BRAK
Suara itu muncul lagi. Dengan mengandalkan indera pendengaran, Saguru bisa tahu kalau suara itu bermuara di sebelah kanannya. Saguru langsung mendekati ruangan sumber suara itu dan membukanya.
Ketika membukanya, Saguru sudah siap-siap pistol di tangannya. Dan ketika dia mengetahui sosok yang ada di balik ruangan itu—
—dia kaget.
Likuid bening spontan menetes deras membasahi pipi kokohnya.
"Ayah …"
TAKDIR BISA DIUBAH
Chapter 9: Tersadar
Detective Conan © Aoyama Gosho
Story © Day-chan
Semi-canon, DLDR!
"…"
Hakase hanya terdiam tanpa kata. Melihat seorang yang sangat asing baginya, duduk di sofa rumahnya tanpa berkata apa pun.
Shiho memandang ayah angkatnya tersebut dengan pandangan mengertilah-aku-akan-menjelaskan-setelah-semuanya-selesai. Hakase sudah mengerti arti tatapan itu, namun tetap saja. Dia merasa agak canggung. Kalau dulu Saguru yang menumpang tidak apa-apa, karena dia kenal dengannya. Sekarang?
Pria bertubuh tegap besar itu tampak lusuh. Rambutnya berantakan, matanya merah seakan belum tidur selama beberapa hari. Pakaian mahal yang dikenakannya tampak kotor oleh tanah dan bau mesiu.
"Paman, bersihkan diri dahulu." Shiho memberikan handuk dan baju kering—milik Hakase, yang dia harap semoga cocok.
Pria itu menerimanya dengan lambat. Menundukkan dirinya—tanda hormat pada Shiho dan Hakase, dia menuju kamar mandi dengan arah tunjuk Shiho.
Selama ayahnya mandi, sang anak masih berbaring lemah di sofa sisi lainnya. Air matanya tidak berhenti mengalir—itu sebabnya sedari tadi satu tangannya menutupi kedua mata tersebut. Shiho tersenyum kecil sebelum menghampirinya dan memberinya minuman hangat.
"Berhentilah menangis, dasar detektif cengeng," ucap Shiho duduk di sebelah Saguru yang masih dalam posisi tidur.
"Aku tidak menangis. Hanya terharu," bantah Saguru dengan suara parau. Mukanya terus dia tutupi—malu dilihat orang yang disukainya melihatnya lemah seperti ini.
Melepaskan tawa kecil, Shiho memukul tangan Saguru pelan. "Sudah sombong, cengeng pula. Kau ini," ucap Shiho membelai rambut pirang Saguru.
"…" Saguru tidak bereaksi.
"Tapi siapa yang tidak akan terharu jika ayahnya selamat dari pembunuh berdarah dingin menakutkan seperti Vermouth? Bahkan aku juga akan menangis sampai stok air mataku habis," Shiho terkekeh pelan. "… itu jika ayahku selamat."
Saguru membuka tangannya dan melihat Shiho. Sesuai dugaannya, nada bicaranya yang terakhir itu sedikit menurun dan pasti berefek pada air mukanya. Paras cantik tersebut tampak sedih dan seakan ingin menangis.
Sesaat kemudian Saguru sadar. Dia masih jauh lebih beruntung dari Shiho. Ayahnya masih selamat, tidak berkurang suatu apa pun. Tapi dia dengan tidak elitnya menangis terharu—bahkan di depan gebetan-nya sendiri.
Sedangkan Shiho? Saguru tahu Shiho pasti menangis lebih keras dan sakit—mengingat ibu Shiho juga meninggal di organisasi itu. Tapi Shiho tidak pernah menunjukkan tangis sakitnya di depan siapapun. Adapun Saguru sendiri yang memaksa masuk kamar Shiho dan akhirnya menemukannya sedang menangis. Selain itu tidak ada lagi.
Saguru bangkit duduk dan secara spontan memeluk Shiho. Walaupun dia tidak tahu bagaimana sakitnya ditinggalkan orang tua ke alam sana, yang pasti rasanya sangat perih. Shiho hanya bergeming dan tidak protes.
"Ehm." Batuk kecil dari Hakase merusak momen mereka berdua. Saguru tersenyum kecil sebelum melepaskan pelukannya dari Shiho.
"Hakase, tidak bisakah kau memberi space untuk kita berdua?" ucap Saguru sehingga mengundang jitakan dari Shiho.
"Kau baru saja bersikap tidak sopan pada ayahku," omel Shiho. Dalam hati Shiho bernapas lega, ternyata mudah juga membujuk Saguru. Air muka Saguru menjadi sedikit lebih tenang dan dia tidak menangis lagi.
Hakase menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebelum menghampiri mereka berdua. "Shiho-kun, kau tahu, aku benar-benar khawatir padamu."
"Aku belum mengapa-apakan Shiho, Hakase. Tenang saja," ucap Saguru.
"Bisakah kau diam?" ucap Hakase sedikit meninggi sehingga Saguru bertanya-tanya. Tidak biasanya Hakase seperti ini—biasanya dia akan menanggapi dengan cengiran dan godaan yang sama juga.
"…" Shiho memandang ayah angkatnya dengan serius.
"Ada apa? Kau terlibat kasus lagi, bukan?" tanya Hakase khawatir.
"… Hakase," Shiho berusaha mencari kata-kata yang pas. "Aku rasa aku sudah mengatakannya—"
"Aku tidak mau menunggu sampai semuanya selesai. Kali ini, aku sudah tidak tahan lagi," ucap Hakase sembari duduk di sofa seberang. "Pertama, kau pulang dan membawa Saguru-kun yang terkena luka tembak. Kedua, kau meminta kejadian itu untuk dirahasiakan dari Shinichi."
"…"
"Ketiga, kau membawa pria yang tidak kukenal dan menyuruhnya mandi di sini. Dan aku dengar kau mengatakan Vermouth barusan. Katakan padaku, ada apa?"
Shiho terdesak oleh pemikiran logis ayahnya sendiri. Bukan berarti Shiho tidak mau cerita, namun semuanya akan lebih tenang ketika dia bercerita waktu semuanya sudah selesai. Selain itu dia juga tidak mau melibatkan Hakase yang disayanginya dalam bahaya.
Di lain sisi Saguru tidak mengatakan apa-apa, karena itu semua adalah privasi Shiho. Saguru adalah orang yang menghargai privasi orang, walaupun memang sedikit egois.
Shiho yang tidak kunjung menjawab dan malah menundukkan kepalanya, membuat Hakase sedikit emosi. Dia beranjak dari duduknya dan mengguncang bahu Shiho yang gemetar.
"Shiho-kun. Kau kira aku akan diam saja setelah kau bersama pria tua yang bau mesiu di badannya?"
"Ah, maafkan aku telah merusak keharuman rumah ini dengan bau mesiu."
Ketiga orang tersebut menoleh kepada sosok yang sedang diperbincangkan barusan. Tubuhnya tegap, badannya sudah bersih dan berbalut pakaian baru. Dengan gagah dia mengambil duduk di sebelah anaknya—Saguru.
Memandang Shiho, dia bertanya pada Saguru. "Jadi ini gadis yang seharusnya mati?"
"Hei, tuan! Berani-beraninya anda berkata—"
"Hakase, tenang dulu!" Shiho menghalau Hakase yang berusaha untuk menghajar pria yang tampak tenang tersebut.
"… Shiho-san belum cerita pada ayah Shiho-san?" tanya ayah Saguru.
"…" Shiho memandang ayah Saguru dalam diam. Ditatapnya lagi Hakase dengan pandangan yang tidak bisa diartikan, dia melepaskan gelengan kecil.
"…" ayah Saguru tampaknya mengerti keadaannya. Dia pun tersenyum kecil.
"Kalau begitu, bisakah anda menjelaskannya, tuan? Shiho-kun tidak mau mengatakannya. Aku yakin dia tidak mau aku terlibat. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan ini," ucap Hakase kembali duduk tenang.
Ayah Saguru memandang Shiho yang duduk di sebelah Hakase. "Kalau Shiho-san tidak mau cerita itu berarti saya juga tidak berkenan untuk cerita."
"… tidak apa. Ceritakan saja, paman."
Satu kalimat yang muncul dari Shiho membuat suasana hening selama beberapa lama. Setelah ayah Saguru berdehem kecil, dia memulai ceritanya.
"Ah, sebelumnya saya perkenalkan diri dulu. Saya adalah Kepala Polisi Metropolitan di Jepang …"
xxxxx
"Shiho-kun, jaga diri baik-baik. Jangan lupa isi baterai handphone-mu tiap hari agar aku bisa menghubungimu. Jangan tidur larut malam. Jangan melakukan hal yang berbahaya."
"Hakase, jangan lupa makan teratur. Jangan sekali-kali makan fast food atau aku akan membunuhmu dari kejauhan. Jangan melakukan percobaan aneh yang membuat rumah jadi berantakan. Jangan lupa kunci pintu sebelum tidur."
Saguru dan ayahnya sedikit sweatdrop ketika Shiho dan Hakase saling mengomeli walaupun mereka sudah di ambang perpisahan. Tak lama kemudian Shiho memeluk Hakase lembut, dan juga Hakase.
"Ohya, jangan mau diapa-apakan dengan Saguru-kun. Jadilah wanita yang mempunyai harga diri, Shiho-kun," ucap Hakase menepuk punggung Shiho.
"Hakase!" seru Shiho dan Saguru bersamaan. Ayah Saguru hanya berpikir dalam diam.
Melepaskan pelukan, Hakase dengan sedikit berlinang menyaksikan kepergian anak angkatnya pergi.
"Sampai jumpa, Hakase," ucap Saguru memberi hormat.
"Jaga Shiho-kun baik-baik," ucap Hakase. "Dan cepatlah kembali."
Saguru mengangguk mantap.
Ayah Saguru juga memberi hormat pada Hakase. "Aku pastikan anak anda akan kembali dengan selamat."
"Maaf telah menuduh anda yang aneh-aneh. Semoga berhasil," balas Hakase memberi hormat juga.
Setelah ketiga orang tersebut pergi, Hakase kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Antara sedih, bingung dan berharap.
Ya, sedih karena Shiho akan pergi ke suatu tempat untuk sementara waktu dengan Saguru dan ayah Saguru. Dia sudah mendengar cerita sepenuhnya, dan tidak dipungkiri dia terkaget waktu mendengarnya.
Ternyata Vermouth masih hidup, dan mengincar nyawa Shiho. Dia juga mengerti sebenarnya apa tujuan Saguru—namun sekarang sudah tidak lagi, karena ayah Saguru sudah selamat. Shiho bertekad untuk membantu Saguru dan ayah Saguru untuk membasmi Vermouth dan mungkin komplotan yang tersisa. Dengan begitu, dia ikut dengan dua pria tersebut untuk sementara waktu dan kembali jika semuanya sudah selesai.
Khawatir? Jelas. Anaknya akan tinggal bersama dengan dua orang pria yang tidak dikenalnya dengan dekat. Tapi kekhawatiran itu menipis mengingat ayah Saguru adalah seorang polisi dan Saguru sendiri sepertinya adalah orang yang tidak akan melakukan sesuatu di luar norma.
Menghela napas, Hakase menutup mata. "Semoga semuanya lancar."
xxxxx
"Kau tahu, kau masih bisa tinggal di rumahmu dan bersekolah seperti biasa. Tidak perlu melakukan hal yang merepotkan seperti ini," ucap Saguru mendesah.
"Aku ingin fokus. Aku tidak boleh tinggal sementara di sini?" tanya Shiho balik.
"Boleh, tentu boleh!" sahut Saguru.
"Kau memilih apartemen yang bagus, Saguru," puji ayahnya sambil sesekali menyesap teh yang dibuat Shiho. "Ah, jangan khawatir, Shiho-san. Teriak saja jika kau diapa-apakan oleh anakku yang bodoh ini."
Saguru hanya menggerutu kecil sedangkan Shiho tertawa.
"Baiklah. Ayah bisa tidur di kamarku, dan Shiho di kamar tamu. Aku akan tidur di bawah kasur ayah," ucap Saguru kemudian.
"Akhiri hari yang panjang ini. Besok kita akan langsung bergerak. Jangan menghabiskan waktu atau ayah Shiho-san akan menjadi target. Aku sudah memanggil beberapa bawahan untuk menjaga ayah Shiho-san sekarang."
"Terima kasih, paman," ucap Shiho menundukkan kepalanya—dalam.
"Tidak apa. Lagipula aku penasaran padamu, Shiho-san."
"Eh?" tanya Shiho.
Ayah Saguru mengerling pada Saguru. "Kira-kira bagaimana orang yang jauh lebih berharga dari ayahnya sendiri, sehingga dia tidak mampu membunuhnya?"
"A-aku hanya tidak bisa membunuh. Itu sama saja menyamakanku jadi penjahat, bukan?" kilah Saguru dengan warna merah merembet di pipinya. Yah, alasan yang cukup masuk akal.
Ayah Saguru terkekeh pelan. "Itu bisa jadi. Namun ini tentang ayahmu sendiri. Pasti ada faktor lain yang lebih kuat," kemudian dia melirik Shiho. "Dan kurasa aku tahu."
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan, ayah."
Shiho tersenyum kecil melihat kehangatan ayah dan anak di depannya. "Aku dan Saguru teman dan partner kerja, paman."
"Ah …" Ayah Saguru menoleh kembali ke anaknya dan menepuk punggungnya pelan. "Bro. Kau harus bisa melewati friendzoned ini, ya."
"Ayah …" Saguru menutup mukanya yang semakin merah sehingga membuat kedua orang lainnya tergelak.
xxxxx
TING TONG
CKLEK
"Ya? Oh kau, Shinichi-kun."
"Jujurlah padaku, Hakase."
"…"
Shinichi tampak gusar. "Shiho sebenarnya ada di mana? Sudah seminggu dia tidak masuk sekolah. Dan juga si Hakubakayaro itu."
"Aku juga tidak tahu dia berada di mana, Shinichi-kun. Dia berkata dia ada sebuah kasus yang letaknya cukup jauh dari sini sehingga dia dan Saguru-kun harus di sana untuk beberapa lama," ucap Hakase—tentu saja berbohong. Tapi tidak sepenuhnya juga, mengingat ini juga adalah kasus.
"Kasus apa? Kenapa sampai lama?" tanya Shinichi bertubi-tubi. "Dan kalaupun itu sebuah kasus biasa, kau tidak perlu dijaga oleh polisi-polisi tersebut, bukan?"
Hakase meneteskan keringat. Memang susah mengelabui seorang detektif pintar yang langsung tahu mereka adalah polisi yang menjaganya—walaupun mereka memakai penyamaran dan berganti orang tiap hari.
"Hakase, aku tahu kau tahu sesuatu. Aku khawatir tentang Shiho," ucap Shinichi sedih.
Shiho sudah berpesan padanya agar tidak memberitahukan hal ini pada Shinichi. Walaupun Hakase sempat tidak terima—bisa saja Shinichi membantu, bukan? Namun Shiho hanya berpesan itu dan tidak menyebutkan alasan yang jelas.
"Hakase," panggil Shinichi lagi.
"… maafkan aku, Shinichi-kun. Aku benar-benar tidak tahu Shiho-kun ada di mana. Tapi dia baik-baik saja." Hakase berusaha menenangkan Shinichi. Ya, tentu saja Hakase tahu Shiho baik-baik saja, secara setiap hari Shiho meneleponnya dan memberinya laporan harian.
"Bagaimana kau bisa tahu? Nomornya tidak aktif! Tampaknya dia sudah mengganti nomornya, kau tahu!" Shinichi berteriak frustasi.
"A-aku percaya Shiho-kun baik-baik saja. Dia adalah seorang Shiho-kun, kau tahu?" ucap Hakase sekenanya.
"…" Shinichi berpikir dalam diam.
"Hakase Agasa?"
Hakase dan Shinichi menoleh dan mendapati seorang pria berbalut serba hitam di belakang Shinichi. Tatapan tajam bagaikan elang, muka dingin dan tidak lupa kantung mata yang menjadi ciri khasnya.
Shinichi terbeliak kaget.
"Akai-san!?"
"… heh. Kau bocah detektif."
Shinichi tidak habis pikir dan mendekati Shuichi. "Tunggu. Apa yang membuatmu berada di sini?"
"…" Shuichi berpikir sebentar sebelum dia menyunggingkan senyum remeh. "Kalau kau tidak tahu, berarti tidak usah tahu."
"Apa?!" Shinichi terlihat frustasi.
Anggota FBI itu mengabaikan pertanyaan Shinichi yang menghujamnya dan berjalan lurus menuju Hakase. Dia mengisyaratkan untuk masuk ke rumah Hakase—untuk menghindari Shinichi, tentunya. Hakase tidak mampu berbuat banyak dan mengikuti apa kata Shuichi.
Dengan cepat Hakase diikuti dengan Shuichi masuk ke dalam rumah dan menguncinya. Sementara Shinichi di luar menggebrak-gebrak pintu dengan kesal.
"Lama tidak berjumpa, Hakase." Shuichi menundukkan kepalanya sedikit. Hakase menyambutnya juga dengan senyum di bibir.
"Kau benar, Akai-san." Hakase menghidangkan kopi hitam—kesukaan Shuichi. "Aku sudah dengar dari Shiho-kun."
"Bahwa akan datang bala bantuan dari FBI dan CIA?" tanya Shuichi memastikan.
"Ya, benar. Aku sudah berpesan padanya untuk memberiku informasi jadi di sini aku sedikit tenang," ucap Hakase mengambil tempat duduk.
"Sebenarnya, sudah beberapa hari lalu kami membantu mereka. Aku ke sini hanya untuk memastikan keselamatan Hakase."
"Ah, aku baik-baik saja, Akai-san. Polisi-polisi itu selalu menjagaku. Paling-paling aku hanya kekurangan ide untuk mengelabui Shinichi-kun, hahaha," jawab Hakase.
Shuichi agak mengernyit. "Aku tidak mengerti kenapa kalian merahasiakan ini dari bocah detektif itu. Dia lumayan berguna untuk penyelidikan, kau tahu." Shuichi menyesap kopi hitamnya sembari tersenyum sinis. "Tidak mungkin kan kalau bocah detektif yang pirang itu merasa tersaingi?"
"Ini tidak ada hubungannya dengan Saguru-kun. Tapi, lebih ke keputusan Shiho-kun sendiri karena dia yang meminta untuk merahasiakan ini dari Shinichi-kun," ucap Hakase yang juga sebenarnya bingung.
"Hmm." Shuichi berpikir—berusaha menerka. "Dasar gadis," gumamnya.
Beberapa saat setelah obrolan singkat mengudara, Shuichi pamit untuk undur diri.
Dia penasaran dengan bocah detektif itu.
xxxxx
TING TONG
CKLEK
"Ah? Anda … anggota FBI, bukan?"
"… kau sudah menikah dengan bocah detektif itu?"
"Ti-tidak mungkin! Kami masih SMA. A-aku hanya mampir membuatkan makan siang untuk Shinichi," kilah gadis berambut panjang itu. Melepaskan celemek yang dipakainya, dia mempersilakan Shuichi untuk masuk.
"Shinichi ada di ruang perpustakaannya. Biar aku panggilkan sebentar," ucap gadis itu—Ran.
"Tidak usah. Biar aku sendiri yang ke sana. Tolong tunjukkan di mana perpustakaan itu, dan setelah itu tolong tinggalkan kami berdua," ucap Shuichi datar.
"Ba-baiklah."
Setelah menunjukkan di mana perpustakaan berada, Ran dengan menghargai meninggalkan Shinichi dan Shuichi berdua di ruangan yang cukup besar tersebut. Shinichi tampaknya sedang melamun sehingga tidak menyadari hawa kehadiran Shuichi di sampingnya.
Shuichi melirik bocah cerdas itu sebentar.
"Shiho baik-baik saja."
Shinichi seketika menoleh ke arah samping. "A-Akai-san?!"
"…"
Shinichi kembali dalam direksi matanya semula. "… apakah kau sudah mendapat ijin dari Shiho untuk mengatakan hal seperti itu? Bahkan Hakase tidak berani membukanya."
"… tidak." Shuichi berjalan menuju jendela dan melihat ke luar.
"…"
Shuichi kemudian memandang Shinichi dan menyandarkan punggungnya pada tembok. "Bocah detektif, cobalah berpikir. Apa yang membuat Shiho merahasiakan ini darimu?"
"Aku tidak tahu, makanya aku bingung."
Shuichi menghela napas pelan. "Waktu-waktu dulu, apa kau pernah menyakitinya?"
"…" Shinichi tampak berpikir. "Kurasa tidak."
Anggota FBI itu mengerutkan keningnya sedikit. Sungguh, dia tidak mengerti jalan pikiran seorang wanita. Sudah jelas-jelas pemuda di depannya ini akan cukup berguna, namun kenapa Shiho merahasiakan ini darinya? Tindakan yang bodoh, bukan?
"Ah, dia pernah marah sekali padaku," ucap Shinichi memecah keheningan.
"Ceritakan," perintah Shuichi.
"Aku sengaja menghentikan Hakuba yang akan mencium Shiho. Setelah itu dia marah tidak jelas padaku. Aku sudah berusaha minta maaf padanya, namun tidak digubris."
"…"
"Lalu saat dia bertanya kenapa aku melakukan hal itu, aku jawab dengan jujur. Kemudian dia menamparku! Dan berkata sesuatu seperti tidak peka—atau apalah itu, aku tidak terlalu mengerti," ucap Shinichi berusaha mengingat-ingat.
"Tapi beberapa waktu kemudian tampaknya dia sudah memaafkanku. Walaupun aku tidak yakin ini berhubungan dengan kasus sekarang, namun setidaknya waktu itulah dia benar-benar marah padaku," lanjut Shinichi.
"Tunggu. Memang apa alasanmu menghentikan bocah pirang itu mencium Shiho?" tanya Shuichi.
Ditanya seperti itu, Shinichi merengut. "Aku hanya tidak suka, itu saja."
Shuichi tampak berpikir. "Kau benci pada bocah pirang itu?"
"Tidak, tidak. Walaupun dia menyebalkan tapi aku tidak membencinya."
"Lantas kenapa kau tidak suka? Bukankah mereka pasangan yang cocok," ucap Shuichi memancing.
"…"
"…"
"… aku tidak tahu. Dalam diriku aku hanya tidak terima jika itu terjadi."
"…"
PLAK
Shinichi berdiri dan tampak marah. "Hei! Apa-apaan itu?!"
"Jika aku yang menjadi Shiho, aku tak segan-segan untuk membunuhmu."
"Hah?"
"Kau pikir kenapa kau tidak suka jika ada pria lain mendekati Shiho?"
"Aku tidak tahu! Sudah kubilang aku tidak tahu!" teriak Shinichi.
"Bodoh!"
"…" Shinichi menggertakkan giginya.
Shuichi menghela napas keras. "… kurasa aku sudah tahu penyebabnya."
"Apa? Apa maksudmu?"
"…"
Shuichi memandang bocah detektif itu selama beberapa saat. Konflik cinta remaja yang berhubungan dengan kasus organisasi dan FBI itu sangat menyebalkan dan merepotkan. Tapi bagaimana lagi, tokoh utama pemegang kunci memang adalah para remaja ini.
"Dengar. Sampai kau tahu apa alasanmu berbuat begitu pada Shiho, katakan itu padaku dan kau akan kuikutsertakan dalam kasus ini," ucap Shuichi. "… tanpa sepengetahuan Shiho, tentu saja."
"… kalau Shiho tidak perlu tahu, kenapa tidak sekarang saja kau katakan padaku kasusnya?"
"Kau perlu tahu salahmu dan apa yang terjadi dengan dirimu." Shuichi memandang tajam dan dingin sebelum dia meninggalkan Shinichi.
Kenapa kau harus menyukai bocah ini, Shiho? Merepotkan sekali, batin Shuichi.
xxxxx
"… jadi Hattori, kau ada pendapat tentang ini?" tanya Shinichi.
"Hmm … aku juga tidak terlalu mengerti, Kudo. Sungguh masalah yang aneh," ucap suara baritone di seberang telepon.
"Kira-kira salahku apa? Aku sangat penasaran dengan kasus itu, tapi Akai-san berkata aku harus tahu salahku apa dan apa yang terjadi dengan diriku. Ah! Sial!" Shinichi berteriak frustasi.
"Sabar, Kudo, sabar," Heiji memandang langit-langit kamarnya yang putih. "Aku juga tidak terlalu mengerti soal wanita. Kenapa kau tidak tanya saja dengan kekasihmu atau yang lain?"
"Ran, kah?" ucap Shinichi menerawang.
"Kenapa, Kudo? Ada masalah juga dengan kekasihmu?"
"Tidak, tidak juga."
"… atau kau bisa bertanya pada ayah ibumu. Mereka pasti mempunyai pengetahuan yang lebih luas dari kita, kau tahu."
"Baiklah, akan aku pikirkan lagi. Terima kasih, Hattori!"
"Oke!"
Jari Shinichi menari dengan lincahnya di keypad touchscreen handphone miliknya. Nomor yang sudah sangat dia hapal tersebut langsung diketiknya dan dipanggilnya.
"Halo, ibu?"
xxxxx
Shinichi tidak bisa tidur untuk kesekian kalinya.
Dia gulingkan tubuhnya ke sana ke mari, tapi tidak ada perubahan bahwa dia akan mengantuk dan menutup matanya. Pemuda itu mengerjap-ngerjap kesal. Matanya sudah merah ingin segera istirahat!
Kenapa, kau tanya?
Jawaban dari ibunya empat hari yang lalu membuatnya tersiksa.
Sewaktu Shinichi bercerita semuanya, tanggapan dari ibunya hanyalah tertawa. Ibunya kemudian tampak berbicara kepada ayahnya, dan kemudian ayahnya tertawa juga. Merasa kesal, Shinichi bertanya secara gamblang sebenarnya ada apa dengan dirinya.
Dan, dengan nada santai ibunya menjawab.
Bahwa dia—Shinichi, menyukai Shiho.
Jantungnya seakan berhenti berdetak.
Shinichi menyukai Shiho, sahabatnya?
Dan ada indikasi juga kalau Shiho juga menyukainya? Shiho yang berniat move on darinya dibuat bingung karena sikapnya yang menghentikan ciuman Saguru waktu itu? Itukah sebab Shiho marah?
Shinichi langsung membantah. Bagaimana tidak, Shiho tidak pernah mengeluarkan ekspresi apapun—dan bahkan menggodanya tentang Ran. Sementara dia sendiri sudah berpacaran dengan Ran.
Itu adalah takdir yang diterimanya sekarang.
Di seberang sana, jawaban ayahnya sangat masuk ke dalam pikirannya sekarang.
"Sebenarnya tidak ada yang ditakdirkan. Kita bisa mengubah segalanya sendiri, Shinichi." Dengan santai dan tertawa ayahnya berkata begitu, diiringi dengan suara ketikan keyboard—tampaknya Yusaku sedang menulis naskah.
Mengubah takdir?
Tidak, tidak, tidak. Itu tidak semudah membalik telapak tangan! Perlu perjuangan keras, dan juga kesakitan dari cemooh lingkungan semisal mereka tidak menerima pilihan yang dia tuju.
Ya, seperti sekarang ini. Kalau dia memilih Shiho, bagaimana dengan Ran?
Shinichi tahu Ran sangat mencintainya. Dia dengan tegar menunggu Shinichi saat Shinichi masih dalam wujud Conan. Sikapnya yang selalu percaya dan menghargai apa yang Shinichi katakan dan lakukan, adalah hal yang jarang kau temui di gadis manapun.
Tapi, Shinichi akui, semakin hari rasanya hubungan mereka semakin hambar. Dia senang sekali bisa bertemu Ran dalam wujud aslinya—saat semuanya telah selesai. Dia sangat bahagia. Awalnya berjalan biasa, namun akhirnya menjadi tidak biasa.
Setelah pengganggu bernama Saguru Hakuba masuk dalam kehidupan Shiho, sahabatnya.
Dia sudah merasa cukup senang. Berangkat bersama Shiho—yang notabene tetangganya, bercanda bersama. Kemudian pulang dan mungkin dilanjutkan dengan kencan bersama Ran, kekasihnya.
Tapi saat Saguru menjadi dekat dengan Shiho, Shinichi mulai merasa kehilangan.
Dia tidak tahu kenapa, tapi semenjak itu terjadi Shinichi menjadi sering gelisah dan tidak menghiraukan Ran. Dia sering melamun bahkan saat dia hanya berdua dengan Ran. Ran sebenarnya cukup marah namun selalu ditahannya, berpikir bahwa dia percaya Shinichi hanya mencintainya seorang.
Tapi, kembali pada Shinichi sendiri.
Shinichi menyukai Shiho, dan Shiho menyukai Shinichi.
Saling menyukai, bukankah itu indah?
"…" mulut Shinichi menganga sedikit, menampakkan ekspresi seperti apakah-aku-siap-mengambil-resiko?
KRUUK
Ah, Shinichi lapar.
xxxxx
TING TONG
"Hakaseee! Aku lapar! Tolong buka pintunya!" teriak Shinichi dari luar.
CKLEK
"Bahkan seorang detektif pun tidak bisa memasak? Payah."
"…" Shinichi terdiam melihat sosok yang ada di depannya.
"Aah, Shinichi-kun! Aku ada sisa kare di panci, kalau kau mau makanlah," ucap—teriak Hakase dari ruang yang agak jauh.
Pria serba hitam itu tertawa sinis, sebelum kemudian dia mempersilakan Shinichi masuk dan makan malam di situ.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Shinichi sembari makan. Dia duduk di depan televisi dengan agen FBI itu di sampingnya.
"Tidak ada alasan khusus. Kadang-kadang aku akan ke sini untuk memastikan Hakase baik-baik saja. Dan kau tahu itu perintah dari siapa," ucap Shuichi mendengus pelan.
"Hmmm," sahut Shinichi mengerti.
Keheningan yang tidak begitu awkward menyelimuti kedua pria ini. Selain suara televisi yang kelewat ceria dan suara sendok garpu yang berdentang melawan piring milik Shinichi.
Setelah Shinichi selesai makan, dia tidak langsung pulang dan tidur, namun dia masih terjaga di samping Shuichi. Hakase sudah pamit tidur duluan sesaat setelah Shinichi membereskan piringnya.
"Tidur sana," perintah Shuichi minum kopi hitam kalengan.
"Kau tidak berubah ya, dari dulu sukanya minuman yang begitu," ucap Shinichi sweatdrop.
"…"
"… aku …" Shinichi mendongakkan kepalanya ke atas—menatap langit-langit tembok.
Shuichi sedikit melirik Shinichi yang sepertinya sudah mendapatkan jawaban atas masalahnya.
Shinichi menutup matanya sesaat.
Kemudian dia membukanya lagi dan menatap Shuichi lurus.
"Ijinkan aku ikut dalam kasusmu, Akai-san."
"Kau tahu syaratnya apa," jawab Shuichi balas memandang.
"Ya, aku tahu," ucap Shinichi tegas. Dia menghela napas sejenak sebelum memantapkan hatinya—inilah yang dia pilih.
"…"
"Aku bersalah karena membuat perasaan Shiho bingung. Sikapku terhadap Hakuba selama ini adalah cemburu."
Shuichi tersenyum remeh.
"Aku akan membantu Shiho keluar dari kasus ini. Aku tidak akan membuatnya bingung lagi, aku berjanji."
"Kau berani berkata begitu sementara kau sudah punya seorang kekasih."
"Ran … baiklah," Shinichi tampak sedikit gusar namun akhirnya dia melanjutkan. "Aku akan mengurus itu nanti."
"Satu hal lagi yang belum kau jawab," ucap Shuichi menggantung. "Apa yang terjadi pada dirimu?"
Shinichi menatap Shuichi dalam diam, sebelum akhirnya dia berkata dengan tegas dan membuat anggota FBI itu tersenyum puas.
"Aku menyukai Shiho."
To Be Continued
[A/N]
Dengan muka tanpa dosa, saya melanjutkan fic saya ini. *nangis
Hampir terlupakan, namun masih terjaring dalam ingatan saya :"""D /apasih
Yang lupa sama ceritanya dipersilakan baca chapter sebelumnya /dor
Aku membuat hampir 4000 kata looh. Duh tangan ini keritings :""D
Kukira usia fanfic ini tidak terasa akan berakhir di dua atau tiga chapter ke depan. Maukah kalian stay tune?
Doakan juga tidak molor :"""D
Maaf belum bisa bales review :""D
Many thanks and big hug for:
Renesmee, iamxxxxx, Thehollowheart, aishanara87, Deauliaas, shinichi.kudosaki, Eunike Yuen, Kudou Aichi, Tazkia, Vermthy, Izza muhana, fujisaki eja, Sodako Yamamura, aii misaki, chapter 9, pipipiaaaa, Vivanne, silent reader, Guest, wirna, IchikawaMitsu, Hai Miyano, Sherry Scarlet, dan Guest.
Hargai kerja keras Author dengan review :)
