Gentleman, Oh Sehun
.
.
.
"Kau tidak pergi?"
Oh Sehun menoleh, kakek Oh baru saja memasuki kamarnya. Melihat Sehun yang lebih memilih berada di kamarnya dan belajar itu membuat sang kakek merasa aneh. Tetapi juga senang melihat Sehun yang sedikit demi sedikit mulai belajar untuk bertanggung jawab.
"Tutorku memintaku untuk mengerjakan soal ini" Sehun memamerkan sebuah buku tebal berisi soal-soal yang dipinjamkan Jongin padanya.
"Kim Jongin?"
Sehun menganggukan kepalanya. Kakek bilang, Jongin anak yang manis dan pintar. Dia bahkan bisa mengajari Sehun yang bebal itu sementara beberapa tutor yang dibayar mahal olehnya menyerah di hari pertama.
Dia bukan pemuda yang bodoh. Hanya saja, Sehun sangat malas untuk mengulang pelajarannya kembali di rumah dan memilih keluyuran di malam hari hanya untuk kongkow dengan teman-temannya itu.
"Halabeoji"
"Ya?"
"Besok aku harus pergi latihan untuk pentas nanti"
"Oh.. ya.. Pentas seni ya.. lalu kenapa?"
"Boleh pinjam mobil?"
Sang kakek terkekeh mendengarnya. "tumben sekali..mau kencan ya?"
Uh..ketahuan deh...
.
.
Sejak disakiti Lee Minho, Taemin memilih untuk bertaubat. Bukan pura-pura, tapi taubat yang sungguhan. Bodo amat orang mau menilai dirinya seperti apa. Dia harus menutup mata dan telinganya seperti saat ia masih menjadi Lee Taemin yang playboy.
Setiap hari Taemin akan mengikuti jejak Jongin dengan belajar. Lalu di hari minggu dia akan pergi ke gereja dan berdoa dengan khusuk di sana.
Lain halnya dengan Jongin. Namja manis itu semakin sibuk dengan pentas seninya untuk akhir tahun nanti. Bahkan sekarang dia sering dikelilingi murid-murid yang kepo bagaimana latihan pentas seni drama musikal itu berlangsung.
Apalagi di sana ada Kris dan Sehun-dua cowok ganteng di sekolah mereka yang tidak pernah kehabisan peminat setiap harinya.
Jongin kadang merasa risih. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka tim sekarang.
"Aku bertaruh, kau bahkan belum punya sim" celoteh Jongin, begitu memasuki mobil Sehun-ralat mobil kakek Ryujin.
Sehun mengangkat bahu acuh. Lalu berkata, "Aku meminjam mobil kakekku untuk menjemputmu"
Ah.. Bahkan Jongin tidak meminta Sehun untuk menjemputnya. Dia bahkan tidak mengerti, mengapa bibi Sooyoung terlihat sangat menyukai Oh Sehun. Dan apapula sikap pura-pura sopannya itu? Bibinya tidak tahu saja kalau Sehun itu berandalan playboy seantero Sekolah.
"Dasar nekad"
Mendengar cibiran Jongin, Sehun terkekeh pelan. Jongin ini kadang jutek, kadang perhatian, kadang juga nyebelin. Tapi biar bagaimanapun, Jongin itu manis lho.
"Tugas dariku yang kemarin" Jongin memecah keheningan.
Sehun menoleh, jalanan Seoul tidak terlalu sibuk dari biasanya. Jadi Sehun bisa lebih santai mengemudi tanpa perlu khawatir akan terlambat.
"Sudah aku kerjakan" katanya.
"Bagus"
Senyum di wajah Jongin membuat Sehun ikut tersenyum. Mereka memutuskan untuk melupakan kejadian sebelumnya. kemudian menjadi teman akrab sekarang.
"Kau harus rajin belajar supaya nilaimu bagus"
"Tentu saja.. Aku tidak mau mendengar tutorku yang cerewet itu terus mengoceh setiap hari"
"Siapa yang kau sebut cerewet itu, hah?"
"Kau"
Jongin menggembungkan kedua pipinya. Pertanda benar-benar kesal dengan panggilan sayang Sehun untuknya.
.
.
"Kau melupakan biolamu"
Bisik-bisik terdengar di belakangnya. Jongdae yakin, mereka yang ada di sana pasti sedang bergosip mengenai dirinya.
"Ada apa denganmu? mengapa wajahmu merah?"
Cowok berusia awal 20 itu keheranan sendiri. Dia mengira Jongdae sakit, makanya dengan sengaja ia meletakan punggung tangannya di kening Jongdae.
"Yixing-ge" lirihnya.
"Dae, kau sakit?"
Pemuda itu menggeleng pelan. Siapapun pasti tidak akan menyangka. Kalau cowok mungil itu punya kenalan anak kuliahan yang terlihat cool dengan style-nya.
"Kalau sakit jangan dipaksakan" Yixing berkata lagi.
"Aku.. aku hanya-"
"Jongdae-ya"
Keduanya menoleh. Baekhyun berjalan santai ke arah mereka.
"Yixing hyung?"
Zhang Yixing tersenyum melihatnya. "Hallo, Baekhyun"
"Bukannya Yixing hyung sedang sibuk ya? Kenapa ke sini?"
Bukan Baekhyun kalau gak kepo. Beberapa murid yang terpesona melihat Yixing juga kelihatannya kepo. Ada apa sih antara Yixing dan Jongdae? Kok bisa kenal akrab begitu ya..
"Bibi Kim bilang biola Jongdae ketinggalan. jadi ku antar deh"
Baekhyun menatap Jongdae. Pemuda pemalu itu mencoba menghindari lirikan Baekhyun ke arahnya.
"Oh.. Jongdae, kau bisa memainkan Biola?"
Jongdae mengangguk pelan.
Yixing berkata jika Jongdae juga bisa bernyanyi karena saat di SMP dia itu masuk club paduan suara. Baekhyun memekik heboh. Kalau begitu, kenapa Jongdae tidak masuk club musik sekolah saja di sekolah mereka?
"Yasudah.. Aku harus pulang dan melanjutkan pekerjaanku di rumah" Yixing hendak pamit. "Titip anak nakal ini ya, Baek!"
"AKU TIDAK NAKAL" Jongdae memekik kesal.
Baekhyun jadi bingung sendiri. Apalagi saat Yixing mengusap sayang rambut Jongdae. Apa mereka pacaran?
.
.
.
Pikiran Sehun makin kacau saat Baekhyun, si sutradara dadakan itu mengatakan jika akan ada adegan ciuman antara Jongin dan Kris di scene terakhir.
Dia pikir, orang dewasa macam apa yang membiarkan anak-anak menonton adegan ciuman bibir. Itu tidak senonoh, bagaimana kalau anak-anak itu mencontohnya?
Tetapi Chanyeol mencoba meluruskan. Tirai akan segera ditutup saat Kris mencoba memajukan wajahnya ke wajah Jongin yang sedang pura-pura tertidur. Dan cerita akan ditutup dengan Jongin yang sudah terbangun dan teman-temannya yang menari-nari dan bernyanyi riang.
Chanyeol di sini berperan penting mengatur musik bersama Yixing hyung nantinya. Sementara Jongdae, dia akan berperan menjadi narator dan menyanyikan lagu-lagu dengan suara merdunya itu bersama beberapa anggota klub musik yang bersedia membantu mereka.
Sebenarnya setiap Natal dan Tahun baru sekolah mereka akan mengadakan pertunjukan musik di sebuah panti asuhan sekaligus menggalang dana untuk anak-anak di sana. Tetapi tahun ini, kepala sekolah ingin sesuatu yang baru seperti drama musikal yang pastinya akan sangat menghibur selain nyanyian-nyanyian gereja yang dinyanyikan oleh anggota klub musik di sekolah mereka.
"Aku tetap tidak setuju" Sehun menggeleng.
"Apa yang membuatmu tidak setuju?" Baekhyun dengan sarkastisnya bertanya.
Memangnya Sehun siapa dengan mudahnya berkata tidak setuju.
"Jongin itu masih 18 tahun, dan dia masih terlalu ilegal untuk adegan itu" katanya, ngawur.
Baekhyun tahu. Cepat atau lambat Sehun akan kena karmanya. Jatuh Cinta pada batu lompatannya sendiri? Kasihan.
"Ngaco!" sahutnya. "Kau bahkan mencium Jinah saat usiamu masih 16 tahun" Baekhyun mencibir.
Beberapa murid yang menjadi relewan untuk acara itu hanya memperhatikan bagaimana bibir Baekhyun bergerak-gerak.
"Tutup mulutmu! Apa diotakmu itu hanya tersetting drama-drama murahan saja?"
Kim Wonshik selaku ketua osis, dan ketua panitia acara itu menghela napas pelan. Ia berjalan berusaha menengahi.
"Sudahlah, kalian tidak perlu berdebat seperti itu" katanya.
"Apanya? memangnya dia siapa bisa bilang tidak setuju? Jongin saja bahkan hanya diam"
Yang diperdebatkan bahkan tidak tahu untuk apa Sehun dan Baekhyun berdebat.
"Jongin diam karena dia tidak tahu kalau ada adegan ciumannya"
"Aku bilangkan nyaris.. tidak benar-benar ciuman!" Baekhyun mencoba untuk membela diri.
Wonshik memijat pelipisnya pelan. Sehun dan Baekhyun, Baekhyun dan Sehun, pokoknya dua-duanya itu kalau sudah dipertemukan macam anjing dan kucing saja. Tidak pernah bisa akur.
"Sehun"
Jongin menyentuh lengan Sehun. Mengusapnya pelan dan berkata, "Aku sebenarnya juga tidak apa-apa untuk adegan itu"
"Kau gila?"
Ia menggeleng pelan. Dan menjelaskan jika adegan itu wajar, karena tidak ada adegan cium cium bibir sungguhan. Dan Sehun tidak perlu khawatir akan hal itu.
"Hey, kau temanku sekarang. Apa aku akan diam jika melihat teman baikku di cium nafsu oleh seseorang? tidak, Jongin!"
Jongin senang melihat Sehun yang tanpa sadar jadi sangat over protektif itu. Dia merasa, mereka akan menjadi teman baik sampai hari kelulusan nanti.
"Kris tidak akan menyakiti aku. kau tenang saja, ya?"
Oh Sehun menarik napas pelan. percuma saja! tidak akan ada yang mendukungnya kalau Jongin sudah menyetujui adegan terakhir itu.
.
.
"Dia sepertinya menyukaimu"
Jongin menoleh. Kim Wonshik tersenyum padanya.
"Dia kan temanku. tentu saja dia menyukaiku"
Dasar polos!
"Apa kau pernah pacaran sebelumnya?"
Namja manis itu menggeleng. Pantas saja! Pikir Wonshik. Dia sudah pernah mendengar gosip mengenai Sehun dan Jongin. Tetapi saat melihat langsung bagaimana sifat protektif Sehun pada jongin. Dia jadi bisa menyimpulkan jika Sehun sebenarnya menyukai Kim Jongin, hanya saja, Jongin masih terlalu polos (dan bodoh) untuk menyadari situasi mereka berdua saat ini.
"Belajarlah untuk menyukai seseorang agar kau tidak dibodohi nanti"
"Menyukai dalam konteks apa?"
"Dalam konteks hubungan percintaan"
"Aku dan Sehun tidak memikirkan hal itu"
Kim Wonshik tertawa pelan mendengarnya. "Dia hanya tidak ingin memikirkannya. karena saat dia memikirkan hal itu salah satu dari kalian pasti akan terluka"
"Kami suka hubungan pertemanan seperti ini"
Ucapan Jongin menghentikan langkah Wonshik. cowok ganteng itu berbalik badan dan berkata:
"Lebih tepatnya memaksakan diri untuk menyukainya. Cinta memang terkadang serakah. Berhati-hatilah!"
.
.
.
Biasanya Sehun akan tertawa-tawa bersama komplotannya di meja paling belakang saat jam kosong. Tetapi anak itu kini terlihat fokus dengan buku bacaannya seolah tidak peduli dengan keadaan kelas yang ribut.
"Eh, Kyu.. Bagaimana dengan pentas drama kalian nanti? Kau dapat peran apa?" Namjoon bertanya, sambil mengunyah permen karet.
Sehun yang sedang duduk di samping Chanyeol menoleh ke belakang. Dimana duo konyol itu persis duduk di belakang mereka.
"Dia jadi pohon yang menari-nari" celetuk Sehun.
Kim Namjoon menahan tawa. Duh, bisa tidak sih Sehun jangan terlalu jujur?
"Itu karena aku malas menghapal naskah"
"Alasan" gumam Sehun.
Chanyeol yang mendengar itu tertawa pelan mendengarnya. "Moonkyu itu unik jadi dia terpilih jadi pohon"
"Itu pujian apa hinaan ya?" Tanya Moonkyu.
"Aku lebih suka dua-duanya"
Sehun kembali menyahut, "Tapi aku lebih suka opsi kedua"
"Kau ini tidak bisa memujiku sedikit ya, Hun" Moonkyu pura-pura kesal.
"Karena aku Oh Sehun"
"Apa hubungannya?" Moonkyu berkata, perlahan. "Dasar Pangeran yang tertukar"
Kali ini Namjoon dan Chanyeol tertawa terbahak-bahak.
.
.
.
Choi Minho namanya. Sepupu Jongin dari pihak ayah. Dia datang bersama ibunya yang seorang pengusaha pakaian wanita ternama. Wajahnya sangat kalem dan sopan. Dia juga sangat pintar, dan bisa berbahasa Perancis mengingat nyaris sebagian dari hidupnya ia habiskan di kota Paris.
Bibi Sooyoung bilang, Minho akan sekolah di sekolah yang sama dengan Jongin mulai besok. Dan dia akan menjadi teman Jongin di rumah maupun di sekolah, mengingat Bibi Choi Ahra menitipkan anak itu selama dirinya yang akan pergi ke Cuba bersama calon suami barunya.
"Maaf, kamarku sedikit berantakan" ucap Jongin.
Untuk sementara waktu Minho harus tidur di kamar Jongin.
"Menurutku tidak" katanya. "Bahkan kamarku jauh lebih berantakan dari ini"
Senyum terpatri di wajah Minho. Lesung pipinya sangat menawan. Hal itu lantas membuat Jongin yakin, pasti dalam kurun waktu sehari Minho akan jadi anak yang tenar di sekolah.
"Jadi aku tidur dimana?"
Woah.. Jongin bahkan lupa. Kamarnya hanya ada satu ranjang. Sementara mereka masih sangat canggung mengingat baru kali ini mereka bertemu dan berkenalan.
"I.. itu"
Minho terkekeh pelan. Ia mengusap bahu Jongin lembut. "Kau tidak perlu canggung begitu. Aku ini kan kakakmu"
Cowok itu naik ke ranjang dan menata guling di tengah-tengah.
"Kau di kiri dan aku di kanan" katanya.. "Lalu guling itu adalah pembatasnya"
"Oh.. Ya.. aku setuju"
.
.
.
Senin pagi yang cerah, secerah senyum bibi Sooyoung yang tampak bangga memiliki dua keponakan berwajah menawan. Yang satu tampan, dan yang satunya lagi manis dan menggemaskan.
Yeoja itu tidak henti-hentinya membicarakan dua keponakannya itu pada sang ibu. dan membuat ibunya meminta Sooyoung untuk segera menikah dan menyusul. Jelas saja bibi Sooyoung mengeluh kesal.
"Selamat pagi"
Minho membungkuk hormat. Nenek Choi memintanya untuk duduk dan segera sarapan bersama.
"Dimana Jongin?" Tanya Bibi Sooyoung.
"Dia sedang merapihkan kamar, aku hendak membantunya tapi dia menolak"
"Dia memang seperti itu. persis mendiang ibunya" Sahut Bibi Sooyoung.
Beberapa menit kemudian, Jongin tiba di meja makan dengan sedikit tergesa-gesa. Anak itu membuat nenek dan bibinya khawatir dan bertanya-tanya.
"Mengapa Jongie tergesa-gesa?" tanya sang nenek.
"Ah-i..itu"
"Apa Sehun datang menjemput?"
Bukan Bibi Sooyoung kalau tidak jahil. Wajah Jongin merona dan membuat sang bibi terkekeh.
"Sarapan dulu, Jongin" kata sang nenek. "Bibi Sooyoung akan mengantar kalian setelah ini"
Minho terlihat anggun saat menikmati roti isinya. Ia bahkan tidak bergeming ketika Jongin menggeser kursi, hendak duduk di sampingnya.
.
.
Jongin melambaikan tangannya ke arah bibi Sooyoung. Yeoja itu juga membalas, dengan perasaan bangga dimana ia bisa mengantar dua keponakannya itu. Rasanya sangat bahagia saat ia tahu, jika sekarang ia sudah menjadi bibi.
"Ayo, Jongin" ajak Minho.
Pemuda tampan itu merangkul bahu Jongin tanpa mempedulikan tatapan di sekelilingnya. Bahkan juga Jongin yang merasa tidak terbiasa dirangkul seperti itu.
"Minho"
"Ya?"
"Ja.. jangan seperti ini. semua orang melihat kita"
"Lalu kenapa?"
Jongin menggeleng. Dia hanya ingin mengatakan kalau dia merasa sedikit terganggu dengan tatapan sekeliling mereka.
Menyadari Jongin yang merasa canggung, tentu saja Minho tertawa. Ia menarik kedua pipi gembil Jongin dan berkata, jika tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Karena mereka saudara. Sekalipun hanya sepupu, Minho sangat senang punya sepupu seperti Jongin.
"Kau tahu? Aku nyaris tidak pernah melihat pemuda manis sepertimu di Paris. jadi ya, aku sangat senang. karena pemuda manis dan polos ini adalah sepupuku" katanya.
Jongin senang mendengarnya. Dia tidak pernah bertemu dengan sepupunya dari pihak ibu sejak ia kecil. Apalagi dia adalah anak semata wayang dan otomatis dia juga tidak punya kakak atau pun adik untuk dijadikan teman bermain di rumah.
"Aku juga senang bertemu denganmu" kata Jongin.
Yah, Minho tidak pernah menyangka. Jika kedatangannya ke Seoul adalah hal yang paling menyenangkan sejak terakhir kali ia kembali. Pasalnya, 10 tahun yang lalu tidak ada Jongin. Dan pandangan mengenai Seoul yang membosankan dalam benaknya itu hilang sewaktu ia bertemu Jongin untuk pertama kalinya.
'sayang sekali dia sepupuku' pikir Minho. Padahal Jongin sangat manis, dan Minho yakin jika Jongin ke Paris nanti akan ada banyak orang yang menyukainya.
"Minho?" Jongin memiringkan kepalanya.
Si tampan putra Choi Ahra itu tersadar saat ia menyadari, jika ia baru saja meremas tangan Jongin yang sedang ia genggam.
"A.. aku hanya merasa sedikit gugup" katanya.
Jongin tersenyum mendengarnya. "Itu wajar.. Tetap di sampingku ya" katanya. "Aku akan mengantarmu ke ruang tata usaha"
.
.
Baru sehari saja Minho langsung tenar. Wajar saja sih, dia kan tampan. Dan Jongin yakin, setelah ini nama Minho akan disejajarkan dengan Oh Sehun, Kris Wu, dan cowok-cowok ganteng di sekolah mereka.
"Jadi, anak pindahan itu sepupumu?" Irene menatap tidak percaya.
"Ah-itu"
Minho yang memang pada dasarnya jahil langsung melingkarkan tangannya pada bahu Jongin.
"Aku calon suaminya" dengan senyum tampan ia berkata.
Semua cewek di kelas IPA-1 itu berteriak heboh. Tanpa tahu kalau Sehun, cowok yang dinobatkan sebagai Ice-Prince itu mengeluarkan aura hitam saat Jongin manisnya diperlakukan seperti itu.
"Ada apa dengannya?" bisik Moonkyu.
"Dia cemburu karena reputasi cowok sexy-nya itu terancam tergantikan olehnya" Namjoon juga berbisik. Ia menunjuk ke arah Minho.
"Wah, Jongin terlihat cocok dengannya" Kata Moonkyu, keceplosan.
bruk..
Sehun memukul meja. Membuat kelas sunyi seketika-para murid menoleh takut ke arahnya.
"Kalian itu apa-apaan" Sehun berseru lantang. mencoba mengabaikan rasa salah tingkahnya. takut ketahuan cemburu sepertinya. "Seharusnya kalian belajar dan biarkan anak baru itu duduk tenang di tempatnya. apa kalian tidak malu? kalian baru saja menunjukan betapa barbarnya anak-anak di kelas kita"
"Sehun keren ya?" bisik Jongdae.
Jongin tersenyum tipis melihatnya.
"Dia cocok jadi ketua kedisiplinan kalau dia mau" Moonkyu berbisik.
"Ya, aku setuju" diangguki oleh Namjoon.
Sementara Chanyeol. cowok Park itu menggeleng pelan. sudah tahu alasan dibalik Sehun yang pura-pura murka.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/n
Hello..Joyie is back...Thanks buat semua review yang kemarin ya..Masalah surat Kris yang dibaca Sehun. Simple nya ya, kamu punya gebetan nih, kamu suka sama dia tapi gak berani bilang ke dia soal perasaan kamu. terus-terus tau tau ada org yang ya contohnya aja dia kirim surat dan nyatain cintanya ke gebetan kamu. kamu kesel gak? kamu keki gak? kamu marah gak? kamu sedih gak? kamu bad mood gak? kalo udah kayak gitu kamu bakalan ngelampiasin kekesalanmu ke siapa? anggap aja Sehun kesel dan gak ada pelampiasan buat kekesalannya dia itu. duh, bingung juga jelasinnya. maklum aja sih, cerita abal*lol. aku juga kadang suka stuck di alur cerita kalo lagi baca FF. entah itu stuck nya karena alur yg kecepetan, kelambatan, atau bahkan ada satu kalimat yang aku gak ngerti maksudnya apa.
Kyungsoo bakalan dijodohin sama Sehun? loh..engga haha..ada alur sendiri buat hal itu.
Satu bulan itu..satu bulan apa kak? Nah, ini bakalan terjawab seiring waktu yang berjalan ya..
Bahasamu berubah gak kayak chapter chapter sebelumnya: by the way ini menarik dibahas lho. ternyata ada juga yang merhatiin bahasa Joy. jadi gini lho, FF ini dulu dibuat sekitar tahun 2015an. wkt itu Joy masih kelas 3 SMA, dan Joy berhasil nerusin FF ini sampai 6 chapter. tapi pas mau ngelanjutin gak taunya Joy malah stuck. dikarenakan udh ilang rasa buat ngelanjutin. fyi, ini adalah cerita based on true story. dimana ah, pokoknya Joy udh enek banget buat nginget-nginget batu ..karena sekarang Joy udh kuliah, dan Joy gak punya waktu sebanyak Joy masih sekolah. jadi Joy gak bisa belajar banyak cara buat bikin alur yang baik..yang musti Joy pelajarin itu politik dan perdagangan dunia yang serba ruwet serta ilmu-ilmu filosofi politik dunia yang bikin kebotakan dini terjadi..jadi mohon pengertiannya ya:D
kak Joy sekarang update-nya jadi gak ASAP lagi: Huhuhu..Joy lagi sedih..Joy lagi deket sama orang. kadang Joy sering dibuat happy sama tingkahnya doi. kadang juga Joy dibuat sedih sama gayanya yang kadang kayak org sok gak kenal. berasa digantung gitu. ok, fix..besok Joy jadiin ide buat FF baru haha*bercanda. jadi tuh karena agak sibuk aja sih akhir-akhir ini. maaf ya..
ok next..ada yg mau ditanyain lagi? silahkan ditanyakan ya. jangan malu hehehe..
sekian cuap cuap Joy...Mohon reviewnya^^
