafasnya mulai tersengal-sengal. Ia menyebut-nyebut nama kakaknya, membuat Sasori semakin khawatir.

"Sakura... tenanglah Sakura. Semuanya akan baik-baik saja, semuanya akan baik-baik saja."

Sasori masih setia mengelus kepala Sakura sambil mengulangi kata-kata yang sama, berusaha menenangkan Sakura walaupun Ia sendiri tidak yakin Sakura bisa mendengar suaranya atau tidak.

Tiba-tiba Sakura membuka matanya lebar-lebar, membuat Sasori refleks menegakkan tubuhnya dan melepaskan genggaman tangannya pada tangan Sakura. Mata Sakura bergerak liar, ia melotot ngeri. Nafasnya tersengal-sengal dan tubuhnya dipenuhi oleh keringat.

'Ternyata hanya mimpi.' batin Sakura.

"Kau bermimpi buruk?" tanya Sasori tanpa bisa menutupi kecemasannya.

Sakura menolehkan kepalanya ke samping dan mendapati seorang pemuda berambut merah tengah duduk sambil memandang khawatir padanya.

Sakura tidak menjawab. Ia masih harus mengumpulkan seluruh nyawanya secara pelan-pelan, menenangkan diri, dan menstabilkan deru nafasnya. Setelah itu, Sakura pun bangkit untuk duduk. Matanya terpejam erat, mencoba menenangkan pikirannya.

"Hn."

"Apa tentang Nawaki?" tanya Sasori hati-hati.

Pertanyaan Sasori barusan membuat Sakura langsung membuka matanya dan menoleh kearah pemuda berambut merah itu.

"Kau mengenal kakakku?" tanya Sakura sambil menatap Sasori tajam.

"Ti-tidak, aku hanya menebaknya karena tadi kau mengigau." jawab Sasori sekenanya, lalu tersenyum kikuk untuk menutupi kegugupannya. Sial! aku keceplosan, hampir saja.

Entah mengapa Sasori jadi berpura-pura tidak mengenal Sakura begini. Bukankah seharusnya Ia berkata sejujurnya saja pada Sakura? Entahlah, Ia juga tak tahu ada apa dengan dirinya.

Sakura mendengus pelan.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sasori lagi.

"Bohong kalau kukatakan aku baik-baik saja." jawab Sakura sambil menatap kedepan, pandangan matanya tampak kosong.

"Hhh... Setidaknya aku merasa lebih baik melihatmu sudah sadar." gumam Sasori sambil menghela napas pelan.

Alis Sakura bertautan mendengar pernyataan Sasori. Masih dengan raut wajah yang lelah, Sakura menoleh ke arah Sasori lalu memandangnya singkat.

"Apa? Aku hanya tidak mau perjalanan kita tertunda hanya karena salah satu di antara kita ada yang pingsan atau terluka."

Bagus. Sekarang Sasori ingin sekali mengutuk dirinya sendiri dan menjedukkan kepalanya karena sudah berkata sembarangan pada Sakura. Pasti sekarang Sakura akan berpikir yang iya-iya tentang dirinya.

"Tidak perlu khawatir. Jika kau mau, kita bisa melanjutkan perjalanan 'kesana' besok pagi." balas Sakura datar.

"Baguslah kalau begitu."

'Sial! Kenapa aku bicara seperti itu lagi!'

Sekali lagi Sasori mengutuk mulutnya yang kembali berbicara seenaknya. Oh, Kami-sama, kenapa dia bisa salah tingkah seperti ini!?

"Lalu bagaimana dengan Holy Mage?" tanya Sakura tiba-tiba.

"Kita berhasil memukul mereka mundur. Tapi seperti yang kau lihat, cukup banyak pihak kita yang terluka bahkan tewas." jawab Sasori

"..."

"Untungnya kita berhasil menyelamatkan beberapa penduduk desa. Setidaknya desa ini tidak benar-benar hancur."

"..."

"Sakura? Kau baik-baik saja?" tanya Sasori khawatir karena sejak tadi Sakura terlihat tidak mendengarkan ceritanya.

"Kau terluka." jawab Sakura datar. Pandangannya terarah pada perban penuh darah yang melilit di lengan kiri Sasori.

"Oh, ini." Sasori ikut-ikutan memandangi lengan kirinya. "Sepertinya terluka saat-"

"Mendekat kemari." potong Sakura tiba-tiba.

"...?" Sasori menatap gadis berambut pink itu dengan tatapan bingung. Apa maksudnya?

"Pendarahanmu belum berhenti sepenuhnya. Cepat kemari sebelum kau kehabisan darah." lanjut Sakura mencoba memberi penjelasan pada Sasori.

Sasori hanya ber'oh' ria sambil beringsut maju mendekati Sakura. Ia memposisikan diri sedemikian rupa agar Sakura bisa leluasa mengobati lukanya.

Awalnya Sasori berpikir Sakura hanya akan merapikan lilitan perbannya atau mengencangkan ikatannya, tapi ternyata dugaannya salah. Sakura tidak hanya merapikan perban milik Sasori saja, tapi ia juga menggunakan kemampuan medis-nya untuk mengobati luka Sasori.

"Kau seorang MedicMage?" tanya Sasori tak percaya.

"Hn."

Tak sampai lima menit luka Sasori pun berangsur membaik dan pendarahannya juga berhenti. Sasori pun beringsut menjauh sambil mengelus-elus lengannya.

"Terimakasih." gumam Sasori pelan dan hanya dibalas anggukan singkat dari Sakura.

"Anggap saja sebagai balas budi."

"Balas budi?" Sasori membeo.

"Karena kau telah menolongku." ucap Sakura datar. Jika saja pemuda itu tidak datang tepat waktu untuk menangkap tubuhnya sesaat sebelum Ia pingsan, bisa dipastikan tubuh Sakura akan menghantam tanah dengan sangat keras.

Sasori tersenyum, membuat Sakura tertegun memandang senyumannya itu. Sekali lagi, Sakura merasa ada yang aneh dengan dirinya. Tapi sebisa mungkin Ia berusaha mengabaikan perasaan tersebut.

Sakura menghela nafas pelan sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya kedepan, menatap lurus seolah menerawang sesuatu.

"Hmm, Sakura?" panggil Sasori.

"...ya?" jawab Sakura tanpa menoleh.

"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Sasori agak ragu. "Aku tidak bermaksud lancang tapi, aku tidak sengaja melihatnya sebelum kau jatuh tak sadarkan diri."

Sakura kembali menatap Sasori. "Apa?"

"Apa kau... menyegel sesuatu di tubuhmu, Sakura?"

Sakura terdiam sejenak sebelum akhirnya membuang muka –lagi. Kembali menatap lurus kedepan seolah tengah menerawang sesuatu. Sedangkan Sasori merasa tidak enak karena sepertinya Ia salah mengangkat topik pembicaraan.

"Maafkan aku, Sakura. Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Kau tidak perlu mengatakannya padaku jika kau tidak mau."

"Kalau begitu aku tidak akan mengatakannya." sahut Sakura cepat.

Hening beberapa saat.

"Apa kau marah padaku?" tanya Sasori memecah keheningan.

"Tidak." jawab Sakura pendek.

"Benarkah?"

"Hn."

"Yokatta, kukira kau akan marah padaku," ucap Sasori sambil menghela nafas lega. "Kau banyak berubah ya, Sakura. Aku bahkan tidak menyangka kau benar-benar menjadi MedicMage."

Sontak saja kalimat Sasori barusan membuat Sakura menoleh –lagi- dan menatap Sasori tajam dan penuh selidik. Sasori pun merutuki kebodohannya yang tanpa sengaja bicara seenaknya lagi. Sebenarnya ada apa dengannya saat ini?

"Kau bicara seolah-olah kau mengenalku dengan baik."

"Apa? Aku? Ahahaha," Sasori tertawa canggung, membuat Sakura semakin menatapnya intens. "Umm...aku tidak yakin, hahaha."

Sakura menghela nafas pelan, tampaknya Sasori menyembunyikan sesuatu darinya, tapi Ia tidak mungkin memaksa Sasori untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Mengingat Ia juga tidak memberitahu Sasori mengenai rahasia segelnya tadi. Tapi Sakura semakin merasa curiga pada Sasori. Pertama soal kakaknya Nawaki, lalu sekarang tentang kebiasaan marah-marahnya yang sudah terkubur lama dan tentang statusnya sebagai MedicMage. Apa mungkin Sasori sebenarnya mengenalnya?

Sakura menghela nafasnya lagi. Tampaknya hari ini Ia terlalu sering melakukan hal tersebut.

"Baiklah." sahut Sakura. "Apa kau bisa tinggalkan aku sendiri sekarang?"

Kaget, Sasori memandang Sakura dengan tatapan bingung, "Hah? Tapi Sakura-"

"Aku lelah, Sasori. Aku ingin istirahat."

Sasori terdiam sejenak sambil menatap manik kehijauan didepannya, Ia pun menghela nafas dan menggangguk pelan. "Baiklah."

Sasori pun beranjak dari duduknya, "Kau bisa memanggilku jika membutuhkan sesuatu, Sakura." lalu Ia pun bergabung bersama Gaara dan yang lainnya, memberikan ruang bagi Sakura untuk mengistirahatkan diri.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata sekelam malam tampak mengawasi mereka dari kejauhan tanpa melewatkan satu hal kecil pun.

.

.

Sakura kembali berbaring. Menatap langit malam yang dihiasi taburan bintang. Sakura mengingat kembali mimpi yang dialaminya saat pingsan tadi.

'Nii-san...'

Sosok kakak yang amat sangat disayanginya kembali menari-nari memenuhi pikirannya. Rambut orange jabrik serta tawanya yang renyah, selalu berhasil mengingatkan Sakura tentang kenangan masa kecil mereka.

Saat itu mereka masih sangat kecil. Mereka sering sekali bepergian ke Sunagakure sambil menunggangi Alba, naga elemental milik Nawaki. Keluarga kecil Haruno memang berasal dari Desa Sunagakure sebelum ibu mereka, Senju Tsunade menikah dengan Senju Dan. Setelah menikah dan menyandang nama Senju, ibu mereka pun pindah ke Desa Konohagakure mengikuti ayah mereka.

Setiap bulannya mereka selalu mengunjungi kakek dan nenek mereka di Sunagakure dikarenakan orangtua mereka yang sangat sibuk. Namun Sakura sama sekali tidak keberatan. Ia suka berada di Sunagakure. Kakek dan neneknya sangat menyayangi mereka berdua dan disana mereka memiliki banyak teman.

Ya, Sakura samar-samar kembali mengingatnya. Gaara adalah teman pertama Sakura dan Nawaki di Sunagakure. Setelahnya mereka pun berkenalan dengan kakak perempuan Gaara yaitu Temari. Lalu lama-kelamaan teman mereka pun semakin bertambah karena memang dua kakak-beradik Senju tersebut dikenal sangat ramah dan bersahabat.

'Kankuro, Pakura, dan seorang gadis manis berambut coklat, siapa ya namanya, ah iya... namanya Matsuri.' kenang Sakura, kemudian Ia pun kembali mencoba mengingat wajah teman-temannya.

'Matsuri, lalu... oh, iya, ada seorang lagi, namanya...'

Sakura mengernyitkan keningnya. Entah mengapa Sakura merasa agak sulit mengingat temannya yang satu ini. Bahkan Sakura tidak yakin temannya yang satu ini laki-laki atau perempuan.

'Namanya...'

"Akhh!"

Tiba-tiba kepala Sakura berdenyut sakit, seolah-olah ada sesuatu yang menghantam belakang kepalanya dengan sangat kuat. Sakura refleks langsung bangkit terduduk sambil memejamkan kedua matanya menahan sakit. Keringat dingin meluncur bebas dari dahi dan lehernya. Tangannya pun menggepal erat dikedua sisi tubuhnya, berharap rasa sakit itu akan sedikit berkurang dengan tindakannya tersebut.

'Kankuro, Pakura, Matsuri, lalu...'

'Lalu... sial! Kepalaku sakit sekali!'

Satu tangannya pun akhirnya terangkat. Sakura menekankan telapak tangannya pada dahinya yang sudah banjir keringat. Satu tangan lainnya semakin menggepal erat sampai buku-buku jarinya memutih. Nafasnya pun mulai tersengal-sengal.

'Siapa? Siapa anak itu? Aku hampir- Arggg! Kepalaku...'

"Kau baik-baik saja?"

Suara baritone yang terdengar asing tiba-tiba menyeruak masuk ke indera pendengaran Sakura.

"Haruno-san? Kau mendengarku? Apa kau baik-baik saja?"

Suara itu kembali terdengar. Suara asing yang Sakura yakini bahwa pemiliknya adalah seorang laki-laki, dan terdengar sangat khawatir.

Sakura sedikit melirik lewat ekor matanya. Tampak seorang laki-laki berambut raven tengah berjongkok disampingnya. Onyx sekelam malamnya bersibobrok dengan emerald Sakura, jelas sekali Onyx itu menatapnya dengan tatapan khawatir.

"Haruno-san?"

Lelaki itu kembali menyuarakan nama Sakura karena tak kunjung mendapat jawaban.

Sakura mencoba meringankan rasa sakit tersebut dengan kemampuan medis yang dimilikinya. Dalam urusan penyembuhan diri, Sakura tidak perlu meragukan kemampuannya sendiri. Rasa sakit yang menyerang kepala Sakura pun berangsur-angsur mulai menghilang.

Sakura mencoba mengatur nafasnya agar lebih teratur, walaupun pada kenyataannya rasa sakit itu masih sedikit terasa dan membuat konsentrasinya sedikit buyar.

"Aku baik-baik saja, Uchiha-san." akhirnya Sakura menyahut dengan suara yang sedikit bergetar.

Sasuke pun menyodorkan sebotol air minum yang memang sengaja dibawanya ketika melihat Sakura yang tampak kesakitan dengan nafas terputus-putus.

Segera saja Sakura menyambar botol tersebut dan menenggak habis seluruh cairan yang berada didalamnya dengan terburu-buru. Tampak beberapa kali air minum tersebut merembes keluar dari mulut Sakura.

"Pelan-pelan." tegur Sasuke.

Tapi nampaknya Sakura tidak mempedulikan kata-kata Sasuke barusan. Setelah menenggak habis seluruh cairan tersebut, Sakura menyeka jejak-jejak air minum yang tadi merembes keluar dan meletakkan botol minum tersebut disamping Sasuke. Lalu membuang muka dan menatap lurus kedepan seolah tengah menerawang sesuatu.

Melihat Sakura yang tampaknya tidak berniat untuk membuka percakapan diantara mereka, akhirnya Sasuke pun menghela nafasnya pelan dan mendudukkan dirinya senyaman mungkin.

"Sakura, aku-"

"Jaga sopan santunmu, Uchiha-san," Sakura yang awalnya menatap lurus kedepan mau tidak mau langsung menoleh kearah Sasuke sambil menatapnya tajam. "Kita bahkan tidak pernah bicara sebelumnya."

Sopan santun? Tentu saja itu hanyalah alasan. Sakura sebenarnya tidak pernah mempermasalahkan bagaimana orang-orang memandangnya ataupun bagaimana orang-orang memanggilnya. Tapi entah mengapa saat mendengar pemuda tersebut memanggil nama kecilnya, Sakura merasa tidak suka.

"Kau... tidak mengenalku?" tanya Sasuke ragu.

"Haruskah aku mengenalmu, Uchiha?" Sakura menatap Sasuke datar. Nampaknya Ia sudah mulai merasa lebih baik sekarang.

"Berhentilah berpura-pura, Senju." desis Sasuke tajam.

Sasuke ingin memastikan. Ya, Ia hanya ingin memastikan dengan mata dan kepalanya sendiri, bahwa Sakura yang ada dihadapannya ini adalah Senju Sakura yang dulu dijodohkan dengannya.

Lalu tanpa Sasuke duga suara tawa itu pun keluar begitu saja, terdengar hanya diantara mereka berdua.

Tawa ganjil yang sangat aneh. Tawa pertama yang pernah Ia keluarkan setelah satu tahun menyegel emosinya. Suara tawa Sakura.

"Sudah lama sekali seseorang tidak memanggilku dengan nama itu," Sakura menghentikan tawanya lalu menatap Sasuke sinis, "Dan dengan nada yang seperti itu."

Sasuke terdiam. Menunggu kalimat selanjutnya yang siap meluncur dari gadis musim semi tersebut.

Sakura mengeratkan yukatanya saat angin malam tiba-tiba menerpa tubuh mereka. Helaian merah mudanya pun tampak sedikit berkibar. Jika dilihat dari jauh, keduanya tampak sedang menikmati nuansa manis yang tercipta diantara mereka. Setidaknya itulah yang dipikirkan Sasori setelah sejak tadi memperhatikan interaksi diantara keduanya.

Tak ada satu hal pun yang luput dari mata hazelnya, termasuk adegan dimana Sakura terlihat tertawa lepas dan tampak bahagia ketika bersama Sasuke. Sakura bahkan tidak pernah tersenyum kepada mereka, tapi ketika bersama dengan pemuda Uchiha itu Sakura malah...

"Sial!" umpat Sasori sepelan mungkin. Wajahnya sudah semerah rambutnya karena menahan emosi. Sasori tampak begitu kesal dan langsung membuang muka.

Gaara yang tanpa sengaja mendengar makian Sasori hanya menyeringai, terlebih setelah mengetahui hal apa yang membuat sepupunya itu terlihat begitu kesal.

Cemburu. Ya, wajar saja jika kau merasa cemburu jika melihat orang yang kau sukai terlihat begitu bahagia ketika bersama orang lain, bukan?

.

.

"Aku tidak akan mengulangi pertanyaanku." ujar Sasuke tenang.

"Tentu saja itu tak perlu, Uchiha," balas Sakura datar. "Pendengaranku masih berfungsi dengan cukup baik." Sakura memberi jeda sebentar sebelum Ia melanjutkan. "Aku memang pernah mendengar namamu, tapi aku tak pernah mengenalmu."

Sasuke tampak kaget, namun detik berikutnya Ia dapat menguasai emosinya kembali.

"Aku juga tidak mengenalmu sebelumnya, tapi aku mengetahui nama dan wajahmu dari lukisan yang diberikan Kaa-san padaku." sahut Sasuke.

"Kaa-san sangat menyukaimu walaupun belum pernah bertemu langsung denganmu. Kaa-san sangat berharap perjodohan kita berhasil dan kau bisa menjadi menantunya." Sasuke menatap manik Sakura dalam, ada sebuah kerinduan yang terpancar ketika Ia membicarakan ibunya.

"Aku menolak perjodohan itu, Uchiha. Sudah sangat jelas." ujar Sakura tegas mengabaikan tatapan Sasuke padanya.

"Aku tahu, itu sebabnya kau melarikan diri dan menghilang seolah ditelan bumi," Sasuke memalingkan wajahnya saat melanjutkan ucapannya, "Kaa-san sangat sedih akibat ulahmu itu."

"Kau mau menyalahkanku sekarang?"

"Tentu tidak. Aku pun awalnya tidak menyetujui perjodohan ini," Sasuke kembali memandang manik Sakura. "Tapi aku tidak ingin mengecewakan Kaa-san dan membuatnya sedih."

"..."

Sasuke mengedikkan bahunya, "Aku hanya ingin membahagiakan Kaa-san. Itu saja."

"Aku tetap tidak akan menerima perjodohan itu apapun alasannya."

"Aku tahu. Lagipula perjodohan itu sudah dibatalkan, kurasa."

"Lalu apa tujuanmu mengatakan hal ini sekarang?"

"Tidak ada," tatapan Sasuke melembut, "Aku hanya ingin memastikan bahwa ini benar kau."

"Memastikan? Kau bilang kau punya lukisan diriku."

"Aku memang punya, lukisan gadis berambut merah muda bernama Senju Sakura." Sasuke tampak menekankan pada kata-kata Senju.

"..."

"..."

"..."

"Segera setelah perang ini berakhir, aku akan menjadikanmu milikku," ujar Sasuke tiba-tiba.

Sakura berjengkit kaget. Ia menatap onyx Sasuke tajam. Tak ada keraguan yang Sakura tangkap melalui mata Sasuke. Tampaknya Sasuke mengatakan hal tersebut dengan sungguh-sungguh. Senyuman tipis pun menghiasi wajah tampannya. Tampan? Ya, Sakura mengakui bahwa Sasuke memang memiliki wajah yang tampan, sangat tampan malah.

"Aku tidak akan melepaskanmu lagi."

Setelah mengatakan hal tersebut, Sasuke pun berlalu meninggalkan Sakura yang masih terpaku mendengar kata-kata Sasuke barusan.

.

.

.

.

.

.

Somewhere else.

.

.

.

"Sial!" maki seorang laki-laki berambut biru pias. "Bagaimana mungkin kita bisa dikalahkan semudah itu!" teriaknya frustasi.

"Hentikan ocehanmu, Sampah!" seorang gadis berambut merah balas membentak laki-laki itu.

"K-kau!" geram laki-laki tersebut.

"Hentikan Suigetsu, Tayuya. Bisakah kalian diam." ujar seorang pemuda lainnya yang berambut perak.

"Kau yang seharusnya diam, Kimimaru. Kalau bukan karena kau kita tidak akan lari dari area pertempuran!" bentak Tayuya kesal.

"Berhentilah bertengkar kalian semua. Lebih baik kita mencari cara untuk melepaskan Kidomaru." ujar Ukon menengahi.

"Benar, setelah itu barulah kita memikirkan cara untuk menyerang desa itu lagi." Sakon mengangguk setuju.

Yang lainnya pun terdiam setuju. Mereka pun mengalihkan perhatian mereka pada Karin yang sedari tadi berusaha meruntuhkan sihir es milik Sakura.

"Aku tidak bisa. Sihir ini... seperti tidak bisa dihancurkan." akhirnya Karin menyerah setelah mencoba selama beberapa jam.

"Kau memang tidak berguna." desis Tayuya pada Karin sementara Karin terlihat diam menahan amarahnya.

"Ini adalah es abadi." celetuk Juugo tiba-tiba.

"Es abadi?" Suigetsu membeo.

"Ya, dikatakan abadi karena hanya sang pengguna yang dapat menghapus sihir es itu. Jika tidak, maka lawan yang terkena sihir es itu akan membeku selamanya. Tidak peduli musuhnya itu sudah tewas ataupun tidak." terang Juugo.

Semua yang ada di sana membulatkan mata tak percaya. Apa sehebat itu kekuatan sihir es abadi?

"Mengerikan." ujar Ukon tak percaya.

Juugo mengangguk.

"Tapi untuk menggunakan sihir itu, dibutuhkan energi dan tenaga yang sangat banyak. Aku berani bertaruh pasti gadis itu kehilangan banyak tenaga saat ini." lanjut Juugo sambil menatap patung es Kidomaru.

"Apa benar-benar tidak ada cara untuk menyelamatkan Kidomaru?" tanya Karin.

"Siapa bilang tidak ada?"

"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Karin sambil menatap nanar pada Kidomaru.

"Terserah pada pilihan kalian. Membiarkannya tetap hidup atau membunuhnya di sini." jawab Juugo.

"Apa? Kau bercanda? Mau membunuhnya kau bilang?" ujar Suigetsu meracau.

"Kalau kalian ingin dia tetap hidup, jangan sampai jantungnya ikut membeku dan berhenti berdetak. Beruntung sekali sihirnya tidak mencapai organ vital. Mungkin gadis itu sudah terlalu kelelahan." sahut Juugo sambil mengangkat bahu.

Semua anggota Holy Mage terdiam dan saling berpandangan.

"Menjaga jantungnya agar tetap berdetak?" ulang Jirobou.

"Ya, karena suhu tubuhnya yang rendah mustahil jika dia tidak mati kedinginan." jelas Juugo.

"Lalu bagaimana caranya agar jantungnya tetap berdetak?" tanya Karin. " Sejak tadi aku merasakan detak jantungnya semakin melemah." sambung Karin.

Mereka pun terdiam, bingung harus melakukan apa. Cukup lama keheningan itu berlangsung hingga akhirnya Kimimaru buka suara.

"Kita bawa Kidomaru ke markas sekarang juga. Mungkin Orochimaru-sama punya cara untuk menjaga agar jantungnya tetap berdetak." ujar Kimimaru yakin sambil menekankan pada nama... Eh? Orochimaru?

"Lalu bagaimana dengan Master?"

"Kita akan pikirkan itu nanti."

"Kau yakin kita tidak akan terlambat? Jarak ke markas lumayan jauh dari tempat ini. Kita mungkin tidak akan tiba sebelum fajar." tanya Karin lagi dengan nada tidak yakin.

"Kita harus yakin dengan jalan yang telah kita pilih dan sepakati," Kimimaru menatap tajam pada Karin, lalu ia menyeringai. "Karena itulah Holy Mage yang sebenarnya."

.

.

.

.

.

.

.

Amegakure.

.

.

.

Pagi ini Sakura dan teman-temannya terlihat tengah mengurus puing-puing Amegakure yang masih tersisa. Mereka memutuskan untuk tinggal satu hari disini dan membantu evakuasi para korban yang berhasil selamat. Selain itu mereka pun perlu menyusun strategi mengingat mereka belum terlalu mengenal dan mengetahui kemampuan masing-masing.

Para Mage utusan desa Sunagakure yang masih tersisa pun ikut membantu. Mula-mula mereka memakamkan korban-korban yang telah berjatuhan. Kankuro yang memimpin jalannya upacara penghormatan terakhir karena Gaara menolak mentah-mentah ketika diserahi tugas tersebut, alasan yang dia argumenkan cukup rasional, karena dia yang paling muda diantara Trio Sabaku.

Kemudian mereka pun bergotong royong membersihkan puing-puing desa. Beberapa laki-laki tampak mengumpulkan balok-balok kayu dan bersiap mendirikan camp darurat bagi penduduk yang selamat. Sedangkan para wanita sibuk mencari bahan makanan serta mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk keperluan memasak. Sebentar lagi tengah hari dan mereka harus menyediakan makan siang bagi semua orang.

Sakura tidak suka memasak. Itulah sebabnya Ia lebih memilih memasuki hutan ataupun menceburkan diri ke sungai terdekat untuk mencari bahan makanan. Paling tidak dalam urusan yang satu ini Sakura cukup ahli.

Camp akhirnya selesai didirikan. Para laki-laki memang bisa diandalkan dalam hal-hal semacam ini. Pekerjaan mereka cukup rapi walaupun hanya berupa bangunan kayu berukuran besar dengan empat bilik dan tiga buah sekat didalamnya.

Bilik pertama disayap sebelah kiri merupakan tempat yang paling luas, tempat bagi para wanita dan anak-anak. Bilik kedua terletak tepat disampingnya, merupakan tempat untuk menyimpan bahan makanan dan tempat bagi para wanita untuk memasak. Bilik ketiga digunakan untuk menyimpan peralatan bertukang dan senjata milik kaum pria, dan bilik keempat yang terletak paling kanan akan digunakan sebagai tempat istirahat bagi para laki-laki.

Tentu saja mereka akan tinggal di bangunan itu hanya untuk sementara waktu sampai desa mereka kembali pulih seperti semula.

Trio Sabaku yang dalam hal ini merupakan utusan dari Desa Sunagakure, menyarankan kepada penduduk desa untuk segera memilih pemimpin sementara selama mereka menghadapi masa-masa krisis ini.

Pein dan teman-temannya yang memang merupakan penduduk asli Amegakure pun turut membantu. Bahkan mereka turun tangan langsung demi kelangsungan desa mereka.

Nama Torune pun terpilih. Seorang pemuda giat yang selalu ramah pada orang-orang. Pein dan teman-temannya pun tampak puas karena mereka sendiri mengenal Torune dengan baik. Walaupun masih muda tapi dia dirasa cukup dewasa untuk memimpin desa ini sementara waktu.

.

.

"Sakura-chaaan~"

Teriakan Naruto menggelegar begitu saja. Saat itu mereka tengah makan siang dan membentuk lingkaran kelompok-kelompok kecil. Sakura, Tenten, Hinata dan Ino awalnya tergabung dalam satu kelompok kecil yang tenang sebelum Naruto datang dan dengan santainya menggeser paksa Tenten yang duduk disebelah Sakura lalu menempati tempat duduknya. Naruto pun hanya mengeluarkan cengiran andalannya ketika Tenten mendelik tak suka kepadanya.

Lingkaran kelompok lainnya yang 'awalnya' terdiri dari Naruto, Sasuke, Pein, Kisame, Deidara, Konan dan Shion berada tak jauh dari lingkaran kelompok milik Sakura. Lalu ada juga lingkaran kecil milik Trio Sabaku dan Sasori yang berada didekat Sakura. Sedangkan lingkaran lainnya terdiri dari Shikamaru, Chouji, Kiba, Shino, Lee dan Sai. Tidak ada yang mendasari terbentuknya kelompok-kelompok kecil tersebut. Mereka hanya memilih tempat ternyaman mereka dan tiba-tiba saja sudah terbentuk kelompok-kelompok kecil dengan sendirinya.

Dua pasang mata onyx dan hazel pun sontak menoleh berbarengan kearah Naruto. Lagi-lagi delikan tak suka terlempar kearah pemuda jabrik tersebut.

'Chan? Sejak kapan mereka akrab begitu?'

'Cih, dasar dobe'

"Sakura-chan, tidak masalah 'kan aku duduk disini?" tanya Naruto lengkap dengan cengiran khasnya.

"Terserah kau saja." jawab Sakura cuek.

"Hei, Naruto, apa kau tidak akan meminta izin kepada kami juga?" tanya Ino tiba-tiba.

"Kalian keberatan aku berada disini?" bukannya menjawab, Naruto malah bertanya balik.

"Te-Tentu ti-tidak, Naruto-k-kun." jawab Hinata terbata dengan semburat merah menghiasi wajahnya, mendahului Tenten dan Ino yang hendak menyembur pemuda pirang tersebut.

Ino dan Tenten yang menyaksikan hal tersebut pun memandang Hinata dengan tatapan aneh, dan dengan kompak keduanya pun menyeringai aneh. Sejak kapan Hinata jadi gagap seperti itu?

"Baiklah kalau begitu. Ittadakimasu!"

"Hai, hai, Ittadakimasu, Naruto-KUN~" sahut Ino dan Tenten berbarengan sambil menyeringai jahil kearah Hinata, sedangkan Hinata hanya bisa tertunduk malu.

.

.

"Sakura, kau Mage tipe elemental apa?" Naruto memulai aksi pe-de-ka-te-nya dengan mengajukan beberapa pertanyaan pada Sakura. Sakura pun hanya menanggapi Naruto dengan cuek.

"Ice." jawab Sakura tanpa mengalihkan fokusnya, lalu memasukkan makan siangnya dengan tenang.

"Benarkah? Hebat sekali! Kau tau, aku selalu menyukai es dimusim salju." sahut Naruto riang dengan tidak nyambungnya. Ia memasukkan suapan-suapan besar kedalam mulutnya. Tenten dan Ino yang ikut mendengar ocehan Naruto pun hanya memutar bola mata mereka jengah, sedangkan Hinata hanya tersenyum maklum.

"Hn."

"Kalau aku tipe elemental Aero hehehe. Oh iya, kau punya naga 'kan Sakura-chan? Siapa namanya? Nagaku namanya Vind-chan. Tapi sebenarnya Vind-chan itu nagaku dan Sasuke. Kami merawatnya bersama, itu sebabnya Vind-chan milik kami berdua." cerocos Naruto panjang lebar tanpa ditanya.

"Souka." Sakura mengambil segelas air putih lalu menenggaknya hingga setengah.

"Jadi siapa namanya, Sakura-chan?" tanya Naruto dengan tatapan berbinar.

"Hansu." Sakura kembali menyuapkan makan siangnya, lagi-lagi menjawab tanpa menatap Naruto. Sedangkan Naruto sendiri tampak tidak keberatan.

"Apa kau juga merawatnya sendiri, Sakura-chan?" tanya Naruto sebelum memasukkan suapan besar –lagi- kedalam mulultnya.

Sakura mengangguk. Tampaknya Ia benar-benar tidak akan bisa menghabiskan makan siangnya dengan tenang. "Sejak dia masih didalam telur."

"Whoahh~ Sakura-chan pasti berusaha sangat keras untuk mendapatkan telurnya ya, kudengar tipe elemental Ice agak sulit ditemukan."

Tiba-tiba gerakan tangan Sakura terhenti sejenak. Sorot matanya berubah sendu, tapi didetik berikutnya Ia dapat menguasai emosinya kembali. Sayangnya tidak satupun diantara mereka yang menyadari hal tersebut.

"Tidak juga." sahut Sakura tenang.

"Eh?" Naruto memandang Sakura dengan tatapan bingung.

"Hansu, adalah hadiah dari kakakku."

Tenten, Ino dan Hinata tak terkecuali Naruto tampak kaget mendengar penuturan Sakura. Ino bahkan hampir saja tersedak karena kaget. Mereka tidak pernah menyangka bahwa selama ini Sakura memiliki seorang kakak.

"Heeehh? Jadi Sakura-chan punya kakak ya?" tanya Naruto lagi.

"Hn." Sakura mengangguk singkat, "Aku sudah selesai. Terimakasih makanannya." sambung Sakura tenang. Ino sempat melirik kearah makanan Sakura yang belum sepenuhnya habis. Tampaknya Sakura sedikit terganggu dengan topik yang tengah dibahas Naruto.

Setelah Sakura pergi, Ino pun memberikan tatapan tajamnya pada Naruto. Sedangkan yang ditatap hanya melongo dengan tatapan bingung.

"Aku salah bicara ya?"

.

.

Sasuke meletakkan makanannya dan berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pein menaikkan sebelah alisnya, Konan dan Shion menatap bingung, sedangkan sisanya tetap melanjutkan makan mereka acuh.

"Ada apa dengannya, Nii-san?" tanya Shion sambil menatap kakaknya.

"Tak perlu pedulikan dia, Sasuke itu memang aneh, sama seperti si kepala kuning itu." sahut Deidara sambil mengedikkan bahunya acuh.

Sementara itu Sasuke berjalan memasuki hutan, tepat seperti yang dilakukan Sakura beberapa saat yang lalu. Menguntit? Oh tidak, tidak, Sasuke lebih suka menyebutnya dengan 'memastikan apakah Sakura baik-baik saja'.

Dengan lanngkah pasti dan berhati-hati, Sasuke berjalan menyusuri hutan sambil mencari sosok Sakura. Samar-samar Sasuke melihat helaian merah muda sepunggung berkibar-kibar didepan sana. Sebenarnya jarak antara mereka tidak terlalu jauh, tapi karena pepohonan di Amegakure masih sangat subur dan sehat, keberadaan Sasuke dapat tersamarkan.

Sasuke terus mengikuti Sakura kedalam hutan. Sasuke bahkan mengutuk dirinya sendiri, ada apa dengan dirinya? Dia bahkan mau repot-repot mengikuti gadis itu sambil mengendap-endap seperti saat ini.

Awalnya Sasuke tidak pernah mempedulikan perjodohan antara dirinya dan Sakura. Mereka bahkan tidak pernah bertemu, jadi untuk apa repot-repot memikirkan gadis itu? Bahkan setelah gadis itu menghilang, Sasuke sama sekali tidak peduli.

Akan tetapi semuanya berubah ketika Sasuke melihat gadis itu secara langsung. Sakura begitu menarik perhatiannya. Sasuke mengakui bahwa sejak pertama kali melihat lukisan Sakura yang diberikan padanya, ada sesuatu yang bergejolak didalam dirinya. Ada sesuatu aneh, tapi menyenangkan. Tapi saat itu Ia mengabaikan perasaaan itu, Ia memilih untuk tidak peduli. Sekarang setelah melihat gadis itu secara langsung, gejolak itu terasa semakin besar. Sasuke tak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, tapi Ia menyukainya.

"Aku tahu kau disana, Uchiha-san."

Suara Sakura menyadarkan Sasuke dari lamunannya. Tanpa sadar Sasuke sudah terlalu dekat dengan posisi Sakura saat ini, hanya berjarak dua pohon saja. Dengan tenang Sasuke muncul dari balik pohon tempatnya bersembunyi tadi lalu berjalan mendekati Sakura yang sedang membelakanginya.

"Berhenti mengikutiku."

"Kau sedang memerintahku?"

"Terserah kau menyebutnya apa. Pulanglah."

"Tidak."

"..."

"..."

"Terserah kau saja, asal jangan mengikutiku."

Sakura baru saja akan melangkahkan kakinya ketika tiba-tiba Sasuke mencengkram pergelangan tangan kanannya dengan erat. Uchiha bungsu itu pun menarik pergelangan tangan Sakura dan memaksa gadis untuk berbalik dan menghadap kearahnya.

SRIIINGG

Namun tanpa disangka-sangka, tangan kiri Sakura yang bebas telah menggenggam erat sebilah pedang aquamarine dan menodongkannya tepat dileher Sasuke saat gadis itu berbalik menghadap Sasuke. Sasuke pun tampak kaget saat mengetahui pedang sedingin es itu telah menempel dilehernya. Ia pun tak sempat membuat pertahanan.

"Lepaskan tanganmu." desis Sakura tajam.

Rahang Sasuke tampak mengeras. Sasuke pun balas menatap Sakura tajam dan semakin mengeratkan genggamannya.

Merasa tidak direspon oleh Sasuke, Sakura menggeram kesal sambil menekankan pedangnya pada leher Sasuke. Darah segar pun mengucur, meninggalkan jejak pada kulit pucat Sasuke. Mau tak mau Sasuke mengalah dan melepaskan tangan Sakura sebelum pedang itu benar-benar menebas lehernya.

Sakura menurunkan pedangnya, membalikkan badannya dan segera berjalan meninggalkan Sasuke.

Sasuke yang tampaknya masih keras kepala berniat menyusul Sakura lagi. Tapi sebelum kaki Sasuke benar-benar terangkat, dua buah jarum es berukuran sebesar kunai segera menancap menghalangi langkah Sasuke. Sedangkan Sakura tetap menjutkan langkahnya tanpa menoleh sama sekali.

"Sial!" maki Sasuke kesal sambil menggepalkan tinjunya erat ketika sosok gadis berambut merah muda itu menghilang dari pandangannya.

.

.

Saat ini Sakura tengah berada di tepi sungai. Bertemu dengan Uchiha Sasuke tadi benar-benar merusak suasana hatinya. Karena itulah Sakura memutuskan untuk pergi ke sungai, sekedar ingin menghilangkan rasa penatnya. Pedang yang tadi berada ditangannya pun sudah tidak ada lagi. Sakura pun berjongkok di tepi sungai lalu mengamati pantulan wajahnya.

Sakura tidak ingat kapan terakhir kali Ia melihat pantulan dirinya sendiri. Namun tak ada yang berubah dari dirinya, setidaknya itulah yang dipikirkan Sakura. Walaupun sebenarnya emerald itu tidak secerah dulu, namun Sakura enggan mengakuinya. Selain itu rambutnya juga sudah bertambah panjang. Mungkin nanti Ia akan memotongnya lagi jika dirasa perlu. Selebihnya sama, tidak ada yang berubah.

Sakura membasuh wajahnya, menikmati sensasi dingin dan sejuk yang menyentuh kulit wajahnya. Air sungai ini sangat dingin dan cukup jernih, Sakura bahkan dapat melihat bebarapa ikan tampak berenang bebas. Batu-batu kecil tampak menghiasi dasar dan tepi sungai.

"Sakura? Kenapa kau ada disini?"

Sebuah suara berhasil memecah konsentrasi Sakura. Tanpa melihat siapa pemilik suara tersebut, Sakura sudah tahu siapa yang sedang berada didekatnya saat ini.

"Tidak apa-apa."

"Benarkah? Tapi tampaknya telah terjadi sesuatu padamu. Kenapa pergelangan tanganmu memerah?" tanyanya dengan nada khawatir.

"Bukan hal yang penting, Sasori." jawab Sakura ketus tanpa menoleh pada Sasori.

Sasori terdiam sejenak. "Kau mau kutemani?"

"Tidak perlu."

"Souka," Sasori mengangguk-anggukkan kepalanya lalu mengambil tempat tepat disebelah Sakura, membuat Sakura yang awalnya terfokus pada aliran sungai didepannya kini memandang Sasori.

"Aku kemari karena mereka kehabisan air minum." ujar Sasori seolah mengerti mengapa Sakura menatap dirinya. Ia pun menunjukkan wadah air minum yang dibawanya dan memenuhi wadah itu dengan air sungai, lalu meletakkan benda itu disampingnya.

"Kau bisa cerita padaku kalau kau mau." ujar Sasori memecah keheningan diantara mereka.

Sakura terdiam sejenak sambil menatap Sasori ragu. Tidak ada yang ingin diceritakan oleh gadis itu, tapi sebenarnya Ia memiliki beberapa pertanyaan yang cukup mengganggunya.

"Apa kita pernah saling mengenal sebelumnya?"

Sasori mengedikkan bahunya, "Aku tidak akan memaksa jika kau tak mau, Sakura." jawab Sasori santai, tampaknya Ia salah mengartikan kata-kata Sakura barusan.

Melihat Sakura yang tidak merespon lagi dan hanya menatap datar padanya, mau tak mau membuat Sasori mendengus pelan sambil tersenyum kecil. Refleks, Sasori pun mengacak-acak pucuk kepala Sakura dengan gemas.

DEG

Sakura merasakan detak jantungnya semakin cepat dan kuat, seolah-olah memaksa ingin melompat keluar dari tempatnya. Lagi-lagi seperti ini, Sakura tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya sekarang. Ia merasa gelisah, terlebih karena sentuhan Sasori di pucuk kepalanya barusan. Sakura bahkan merasakan suhu disekitarnya meningkat. Disamping itu semua, Sakura merasa perasaannya campur aduk. Samar-samar ia merasakan emosi-emosi yang perlahan muncul ke permukaan. Sedih, marah, bahagia dan... kerinduan, bercampur menjadi satu.

Apa yang terjadi?

Ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini pada teman-temannya yang lain. Senyuman itu, senyuman itu...

Setetes liquid bening meluncur begitu saja tanpa Sakura sadari. Sakura benar-benar tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Air mata mulai menggenang dipelupuk matanya dan siap meluncur kapan saja. Sasori yang menyadari hal itu mulai panik, Ia menatap Sakura khawatir. Apakah tanpa sadar Ia telah melakukan kesalahan pada Sakura?

"Sakura-"

"Ka-Kau... mengenalku, bukan?" tanya Sakura dengan suara bergetar, tepat sebelum Sasori menyuarakan perasaan khawatirnya.

"Aku memang tidak bisa mengingatnya, ta-tapi aku yakin, kau mengenalku, kita saling mengenal 'bukan?" lelehan air mata Sakura semakin deras, entah mengapa Ia benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya. Kenapa emosinya meluap-luap seperti ini? Bukankah ia sudah menye- eh? Segelnya!

"Kalau begitu akan kubuat kau mengingatnya, Sakura." ujar Sasori mantap, lalu tanpa aba-aba Sasori pun menangkupkan kedua tangannya ke pipi Sakura.

Tubuh Sakura menegang saat merasakan tangan dingin Sasori sudah berada diatas kulit wajahnya. Ingin sekali Sakura menepis kedua tangan Sasori lalu mematahkannya karena telah berani menyentuh dirinya tanpa meminta izin terlebih dahulu, tapi... entah mengapa Sakura tidak melakukannya, tidak, Sakura tidak ingin melakukannya, terlebih ketika matanya bertemu manik hazel yang begitu teduh memandang kearahnya.

Tangan Sasori yang terasa begitu dingin bergerak pelan menghapus jejak air mata yang masih tertinggal dipipi Sakura, dan entah mengapa Sakura tidak lagi merasakan dingin dipipinya. Hangat. Tangan Sasori telah berubah menjadi begitu hangat yang menenangkan. Tapi begitu tangkupan tangan tersebut hilang, suhu disekitarnya mendadak berubah, tak lagi sehangat sebelumnya, dan Sakura akui dirinya tidak menyukai hal tersebut.

Tangan Sasori pun berpindah ke atas kepala Sakura lalu mengacak-acak helaian merah muda itu dengan gemas. Lalu Sasori pun menarik Sakura ke dalam pelukannya dan lagi-lagi Sakura hanya bisa diam mematung menerima perlakuan Sasori tersebut.

"Ingatlah aku, Sakura." bisik Sasori pelan disertai senyuman tipisnya, Ia pun semakin mengeratkan pelukannya.

Sakura merasa bahwa Ia benar-benar merindukan sensasi seperti ini, tapi Ia tak tahu mengapa. Pelukan ini terasa begitu hangat dan nyaman. Dengan ragu Sakura pun mengangkat tangannya hendak membalas pelukan Sasori.

Belum sempat Sakura mengangkat tangannya lebih tinggi lagi, tiba-tiba gerakannya terhenti ketika Ia merasakan bahu kirinya sangat panas seperti terbakar dan nyeri secara bersamaan.

"Akhh!" rintih Sakura. Ia langsung melepaskan pelukan Sasori dan menggapai bahu kirinya. Aneh, bahunya tidak terbakar, tapi Sakura merasakan sensasi terbakar dan nyeri yang amat sangat menyakitkan. Tubuhnya pun refleks tertunduk kaku menahan rasa sakit itu.

Wajah Sakura memucat. Masih dengan posisi tertunduk sambil mencengkram bahu kirinya, erangan kesakitan terus meluncur keluar dari mulutnya. Sasori yang berada didekat gadis itu tampak mulai panik setengah mati. Nafas Sakura mulai tersengal-sengal bersamaan dengan keringat yang perlahan membanjiri wajah pucatnya. Sakura mencoba menggunakan kemampuan medisnya untuk meringankan rasa sakitnya, tapi hal tersebut tidak berhasil sama sekali karena sangat sulit untuk berkonsentrasi pada kondisi seperti ini.

"Sakura? Sakura apa yang terjadi?" tanya Sasori panik melihat keadaan Sakura. Sakura yang masih dalam posisi tertunduk tidak menjawab sama sekali, sensasi terbakar dan nyeri ini bahkan membuatnya sulit untuk sekedar berbicara.

Sasori mencengkram kedua bahu Sakura lalu menghadapkan Sakura padanya. Mata Sasori membulat kaget saat melihat wajah Sakura. Sakura tampak sangat pucat dengan peluh yang terus-menerus mengalir menuruni wajah cantiknya. Sekilas saja Sasori sudah tahu bahwa Sakura tengah menahan sakit yang berasal dari bahunya karena tangan Sakura terus mencengkram bahu kirinya.

"Sakura sebaiknya kita kembali ke camp, ayo aku akan menggendongmu." ucap Sasori sambil mencoba mengangkat tubuh Sakura.

"Sa-Sasori a-air-aakhh!" Sakura kembali mengerang kesakitan, membuat Sasori menghentikan gerakannya. Sakura terus menunjuk kearah sungai berharap Sasori mengerti maksudnya. Mungkin dengan berendam didalam air rasa terbakar ini bisa sedikit berkurang, begitulah pikir Sakura. Tapi Sasori yang sedang panik setengah mati sama sekali tidak mengerti isyarat dari Sakura.

"Ada apa Sakura? Kenapa disana? Sakura? Sakura?! SAKURA!"

Sakura tak kuat menahannya lagi, pandangannya mulai mengabur. Ia sempat mendengar Sasori meneriakkan namanya beberapa kali sebelum akhirnya semua menjadi gelap dan Ia tidak bisa mendengar apa-apa lagi.

.

.

.

.

.

.

.

Sasuke ternyata mengetahui identitas Sakura yang asli! Apa yang akan dilakukan Sasuke selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Sakura? Siapa sebenarnya Sasori itu? Lalu apakah Holy Mage berhasil mematahkan sihir es abadi milik Sakura? Akankah Kidomaru selamat?

TBC

.

.

.

Hollaaaaaa...

Tiga tahun akhirnya kita bersua juga yaa minna-san~~~ *digebukin masal*

Miharu minta maaf yaaa udah ngilang lamaaaa banget muehehehe. Miharu gak bakalan kasih alasan yang nganeh-nganeh deh, intinya waktu itu lagi sibuk-sibuknya dengan urusan dunia *yaelaahh* dan akhirnya lagi musim-musimnya internet positif yang bikin Miharu sempat kezeeellll dan kesulitan buat update terus lagi musim-musimnya writter's block. Eeeeeeehh lama-kelamaan jadi lupa deh, maafin Miharu yakkk *blingblingeyes*. Okedeh lengkap sudah yah alasan gajenya Mi-chaaann~.

Kali ini Miharu kasih cerita yang lebih panjang dari biasanya hehehehe. Buat yang nunggu part Sakura, neehh udah Miharu kasih part Sakura sebanyak-banyaknya. Tinggal pilih deh sukanya SasuSaku atau SasoSaku. Buat yang nanyai siapa sebenarnya Sasori, nanti bakalan terjawab di chap depan yaaaaaa *eehh malah spoiler*

Pokoknyaaaa Miharu minta maaf banget yaaaa Minna, dan makasiiiiih banget buat siapapun kalian yang masih nungguin fic ini sampe sekarang. Lopekk-lopekk daaahh buat kalian semuaahh *sujudsembahsyukur*

Btw, Semoga kalian suka chapter 9 nya! Oh iya, Miharu juga mengedit chapter-chapter sebelumnya lho. Ngga banyak sih, cuma memperbaiki typo yang ngeganggu mata, nambahin kalimat di scene-scene tertentu dan ngurangin beberapa kalimat juga. Yok, monggo dibaca lagi siapa tau ada typo yang kelewat *ehhhh* Jadi jangan bingung ya kalau Minna merasa ada sedikit perbedaan dengan fic 3 tahun laluuuu~

Okaayy, cukup sudah cingcong gak jelasnya. Sampai jumpa dichapter depan, Minna~~~~

Balesan Review (Setelah sekian lama gak bales-bales)

Clarrete Yurisa : Risa-chaaaaan~ apa kabarnya yak? Masih ingatkah dengan saya wkwkwk *ditimpuk* maapp bangeeett yakkk, ini udah lama banget. Makasiih banyak loohhh reviewnya dan makasih jugaaa udah nungguin pluusss ngasih pencerahan wkwkwk. Semoga chap 9 nya nggak mengecewakan yaakkk. Lopyuuu Risa-chaaan~

Anon : ini manggilnya abang anon atau neng anon nih wkwkwk. Ini udah keluar chap 9 nyaa. Maappp yaaaak kelamaan :" terus masalah Sasuke itu siapanya Sakura udah kejawab yaaa.

PinKrystal : Sasori siapanya Sakura? Tunggu di chap depan yaaaa. Makasih banyak lohh atas dukungannya hihihi.

: wokeee gann, tunggu chapter berikutnya yaaakk.

Rinazure : bukan perasaaan Rinazure aja kok, tapi emang ini udah luamaaaa bangeet. Maaapp yaaakk :" romance? Liat aja deh gimana perkembangannya wkwkwk *ceileeeeh*

Anon : abang-neng anon udah apdet niiiihh.

Seijuurou Eisha : makasiiiihhh banyak review dan dukungannyaaa.

Sabila Foster : bagian Sakura udah Miharu banyakiiinn, semoga suka yaaakk.

Okeey, jadi sekali lagi makasih banyak buat para readers yang udah mereview dan kasih semangat. Mungkin kalo nggak ada review kalian, fic ini bakalan hiatus selamanya hihihi *digebukin* Miharu sayaang kalian semuaaa~ *peluksatusatu*

Semoga kalian suka yakkk. Sampai jumpa di chapter depan!