Highscool DxD milik Ichiei Ishibumi

Chapter 9 kerisauan hati

Bayangkan malam ini kau bermimpi ditemui harimau besar apa yang kau rasakan takut dan cemas, tapi aku malah senang kenapa karena harimau itu adalah wujud dari sacred gearku walaupun buatan sih dari gubernur malaikat jatuh Azazel.

Pagi ini aku terbangun di sofa ruang osis.

"Banyak hal yang harus kucerna tapi setidaknya aku masih memiliki tubuh untuk berjuang menjadi Maou"

Saat aku berujar seperti itu tiba tiba muncul suara.

(Jangan lupakan aku juga, partner)

Aku pun tersenyum tentu aku tak akan melupakanmu, kau adalah harta yang berharga bagiku meskipun kau bukan milikku.

"Taiga kau adalah kartu as ku dalam menapaki jalan menjadi maou."

(Terus maju partner.)

"Taiga kau kan mendiami Sacred gearku, bagaimana caraku mengeluarkannya."

(Kau cukup berkata [Brave up Gear] partner, maka sacred gear akan ada ditanganmu.)

"Aku hanya perlu mengucapkan[Brave up Gear] maka sacred gearku akan muncul baiklah, terima kasih partner."

"Hm~jangan lupakan pesanku semalam partner, mulai sekarang kau harus memulai pelatihan fisik guna memperoleh prana."

(Baik Taiga.)

Setelah itu aku langsung melakukan latihan kecil untuk mengawali hari itu, begitu selesai aku langsung mandi, terkejut aku ternyata aku tertidur di ruang osis.

"Sebenarnya apa yang terjadi semalam yah".

(Partner semalam kau pingsan setelah kelelahan bertarung melawan iblis liar, dan ditambah kesalahpahaman saat kau menyampaikan hasil kontrakmu.)

Saat aku mendengar penjelasan dari Taiga terlintas bayangan aku yang telah memeluk kaicho dan menciumnya, keringat dingin pun keluar dari keningku apa yang akan terjadi padaku aku pasti akan dibunuh.

"Sialan berarti semalam itu bukan mimpi!"

(Ya, itu benar Partner)

Aku hanya menelan ludah mendengar pembenaran dari Taiga itu seperti aku ditampar kenyataan pahit. Oh man aku sudah melakukan hal yang tak senonoh pada kaicho aku pasti akan mati dan saat aku bertakut ria seseorang mendadak masuk keruang osis.

"Ara kau sudah bangun, Ikki?"

"Kaicho!"

Jawabku dengan gemetar karena aku tahu semalam aku memeluk dan menciumnya, aku pasti mati kaicho adalah orang yang tidak akan mentolerir penyimpangan.

"Apa tenagamu sudah pulih, Ikki?"

"Ehh iya! aku sekarang sudah pulih aku hanya lelah sedikit dan butuh tidur untuk memulihkan tenagaku!"

Kruyuk! kruyuk!

"Sepertinya kau bukan hanya butuh tidur tapi juga butuh makan."

Sial perutku kenapa kau tidak baca suasana mendadak berbunyi seperti ini, tapi itu wajar sih soalnya dari semalam aku belum makan apa apa.

"Kau tahu sendiri kan kaicho semalam aku menjalankan kontrak, ditambah aku kelelahan jadi aku belum makan apa apa dari kemarin."

"Ya aku mengerti karena itu kubawakan Ini untuk mu, Ikki."

Ia menyerahkan roti lapis dengan segelas susu kaicho kau adalah penyelamatku, aku mengambil roti itu dan memakannya dengan lahap lalu aku langsung meminum segelas susu.

"Hah~ arigatou kaicho kau adalah penyelamatku."

Mengucapkan terima kasih dengan tulus tapi tiba tiba tangan nya terulur kepadaku dan mengusap bibirku dengan tisu.

"Ya ampun Ikki kalau kau makan seperti ini, kau terlihat seperti anak kecil."

Rasa cemas dan bahagia menyerangku lalu mataku dan matanya beradu terjadi adu tatap sebentar, mata itu mata yang berisi ambisi dan kekuatan tapi diselimuti dengan kasih sayang dan perhatian, kemudian ia seperti menyadari sesuatu mata nya melebar rona merah tipis hinggap di pipinya dan kemudian dengan cepat ia menarik tangannya.

"Ka...Kalau kau makan ja...jangan buat aku memberihkan sisanya Ikki!"

Ia berkata begitu dengan wajah menoleh kesamping dengan mimik kawatir, dan sesekali iris matanya melirik kearahku lalu saat aku sadar aku pun meminta maaf.

"Ma...maaf kalau aku me...repotkanmu kaicho"

Jawabku yang sedikit gugup menerima perlakuan lain dari kaicho setidaknya ia memiliki sikap seperti gadis normal hari ini Terjadi kecanggungan antara aku dan dia.

"Ano Kaicho maukah kau membantuku?"

"Memangnya kau butuh bantuan apa Ikki?"

Ia menjawab petenyaanku sebenarnya aku sedikit takut mengutarannya tapi apa boleh buat.

"Sebenarnya aku sudah memiliki sacred gear tapi-"

"Aku sudah tahu itu!"

"Benarkah kau sudah tau?"

Ia mengangguk menanggapi petanyaanku.

"Sacred gearmu itu sudah cerita semuanya bahwa kau tidak memiliki sihir serta kekuatan apapun, yang kau punya hanyalah tubuhmu dan semangatmu. Aku sedikit terkejut sih tapi aku kan sudah berjanji akan menerimamu apa pun yang terjadi."

Kaicho dibalik sikap tegas dan dinginmu sepertinya terdapat kehangatan yang mampu mengalahkan hangatnya mentari pagi, aku bersyukur kalau aku dibangkitkan olehmu Lalu aku membuka suara.

"Tapi sacred gear itu bukan milikku dan juga Taiga adalah spirit, lalu ia juga tak memilki tubuh fisik jadi dia membutukan tubuh nya kembali."

Aku mengutarakan apa yang telah Taiga katakan, kaicho pun terkejut.

"Jadi Taiga juga bukan sacred gearmu dan dia hanya spirit, lalu bagaimana kita dapat menemukan tubuhnya kembali, Ikki?"

Ia menjawab sambil bertanya aku pun berujar.

"Tepat Taiga memang bukan milikku tapi ia sudah berjanji akan menjadi pertnerku dalam menapaki jalanku menjadi seorang Maou, dan untuk menemukan tubuhnya kembali kita harus menemui pembuat dari Taiga."

Ia sedikit terkejut mendengar penjelasanku tapi kemudian, Ia tersenyum tipis seolah mensyukuri sesuatu.

"Bisa dibilang Taiga adalah sacred gear buatan dan orang ini menjadikanmu kelinci percobaannya, tapi aku senang setidaknya dengan itu kau memiliki Taiga aku juga penasaran siapa orang yang telah menciptakan Taiga."

(Gubernur malaikat jatuh Azazel dialah yang meciptakanku.)

Bukan aku yang menjawab tapi Taiga lah yang menjawab melalui knuckle yang tiba tiba telah terpasang di kedua lenganku, sepertinya ia terpancing dengan obrolan ini sehingga akupun tak menyadari jika ia ikut dalam pembicraan ini.

"Kau bilang gubernur azazel dia adalah musuh bagi kita, Ikki apa kau pernah bertemu dengannya?"

Aku pun menggelengkan kepala pasalnya aku belum pernah mengenal orangnya seperti apa, jika namanya ku sudah tahu dari pembicaraanku dengan Taiga semalam.

"Tidak pernah kaicho!"

"Tapi kenapa ia menjadikanmu bahan percobaannya sudahlah, Ikki cepat lah bersiap siap sebentar lagi kita akan masuk sekolah."

Aku menganggukan kepala lalu bersiap menuju sekolah, saat aku berada dikelas kulihat Issei sedang murung entah memikirkan apa.

"Hei Issei ada apa sepertinya kau memikirkan sesuatu?"

Aku memulai pertanyaaan.

"Ah tidak ada apa apa Ikki, hari ini aku sedang tak bersemangat saja!"

"Tak biasanya temanku seperti ini?"
"Itu karena teman kelompokku kiba bertingkah aneh akhir akhir ini!"

"Oh jadi begitu kau mengkhawatirkannya."

"Tentu saja Ikki aku ini temannya, tapi kenapa ia bersikap seperti itu."

"Apa terjadi sesuatu sebelumnya antara kau dan dia?"

"Tidak pernah!"

"Itu rumit sudahlah, dari pada itu kau itu bajingan Issei!"

Aku mengatai dengan kesal dia pun menjawab.

"Apa apaan kau mengataiku bajingan!"

"Sialan, kau seperti yang Motohama bilang kau itu hewan buas!"

"Apa maksudmu?"

"Kau memiliki Asia chan sendiri tapi kau malah marah marah padaku yang berjalan bersama kaicho dan fuku kaicho"

"Mereka yang mulai duluan!"

"Dasar mesum!"

Dan itulah perdebatan ku dengannya pagi ini mengawali hari yang indah dengan keributan kecil kurasa tidak buruk, kemudian siangnya aku kembali ke atap sekolah untuk merenung.

'Kenyataan memang pahit!'

(Memang begitulah rasannnya partner)

Taiga sang sacred beast buatan mengiyakan apa yang aku fikirkan.

'Neh taiga apakah aku bisa yah menjadi seorang maou'

(Kenapa tekadmu melemah sekarang partner, Kau tidak seperti biasanya?)

"Entalah mungkin aku sedang seperti keadaan kiba san yang murung beberapa hari ini."

(Tapi apa penyebabnya partner.)

Aku terdiam mendengar pertanyaaan partner ku sialan aku pun tak tahu apa penyebabnya, mungkin kerena aku yang tidak punya kekuatan atau karena aku yang berekspetasi terlalu tinggi ingin menjadi Maou.

(Cita cita hanya akan jadi khayalan jika tidak diraih dengan kerja keras, seorang yang berbakat akan dengan mudah dikalahkan oleh orang yang bekerja keras ingatlah itu partner.)

Aku hanya termenung mendengar pernyataan partnerku, Dia menyadarkanku bahwa masih ada yang bisa kulakukan.

"Taiga dalam seni beladiri apa yang paling cepat membuatku memiliki stamina lebih."

(Melatih fisik membutuhkan waktu dan melatih seni bela diri membutuhkan guru cari saja guru yang bisa kau minta tolong.)

Aku menganggukan kepala atas saran partnerku.

"Tapi apa tidak ada pelatihan agar aku cepat punya prana."

(Mungkin kau harus mencari disuatu tempat, jangan tanya padaku karena aku bukan tempatnya.)

"Kupikir akan mendengar saran yang baik."

(Seperti yang kau tahu aku tak tahu banyak hal, jadi maaf saja jika saranku buruk.)

"Baiklah mungkin di perpustakaan ada."

Saat aku diperpustakaan aku melihat banyak buku mulai dari sejarah, ilmu pengetahuan, dan berbagai macam lainnya. Kurasa sekolah ini wajar jika disebut favorit karena memiliki fasilitas yang banyak dan kualitas yang terjaga dengan baik, jika kau memerlukan sesuatu mungkin akan tersedia disini seperti niatku.

"Manual beladiri yang ditinggalkan oleh rahib agung, hanya tersisa sutra pembasuh sumsum menurutmu bagaimana Taiga."

(Kudengar itu merupakan sutra yang berhubungan dengan pengolahan mental, ambilah itu partner.)

Berpikir tentang jawaban Taiga aku membaca sutra tersebut karena ingin tahu manfaatnya dan akhirnya aku ambil sutra itu.

"Aku harusnya mengolah fisik dari pada mental, tapi karena ini saran partnerku bagaimana mungkin kutolak."

Setelah itu aku kembali kekelas dan mengikuti pelajaran dengan tenang, jika aku harus menggambarkan situasi kelas saat ini maka aku hanya bisa menyebutnya mem-bo-san-kan. Karna guru saat ini sedang mengajarkan tentang fisika, sebagian ada yang tertarik tapi aku tidak.

"Lebih baik aku membaca sutra pembasuh sumsum saja."

Diam diam aku mencuri waktu untuk membaca sutra pembasuh sumsum, kulakukan itu agar waktu ku tak membosankan karena aku kurang menyukai pelajaran fisika. Setelah itu bel yang menandakan kebebasan bagi kami para siswa terdengar aku cukup bersyukur karenanya.

"Akhirnya pulang juga!"

Seluruh murid membereskan perlengkapannya dan menuju ke kegiatan masing masing. Hari ini adalah hari perkenalanku dengan keluarga gremory, walau aku sudah tahu keluarga gremory itu siapa saja tapi ini adalah perkenalan resmi yang harus dilakukan.

Saa minna ini chapter 9

menulis sebanyak 2k word malah membuat cerita ku jelek lebih baik aku menggunakan pola 800 word per chapter terima kasih.