Welll, i'm come back lagi meski agak lama sih, dengan fic ini dan kini kita sudah berganti Arc dari Arc Before Z dan sekarang Arc Z sudah dimulai dengan kemunculan Para Zombie yang luar biasa banyak dan Juga Penyebab dari Kota yang seperti Hell ini, aku juga sudah mempersiapkan Pair juga tapi, gak usah kepo lah karena bakal terjawab sendiri di Cerita saya karena untuk saya tak suka yang namanya banyak sekali Spoiler terlebih jika belum nonton tapi, udah diceritain hahhh itu luar biasa untuk di gebuk pake samehada biar gak tuman :v just Kidding gak usah tanggap.

P.s : uhmmmm! Apa cuman aku yang penasaran pengen terus buat Fic versi inggris meski banyak yang salah dan gak komplit, bagiku bodo amat mereka meledek atau komplain yang Penting tetap nulis

.

...

.

- Atap Sekolah

Lari, Lari dan Serang hanya itu yang bisa Mereka berdua lakukan sekarang disaat situasi tengah rumit dan Genting seperti ini, setelah Pengumuman dadakan yang terjadi secara tiba-tiba sontak seisi Sekolah langsung panik dan berhamburan keluar seperti Semut yang Keluar dari Sarang karena merasa terganggu.

Dan setelah teriakan dan Kejadian buruk itu, baru beberapa Menit tapi sekarang Seisi Sekolah sudah seperti Neraka yang cukup menyeramkan, dengan Darah di lantai dan Tembok, beberapa Murid yang sudah tergeletak bukan karena Pingsan melainkan Sudah Tewas dengan darah yang mengalir.

Dan lebih Parah lagi bukan saja Murid-murid yang tewas namun ada beberapa Murid yang tewas kini hidup lagi, bukan karena Mereka selamat atau sebagainya tapi terlihat kondisi Mereka lebih buruk dari tadi, wajah Pucat Gelap, Tak ada Iris sama sekali, Mulut menganga, dan Kondisi jalan sempoyongan dengan tangan ke depan.

*brajkkk! *Crashhh!

"Sialan! Mereka tak Pernah ada habisnya sama sekali!" Ucap Hisashi yang menghantam dua orang Murid dengan Stick baseball, dia tau mereka sudah terinfeksi menjadi Zombie dan hal seperti ini sama dengan Game yang dia mainkan "aku, tak tau jika Sekolah sekarang bertambah buruk!" dia terus berlari dan Gadis di belakangnya mengikuti.

"Apa, kau yakin dengan hal ini Sayang?" Tanya Rei yang tetap setia mengikutinya, waktu awal terjadi dia cukup takut dan mulai Panik tak karuan untung saja ada Hisashi jadi kepanikan dia perlahan mulai sekarang "kita, harus ke Atap lebih dulu? Bukankah lebih bagus berkumpul dengan Orang-orang yang masih waras?"

"Tidak Rei, kita harus ke atap lebih dulu" Hisashi menggeleng dan menarik lengannya "karena untuk sekarang tempat itu lumayan aman dari Gangguan ini dan kita harus Istirahat dulu" dia melihat Tangga yang sudah Ada beberapa Zombie.

Hisashi ambil siaga dan langsung memukul tepat dibagian kepala karena kalau tubuh tak terasa efeknya, dia merasa tangannya terpegang dan sebelum digigit, Rei yang langsung menyodorkan tongkatnya dan membuat Kepala Zombie itu terputus.

"Terima kasih Rei!" Ucap Hisashi bernafas lega karena tak tergigit jika tergigit maka berakhirlah sudah.

"Sama-sama" Balas Rei tersenyum.

"Kita harus cepat karena mereka akan mengejar" Ucap Hisashi yang mendengar suara erangan mendekat.

"Oke!" Rei mengangguk

Mereka berdua terus berlari meski ada beberapa Zombie yang menghalang dengan mudah diatasi, terkadang Hisashi selalu lengah dan Hampir saja tergigit beruntung Pacarnya dengan sigap membantu dan tak lama mereka sampai.

"Kita sampai fiuhh!" Rei menghela nafas lega

"Meski selamat kita masih belum aman" Ucap Hisashi yang mendengar Pasukan Zombie itu masih mengejar "kita harus cari sesuatu untuk menghalang atau kita yang akan terjebak disini"

"Aku rasa, mungkin ini bisa dipakai?" Rei menunjuk beberapa kursi dan meja Sekolah tak terpakai.

"Aku rasa itu juga tak buruk" Hisashi setuju karena yang dia tau Zombie biasa bergerak sesuai insting hewan dan mereka tak memiliki otak untuk berfikir kecuali Zombie khusus

"Tapi, bagaimana caranya?" Tanya Rei terlihat sangat bingung.

"Aku rasa kita tempatkan ini Ditangga karena mereka takkan bisa lewat" Jawab Hisashi mulai memindahkan kursi dan Meja.

"Lebih baik di tumpuk tingkat karena mereka takkan bisa memanjat" Rei memberi saran.

Hisashi berhenti sejenak "Tapi, kau bantu aku untuk mempercepat masalah ini" dia kembali bekerja dan membuat tumpukan itu.

"Baiklah" Rei ikut membantu.

Hisashi mulai menumpukan Meja dan Kursi itu menjadi Tinggi, sambil menyambungkan dengan tali agar tak mudah Jatuh, sementara Rei memberikan Meja dan Kursi secara cepat meski terlihat kepayahan karena terlalu berat.

"Rargghhhh!" "arghhhhh!"

Dan tak lama Pasukan Zombie itu mulai berdatangan, Hisashi tetap pada Pekerjaannya yang bentar lagi selesai namun dalam hati dia sangat ketakutan dan tampak jelas bulir keringat di seluruh wajah meskipun ada Rei yang membantu dengan menghalau Mereka sementara tapi, tetap saja rasa takut ini masih ada.

Tak lama setelah itu Hisashi menyelesaikan pekerjaannya dan langsung turun dari sana, dengan wajah Penuh Keringat dia bisa melihat Para Zombie itu mencoba masuk namun tak bisa meski bersifat sementara setidaknya mereka untuk sekarang dalam masa aman.

"Huffttt! Benar-benar melelahkan" Hisashi menghela nafas lega, dia bersandar ke tembok menghilangkan rasa Penat karena sehabis banyak gerak dadakan "tapi, yang terpenting kita selamat sementara waktu"

"Kau benar" Rei ikut bersandar mengistirahatkan tubuh yang lelah "ngomong-ngomong kau ada Handphone tidak? Milikku sepertinya terjatuh waktu berlari?"

"Punyaku juga tertinggal di kelas dan mustahil untuk diambil lagi" Jawab Hisashi "memang kenapa? Adakah seseorang yang ingin kau hubungi?" dia bertanya balik

"Yeah, hanya keluargaku saja" Jawab Rei, dia tau efek Zombie ini tidak terjadi di sekolah saja melainkan sudah menyebar ke seluruh kota "aku harap mereka baik-baik saja dan berlindung di tempat aman"

"Mereka Orang Dewasa jadi, aku sudah tau mereka berlindung di tempat aman" Balas Hisashi mencoba menghiburnya dia melihat keluar Kondisi beberapa bangunan berasap dan terbakar, dan banyak Orang yang berjalan sempoyongan bisa dipastikan mereka sudah jadi Zombie "bagus, Kota yang indah kini berubah menjadi Kota yang mengerikan"

Untuk Rei dia memang belum terbiasa dengan hal seperti ini mengingat dia adalah Seorang Gadis Puber, dan jika dilibatkan dalam masalah ini jelas tampak sekali ketakutan, dan diperparah dia harus membunuh meski yang dibunuh bukan lagi manusia tapi, tetap saja ada rasa bersalah dalam hati meski mencoba untuk terbiasa.

"Tak usah cemas begitu lagipula kita melakukan ini demi menyelamatkan diri" Ucap Hisashi yang menyadari Ekspresi Pacarnya "yang jelas kita takkan dihukum karena melindungi diri"

"Baiklah" Rei kembali tenang tapi, Pandangannya ke arah Luar seolah memikirkan seseorang.

"Kau memikirkan Takashi?" Tanya Hisashi yang sudah bisa menebak ke arah mana

"Sedikit" Jawab Rei pelan

Meski sudah tak memiliki hubungan apapun tapi, tetap saja dalam situasi yang kacau seperti ini hati kecilnya memikirkan keadaan tentang mantan Pacarnya ini bahkan, waktu terluka parah di rumah sakit hatinya tetap resah, dan Gelisah tak menentu dan ini tak bisa dihilangkan

Apakah mungkin Perasaan yang sesungguhnya masih berharap bisa balikan lagi meski terdengar mustahil saat ini dia memiliki Hisashi sebagai Pacarnya sekarang dan juga hubungan dengan Takashi tak berjalan mulus bahkan hanya untuk sebagai teman saja.

Meskipun jika dia memang menyukai Takashi lagi, akankah Lelaki itu akan kembali seperti semula dan menerima semuanya? Itu sangat mustahil sekali sekarang dia berbeda dan sudah berubah sama sekali semenjak Pemutusan secara sepihak itu tanpa Penjelasan dan juga Rumor yang sudah memiliki Pacar baru santer terdengar tapi, dia cukup berasumsi bahwa itu Takagi mengingat hanya Gadis itu yang terlihat sangat dekat dengannya.

"Aku yakin dia berada disuatu tempat yang aman sekarang" Balas Hisashi tak tau harus berbicara apa "dia sudah besar dan tau apa yang harus dilakukan"

"Yah" Rei tersenyum namun ada sesuatu benda besar Hitam yang terbang ke arah mereka "hei, kau lihat sesuatu yang kemari?"

Hisashi melihat juga dan tau apa itu "bukankah itu Helikopter? Memang kenapa?"

"Aku rasa kita ada Pertolongan yang datang" Ucap Rei tampak raut senang di wajahnya melihat ini "bagaimana kalau kita minta bantuan mereka?"

"Aku rasa itu hal mustahil" Ucap Hisashi terlihat ragu.

"Hei! Hei! Hei! Cepat berhenti dan Tolong kita!" Rei berteriak sambil mengangkat tangan dan berharap sebuah Pertolongan namun, Helikopter itu pergi dan terbang mengabaikan teriakannya seolah tak melihat "Gzzz! Ada apa dengan mereka?"

"Aku rasa itu bukan Helikopter Kepolisian, melainkan Helikopter dari Anggota S.W.A.T" Jawab Hisashi mengabaikan Ekspresi marah Pacarnya "mereka kemari bukan untuk menyelamatkan masyarakat melainkan ada Tugas khusus itulah sebabnya kau diabaikan"

"Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Rei sudah pasrah

"Kita Istirahatkan dulu tubuh kita lalu berangkat lagi" Jawab Hisashi "kita akan kembali ke bawah dan bergabung bersama orang-orang yang masih selamat"

"Okay"

.

.

.

.

.

- Kelas

"Ehhh! Bangsat kau seharusnya Pergi ke sana bukan menghalangi jalan!"

"Kau bilang sesuatu sialan? Bagaimana mungkin kau bisa berbicara seenak dengkulmu!"

"Lapangan Luas tuh! Berantem Yuk!"

"Ehhh! Kamfret! Serius sedikit napa woyyy!"

*ehhh! Kau yang mulai duluan bangsat! "

"Arghhh! Terserah!"

Disaat orang lain sibuk menyelamatkan diri masing-masing dari Kepungan Zombie hanya ada dua orang bodoh yang saling berdebat satu sama lain tanpa mempedulikan sekitar mereka adalah Sahabat Takashi yang memiliki sifat Bejat, dan mereka terkepung di kelas tak bisa keluar karena Zombie berkeliaran di luar.

"Kau Pikir ini seperti dalam Game?" Tanya Immamura tenang dan tak memilih berdebat lebih panjang.

"Sangat Jelas sekali" Jawab Morita dengan seringai "kita tau kebanyakan orang-orang sudah terinfeksi dan hanya beberapa saja yang masih selamat"

Mereka berdua berada di dalam kelas dengan keadaan beberapa murid yang tergeletak dengan kepala bersimbah darah yang jelas itu Zombie dan juga kenapa Tak ada Zombie yang masuk karena Pintu terkunci rapat dengan tumpukan Kursi dan Meja

"Ini benar-benar seperti Mimpi buruk!" Komentar Immamura melihat ke arah Luar Kondisi Sekolah yang sudah tak normal lagi.

"Bukan Mimpi lagi, ini sudah sangat nyata" Ucap Morita setuju dia memegang Stick baseball yang sudah berlumur darah "siapa sangka hal seperti ini bakal terjadi" dia tak tau hidupnya yang sudah menyebalkan kini bertambah buruk.

"Kita tak bisa diam saja disini" Ucap Immamura berjalan dan mengambil sesuatu di dalam kolong meja "karena disini hanya ada dua Pilihan menunggu digigit atau kita yang menggigit"

"Istirahat sebentar, tenagaku benar-benar terkuras berkat tadi" Morita menghela nafas Panjang "aku harus butuh tidur Panjang setelah ini itupun jika tak ada yang menggangu"

"Kita tak bisa disini terus dan tetap bergerak" Ucap Immamura memegang sesuatu Panjang yang terlihat seperti Pedang "mungkinkah ada seseorang selain kita yang masih selamat?"

"Jelas ada, ini seperti di Game hanya saja saat ini mungkin masih di tempat Aman" Balas Morita melihat temannya namun menyadari sesuatu "Tunggu, itu Katana siapa? Dan kau dapatkan dari mana"

"Jelas sekali ini milikku, yang aku beli seminggu lalu" Jawab Immamura menyeringai jelas sekali Katana itu masih bersih dan mengkilap tajam "meski harganya luar biasa tapi, aku sudah mengumpulkan uang dari waktu yang lama"

"Bukankah itu Ilegal?" Tanya Morita yang dia tau seseorang yang belum berumur 18 ke atas tak diperbolehkan memiliki Senjata tajam

"Persetan dengan Peraturan itu!" Teriak Immamura yang tak Peduli "lagipula situasi kita sedang terdesak dan harus melakukan ini, bukankah kau juga sama telah membunuh seseorang?"

"Hah, mereka sudah jadi Zombie jadi wajar saja dan itu berbahaya" Jawab Morita beralasan

"Bukankah itu sama saja" Immamura Pokerface

"Bicara soal itu, apa kau melihat Takashi?" Tanya Morita yang tak melihat kawannya, dan dia juga cukup khawatir dengannya karena situasi sekarang "aku saat ini benar-benar tak melihatnya waktu kekacauan itu"

"Aku yakin yang kita bicarakan adalah Takashi yang aneh" Ucap Immamura dia tau temannya dalam hal seperti tak bodoh "dia juga Pasti melindungi diri dan bersembunyi di suatu tempat yang aman"

"Kita tak bisa diam disini saja!" Morita menggerutu Frustasi "kita tak bisa menunggu sesuatu yang berbahaya mendatangi kita justru kita yang akan mendatangi Mereka"

"Istirahat sebentar, selama kita masih aman disini" Ucap Immamura mendengus dia juga ingin cepat keluar tapi tenaga dia belum terkumpul lagi jika sekarang mungkin akan mati kehabisan Tenaga "aku yakin yang lain juga berfikir hal yang sama"

"Huffttt! Ini benar-benar seperti Neraka Dunia" Komentar Morita melihat keadaan sekarang "kita seolah tak takut apapun padahal telah membunuh seseorang meski itu Zombie sekalipun tapi, tetap saja itu hal tabu bagi kita"

"Itu adrenalin bung, terkadang Adrenalin memaksa kita untuk berbuat sesuatu yang diluar kesadaran tanpa berfikir" Jawab Immamura "jika, Kondisi normal mungkin saat ini kita masih gemetar ketakutan"

"Aku harap ini cepat berakhir dan kembali normal" Ucap Morita

"Aku rasa itu agak mustahil" Balas Immamura.

"Hei, kau berfikir bagaimana kalau kita keluar sekarang?" Tanya Morita terlihat bersemangat.

"Kenapa kau terlihat senang?" Tanya Immamura balik menyadari Ekspresi Morita yang aneh.

"Aku yakin ada beberapa orang yang selamat dan mari berharap itu Gadis atau Wanita" Morita menyeringai mesum ini jelas sekali ada maksud tujuan "jika kita menyelamatkan mereka bukankah itu berarti Para Gadis akan menyukai kita apalagi jika Punya Dada yang menakjubkan, itu benar-benar anugrah"

"Kau ada benarnya juga" Immamura terlihat setuju namun Ekspresi wajahnya biasa saja karena terlalu lelah memikirkan hal Ecchi seperti itu "kita juga harus berkumpul dengan yang lain karena semakin banyak orang semakin baik"

"Benar, terlebih jika membunuh Para Zombie kita tidak akan terlalu repot" Ucap Morita setuju "karena banyak yang membantu"

"Aku akan mulai" Ucap Immamura mulai menyingkirkan beberapa meja dan Kursi dari Pintu "setelah kita buka Pintu maka bersiaplah"

"Aku siap kapanpun" Morita siap dengan stick baseball di tangan "kita yang terpenting keluar dari sini dan berkumpul dengan yang selamat akan lebih Penting jika menemukan dan membantu yang masih waras"

"Baiklah, kau Pilih Kiri atau kanan" Ucap Immamura memegang gagang Pintu dan sudah terdengar suara serakan Zombie

"Kita ke kanan karena tujuan kita ke bawah" Jawab Morita

"Oke satu, Dua, Tiga" Ucap Immamura membuka Pintu dan berlari menerjang Para Zombie bersama Morita.

"Hancurkan mereka!"

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

- Kelas Lain

"Apa kau yakin tak apa seperti ini?"

"Yah, tak apa lagipula aku sudah tergigit dan tak ada obatnya"

"Serius? Kau ingin mati disini?"

"Yah, serius yang terpenting aku sudah melakukan sesuatu yang berguna"

"Boleh, aku tau siapa namamu?"

"Hinokawa Jite"

"Namamu akan selalu terkenang untuk selamanya"

"Aku rasa itu cukup"

*Slassshh *Crattt

Setelah itu terdengar suara orang berteriak yang terkena sayatan Pedang dan terlihat di kelas ini Seorang Gadis Berambut Ungu Panjang, dengan mata biru langit, seragam Sekolah yang dia kenakan sudah berlumuran darah tapi, Ekspresi wajahnya menunjukan seolah tak takut sama sekali.

Saeko Busujima siswi Kelas 3 yang masih selamat dalam invasi ini sementara teman-teman sekelasnya sudah terinfeksi Virus Zombie dan dia juga menghabisi Mereka dengan Pedangnya tapi, bukan hanya Zombie saja yang dia bunuh melainkan orang-orang normal yang sudah tergigit.

Bukan tanpa alasan dia melakukan seperti itu karena dibiarkan malah bakal jadi Zombie dan juga tampak wajahnya yang menikmati setiap menghabisi mereka mungkin dia sadis atau masochist entahlah, dan salah satu contohnya Murid yang baru saja ia bunuh karena melindungi seseorang dia juga tidak tega tapi kondisinya sudah tak memungkinkan lagi.

Saeko memiliki Tujuan ke kelas ini karena mencari Seorang Dokter atau Perawat karena dalam situasi mengerikan seperti ini adalah Ahli Pengobatan lah yang dibutuhkan dan harus dilindungi untuk terus merawat yang terluka dan sakit.

Dan ketika dia menemukan orang yang dimaksud saat ini tengah terkepung dengan banyak Zombie dan hanya satu orang murid yang menjaganya dengan cekatan dia langsung membantu dan menghabisi mereka.

"Anda baik-baik saja Sensei?" Tanya Saeko kepada Perawat Rambut Pirang itu "apakah, anda tergigit?"

"Tidak sama sekali" Perawat yang bernama Shizuka ini menggeleng "orang ini terus menjagaku hingga tergigit meski aku belum mengucapkan terima kasih" dia agak sedih dengan kondisi Murid yang menjaganya tadi.

"Tak usah khawatir setidaknya dia senang karena telah berguna" balas Saeko menghiburnya "tapi, Sensei masih bisa berlari bukan?"

Shizuka hanya mengangguk "tapi, kenapa? Memang kita akan kemana?" dia bertanya balik.

"Kita berkumpul dengan yang lain dan cari tempat yang aman" Jawab Saeko dia tau ada orang lain selain dirinya yang masih selamat dan bukankah itu hal bagus jika banyak orang dan saling membantu.

"Tapi, bisakah kau tunggu sebentar? Aku ingin mengemas semua Obat-obatku, siapa tau banyak berguna" Ucap Shizuka dengan nada meminta.

"Silahkan" Saeko mengangguk faham

Saeko hanya menatap banyak mayat yang bergeletak di bawah dia juga tak menyangka situasi di Sekolah ini berubah menjadi Mimpi buruk dan Parahnya banyak murid yang tak selamat atas kejadian ini.

'Takashi'

Saeko juga memikirkan Lelaki itu apakah dia selamat? Atau bersembunyi di tempat yang aman tapi dia berharap semua itu benar dan khawatir jika dia juga tergigit namun, dia Tau Takashi Lelaki yang kuat dan bisa menjaga diri itu terbukti waktu Penyelamatan Takagi.

Entah kenapa semenjak Mereka kenal beberapa minggu yang lalu Perasaan yang sebelumnya tak Pernah muncul jika berbicara dengan lelaki lain kini muncul dengan sangat cepat ketika berbicara atau sekedar bercanda seolah hatinya terasa nyaman dan hangat mungkinkah ini yang disebut dengan Cinta?

Saeko kurang faham dengan yang namanya Cinta atau Pacaran karena belum berpengalaman sama sekali tapi, mengingat buku romantis yang dia baca Perasaan ini sama dan tak ada perbedaan sama sekali.

Jatuh Cinta dengan seseorang memang tak buruk tapi, kau harus tau lebih dulu seseorang yang membuatmu Jatuh Cinta karena kalau salah bisa terperangkap tapi, kalau dilihat Takashi Lelaki yang berbeda Baik, banyak bicara, Humoris, lumayan kuat, tidak terlalu Ganteng tapi wajahnya itu cukup untuk bisa membuat minat Hati Para Gadis.

Memikirkan itu saja membuatnya blush kecil, mungkin untuk saat ini Perasaannya dia biarkan seperti ini dan tak ingin bergerak lebih cepat karena masih terasa nyaman dan menyenangkan mungkin dilain waktu dia akan mengatakan Perasaan ini.

"Baiklah, aku sudah siap" Ucap Shizuka yang siap dengan tas besar di Punggung yang penuh dengan hal-hal Pengobatan.

Saeko kembali sadar dari lamunannya "baiklah, Sensei ikuti aku dan tetap di belakang dan jangan terlalu jauh" dia memegang Pedangnya

"Memang kita akan kemana?" Tanya Shizuka bingung.

"Kita akan turun ke bawah dan berkumpul dengan yang lain" Ucap Saeko membuka Pintu.

"Oke" Shizuka mengangguk faham

Dan setelah Saeko membuka Pintu tak lama terdengar suara teriakan dan sesuatu yang tertebas disana.

.

.

.

.

"Hahhhh! Urghhhhhh!"

Berbeda sekali dengan kelas lain yang Penuh darah, Tumpukan mayat, dan Para Zombie yang berkeliaran di kelas ini semua keadaan di sekeliling bersih sama sekali seolah tak ada apapun hanya Kondisi kursi dan meja yang tak beraturan dan tentu saja ada penghuni disini hanya 2 orang berbeda jenis kelamin.

Yang satu Gadis muda Berambut Pink, dengan kuncir dua ke samping, dengan mata Kuning mengeluarkan Ekspresi seolah tak ingin ada disini dalam waktu yang lama, dan yang satunya Seorang Lelaki Gendut, dengan Pipi Cubby, Berambut Hitam. Mengenakan kacamata besar dan terlihat sedang membuat sesuatu di Pojokan kelas.

"Argghhh benar-benar Payah!"

Saya Takagi di sana dia hanya menggerutu dan mengomel tak karuan karena tiga hal dan alasan ini terdengar gak nyambung dan aneh.

Pertama dia terjebak disini dalam situasi yang bisa dibilang gak bagus karena dia Seorang Gadis dan ada Lelaki lain disini meski satu kelas dia tak terlalu akrab tapi tetap saja ini agak risih menurutnya karena menurut rumor Lelaki ini adalah Seorang Maniak Otaku dan dia tak ingin terjebak dalam hal seperti ini jika ada Takashi mungkin akan lebih baik.

Kedua situasi keadaan Sekolah yang dia tempat belajar lebih terlihat tak seperti sebuah kota yang sehabis Perang banyak Darah dan mayat dimanapun setiap langkah tapi, beruntung karena disini tak ada hal seperti itu dan dia benci hal kotor dan mejijikan terutama darah bukan karena tak suka lebih tepat Trauma apalagi jika jumlah banyak dan ini mengingatkannya pada Penculikan terhadap dirinya yang sama sekali tak ingin diingat lagi.

Ketiga, sudah jelas seseorang yang saat ini dia khawatirkan dan tak lain adalah Takashi, jelas sekali jika Saya khawatir terlebih keadaan Sekolah yang buruk dan sudah jadi Sarang Zombie dan dia Takut Takashi sakit atau tergigit oleh Zombie itu dalam hati dia mendumel sangat marah kepada Lelaki itu sampai membuatnya khawatir yang berlebihan seperti ini

"Sudah selesai!" Ucap Lelaki Gendut yang membuyarkan lamunan Saya.

"Kohta Hirano! Apa yang kau lakukan!" Teriak Saya yang melihat Lelaki itu tengah memegang sesuatu

Lelaki bernama Kohta ini menjawab "sebuah, Senjata bagus yang siap membantai Para Zombie itu!" dia tersenyum bangga atas hasil karyanya.

"Bukankah itu hanya Bor Listrik?" Ucap Saya yang sudah tau benda apa itu.

"Memang benar tapi, ini juga bisa untuk menghancurkan mereka" Balas Kohta dengan kepedean tingkat tinggi.

"Benarkah?" Saya terlihat tak begitu yakin, yang dia tau Bor itu digunakan untuk melubangi sebuah Tembok atau Kayu.

"Benar sekali!" Kohta mengangguk senang "yah, meski tak bisa membunuh semua tapi, setidaknya ini cukup untuk menghancurkan beberapa Zombie yang mendekat meski secara satu-satu"

"Darimana kau tau cara membuat ini?" Tanya Saya penasaran.

"Google!" Jawab Kohta membuat Gadis Berambut Pink ini Pokerface.

"Sungguh bagus!" Komentar Saya memilih tak berbicara banyak lagi.

Kohta berjalan ke arah Pintu tapi, sebelum itu dia menoleh "Takagi, cepat berada dibelakangku dan bersiaplah"

"Baiklah" Saya lebih menurut karena situasi ini tak memungkinkan jika dalam kehidupan biasa mungkin Lelaki ini sudah ditendang karena memerintah.

Kohta sedikit membuka Pintu dan melihat beberapa Zombie yamg berkeliaran "hmmmm, sepertinya kita berdua cukup mengatasi mereka"

"Ughhhh berhentilah bermain-main" Saya terlihat sangat riskan dengan hal ini maka dari itu di tangannya sudah sedia tongkat Panjang meski kenyataan tak mahir dalam hal ini.

"Rargghhhh!"

Kohta lebih dulu maju dan memggebrak Pintu dengan semangat dan Saya menyusulnya dari belakang dengan langkah pelan.

"Hahahaha rasakan ini Zombie sialan!" Kohta tertawa puas setelah menghancurkan salah satu Zombie dengan senjata rakitannya meski banyak darah muncrat keluar tapi tak ada wajah penyeselan sama sekali.

"Ghhh! Gila" Komentar Saya melihat ini terasa ngilu bukan karena pembunuhan itu melainkan darah yang banyak keluar 'aku, tak Pernah tau dia jadi maniak seperti ini' dia hanya membantunya dengan menghalau Zombie yang mendekat saja.

"Fiuhhhh benar-benar luar biasa!"Kohta menghela nafas lega meski kacamata yang dia kenakan bersimbah banyak darah tapi tak ada rasa takut sama sekali " ayo, Takagi kita habisi yang lain!"

"Jangan memerintahku!" Teriak Saya kesal.

Kohta kembali maju dan menghabisi Para Zombie yang tersisa, bahkan terdengar teriakan Puas dari Maniak Otaku ini, Saya hanya memperhatikannya dengan Jijik karena banyak darah yang menyembur keluar.

Lelaki ini terus menghabisi mereka tanpa ampun, meski sudah banyak darah amis yang menempel di baju tapi dia tak Peduli karena sudah terlanjur kotor, mungkin yang ada di Pikirannya kotorin saja.

Setelah tak ada Zombie yang mendekat mereka diam, meski di depan dan belakang masih banyak Zombie yang berkeliaran tapi tetap saja tak ada yang mendekat dan ini membuat Saya berfikir dan tak lama dia segera menarik Lelaki itu menempel di tembok secara Paksa.

"Oiii! Takagi!" Kohta terlihat Protes namun, tenaga Gadis ini terlalu kuat.

"Diamlah! Aku ingin mencoba melakukan sesuatu!" Saya balas membentak.

"Sesuatu?" Kohta terlihat bingung dan tak faham.

"Tunggu.." Saya melihat sesuatu ke bawah dan mengambilnya dengan cepat dan tak lama dia lemparkan benda itu ke arah Zombie "kau bisa lihat itu?"

"Hah? Lihat apa?" Wajah Kohta berkerut menandakan tak faham sama sekali.

Gadis Takagi ini hanya mendengus dan melakukan hal yang sama dengan melempar sebuah kaleng "kau, bisa melihat dengan Jelas" jika tak faham ingin sekali dia Pukul

Kohta mengangguk "uhmmm, maksudmu Para Zombie mengikuti apa yang kau lempar"

Saya menggeleng kepalanya "kurasa ucapanmu agak kurang tepat"

"Lalu?" Kohta bertanya balik.

"Mereka mengandalkan suara untuk bergerak" Ucap Saya sudah mengerti situasi ini "begini, mereka bergerak berdasarkan suara yang kita buat, alasan mereka tak mendekat karena Suara kita tak begitu terdengar oleh mereka"

"Jadi, jika kita tak bersuara atau berisik maka Para Zombie itu takkan menyerang?" Kohta sudah mulai faham

"Benar asal tak bersuara maka kita aman saja" Saya mengangguk "meski mereka buta tapi, pendengaran tajam mirip seperti Kelelawar"

"Bukankah mengeluarkan Gelombang ultra sonik?" Ucap Kohta membenarkan meski salah.

"Gelombang ultra sonik itu Suara yamg dihasilkan dari Mulut dan menyentuh obyek lain dan mental kembali jadi, sama saja bukan?" Saya memberi tatapan tak mengenakan karena dia sok tau.

"Ba-baik!" Kohta berkeringat dingin.

"Ayo jalan lagi!" Ajak Saya tegas

"Yosha!" Teriak Kohta bersemangat

"Kecilkan suaramu bodoh!" Teriak Saya kesal dan tak sadar dia juga berisik "kau tak ingin bukan mereka semua mendekat

"O-okay!" Kohta menurut

"Anak baik" Ucap Saya.

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

"Komuro-Kun apa kau yakin dengan rencana ini?"

"Percayalah ini berhasil, Sensei tinggal tetap di belakangku"

"Apabila kau berkata seperti itu"

"Jangan terlalu jauh"

"Baik"

Berbeda sekali dengan keadaan yang lain dengan Kondisi sedang mencari aman ke sebuah tempat tapi, Dua Orang berbeda umur ini sangat berbeda sekali bisa dibilang cukup apes karena harus berhadapan banyak sekali Zombie terbukti Mayat-mayat yang bergelimpangan di tanah dan bekas cipratan darah di setiap sudut tempat ini.

Jika ditanyakan sebuah Kondisi mereka, sudah tak Perlu ditanyakan lagi yang pasti penuh dengan darah terutama di Pakaian mereka, Wajah dan tubuh mereka basah dengan Penuh keringat karena terlalu banyak Gerak yang menyelamatkan hidup mereka.

Untuk Takashi hal seperti ini tak masalah bahkan membunuh Para Zombie sudah sangat terbiasa meski yang terbunuh adalah Teman sekelas tapi jika sudah terkontaminasi bagi dia sudah tak ada rasa toleran tapi, berbeda sekali dengan Guru kulit Putih Albino ini yang jelas Ekspresi dia seolah ketakutan, Gemetar jelas sekali di tubuhnya, Mata yang melebar seolah baru melihat sesuatu hal yang mengerikan, dan banyak Darah yang mengotori kulit dan wajahnya yang cantik.

Takashi tak bisa menyalahkan Sensei yang satu ini, bahkan semua orang Pasti mengalami ketakutan yang sama ketika melihat orang tewas dengan banyak darah meski itu Zombie terlebih jika membunuh dengan tangan sendiri hal seperti sering terjadi.

"Sensei, aku tau bagaimana rasanya tapi jika tak seperti ini maka itu membahayakan Sensei sendiri" Ucap Takashi dia menoleh sekeliling jika masih ada Zombie lain.

"Tapi, mereka terbunuh oleh tanganku.." Liona masih sangat ketakutan karena hal ini dan dia benar-benar tak terbiasa melihat Pemandangan yang mengerikan.

"Mereka sudah tak bisa berfikir waras lagi dan sudah jadi Zombie" Balas Takashi hanya mendengus dan menghampiri Gurunya "memangnya Sensei ingin tergigit dan jadi Zombie?"

"Tentu saja tidak!" Teriak Liona membayangkan hal itu sudah membuat bulu kuduknya merinding.

"Sensei seharusnya bersyukur karena selamat" Ucap Takashi dan membuat Guru itu terdiam "dan juga banyak orang yang ingin selamat dalam Kondisi seperti ini daripada harus jadi Zombie" dia mengusap wajahnya dengan Sapu Tangan.

"Ohhh, kau benar" Balas Liona membiarkan Muridnya itu melakukan hal seperti itu.

"Baiklah, Ayo kita ke atas siapa tau ada yang selamat" Takashi juga sedikit berharap masih ada yang normal dan juga khawatir untuk keselamatan teman-temannya dan juga semoga Saeko, Saya selamat.

"Ngomong-ngomong Komuro-Kun terima kasih" Ucap Liona Pelan meski masih terdengar.

"Atas apa?" Tanya Takashi berbalik.

"Yang tadi" Balas Liona

"Oh, tak masalah lagipula wajah Sensei Agak kotor" Ucap Takashi kembali berjalan "mengingat tak bagus jika Pandangan terhalang sementara Banyak Zombie disini"

"Ohhh" Liona jadi salah sangka dia Pikir salah satu Muridnya ini mengerti hal romantis namun tak lama terdengar suara teriakan.

"KYAAAAAHHHH! PERGI JAUH DARIKU!"

"Uhmmm apa itu?" Tanya Liona mendengar hal yamg sama

"Aku rasa itu seseorang" Jawab Takashi dia tau masih ada Orang yang selamat "Ayo, cepat" dia berlari kencang dan disusul Guru itu.

Takashi langsung berlari sumber suara dan memang tak jauh dari tempat dia berdiri dan ketika masuk kelas lain, memamg benar ada seseorang yang berteriak tapi terhalang oleh beberapa Zombie jika diitung ada 10 dan tengah mendekati ke arah Orang itu.

Takashi dengan cepat memegang Sekop dan langsung menancapkan ke kepala Murid-murid yang sudah terinfeksi ini, Liona yang baru saja sampai hanya disuguhkan aksi Pembantaian dan Hujan darah dimana-mana dia berniat membantu tapi, melihat Lelaki itu tak kerepotan jadi dibiarkan saja.

Takashi mulai menghajar mereka satu Persatu ada yang ia Putuskan kepala, ada yang diremukan kepala dengan sekop, dan lebih keji dengan menancapkan sekop di tengah wajah hingga seperti Pizza terbelah dua, dan Ekspresi wajahnya benar-benar menikmati seolah hal seperti biasa mungkin karena efek main Game Zombie.

Dan setelah dirasa tak ada lagi Zombie atau yang jadi Zombie Takashi mendekati Orang itu, dia menyingkirkan semua Meja yang ada dan setelah dirasa dekat betapa terkejutnya karena yang berteriak Seorang Gadis, menutup kepalanya, dengan berjongkok di Pojokan, dan Tubuh yang gemetar ketakutan setengah mati tapi Takashi cukup memuji Gadis ini karena masih bisa bertahan sampai sekarang.

"Hei, kau baik-baik saja?" Tanya Takashi menanyakan keadaan.

Gadis itu langsung menoleh ke asal suara "i-iya a-aku ba-baik baik saja" Nada dia sedikit tenang tapi masih gemetar.

"Apa yang terjadi disini?" Tanya Takashi tak melihat satupun Orang yang selamat kecuali Gadis ini "Dan kenapa hanya kau yang selamat? Dan dimana yang lain?"

"Mereka semua sudah tergigit" Jawab Gadis itu langsung berdiri membersihkan baju meski sudah terciprat darah.

"Ohhh, begitu" Takashi mengangguk dia sudah melihat jelas wajah Gadis itu dan dia sedikit tau kalau tak salah teman sekelas Morita.

Liona langsung menghampiri mereka "kau, baik-baik saja tak adakah yang tergigit?" dia menanyakan keadaan.

"Yah, Sensei tak ada yang masalah dalam diriku" Jawab Gadis itu menunjukan tak tergigit dan hanya ketakutan saja "Sensei, sendiri ternyata selamat juga"

"Iyah, berkat Komuro-Kun" Balas Liona menatap murid itu.

"Ahhh, terima kasih Komuro telah menyelamatkan aku" Gadis itu membungkuk "ternyata, benar kau orang hebat jadi tak heran jika dia cocok denganmu"

"Yah, tak masalah itu hanya kebetulan" Balas Takashi namun, ada sesuatu yang janggal "tunggu, apa maksudmu Dia?"

"Ohhh, banyak orang yang berbicara tentangmu soal kau Putus dengan Miyamoto" Jawab Gadis itu tersenyum, Ekspresi Takashi berubah jadi datar "dan juga Penyelamatan Heroinmu dan banyak yang menjodohkanmu dengan Takagi dan kalian memang cocok"

"Oh, begitu" Takashi mengangguk faham, dia hanya bisa Sweatdrop mendengar banyak isu tentangnya "tapi, ngomong-ngomong aku tak tau siapa namamu?" dia mengobrol tapi tak menyebut namanya.

"Aku, Yuuki Miku dari kelas 2C" Gadis itu memperkenalkan diri.

Yuuki Miku, Seorang Gadis seumuran dengannya, dan satu kelas dengan Morita, dengan Rambut Pendek sebahu, dengan warna Coklat cerah, dengan bola mata kuning, dan sebuah Aksesoris Bando di atas kepala, kalau masalah Ukuran Dada bisa dibilang Lumayan besar untuk seumuran segini.

Oke bukan berarti dia mesum Akut seperti dua temannya hal itu wajar saja masih masa Pubertas dan tertarik dengan lawan jenis terutama dibagian tubuh hanya saja dia masih bisa menahan.

Dan juga dia agak ingat dan mendengar sebuah Rumor dari Immamura tentang Gadis ini yang dikatakan sebagai Pelacur atau Jalang karena terus berganti Pasangan, bahkan ada yang bilang sudah Jebol atau tak Perawan lagi meski Takashi enggan bermasalah dengan Pribadi Orang lain tapi, tetap saja Rumor ini terus berseliweran seperti Angin dan itu benar-benar menjengkelkan.

"Komuro-Kun kita harus ke atas" Ucap Liona membuyarkan lamunannya "dan, mencari sisa orang-orang yang masih selamat"

"Tunggu sebentar" Ucap Takashi mencoba meregangkan badan sebentar.

Yuuki bisa melihat mereka berdua seolah seperti Partner tim dalam membasmi Para Zombie ini, bisa melihat Pakaian yang sudah Penuh darah bahkan Liona Sensei yang dia ragukan bakal selamat malah saat ini masih utuh bahkan menganggumi Sensei yang satu ini atas keberanian menghadapi Para Zombie tanpa rasa takut jika itu dia mungkin sudah Panik dan berteriak tak waras.

"Baiklah, Ayo berangkat" Ucap Takashi yang sudah siap dengan Sekop dan menoleh ke arah Gadis itu "kau ingin ikut dengan kita? Saat ini aku dan Sensei akan cari orang-orang yang selamat"

"Jika tidak mau tak masalah tapi, setidaknya cari tempat yang aman" Sambung Liona dengan Garpu kebun.

"Tidak aku ikut" Jawab Yuuki sudah memberanikan tekad, selain itu jika sendiri tak menutup kemungkian bakal di serang Zombie lagi tapi, jika ramai kemungkinan kecil terlebih jika saling kerja sama dan saling melindungi satu sama lain Peluang dia hidup besar "aku, tak banya mengganggu dan akan membantu kalian"

"Baiklah! Tapi, tetap dekat denganku" Ucap Takashi yang mulai bergerak "dan bawa senjata apapun sebagai melindungi dirimu"

"Baik!"

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

Dan selesai lagi kita masih awal Pembukaan dan masih berkutat di daerah sekolah dan tenang saja ini takkan lama (mungkin) see ya!

Pm

.

RnR