BUTTERFLY Pt.9

.

.

.

Cast : KIM TAEHYUNG, JUNG HOSEOK

Other Cast : KIM SEOK JIN, KIM NAMJOON, MIN YOONGI, PARK JIMIN, PARK YOOCHUN, KIM JAEJOONG, JUNG YUNHO

.

.

"Aku terus berlari dan mengejarnya meskipun ia berlari menggunakan sayapnya, jika ia lelah dan jatuh maka aku siap menangkapnya"-Jung Hoseok

.

.

.

TOKYO, JEPANG

SHINNODA CENTER APARTEMEN

(1500 Floor)

23:00 pm

Dua tubuh tanpa busana itu tengah berbaring lemas, lelehan cairan putih tersebar ditubuh mereka dan juga di sprei yang di dominasi warna biru tersebut.

Wajah cantik Jaejoong terlihat lelah selepas kegiatannya dengan Yunho, Wajah puas keduanya menunjukkan bahwa permainan malam ini sangat panas. Bahkan kejantanan Yunho yang panjang masih tertanam sempurna di hole sempit milik Jaejoong.

"Ngh.. Cukup Yun, kau sudah menghabiskanku sejak sore". Suara manja Jaejoong mengalun melewati gendang telinga Yunho dan justru membuat kejantanan yang hampir 'layu' itu kembali menegang dan membuat hole Jaejoong kembali melebar.

"Aku sudah selesai tapi kau membuatnya terbangun baby". Smirk menggoda Yunho terlukis diwajah tampannya. Jaejoong memandangnya dan lihatlah Jaejoong berkata tidak namun ia menggerakkan pinggangnya dengan pelan mengikuti gerak kejantanan Yunho yang sedang keluar masuk.

Tubuh Yunho menunduk dan meraup bibir merah milik kekasihnya. Bibir manis yang memiliki saudara kembar, bibir milik Taehyung.

Yunho dan Jaejoong mungkin saja tak mengetahui jika anak mereka tengah mengalami pergulatan hati dalam proses saling memiliki. Bahkan Hoseok sangat terobsesi dengan bibir manis Taehyung meski hanya sekali mengecapnya.

"Yun~ nghh kau sudah mendengarnya bukan?". Jaejoong bertanya.

Yunho semakin menghentakkan kejantanannya di hole Jaejoong.

Yunho menaikkan satu kaki Jaejoong diatas pundaknya dan kejantanannya semakin menusuk-nusuk hole ketat favoritnya.

"Soal Taehyung? Atau soal Hoseok?". Yunho menangkap apa yang ditanyakan Jaejoong.

Jaejoong memejamkan matanya saat kepala kejantanan Yunho menusuk tepat di Sweet spotnya. Teriakan kenikmatan lolos dari bibir tipisnya.

"Ahh~~ lagi Yun please~". Jaejoong meremas kuat selimut dibawahnya yang bahkan bentuknya sudah tidak seperti selimut.

"Aku bersumpah akan membunuhnya jika Hoseok cacat atau parahnya anakku sampai mati". Yunho berkata sembari semakin menusukkan kejantananya di hole Jaejoong yang semakin menjepitnya.

"Ahh Yun~~ Tidak. Nghh Hoseokkie selamat. Taehyung juga. Adikku bisa mengurus semua. Se-sekarang apa rencana kita? ahh~~ Yun kenapa kejantananmu semakin besar? ". Jaejoong seakan tak kuasa menahan hentakan nikmat Yunho.

"Yoochun kurasa semakin berani. nghh". Jaejoong melanjutkan, ia tersenyum puas saat lagi-lagi benda besar dan keras itu menusuk dalam holenya.

"Secepatnya kita kembali ke Korea dan membuat si Brengsek itu mendekam dipenjara. Shh shit! Hole ini semakin ketat dan ketat". Yunho mendesis nikmat saat hole sempit itu semakin meremas kejantananya.

Bibir mereka saling berpaut, Saling melumat dan menghisap. Mereka mengesampingkan sementara apa yang tengah terjadi di Korea. Saat ini hanya ada kenikmatan diantara mereka.

Kejantanan yang terus menusuk itu mengeluarkan cairan putihnya jauh didalam hole Jaejoong. Teriakan klimaks terdengar dikamar apartemen Jaejoong. Nikmat dan panas. Cinta tak mengenal siapa dengan siapa. Cinta itu bisa diekspresikan dalam hal apapun. Meskipun mereka seakan tak peduli dengan apa yang tengah terjadi, namun mereka punya cara sendiri untuk melindungi Taehyung dan Hoseok.

.

.

.

.

JIN APARTEMEN'S

21:00 pm

Taehyung memejamkan matanya erat saat tubuh di belakangnya memasukkan sesuatu yang sebentar lagi akan membuatnya nikmat. Lutut Taehyung yang menjadi tumpuan badannya menjadi sedikit tergoyah.

Doggy Style. Gaya bercinta yang ntah bagaimana bisa Jin dan Taehyung lakukan. Keduanya tak mengerti. Keduanya tidak merencanakan apapun. Namun itulah yang terjadi saat ini. Jin dan Taehyung membutuhkan pelampiasan.

Jin memegang pinggang Taehyung dan terus menerus menusukkan kejantananya kedalam hole milik Taehyung. Terus dan tanpa henti.

Keringat keduanya saling menetes. Keduanya menikmati. Keduanya mendesahkan apa yang tengah menyelubungi rasa nikmat tubuhnya.

"Ngh~~". Desahan nikmat itu terdengar semakin jelas dikamar bernuansa minimalis itu.

"Ssh..". Jin memejamkan matanya. Merasakan nikmat disekujur tubuhnya. Hole sempit Taehyung meremas dan menjepit kejantanannya.

Mereka tak perlu berkata-kata. Desahanlah yang menjadi bukti bahwa keduanya tengah menikmatinya.

Tak perlu status apapun diantara keduanya. Keduanya membutuhkan itu. Tak perlu cinta untuk bisa saling berbagi kepuasan. Begitulah prinsip mereka.

"Hyung!"

"Taehyung!"

Keduanya saling memanggil saat klimaks itu datang. Sperma mereka saling keluar. Cairan kenikmatan didalam tubuh mereka keluar menetes seakan cairan itulah yang membuat mereka ingin melampiaskan hasrat itu.

Taehyung ambruk diatas kasur itu saat spermanya tak lagi menetes dari kejantananya. Jin segera melepas kenjatananya dan berbaring disamping Taehyung. Nafas mereka masih belum teratur.

"hah..hah". Jin menstabilkan nafasnya. Dilihatnya Taehyung tengah tengkurap disampingnya dan wajahnya memandang balik kearah Jin.

Tangan Jin terulur menyentuk pipi tirus Taehyung. Pipi yang setiap hari semakin mengurus dan memucat. Tak ada rona kemerahan disana. Jin tak ingin membahasnya namun ia sangat tahu jika itu dikarenakan masalah yang sedang menjadi pikiran Taehyung.

Paksaan Ayahnya untuk mengikutinya ke Jepang, Pembuktiannya dalam drama musikal minggu depan dan sederet perasaan lain yang membuatnya semakin rumit.

Senyum tipis Taehyung terukir diwajahnya. Senyum keterpaksaan yang ia perlihatkan. Tubuhnya berbalik telentang. Kedua tubuh polos itu tengah memandang langit-langit kamar itu. Memikirkan apa yang sedang terjadi akhir-akhir ini.

"Sudah puas?". Suara lain mengintrupsi keduanya. Suara berat yang terdengar sarkastik dan memendam keterlukaan.

Keduanya menoleh dan memandang pria yang berdiri diambang pintu kamar Jin. Keduanya memandang dengan ekspresi yang sangat kontras. Taehyung dengan datarnya dan Jin yang seratus persen terkejut. Bahkan ia lupa jika Namjoon mengetahui password pintu masuk apartemennya. Ntah sudah sejak kapan Namjoon berada disana. Taehyung masih telentang dengan santai namun berbeda dengan Jin yang segera menarik selimut dan menutupi area bawahnya.

"Namjoon...?". Suara lirih Jin menyiratkan rasa terkejutnya serta rasa seakan ia ketahuan sedang bercinta dengan orang lain.

"Tae.. pakai pakaianmu dan aku sedang ada urusan dengan Jin hyung". Namjoon berkata dan matanya tak lepas dari tubuh Jin beserta lelehan sperma dikasurnya.

Ada sorot terluka dan marah di dalam mata sipit itu. Namjoon tidak berteriak ataupun memakinya. Ia berbicara dengan tenang seakan Jin baru saja membuat gosong roti panggangnya. Namun hal ini lah yang justru membuat Jin mengernyit perih. Wajah Namjoon membuatnya serba salah.

"Tae, akan ku panggilkan..." .

"Tak perlu". Ucap Taehyung memotong ucapan Jin, seraya memakai kembali pakaiannya.

"Tapi ini sudah...".

"Tak perlu hyung!". Ucapan kedua Taehyung membuat Jin sedikit terkejut. Nada bicara Taehyung sedikit meninggi. Marahkah ia? Kecewakah ia? Jin tak bisa memahami kejadian malam ini. Otak pintarnya mendadak semakin mati saat mata tajam Namjoon menusuknya.

Jin hanya bisa melihat kepegian Taehyung. Tubuh Taehyung melewati dengan lancar didepan Namjoon tanpa sepatah kata apapun. Detik berikutnya suara bantingan pintu menggema diantara ketiganya. Namjoon menutup pintu kamar itu dengan sangat keras dan Jin hampir terlonjak. Taehyung berhenti di samping kamar Jin dan terdiam ditempatnya.

"Beginikah yang kau kerjakan dengan Taehyung?!". Namjoon menerjang Jin dan menindihnya. Rambut halus Jin dijambaknya dengan kasar.

"J-joon aku bisa jelaskan. Lepas akh! ini sakit!". Jin berusaha melepaskan tangan Namjoon di rambutnya. Kepalanya sedikit pening saat jambakan itu semakin kuat

Namjoon duduk didada Jin dan tangan kirinya melayang tepat di pipinya.

PLAK!

Tamparan itu tepat mengenai pipi kiri Jin. Hening.

Suasana kamar itu hening. Sekian detik hingga teriakan Jin memenuhi ruangan itu. Suara rintih kesakitan itu terdengar hingga keluar kamar.

Taehyung masih disana. Berdiri tegang ditempatnya. Tak ada ekspresi apapun. Apa yang didengarnya sangat nyata. Taehyung mendengar dengan jelas bagaimana Namjoon murka dan bagaimana teriakan Jin yang tengah disiksa Namjoon didalam sana.

Taehyung mengusap wajahnya perlahan. Peluh masih membasahi keningnya. Taehyung berjalan keluar apartemen Jin dengan perlahan. Pikirannya kembali pada saat Namjoon datang dikamar itu. Pikirannya membayangkan jika yang datang adalah Hoseok. Apakah Hoseok juga akan melakukan apa yang Namjoon lakukan pada Jin? Ataukah Hoseok akan langsung membunuh Jin? Taehyung tak bisa menjawabnya. Langkahnya berjalan menjauhi apartemen itu dan berjalan lurus menuju suatu tempat. Tempat untuknya mencari jawaban. Satu saja pertanyaan yang ingin ia jawab malam ini. Pertanyaan yang selalu ia tanyakan dan berusaha ia cari jawabannya.

.

.

.

Yoongi mengamati apa yang tengah paman tirinya lakukan. Bukan sifat Yoongi mengamati sekitar namun kali ini ia memiliki alasan mengapa ia membuat repot dirinya dengan mengamati pamannya yang seakan tengah gelisah.

Yoongi sengaja memperlambat acara belajarnya ditengah ruang keluarga demi mencari bukti bahwa memang pamannyalah yang menjadi pelaku kecelakaan di gedung teater. Namun bukan hal mudah mengingat pamannya sangat pandai bersikap seakan tak mengetahui apapun.

Mata Yoongi menajam saat pamannya menerima sebuah panggilan dan berjalan menuju balkon untuk berbicara. Pembicaraan apa yang harus disembunyikan dari Yoongi yang tengah fokus mengerjakan tugas kuliahnya? Bahkan Yoongi terlihat tak peduli untuk menutupi bahwa sebetulnya Yoongi mencari celah untuk membuktikan paman tirinya terlibat dalam kasus kecelakaan itu.

Yoongi masih bisa bernafas lega saat Jin memberitahunya jika Hoseok baik-baik saja. Bagaimanapun juga Yoongi lah yang mengajak Hoseok bergabung di Grup musikal itu dan hal itu membuatnya sangat khawatir dengan kondisi Hoseok. Hoseok dan Yoongi memang jarang terlihat bersama namun mereka sangat akrab jika kebetulan bertemu di dalam ruang teater dan membicarakan tentang musik rap. Keduanya ternyata punya selera musik yang sama, R&B bagi mereka seperti aliran musik yang sangat keren dan bisa menyatukan kalangan.

Yoongi berjalan perlahan kearah balkon dan menyembunyikan diri dibalik tembok sebelah pintu menuju balkon. Samar-samar ia bisa mendengar pamannya sedikit emosi.

"Bodoh! seharusnya kau mengecek ruangan itu. Kamera pengawas memang tidak ada disana! tapi apa kau lupa kamera diluar ruangan itu? kamera itu bisa jadi kunci! jangan bodoh! ambil kamera itu". Yoochun meremas pagar pembatas balkon dengan kuat. Andai saja lawan bicaranya berada didepannya saat ini, maka sudah dipastikan kepalan tangan Yoochun akan melayang mengenai lawan bicaranya.

Begitulah Yoochun, namja yang tak akan tinggal diam jika keinginannya tak didapat. Jaejoong memang tak berhasil ia dapatkan, namun sakit hatinya ia tujukan untuk mencelakai Taehyung, anak satu-satunya Jaejoong sekaligus kelemahan Jaejoong.

Jaejoong mati-matian membuat Taehyung mau mengikutinya ke Jepang, namun Taehyung memiliki hal lain. Ia ingin hidup dengan caranya sendiri tanpa tahu jika Yoochun mengincarnya.

Yoongi masih melakukan aksi mengupingnya. Apa yang baru saja ia dengar membuatnya terkejut bukan main. Mengapa ia tak berfikir soal kamera itu? Mengapa ia tak segera pergi. Kenyataan bahwa paman nya lah pelaku dari kecelakaan itu membuat Yoongi kehilangan kontrol dirinya. Dia ketakutan. Yoongi tak menyangka jika selama ini ia tinggal bersama seseorang seperti Yoochun. Namja penuh ambisi dan dendam. Yoongi masih berdiri ditempat saat Yoochun mengakhiri pembicaraannya dan membuka pintu balkon untuk kembali masuk.

Yoongi masih berdiri, kakinya terasa bergetar dan bahkan ia sepertinya lupa bagaimana caranya untuk pergi dari sana.

SRET!

Jangan kekar itu menariknya dan memasuki kamar gelap tak jauh dari tempat Yoongi berdiri. Bahkan setelah memasuki ruangan itu Yoongi masih tak dapat bergerak. Tubuhnya bergetat hebat. Ia takut. Menakuti bahwa sebentar lagi ia akan membuktikan kepada semuanya bahwa paman tirinya yang sengaja memotong tali alat terbang Taehyung.

"Tenangkan dirimu hyung, aku disini. Tenang ku mohon". Jimin memeluknya erat dan menenangkan Yoongi. Mereka saat ini berada didalam kamar Jimin. Jimin tahu apa yang terjadi. Secara tak sengaja ia pun mendengar apa yang Yoochun bicarakan. Bahkan jika ia terlambat menarik Yoongi masuk kekamarnya maka bisa saja Yoochun mengetahuinya kalau Yoongi sengaja menyuping pembicaraan Yoochun ntah dengan siapa itu.

Tubuh Yoongi masih bergetar. Usapan lembut Jimin tak membuat Yoongi baik-baik saja.

"Hyung dengarkan aku, disini ada aku. Dan kita bersama-sama akan membuktikan jika Paman yang bersalah. Hyung kau tak sendiri. Paman tak akan berani mencelakai kita. Kumohon tenanglah". Jimin memeluk erat tubuh Yoongi.

"Ka-kamera itu. Kita harus temukan kamera pengawas di luar gedung itu, kita.. kita harus temukan". Ucap Yoongi dengan terbata.

Jimin masih memeluknya. Semakin erat agar Yoongi tenang.

"Besok kita temui Jin hyung, kita minta bantuannya oke? Kurasa Jin hyung punya akses bebas ke ruang kamera pengawas". Jimin berkata menenangkan.

Yoongi mengangguk lantas menyandarkan kepalanya dibahu Jimin, ia merasa bahwa Jiminlah yang bisa membuatnya tenang. Hanya Jiminlah yang bisa membuatnya tak takut lagi.

Jimin melepas pelukan itu dan menangkup pipi putih Yoongi.

"Hyung, meski dia paman kita tapi jika dia menjadi penjahat maka kita tak bisa melindunginya". Jimin berkata dan menatap mata Yoongi. Seakan kalimat itu berkesan untuk menguatkan Yoongi dan membuat Yoongi bisa membuktikan bahwa paman Yoochun lah yang bertanggungjawab atas kecelakaan itu.

Yoongi mengangguk, perlahan ada semburan tipis di pipi dan hidungnya dan spontan Jimin terkekeh melihatnya.

Bibir Jimin yang memang tak terlalu jauh dengan wajah Yoongi, Langsung saja meraup bibir tipis Yoongi sekaligus melumatnya. Lumatan pelan dan lembut.

Tak ada nafsu disana, hanya ada ciuman saling menguatkan.

Jauh didalam hati Jimin ada sebuah rasa kecewa dan kasihan terhadap Yoochun, namun ia tak bisa menjadi orang jahat kedua karena melindungi penjahat yang ingin mencelakai teman mereka.

Jimin berjanji dalam hati akan selalu melindungi Yoongi jika sewaktu-waktu pamannya berbuat jahat kepada Yoongi. Saat ini Yoongi dan Jimin adalah saksi utama. Tinggal mengumpulkan bukti dan semuanya selesai.

Meskipun Jimin tak terlihat akrab dengan Taehyun namun dirinya adalah teman dekat Hoseok, Hoseok dan Taehyung bisa saja meninggal dunia dalam kecelakaan kemarin melihat seberapa fatalnya jika tali alat terbang itu sampai putus saat dinaiki Taehyung.

.

.

.

.

Taehyung berjalan perlahan menyusuri koridor rumah sakit. Langkah kakinya tenang dan tak ada perasaan takut saat melewati koridor gelap itu. Langkah kakinya terhenti saat tubuh kurusnya berhenti di ruangan dengan nama "Pasien Jung Hoseok".

Ya, malam ini tempat inilah yang menjadi tempat tujuan Taehyung. Wajah datarnya terpatri setia. Langkah kakinya pelan saat memasuki kamar Hoseok yang gelap dan hanya ada lampu tidur disampingnya.

Ruangan itu hening, hanya ada suara sirine sayup-sayup terdengar di luar sana. Taehyung berhenti di samping ranjang Hoseok dan manatap Hoseok yang saat ini tertidur dengan nyenyak.

Taehyung menatap selang infus yang menancap di tangan Hoseok dan menelusuri selang itu hingga pada tiang penyangga Infus.

Tak ada yang Taehyung lakukan kecuali berdiri dalam kegelapan disamping ranjang Hoseok.

Matanya menatap tajam pada tubuh, wajah dan luka dikepala Hoseok.

Matanya juga menelusuri setiap inci wajah Hoseok.

"Bodoh". Kata itu keluar dari mulut Taehyung. Bukan perkataan lirih namun juga bukan perkataan keras Namun suara yang sedang dan mampu membuat Hoseok terusik dalam tidurnya.

Hoseok merasakan jika seseorang tengah memandanginya. Tidur Hoseok sedikit gelisah. Matanya terbuka perlahan dan terperajat saat melihat seseorang berdiri disampingnya, namun wajahnya tersamarkan oleh kegelapan. Lampu tidur Hoseok tak cukup menyinari seluruh ruangan itu. Lampu redup itu hanya menyinari tubuhnya saja.

"Siapa kau?". Hoseok terduduk dan merasakan nyeri dikepalanya. Matanya bahkan sedikit samar-samar melihat sosok itu.

"Katakan siapa kau?!". Hoseok melempar bantal disampingnya dan tepat mengenai tubuh itu. Namun tubuh itu tak bergeming

"Bodoh". Taehyung berucap.

"Tae? Itu kau?". Hoseok mencoba mengenali suara itu dan juga berusaha menebaknya.

Taehyung berjalan mendekat dan saat ini tubuh serta wajahnya bisa Hoseok lihat. Hoseok terperajat. Taehyung bukan seperti ini. Taehyung terlihat tidak baik-baik saja. Peluh itu menetes dari keningnya dan menetes di garis wajahnya. Rambut Taehyung memang berponi yang menutupi dahinya namun kini rambut itu basah, sangat berantakan dan menutupi matanya. Hoseok sempat berfikir jika dihadapannya adalah Taehyung versi psikopat. Hoseok memang hafal dengan raut muka Taehyung yang tanpa ekspresi namun kali ini wajah itu bagaikan batu pualam. Dingin, kaku dan pucat.

"Taehyung apa yang...". Ucapan Hoseok terhenti saat tubuhnya ditimpa tubuh Taehyung.

BRUK!

Bukan tubuh itu menerjangnya namun itu tubuh lemas Taehyung yang saat ini menimpa Hoseok. Hoseok dengan sigap menangkapnya.

"Taehyung? Tae bangun! Hey kau dengar aku? Bangun!". Dalam pelukannya Hoseok menggoncang tubuh Taehyung.

Taehyung pingsan. Pingsan pertamanya. Taehyung lelah. Lelah kepada hati dan fisiknya. Dan malam ini adalah puncak kelelahannya.

Taehyung lelah atas hidupnya yang selalu dituntut ayahnya dan lelah oleh perasaan yang selama ini menyiksanya. Tanpa Hoseok ketahui Taehyung memikirkannya. Memikirkan apa arti dirinya bagi Hoseok hingga Hoseok bertindak jauh untuknya. Taehyung memang tak mempercayai cinta. Namun ia juga tak bisa munafik jika perasaan hangat yang perlahan menghampiri hatinya adalah cinta. Perasaan khawatirnya kepada Hoseok adalah cinta. Perasaan tak pedulinya dan selalu senang dikejar Hoseok adalah Cinta.

Namun Taehyung sangat sulit mengakuinya. Taehyung tak bisa membiarkan cinta itu tumbuh dan tumbuh. Taehyung memiliki tujuan lain dalam hidupnya. Bukan membiarkan dirinya diatur oleh ayahnya atau terluka oleh cinta.

Taehyung tak bisa ditangkap. Taehyung hanyalah kupu-kupu. Terserah akan diartikan apa. Namun bukankah kupu-kupu juga akan bersikap seperti itu jika bertemu bunga yang indah, wangi dan penuh madu?

.

.

.

.

TBC

NB : Ampun Jangan ditagih lagi ya...