Sex and Love

By : Han Kang Woo

Cast : Xi Luhan, Oh Sehun, Do Kyungsoo, Kim Jongin, etc

Main Cast : HunHan, 'slight' Kaisoo

Genre : Romance, Drama

Warning : BL (Boys Love), Adult (No Children), 18+

Banyak Typo dan Adegan Mesum

Rated : M+

DLDR

= Happy Reading =

O…O…O…O…O…O…O…O…O

"aku adalah pacar Sehun… dia milikku. Kami saling mencintai"

"apa?"

Jder…

Luhan keceplosan, dan membeberkan kisah cintanya pada pada calon istri Sehun dan ayahnya.

Ayah Gayoung langsung melotot pada Luhan, terus memberikan pandangan mengintimidasi, dia tidak langsung percaya pada pengakuan Luhan tersebut,

"kau jangan main-main anak muda, tidak mungkin Sehun berpacaran denganmu. Sehun hanyalah milik anakku" ujar ayah Gayoung, membentak.

Sedangkan Gayoung yang sejak tadi kegirangan, langsung berganti ekspresi. Pengakuan Luhan membuatnya shock, kaget, ingin mati dan bunuh diri.

Luhan terdiam, sebenarnya ingin melanjutkan kalimatnya, tapi dia memikirkan Sehun, dia tidak ingin Sehun mendapatkan masalah. Namun tentu saja pengakuannya sudah terlanjur keluar.

"apa benar semua itu Sehun? katakan…" kali ini ayah Gayoung berganti memandang Sehun,

Sehun yang sejak tadi terduduk dengan ditopang oleh lututnya, mendadak berdiri, dia langsung memegang tangan Luhan erat,

"ya, kami berpacaran. Dan aku tidak akan menikah dengan Gayoung" tegas Sehun, menampilkan wajah poker face pada Gayoung dan ayahnya.

Deg

Kalimat Sehun itu semakin menegaskan pengakuan Luhan. Bahwa mereka memang sepasang kekasih.

"oppa, kenapa… kenapa… kenapa oppa lebih memilih namja itu dari pada aku… kenapa?" Gayoung mendadak histeris, dia ingin berguling seperti cacing ditanah, namun dicegah oleh ayahnya,

"tenanglah sayang, tenang…" ayah Gayoung berusaha menenangkan anaknya yang seperti kena gorok dileher itu.

Sehun masih memegang tangan Luhan,

"karena aku mencintainya… dan aku sama sekali tidak mencintaimu" tegas Sehun lagi. Luhan yang ada disampingnya tidak mampu berkata apa-apa, namja China itu tegang bukan main, namun dalam hatinya dia tersenyum, karena Sehun jujur mengenai cintanya.

Luhan akan siap menerima konsekuensi apapun atas kejujurannya bersama Sehun itu.

Ayah Gayoung terus berusaha menenangkan anaknya,

"Sehun, apa yang kau katakan… apa kau mabuk, hah… appamu dan aku sudah sepakat menikahkan kalian, perjodohan ini sudah direncanakan jauh-jauh hari. Dan sekarang kau lebih memilih pemuda tidak jelas itu dibanding anakku, menjijikkan" ayah Gayoung meludah ke tanah.

"jangan menghina Luhan, asal ajuhsi tahu… aku tidak pernah menerima perjodohan ini. aku tidak pernah mengucapkan kata 'ya', ajuhsi sendiri yang terus memaksa appa untuk menikahkanku dengan anak ajuhsi. Dan appa terpaksa menerimanya…" jelas Sehun, membeberkan semuanya.

Gayoung yang sejak tadi seperti yeoja kehabisan obat, mendadak berdiri dan memandang Sehun dengan pandangan menusuk,

"oppa harus menikah denganku, karena aku sedang hamil anak oppa…" kata Gayoung, teler.

Deg

Semua yang ada disana kaget bukan main, termasuk ayah Gayoung sendiri, yang tidak tahu jika anaknya hamil sebelum menikah.

"benarkah itu sayang?"

"iya, appa… aku hamil, anak Sehun oppa… dia harus bertanggung jawab" teriak Gayoung, dimana teriakannya itu bisa menarik perhatian warga sekitar.

Luhan langsung memandang Sehun, dia menggeleng pelan, berharap salah dengar.

"benarkah itu Sehun-ah?" tanya Luhan, mengharapkan penjelasan.

Karena selama ini, sebelum menerima cinta Sehun, dia menganggap namja itu adalah seorang playboy. Dan pemerkosaan yang dilakukan Sehun waktu di hutan itu semakin membuatnya takut, siapa tahu saja Sehun sering melakukan itu pada orang lain, terutama yeoja… yang bisa berujung kehamilan.

Sehun menggeleng cepat, dia menatap mata Luhan yang sudah berkaca-kaca,

"itu tidak benar, dia bohong" kata Sehun, lalu memegang tangan Luhan, erat.

Luhan mendesah, tidak tahu harus menimpali apa, dan sepertinya dia harus merelakan Sehun-nya menikah dengan orang lain.

"aku tidak bohong… aku hamil… hamil…" Gayoung terus berteriak, seperti orang gila yang putus asa.

Sehun melepaskan pegangan tangannya pada Luhan, kemudian menunjuk wajah Gayoung,

"kau bohong, kita tidak pernah melakukan itu… hamil adalah alasan klasik yang sering dilontarkan oleh yeoja sepertimu dalam kondisi terdesak… agar dinikahi. Aku prihatin denganmu" ucap Sehun, mendengus.

Gayoung ingin menimpali dengan jurus berteriak lagi, namun suaranya diblokir oleh kedatangan 5 warga, termasuk Kwanghee.

"bagus sekali… berteriak hamil didesa ini, hamil dan belum menikah. Betul-betul mengotori desa…" kata salah satu warga yang baru datang itu,

"ya, dan kami minta kau pergi dari desa ini" timpal warga lainnya, sambil menunjuk Gayoung.

Gayoung yang ditunjuk dan suruh pergi itu mendadak menciut, dia merapatkan diri pada ayahnya, seperti biasa.

Ayah Gayoung memegang lengan anaknya, kemudian mengangkat satu tangannya,

"tenang.. tenang semuanya, ini bisa dibicarakan baik-baik" kata ayah Gayoung, menyesalkan dalam hati anaknya yang berteriak hamil ditempat terbuka.

"apanya yang harus dibicarakan, kami sudah mendengar sendiri anakmu berteriak dia hamil, dan belum menikah… dan sesuai adat desa turun temurun, warga desa yang berbuat mesum, seks, hamil diluar nikah, dan sejenisnya… harus pergi dari desa ini" ujar warga lagi.

Ya, kebiasaan warga desa Jacheon seperti itu, akan mengusir warga yang dinilai menyalahi adat desa, dan contoh terakhir yang terusir adalah Jongin dan Kyungsoo.

Ayah Gayoung terus berusaha mengambil alih keadaan,

"tenang, aku minta maaf… anakku memang hamil, tapi dia akan segera menikah, menikah dengan orang yang menghamilinya, Sehun. jadi desa tidak akan ternodai"

Warga desa saling pandang, berdiskusi acak, berbisik-bisik, menimbang perkataan ayah Gayoung itu. Cepat terpengaruh.

Luhan merapatkan dirinya pada Sehun, dia takut dengan tingkah warga desa yang terlihat anarkis. Sehun memegang lengannya pelan, menenangkannya.

"tenanglah Luhan-ah, kau tidak akan disakiti oleh warga desa, selama masih ada aku" gumam Sehun pada Luhan.

"aku memang sedikit takut, bagaimana jika kita dibakar hidup-hidup. Warga desa sini sudah tahu hubungan kita kan?" Luhan memelankan suaranya.

"tidak, warga desa belum tahu, hanya Gayoung dan appanya saja yang tahu. aku yakin dia tidak akan membeberkannya pada warga desa. Anaknya juga dalam bahaya" Sehun meyakinkan dan menenangkan Luhan.

"semoga"

Kwanghee yang sejak tadi berada diantara warga, langsung maju dan menunjuk Sehun dan Luhan,

"dan bagaimana dengan kedua namja ini? mereka saling mencintai… mereka sebaiknya diusir dan pergi jauh dari desa ini" seru Kwanghee,

Warga desa yang berdiskusi sejenak menghentikan kegiatannya itu, mereka memandang Sehun dan Luhan bergantian. Namun ayah Gayoung kembali mengambil alih situasi, dia memanfaatkan kelebihan beretorikanya lagi,

"tidak, Sehun akan tetap tinggal. Dia adalah calon menantuku" kata ayah Gayoung, semuanya dilakukan demi anaknya.

"tapi…"

"kau jangan ikut campur. Pulanglah…" ayah Gayoung menyambar bahu Kwanghee, dan membuat namja itu mundur dengan sedikit terhuyung,

Warga desa tidak ada yang berkata lagi, sepertinya mereka mengikuti kata-kata ayah Gayoung, dan tidak akan ada yang diusir untuk sementara ini.

"Sehun dan temannya akan tinggal dirumahku. Aku akan membuat pesta yang meriah… kalian semua akan menikmati pesta itu" seru ayah Gayoung pada warga yang ada,

Warga desa mengangguk, saling pandang dan kemudian tersenyum.

Gayoung juga tersenyum, dia mengatup kedua tangannya, beraegyo, sudah tidak sabar ingin menjadi istri seorang Oh Sehun. ingin malam pertama segera.

Beberapa saat kemudian, warga desa bubar dan kembali beraktifitas seperti biasa. Dan meninggalkan Luhan, Sehun, Gayoung dan ayahnya.

"kalian berdua ikut aku, dan jangan macam-macam…"

.

.

.

.

'brakkkk…'

Pintu gudang tertutup dengan keras, pelakunya adalah dua pembantu kepercayaan ayah Gayoung, mereka diperintahkan untuk mengurung Sehun dan Luhan digudang belakang rumah.

Terdengar suara Gayoung dan ayahnya diluar sana,

"appa, kenapa appa mengurung Sehun digudang? Seharusnya Sehun oppa dikurung dikamarku saja. dan namja yang satunya lagi sebaiknya dikurung disumur tua… ihh… appa" kata Gayoung, manja lebay.

"susah mengurung pemuda itu terpisah, sulit menjaganya. Jalan terbaik adalah mengurungnya dalam satu ruangan" jawab ayah Gayoung, menenangkan anaknya. Istrinya sudah lama meninggal, jadi hanya Gayoung saja yang dipunyainya sekarang. Dia belum berniat menikah lagi.

"bagaimana jika mereka berdua melakukan sesuatu… mereka satu ruangan appa"

"tidak mungkin… tenang saja"

"appa.. ahh.."

"kenapa kau tidak memberitahu appa kalau kau hamil?"

"aku takut appa"

"seharusnya kau mengakuinya pada appa terlebih dahulu, appa tidak akan marah… dan sekarang warga sudah mengetahuinya, keluarga kita sudah tercoreng karena ini"

"maafkan aku appa"

"tidak apa-apa sayang, semua sudah terjadi. Kau akan bahagia, Sehun akan menjadi suamimu yang sah"

"terima kasih appa"

Dan ayah dan anak tersebut meninggalkan tempat tersebut dan masuk kedalam rumah mereka. Gayoung bersuka cita sekarang.

.

.

.

.

Disinilah Sehun dan Luhan, disebuah gudang. Dimana isi gudang itu didominasi oleh karung-karung berisi gabah, padi dan sejenisnya.

Luhan dan Sehun duduk meringkuk disalah satu sudut gudang itu, sejak tadi Sehun sudah berusaha mencari jalan keluar, namun nihil. Mereka sulit keluar dan jalan satu-satunya adalah hanya dipintu yang harus terbuka.

Sehun merangkul bahu Luhan, erat.

"maafkan aku Luhan-ah, aku membuatmu menderita disini… maaf" kata Sehun, pelan.

"bukan salahmu, aku yang meminta untuk ikut denganmu. Kau tidak salah apa-apa" timpal Luhan, menyandarkan kepalanya pada bahu Sehun.

Keadaan sudah hampir malam, jadi sudah beberapa jam lamanya Luhan dan Sehun dikurung didalam gudang milik ayah Gayoung.

"Sehun-ah, kau benar-benar tidak pernah melakukannya dengan yeoja itu kan?" tanya Luhan, hal yang selalu mengusik pikirannya sejak tadi.

"tentu saja tidak… aku bersumpah, aku tidak pernah melakukan itu padanya" Sehun mengangkat telapak tangannya keudara,

Luhan tersenyum, dia hanya ingin kepastian saja, supaya hatinya tidak resah dan gelisah.

"tenanglah, semua akan baik-baik saja…" Sehun menenangkan Luhan lagi,

Dan kemudian, tiba-tiba pintu mendadak terbuka dengan pelan, menampilkan sosok namja yang berjalan seperti bayangan,

Sehun memperhatikan sosok yang muncul dari pintu itu, bukan Gayoung, bukan pula ayahnya.

"Kwanghee hyung…"

Sehun langsung mengenali namja itu, Kwanghee.

Sosok yang memang adalah Kwanghee itu menempelkan telunjuknya dimulut, menyuruh Sehun tidak ribut. Namja itu memegang kunci besar yang digunakannya untuk membuka pintu gudang milik ayah Gayoung.

"kalian berdua lekas pergi, tinggalkan desa ini… pergilah jauh" kata Kwanghee, pada Sehun dan Luhan,

Sehun ingin menimpali, namun Kwanghee kembali melanjutkan kalimatnya,

"aku bukannya menyelamatkan kalian, hanya saja aku ingin kalian pergi dari sini" lanjut Kwanghee,

"tapi bagaimana kami bisa melewati penjagaan dipintu depan?" tanya Sehun.

"tenang saja, aku sudah membuat mereka mabuk, penjaga itu mungkin sudah teler dan tidur sekarang" jawab Kwanghee, tanpa ekspresi.

"kenapa hyung melakukan ini? kenapa hyung ingin kami pergi dari sini?" tanya Sehun lagi, masih penasaran. Karena tadi siang Kwanghee juga ingin warga desa mengusir dirinya dan Luhan.

Kwanghee tidak langsung menjawab, namja itu menoleh kearah pintu, dan kemudian memandang Sehun lagi,

"karena aku yang harus menikahi Gayoung, bukan kau" jawab Kwanghee,

Sehun sejenak terkaget, namun kemudian tersenyum pada Kwanghee,

"hyung mencintai yeoja itu?"

"tidak"

"kenapa hyung ingin menikahinya?"

"karena…"

Kwanghee terdiam sejenak lagi, menimbang-nimbang apakah akan jujur atau tidak, dan kemudian memutuskan untuk jujur.

"karena anak yang dikandung Gayoung adalah anakku" jawab Kwanghee, memperjelas semuanya.

Deg

"benarkah? hyung yang memperkosa Gayoung?" mata Sehun membelalak, tidak terkecuali Luhan disampingnya,

"bukan memperkosa. Yeoja itu yang memintaku untuk melakukannya. Kami melakukannya sebanyak dua kali. Tapi yeoja itu mempunyai motif tersendiri. Dia ingin hamil, dan kehamilannya itu digunakan senjata agar kau menikahinya" ungkap Kwanghee lagi.

Sehun dan Luhan menarik nafas bersamaan, terutama Luhan, namja china itu memperlihatkan kelegaan yang sangat, pengakuan Kwanghee membuatnya semakin tenang. Sehun-nya sama sekali tidak pernah berhubungan seks dengan yeoja yang bernama Gayoung.

Sehun sudah bisa menduga bahwa Gayoung bohong, yang ternyata yeoja itu hamil anak Kwanghee.

"bagaimana hyung bisa menikahi Gayoung? Sedangkan yeoja itu sangat ingin menikah denganku?"

"itulah sebabnya aku menginginkan kau pergi dan tidak kembali lagi. Kau sudah tidak ada kepentingan disini lagi, appa angkatmu juga sudah meninggal. kau memang sudah seharusnya pergi dari sini" jelas Kwanghee.

"…"

"dan dengan kepergianmu, Gayoung dan appanya tidak ada pilihan. Aku akan menawarkan diri sebagai panggantimu, calon suami yeoja itu. Mereka pasti akan setuju" lanjut Kwanghee.

"…"

"aku tidak ingin orang lain menjadi appa atas anakku. Aku sendiri yang akan menjadi appanya. Appa anak yang ada dikandungan Gayoung" Kwanghee mengakhiri penuturannya.

Sehun mengangguk pelan, dia menoleh dan memandang Luhan, lalu memegang erat tangan namja China itu. Dia sudah paham dengan semua yang dikatakan oleh Kwanghee.

"kami akan pergi sekarang…" Sehun berdiri, menarik Luhan pelan untuk ikut berdiri.

Kwanghee tidak menimpali, namja itu menampilkan ekspresi datarnya.

Sehun dan Luhan membungkuk bersamaan, kemudian berjalan dan meninggalkan gudang tersebut, meninggalkan Kwanghee sendirian.

"terima kasih hyung" Sehun menggumam, melambaikan tangannya, dan menghilang dibalik pintu gudang, bersama Luhan.

Pelarian berhasil…

.

.

.

.

O…O…O…O…O

Jongin dan Kyungsoo tidur dikamar kos mereka. Hari sudah malam. Dan kedua namja itu memutuskan tidur lebih awal, jam 9 malam. Mereka sengaja tidur lebih cepat untuk menghindari rasa lapar malam-malam. Mereka memang bertekad akan menghemat dulu, sebelum Jongin mendapatkan pekerjaan perdananya. Dan tentu saja bukan pekerjaan sebagai gigolo.

Namun, tidur Kyungsoo mendadak terganggu, karena disebelah kamarnya kembali terdengar suara-suara mendesah dan menjerit-jerit,

"ahh… aww… ahh… jangan masukkan jarimu bersamaan dengan penismu itu… sakit… ahhh…"

Kyungsoo terbangun, sudah 3 hari ini selalu terganggu dengan kegiatan seks yang dilakukan oleh tetangga kamar kosnya.

"kau terbangun lagi?" tanya Jongin, memegang tangan Kyungsoo pelan.

"ya, seperti biasa, mereka terlalu ribut melakukan itu, padahalkan bisa dilakukan dengan santai" timpal Kyungsoo. Dia memang sangat tidak setuju dengan kegiatan seks yang terlalu heboh, atau diheboh-hebohkan, kegiatan seks bukanlah syuting gimmick yang harus menjerit berlebihan, mendesah berlebihan, yang seperti video JAV Jepang dimana para perempuannya akan selalu menjerit, padahal hanya disodok dengan penis kecil saja.

Jongin tersenyum, mengucek matanya, kemudian membelai pipi Kyungsoo.

"kalau begitu aku akan memelukmu sambil tidur" kata Jongin,

"baiklah" Kyungsoo juga tersenyum, kemudian tidur kembali, menggulung dirinya dan merapat pada Jongin.

Jongin memeluk Kyungsoo, menyandarkan kepala namja kecil itu didadanya.

"seharusnya kau menempati tempat yang layak Kyungsoo-ya, bukan tempat seperti ini… maafkan aku" gumam Jongin pelan.

"sudahlah Jongin-ah, jangan katakan itu lagi. Aku akan selalu bahagia, asal bersamamu" Kyungsoo balas menggumam, dia bisa mendengar detak jantung Jongin ditelinganya.

"aku tahu… tapi aku merasa bersalah padamu. Seharusnya aku bisa menjadi namja yang memenuhi kebutuhanmu, lahir dan batin"

"kau sudah memenuhi semuanya. Kau namja yang hebat dan bertanggungjawab"

"terima kasih Kyungsoo-ya"

"dan juga mudah tergoda dengan janda Jepang" Kyungsoo bercanda. Kemudian tertawa pelan.

Suara lenguhan dan desahan masih terus terdengar, namun… suara itu terkalahkan oleh suara ketukan pintu yang sangat keras dan kasar.

'tokk.. tokk… tokk'

Kyungsoo dan Jongin terkaget, pintu kamarnya diketuk dengan membabi buta, padahal hari sudah malam.

"tunggu disini, aku akan membuka pintu" kata Jongin, lalu beranjak pelan.

"aku ikut" Kyungsoo juga beranjak, mengikuti Jongin-nya.

Dua namja itu berjalan menuju pintu. Jongin membuka pintu perlahan, dan sosok besar gemuk 'teronggok' tidak elit didepan pintu kamarnya.

Sosok itu adalah sang pemilik kos, ajuhma gendut dan tidak seksi.

"heii… kalian berdua… malam ini juga keluar dari tempat ini" seru si pemilik kos, to the poin, tanpa basa-basi.

Jongin dan Kyungsoo tersentak, mereka kaget. Namun Jongin berusaha menormalkan keadaan,

"maaf ajuhma… ini ada apa? kenapa kami harus keluar?" tanya Jongin,

"karena kau… kau Jongin, karena kaulah aku merugi. Kau meninggalkan wanita Jepang itu, padahal kau sudah setuju untuk melayaninya" jawab si pemilik kos lagi,

"maaf ajuhma, tapi… aku memang seharusnya…"

"keluar sekarang, aku tidak ingin mendengarkan pembelaan, aku rugi… sangat rugi. Aku juga harus mengganti biaya perbaikan pintu yang dirusak oleh temanmu ini" pemilik kos langsung menunjuk wajah Kyungsoo, kemudian berkacak pinggang.

"tapi…"

"tidak ada tapi tapi… keluar sekarang… keluar, pergi dari sini, sebelum aku panggil preman gang dan menyeret kalian keluar" teriak si pemilik kos, sangat keras.

"baiklah, kami akan keluar" Kyungsoo yang menimpali, memberikan pandangan ala Satansoo pada tante pemilik kos, kemudian masuk dan mengemasi barang-barangnya.

"tapi Kyungsoo-ya… kita belum sebulan…" Jongin mengikuti Kyungsoo,

"tidak apa-apa Jongin-ah, memang sebaiknya kita pergi dari sini" timpal Kyungsoo, terus melanjutkan berkemas.

Jongin mendesah pelan, tidak ada pilihan lagi, dia juga ikut berkemas.

Dan beberapa saat kemudian Jongin dan Kyungsoo sudah menenteng tas ditangan masing-masing, mereka berdua memakai jaket tebal, karena udara diluar sana sangat dingin.

Si pemilik kos masih berkacak pinggang, posisinya disamping pintu.

Kemudian terdengar suara-suara gaduh, pintu tetangga kamar Kyungsoo dan Jongin terbuka, seorang pria tua jelek keluar dari sana, dengan bertelanjang dada, sambil membawa pakaian dan sepatunya yang belum dikenakan,

"sana pergi, sialan… mau enak, tapi tidak ada uang… aku bukan barang gratisan…" teriak yeoja yang muncul dipintu, melemari si pria tua dengan bungkusan kondom, kemudian menutup lagi pintu kamar kosnya lagi.

'brakkk'

Kyungsoo dan Jongin yang masih ada didepan pintu perlahan mematung, memandang pria tua yang pergi tanpa menoleh.

"apa yang kalian lihat, pergi…" ibu kos membentak Jongin dan Kyungsoo, tidak memperdulikan anak kosnya yang baru saja mengusir 'tamu' yang tidak berduit. Karena memang tempat disekitar situ adalah sarang prostitusi.

Kyungsoo dan Jongin tanpa mengucapkan kata apa-apa langsung pergi, mereka melangkahkan kakinya dan menyusuri jalan sempit di gang tersebut.

Ini adalah kali keduanya mereka terusir.

Again…

.

.

.

.

"kita mau kemana Jongin-ah?" tanya Kyungsoo, menggigil kedinginan. Baru saja dia dan Jongin dipanggil dan diteriaki oleh yeoja seksi disepanjang jalan. Bahkan ada yeoja yang memperlihatkan celana dalam pinknya dan 'susu menggantung' untuk menarik minat namja yang melintas.

"aku tidak tahu" jawab Jongin pelan, dia merangkul Kyungsoo dan memberikan rasa sangat pada namja bermata owl itu.

Mereka sudah melewati gang 'vagina street', dan kini mereka sudah berada disamping jalan raya yang sudah ramai dengan berbagai kendaraan yang berlalu-lalang.

Jongin dan Kyungsoo memang tidak tahu kemana mereka akan pergi, dua namja itu hanya bisa melangkah tanpa arah tujuan yang jelas.

Kyungsoo dan Jongin sejak dahulu sudah siap dengan semua konsekuensi hubungan cinta mereka. Hubungan yang selalu mendapatkan kerikil tajam didalamnya. Mereka siap hidup miskin dan sengsara, asalkan mereka terus bersama, bersama hingga ajal menjemput mereka.

Tidak terasa air mata Kyungsoo menetes, dia langsung menghapusnya cepat.

"kau menangis?" tanya Jongin, kemudian memegang pipi Kyungsoo.

"ah, tidak. Mataku kemasukan debu" jawab Kyungsoo, lalu tersenyum bentuk love.

"maafkan aku Kyungsoo-ya, lagi-lagi ini terjadi karena kecerobohan dan ulahku. Andai saja aku tidak mengikuti kemauan…"

"sudahlah Jongin-ah, jangan menyalahkan dirimu terus. Malah aku yang merasa bersalah padamu, seharusnya kau masih bersama keluargamu, appamu. Hidup berkecukupan, tidur ditempat yang layak, makan enak dan…" Kyungsoo tidak mampu melanjutkan kalimatnya, dia cegukan.

Jongin menarik nafas pelan, kemudian memegang kedua bahu sempit Kyungsoo,

"aku akan jelaskan lagi padamu… aku sudah memilih. Memilih untuk hidup bersamamu, apapun keadaannya, sesuai janji kita bersama. Kita akan terus memperjuangkan cinta kita" jelas Jongin, seraya mengusap bahu Kyungsoo lembut.

Kyungsoo perlahan tenang, kalimat Jongin tadi memberikan energi baru untuknya. Tidak seharusnya dia gundah gulana seperti ini, dia sudah melewati banyak cobaan bersama Jongin, dan semua itu menempanya untuk menjadi orang yang kuat dan tegar.

"ayo kita cari tempat bernaung untuk malam ini, dan besok kita akan mencari tempat dan kamar sewaan yang baru" ucap Jongin, merangkul Kyungsoo lagi. Mereka memang harus berhemat, karena mereka hanya mempunyai uang pemberian Kyungwook saja.

"baiklah" Kyungsoo mengangguk dan tersenyum.

Dan kedua namja itu kembali melanjutkan perjalanan, entah kemana. Langkah kaki mereka akan menuntunnya.

Itulah hidup.

.

.

.

.

O…O…O…O…O

Sehun dan Luhan berhasil kabur dan keluar dari desa Jacheon. Semua berkat campur tangan Kwanghee, juga kondisi sekitar yang sudah malam, jadi mereka berdua tidak menemukan kesulitan yang berarti untuk keluar dari desa itu.

Dan kini, kedua namja yang sudah menjadi sepasang kekasih tersebut baru saja turun dari mobil. Kendaraan yang mereka sewa dengan harga tinggi untuk bisa sampai ke kota.

Sehun memegang tangan Luhan erat, memandang keadaan sekitar mereka.

"akhirnya kita bisa keluar dari desa itu" kata Sehun, masih memegang tangan Luhan.

"ya, tapi…" kalimat Luhan terhenti karena melihat mata Sehun yang berkaca-kaca, dia langsung mengusap punggung tangan namja cadel itu.

Sehun mendadak sedih lagi,

"aku… aku belum sempat melihat makam appa. Aku bukanlah anak yang baik" gumam Sehun, dia menyalahkan Gayoung dan ayahnya yang muncul bukan pada waktu yang tepat saat itu.

"aku tahu, tapi kapan-kapan kita bisa kesana dan melihat makam appamu" Luhan mencoba menghibur Sehun, dia paham dengan perasaan Sehun. dia juga baru saja kehilangan orangtua, ayah dan ibu sekaligus, dan tahu bagaimana sakitnya ditinggalkan oleh orang yang disayangi.

Sehun menggeleng pelan,

"kita tidak mungkin muncul disana lagi, sangat bahaya" kata Sehun, menatap mata rusa Luhan.

Luhan meng-iyakan pernyataan Sehun. mereka kesana sama saja dengan mencari mati. Warga tidak akan menerima mereka lagi, dan lagipula masih ada Gayoung dkk yang akan menghadang minta dinikahi.

Sehun tidak tahu apakah Kwanghee bisa meyakinkan ayah Gayoung untuk menikahi putrinya, sebagai pengganti atas dirinya yang sudah pergi. Karena memang Kwanghee-lah yang harus menikahi Gayoung, dia adalah ayah dari anak yang kini dikandung yeoja labil itu.

Sehun berusaha menegarkan dirinya atas kematian ayah angkatnya itu, dia sudah mencurigai satu nama, yaitu Youngmin, ayah kandungnya. dan berencana akan mencari tahu kebenaran itu,

Apakah benar Youngmin yang membunuh Kyungwook?

Apakah benar Jongin adalah saudara tiri (beda ibu) nya?

Sehun akan mencari tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, dan tidak lupa membantu Luhan untuk membalas kejahatan paman namja itu. Hari-hari Sehun kedepannya akan berbeda sepertinya, banyak yang harus diungkap dan dilakukan.

Luhan menatap jam tangannya, sudah pukul 10 malam.

"Sehun-ah, apakah kita akan kembali ke hotel?" tanya Luhan, saat melihat Sehun sudah tidak menampakkan wajah sedih lagi,

"entahlah, kalau menurutmu bagaimana?" Sehun tersenyum pada Luhan, memperlihatkan bahwa dia tidak apa-apa.

"kau sudah check out kan.."

"ya, aku sudah check out di hotel itu. Bagaimana jika kita cari hotel lain saja, disekitar sini" tawar Sehun,

"baiklah, terserah kau saja" Luhan tersenyum.

Luhan sangat bersyukur karena kartu ATM-nya tidak diblokir atau dibekukan oleh pihak bank. Mungkin saja pamannya tidak melapor ke bank, karena kematian Luhan hanyalah rekayasa belaka. Pamannya itu tidak mau mengambil resiko dengan melibatkan pihak luar, termasuk bank.

Luhan membalas pegangan tangan Sehun yang sejak tadi menggenggam tangannya, dia tidak risih diperhatikan oleh orang yang lewat. Kota Seoul memang terkenal dengan kebebasan, asal tidak merugikan orang lain saja.

"terima kasih Sehun-ah, kau memilihku dan mengabaikan yeoja itu" gumam Luhan, menyandarkan kepalanya dibahu Sehun,

Sehun tersenyum, lalu mengusap pelan rambut Luhan.

"sama-sama, aku hanya mencintaimu, tidak ada yang lain" balas Sehun.

Kedua namja itu berjalan bersama, malam ini mereka akan menginap di hotel, dan besoknya akan mencari sebuah apartemen untuk ditinggali berdua.

Luhan sudah akan memulai rencananya besok, dia terlebih dahulu akan mengajari Sehun mengenai silsilah keluarganya di China, mengajari sedikit bahasa China standart. Dan setelah semuanya siap, Sehun akan segera menjalankan aksi dan menyamar sebagai keluarga jauh ayahnya yang menetap di Korea Selatan.

Luhan dan Sehun masih terus berjalan, namun mata Luhan menangkap dua sosok yang seperti dikenalinya, dua sosok namja.

Dua namja itu terduduk disamping sebuah toko makanan yang sudah tutup. Yang satu merangkul yang lain, dengan posisi duduk, mirip berjongkok.

Luhan menghentikan langkahnya, lalu memandangi dua namja tersebut intens, maklum saja, posisi kedua namja itu bukan disamping jalan, namun lebih menjorok kedalam. Dan toko makanan yang tutup itu mempunyai pencahayaan yang minim.

"Sehun-ah, apa kau lihat dua namja itu?" tanya Luhan pada Sehun,

"yang mana?" Sehun juga menghentikan langkahnya,

"yang duduk berdua disana, sepertinya mereka tidur" jawab Luhan,

"mungkin mereka pengemis. Kau mengenalnya?" Sehun balik bertanya,

"aku seperti mengenali mereka, tapi aku lupa dimana" Luhan berpikir keras.

Sehun dan Luhan lebih mendekat kearah dua namja tersebut, mereka melangkah pelan dan mengamati wajah dua namja itu dari dekat.

Sehun langsung mengenali salah seorang namja itu, namja yang wajahnya terlihat jelas dibanding namja yang satunya,

Namja dengan bibir tebal bentuk love.

Sehun tertegun sejenak, mengamati lagi, dan dia yakin dengan penglihatannya.

"bukannya itu… Kyungsoo hyung…" seru Sehun,

Seruannya itu membuat dua namja tersebut terbangun, namja yang lebih kecil mengucek mata bulatnya, dan namja yang lebih tinggi membuka penutup kepala jaket tebalnya.

Dua namja itu memandang Luhan dan Sehun, dengan pandangan kaget dan tidak percaya.

"Sehun… Luhan… kalian…" kata dua namja nyaris bersamaan.

"Kyungsoo dan Jongin hyung" balas Sehun, yakin sekarang.

Ya, dua namja yang tertidur sambil duduk disamping toko yang tutup itu memang adalah Jongin dan Kyungsoo, mereka berdua sekarang bertemu dengan Sehun dan Juga Luhan.

"ya, Tuhan… aku tidak menyangka akan bertemu dengan kalian berdua disini" Luhan berseru, sangat senang.

Luhan langsung memeluk Kyungsoo, dan kemudian menjabat tangan Jongin.

"apa yang hyung berdua lakukan disini?" tanya Sehun.

"ah, kami… kami…" Kyungsoo menjawab dengan tidak jelas, dia melirik Jongin. tidak tahu harus menjelaskan apa.

Dan kemudian Sehun bertemu mata dengan Jongin. dia menahan nafasnya sebentar, kilasan pertemuan terakhirnya dengan ayah kandungnya alias Youngmin muncul, dan nama 'Jongin' terlintas lagi.

Sehun mendekati Jongin, seperti orang yang baru saja bertemu. Padahal mereka berdua sudah sangat akrab selama setahun terakhir di desa Jacheon

"aku ingin menanyakan sesuatu pada hyung" kata Sehun, tepat didepan Jongin.

Luhan dan Kyungsoo yang sejak tadi berpelukan seperti ibu muda yang baru saja menang arisan, lantas memandang Sehun dan Jongin secara bergantian, pandangan tidak mengerti.

"menanyakan apa?" tanya Jongin, tersenyum.

"apakah… hyung adalah…"

Sehun sejenak menghentikan kalimatnya, dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Masih ragu melanjutkan pertanyaannya.

Apakah namja cadel itu harus bertanya secepat ini? padahal mereka berdua baru saja bertemu lagi.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

O…O…O…O…O…O…O

Chapter 9 update… seperti biasa. Mudah-mudahan cerita FF ini masih bisa dinikmati ya, hehehe… chap depan Luhan sudah memulai pembalasannya, mungkin NC Hunhan juga. Aku tahu tidak semua suka dengan cerita FF seperti ini, termasuk dengan genre yaoinya. Jadi jika ada yang kurang suka dengan genre ini, anggap saja FF ini adalah FF GS ya (sesuai dengan pemikiran dan selera reader), tapi aku tetap menekankan ini FF yaoi… 'pure yaoi'.

Tidak akan bosan berterima kasih atas Review yang masuk untuk chapter lalu, karena Review itulah FF ini bisa update cepat lagi (sesuai jadwal biasanya), jangan bosan-bosan juga ya menyempatkan waktunya mengetik review sepatah dua kata…hehehe… #wink

Aku lagi menggemari lagu Exo berjudul 'Eldorado', jadi chap lalu aku mengucapkan 'salam Eldorado', dan sekarang Salam Cinta aja deh buat semuanya… terima kasih, dan sampai bertemu dichapter 10.

By : Han Kang Woo