#maafkan ketidak nyamanan ini.
Baru diedit.
Kemarin asyik tidur. Nggak sempat baca.
Sasuke menarik napas saat memasuki sebuah jewelery galery ternama. Dalam rangka mengambil hati Hinata kembali, dia akan membuat rencana makan malam romantis.
Ia akan menghadiahkan cincin cantik di atas dessert. Semuanya akan sempurna dengan musik yang indah dan permintaan maafnya akan diterima.
Mereka akan bahagia.
Sasuke tersenyum melihat sebentuk lingkaran cantik dengan berlian berwarna keunguan yang bahkan belum dipotong. Desainnya memukau Sasuke. Begitu sederhana dan elegan. Ia tahu selera istrinya. Dan tak bisa membendung kebanggaan bahwa ia tahu banyak hal tentang Hinata.
Sasuke mengemas cincin itu dengan kotak beludru berwarna biru. Langkahnya terasa ringan, ia kemudian melarikan kuda jingkraknya ke arah toko bunga. Tak sabar memberikan malam yang berkesan kepada sang juwita hati.
.
.
Mereka bilang mereka adalah musuh.
Mereka saling membenci.
Saling menghancurkan.
Tapi kemudian menikah.
.
Hinata pikir dengan menikahi Sasuke maka ia akan membalas dendam kepada lelaki itu. Menunjukkan kepada dunia bahwa lelaki sialan itu tidak akan bisa merebut kebahagiaannya. Perempuan independen sepertinya akan mempermalukan keluarga Uchiha, membuat mereka memilih mati ketimbang hidup.
.
Sasuke pikir dengan menikahi Hinata ia bisa mengendalikan gadis itu. Membuatnya tersiksa dengan cemo'ohan yang akan didapat gadis itu, dan membuat hidupnya seperti di neraka. Dia berjanji akan membuat perempuan yang sok hebat itu merengek di kakinya.
.
Wellcome to reading-
.
WEDDING HELL.
.
.
an Original story by poochan.
Naruto by MK.
.
Sasu-Hina
Romance
.
Warning:
M content.
Typos, OOC, plotless, dan crackpair.
.
DLDR!
.
Bersikap sopan
dan jangan budayakan plagiat.
Saya menerima kritik dan saran.
.
.
.
(Act : 9)
.
Gravity
.
Chapter ini didedikasikan untuk semua readers yang begitu bersemangat memberikan review di chapter kemarin.
Terimakasih sobat,
kalian awesome sekali.
.
Untuk Alay-kun sebagai reviewer ke 500 saya.
Keepin rock n roll.
Hwehehe
.
.
.
Kadang, ada banyak masa lalu yang dipikir Sasuke bisa disingkirkan dengan mudah. Perasaannya pada Ino bukan cinta—hanya sebagai pelampiasan serta perasaan bersalah.
Tapi wanita di hadapannya ini beda.
Yugao adalah sebuah distraksi yang tak pernah mampu Sasuke tolak keberadaannya. Bad side Sasuke yang tersayang sampai—ia tak mau membagi kisahnya dengan yang lain.
Ibarat gundik, Yugao jelas kesayangan raja, sampai-sampai ia perlu melindungi si gundik agar tak terendus. Mereka selalu main bersih, tanpa perlu sebuah simpul bernama cinta—atau hal yang melibatkan banyak emosi. Hanya hal mendasar bahwa mereka bersahabat, sebelum hal terkutuk itu berubah menjadi friend with benefit.
Tak dinyana apa yang ia lakukan berbuah kesialan atau—mungkin juga karma dengan menghasilkan janin. Oh, mungkin harusnya Sasuke menulis sebagai anaknya—jika memang janin itu lahir. Toh nyatanya keduanya lebih memilih jalan paling rasional untuk tidak memberi kesempatan pada janin malang itu dan memilih mengaborsinya.
Sebutlah mereka adalah dua orang tolol yang keduanya terjebak dalam napsu sesat. Mengambil jalan pintas untuk tak mau berurusan dengan skandal atau malah bisa disebut gila karena keteledoran.
Pun begitu, Sasuke memang tak berniat untuk melangkah jauh dalam hubungan apapun dengan wanita itu, lalu bertanggung jawab dengan memberikan wanita itu kartu kreditnya. Kemudian membiarkan saja wanita itu menghilang.
Yugao lebih tak ingin repot. Jadi dengan segera setelah tahu ia hamil tiga bulan, wanita itu meminta uang untuk membereskan kekacauan dan memilih segera menyingkir dari apapun yang berbau Uchiha. Karena menentang keluarga kaya itu hanya akan membuatnya menderita.
Sasuke jelas memilih opsi melanjutkan kuliah magisternya. Dan fokus Sasuke masih ingin menyingkirkan Itachi dan menjadi perhatian ayahnya seutuhnya. Ia benci telah melakukan kesalahan. Dan upayanya menghilangkan catatan hitamnya kini menjelma nyata di depannya.
Kini, setelah enam tahun, mereka berjumpa membuat Sasuke kehilangan bahasanya. Ia terpaku melihat Yugao duduk di kursi roda dan seorang anak kecil dengan topeng setengah wajahnya berdiri di sampingnya.
Sasuke merasa semesta berkonspirasi menjatuhkannya. Pikirannya berkecamuk, antara menduga yang iya-iya sampai ia kehilangan akal dan tanpa ia sadari ia justru melangkah mendekati wanita itu.
"Minggir kau anak bodoh! Kau harusnya kembali pada Konan!" hardikan itu justru membuat sang anak mendekat.
"Aku hanya ingin membantu—" suara anak lelaki itu mencicit.
Sasuke membatu, tapi ia tak bisa menahan diri untuk melontarkan pertanyaan di benaknya. "Yugao?!"
Bahu wanita itu menegang.
***P90***
Hinata menyadari, bahwa setiap buah kekecewaan dan rasa sakit seseorang pastilah memiliki akar.
Ia berubah menjadi dingin karena ia melihat ibunya. Bagaimana wanita itu harus dikukai sedemikian rupa oleh orang yang dipanggilnya ayah.
Dia menulikan telinga terhadap fakta bahwa ibunya dan ayahnya menikah karena bisnis. Dan lahirnya Hinata adalah salah satu akhir dari bisnis itu.
Ibunya yang malang. Dan Hinata membenci kata cinta yang diagungkan oleh wanita itu. Karena menurutnya bukan cinta yang membuat seorang menjadi tuli dan buta akan kenyataan. Sebuah fakta di mana cinta ibunya adalah cinta sepihak yang bertepuk sebelah tangan.
Ibunya mati. Itu adalah fakta, toh nyatanya ibunya mati justru ketika ia sudah memasuki usia sebelas tahun. Bukan ketika ia berusia dua tahun seperti yang diberitakan oleh semua orang.
Ibunya gila.
Menanggung beban cinta dan rasa sakit akibat perselingkuhan suaminya dan juga teman karibnya sendiri. Dan atas nama kehormatan Hyuuga, ibunya diberitakan mati. Sementara yang terjadi adalah wanita itu menjalani rehabilitasi di sebuah rumah di dusun terpencil di Okinawa.
Hinata tak bisa membagi beban itu selain kepada Gaara. Lalaki itu sudah bersamanya semenjak ia belia. Dan kebetulan juga berada di posisi yang sama. Ibu Gaara juga meninggal—dengan modus yang sama.
Dan keduanya disatukan dalam sebuah memori yang mungkin mengiris hati. Demi semua yang mereka miliki, Hinata lebih memilih untuk membentengi dirinya setinggi langit. Membuat dirinya tak terjangkau. Dan memiliki dunianya sendiri, seperti sebongkah kristal cantik yang menunggu untuk hancur.
Gaara memandang manik mata Hinata yang tampak sayu. Ada cahaya yang hilang di dalam sana, tapi Gaara tak peduli, asal Hinata di sampingnya ia rela menjadi manusia laknat atau apapun itu.
Semenjak ia belia, ia dididik dengan keras, dengan standar yang melampaui akal sehat. Tentu saja Sabaku no Rei adalah seseorang lelaki dengan kadar perfeksionis tingkat dewa, sebelas dua belas dengan Hyuuga Hiashi. Keduanya adalah tiran, dan mereka tak menyesal mencetak predator semacam Hinata ataupun Gaara.
"Apa aku harus membuatkanmu pancake sendiri agar kau mau makan, Hime?"
Hinata mengulas senyum, meski tak sampai ke matanya. "Aku hanya belum lapar, Gaara."
Gaara justru tersenyum simpul, hilang sudah lelaki arogan dengan ambisi besar. Yang ada sekarang seorang pria kasmaran yang tak segan menggulung kemeja Armaninya, lalu meraih apron dan bertindak bagai selebrity chef.
Lelaki itu dengan cekatan mengambil tepung dari dalam buffet, lalu menjangkau mangkuk besar steenlis, kemudian menuangkan bubuk putih itu kedalamnya. Tanpa canggung lagi, ia bahkan membuka kulkas untuk memasukkan susu cair dan juga kuning telur.
Gaara, selalu bisa memukau Hinata. Bukan dengan nama besar yang disandangnya. Tapi dengan kesederhanaan yang hanya ditunjukkan kepadanya. Bukannya Hinata GR dengan segala perlakuan khusus itu, tapi memang itulah yang terjadi.
Hinata dan Gaara adalah sebuah bentuk kesatuan yang tak bisa ditelaah akal logika. Seperti sebuah cahaya dan bayangan. Bukan Hinata dengan Sasuke yang merupakan cahaya dan kegelapan, bukan seperti itu. Karena Gaara adalah pihak yang selalu berada bersama Hinata, setia meski tak terpikirkan. Dan menjadi bagian yang tak pernah hilang meski diabaikan.
Setelah menaruh sesendok butter ke dalam teflon, Gaara menuangkan adonan. Lalaki berambut crimson itu menoleh sebentar dan memberinya senyuman manis. Mungkin bagi semua orang, Gaara dan sikap manis adalah sebuah pertanda kiamat. Tapi bagi Hinata, Gaara yang ia kenal adalah sosok lelaki pelindung yang sangat penyanyang.
Gaara dengan cekatan dan atraktif membalik pancake dengan melempar isinya ke udara dan mendarat lagi ke telfon dengan sisi yang telah matang di atasnya.
Hinata tertawa kecil akibat atraksi Gaara yang seperti itu. Seharusnya Gaara bisa menjadi apa yang ia mau, membuka restoran kecil di Italy dan mempunyai anak imut. Sayang sekali, Gaara adalah pewaris Sabaku. Anak lelaki satu-satunya yang diakui oleh Sabaku no Rei secara sah.
Gaara membuka kulkas lagi, mengambil buah kiwi dan juga jeruk. Ia selalu ingat jika Hinata tidak suka strawberry. Mengupas kedua buah itu dengan gerakan profesional. Kemudian menatanya dengan plating yang memanjakan mata. Ya, seharusnya Gaara memang melarikan diri dari Sabaku dan menekuni passionnya.
"Kalau kau menikah denganku, kau akan memiliki semua yang kumiliki, harusnya kau tak usah khawatir membeli kembali semua asset Hyuuga. Toh, aku takkan bisa membuatmu menderita."
"Kau tahu Gaara, ini tidak semudah itu. Aku tak bisa keluar dari neraka itu. Aku tak bisa membiarkan menang bajingan itu, aku tak mau merusak harga diriku dengan menyerah atas nama emosi."
Gaara menahan napas, tahu benar siapa bajingan beruntung itu. Namun mulutnya lebih memilih terkatup, enggan menyebut nama adik dari Itachi. "Kalau kau jadi istriku, Sabaku Rei akan melepaskanku menjadi apa yang kumau. Karena lelaki itu lebih suka membidikmu jadi menantunya ketimbang Hanabi. Lelaki itu menyuruhku menikahimu atau adik keparatmu, tapi kau merusak impian kita."
Hinata tertawa kecil, "Kita berdua yang disatukan hanya membuat kita tampak seperti orang bodoh. Kita tak bisa hidup dengan semua mata yang memandang kita dengan lapar. Kita bukan aktor Gaara, kita adalah sutradara." Mata Hinata berkilat, meski itu bukan kilat peruh cinta, tapi kebencian.
Gaara menganggukkan kepalanya, getaran di saku celananya berdenyut di atas pahanya. Dengan setengah terpaksa lelaki berambut merah itu memilih merogoh benda laknat itu dan menempelkannya ke telinga setelah menggeser bulatan hijau di layarnya.
"Moshi-moshi?"
"..."
Gaara tak bisa membendung seringainya. "Nmm." Gumamnya menyetujui ucapan di ujung line telepon sana. Dan kemudian lelaki Sabaku itu mengantongi ponselnya ke saku kemejanya.
Hinata menatap Gaara tanpa berkedip, merasa was-was dengan seringai bahagia bayangannya itu.
"Ini baru seminggu setelah kejadian kau dianiaya, tapi bukannya meminta maaf kepadamu, lelaki yang kaulindungi malah sudah bertemu dengan gundik kesayangannya. Hebat sekali!" Gaara terkekeh, menertawai kehidupan sempurna Hinata.
Hinata ikutan terkekeh, "Karin bukan tandinganku, sayang." Wanita itu sibuk mengamati kukunya yang berkilau, sengaja menggoda Gaara dengan memanggil lelaki itu dengan sebutan sayang.
Gaara makin terpingkal dengan ucapan Hinata. "Tsk, rupanya kau menikahi aktor. Dia tak cerita tentang Yugao?"
Hinata terdiam, matanya meredup tiba-tiba. Sepanjang yang ia tahu, Yugao adalah wanita anggun yang terpelajar. Ia teman kuliah Sasuke dan menghilang beberapa bulan setelah Itachi mengumumkan pertunangannya dengan Hinata batal. "Teman Sasuke yang itu?" Nada suaranya terdengar tak yakin.
"Teman ranjangnya." Koreksi Gaara. "Mereka punya anak bersama kalau kau ingin tahu." Gaara berkata ringan, tak leduli lagi Hinata akan terluka atau tidak.
Hinata merasa udara di sekitarnya terenggut paksa. Ia bagai ikan yang dilepas ke tanah. Seseorang telah membuatnya lupa bernapas. "Bagaimana kau bisa tahu?" Suara Hinata tercekat, ia merasa dadanya sakit, jantungnya berdenyut dengan rasa sesak yang tak bisa diterima akal logikanya. Ini lebih buruk dari cemburu. Ini adalah kekecewaan tingkat tertinggi yang mengguncang dadanya.
"Oh," Gaara memberinya seringai lebar, "Aku predator yang kompeten, aku tahu siapa musuh yang harus dieliminasi. Aku butuh dia melakukan satu kesalahan untuk menuntaskan permainan ini." Mata Gaara berkilat penuh kepuasan. "Kau harus memenuhi janjimu sendiri Hinata." Gaara tersenyum penuh cinta. "Aku menagihnya sekarang. Kau harus pergi dari neraka itu, atau aku akan melenyapkannya dengan tanganku."
Hinata tidak pernah merasa kalah. Ia terbiasa menang dalam segala hal. Ia berhasil mempertahankan harga dirinya untuk tidak jatuh. Semua indranya tajam dan peka, prediksinya tak pernah meleset, pun begitu dengan pemikirannya tentang Sasuke.
Mereka memiliki tempat yang benar-benar absurd. Saling menjaga posisi tertinggi untuk masing-masing pihak. Hinata adalah istri paling ideal Sasuke dan bagi Hinata tidak ada suami yang diinginkannya selain Sasuke.
Tidak ada celah untuk yang lain, seharusnya.
Seharusnya.
Tapi, semua prediksinya meleset. Ia melihat apa yang ditunjukkan Gaara itu benar adanya, lewat kedua retinanya sendiri.
Sasuke tidak pernah memberinya tatapan penuh simpati dan juga penyesalan seperti itu. Pun bahkan setelah menghajarnya, merenggut kemerdekaannya. Ia tak pernah ada kata atau Sasuke yang menatapnya lembut. Yang ada malah seringai kemengangan karena berhasil saling menjatuhkan.
Hinata tertawa miris. Pernikahan macam apa yang mereka jalani sekarang? Sekedar saling memberikan status tanpa cinta. Mereka membangun istana megah bernama prestise dan harga diri, mereka mengukuhkan diri sebagai raja dan ratu diatas kekosongan jiwa mereka sendiri.
Sasuke takkan mau bersusah payah menggendongnya seperti itu. Dia lebih suka melihat Hinata merangkak dan melihatnya kesakitan.
Hinata tahu kalau temboknya sudah runtuh. Bahkan ini adalah ombak pertamanya, tapi lihatlah, begini saja ia sudah tumbang. Kemana perginya kepercayaan diri tingkat dewi. Atau sikap anggun ala bangsawan. Di mana mereka akan tersenyum bahkan ketika suami mereka main serong di depan mata.
Gaara meletakkan gelas kertas berisi teh hangat ke depan Hinata. Mengejeknya dengan halus, "Kau bisa terus melihat sambil minum teh, sayang."
Hinata meneguk tehnya sembarangan. Goyah akan penglihatannya sendiri.
Ada anak kecil yang keluar—koreksi, jelas-jelas anak itu dikeluarkan paksa, anak lelaki itu memakai topeng gundam bersender di dinding samping pintu. Bahu kecilnya merosot. Lalu anak itu duduk di lantai.
Hinata merasa matanya memanas, tapi enggan menangis untuk itu.
"Itu anak mereka." Jelas Gaara tanpa diminta. "Yugao ingin mengaborsinya sebelum kecelakaan merenggut kakinya." Ada nada benci dalam suara Gaara yang begitu kentara.
"Bodohnya, yang menabraknya adalah si bodoh Kankurou. Dan jatuh cinta pada jalang itu." Suaranya begitu serak. "Anak itu lahir, dan Kanky menganggapnya anak sendiri, sebelum kebakaran merenggut nyawanya. Ia menyelamatkan anak itu dan juga Yugao, ia mencintai darah daging orang lain dan mati karenanya. Tapi jalang itu malah menolak anaknya begitu mengetaui Kanky mati. Anak itu mengalami luka bakar di wajahnya. Ia juga terluka Hinata, tapi sang ibu menolaknya demi Sasuke Uchiha. Dan lihatlah, keputusanmu menerima iblis itu mengakibatkan ia ditelantarkan dan juga dibuang ke panti asuhan."
Hinata tak bisa menahan air mata yang bergulir di pipinya. "Panti asuhan?"
Gaara menatap anak itu dengan raut kesedihan, "Konan, dia yang merawatnya."
***P90***
...
..
Hinata tidak tahu, mengapa ia mau repot memikirkan masalah Sasuke. Harusnya ia senang, si teman tapi mesra Sasuke itu tak dinikahi. Dan anak itu jelas bukan bagian dari Uchiha. Harusnya ia tetap bangga kan? Bukankah dirinya sendiri yang berkata bahwa ibarat beef steak, Sasuke adalah beef steak paling tinggi nilainya, tidak masalah para sundal itu makan berapa potong, asal masih berada di piringnya, berarti ialah pemiliknya.
Masalahnya, apakah ia harus tetap membayar billnya jika beef steak itu bahkan tak tersisa untuknya.
Hinata tergagap saat ia menyadari bahwa kakinya mengayun hingga ke dekat anak lelaki yang kini duduk di lantai dengan menekuk kakinya.
Untuk ukuran seorang pewaris Uchiha, hanya ada satu kata, jelas anak ini mengenaskan. Badannya kurus tak terawat, bajunya kebesaran dan mempertontonkan tulang selangkanya. Rambutnya hitamnya tak terurus dan ia masih duduk di lantai dengan badan gemetar.
Sialan!
Di mana otak kedua orang itu ketika meninggalkan anak itu di luar sendirian dan tanpa alas kaki.
Demi Tuhan!
Apa yang dilakukan kedua orang itu, yang masih minta disebut sebagai manusia tega membiarkan anak kecil itu kedinginan di lorong apartemen dengan AC full serta kaos tipis?
Hinata tak dapat mengalihkan perhatiannya dari wajah anak itu yang tertutup masker dan juga poni yang menjuntai tak biasa. Anak itu mendekap topeng gundamnya dengan erat. Seolah-olah menyalurkan ketakutannya.
Ia seperti melihat dirinya—atau juga Gaara saat kedua orang tua mereka bersenang-senang dengan para wanita panggilan dan mereka dikunci di gudang yang sama.
Tak berdaya, dan kesepian. Mereka berharap akan adanya bantuan—namun, alih-alih dibantu, Gaara saat itu malah dicambuk dengan gesper kulit dengan tepian perak hingga punggungnya berdarah karena berteriak minta tolong.
Kini, ia bisa melihat siluet dirinya terpantul pada anak itu.
Apakah ia masih bisa berdiri di neraka ini atau justru memilih untuk menaiki tangga dan keluar meski ia takkan bisa memiliki harga dirinya lagi?
Hinata menghembuskan napas, ia tersenyum pada seorang anak lelaki yang menjadi kesempatan keduanya.
"Hei—"
Anak itu mendongak takut-takut. "Hmm?" Gumamnya canggung.
"Kenapa kau berada di sini?"
"Ibu ugh... maksudku nona Yugao berteriak-teriak menyuruhku pergi. Karena tidak mau ribut, Paman tiba-tiba membawaku ke luar, padahal aku hanya ingin mengambil sandal tapi Paman malah marah."
Hati Hinata tersayat, "Aku tinggal di flat sebelah," dusta Hinata, "Aku mau turun untuk makan siang. Maukah kau ikut denganku? Ini tidak akan lama."
Anak itu diam, masih berdiri takut-takut dengan sebelah tangan yang meremas kaosnya yang lusuh.
"Apakah kau takut?" Hinata dapat melihat keraguan di mata hitam lugu itu. Ia lalu menyerahkan handphonenya kepada anak itu. "Kalau aku berniat jahat, telepon polisi, tekan 911, seperti ini." Hinata memperlihatkan caranya
Anak itu menatap wanita di depannya. Bibi cantik yang baik hati, selain Bibi Konan. Ia menarik napas sebelum berbisik, "Aku mau."
Hinata tersenyum, "Panggil aku Kaguya."
Anak itu tersenyum dan menyambut uluran tangan Hinata, "Aku Obito."
..
.
Sementara Hinata dan juga Obito pergi, Gaara menelepon seseorang untuk menjalankan rencananya.
Bukankah seru, membuat rekaman adegan bercinta musuh keparatmu sendiri. Hadiah itu pasti bisa meruntuhkan menara pertahanan Hinata.
Ibarat kata, ia adalah hyena. Sasuke boleh menjadi singa, tapi mungkin musuhnya itu lupa, buruan yang dibiarkan Gaara untuk di santap Sasuke di ranjang, akan menjadi buruan terakhirnya dengan status suami Hinata.
Ia akan memastikan Sasuke terdepak dari singgasana hati sang juwita.
..
.
Mata Sasuke bergerak gelisah. Semua hal berkecamuk dalam otaknya. Ada perasaan marah, lega juga kesal yang menggelayut, menambah beban pikirannya yang sudah kusut. Ia dengan tergesa menenggak bir keduanya. Bahkan ia tak bisa tenang dengan bir kalengan yang disuguhkan oleh Yugao.
"Bukankah kau bilang kau sudah mengaborsinya?!" Sasuke tak bisa menutupi perkataan dinginnya.
"Aku melakukannya jika mobil Kankurou tak menabrakku. Pikirmu aku senang dengan hadirnya dia?!" Suara Yugao meninggi.
"Seharusnya kau meneleponku. Mengabariku!"
"Pikirmu siapa yang lari terlebih dahulu hmm?" Mata Yugao menajam. "Aku lumpuh dan hamil di luar nikah. Di mana kau, Tuan Uchiha yang terhormat?!" Air mata terlanjur turun dari mata coklat yang dulu pernah ia kagumi.
Sasuke mengusap wajahnya frustasi. Bingung harus bertindak bagaimana.
"Aku begitu tolol mencintaimu. Rela pergi menjauh demi kebehagiaan atas nama perempuan lain. Pikirmu itu adil, he?" Yugao mengusap kasar pipinya, "Aku membesarkan anak yang menamatkan karirku, pemupus cita-citaku. Pikirkan saja sendiri!"
"Kau harusnya mencariku, Yugao. Kau tidak bisa muncul tiba-tiba tanpa memberi tahu semacam tadi."
"Oh!" Yugao meraih sesuatu yang bisa disambarnya dan melemparkan ke Uchia itu, meski meleset. "Aku tak berniat menemuimu bangsat!"
"Apa maksudmu tak berniat?!" Sasuke berujar sinis, "Bukankah kau yang minta tambahan limit kartu kredit bulan lalu. Kupikir otakmu cukup pintar untuk minggat dan tak kembali ke kehidupanku!"
"Setelah kau bahagia dengan perempuan itu kau membuangku!"
"Buang apanya?! Toh kau masih menikmati uangku. Kau bahkan baru saja membeli apartemen baru kan?!"
"Kau main hitung-hitungan?! Aku melahirkan anak cacatmu!"
Sasuke terperangah. Pukulan telak bagi jiwanya yang memeang sudah keropos karena dengan berengseknya melukai istrinya. Bukan malah menyenangkan sang istri, kini malah ia ketiban aib masa lalunya sendiri.
Sasuke menghempaskan tubuhnya ke sofa. Sementara Yugao tak jauh dari tempatnya.
"Apa kau pernah membayangkan jadi aku Sasuke?" Yugao mengiba, "Aku mencintaimu, tapi demi dia kau mengenyahkan banyak hal. Apakah kai takut aku mengadu pada istri cantikmu?!"
"Diam kau! Dia cerdas. Dia takkan termakan kata-katamu!" Sasuke mendengus.
Yugao menggerakkan kursi rodanya ke arah Sasuke. "Mari kita buktikan ucapanmu!"
Yang terjadi selanjutnya adalah segala sentuhan Yugao yang terasa familiar dan ciumannya yang seakan memberikan sensasi lama yang pernah ia cicip dan ia rindukan.
Salahkan saja pada hasrat lelakinya yang hampir dua minggu terkekang, tak dapat pelepasan layak.
Tangan Yugao membelainya, mengirimkan kenikmatan yang pernah ia rasakan. Berniat membuang penat, Sasuke menyambar peluang.
Lupa daratan dan memilih takhluk pada hasrat primitifnya.
Ia mencecap seluruh rongga yang pernah ia puja dalam jamahan. Ia terlena pada lubang dosa yang ia pilih sendiri. Dalam kesadarannya yang nyaris sirna ia bahkan lupa memakai pelindungnya.
Setelah benih sialannya mennyembur kemana-mana ia menyesal dengan pemahaman bahwa bisa saja Yugao hamil lagi. Salah satu aibnya akan tumbuh dalam sana.
Tapi menolak semua prasangka. Sasuke justru menggila, menjajah lagi tubuh yang menyerah indah di atas sofa itu dengan sentakan buas, mengabaikan airmata yang turun tak terkendali milik Hinata yang berada di ambang pintu dengan sebelah tangan yang menutup mata Obito.
Menyerah, Hinata pergi dari tempat terkutuk itu. Kemudian dengan sisa kewarasan yang ada ia menyuruh Obito untuk menuju ke pusat informasi. Menunggu siapapun untuk menjemput anak itu kembali ke apartemen sialan itu.
Dengan air mata yang ia seka seadanya, ia memohon pada Gaara untuk segera pergi. Ia tampaknya tak bisa lagi lebih lama dalam lingkaran setan keluarga Uchiha.
***P90***
...
..
Gaara paham betul apa yang dilakukannya sekarang. Ia tak lagi bersikap gentlemen dan mengabaikan segala etika. Tak masalah ia pakai cara busuk yang mana, asal hasil akhirnya bersama Hinata, maka ia bersedia mengabaikan krama.
Pun juga menggunakan kedekatan hierarkinya dengan sang kakak ipar, Nara Shikamaru, demi segala informasi tentang Sasuke dengan menggunakan satelit pribadi milik perusahaan multimedia milik keluarga Nara.
Shikamaru sendiri tak mau pusing dengan kerumitan adik iparnya dengan sang wanita yang nyata-nyata telah resmi bersuami. Dan memilih membebaskan apa saja yang dilakukan oleh lelaki Sabaku itu.
Menurut Gaara tindakannya tidaklah keliru, sebab membiarkan Hinata dalam pernikahan nerakanya adalah suatu hal tindakan bodoh. Jodoh memang di tangan Tuhan, tapi manusia wajib berusaha dan juga wajib memilih jodohnya sendiri. Dan Gaara sudah memilih Hinata sebagai jodohnya jauh sebelum lelaki keparat itu menikahi Hinatanya.
Dalam perjalan, lelaki itu tersenyum di dalam mobil sportnya. Senyumnya mengembang sempurna, campuran antara bahagia, puas dan kesenangan yang tak dapat ia ungkapkan.
Tangannya yang bebas dari roda kemudi diam-diam meraba kursi kosong yang ada di sampingnya. Aroma Hinata yang tadi tertinggal di mobilnya, menjanjikan ketenangan yang selama ini ia cari.
Dia takkan menyerah.
Tidak kali ini atau esok.
Membiarkan Hinata menikahi bajingan itu adalah suatu ketololan yang tak dapat ia terima. Kini sudah saatnya ia bergerak, sudah saatnya neraka ini diakhiri.
***P90***
...
..
.
Sasuke pulang ke penthousenya dengan perasaan kalut yang tak bisa ia pahami. Lupa akan tujuan utamanya pagi hari tadi, ia justru bercinta dengan Yugao. Tapi begitu ia sadar. Ia justru segera menyuruh orang untuk menyuntikkan obat pencegah kehamilan untuk wanita laknat itu.
Ia bahkan menyewa dokter pribadi untuk memantau Yugao. Memastikan jikalaupun benihnya menjadi tunas, maka segera diberantas. Ia tak mau bertindak tolol dengan mempercayai wanita itu lagi. Setelah orgasmenya dengan menyebut nama Hinata. Yugao murka. Memaki Sasuke dengan segala sumpah serapahnya.
Sasuke terkekeh sadis, "Kenapa kau mesti marah. Kau kan memang sudah menjadi pelacur. Kau minta kutiduri kan?"
"Bajingan kau Sasuke!" Yugao mengerang marah. Tapi tubuhnya sudah dicekal dua orang bodyguard Sasuke.
"Bajingan ini yang membiayai hidup mewahmu meski kau lumpuh. Cih, lumpuh apanya?!" Sasuke mencela, "Buktinya kau bisa menendang bantal. Kau penipu!"
"Aku memang tidak lumpuh permanen lelaki bangsat. Tapi kau sudah kalah telak dariku." Kekeh Yugao.
Mata Sasuke menyipit, rahangnya mengeras.
"Istrimu sudah melihat kita bercinta. Dia bahkan menangis di depan pintu tadi. Sayang sekali. Hahahaa—"
Perkataan Yugao tadi seperti peluru yang ditembakkan ke kepalanya. Membunuh kesadarannya.
Karena setelahnya ia bak orang kesetanan langsung menghambur ke luar apartemen. Dan segera pulang untuk meminta pengampuan Hinata.
Segala kemungkinan terburuk akan ia terima, tapi tidak untuk bercerai dari sang tercinta.
...
..
Kaki Sasuke terhenti saat melihat Hinata yang duduk anggun di sofa ruang rekreasinya.
Mata wanita itu tak lagi menyiratkan cinta. Semuanya telah redup dan terluka. Ada kebencian ke arah Sasuke, serta pandangan jijik ke arah lelaki yang ia sebut sebagai suami.
"Dulu aku tak dapat memahami kenapa ibuku harus menerima lelaki itu sebagai suami dan ayah untuk putrinya. Kenapa ia masih tersenyum saat ayahku ketika mabuk menamparnya atau berteriak kasar kepadanya." Hinata tertawa penuh ironi, "Kenapa pula ia masih bangun pagi dan menyiapkan sarapan dan perlengkapan kerjanya. Bukankah ketololan namanya ketika kau disakiti tapi kau malah berlaku semakin lembut? Tapi kini aku memahami, wanita tolol itu menjelma pula sebagai aku."
Sasuke menelan ludahnya, ia tahu bahwa Hinata bukan perempuan yang menangis seharian akibat perlakuan kasar suaminya, wanita itu akan membalasnya dengan cara yang luar biasa telak dan memukul semua pertahanan dirinya. Menghancurkan semua kepercayaan diri Sasuke hingga menjadi remah-remah.
"Aku—"
"Apa kau ingin aku mati seperti ibuku? Mengemis cinta pada lelaki yang tak mampu mencintainya? Tentu saja aku belajar dari semua itu, Sasuke."
"Aku tak seperti itu sayang. Kau tahu aku mencintaimu!"
"PERSETAN DENGAN CINTA!" raung Hinata murka, "Setelah puas kau bercinta dengannya kau bilang cinta padaku?! Kau benar-benar menjijikkan Uchiha!"
"Demi Tuhan, Hinata! Itu hanya terjadi sekali!"
Hinata semakin tersulut emosi. Dengan gesit menyambar kristal berbentuk sepasang angsa yang membentuk simbol hati dan membantingnya ke lantai.
PYARRRR!
"Kau lihat, itu yang kau lakukan padaku. Pada kepercayaan dan hatiku." Mata Hinata memanas menahan tangisan dan amarahnya yang meledak di kepalanya sekarang. "Kau bilang hanya sekali, HANYA?!" Suara Hinata meninggi, lalu tawa sarkastisnya meledak. "Kau berniat mengulanginya lagi begitu?!" Hinata menatap mata Sasuke nanar.
Dan Sasuke merasa dadanya baru saja ditonjok. Hinata tidak baik-baik saja. Wanita itu lebih dari terluka. Dan Sasuke merasa tolol dan ia membenci dirinya yang sudah menyakiti Hinata.
"Maafkan aku, aku mabuk saat itu! Aku khilaf Hinata." Sasuke menggeram frustasi.
Wanita itu mendengus, menahan hasratnya untuk mengambil samurai ayahnya dan menebas kepala lelaki itu. Tapi dengan mata meremang menahan tangis ia tersenyum penuh ironi, "Aku sudah menduga kau akan menghianatiku," katanya sambil lalu, tapi kenapa. Kenapa yang kali ini rasanya lebih sakit.
"Sama seperti Hiashi, kalian para lelaki menganggap selingkuh adalah kekhilafan. Sayang sekali, jika aku bukan perempuan naif." Hinata melempar tatapan tajamnya, menahan luapan rasa sakit di dadanya. "Bagiku, saat kau menidurinya berarti saat itu juga kau menghapus hakmu untuk meniduriku. KITA BERCERAI."
***T (tekan) B (bawah) C (Coy)***
...
..
a/n:
I am lost! Totally lost! #sigh.
Kehilangan charmistry ama cerita ini tuh rasanya sesuatu. Jadinya kayak gini, kesannya dipaksa banget. Tapi kalo nggak segera klimaks kesannya ntar gue dikira ngulur-ngulur demi review lagi -_-.
Entah kenapa saya merasa jenuh pada pair ini. Ibarat pacaran, jelas gue bosan setengah mati dan berniat putus. Gimana dong?! Apa gue keseringan bikin pair yang ini kali ya. Jadinya malah mager.
Halo?
Suaranya mana?
#team Sasuhina
#team GaaraHina
#team Poochan *kode
Chapter depan end aja ya.
Ntar gue usahain panjangan deh biar gak keburu-buru. 5k dalam 1 chap. Gimana?
Btw gaes, pilih ending ya;
Sasuhina yang logic (real world dude, yang isinya nano-nano)
Apa yang menye aja, yang ga sehat and bikin deabetes tapinya.
Wokey,
Sekian pojok author.
Poochan lagi galau.
