Seorang pemuda berjalan pelan memasuki sebuah ruangan. Matanya menatap penuh kebencian pada seorang pria tua yang sedang duduk dikursinya sambil tersenyum kearahnya.
" I don't expect you'll come. (Well, aku tidak menduga kau akan datang.)" ujar pria itu sambil memainkan gelas berisi wine ditangannya. Laki-laki yang lebih muda itu menatapnya dengan raut tidak suka.
" Say what you want. (Katakan apa maumu.)" ujar pemuda itu dingin.
" Is that the way you talk to the person who raised you? (Begitukah cara bicaramu pada orang yang telah membesarkanmu?)" Pemuda itu mendengus.
" Raised me? Really? (Membesarkanku? Benarkah?)" Pria tua itu menghela nafasnya.
" It doesn't matter if you didn't admit it. (Tidak masalah kau tidak mau mengakuinya.)" Pria itu meneguk wine-nya pelan. " But I want you to do me some favor. (Tapi aku ingin kau melakukan beberapa hal untukku.)"
" I don't work for you. (Aku tidak bekerja untukmu.)" jawab pemuda itu datar.
" You didn't, but you'll work for me and you have to. (Kau memang tidak bekerja untukku, tapi kau akan bekerja untukku dan kau harus bekerja untukku.)"
" What if I refuse? (Bagaimana jika aku menolak?)"
" You don't have a choice. (Kau tidak punya pilihan.)" Pria tua itu menjentikkan jarinya dan tiba- tiba tv layar datar yang terletak dibelakangnya hidup. Menampilkan sesosok wanita tua yang terbaring lemah. pemuda itu terbelalak.
" What have you done to her!? (Apa yang kau lakukan padanya!?)" teriak pemuda itu hendak menerjang pria itu. Namun tangannya ditahan oleh dua orang berpakaian hitam yang merupakan anak buah pria itu.
" I have done nothing. Yet. (Aku tidak melakukan apa-apa padanya. Setidaknya belum.)" Pria itu menyeringai.
" Let her go, asshole! (Lepaskan dia, brengsek!)" kembali pemuda itu berteriak.
" Not before you do what I aksed. (Tidak sebelum kau melakukan apa yang kuperintahkan.)"
Pemuda itu menatap bengis pada pria itu. " What. (Apa.)"
Pria itu tersenyum. Ia menjentikkan jarinya lagi. Kali ini terpampang foto seorang pemuda seumurannya yang tengah tersenyum. " Bring this damn kid to me. I hear that you pretty close to him. (Bawa bocah ini padaku. Aku dengar kau cukup dekat dengannya.)"
Pemuda itu menatap nanar layar itu. Ia tau siapa pemuda yang ada didalam foto itu. 'What actually this old geezer wanted? (Apa yang mau dilakukan si tua brengsek ini padanya?)' Ujar pemuda itu dalam hati.
" Remember! You don't have a choice. Bring this kid or that damn bitch will be die with the way you didn't like. (Ingat, kau tidak punya pilihan. Bawa bocah ini padaku atau wanita jalang itu akan mati dengan cara yang tidak akan kau sukai.)" ujar pria itu dingin.
Pemuda itu tidak bisa memilih diantara keduanya. Dua orang itu merupakan orang terdekatnya dan juga orang yang disayangnya.
" I get it. (Baiklah.)" Jawab pemuda itu.
.
.
.
.
.
PATTISIERE IN LUV
.
T
.
HUNHAN AND ALL EXO MEMBER
.
ROMANCE, SCHOOL LIFE, FRIENDSHIP
.
BOYS LOVE
.
AdeliApple
.
Luhan hanya berdiri terpaku dengan wajah memerah. Hal yang baru saja dikatakan Sehun membuat jiwa dan pikirannya terbang entah kemana. Itu perkataan yang sangat memalukan dan lebih memalukan lagi karna itu ia ucapkan pada Sehun. Ingin sekali rasanya Luhan mengubur dirinya sendiri. Dengan langkah ragu ia berjalan pelan ke arah mejanya. Sehun menatapnya dalam diam namun penuh makna.
" Kenapa lama sekali?" tanya Kai begitu Luhan mendaratkan pantatnya.
" Um.. Tadi cukup ramai." jawab Luhan tersenyum tipis. Matanya melirik sekilas kearah Sehun yang ternyata sedang memperhatikannya juga. Mata mereka bertemu untuk beberapa saat namun Luhan langsung mengalihkan pandangannya.
" Sehun, kau pergi bersamaya tapi tidak membantunya sama sekali dan malah kembali lebih dulu. Tidak kusangka kau sekejam itu membiarkan uri Luhan membawa semuanya." cibir Chanyeol. Sehun menatap Chanyeol dengan alis menyatu.
" Yak! Aku juga seorang namja kau tau!?" ujar Luhan kesal. " Lagipula memang sifatnya tidak peduli pada orang lain." sambung Luhan.
" Pfft!" Kai dan Chanyeol memuncratkan minuman dari dalam mulut mereka.
" Kalian jorok sekali!" maki Tao yang terkena cipratan air liur mereka. Sedangkan mereka berusaha menahan tawa mereka.
" Apa maksudmu aku tidak peduli pada orang lain?" tanya Sehun dengan nada tidak terima.
" Bukankah memang seperti itu?" jawab Luhan cuek seraya menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
" Oh, begitu.. Tapi, orang yang kau bilang tidak PEDULI pada orang lain ini rela menggendongmu yang tengah tertidur kembali ke asramamu. Apa kau tetap berpikir aku tidak peduli pada orang lain?" ujar Sehun sarkastik sambil menopang dagunya. Wajah Luhan seketika kembali memerah. Ia melemparkan death- glare nya pada Sehun yang tentu saja tidak mempan pada namja berkulit pucat itu.
Kyungsoo yang paham apa yang dikatakan Sehun hanya bisa menatap Luhan iba dan melanjutkan acara makannya. Sedangkan dua idiot –Kai dan Chanyeol- menatap Sehun dan Luhan bergantian dengan wajah bodoh mereka. Tao dan Suho? Mereka tidak ingin mencampuri urusan orang lain.
" Apa maksudmu?" tanya Chanyeol penasaran. Luhan melotot kearah Chanyeol. ' Kenapa di harus bertanya!' teriak Luhan dalam hati. Dan Chanyeol tidak menyadari arti tatapan Luhan.
" Tadi malam aku dan Luhan- mphh" Luhan dengan cepat membungkam mulut Sehun dengan tangannya. Menatap mata Sehun dalam-dalam seakan-akan berkata ' Jangan katakan apapun lagi jika kau masih sayang nyawamu.' Sehun hanya tersenyum dibalik tangan Luhan.
" Bukan apa-apa. Ne?" ujar Luhan yang lebih seperti pertanyaan pada Sehun sambil tersenyum kaku.
Sehun melepaskan tangan Luhan dari mulutnya. Luhan menggigit bibirnya takut. " Bukan urusanmu, pabbo." ujar Sehun pada Chanyeol. Chanyeol menggembungkan pipinya lucu yang terlihat menjijikkan dimata Sehun. " Aku hanya bertanya!" balas Chanyeol.
" Kalau begutu jangan bertanya." ujar Sehun. Dan.. Perdebatan dimulai kembali. Tao dan Suho memutuskan untuk beranjak dari sana.
Luhan menghela nafas lega saat mengetahui Sehun tidak mengatakan apa-apa tentang tadi malam. Tiba-tiba Luhan menangkap sosok Baekhyun yang terlihat kebingungan sambil membawa nampan makan siangnya.
" Baekhyun-ah!" panggil Luhan. Baekhyun terlihat kebingungan saat ada sebuah suara memanggilnya. Tapi Baekhyun langsung menyadari ketika dirinya menangkap sosok Luhan. Luhan melambai kearah Baekhyun dan memberi isyarat pad Baekhyun untuk menghampirinya. Tanpa pikir panjang Baekhyun langsung menghampiri Luhan dan saat itu juga dia sadar ada wajah- wajah tak biasa duduk bersama Luhan. Dan pandangannya terhenti pada sesosok namja tinggi yang sedang berdebat dengan Sehun.
" Apa kau sedang mencari tempat?" tanya Luhan begitu Baekhyun mendekat.
" Ne. Tapi tidak ada kursi yang kosong lagi sepertinya." Baekhyun kembali melihat-lihat seluruh kantin. " Cih! Jika sudah selesai makan pergi sana. Kalian menghabiskan tempat. Dasar tukang gossip!" maki Baekhyun entah pada siapa. Luhan terkekeh melihat teman ajaibnya itu.
" Bukankah kau sama saja?" ujar Luhan menahan tawa. Baekhyun melemparkan death-glare nya pada Luhan. " Aku tidak seperti itu, hyung. Setidaknya aku tidak membicarakan gossip murahan." ujar Baekhyun melakukan gerakan flip hair.
" Haha.. Sama saja bagiku." wajah Baekhyun berubah datar. " Tidak usah pasang tampang seperti itu. Duduklah dan nikmati makan siangmu."
" Jinja? Aku boleh duduk disini?" tanya baekhyun antusias. Luhan mengangguk. " Gomawo, hyung." ujar Baekhyun sambil sedikit –Ekhem- melirik Chanyeol.
Begitu Baekhyun mendudukkan dirinya, Chanyeol langsung memperhatikannya. " Well, Siapa namja manis ini?" tanya Chanyeol dengan senyuman mautnya.
Baekhyun dengan rasa gugup yang ditutup-tutupi memperkenalkan dirinya. " Annyeonghaseyo, Byun Baekhyun imnida. Maaf mengganggu makan siang kalian."
" Baekhyun.. Cantik, seperti orangnya." Baekhyun sedikit tersipu. Luhan memutar bola matanya. Ia baru tau kalau Chanyeol itu tukang rayu." Aku Chanyeol, salam kenal ." sambung Chanyeol masih dengan senyum mautnya yang membuat Sehun dan Kai bergidik.
" Aku tau." Baekhyun balas tersenyum.
" Boleh aku minta nomor ponselmu?" tanya Chanyeol to the point. Sehun menatap aneh pada Chanyeol. ' Bagaiman dia bisa berkata segampang itu?' Batin Sehun.
" Tentu." balas Baekhyun enteng. ' Bagaimana bisa dia mengiyakannya secepat itu?' Kali ini batin Luhan yang berbicara. Sehun dan Luhan berpikiran sama. Pantas saja hubungan kalian hanya jalan ditempat. Ckck
Luhan yang tidak tahan dengan ' Kemesraan' pasangan Chanbaek, memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka. Sehun yang melihat Luhan pergi memutuskan untuk mengikutinya. Lagi. Kali ini tanpa sepengetahuan Luhan.
.
.
.
.
Luhan tidak ada kelas hari ini. Jadi dia memutuskan untuk berkeliling saja sembari menghabiskan waktu. Luhan berjalan pelan kearah taman. Setibanya dia ditaman, matanya menangkap sosok Aloys yang sedang duduk dibangku taman sambil membaca buku.
" Hi.(Halo.)" sapa Luhan. Aloys menoleh, ia tau pasti itu suara Luhan.
"Hi. What's up?(Hai. Ada apa?)" Aloys menutup bukunya dan memberi isyarat pada Luhan untuk duduk disebelahnya.
" Nothing. I Just pass by and want to say-hi to you. (Tidak ada. Aku kebetulan lewat dan ingin menyapamu.)" ujar Luhan. " I don't see you lately. (Aku tidak melihatmu belakangan ini.)"
" Do you miss me? (Apa kau merindukanku?)" ujar Aloys dengan senyum menggoda.
Luhan meninju bahu Aloys pelan. " I don't see you for a few days, you think? (Aku tidak melihatmu beberapa hari ini, menurutmu?)" balas Luhan sedikit kesal. Aloys tertawa pelan.
" Sorry, 'cause I don't have a time to see you. I've something to do. (Maaf karna tidak sempat menemui belakangan ini. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan.)" Aloys mengusap rambut Luhan pelan.
" About school? (Urusan sekolah?)" tanya Luhan.
" Yeah. I've to catch up my score, didn't I? (Begitulah. Aku harus mengejar nilai-nilaiku, bukan?)" jawab Aloys sembari memegang lehernya. Luhan menatap Aloys dalam. Ia tau jika Aloys memegang lehernya, dia pasti tengah berbohong.
Luhan tersenyum. " Is that so. (Begitu.)"
DRRT DRRT
Tiba-tiba ponsel Aloys bergetar. Aloys beranjak dari duduknya. " Wait a second. (Sebentar.)" ujarnya pada Luhan dan pergi menjauhi Luhan. Luhan menatap punggung Aloys dari kejauhan. Luhan baru sadar ternyata banyak hal yang disembunyikan Aloys darinya. Luhan sedikit tersentak saat Aloys tiba-tiba berteriak pada ponselnya.
" What's wrong? Why are you screaming? (Ada apa? Kenapa sampai berteriak?)" tanya Luhan saat Aloys kembali. Aloys tersenyum.
" Nothing. Just a friend. (Bukan apa-apa. Hanya seorang teman.)" lagi, Aloys kembali berbohong padanya. Luhan mengangguk.
Aloys memperhatikan raut wajah Luhan dan tiba-tiba mencubitnya.
" Aww!" teriak Luhan. Aloys tertawa.
" Don't put that kind of face. You make me want to kiss you. (Jangan pasang wajah seperti itu. Kau membuatku jadi ingin menciummu.)" Aloys menyandarkan kepalanya pada bahu Luhan. Luhan sedikit terkejut mendengar perkataan Aloys.
" What's wrong though? And what do you mean you want to kiss me? (Me- memangnya ada apa dengan wajahku? Dan apa maksudmu ingin menciumku?)" tanya Luhan sedikit terbata-bata . Aloys menampilkan smirk tipisnya.
" You always put that cutie face when you thinking and your eye brow become one. Make me want to kiss you, like this. (Kau selalu memasang wajah imut saat sedang berpikir dan alismu akan menyatu. Membuatku ingin menciummu seperti ini.)"
CUP
Tiba-tiba Aloys mencium pipi Luhan singkat. Membuat wajah sang pemilik memerah. Luhan menjitak kepala Aloys pelan. Sedangkan Aloys hanya tertawa melihat reaksi Luhan yang selalu sama setiap kali Aloys menciumnya dulu.
" I always like your reaction. (Aku selalu suka reaksimu.)" ujar Aloys masih tertawa. Luhan menatap aneh pada Aloys.
" What do you mean always? (Apa maksudmu dengan selalu?)" ujar Luhan panik. Oh tunggu! Jangan bilang Aloys adalah ciuman pertamanya.
" Don't you remember? I always kiss you when we were kids. (Kau tidak ingat? Aku selalu menciummu ketika kita masih kecil dulu.)" balas Aloys. Selalu. Kata itu terus berputar-putar dikepala Luhan. Jadi benar Aloys adalah ciuman pertamanya. Luhan seketika lemas. Aloys hampir kembali tertawa melihat tubuh Luhan yang seketika lemas.
" It's okay. I'm never really kiss you. (Tenang saja. Aku belum pernah benar-benar menciummu.)" ujar Aloys. Seketika wajah Luhan kembali menunjukkan secercah cahaya. " But, I always want to do it. (Tapi aku selalu ingin melakukannya.)" lanjut Aloys.
Aloys tiba-tiba mengangkat kepalanya dari bahu Luhan kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Luhan. Luhan meneguk salivanya dengan susah payah. Luhan yang terlalu terkejut dengan tindakan Aloys hanya bisa diam membeku dan menutup matanya rapat- rapat.
' Apa dia akan menciumku?! Apa dia akan benar-benar menciumku?! Eomma! Aku belum siap!' Teriak Luhan dalam hati. Ia meremas ujung seragamnya kuat. Jarak antara wajahnya dan wajah Aloys semakin menipis. Ia bisa merasakan hembusan nafas Aloys di wajahnya.
" Pfftt!" Luhan seketika membuka matanya.
"Bwahhahahaha, you..haha.. have to look at your face..hahaha. (Bwahhahahaha, kau..haha.. harus melihat ekspresi wajahmu..hahaha.)" Aloys tertawa keras. Wajah Luhan seketika berubah datar. Jangan bilang Aloys hanya mengerjainya. Aloys masih tertawa sambil memegang perutnya.
BLETAK
Luhan menjitak dengan keras kepala Aloys. " Stop laughing. (Berhenti tertawa.)" Aloys mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh Luhan.
" Sorry, sorry. (Maaf, maaf.)" ujar Aloys menahan tawanya. Luhan mem-pout kan bibirnya.
" Don't tell me that you still have your first kiss? (Jangan bilang kau masih menyimpan ciuman pertamamu?)" tanya Aloys.
" Any problem!? (Ada masalah!?)" jawab Luhan kesal dengan wajah memerah.
" Nope. I feel greateful that you still keep it for me. (Tidak. Aku malah berterima kasih kau masih menyimpannya untukku.)" ujar Aloys percaya diri. Luhan menatapnya geli.
" Who's says that I keep it for you? (Kata siapa aku menyimpannya untukmu?)" ujar luhan sarkastik.
" Eeehhh? It's not for me? (Eeehhh? Jadi bukan untukku?)" Luhan menggeleng.
" Of course not. (Tentu saja bukan.)" jawab Luhan mengangkat dagu. Aloys memasang raut penuh kekecewaan.
" You breaking my hope. (Kau menghancurkan harapanku.)" ujar Aloys dengan nada suara yang dibuat sesedih mungkin. Luhan melirik Aloys dari sudut matanya.
" If that the case then I'll take it from you before anyone did. (Kalau begitu aku akan merebutnya darimu sebelum orang lain mendapatkannya." Aloys kembali melancarkan serangan tiba-tibanya. Tapi kali ini Luhan tidak akan terjebak. Dengan cepat ia mendorong wajah Aloys menjauh darinya.
" I don't gonna let you. (Aku tidak akan membiarkannya.)" ujar Luhan masih menahan wajah Aloys.
" Come on.. (Ayolah..)" rengek Aloys sembari menggapai-gapai. " My heart is not strong enough to see you kiss another person. (Hatiku tidak sekuat itu untuk melihat kau mencium orang lain.)" lanjutnya. Namun Luhan masih bersikukuh. Ia menggeleng dengan keras. Aloys mem-pout kan bibirnya.
" That's not suit you. (Kau tidak cocok berakting imut seperti itu.)" cibir Luhan.
" Really? I think I looks really adorable. (Benarkah? Padahal kupikir aku terlihat sangat menggemaskan.)" Aloys kembali melancarkan aksi aegyo nya yang membuat Luhan tertawa keras.
"Hahaha.. Stop it.. Not suit you at all.. ( Hahaha.. Hentikan.. Tidak cocok sama sekali..)" Luhan mengelap air matanya yang keluar akibat tertawa. Aloys tersenyum.
" I like when you laugh. (Aku suka saat kau tertawa.)" ujar Aloys masih dengan senyumannya. Luhan memandang mata Aloys dalam, namun Aloys mengalihkan pandangannya dari mata Luhan.
Aloys melihat arlojinya. " I've to go. See you later. (Aku harus pergi. Sampai nanti.)"
" Ah, y-yeah. See you later. (Ah, I-iya. Sampai nanti.)" Luhan melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Tanpa Luhan sadari ada sepasang mata yang memandangnya dengan tatapan yang sulit dimengerti.
.
.
.
.
" Aku tidak suka kau dekat dengan anak baru itu." ujar Sehun. Luhan menatapnya bingung. Sehun tiba-tiba menghadangnya dan mengatakan hal yang tidak masuk akal.
" Apa maksudmu? Anak baru? Aloys?" tanya Luhan bingung. Sehun hanya menatapnya datar membuat Luhan semakin bingung.
" Well, aku dekat dengan siapapun tidak ada urusannya denganmu. Lagipula dia itu sahabatku." Luhan hendak melalui Sehun namun Sehun menahan lengannya. Luhan menghela nafas.
" Aku belum selesai bicara." ujarnya datar.
" Tidak ada yang perlu kita bicarakan." balas luhan kesal.
" Apa yang baru saja kau bicarakan dengan Aloys?" Sehun mengacuhkan perkataan Luhan. Luhan mengernyitkan dahinya heran.
" Tunggu, kau mengikutiku?" Luhan menatap sehun tak percaya. Sehun balas menatapnya.
" Dengar tuan Oh Sehun." Luhan melepaskan genggaman Sehun pada lengannya. " Aku tidak peduli kau suka atau tidak aku dekat dengannya, dan apa yang aku bicarakan dengannyan itu bukan urusanmu. Berhenti mengikutku. Kau mulai membuatku kesal." omel Luhan. Luhan kali ini berbalik menginggalkan Sehun.
Luhan terkejut saat Sehun tiba-tiba menarik tangannya kuat dan menghantamkan punggungnya ke tembok dan mengunci pergerakannya dengan kedua tangannya. Luhan meringis saat punggungnya membentur tembok.
" Aku tidak suka saat dia menyentuhmu." ujar Sehun dengan nada dingin membuat Luhan sedikit bergidik. Berada sedekat ini membuat jantungnya mendadak berdegup kencang.
" Dia tidak menyentuhku." balas Luhan sedikit takut. Dia tidak mengerti apa yang ada dipikiran Sehun saat ini.
" Dia hampir menciummu." Nada suara Sehun semakin dingin. Mengingat bagaimana Aloys hampir saja mencium Luhan membuatnya kesal.
" But he didn't." Jawab Luhan frustasi. Semua hal yang dilakukan Sehun membuatnya bingung. " Dia hanya bercanda." suara Luhan melunak. Sehun menghela nafas.
" Aku hanya tidak suka caranya menatapmu, aku tidak suka saat dia menyentuhmu walaupun hanya seujung rambut, aku tidak-" Sehun tidak melanjutkan kata-katanya. Luhan menatap mata Sehun. Tenggelam dalam beningnnya obsidian yang saat ini juga tengah menatapnya.
Sehun menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Luhan. Menghirup dalam-dalam aroma namja manis yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Bulu kuduknya sedikit meremang saat merasakan nafas hangat Sehun berhembus di lehernya. Sehun mengernyit tidak suka. Ia mencium aroma orang lain pada tubuh Luhan.
" Ck!" setelah berdecak cukup kuat Sehun meninggalkan Luhan begitu saja. Meninggalkan Luhan dengan sejuta tanda tanya di kepalanya. Dengan pikiran dan perasaan yang campur aduk, Luhan pergi tempat itu.
.
.
.
Beberapa hari setelah itu sikap Sehun berubah seratus delapan puluh derajat bagi Luhan. Tidak bagi sebagian murid yang menganggap sifat Sehun kembali seperti semula namun lebih dingin. Ia selalu menolak kontak mata dengan Luhan ketika mereka berpapasan. Ia bahkan tidak menyapa Luhan sama sekali dan selalu menghindar saat Luhan menyapanya, membuat Luhan merasakan nyeri didadanya. Luhan yang tidak mengerti sifat Sehun membuatnya kesal dengan semua sikap kekanak-kanakan namja tinggi itu. Sehun mempermainkan perasaannya. Dalam sedetik dia mampu mengangkat Luhan setinggi langit dan detik berikutnya menghempaskannya kembali ke bumi.
" Kau sedang ada masalah dengan Sehun?" tanya Kyungsoo saat mereka dalam perjalanan menuju kantin. Luhan menghela nafas berat.
" Entahlah. Dia membuat kepala ku sakit dengan sikap kekanak-kanakannya." ujar Luhan memijit pelipisnya.
" Kalian bertengkar?" Kyungsoo kembali bertanya. Luhan mengangkat bahunya tanda tak tau.
" Well, apapun masalah kalian segera selesaikan. Aku lelah mendengar keluhan Kai seputar sikap Sehun yang berubah menjadi dingin padanya." Luhan mengernyitkan dahinya bingung.
" Jadi kau secara tidak langsung berkata bahwa sikap Sehun berubah karenaku?" tanya Luhan dengan nada tak biasa.
" Menurutmu?" Kyungsoo balik bertanya.
" Kau membuatku kesal." Luhan meninggalkan Kyungsoo dengan menghentak-hentakkan kakinya layaknya anak kecil yang marah akibat tidak dibelikan permen. Kyungsoo menghela nafas.
" Luhan!" panggilnya sembari menyusul Luhan. " Mianhae, aku tidak bermaksud menyalahkanmu." ujarnya begitu ia sudah mensejajarkan langkah mereka. Luhan masih tidak mau melihat Kyungsoo. Ia malah mem-pout kan bibirnya.
" Aku akan mentraktirmu minuman." ujar Kyungsoo akhirnya. Seketika wajah Luhan kembali cerah.
" Jinja? Gomawo." balas Luhan sambil memeluk Kyungsoo. Kyungsoo memutar bola matanya malas.
" Ya, ya. Sekarang lepaskan aku. Kau berat." Luhan hanya nyengir membuat tanda peace dengan jarinya.
.
.
.
Luhan dan Kyungsoo berjalan sambil membawa nampan berisi makan siang mereka. Sesekali terdengar gelak tawa dari keduannya. Obrolan mereka terhenti saat seseorang memanggil mereka. Saat mereka menoleh, Kai sedang melambaikan tangannya kearah mereka. Mata Luhan langsung tertuju pada seseorang yang duduk didepan Kai. Sehun.
" Duduklah disini." ujar Kai pada mereka berdua. Kyungsoo sudah lebih dulu mendudukkan pantatnya di sebelah Kai. Sedangkan Luhan masih berdiri. Ia menoleh kearah Sehun namun namja itu mengabaikannya.
" Ada apa?" tanya Kyungsoo saat Luhan tak kunjung duduk.
" Mian, Kyungsoo. Sepertinya aku duduk ditempat lain saja." Kyungsoo menatap Luhan bingung.
" Wae?" Luhan kembali melirik Sehun yang masih tidak mau menatapnya. Atau lebih tepatnya tidak menganggapnya..
" Aku hanya malas duduk bersama seseorang yang bahkan tidak mau menatapku dan bersikap kekanak-kanakan." sindir Luhan. Luhan berjalan meninggalkan meja itu.
" Kau pikir aku mau duduk bersama namja murahan sepertimu." balas Sehun. Luhan menghentikan langkahnya. Perempatan sudah timbul dikeningnya. Oke, sekarang dia sudah sangat kesal. Kai dan Kyungsoo bahkan terkejut saat Sehun berkata seperti itu.
" Yak, Se-" Kai hendak menegur Sehun namun perkataannya dipotong oleh Luhan.
" Aku memang murahan, lalu kenapa? Aku menjual tubuhku sekalipun itu tidak ada hubungannya denganmu." ujar Luhan sarkastik lalu pergi meninggalkan Sehun dengan ekspresi yang sulit ditebak. Sudah cukup. Sehun benar-benar menyakitinya. Melihat sahabatnya pergi membuat Kyungsoo bangkit dari duduknya.
" Jaga ucapanmu Oh Sehun! Kau tidak berhak berkata seperti itu pada sahabatku." ujar Kyungsoo dingin dan pergi mengejar Luhan.
" Kyungsoo!" teriak Kai. Ia mengalihkan pandangannya pada Sehun. Melemparkan tatapan ' What the hell, men!?' kemudian menyusul Kyungsoo. Sehun mengusap wajahnya kasar.
Luhan langsung kembali keasramanya begitu semua kelasnya selesai. Tanpa melepaskan seragamnya terlebih dahulu, Luhan membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya. Menghela nafas berat, memikirkan apa yang baru saja terjadi padanya. Tidak, Luhan tidak menangis mengingat perkataan Sehun padanya. Ia malah ingin menendang namja itu. Luhan mengambil ponselnya. Menekan beberapa nomor kemudian menghubunginya.
" Yeoboseyo?" ujar suara diseberang.
" Eomma.."
.
.
.
Jaejong mengakhiri panggilannya. Ia terkejut saat Luhan tiba-tiba menghubunginya dan berkata ia merindukannya. Saat ia bertanya ada apa, Luhan menjawab tidak ada. Dari nada suaranya Jaejong tau anaknya itu sedang ada masalah. Ia melanjutkan acara masaknya yang sempat tertunda. Melihat jam tangannya. Sebentar lagi Yunho pulang.
Beberapa saat setelah ia selesai memasak, suaminya itu pulang. Ia harus menceritakan tentang Luhan padanya. Entah kenapa ia merasa khawatir pada anaknya itu.
" Luhan tadi menghubungiku." ujar Jaejong.
" Apa katanya?" tanya Yunho.
" Tidak ada. Dia hanya menanyakan kabar kita." jawab Jaejong. Jelas sekali dari wajahnya kalau ia khawatir.
" Lalu? Kenapa wajahmu terlihat khawatir begitu?" Yunho mendekati istrinya itu kemudian memeluknya. Jaejong membalas pelukan Yunho. Berusaha menenangkan dirinya sendiri.
" Entahlah. Aku hanya Khawatir." Yunho melepaskan pelukannya dan menatap mata namja manis yang sudah merangkap menjadi istrinya itu.
" Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia sudah cukup besar untuk menyelesaikan masalahnya sendiri." Yunho mengecup bibir jaejong sekilas.
" Tapi-" Yunho memotong perkataan Jaejong. " Ayolah.. Kau bahkan tidak memberiku ciuman selamat datang." ujar Yunho dengan nada merajuk. Jaejong hanya tersenyum polos.
" Mian, mian." Jaejong menarik leher Yunho dan menciumnya. Yunho tersenyum dalam ciuman mereka.
" Apa kau lapar?" tanya Jaejong begitu ia melepaskan tautan mereka. Yunho mengangguk dengan senyuman aneh yang tidak disadari oleh Jaejong.
" Kau masak apa?" Yunho menghampiri Jaejong didapur dan memeluk pinggangnya dari belakang.
" Makanan kesukaanmu." jawab Jaejong dengan senyum lebar.
" Aku sedang tidak ingin makan itu." ujar Yunho. Jaejong terlihat kecewa. Yunho menciumi leher dan bahu Jaejong yang terekspos. Baju yang dipakai Jaejong terlihat kebesaran ditubuhnya. Yunho yakin itu kaosnya.
Jaejong berusaha menahan suaranya saat Yunho terus mengecup dan menggigit-gigit kecil lehernya. " La-lalu kau ingin makan apa? Aku akan membuatkannya untukmu."
Melihat istrinya berusaha mengabaikan tindakannya membuat Yunho semakin gencar menciumi leher istrinya itu. Meninggalkan bercak-bercak merah keunguan. Ia tersenyum puas melihat hasil karnyanya ditubuh putih milik istrinya. " Aku ingin makan ini." Yunho menggigit bahu Jaejong dengan keras.
" Akhh!" erang Jaejong. Bahunya terasa perih. Ia membalikkan badannya dan menatap Yunho kesal yang dibalas dengan senyuman penuh makna dari suaminya itu.
" Kau mau makan atau tidak?" ujar Jaejong mulai kesal.
" Sudah kubilang aku ingin makan ini." kali ini Yunho menyerang bibir merah Jaejong.
" Mpphm!" Jaejong berusaha melepaskan ciuman maut Yunho namun gagal. Lehernya ditahan oleh tangan Yunho membuatnya hanya bisa pasrah.
Tiba-tiba Yunho menggendong Jaejong ala bridal-style. " Tidak jadi makan?" tanya Jaejong polos tidak tau situasi ketika ia berhasil melepaskan ciuman mereka.
" Ck! Tentu saja jadi." kemudian ia menggendong Jaejong menuju kamar mereka. Saat itulah Jaejong sadar apa maksud Yunho tadi. Tapi sudah terlambat, dirinya dalam masalah.
.
.
.
" Nggh.." Luhan melenguh saat ia mendengar ketukan pada pintunya. Luhan mendudukkan dirinya dan mengusap matanya pelan. Ketukan di pintunya semakin brutal, membuat Luhan sedikit kesal.
" Sebentar!" teriaknya. Ketukan dipintunya mereda. Ia berjalan pelan kea rah pintu untuk mengetahui siapa yang berusaha menghancurkan pintunya.
" Baekhyun?" ujarnya begitu membuka pintu.
" Yo hyung." sapa Baekhyun.
" Ah, Baekhyun-ah." balasnya. " Wae?"
" Kau tidak datang saat makan malam. Jieun-ssi menyuruhku untuk mengecekmu. Kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun.
" Aku baik-baik saja." Luhan tersenyum. "Ngomong-ngomong, jam berapa sekarang?"
" Jam Sembilan." ujar baekhyun sembari menunjukkan layar ponselnya.
" Mwo?!" ujar Luhan terkejut, ia tidak menyangka akan tidur selama itu. Ia tertidur sehabis menghubungi eomma-nya.
" Jieun-ssi bilang jika kau lapar, ada makanan dikulkas. Kau tinggal memanaskannya." jelas Baekhyun. Luhan mengangguk. Tidur selama itu membuatnya kelaparan.
" Gomawo, Baekhyun-ah. Maaf sudah merepotkan." ujar Luhan sambil tersenyum tulus.
" Gwenchanayo, hyung. Aku tidak merasa direpotkan." balas Baekhyun santai. Baekhyun hendak pergi namun ia berbalik.
" Oh, ya hyung. Sepertinya kau perlu mandi. Kau seperti habis dicampakkan oleh pacarmu." ujar Baekhyun sambil tertawa kemudian berlalu pergi. Luhan segera menutup pintunya dan berdiri didepan cermin. Luhan kaget saat melihat dirinya sangat berantakan. Seperti yang dikatakan Baekhyun, dirinya seperti habis dicampakkan. Luhan memutuskan untuk menerima saran Baekhyun. Ia perlu mandi.
.
.
.
LUHAN POV
Oke. Aku tidak terkejut. Aku daritadi mencari Kyungsoo dan tidak menemukannya. Tapi, disinilah aku sekarang. Berhasil menemukannya, namun bukan disaat yang tepat. Kai dan Kyungsoo? Seriously? Aku tidak tau bahwa mereka berpacaran. Tidak sampai saat ini. Bukti ini sudah cukup untuk membuatku mengambil kesimpulan bahwa mereka memang benar berpacaran.
Aku bingung kenapa aku tidak pergi dari sini dan malah diam membeku melihat mereka sedang berciuman. Yep! Mereka ber-ci-u-man. Aku ingin segera pergi dari sini tapi kakiku terlalu syok melihat apa yang kulihat saat ini.
" Ekhem!" Aku segera menutup mulutku yang dengan lancangnya mengeluarkan deheman yang kurasa cukup keras untuk mereka dengar.
Mereka berdua serentak menoleh kearahku. Mereka awalnya terlihat kaget. Tapi, entah kenapa wajah Kai berubah biasa saja sedangkan Kyungsoo masih terlihat syok dengan kehadiranku.
" Lu-luhan?" ujarnya sedikit gugup.
" Ah, maaf. Apa aku mengganggu kalian?" tanyaku bodoh.
" Ya/Tidak!" jawab mereka berbarengan. Aku menatap mereka bingung. Kulihat Kyungsoo menyikut perut Kai dan mempelototinya.
" Tidak, tentu saja tidak." ujar Kyungsoo. " Apa kau butuh sesuatu?" tanya Kyungsoo padaku.
" Err.. Sebenarnya ada. Tapi tidak apa-apa! Itu bisa menunggu." Aku tersenyum pada Kyungsoo. Kulihat wajah terlihat sedikit menyesal. Membuatku jadi tidak tega.
Aku kembali tersenyum. " Kalian lanjutkan saja. Aku akan pergi." Apa yang baru saja kukatakan!? Aku segera membalikkan badanku dan mengambil langkah seribu. Mengabaikan teriakan-teriakan Kyungsoo yang memanggil namaku.
OTHER SIDE
" Luhan! Luhan!" Kyungsoo terus memanggil nama Luhan namun namja rusa itu tidak mendengarkannya dan pergi begitu saja. Kyungsoo menggigit bibirnya.
" Kau belum member taunya?" Kyungsoo menatap Kai tajam.
" Bagaimana aku mau memberitaunya. Kau saja baru menyatakannya tadi, pabbo!" Ujar Kyungsoo kesal. Mereka baru jadian tadi bagaiman bisa ia memberitau Luhan. Dia tidak tau kalau namjachingunya sebodoh ini.
" Haha.. Mian, aku lupa." Kai memeluk Kyungsoo. " Bagaimana kalau kita melanjutkan kegiatan kita tadi?" Kai mengangkat sebelah alisnya. Kyungsoo menatap Kai tak habis pikir.
" Tidak mau. Dasar mesum!" Kyungsoo meninju perut Kai kemudian berjalan pergi. Sedangkan Kai memegangi perutnya yang terkena tinjuan maut Kyungsoo yang ternyata sangat menyakitkan.
" Kyungie.." rengek Kai. Namun di abaikan Kyungsoo.
OTHER SIDE END
Sejujurnya aku tidak tau mau kemana. Jadi aku memutuskan untuk keperpustakaan saja. Membaca buku mungkin bisa mengalihkan pikiranku dari 'kejadian' tadi.
Aku membuka pintu perpustakaan pelan. Aku berjalan masuk dan sedikit membungkuk pada penjaga perpustakaan. Dia meletakkan jari telunjuknya didepan bibir, member tanda padaku untuk tetap diam. Aku mengangguk sekilas kemudian pergi kearah deretan rak-rak buku. Aku meneliti satu-persatu buku yang terdapat dirak yang aku singgahi. Mataku terhenti pada salah satu novel karya Sarah Gerdes, Chambers.
' Sepertinya menarik.' batinku.
Aku berusaha menggapai buku itu namun sepertinya itu terlalu tinggi. Aku sedikit berjinjit namun tak berhasil. Aku melompat beberapa kali. Dapat! Aku segera mendudukkan diriku di salah satu kursi yang disediakan oleh perpustakaan dan mulai membaca novel yang baru saja kuambil.
Baru beberapa menit aku membaca, tiba-tiba ada seorang namja yang duduk disebelahku dan menyapaku. Aku balas menyapanya. Dia terus bertanya hal-hal yang tidak penting. Seperti nomor ponselku dan sebagainya. Aku menjawab sekenanya tapi ia tetap keukuh. Aku menyadari dia semakin merapat kearahku. Aku berusaha bergeser namun ia kembali merapatkan dirinya padaku.
" Sunbae, kau terlalu dekat. Aku tidak bisa fokus." ujarku sesopan mungkin.
" Oh? Benarkah? Mian." ujarnya sambil tersenyum menjijikkan kearahku. Tapi ia tidak beranjak sedikit pun, dan malah semakin mendekat padaku membuatku sangat risih. Aku berusaha fokus pada novel yang kubaca namun gagal saat dia mencoba menggenggam tanganku. Aku refleks menepis tangannya.
" Woah! Santai saja." Ia kembali tersenyum. Aku hendak beranjak namun aku mendengar suara kursi terjatuh dan kulihat seseorang berjalan mendekatiku.
LUHAN POV END
SEHUN POV
Aku menyusuri koridor yang dipenuhi siswa dan siswi yang sedang, entahlah mungkin sedang menyebarkan gossip murahan. Beberapa dari mereka terlihat menyapaku namun aku tetap pada wajah datarku, tidak berniat membalas sapaan mereka. Mood ku buruk beberapa hari belakangan ini. Dan aku tidak tau penyebabnya. Aku mengingat pertengkaranku dengan Luhan kemarin, membuat kepalaku berdenyut. Aku hanya tidak ingin membahasnya.
Tanpa sadar aku melamun dan tidaK sengaja menabrak seseorang. Saat kulihat wajah orang yang kutabrak, ternyata itu Sungmin saem. Aku membungkuk meminta maaf dan membantu memungut buku-bukunya yang berserakan. Walaupun orangtuaku pemilik sekolah ini, aku tetap menghormati semua guru yang mengajar disini. Aku bukan seorang anak manja yang kerjanya hanya mencari masalah.
" Gomawo, Sehun-ah." Sungmin saem tersenyum kearahku.
" Tidak apa-apa saem. Aku yang seharusnya minta maaf karna tidak hati-hati."Aku kembali membungkuk. Saat aku dan Sungmin saem sedang berbicara, tiba-tiba Kyuhyun saem menghampiri kami, atau lebih tepatnya menghampiri Sungmin saem.
" Sungmin, ayo makan siang bersama." ajak Kyuhyun saem pada Sungmin saem. Kulihat Sungmin saem sedikit mendelik kearah Kyuhyun saem.
" Tidak bisakah kau sopan pada seniormu?" ujar Sungmin saem kesal. Aku hanya memperhatikan mereka. ingin segera pergi tapi aku merasa itu tidak sopan. Tiba-tiba Kyuhyun saem menatapku dan memberikan buku yang dipegang Sungmin saem padaku.
" Tolong kembalikan buku itu ke perpustkaan." kemudian Kyuhyun saem menarik Sungmin saem pergi begitu saja. Sungmin saem menatapku dan membuat gerakan pada bibirnya. ' Mianhae.' Aku hanya mengangguk. Aku sedang tidak ada kegiatan, jadi aku tidak masalah mampir ke perpustakaan sebentar.
Aku tiba didepan perpustakaan. Aku mendorong pintu perpustakaan dengan kakiku, tanganku terlalu sibuk dengan buku-buku yang kupegang. Saat sudah didalam aku menghampiri meja penjaga perpustakaan.
" Aku ingin mengembalikan buku." ujarku to the point. Yeoja berkacamata itu sedikit terkejut melihat kedatanganku. Sepertinya dia seorang murid.
" Atas nama siapa?" tanyanya padaku.
" Sungmin seongsaenim." jawabku singkat. Dia terlihat mengotak-atik computernya sejenak kemudian kembali menatapku.
" Sudah." Aku hanya mengangguk dan pergi dari sana. Aku berjalan kearah rak-rak buku dan mengambil satu buku secara sembarangan. Aku bahkan tidak membaca judulnya.
Aku berjalan kearah tempat duduk yang paling pojok dan membuka buku yang kuambil. Ternyata itu buku tentang masa perang dunia dua. Aku mengeluarkan kacamata dari saku blazerku. Mataku tidak bermasalah, aku hanya memakainya ketika membaca buku.
Sudah lima belas menit aku disini dan membaca buku ini. Aku mulai menghela nafas bosan. Aku melihat sekeliling. Hanya ada para nerd disini. Mataku beralih pada pintu masuk perpustakaan yang tiba-tiba terbuka. Awalnya aku ingin mengabaikannya saja, tapi melihat siapa yang masuk membuat perhatianku tertuju pada orang yang masuk tadi. Orang itu adalah Luhan.
Aku diam-diam memperhatikannya. Dia terlihatt sedikit membungkuk pada yeoja yang duduk dimeja penjaga tadi. Ia berjalan kearah rak buku terdekat dan menelusurinya. Kurasa dia sudah menemukan buku yang ingin dibacanya. Dia terlihat menggapai-gapai, berjinjit, dan melompat-lompat. Aku terkekeh melihatnya, seperti anak kecil. Aku ingin membantunya tetapi aku tidak berada pada posisi bisa membantunya. Aku masih ingat kejadian kemarin. Lagipula dia sudah berhasil menggapai buku itu.
Kulihat dia berjalan kearah meja yang sama seperti yang aku duduki. Kupikir dia menyadari keberadaanku namun tidak. Mungkin karna aku duduk dipojok. Selama beberapa menit aku hanya memperhatikannya. Saat itulah aku melihat seorang berjalan mendekatinya. Dilihat dari warna dasinya yang biru sepertinya dia kelas sebelas. Apa Luhan mengenal orang itu?
Aku mulai risih saat namja itu duduk berdekatan dengan Luhan. Aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Lama-kelamaan namja itu duduk semakin dekat. Aku melihat Luhan mengatakan sesuatu. Tapi tidak tau apa. Kulihat wajah Luhan yang terlihat risih dengan kehadiran namja itu.
' Kenapa kau tidak beranjak dari situ?' batin Sehun kesal.
Kekesalanku bertambah saat orang itu menggenggam tangan Luhan dan langsung ditepis oleh Luhan. Aku refleks berdiri sehingga kursi yang kududuki terjatuh kebelakang. Aku berjalan cepat menuju tempat Luhan duduk. Tidak ada yang boleh menyentuh Luhan. Tidak selama aku masih hidup. Luhan terlihat kaget saat melihatku.
" Bisakah kau menjauh dari dia." ujarku dingin. Namja itu menatapku meremehkan. Mungkin karna dia tau aku satu kelas dibawahnya.
" Bukan urusanmu." balas namja itu padaku.
" Tentu saja itu urusanku-" Aku menggantung kalimatku. Aku melirik sekilas Luhan dari sudut mataku. "-dia pacarku." Luhan dan namja itu terlihat sama-sama terkejut.
SEHUN POV END
AUTHOR POV
" Cih! Ternyata kau sudah punya pacar. Membosankan." Namja itu berlalu pergi dari hadapan mereka berdua. Beberapa orang disekitar mereka menatap mereka akibat keributan yang namja itu sebabkan.
Luhan menatap Sehun bingung. " Apa maksud-"
" Ikut aku." belum selesai Luhan bertanya, Sehun sudah menariknya pergi menjauhi tempat itu. Luhan sedikit memberontak tapi pada akhirnya menurut karna Sehun tidak menanggapinya dan malah menguatkan cengkramannya pada pergelangan tangan Luhan.
Dan disinilah Luhan sekarang. Kembali disudutkan oleh seorang Oh Sehun.
" Here we go again." ujar Luhan malas.
" Kenapa kau diam saja saat dia membuatmu tidak nyaman?" tanya Sehun. Luhan menghela nafasnya.
" Entahlah. Menurutmu aku harus bagaiman?" Luhan memijat pelipisnya.
" Seharusnya kau pergi jika kau merasa tidak nyaman." jawab Sehun. Luhan mendengus.
" Kalau begitu sekarang aku harus pergi? Karna aku mulai merasa tidak nyaman." Luhan ingin pergi namun tangan Sehun menghalangi jalannya.
" Berhenti menggangguku!" teriak Luhan frustasi. " Sebenarnya apa maumu.." Suara Luhan melemah. Ia lelah. Ia lelah dengan semua tingkah Sehun padanya. Ia bersikap posesif pada Luhan tetapi ia tidak menjelaskan alasan mengapa ia melakukannya.
Sehun juga tidak mengerti dirinya sendiri. Ia tidak suka ada orang lain yang mendekati Luhan. Jika kalian tanya kenapa? Dia akan menjawab tidak tau. Karna ia memang tidak tau.
Tanpa mengatakan apapun. Sehun menarik tubuh Luhan dan memeluknya. Menenggelamkan wajahnya pada bahun Luhan. Luhan sedikit memberontak saat Sehun memeluknya.
" Mian." gumam Sehun. Luhan tertegun. Ia berhenti memberontak. Membiarkan tubuhnya dipeluk dengan sangat erat oleh Sehun. Membuat jantungnya seperti dipompa.
" Detak jantungmu tidak beraturan. Gwenchana?" ujar Sehun tiba-tiba setelah beberapa saat bungkam.
Wajah Luhan memerah mendengar perkataan Sehun. " A-aku tidak apa-apa, pabbo!" jawab Luhan kelabakan. Sehun terkekeh. Membuat wajah Luhan semakin memerah. Untunglah Sehun tidak melihatnya.
" Aneh." Luhan mengerutkan keningnya.
" Apanya?" tanyanya.
" Entahlah." jawab sehun. Sehun menghirup dalam-dalam aroma tubuh Luhan. Awalnya ia mengernyit tidak suka karena ada aroma namja tadi menempel pada Luhan. Namun itu hanya sementara. Aroma itu hilang dan sekarang Sehun hanya mencium aroma susu vanilla yang menguar dari tubuh Luhan. Sehun suka aroma tubuh Luhan. Bulu kuduk Luhan meremang merasakan hembusan nafas hangat Sehun dilehernya.
" Luhan."
" Hm?"
" Mianhae." Luhan terdiam.
" Jeongmal mianhae." Sehun mengeratkan pelukannya. Luhan meninju pelan dada Sehun.
" Ak-akuh..hh..tidak bisa bernafashh.." Sehun melonggarkan pelukannya.
" Mian." Luhan mengangguk.
" Maaf aku sudah berkata kasar padamu. Aku tidak bermaksud. Saat itu aku sedang kesal. Maaf karena sudah melampiaskannya padamu." Sehun kembali meminta maaf. Luhan sedikit ragu saat Sehun meminta maaf. Dia menggunakan nada bicara sangat datar. *You know Sehun gimana:3
Dengan ragu-ragu Luhan membalas pelukan Sehun. Membuatnya Sehun terkejut. " Gwenchanayo. Aku sudah memaafkanmu."
Sehun melepaskan pelukannya. " Jinjja?" Luhan mengangguk. Sehun kembali memeluk Luhan namun ditahan oleh namja manis itu.
" Sudah cukup acara pelukannya. Kau bisa membuatku kehabisan nafas." Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Luhan ingin sekali tertawa melihat perubahan sikap namja didepannya ini yang menurutnya sangat ajaib.
" Sejak kapan kau memakai kacamata?"tanya Luhan bingung saat menyadari ada perbedaan dalam penampilan Sehun. Sehun terlihat lebih -ekhem- lebih tampan saat memakainya.
" Aku memakainya hanya saat sedang membaca." Sehun hendak melepaskan kacamatanya.
" Jangan!" larang Luhan. Tangan Luhan menghentikan pergerakannya.
" Wae?" tanya Sehun bingung.
" Err.. Aniya." elak Luhan. Smirk tipis terpatri dibibir tipisnya.
" Apa aku terlihat lebih tampan saat memakainya?" Sehun mengangkat sebelah alisnya. Kepribadian yang tidak disukai Luhan muncul.
" Tidak usah terlalu percaya diri." Luhan mengalihkan pandangannya.
" Lalu kenapa kau tidak berani memandangku?" Luhan menggerutu dalam hati. Dengan berat ia memutar kepalanya menjadi menghadap Sehun.
" Si-siapa bilang aku tidak berani?" Sehun mendekatkan wajahnya pada Luhan kemuadian tersenyum yang menurut Luhan sangat- you know what I mean. Ok, cukup! Jantung Luhan sudah tidak kuat. Luhan mendorong wajah Sehun menjauh. " Ka-kau terlalu dekat, pabbo." Luhan kembali mengalihkan pandangannya. Sehun dapat melihat bias kemerahan pada wajah Luhan.
' Kenapa dia sangat imut!?' batin Sehun berteriak. Suasana kembali canggung. Luhan sibuk menutupi rona diwajahnya sedangkan Sehun hanya menikmati pemandangan yang tersaji. *semacam apa gitu-_-
" Mau kerumah pohon?" Tanya Sehun tiba-tiba. Luhan melotot horror kemudian menggeleng pelan.
" Aniya." Jawab Luhan cepat. Sehun mendekatkan wajahnya.
" Aku akan menciummu jika kau menolak." Ancam Sehun. Luhan masih menggeleng. Sehun semakin mendekatkan wajahnya. Hanya tinggal dua centi lagi bibir mereka akan bertemu.
" Kau yakin?" Luhan menelan ludahnya. Sekarang mereka seperti sedang berbagi oksigen. Sehun belum memundurkan wajahnya sedikitpun. Luhan dengan pasrah menganggukkan kepalanya. Jika dibiarkan lebih lama Luhan bisa meledak. Sehun tersenyum penuh kemenangan.
CUP
Sehun mengecup pipi Luhan singkat . " Aku akan membuatkan sesuatu yang manis untukmu sebagai permintaan maaf, kajja." Sehun menarik tangan Luhan.
Luhan? Dia sudah tidak bernafas.
.
.
Sehun kembali mengangkatnya setinggi langit. Hanya tinggal menunggu detik berikutnya untuk melihat apakah Sehun memutuskan untuk menjatuhkannya lagi atau tetap mendekapnya.
.
.
.
.
.
To be continue…
.
.
A/N :
Update yoyoyo :v
Mian ff nya ngaret (/.\) Saya lagi sibuk ngumpulin pahala :v Btw, selamat menunaikan ibadah puasa buat yang menjalankan :D Nanti lebaran kerumah saya ntar saya kasih THR,wkwk
Reviewnya untuk chap ini :3 Sehun buat ayang lulu kesel mulu :v udah saling nunjukkin tanda-tanda sepertinya :v Sehun! Cepat utarakan perasaanmu! Jangan membuat dia berpikir kau hanya mempermainkannya :v
Tolong supportnya buat ff gaje yang gk jelas arahnya kemana ini '-')/ 3 3
#sudahterlalulamasendiri :v
Mian, tadi ada sedikit kesalahan teknis (/.\)
