Tittle : Pocky Boy (Sehun's past) part A
Cast : Sehun, Jongin and other
Author : Xandeer
Rate : T+, ada bagian yang nyerempet M
Disclaimer : I own this story, I own this plot, sisanya pinjem/?
.
.
.
.
.
.
.
If you just plagiator, Just Leave As Soon As Posible
.
.
.
.
.
.
.
.
.
…
Kwon Su jeong adalah anak pertama dari pasangan Kwon Jae hwa dan Oh Sun hee. Gadis yang cantik dan baik, Sun hee dan Jae hwa sangat menyayanginya walaupun kenyataanya, Su jeong bukan anak kandung Oh Sun hee. Ia anak dari selingkuhan Jae hwa dengan Han Chae Yeong.
Semua itu berawal saat Sun hee dan Jae hwa menghadapi masalah rumah tangga, Sun hee yang tak kunjung hamil padahal pernikahan mereka sudah masuk tahun ketiga membuat sedikit keretakan dalam keluarga itu. Jae Hwa yang frustasi pergi dari rumah dan mabuk di sebuah klub, sialnya disana ia bertemu dengan mantannya yang masih mencintainya.
Mabuk berat dan mendapat godaan dari Chae Yeong maka tanpa ia sadar, persetubuhan itu terjadi. Jae hwa pikir kejadian memalukan itu akan ia simpan sendiri selamanya karna tak mungkin mantannya itu kenapa – kenapa karna mereka hanya melakukannya sekali, namun ternyata tidak, tak lama, ia mendapat kabar bahwa Chae Yeong hamil.
Sun hee hanya bisa menangis sedih, hatinya hancur karna suaminya berani berselingkuh dan mempunyai seorang anak yang bukan dari rahimnya sedangkan Jae hwa sendiri merasa frustasi. Sun hee dan Jae hwa sama - sama tidak mau mengorbankan rumah tangga mereka tapi mereka juga tak bisa mengorbankan janin kecil tak berdosa yang masih memiliki hubungan darah dengan Jae hwa sendiri, maka kesepakatan dibuat , Jae hwa, Sun hee dan Chae Young bersepakat bahwa anak ini akan diadopsi oleh Jae hwa dan Sun hee dengan syarat tambahan Chae Young menghilang sebagai ganti uang milyaran won yang diberi Jae hwa padanya.
.
Oh Sehun. Anak kedua dari pasangan Jae hwa dan Sun hee. Tidak seperti Su jeong yang berbeda 2 tahun dengannya, Sehun adalah anak kandung dari pasangan ini. Anak yang sehat dan tampan. Namun kelahirannya yang telah membuat eommanya meninggal. Eommanya memiliki rahim yang lemah/?, Jae hwa sudah mengatakan pada pihak dokter untuk menyelamatkan istrinya alih – alih anak mereka, ia memang sedih karna harus kehilangan bayinya tapi ia lebih tidak bisa kehilangan istrinya.
Saat mendengar keputusan Jae hwa, Sun hee hanya bisa menangis, ia mendapatkan bayi ini dengan susah payah dan mengandung selama 9 bulan bukanlah hal yang mudah, hubungan darah yang terjalin begitu kuat membuat ia tak tega untuk membunuh bayi yang bahkan tak tahu apa – apa. Maka setelah Jae hwa keluar dari ruang bersalin, Sun hee mengatakan pada dokter untuk menyelamatkan bayinya, para dokter tentu terkejut tapi Sun hee terus memaksa, hingga akhirnya bayi itu diselamatkan dan saat itulah Sun hee menutup kedua matanya perlahan. Namun ia sempat tersenyum di detik – detik terakhirnya kala melihat anak lelaki tampan yang menangis dengan keras, seakan si kecil tahu bahwa ia akan dipisahkan dengan eommanya untuk selamanya.
"Eomma menyayangimu" Ujar Sun hee begitu pelan. Dan satu air mata lolos dari pelupuk matanya sebelum ia meninggalkan dunia ini untuk selama - lamanya.
Di luar, Jae hwa sangat terkejut saat mendengar tangisan bayi, jantungnya berdetak begitu cepat dan dengan segera ia menerobos masuk hanya untuk melihat istrinya sudah tertidur untuk selamanya dan seorang bayi mungil terbalut handuk kecil dalam gendongan seorang suster. Jae hwa sangat marah saat melihat istrinya telah meninggalkannya, ia hampir menghancurkan ruang bersalin sebelum beralih kepada bayi mungil merah yang masih menangis keras.
Saat itu Jae hwa gelap mata, ia mengambil gunting dari peralatan operasi dan hampir mengarahkannya pada bayi mungil itu namun suster dan dokter bergerak cepat, mereka menangkap tubuh Jae hwa sedangkan suster yang membawa Sehun segera melarikan diri ke tempat aman.
Beberapa jam setelah kejadian itu, Mr. Kwon mulai tenang, bayi mungil itu akhirnya dikembalikan pada ayahnya. Walaupun mereka takut bahwa Mr. Kwon akan mencoba membunuhnya lagi namun mereka tak bisa berbuat apa – apa selain berharap tuan Kwon tak berniat membunuhnya lagi.
Sejak saat itu, Jae hwa benar – benar benci pada bayi itu, ia bahkan tak ingin menganggap bayi itu anaknya. Ia memberi tanggung jawab seluruhnya pada para pelayan untuk mengurus bayi itu. Nama 'Sehun' juga diberikan kepadanya oleh sang pembantu karna saat itu ia pernah mendengar Sun hee ingin menamai anaknya Sehun, sedangkan marga Oh, Jae hwa berikan karna ia tak sudi jika marganya diberikan pada bayi polos yang ia anggap pembawa sial itu.
Bibi Oh –pembantu Kwon Jae hwa-, paman Gong –supir pribadi keluarga Kwon- dan Su jeong –noona Sehun- yang selalu merawat Sehun kala bayi itu menangis karna lapar atau popoknya penuh, mereka yang mengajarkannya berbicara, berjalan dan lain – lain sedangkan ayahnya hanya peduli pada Su jeong dan perusahaannya.
3 tahun setelahnya, saat perjalanan bisnis ke Jepang, Jae hwa kembali bertemu dengan Chae Young yang sedang berlibur disana. Berkali - kali, mereka terus berjanji untuk bertemu hingga akhirnya Jae hwa yang merasa kesepian setelah ditinggal istrinya serta Chae Young yang juga belum menikah, Jae hwa memutuskan untuk melamar Chae Young yang langsung disetujui oleh Chae Young.
Sehun pikir saat Chae Young mulai menjabat sebagai nyonya besar di kediaman Kwon, ia akan memiliki eomma yang menyayanginya namun nyatanya tidak. Eomma tirinya sama saja seperti ayahnya, selalu menatapnya dengan mata penuh kebencian. Eomma tirinya tak pernah menganggapnya ada bahkan Chae Young terus menyebut – nyebutnya anak haram yang tak pantas hidup walaupun Sehun tak mengerti arti dari anak haram.
Eomma tirinya juga selalu memukulnya kalau ia berbuat hal yang tidak diinginkan olehnya. Jika Sehun menangis maka eommanya itu akan menguncinya di gudang seharian tanpa diberi makan dan minum, bibi Oh dan paman Gong lah yang selalu mengeluarkannnya dari sana diam – diam dan memberinya makan dan minum.
Disaat noonanya mendapat perhatian dan kasih sayang orangtuanya, Sehun selalu disingkirkan dari hadapan mereka sejak kecil, bahkan ia diharuskan tidur di loteng yang penuh dengan barang dan debu disaat kamar noonanya sangat luas dan rapi namun Sehun sudah bersyukur memiliki kamar walaupun harus diloteng.
Jika noonanya dibelai penuh kasih sayang, Sehun sering dipukul dan dibentak, tak jarang juga ia dimaki – maki hanya karna kesalahan kecil seperti menjatuhkan gelas. Jika noonanya diajak berlibur, Sehun tak pernah diajak, ia selalu ditinggal di rumah sendirian. Jika noonanya kerap kali diberi ciuman oleh orangtuanya, Sehun kerap kali dilempari benda – benda mulai dari pensil, buku, bahkan sepatu ayahnya. Jika noonanya punya banyak mainan baru yang bagus, Sehun hanya punya alat tulis dan bola basket yang sudah usang untuk ia jadikan mainan.
Jika noonanya punya banyak yang menyayanginya, Sehun punya banyak yang membencinya di rumah bahkan di sekolah. Ia tak tahu kenapa teman – temannya enggan bermain dengannya dan selalu mengejeknya 'anak pembantu' karna bibi Oh dan paman Gong yang selalu mengambil raportnya, mendaftarnya ke sekolah maupun menjemputnya disaat noonanya selalu diurusi oleh kedua orangtuanya.
Sehun tak mengerti kenapa ia selalu dibenci. Awalnya ia pikir karna dirinya tidak mendapat juara kelas atau nilai yang bagus karna itulah ia belajar dengan giat dan mendapat nilai yang bagus di semua mata pelajaran bahkan juara 1 berturut – turut namun ayahnya tetap tidak menganggapnya ada, apalagi memujinya. Jika ia mendapat nilai jelek, ia akan dipukul dan disebut idiot. Karna itu Sehun bingung dimana letak kesalahannya.
Tapi walaupun semua pencobaan yang ia terima, ia selalu tersenyum ramah dan menyayangi noonanya disaat seharusnya ia iri. Ia menyayangi ayah dan eomma tirinya. Ia anak yang penurut dan mandiri. Ia tidak pernah dendam, senyumannya yang menawan menutupi semua beban yang ia tanggung. Ia tak pernah menunjukkan bahwa ia menderita. Ia adalah anak kecil yang sangat tegar.
Saat Sehun berumur 10 tahun, ia harus kehilangan eommanya untuk kedua kalinya dalam sebuah kecelakaan. Disinilah awal mula penyiksaan yang tadinya hanya mental dan penyiksaan fisik yang ringan mulai bertambah menjadi penyiksaan fisik yang keras dan melibatkan darah dan luka.
.
"Yeobo, bisakah kau ambil raport Sehun hari ini ?" Tanya Jae hwa pada istrinya yang sedang memoles mukanya dengan bermacam – macam alat/?, sepertinya sang istri akan pergi shopping.
"Tidak bisa, aku akan pergi berbelanja sayang. Kenapa kau tidak suruh si bibi Oh atau si supir Gong untuk mengambil raport anak itu seperti biasa ?"
"Bibi Oh kusuruh pulang karna ia sedang sakit, supirku juga harus mengantarku ke bandara sebentar lagi" Ujar Tuan Kwon.
"Bayar saja tetangga sebelah untuk mengambil raport anak itu, aku malas" Jae Hwa menghela napas.
"Sekali saja yeobo" Pinta Mr. Kwon lagi.
"Dia kan anakmu, kenapa kau tak mengurusnya sendiri sih !" Chae Young mulai sewot.
"Aku harus ke bandara, perusahaan lebih penting dari raport anak itu. Kumohon yeobo sekali saja" Mr. Kwon memelas sekali lagi. Istrinya mendengus sebal.
"Ara ara ! Ini pertama dan yang terakhir !" Ujarnya sebal. Jae hwa tersenyum lalu memeluk istrinya, memberinya kecupan – kecupan cinta.
...
Chae Young memacu mobilnya ke sekolah Sehun, ia masih menggerutu sepanjang jalan. Ia merasa sial hanya karna harus mengambil raport Sehun.
Drrt...drrtt...
Handphonenya bergetar. Chae young mengambil handphonenya yang ada di tas guccinya. Ia mendapat telpon dari temannya, mungkin mereka mencarinya karna ia tidak juga muncul di mall tempat mereka berjanji temu. Maka ia mengangkatnya dan berbincang – bincang dengan temannya itu. Kehilangan fokus, ia tak menyadari bahwa lampu sedang merah, ia menerobos lampu merah dan sialnya dari arah samping sebuah truk besar sedang melaju cepat ke arahnya.
TINNNNNNN !
Truk itu membunyikan klaksonnya keras. Chae Young terkejut bahkan sampai handphonenya terlempar. Ia cepat – cepat berusaha mengindar.
CKITTTT !
BRAKK !
Terlambat...Mobil truk itu menabrak mobil Chae Young hingga berguling berkali – kali. Orang – orang segera membawa Chae Young ke rumah sakit, Jae hwa yang mendengar kabar kecelakaan istrinya membatalkan perjalanan bisnisnya dan segera pergi ke rumah sakit, melupakan bahwa Sehun masih menunggu di sekolah.
Dokter dan suster bergerak cepat, namun nyawa Chae Young tak bisa diselamatkan. Jae hwa menangis, ia sangat menyesal karna menyuruhnya mengambil raport Sehun.
Sehun
Teringat nama itu, ia mengepalkan tangannya. Ia berjalan cepat ke parkiran. Menyuruh supir Gong keluar dari mobilnya sebelum ia memacu mobilnya sendiri ke sekolah Sehun. Di sekolah, ia segera berjalan angkuh ke kelas Sehun yang berada di lantai 2. Saat itu sekolah sudah sepi, bahkan Sehun adalah siswa terakhir yang belum dijemput.
Sehun yang mendapati ayahnya dari kejauhan, tersenyum sumringah. Ia merasa bahagia karna kini ayahnya sendiri yang akan mengambil raportnya, tapi senyuman itu hilang ketika melihat ayahnya yang menatapanya penuh dengan kebencian yang menguar begitu menusuk. Sehun kecil merasa takut, ia menunduk dalam. Ayahnya yang sudah berdiri di depannya segera mencengkram pergelangan tangannya dengan keras sampai Sehun meringis sakit sebelum menariknya ke dalam kelas dimana wali kelas Sehun sudah menunggu.
"Ah, akhirnya anda datang juga. Saya sudah menunggu anda sedari tadi" Sapa wali kelas Sehun ramah.
"Tak perlu basa – basi ! Berikan aku raport anak ini sekarang karna aku sibuk !" Ujar Jae hwa agak membentak.
"Eh ?" Wali kelas Sehun agak terkejut. Ia menatap ke arah Sehun yang kelihatan sangat ketakutan. Ia memberi tuan Kwon raport Sehun.
"Selamat anak anda mendapat juara 1 lagi" Ujar wali kelasnya tapi Jae hwa tampak tak peduli. Ia mengambil raport Sehun dari tangan gurunya kasar sebelum menarik tangan Sehun keluar.
...
BRAKK !
Ayahnya membuka pintu dengan kasar, tangannya masih mencengkram tangan Sehun. Suara pintu yang dibuka keras menarik perhatian semua orang termasuk noonanya.
"Se-" Belum sempat Su Jeong menyapa adik kecilnya. Si bungsu sudah ditarik ke dalam kamar ayahnya dan terdengar bunyi kunci setelahnya.
Ayanya melempar tubuh Sehun ke lantai dengan keras. Sehun meringis. Ia menatap ayahnya takut.
"Ap-appa Sehun salah apa ?" Tanyanya pelan. Ia menggigit bibirnya menahan tangis.
Jae hwa yang mendengar pertanyaan Sehun makin geram. Ia melepaskan ikat pinggangnya dan menatap Sehun dengan dendam.
"Buka bajumu dan berbalik !" Perintah Jae Hwa. Sehun membulatkan matanya, ia menangis sambil membuka bajunya dan membalik badannya.
Ctarrr !
Sehun merasa perih luar biasa di bagian punggungnya. Tubuhnya terhempas ke depan dengan keras hingga ia jatuh tersungkur.
"Bangun !" Perintah ayahnya lagi. Dengan perlahan Sehun kembali berdiri.
Ctarrr !
Satu cambukan lagi mengenai punggungnya.
"AH !" Sehun menjerit sakit.
Ctarrr !
Ctarrr !
Ctarrr !
Ctarrr !
"Appa ampun appa ! ARGH ! APPA ! ARGH !" Sehun menangis menjerit, merasakan punggungnya terbakar dan perih. Ia hanya bisa berpegangan pada pinggiran kasur dan menangis sementara ayahnya dibelakang sana terus memukul punggungnya dengan ikat pinggang sambil memaki – maki.
"Dasar anak pembawa sial !"
Ctarrr !
"Kau pembunuh !"
Ctarrr !
"Seharusnya kau mati saja !"
Ctarrr !
"Tidak ada yang menginginkanmu hidup !"
Ctarr !
"Kenapa kau membunuh ibumu huh ?!"
Ctarr !
"Dan sekarang kau membunuh eomma tirimu !"
Ctarr !
"DASAR PEMBAWA SIAL !"
Ctarr !
Dan saat itu Sehun mulai mengerti letak kesalahannya. Eomma tirinya baru saja meninggal, entah bagaimana tapi terkait dengan dirinya. Sehun terus menangis, tubuh Sehun benar – benar sakit. Tapi jelas hatinya yang jauh lebih sakit mendengar perkataan ayahnya.
Setelah puas menghajar Sehun, ayahnya itu segera mengusirnya keluar. Sehun berjalan tertatih – tatih ke kamarnya. Para pelayan menatapnya kasihan saat melihat baju tuan mudanya yang berdarah di bagian punggungnya. Pasti ayahnya baru saja mencambuknya dengan kejam. Pikir mereka.
Sehun memasuki kamarnya. Ia membuka bajunya dan menangis lagi karna rasa panas dan perih yang menjalar di punggungnya. Lagi – lagi otak Sehun penuh dengan pertanyaan yang didominasi dengan kenapa, seperti...
Kenapa harus dirinya yang mengalami ini ?
Kenapa semua orang membecinya ?
Kenapa ayahnya selalu memperlakukannya dengan kasar ?
Kenapa semua yang ia lakukan salah di mata ayahnya ?
Kenapa ia selalu disebut pembawa sial oleh ayahnya ?
Kenapa ? Kenapa ? dan Kenapa ?
Sayangnya semua pertanyaan tak bisa ia temukan jawabannya.
Cklek
"Se-Ommo hunn-ah ! Apa yang terjadi dengan punggungmu Sehun-ah ?!" Noona Sehun menjerit kaget melihat banyak luka cambuk yang menghiasi punggung adiknya yang seharusnya mulus itu.
Sehun buru – buru memakai kaosnya, menatap noonanya sambil tersenyum, seakan mengatakan 'aku tidak apa – apa' padahal jelas - jelas ia tak bisa menyembunyikan rasa perih yang masih terasa, terbukti dari air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Aku baik – baik saja noona, tak perlu khawatir hehe" Ujarnya berusaha tegar, walaupun terdengar sekali suaranya bergetar.
Noonanya tak percaya. Bagaimana bisa ? Luka itu terlihat cukup parah bahkan mengeluarkan darah dibeberapa bagian dan tentu saja luka itu tak bisa hanya didiamkan jika tidak ingin menimbulkan infeksi
"Biar noona yang mengobatimu" Ujarnya tulus, mengambil obat merah dan kapas dari kotak p3k dan membawanya pada Sehun yang sedang terduduk di kasur kecilnya, menunggunya.
"Balik badanmu dan buka bajumu" Titah Su jeong, Sehun menurut. Tanpa membuang waktu lebih lama noonanya segera mengolesi obat merah itu pada seluruh lukanya dengan kapas.
"Eurm !" Sehun meringis tertahan. Ia sudah berusaha kuat untuk menahan ringisannya namun terlalu perih. Ia bahkan hampir menangis lagi karna tidak tahan dengan rasa sakitnya. Noonanya yang melihatnya benar – benar merasa sedih. Ia ingin menangis melihat adiknya yang paling ia sayangi harus menderita seperti ini.
Memanggil polisi ? Ani, Sehun sudah cukup tak memiliki sosok eomma dalam hidupnya, tak memiliki appa akan membuat dunianya semakin runtuh, apalagi ia sangat tahu bahwa noonanya bisa hidup dengan baik karna appanya.
Sehun pikir tak apa jika ia harus hidup seperti ini asal noonanya hidup dengan baik. Itu yang terpenting.
Dan selama ini pula, noonanya lah yang sangat perhatian padanya dan menganggapnya ada, mencoba melindunginya dengan sekuat ia mampu. Segala yang noonanya lakukan padanya sangatlah berarti karna itu Sehun sangat menyayangi Sujeong dan tidak ingin noonanya terluka.
...
Hukuman cambuk yang ia terima kemarin ternyata membawa hukuman – hukuman cambuk yang lainnya. Ayahnya juga jadi lebih sering menyebutnya pembawa sial. Jika ayahnya kesal dan mengalami kegagalan dalam perusahaan maka Sehun yang disalahkan lalu ia akan dipukul, ditendang dan dicambuk. Status Sehun sudah berubah dari 'anak' menjadi 'alat penyalur kekesalan'. Segala kebencian, ia berikan pada Sehun dengan bentuk pukulan, tendangan dan cambukan.
Disetiap penyiksaan itu juga terselip makian dan kata – kata pedas dari ayahnya yang menyiksanya secara mental. Tiap Sehun menangis, ayahnya selalu menyebutnya banci yang menjijikan atau anak lemah yang tidak bisa apa – apa karna itu ia selalu mati – matian menahan tangisnya dan saat – saat itulah wajah datar dingin miliknya mulai terbentuk.
Seperti malam – malam sebelumnya, malam ini Sehun sedang dicambuki lagi karna ayahnya sedang kesal karna tidak berhasil mendapatkan kerja sama dengan perusahaan lain. Ayahnya yang mabuk terus mencambukinya dan memakinya di belakang sana dengan kejam.
Ctarrr !
"Kau mati saja sana !"
Ctarrr !
"Aku tak ingin melihatmu lagi !"
Ctarrr !
"Kau hanya makhluk kecil tak berguna !"
Ctarrr !
"Kau hanya membawa sial disini !"
Ctarrr !
"Eomma kandungmu bahkan tak ingin melihatmu !"
Ctarrr !
"Ia mati karna tak ingin melihatmu !"
Ujar ayahnya terus menerus. Sehun tertegun, ia mendengar ucapan ayahnya dengan seksama.
Benarkah semua perkataan ayahnya ? Pikirnya.
Setelah ayahnya jatuh tertidur karna lelah memukuli anaknya. Sehun perlahan menyelimuti sang appa sebelum keluar dari sana untuk menemui bibi Oh yang berada di dapur, melupakan punggungnya yang berdarah. Rasa ingin tahunya lebih mendominasi dari rasa sakit yang selalu ia rasakan belakangan ini.
"Bibi" Panggil Sehun. Bibi Oh menengok ke arahnya, terkejut melihat Sehun yang bertelanjang dada. Ia buru – buru mengambil obat dan menyuruh Sehun duduk di kursi.
"Apa ayahmu mencambukmu lagi ?" Tanya bibi Oh seraya mengobati punggungnya. Sehun mengangguk.
"Bibi, apa yang dikatakan ayah tadi benar ?" Tanyanya. Bibi Oh menatap Sehun.
"Apa yang ia katakan padamu ?" Bibi Oh balik bertanya.
"Ia bilang aku hanya makhluk kecil tak berguna yang membawa sial" Jawabnya lirih. Bibi Oh terkejut lalu menghela napas. Ia mengelus surai hitam Sehun lembut.
"Ayahmu hanya belum mengerti betapa beruntung dirinya memiliki anak tampan sepertimu" Ujarnya tersenyum. Sehun mengangguk.
"Bibi" Sehun memanggil lagi. Bibinya menatap dirinya lagi. Sehun menunduk, ia menggigit bibir bawahnya, tangan – tangan kecilnya meremas celananya karna gugup.
"Bibi, apa eomma tidak ingin melihatku ?" Sehun bertanya pada bibinya dengan nada lirih. Ia teringat kata – kata appanya saat ia dipukuli tadi. Bibinya agak kaget mendengar pertanyaan Sehun, ia juga menampilkan wajah sedih setelahnya.
"Anieyo. Nyonya Oh pasti sangat sayang padamu" Jawabnya, mengelus rambutnya lagi.
"Ta-tapi eomma meninggalkanku. Ia tidak sayang padaku. Kalau ia sayang...seharusnya...Seharusnya ia menjagaku hiks" Isakan kecil lolos dari bibir Sehun, ia buru – buru mengelap air matanya karna tak ingin dibilang namja lemah atau banci oleh ayahnya lagi. Bibi Oh tersenyum kecil, ia memandang Sehun dengan tatapan sedih lalu memeluk tuan mudanya yang kurus itu.
"Tentu saja nyonya Oh sayang pada Sehunnie. Ia bahkan meninggal dan menentang ayahmu untuk menyelamatkanmu"
"Menyelamatkanku ?" Sehun bertanya bingung. Bibi Oh mengangguk.
"Saat itu ia harus memilih, dirinya atau kau yang harus selamat. Ayahmu itu memilih eommamu, tapi kau tau kan siapa yang eommamu pilih. Kau. Karna kau adalah anak yang berharga untuknya. Ia sayang padamu melebihi apapun" Ujarnya menjelaskan. Sehun tak begitu mengerti mengapa eommanya harus memilih, tapi ia mengangguk paham bahwa eommanya ternyata sayang padanya. Sehun tersenyum lega.
Setelah bercakap – cakap ringan dengan bibinya, Sehun memilih untuk ke kamar noonanya. Bibinya bilang noonanya sangat dekat dengan eommanya jadi ia akan bertanya bagaimana sosok eommanya pada noonanya. Entah kenapa ia sangat ingin tahu tentang eommanya walaupun mereka tak akan pernah bisa bertemu.
Ckelk
Sehun membuka pintu kamar Su jeong perlahan. Noonanya yang sedang duduk di kasur membaca buku sambil memakan pocky –snack kesukaan noonanya-, menengok ke arahnya dan menyilahkan Sehun untuk masuk dan duduk di sebelahnya.
"Noona, apa eommaku menyayangiku ?" Tanya Sehun. Noonanya tersenyum.
"Tentu saja Sehunnie. Noona ingat waktu eomma Oh mengandungmu, ia selalu membicarakanmu pada noona. Bahwa kau selalu menendangnya dengan kuat, ia yakin kalau kau pasti jadi anak yang kuat dan sangat sehat nantinya" Ujarnya.
"Noona, apa eommaku sangat baik ?" Tanya Sehun lagi.
"Eh ? Tentu saja" Ujar Su jeong. Ia menaruh buku yang tadi ia baca di nakas dan duduk mendekat pada Sehun dan mulai menceritakan apa yang ia tahu tentang eomma Oh.
Dan malam itu, Sehun baru mengetahui sedikit tentang eommanya. Eommanya yang cantik, eommanya yang selalu membacakan noonanya dongeng sebelum tidur, eommanya yang sangat sayang pada noonanya walaupun noonanya bukan anak kandung eommanya, eommanya yang selalu tersenyum, eommanya yang baik hati, eommanya yang ramah pada semua orang, eommanya yang keras kepala, eommanya yang menyelamatkannya dari kematian ganti nyawanya sendiri. Andai...Andai ia bisa merasakan semua hal menyenangkan bersama eommanya, Sehun pasti akan sangat bahagia, tapi sayangnya ia tidak bisa, namun setidaknya ia bisa berbangga hati dan bahagia karna memiliki eomma yang hebat.
Melihat Sehun yang begitu antusias dengan eommanya bahkan tersenyum saat membayangkan sosok eommanya, membuat bahu noonanya tiba – tiba bergetar. Sehun terkejut, ia memegang bahu noonanya dan terlihat panik.
"Noona ? Noona kenapa ?" Tanyanya khawatir. Noonanya menatap dirinya dengan air mata yang mengalir.
"Sehun, seharusnya kau membenci noona, noona yang telah membuatmu menderita. Mian Sehun-ah...mianhae" Sehun terdiam namun ia tersenyum lembut.
"Seharusnya kau membenciku Hunnie. Aku yang seharusnya berada di tempatmu, kau yang lebih layak mendapatkan cinta mereka, bukan aku hiks" Lanjut noonanya terisak.
"Anieyo. Aku tidak akan membenci noona" Ujar Sehun mantap.
"Wae Sehunnie wae ?" Tanya noonanya bingung.
"Aku punya banyak orang untuk aku benci, tapi aku hanya punya satu noona untuk ku sayangi" Ujarnya lalu tersenyum tulus.
"Sehun tapi-"
"Lagipula semua ini bukan salah noona kok, jadi noona jangan menangis lagi ne" Ujar Sehun lembut. Hati Su Jeong tersentuh. Ia merasa kasihan, kenapa anak baik seperti Sehun harus mengalami hal seperti ini.
"Hiks, Sehun" Su jeong memeluk adiknya erat – erat, menyalurkan perasaan sedih, lega dan haru yang bercampur jadi satu.
...
Hari, bulan, tahun terus berganti termasuk keadaan Sehun. Ikat pinggang, penggaris besi, rotan, kemoceng semua pernah mengukir luka di tubuh Sehun, penyiksaan demi penyiksaan inilah yang membuat Sehun mulai jarang tersenyum, sejak setahun lalu ayahnya tidak memperbolehkannya telalu dekat dengan noonanya –ayahnya tak ingin anak perempuannya terkena sial karna dekat dengan Sehun-, jika ayahnya tahu mereka melakukan interaksi sedikit saja, noonanya akan dibentak sedangkan Sehun akan dikurung di loteng, selain itu ayahnya melarang semua pelayan untuk terlalu dekat dengannya, mereka diancam akan dipecat jika terlalu mengurusi Sehun, bahkan sekarang Sehun tak boleh memanggil ayahnya dengan sebutan ayah. Ia sudah tak dianggap anak oleh tuan Kwon, bagi ayahnya ia hanya pembawa sial yang menyusahkan.
Sehun menghela napas, ia memasukan alat tulisnya dan menyampirkan tasnya itu di bahu sebelum keluar dari kelas. Dengan tidak adanya guru, teman – temannya –jika bisa disebut teman- mulai mengejeknya seperti biasa. Sebenarnya Sehun mulai lelah dengan semua hal. Walaupun ia sudah kebal dengan semua ejekan teman dan makian ayahnya, ia lelah dianggap tak pantas hidup dengan layak. Tak hanya sekali ia berpikir untuk mati, namun ia mencoba bertahan untuk noonanya.
Ia menghela napas lagi kala melihat tak ada mobil yang menjemputnya. Pasti paman Gong dilarang menjemputnya lagi. Ia menggenggam tasnya dan berjalan pulang seperti biasa. Sudah menjadi rutinitasnya setiap hari pergi dan pulang sekolah dengan berjalan kaki belakangan ini. Menyedihkan memang.
Tak ingin pulang cepat. Sehun duduk di taman sendirian, hanya memandang anak – anak kecil yang sedang bermain bersama orangtua atau saudara mereka dengan pandangan iri. Ketika hari sudah berganti petang, Sehun ingin beranjak dari tempatnya duduk untuk pulang sebelum sekelompok anak yang lebih tinggi darinya mendekat dan berdiri di depannya.
Di saat terpuruk itulah orang – orang yang ia anggap malaikat datang, tanpa ia tahu mereka lah yang akan menghancurkan hidupnya perlahan.
"Hey, kau mau bermain bersama kami ?" Tanya salah satu dari mereka. Sehun memandang mereka satu persatu. Perawakan mereka jauh lebih besar dari Sehun, kalau dilihat – lihat mungkin mereka anak SHS. Mereka tampak 'berantakan', rambut mereka berwarna – warni, seragam mereka tak dipakai dengan benar, jelas mereka adalah anak berandalan yang orang – orang jauhi selama ini.
Sehun termenung, jika dulu Sehun juga menjauhi mereka, entah kenapa sekarang ada sesuatu yang menariknya untuk mengikuti mereka. Maka ia mengangguk untuk menjawab pertanyaan mereka. Anak – anak SHS itu tersenyum, mereka mengajak Sehun ke base camp mereka yang berada di gang sempit. Mereka duduk di sebuah sofa coklat, 2 di antara mereka mulai menyulut rokok, 2 yang lain menaikan kakinya ke meja dan menonton tv. Sehun termenung di depan pintu, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Ya ! Masuklah !" Ujar salah seorang dari mereka. Sehun mengangguk, ia masuk ke dalam base camp itu dan duduk di sebelah mereka.
"Hey anggota baru, perkenalkan aku Won Jong jin. Dia Im Young pyo, lalu Gwak Min jun dan Hwang Jin uk" Ujar Jong jin memperkenalkan semua anggota gank mereka.
"Dan kau ?" Jong jin menatap Sehun.
"Oh Sehun" Jawab Sehun.
"Selamat datang di Wolf gank Oh Sehun" Ujar Jong jin lalu merangkul bahu Sehun. Sehun tersenyum, rasanya menyenangkan sekali ketika mereka merangkulnya dan menyambutnya. Ini pertama kalinya ia merasa memiliki teman.
"Hey Sehun, try it bro" Ujar Jin uk, merangkul bahu Sehun dan memberinya sebuah benda yang kurang lebih sepanjang jarinya dan korek api. Sehun tahu benar benda itu adalah rokok, tapi tanpa pikir panjang lagi, ia memasukkan ujung batang rokok itu ke dalam mulutnya dan membakar ujung lainnya. Seperti pemula yang lain, ia terbatuk – batuk karna tak terbiasa.
"Try more" Jin uk angkat bicara lagi. Sehun menghisap rokoknya lagi dan kembali terbatuk namun ia kembali mencoba hingga akhirnya ia mulai ia terbiasa.
"Good" Orang itu menepuk bahu Sehun memberi selamat. Sehun tersenyum senang, ia merasa diterima dan bangga. Ia menghisap rokok itu lagi, walaupun masih merasa aneh, ia tidak ingin berhenti.
"Ini sudah hampir malam, kau bisa pulang. Kembalilah kesini besok ok" Min jun melempar salah satu kotak rokok baru pada Sehun yang langsung ditangkap pria albino itu. Sehun menatap mereka semua agak terkejut.
"Ne ?"
"Kembalilah kesini besok" Sehun kembali terkejut.
Ia diterima
Sekian lama, akhirnya ada yang menerima kehadirannya
"Ne, araseo" Jawab Sehun, tersenyum sebelum pergi dengan bahagia. Ia tersenyum sepanjang perjalanan, tangannya memegang kotak rokok 'hadiah' pertama yang ia dapat dari temannya dengan erat, serasa tak ingin kotak itu hilang.
Senyum bahagianya luntur seketika saat ia sampai di depan gerbang rumahnya. Wajahnya langsung datar dan ia masuk dengan enggan.
"Sehunnn" Noonanya segera mendekatinya dan menatapnya khawatir.
"Gwaenchana ? Kenapa kau pulang telat ?" Tanyanya, membelai pipi Sehun dengan lembut sampai Sehun memejamkan matanya merasa nyaman.
"Nan gwaenchana noona, noona tak perlu khawatir. Aku hanya habis berjalan – jalan sendirian" Sehun tersenyum dan hendak naik ke kamarnya yang berada di loteng sebelum noonanya menangkap tangannya hingga ia berhenti melangkah. Sehun menatap noonannya heran.
"Sehun, kenapa kau bau rokok ?" Noonanya bertanya curiga. Sehun terkejut namun dengan cepat ia menyembunyikan keterkejutannya dengan muka datar.
"Mungkin karna tadi ada yang merokok di sebelahku" Sehun beralasan, tak ingin membuat noonanya kecewa karna ia baru saja mencoba merokok. Noonanya merasa lega karna kekhawatirannya tidak terjadi. Ia membelai lembut rambut Sehun.
"Mandilah lalu kita makan" Ujarnya. Sehun mengangguk dan berlari kecil ke kamarnya.
...
Besoknya, ia benar – benar kembali ke base camp Wolf gank. Awalnya mereka hanya menawari Sehun merokok, namun lama kelamaan ia menawari Sehun untuk minum alkohol padahal dirinya masih berumur 12 tahun saat itu. Mereka juga mengajari Sehun untuk memaki, clubbing, berkelahi -bahkan Sehun sudah beberapa kali terlibat perkelahian bersama mereka-, mereka benar – benar mengajari Sehun cara untuk menjadi 'Bad boy'. Bermain dengan anak SHS tentu membuat dirinya juga dewasa lebih cepat dari seharusnya.
Awalnya Sehun tak mengerti kenapa mereka mau berteman dengannnya, namun setelah sekian lama bersama, Sehun mulai mengerti bahwa mereka bernasib sama dengannya. Tidak dianggap dan diasingkan, mereka sama – sama dianggap anak yang hanya bisa membuat masalah, jika Sehun memilih diam, mereka memilih memberontak dari awal dan ini adalah wujud pemberontakan mereka. Waktu mereka melihat Sehun di taman saat itu, mereka dapat melihat pancaran kesedihan, kesendirian dan kekecewaan pada Sehun, merasa iba, maka mereka mengajaknya berteman dan mereka akhirnya berteman baik sekarang.
Berteman dengan wolf gank tentu membawa perubahan perlahan namun besar pada Sehun, semua orang tau Sehun berubah termasuk noonanya. Noonanya tak percaya saat mendengar bahwa Sehun mulai berani memberontak dan mengajak berkelahi teman – temannya yang berani mengejeknya di sekolah.
Sehun semakin sering pulang malam, bahkan ia pernah tak pulang berhari – hari. Setiap pulang ke rumah, Su jeong dapat mencium bau alkohol dan rokok dari badan Sehun, rambut Sehun yang biasanya berwarna hitam mulai berubah – rubah. Baju yang biasanya ia pakai dengan rapih, mulai berantakan. Bahkan sering Sehun pulang dengan keadaan babak belur dan berdarah, habis berkelahi dengan gank lain.
Tidak ada lagi Sehun yang selalu mendapat nilai sempurna, semua nilainya menurun drastis, ia tak pernah ingin belajar lagi. Sekolah sering membolos bahkan jika ia sekolah, ia malah membuat kerusuhan bukannya belajar. Sedikit senggolan saja, bogem mentah mereka dapat dari Sehun. Junior, senior bahkan guru takut padanya. Tak terhitung berapa kali Sehun mendapat skorsing dan seringkali ia juga hampir dikeluarkan dari sekolah tapi ayahnya membayar kepala sekolah untuk tidak mengeluarkan Sehun dan memberinya nilai palsu hanya agar anak itu tetap bisa naik ke tingkat selanjutnya.
Jae hwa sangat marah saat pertama kali Sehun pulang dengan keadaan setengah mabuk, ia menarik kerah Sehun dan hampir menamparnya jika Sehun tak mendorongnya lebih dahulu dan memukulnya hingga ayahnya tersungkur ke lantai. Su jeong terkejut melihat perkelahian itu.
"Kau !" Ayahnya dengan cepat berdiri dan menunjuk wajahnya.
"Wae ?!" Sehun menatap ayahnya penuh benci, sama seperti ayahnya yang selalu menatapnya penuh kebencian.
"Dasar anak brengsek !" Sehun mendecih tidak suka. Ia menatap tajam ayahnya.
"Memangnya kau tidak ?! Kau lebih brengsek dariku !" Ujar Sehun melawan.
"Lagipula kau yang membuatku menjadi begini jadi terima saja, Kwon Jae Hwa" Lanjut Sehun dingin. Sengaja memanggil ayahnya dengan nama karna ia ingat sekali ayahnya melarangnya untuk memanggilnya appa.
"KAU !" Jae hwa semakin geram. Sehun menatap Jae hwa dengan tak kalah geram.
"Sehunn" Sehun mengalihkan perhatiannya pada sang noona yang memanggilnya, ia dapat melihat noonanya yang telah menangis. Sehun tertegun. Tangannya yang tadi terkepal karna sangat ingin menghajar ayahnya lagi kini melemas. Ia membenarkan bajunya dan berjalan ke loteng, tak ingin melihat noonanya yang kecewa padanya lama – lama karna itu sangat menyakitkan.
"Dasar anak sialan itu, berani sekali dia !" Jae hwa masih geram.
"Berhentilah menyalahkan Sehun karna ini semua salah appa !" Su jeong membentak ayahnya lalu lari ke kamarnya. Jae hwa terkejut, pelayan – pelayan yang tadi menonton mulai membubarkan diri dan melanjutkan bekerja karna tak ingin mengganggu tuan besarnya yang sedang terguncang.
Awalnya memang Sehun adalah anak polos yang sangat baik. Anak yang selalu penurut, ramah, tidak pernah membantah, selalu tersenyum walaupun masalah yang ia hadapi bukanlah masalah yang ringan, ia rajin dan pintar, menjadikannya anak yang paling diinginkan tapi kenyataannya karna ayahnya yang brengsek itu, ia telah menghancur masa depan Sehun, menghancurkan segala sifat baiknya. Sehun yang awalnya adalah anak idaman, sekarang telah berganti menjadi anak yang paling tidak diinginkan dengan segala kenakalan, kebrengsekan dan kebrandalannya.
Hancur,...Sehun adalah sampah masyarakat.
Miris terlalu miris.
...
Sehun menatap dirinya di cermin besar, matanya tak sengaja menangkap bekas - bekas luka jelek yang menghiasi punggungnya. Senyun tersenyum kala sebuah ide terlintas di otak jeniusnya, dulu senyum itu adalah senyum malaikat yang menyenangkan tapi kini senyuman itu terganti dengan senyuman setan yang menyeramkan.
Ia menyambar baju dan jaket kulitnya lalu memakainya. Ia keluar dari neraka itu dengan cepat karna tak ingin noonanya tau ia keluar lagi. Selama ini Sehun memang tak ingin noonanya melihat kenakalannya. Sebelum masuk ke rumah, ia selalu menghabiskan alkoholnya atau mematikan rokoknya tapi noonanya tau kalau ia baru saja merokok dan minum dari bau tubuhnya. Ia juga tak ingin pulang ke rumah sering – sering karna tak ingin kelepasan memukul ayahnya seperti saat ia memukul ayahnya untuk pertama kali di depan noonanya, bibi Oh serta paman Gong.
"Hey Hun" Sapa Jin uk saat Sehun masuk ke base camp mereka. Ia menyodorkan kepalan tangannya pada Sehun yang langsung disambut oleh kepalan Sehun.
"Dimana Jong jin hyung ?" Tanya Sehun.
"Ada di belakang sedang minum" Ujar Jin uk. "Kau ingin bergabung ?" Ajaknya. Sehun menggeleng. Ia sedang tidak ingin minum sekarang.
"Ada apa ?" Tanyanya lagi.
"Aku ingin mentatto punggungku" Ujar Sehun mengatakan keinginannya.
"Tatto ? Bilang saja pada Young pyo. Anak itu punya peralatan tatto sendiri" Ujar Jin uk. Sehun mengangguk mengerti. Ia langsung pergi ke ruangan Young pyo setelah Jin uk memberi tahunya dimana hyungnya yang satu itu berada.
"Hyung" Panggil Sehun, duduk di depan Young pyo yang sedang merokok.
"Wae ?" Tanyanya.
"Bisa mentatto punggungku ?" Ujar Sehun. Young pyo menatapnya agak heran.
"Ada yang ingin kututupi" Ujar Sehun lagi. Young pyo paham, ia mengambil peralatan tattonya dan duduk di belakang Sehun yang sudah topless.
"Buat saja yang besar untuk menutupi bekas luka jelek itu" Ujar Sehun.
"Ini akan sedikit sakit jadi tahan saja" Ujar Young pyo dan Sehun mengangguk.
...
Sehun membuka bajunya dengan perlahan, tatto serigala yang baru saja ia buat di punggungnya masih terasa agak perih, namun ia tersenyum puas kala tatto itu setidaknya menyamarkan beberapa luka yang menghiasi punggungnya.
"Hun" Seseorang memanggil namanya lembut, Sehun berbalik dan mendapati noonanya menatapnya dengan sedih. Sehun memalingkan mukanya, tak ingin melihat noonanya yang lagi – lagi menatapnya dengan pandangan kecewa. Ia memilih untuk menyambar handuk dan berjalan ke kamar mandi tanpa melihat noonanya.
"Jika kau sudah selesai mandi, ayo makan bersama" Ajak noonanya sebelum Sehun masuk ke kamar mandi.
"Aku tidak bisa, aku akan pergi lagi. Mianhae" Ujar Sehun.
"Ke klub lagi ?" Sehun terdiam. Noonanya tersenyum getir, ia mendekati Sehun dan memeluknya.
"Aku merindukan Sehunku yang dulu" Noonanya berbisik lirih. Dada sehun terasa sakit namun ia tidak bisa, bukan, ia tidak mau kembali ke Sehun yang dulu. Ia bahagia sekarang, ia tidak mau menjadi Sehun yang terpuruk itu lagi.
"Jangan pulang terlalu malam ara" Noonanya berbisik lagi dan melepas pelukannya pada Sehun lalu ia pergi dari situ.
"Mianhae" Sehun berucap lirih lalu masuk ke kamar mandi.
...
Sehun sedang minum White Russian sambil menikmati musik yang berdentum keras saat Jung Jin duduk di sebelahnya dan menepuk pundaknya.
"Hey bro, mereka terus menatapmu dari tadi, tidak tertarik untuk mencobanya ?" Jung jin menunjuk sekelompok wanita 'jualan' dengan dagunya. Sehun menoleh ke arah yang ditunjuk Jung jin untuk menatap wanita – wanita berpakaian minim dan terbuka yang langsung 'pamer' seperti tidak punya harga diri. Yeah, sebagai lelaki normal tentu saja hormon lelaki Sehun bereaksi saat melihat wanita berpakaian sexy itu memamerkan asetnya kemana - mana. Ia memang sudah sering ke klub dan mencoba semua alkohol yang ada di situ, kadang ia sampai mabuk karna terlalu banyak minum tapi perlu kalian ketahui bahwa ia masih perjaka, tidak seperti teman – temannya yang sudah sering 'bermain'.
"Cobalah, kau tidak akan menyesal. Mereka ahli" Ujar Jun jin lagi. Sehun masih menimang - nimang, namun kemudian ia meneguk white russiannya untuk terakhir kali dan berjalan mendekati wanita – wanita 'jualan' yang sedari tadi menatapnya 'lapar'.
"Bersenang – senanglah bro" Teriak Jung jin. Sehun hanya membalas dengan senyuman.
...
Di sebuah kamar, tampaklah 2 orang berbeda gender yang terlihat jelas sangat berbeda umur. Sang wanita tampak menatap anak lelaki di depannya dengan pandangan kagum. Wanita itu adalah wanita yang Sehun sewa malam ini untuk menuntaskan birahinya, sebenarnya ia lebih cocok menjadi tantenya, tapi tidak, Sehun tidak ingin punya tante seorang jalang.
"Coba ku tebak, kau anak JHS ?" Tanya wanita itu. Sehun mengangguk.
"Tak kusangka aku akan mendapat anak JHS lagi, tapi tak apa, jaman sekarang memang banyak yang seumuranmu sudah tidak perjaka. Lagipula, kurasa aku beruntung mendapatkanmu, kau cukup tampan dan menggairahkan" Wanita itu mendorong Sehun ke kasur dan menduduki perut Sehun.
"Jadi berapa ronde yang kau hmm ?" Wanita itu memainkan jarinya di dada Sehun yang masih tertutup baju.
"Terserah" Sehun menjawab cuek. Wanita itu mendengus sebal namun kemudian ia menyeringai dan menggerayangi Sehun.
...
Bermenit – menit telah berlalu di sebuah ruangan yang mulai panas, seorang wanita, hanya dengan pakaian dalamnya duduk di depan seorang anak lelaki yang telah topless. Wanita itu mengulurkan tangannya untuk mengelus dada Sehun lagi, bibirnya bahkan sudah bergerilya kesana kemari.
Sehun hanya menatap wanita itu. Tentu saja sejak awal ia bernafsu namun entah kenapa ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman sedari tadi. Saat wanita itu menuntun jarinya sendiri pada jins yang Sehun pakai, Sehun semakin tidak enak hati. Ia memejamkan matanya, terjadi peperangan batin dalam hatinya.
Haruskah ia melakukan ini ?
Haruskah ia lepas keperjakaanya sekarang ?
Ya, ia ingin dan mau, ia bernafsu, ia juga ingin seperti teman – temannya.
Tapi,
Apa yang akan terjadi dengan noonanya jika ia mengetahui apa yang Sehun perbuat malam ini ?
Kecewa kah ?
Marah kah ?
Menangis kah ?
Semuanya, noonanya pasti akan sangat marah, kecewa dan menangis sedih. Sehun tidak mau menyakiti noonanya. Ia tidak ingin noonanya kecewa.
Tidak tidak ini tidak boleh terjadi
Setelah puas membelai paha Sehun, wanita itu membuka kancing celana jins Sehun dan menurunkan resletingnya namun belum juga jins itu diturunkan, Sehun lebih dahulu menangkap tangan wanita itu.
"Wae baby ?" Tanyanya, agak kesal karna ia tidak jadi melihat gundukan Sehun dengan lebih jelas.
"Mianhae, aku tidak bisa melanjutkannya" Wanita itu terkejut.
"Wae ? Kita bahkan belum sampai inti. Ayo lanjutkan saja" Ujarnya agar memaksa.
"Aku bilang, aku tidak bisa" Sehun bangkit berdiri, membenarkan celananya dan menyambar bajunya lalu memakainya. Wanita itu menatapnya sebal.
"Aku pergi, uangnya akan aku transfer secepatnya" Ujar Sehun sebelum pergi dari ruangan itu.
"Ck, dasar bocah ababil !" Umpat wanita itu kesal karna tidak berhasil mendapatkan anak JHS tampan seperti Sehun.
...
Setelah keluar dari kamar yang ia sewa, Sehun memutuskan untuk pulang saja. Moodnya sedang tidak baik untuk berlama – lama disini. Pulang dan tidur adalah pilihan terbaik yang ia punya saat ini. Jung jin yang melihat Sehun sudah keluar agak terkejut.
"Sudah ? Cepat sekali" Tanya Jung jin. Sehun tak menjawab.
"Bagaimana ?" Kali ini Young pyo yang bertanya.
"Aku akan pulang lebih dahulu" Bukannya menjawab, Sehun memilih untuk segera pergi dari tempat itu.
"Eh ? Ara, see ya" Jung jin melambaikan tangannya pada Sehun dan Sehun membalasnya sebelum pergi dari sana.
...
Sehun mematikan rokoknya sebelum membuka pintu rumahnya. Itu sudah jam 2 pagi ketika ia pulang ke rumah.
Ckelk
DEG !
Sehun terkejut kala melihat noonanya sudah berdiri di belakang pintu, tangannya terlipat di depan dada dan baju hangat menutupi tubuhnya.
"Kau terlambat. Noona sudah menunggumu daritadi Sehun ah" Ujarnya. Sehun mendadak kaku, ia tidak tahu harus apa.
"Kau minum dan merokok lagi, dasar anak nakal" Ujarnya dengan nada bercanda tapi Sehun tau ada nada sedih dari ucapan noonanya. Sehun menunduk bersalah.
"Masuklah, noona akan membuatkanmu susu hangat" Ujarnya lagi. Sehun mengangguk, ia duduk di sofa dan menunggu. Tak lama noonanya datang dengan susu coklat hangat kesukaannya, dulu ia selalu meminum susu coklat, sebelum ia lebih memilih untuk minum alkohol sekarang.
Noonanya menatap Sehun yang meminum susu hangatnya. Ia tersenyum namun senyumannya pudar saat tak sengaja melihat sebuah tanda kemerahan pada leher adiknya.
"Hun ah~" Panggil Su jeong. Sehun segera menatap noonanya.
"Lehermu. Apa kau habis bercinta ?" Tanya noonanya to the point. Sehun menegang. Ia mengelus lehernya, tak tahu harus berkata apa.
"Jawab Oh Sehun, apa kau melakukannya ?" Tanya noonanya sekali lagi, nadanya naik, terdengar sekali kalau ia marah.
Sehun segera menggeleng. "Hampir, tapi tidak jadi karna aku tidak bisa melanjutkannya ke tahap yang lebih jauh" Sehun menjawab jujur. Noonanya menghela napas lega.
"Jangan"
"Ne ?"
"Jangan melakukannya lagi. Lakukan hanya dengan istrimu kelak. Kau mengerti ?" Sehun mengangguk.
"Berjanjilah"
"Ne janji" Noonanya tersenyum sangat manis. Sehun ikut tersenyum. Sehun merasa beruntung karna ia tidak jadi melakukannya.
...
Hari ini adalah hari yang berat bagi Sehun. Di sekolah, seorang guru benar – benar menyulut emosinya. Sehun sebenarnya sedang tak ingin mencari masalah, ia hanya tak sengaja menabrak seorang guru yang sedang membawa cangkir kopi panas hingga kopi itu tumpah dan menodai kemeja putihnya. Sang guru langsung marah, ia menunjuk wajah Sehun dengan telunjuknya.
"DASAR ANAK YATIM PIATU SIALAN !" Bentaknya. Sehun menggeram marah. Tangannya terkepal erat namun ia mencoba bersabar.
"BAJINGAN BRENGSEK ! AKU MUAK MELIHATMU !" Bentak sang guru lagi. Sehun yang tadinya ingin melepaskan sang guru kini semakin mengepalkan tangannya. Ia menatap sang guru dan mencengkram kerahnya lalu memukulnya berkali – kali hingga sang guru benar – benar tersungkur ke tanah dan tak berdaya.
Nafas Sehun memburu, ia menatap sang guru dengan tatapan kebencian. "Jangan main – main dengan emosiku !" Ancamnya dingin. Ia menendang tubuh gurunya untuk terakhir kali sebelum kembali ke kelasnya, membereskan buku – bukunya dan pergi dari sekolah begitu saja.
Bukankah mereka muak melihatnya ? Maka ia tak akan pernah datang ke sekolah lagi.
Perkelahian guru – murid itu tentu menjadi perbincangan satu sekolah. Kepala sekolah yang mendapat kabar itu memijat pelipisnya, kelakuan Sehun semakin menjadi – jadi, ia sudah memberi banyak skorsing pada anak itu tapi kelakuannya tidak berubah. Ia mengangkat gagang telepon dan memencet beberapa nomer yang terhubung dengan seseorang.
"Yoboseyo ?" Suara lelaki umur 30 tahunan terdengar.
"Ini saya, kepala sekolah Sehun" Ujar sang kepala sekolah.
"Ada apa lagi dengan anak itu ?" Tanya sang lelaki yang diketahui adalah ayah Sehun, Kwon Jae hwa.
"Ia baru saja berkelahi dengan seorang guru dan pergi dari sekolah" Jawabnya. Terdengar gumanan 'Dasar anak pembawa sial' dari seberang sana.
"Ara. Aku akan memberinya pelajaran jika ia sudah di rumah" Ujar sang ayah.
"Jika seperti ini terus, ia bisa – bisa tidak lulus" Ujar sang kepala sekolah lagi.
"Aku mengerti. Aku akan mengurusnya" Balas sang ayah sebelum menutup telepon. Jae hwa memukul mejanya kesal.
"Kenapa kau membiarkannya hidup Sunhee ? Anak sialan itu hanya bisa membawa sial dan malu" Monolognya sambil memijat pelipisnya.
...
Seperti yang Jae hwa katakan pada kepala sekolah siang tadi, Jae hwa benar – benar memberi Sehun 'pelajaran'. Sehun baru pulang entah dari mana saat ayahnya melemparnya dengan gelas kaca. Sehun menatap ayahnya berani, tak dipedulikan darah yang mengalir di kepalanya.
Ayahnya mendekat, ia mencengkram kerah Sehun dan mendorongnya ke tembok lalu meninjunya.
"KAU !"
"APA MAUMU HUH ! SELALU MEMBAWA SIAL DAN MALU !"
"PEMBAWA SIAL TAK BERGUNA SEPERTIMU SEHARUSNYA TAK PERNAH LAHIR !"
Ayahnya membentak sambil memakinya lagi sebelum memukulnya, Sehun terdiam tak ingin membalas karna disitu sudah ada noonanya yang melihat mereka. Walaupun selama ini ia berusaha tak peduli dengan ucapan sang ayah, tapi tetap saja kata – kata itu menghancurkan hatinya dan merusak mentalnya.
"APPA HENTIKAN !" Ujar sang noonanya, ia menarik tangan ayahnya untuk menjauh dari Sehun namun ayahnya yang masih emosi tak sengaja memukul sang noona hingga ia terhempas, hidung noonanya berdarah karna terpukul ayahnya.
Sehun membelalakan matanya, ia mengepalkan tangannya dan menatap ayahnya yang juga sama terkejutnya.
"Kau boleh menyakitiku sepuasmu tuan Kwon tapi tidak dengan noonaku !" Sehun berujar dingin. Ia menahan semua emosi yang terkumpul untuk tidak menghajar ayahnya saat itu juga.
"INI SEMUA KARNA KAU ! SUDAH KUBILANG KAU HANYA MEMBAWA SIAL ! PERGI SAJA SANA !" Bentak ayahnya. Sehun muak, ia ingin menolong noonanya tapi disisi lain ayahnya terus mengintimidasinya. Maka Sehun memukul tembok dengan keras, nafasnya memburu dan ia segera pergi dari situ, tak lupa untuk membanting pintu begitu keras untuk meluapkan emosinya.
.
.
.
Pocky Boy ; Sehun past - TBC
Author note :
Cuma mo bilang ini sengaja dibagi 2 karna panjangggg banget, biar ga bosen gitu...Mudah - mudahan ga bosen
pliss jangan terkam/? saya karna ada sedikit bagian yang uhuk - uhuk/?
So, next~
