Chanyeol bertanya dengan sedikit keraguan dalam dirinya, namun jawaban yang didapat oleh Chanyeol bukanlah yang ia pinta. Tidak mungkin Baekhyun membatalkan janji yang sudah ia buat sendiri, terlebih Baekhyun menganggap makan malam nanti adalah momen yang penting karena ia akan mengenalkan dua teman terbaiknya. Maka Baekhyun menggeleng dan memberi senyum yang seteduh hujan.
"Aku tidak bisa, aku janji akan pulang tepat waktu." Si manis kemudian kembali masuk untuk mengambil jaket. "Jika kau mau keluar, pastikan benda ini sudah berada pada tubuhmu." Ia memberi dan memakaikan jaket tersebut pada Chanyeol sekenanya.
Untuk beberapa detik sang dominan bergeming, sekilas ia merasa bodoh karena sudah bersikap demikian. Kemudian Chanyeol membalas Baekhyun dengan senyuman yang membuat si manis terpesona di tempat. Chanyeol meraih lengan Baekhyun, menarik hingga yang lebih kecil mendekat dan ia memberi sebuah kecupan di sana. "Baiklah kalau begitu."
Namun ternyata satu bukanlah angka yang cocok untuk Chanyeol. Baekhyun yang sudah siap untuk keluar adalah yang terbaik karena pemuda tersebut memiliki aroma beri pada rambutnya. Ia selalu keramas disore hari dan kebiasaan Baekhyun yang demikian adalah kesukaan Chanyeol. Setelah beberapa detik Chanyeol habiskan untuk mengendus surai Baekhyun, Chanyeol kembali meraih bibir senada persik yang mampu memalingkan dunia.
Bukan hanya dengan Baekhyun ia membagi ciumannya. Chanyeol adalah seorang pemain, maka ciuman memiliki nilai yang sama dengan sebutir pasir di pantai. Mungkin semua orang yang menjadi partner Chanyeol pernah merasakan bagaimana kuluman sang pemain; juga ia tahu bahwa setiap orang meninggalkan kesan yang berbeda-beda. Setiap orang memiliki taste tersediri dan beberapa diantaranya adalah yang Chanyeol suka.
Baekhyun adalah satu di antara yang ada. Iapun memiliki khas yang tidak pernah Chanyeol lupa. Hal yang membedakan Baekhyun dengan mereka bukan lain adalah buncahan senang yang terasa dua kali lipat. Chanyeol sendiri tidak mengerti mengapa bibir tipis tersebut menjadi bayang-bayang untuknya saat ia tidak dapat menjangkau si manis. Maka ketika ia kembali meraih Baekhyun, perasaan tersebut kembali muncul.
Perlahan demi perlahan Chanyeol membawa Baekhyun menuju awan. Kecupan yang ia berikan menjadi bertubi-tubi kala submisif tersebut memberi balasan. Ia melirik sang partner yang sudah memejamkan kedua mata, terlihat bagaimana paras indah Baekhyun terpantul pada manik sang dominan. Mereka saling mengecup dan mengabaikan fakta pintu yang belum tertutup dengan sempurna. Maka Chanyeol mendorong Baekhyun hingga si manis berjalan mundur dan berakhir pada punggung yang menutup pintu. Kedua tangan Baekhyun telah terpaut sempurna di ceruk leher sang dominan. Suara ecapan mereka menutupi jam dinding yang berdetak. Debaran tersebut kembali hadir, si manis akan terbuai jikalau ia tidak ingat bahwa Joonmyeon telah menunggu di bawah.
Maka Baekhyun adalah pihak memutus tautan di antara mereka. Ia mendorong dada Chanyeol dan kembali menatap obsidian si dominan. "Saatnya aku pergi."
Kemudian Baekhyun meninggalkan Chanyeol yang masih betah berdiri di sana.
.
Mereka pergi ke sebuah kedai makanan Jepang karena Baekhyun yang meminta. Ia teringat kalau Jongdae sangat suka sushi jadi makanan ala Jepang adalah pilihan yang tepat. Ketika Baekhyun dan Joonmyeon sampai di tempat tujuan, ia sudah menemukan Jongdae dengan segelas sake. Pemuda tersebut memesan terlebih dahulu untuk membunuh sang waktu.
Joonmyeon dan Jongdae taunya menjadi cocok satu sama lain. Meski Jongdae sedikit kaku, Joonmyeon adalah tipikal yang mudah untuk menyesuaikan. Maka ia mulai menarik perhatian Jongdae dengan sesuatu yang berbau kartun dari negeri sakura. Dasar otaku, Heh.
Karena besok adalah hari sabtu, maka Baekhyun tidak menyiakan waktu tersebut untuk membuat kesadarannya berkurang. Meski toleransi Baekhyun terhadap alkohol tidaklah besar, pemuda itu masih gemar untuk minum-minum bersama teman. Jongdae sudah mengingatkan Baekhyun untuk tidak meminum alkohol terlalu banyak. Namun nampaknya Baekhyun sudah bebal karena alkohol mulai memegang kendali, jadi Baekhyun memesan banyak sake di sana.
Mereka pulang seperti yang mereka janjikan karena sebelumnya Baekhyun berkata kalau ia harus pulang sebelum jam sembilan. Meski Jongdae sempat protes karena merasa terlalu awal, toh ia segera menurut karena Joonmyeon sudah terlanjur janji kepada Baekhyun.
Joonmyeon sudah menawarkan tumpangan namun Jongdae menolak. Ia berkata bahwa ia akan mampir ke minimarket terlebih dahulu. Maka kini tinggallah Joonmyeon yang akan mengantar Baekhyun. Otaku tersebut berpesan untuk mengantarkan Baekhyun ke apartemen Chanyeol; tentu saja setelah Jongdae tahu bahwa Joonmyeon dan Chanyeol bertetangga. Dan pesan Jongdae sukses menciptakan sebuah kerutan samar pada kening Joonmyeon.
Ia membantu Baekhyun berjalan karena kesadaran pemuda itu sudah hampir hilang. Langkah Baekhyun terseok-seok, sebelah tangan Baekhyun yang berada di bahu Joonmyeon sangat membantu karena Joonmyeon membawa Baekhyun dengan sangat baik. Joonmyeon menekan sebuah tombol begitu mereka tiba di depan lift. Sembari menunggu pintu terbuka, pandangan Joonmyeon teralih pada Baekhyun dan senyum tersebut tercipta seperti senja.
Tidak lama kemudian lift berdenting dengan pintu yang mulai terbuka. Joonmyeon menunggu beberapa orang untuk keluar barulah ia membawa Baekhyun masuk. Namun ketika ia sudah berada di dalam lift, ia jelas menemukan seseorang yang tidak asing berdiri di sebelahnya.
Keinginan Chanyeol untuk mencari udara segar telah menguap saat sosok Baekhyun tertangkap dalam edarannya. Ia mengurungkan niat dan memilih untuk tidak keluar dari dalam lift. Chanyeol melirik ke arah mereka yang mendapat sebuah tatapan dari Joonmyeon sementara Baekhyun terlihat seperti tidak sadarkan diri. Tidak ada suara yang mengusik keheningan karena Joonmyeon ataupun Chanyeol enggan bersua. Namun tidak lama setelah itu Chanyeol tanpa permisi meraih Baekhyun dan menempatkan Baekhyun pada punggungnya. Semula Joonmyeon hendak protes namun bibir itu kembali terkatup kala ia melihat Chanyeol yang sepertinya tidak akan menggubris. Hingga mereka tiba pada lantai tujuan, pintu lift kembali berdenting juga membuka dengan otomatis.
Sang dominan melangkah, tapi ia segera berhenti pada yang pertama. Pandangan Chanyeol lurus menatap ke arah depan dan enggan untuk berbalik. Sambil mengeratkan pegangannya agar Baekhyun tidak melorot jatuh, dominan tersebut berujar pelan.
"Terimakasih sudah mengantar, tapi kau tidak perlu repot-repot karena aku bisa menjemput."
Ia kembali melangkahkan kaki, berjalan menuju apartemennya dan meninggalkan Joonmyeon dalam keheningan.
.
Tidak ada hari yang paling baik selain hari untuk berlibur. Meski yang dimaksud bukanlah berlibur dalam arti yang sebenarnya, Baekhyun sangat suka karena itu berarti ia bisa bangun selambat yang ia mau. Pada jarum pendek yang hampir mencapai angka sebelas, Baekhyun mengerang halus karena tiba-tiba ia merasa tenggorokannya kering. Kepala Baekhyun masih pening dan ia tidak ingat mengapa kini ia sudah berada dalam kamarnya di apartemen Chanyeol.
Ia keluar dari kamar dan menemukan Chanyeol dengan sebuah apron pada tubuhnya. Baekhyun menatap Chanyeol hampir tidak berkedip namun tenggorokannya yang terasa terbakar segera mengalihkan perhatian Baekhyun untuk mengambil segelas air.
"Pagi?" lelaki tinggi tersebut baru sadar akan kehadiran Baekhyun dan memilih untuk melontarkan sebuah ejekan yang dibalas dengan juluran lidah si manis.
Kemudian Baekhyun duduk dengan tangan yang terlipat di atas meja counter, ia memerhatikan Chanyeol yang masih sibuk dengan kompor yang menyala. Baekhyun tidak pernah tahu jika Chanyeol bisa memasak, ia jadi menebak-nebak apa yang tengah dibuat oleh pemuda tersebut. Aroma yang masuk ke dalam penciuman Baekhyun seperti gurih dan sedap, mungkin Chanyeol akan membuat makanan berkuah.
Tebakan Baekhyun tidak meleset ketika Chanyeol memberi Baekhyun semangkuk sup yang masih panas. Pemuda tinggi tersebut menanggalkan apron dan menggantung benda tersebut di tempat yang seharusnya. Chanyeol bukanlah tipe orang yang berantakan, jadi wajar jika Baekhyun menemukan apartemen Chanyeol yang tertata rapi.
Sup tersebut tentu menggoda Baekhyun untuk disantap, sepertinya Chanyeol sengaja membuat sup untuk membuat si manis menjadi lebih baik. Terlalu siang jika Baekhyun menyebutnya dengan sarapan, maka ia tidak mengambil pusing dan memasukkan potongan daging ke dalam mulut.
"Kau tidak makan?" Sebuah pertanyaan terlontar ketika ia melihat Chanyeol dengan secangkir kopi panas. Dominan tersebut menyesap cangkir kopinya dan kepulan asap panas masuk ke dalam penciuman.
"Aku tadi sudah makan yang lain." Ia menjawab sedang pandangannya tertuju pada surai si manis yang setengah berantakan. "Kau ada acara hari ini?"
Pertanyaan tersebut dijawab dengan sebuah anggukan dari Baekhyun, "Aku akan bertemu dengan Jongdae." Ia sudah berjanji untuk menemani Jongdae menonton di bioskop pada sore hari.
"Kalau dibanding dengan yang kemarin?" Terlalu random dan Baekhyun tidak mendapat makna yang sebenarnya, maka Baekhyun tidak menjawab dan menatap Chanyeol penuh tanya. "Orang yang kemarin. Kau dekat dengan dia?" Akhirnya Chanyeol bertanya, ia masih setia dengan cangkir kopi pada buku jemarinya.
Otak Baekhyun belum sepenuhnya bekerja karena efek bangun tidur. Kemudian ia mencoba mengingat dan sadar akan sosok yang dimaksud oleh Chanyeol. "Oh, Suho.." Baekhyun bergumam pelan, "sebelum aku mengenal Jongdae, dia adalah orang terdekatku."
"Bukankah kau berkata namanya Kim Joon Myeon?" Chanyeol yakin tidak ada yang salah dengan pendengarannya kemarin. Sebelah alis sang dominan sudah naik pertanda ia sungguh ingin tahu.
"Ya, memang. Tapi aku biasa memanggil dia seperti itu."
.
Film yang akan ditonton Baekhyun dan Jongdae bergenre horror. Karena keduanya adalah tipikal yang tidak begitu gagah, maka mereka memutuskan untuk menonton disore hari. Baekhyun sudah siap namun waktu masih begitu awal, jadi ia mengirim pesan kepada Jongdae kalau ia akan mampir terlebih dahulu.
Ketika Baekhyun tiba Jongdae bahkan belum bersiap diri, ia masih menggunakan kaus longgar dan celana santai ala rumahan. Kemudian Baekhyun masuk, mengomel sebentar karena pakaian kotor yang menumpuk begitu banyak juga televisi yang dinyalakan keras-keras. Baekhyunpun akhirnya mengurungkan niat untuk menyambangi kamarnya sendiri dan memilih untuk mengisi mesin cuci.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Jongdae bersiap-siap. Pemuda itu sudah terbalut setelan yang kasual ketika Baekhyun sedang mengeringkan pakaian. Sebuah senyum terpatri pada wajah Jongdae, ia bersyukur bahwa Baekhyun masih perduli dengannya.
"Sebagai bayaran maka aku akan menghabiskan ini." Sebungkus keripik ubi tengah berada pada genggaman Baekhyun, ia mengunyah dengan renyah sambil membuka lemari es untuk mengambil susu yang ada di sana. Kemudian Baekhyun meraih remote dan mengganti saluran televisi dengan asal. Mengabaikan Jongdae yang menggerutu di tempat.
Tidak lama bel berbunyi dan Baekhyun adalah orang yang membuka pintu. Seorang lelaki berdiri di sana, terlihat sepantaran atau lebih muda dan terdapat sebuah bingkisan pada genggaman. Pemuda itupun terlihat sama penasarannya seperti Baekhyun. "Ada yang bisa kubantu?" Lalu Baekhyun bertanya.
"Kim Jong Dae?" Dia menjawab tidak jelas, dalam pikirannya mungkin ia sudah salah alamat. Yang membuka pintu jelas bukan Jongdae yang ia temui tempo hari.
"Oh, Jongdae ada di dalam. Masuklah dulu." Namun Baekhyun mengerti bahwa pemuda ini adalah tamu sang karib. Ia membawa pemuda tersebut pada ruang tamu yang tidak besar, mempersilakan sang tamu duduk sementara Baekhyun memanggil Jongdae untuk keluar.
Kim Jongdae mengomel karena Baekhyun mengetuk pintu dengan tidak sabar. Hal tersebut adalah kebiasaan Baekhyun yang menyebalkan. Namun ketika Baekhyun memberitahu bahwa seseorang tengah menunggu, Jongdae langsung bergegas menuju ruang tamu.
"Minseok?" Panggilan tersebut terdengar seperti drama di telinga Baekhyun. Tawa Baekhyun akan benar-benar pecah jika ia tidak mengingat bahwa terdapat orang asing di sana. Pemuda yang bernama Minseok tersebut berdiri, tersenyum sesaat dan memberi Jongdae bingkisan yang ia bawa. "Ibu memintaku untuk memberi ini padamu," Ujar Minseok pelan.
.
Selama perjalanan menuju bioskop Baekhyun bertanya-tanya dalam hati. Sepanjang eksistensinya sebagai karib Jongdae, tidak pernah ia menemukan satu dari teman Jongdae yang seperti itu. Jongdae tidak pandai bergaul dan kebanyakan dari teman Jongdae adalah orang-orang dari komunitas yang sama. Namun Minseok berbeda, ia terlihat modis juga terlihat sangat merawat tubuh. Ia bahkan tidak percaya ketika Jongdae berkata bahwa Minseok berusia dua tahun di atas mereka.
"Jadi kau mengenal dia dari mana?" Akhirnya Baekhyun bertanya karena mulutnya sudah sangat gatal untuk berbicara. Jongdae menjawab dan hal tersebut sukses membuat Baekhyun membola di tempat. "Kau dijodohkan?" Ia kembali bertanya seperti yang ada di dalam drama.
"Ku bilang aku hanya dikenalkan oleh ibuku, bodoh." Ingin rasanya Jongdae melempar Baekhyun dengan tong sampah yang baru mereka lewati. Refleks Baekhyun yang bertanya dengan suara nyaring membuat orang-orang di sekeliling mereka menatap mereka aneh. Jongdae jadi malu, tentu saja.
Baekhyun ternyata sudah pada persepsi yang lain. "Ibumu dan ibunya sepakat untuk mengenalkan kalian. Ibunya bahkan menyuruh dia untuk mengantarkan begitu banyak kue kering padamu. Apalagi kalau bukan bau-bau perjodohan di sana?" Jelas Baekhyun menyambungkan pikiran-pikiran yang ia punya.
Tapi jika melihat Minseok dari tampilan luar, maka Baekhyun akan setuju. Siapa tahu Jongdae akan tertular modis seperti Minseok, atau terlihat lebih supel dari biasanya? Asal tidak melupakan Baekhyun, sih.
"Aku sepertinya akan memberi restu kepadamu," Ujar Baekhyun diakhir seraya menepuk bahu Jongdae keras-keras, ia mengembangkan senyum seperti permen kapas.
.
Sudah kesekian kali Baekhyun meyakinkan dirinya kalau horror adalah petaka untuk dia. Mereka kehabisan tiket dan Jongdae bersikeras juga sok berani untuk tetap menonton pada pemutaran berikutnya. Baekhyun melewatkan makan malam dan hanya memakan cemilan-cemilan bersama Jongae. Dan karena hal-hal tersebut, ia pulang ketika hari sudah gelap.
Pesan yang Baekhyun tinggalkan untuk Chanyeol sudah dibaca oleh sang partner. Jawaban Chanyeol yang berkata kalau ia tidak berada di apartemen membuat Baekhyun merengek dan memohon Chanyeol untuk segera pulang. Tapi selanjutnya ia ingat akan Joonmyeon dan memiliki feeling kalau Joonmyeon ada di sana, maka Baekhyun kembali membuka ruang obrolan mereka kemudian mengirimkan pesan kepada Chanyeol.
Aku akan mampir dan menemui Suho saja. Semoga malammu menyenangkan! :D
Ia pulang dengan menggunakan transportasi umum, maka dari itu Baekhyun berjalan cukup jauh dari halte yang paling dekat. Di luar masih begitu ramai mengingat sekarang adalah malam minggu. Jalanan terlihat padat dan Baekhyun juga menjumpai banyak pejalan kaki.
Ketika ia tiba Baekhyun berjalan masuk melewati beberapa penjaga di depan. Ia akan segera menghampiri lift jika maniknya tidak melihat Joonmyeon di sana. Baekhyun mendekat ketika Joonmyeon selesai berbicara dengan seorang pegawai sedang Joonmyeon terkejut karena seseorang yang tiba-tiba memeluk lengannya. Mendapat jawaban jika orang tersebut adalah Baekhyun, Joonmyeon bersuka ria. Baekhyun berkata jika ia akan mampir untuk bermain dan tentu dijawab dengan anggukan cepat oleh Joonmyeon. Joonmyeon memang tidak berencana untuk pergi ke manapun, jadi kunjungan Baekhyun akan membunuh waktu sendirinya.
"Menginap'pun boleh," Ujaran tersebut telah diselipkan sebuah nada canda oleh Joonmyeon. Dalam hati ia juga berharap, namun hal tersebut segera pupus karena Baekhyun menggeleng sambil menepuk lengan Joonmyeon.
Lift membawa mereka hingga lantai tujuan, mereka berbincang dengan candaan kuno untuk menyingkirkan keheningan sekitar. "Jadi kenapa kau tiba-tiba kembali ke sini? Padahalkan di sana lebih enak." Pertanyaan tersebut terlontar dari Baekhyun, pada musim kenaikan kelas yang lalu-lalu Joonmyeon pindah sekolah. Ia melakukan hal tersebut demi sang kakek yang berada di luar pulau. Kakek Joonmyeon ingin menghabiskan masa tuanya di tempat yang jauh dari keramaian yang dapat membuat penat berkepanjangan, juga karena Joonmyeon adalah cucu kesayangan; maka ia meminta Joonmyeon untuk menemani.
"Karena aku ingin bertemu denganmu?" Bualan yang diucapkan Joonmyeon terdengar sebagai candaan untuk Baekhyun. Mereka tertawa bersama ketika mengingat masa lalu; Yang mana Joonmyeon terlihat galak diawal, atau Baekhyun yang tidak sengaja menumpahkan kuah sup milik Joonmyeon. Perasaan akrab dan seperti sangat dirindu yang nyatanya membuat Baekhyun ingin kembali menjadi murid sekolah. Bebas dan tanpa beban pikiran.
Tawa mereka terdengar hingga ujung lorong dan tanpa sadar Baekhyun dan Joonmyeon hampir sampai pada pintu milik Joonmyeon. Namun pada rentang yang hanya beberapa meter, Baekhyun melihat sosok Chanyeol berada di sana.
Chanyeol yang baru memasukkan sandi apartemen segera menoleh dan kini ia mengubah arah berdiri untuk menghadap Baekhyun. Hingga Baekhyun tiba di sana untuk menegur Chanyeol, pemuda tinggi tersebut diam sedangkan Joonmyeon memilih untuk memasukkan sandi apartemen setelah ia memberi Chanyeol senyum sapaan.
"Aku sudah membalas pesan," Bukan maksud Joonmyeon untuk mencuri dengar percakapan mereka. Mereka berada tepat di dekat Joonmyeon jadi otomatis akan terdengar.
"Ah, aku belum melihat." Sekarang Baekhyun tengah memegang ponselnya sendiri dan membuka pesan Chanyeol yang belum ia baca. Kemudian ia melirik Joonmyeon yang sudah berhasil membuka pintu dan sepertinya lelaki itu tengah menanti Baekhyun. Baekhyun berdeham pelan, kembali menatap Chanyeol yang tidak berkata apapun lagi. "Sebentar saja, ya?"
"Tidak." Chanyeol masih pada pendiriannya, pesan yang ia kirim untuk Baekhyun adalah perintah kepada Baekhyun untuk segera pulang karena Chanyeolpun akan kembali.
"Tidak apa-apa, ya?" Sekali lagi Baekhyun membujuk, namun yang ia dapat adalah air wajah Chanyeol yang tidak berubah. Pemuda tinggi tersebut tidak menjawab namun tatapannya memberi sebuah perintah yang Baekhyun tahu bahwa ia tidak dapat menolak.
Jangan lupakan Joonmyeon yang masih berada di sana, menjadi saksi adegan sinetron yang sebenarnya membuat ia kesal. "Sudahlah, toh kita hanya bersebelah." Akhirnya Joonmyeon angkat bicara. Berlebihan jika mampir sebentarpun Baekhyun dilarang. Ia meraih lengan Baekhyun, hendak menarik dan mengajak Baekhyun masuk ke dalam apartemennya.
"Bukan urusanmu," Namun nampaknya Chanyeol tidak suka dengan yang Joonmyeon lakukan.
Di sana Joonmyeon mendecakkan lidah pelan, ia tidak mengerti mengapa Chanyeol berlaku demikian. Tapi mengabaikan itu semua, emosi Joonmyeon jadi tersulut karena Chanyeol yang sangat tidak bersahabat.
"Kau bukan ibunya dan Baekhyun bukanlah bayi yang harus kau urus." Balasan tersebut Joonmyeon lontarkan dan ia menatap Chanyeol seperti tatapan yang Chanyeol berikan padanya.
"Sembilan, Baek." Tapi Chanyeol memilih untuk tidak menanggapi Joonmyeon meski pandangannya masih pada pemuda tersebut. Telunjuk Chanyeol mengetuk-ngetuk kaca arloji yang terbalut pada lengannya dan jelas ia tengah menuntut Baekhyun untuk menepati kontrak mereka.
Beberapa detik berlalu dalam hening dan itu membuat Joonmyeon kembali bingung. Baekhyun tidak bersua dan Chanyeol masih menanti dalam diam. Ia tidak mengerti mengapa Baekhyun tidak berani mempertahankan apa yang ia mau di hadapan Chanyeol, dan kenyataan itu membuat Joonmyeon menjadi lebih kesal. Maka tanpa aba-aba Joonmyeon mengambil inisiatif untuk benar-benar menarik Baekhyun ke apartemennya.
Tapi yang Joonmyeon rasakan adalah penolakan Baekhyun di sana. Baekhyun melepas genggaman Joonmyeon pada lengannya, ia membetulkan letak tas seraya menghampiri Chanyeol.
"Selamat malam, Suho."
.
Baekhyun menggerutu sendiri mendapat fakta bahwa Chanyeol tidak memerhatikan dia sama sekali hingga sekarang. Seusai mandi ia langsung menuju ruang bersantai karena Chanyeol sudah berada di sana. Dengan dalih bahwa ia ingin menonton televisi, Baekhyun ikut duduk pada sofa yang Chanyeol duduki dan dibalas dengan sapaan pemuda tersebut.
Kemudian Chanyeol kembali pada dunianya.
Tidak ada acara yang benar-benar Baekhyun tonton karena ia hanya menganti-ganti saluran dengan asal. Ia menatap Chanyeol, pemuda tersebut sudah terbalut pakaian rumah dan rambutnya jatuh dengan rapi. Sejenak Baekhyun tertegun, bahkan dengan pakaian sederhana saja Chanyeol mampu membuat Baekhyun terpesona untuk kesekian kali. Tapi melupakan soal bagaimana Chanyeol terlihat menarik di mata Baekhyun, perasaan kesal Baekhyun semakin menjadi karena dia ingin diperhatikan.
Maka yang Baekhyun lakukan adalah membuat ulah dengan merangkak masuk ke dalam pelukan Chanyeol dan menjadi pemisah antara Chanyeol dengan koran yang tengah dibaca sang dominan. Ia duduk di pangkuan Chanyeol dengan mereka yang saling berhadapan. Tidak ada kata yang Baekhyun ucapkan karena ia hanya menatap ke arah Chanyeol di balik kacamata bulat yang pemuda itu kenakan.
"Baiklah, ada apa ini?" Koran tersebut Chanyeol lipat kemudian ia letakkan di atas meja. Meski demikian, Chanyeol memiliki sisi lelaki kuno yang masih berlangganan koran setiap pagi. Jemari Chanyeol berpindah dan meraih pinggang Baekhyun hingga ia melingkarinya. Kemudian tersenyum senang karena ia sungguh suka aroma Baekhyun yang baru mandi.
"Kenapa kau tidak menggunakan kontak lensa?" Yang keluar adalah pertanyaan tidak penting namun Baekhyun sungguh ingin tahu. Ia yakin menggunakan lensa palsu akan sangat memudahkan Chanyeol.
"Kurangku kecil, jadi aku hanya butuh jika akan membaca." Dominan tersebut menjawab seraya membersihkan anak rambut dari kening Baekhyun.
Baekhyun sedikit lelah karena ia berjalan kaki jauh dengan Jongdae, belum lagi hanya makanan ringan yang singgah ke perutnya. Maka Baekhyun menjatuhkan dirinya kepada Chanyeol, bersandar di sana dengan wajah yang lesu. "Aku lapar. Dan untuk menebus kesalahanmu yang melarangku bermain dengan Suh—"
"Aku tidak salah, di sana tertulis begitu." Chanyeol memotong kalimat Baekhyun yang belum selesai. Tidak salah jika ia berlaku demikian karena begitulah yang tertera dalam perjanjian mereka.
"Jadi intinya aku lapar," Si manis ternyata tidak mampu membalas perkataan Chanyeol karena Chanyeol sepenuhnya benar. Baekhyun mengangkat kedua tangan hingga ia melingkar pada leher sang dominan, kemudian ia mengangkat wajahnya sehingga pandangan mereka saling bertubrukan. "Temani aku, ya?" Ia mendaratkan kecupannya tepat di atas bibir Chanyeol, berlaku manja karena sebenarnya ia hanya ingin makan dirumah dan Baekhyunpun seharusnya bisa pergi makan seorang diri.
Tapi ternyata Chanyeol lemah akan hal tersebut, ia kembali meraih Baekhyun untuk mendapat satu kecupan di sana. "Apa yang akan ku dapatkan?" Tawar sang dominan setengah bergurau.
Mereka berjalan bersama menuju dapur, Chanyeol adalah orang pertama yang mengambil makanan dari dalam lemari es. Ia masih memiliki stok dan hanya perlu menghangatkan yang Baekhyun mau. Tak lupa ia juga mengambil sekotak susu kegemaran pemuda itu.
Baekhyun duduk sementara Chanyeol mulai menghangatkan makanan dengan microwave. Chanyeol dengan keterampilan memasaknya adalah satu hal baru yang Baekhyun suka. Lamat-lamat Baekhyun memerhatikan Chanyeol yang tengah menyiapkan makanan untuknya, sebuah suara menginterupsi mereka.
Adalah sebuah bel yang berbunyi di depan. Chanyeol meminta Baekhyun untuk melihat dan submisif tersebut menurut. Ia berjalan dan berhenti tepat di depan pintu sambil berpikir mungkin adalah Kris karena pemuda tersebut kerap berkunjung. Kemudian Baekhyun meraih kenop dan membuka pintu tersebut. Ia mendapat seorang pemuda yang berdiri di sana, yang ternyata bukanlah Kris.
Baekhyun menjadi bingung mengapa Kim Minseok berada di sana. Apakah pemuda tersebut ada perlu dengannya sehingga Minseok meminta alamat Baekhyun kepada Jongdae, atau Jongdae yang iseng memberi alamat kepada Minseok. Namun bagi Baekhyun opsi pertama adalah yang lebih masuk akal, jadi Baekhyun tersenyum sambil menatap Minseok bersahabat. "Hallo, ada apa mencariku?"
Namun ternyata Minseok'pun terlihat sama seperti Baekhyun yang bingung. Ia diam beberapa saat dan kembali mengecek sebuah alamat dalam layar ponselnya. Setelah memastikan bahwa ia tidak salah alamat, pelan-pelan Minseok berujar yang tidak Baekhyun kira.
"Aku..mencari Chanyeol?"
Baekhyun sadar jika anggapannya salah dan ia menjadi kikuk karena malu. Namun sebelum Baekhyun memberi tanggapan pada Minseok, suara Chanyeol mengalihkan mereka ketika pemuda tinggi tersebut berjalan menghampiri.
Sang submisif dapat menangkap bagaimana senyum yang merekah pada wajah Minseok, pemuda tersebut menerobos masuk tanpa memerhatikan Baekhyun yang masih berdiri di sana. Pandangan Minseok tertuju pada Chanyeol dan ketika ia sudah dekat, ia meraih Chanyeol untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Chan, aku rindu."
Lembut dan terdengar pelan, namun sangat jelas untuk Baekhyun tahu.
.
.
.
ToBeContinued—
.
.
.
Akutu gatau apa masih ada yang nunggu iniiiiii.
Makasih buat kalian yang udah menyempatkan waktu untuk membaca. Komentar, kritik, dan saran sangat diterima :)
Babaaaaaay~~
