bBagi Sehun, Luhan adalah gadis manja dan kekanakan. Namun kenyataannya Luhan lebih kuat dan mandiri dibandingkan apa yang Sehun bayangkan. Dan pada akhirnya, sesuatu menimpa dan penyesalan tidak dapat terelakkan.

~A Chance~

Chapter 9

Warning! Typo(s) detected!

Jam silver di dinding ruangan menunjukkan pukul delapan pagi. Jika hari biasanya Sehun masih sibuk dengan kancing kemeja dan tautan dasi sebelum berangkat ke kantor demi mengumpulkan pundi-pundi uangnya, maka hari ini ia tidak melakukan hal serupa. Sosok Presiden Direktur itu nampak berbeda dari kesehariannya, terlihat dari penampilan khas bangun tidur lengkap dengan piyama dan wajah sembab. Jauh berbeda dari kesan angkuh dan maskulin yang seolah merekat kuat dalam dirinya.

Oh, jangan lupakan senyuman yang enggan pergi dari wajah tampan Sehun. Alasannya? Yang pertama, karena ia menikmati jadwal cuti paksa seperti yang sempat sekertarisnya katakan tadi malam. Awalnya Sehun berniat ke kantor karena kondisi tubuhnya memang tidak separah yang orang bayangkan karena jika ditilik lebih lanjut, sakitnya bukan dari fisik melainkan tekanan batin. Namun memiliki teman baik seorang dokter tidak selamanya menyenangkan. Terbukti dari perintah Kim Jongin yang meminta Sekertaris Lee mengosongkan jadwal Sehun dan membiarkan Sehun beristirahat paling tidak untuk satu hari penuh di apartment-nya.

Alasan yang kedua, karena Sehun memikirkan satu nama manusia dan menanti gadis itu untuk menepati janji untuk menemuinya lagi. Yeah, Xi Luhan.

Sehun tidak tahu apa takdir yang membawanya detik ini, hingga membuatnya menjadi satu dari daftar pria berotak cerdas yang menjadi bodoh hanya gara-gara satu hal –cinta-. Takdir yang membuatnya tidak bisa berlari bahkan melangkahkan kaki untuk menjauh dari sebuah rasa yang tidak bisa dipahami logika. Padahal jika ditilik lebih lanjut, Sehun tidak memiliki cukup waktu untuk menjadi sosok pria pemuja cinta dan tersenyum seperti orang idiot. Pekerjaannya sebagai pejabat tertinggi perusahaan mampu menghabiskan waktunya dua puluh lima jam dalam sehari. Dan kini, ditambah dengan pikirannya tentang sosok gadis yang dicintainya, maka otak cerdasnya tidak akan beristirahat sedetikpun.

Hanya ada dua di pikiran Sehun. Membahagiakan orangtuanya melalui usahanya dalam mengembangkan perusahaan, dan sosok gadis mungil berhati kuat bernama Luhan.

Ingatkan Sehun untuk menandai hari kemarin sebagai hari yang bersejarah dimana Sehun mampu menumpahkan semua emosinya dan mengakhiri kata pecundang di akhir namanya.

Ya, kemarin. Ketika Oh Sehun yang dulunya seorang pecundang, beralih menjadi sosok pria yang bertekuk lutut dan menangis menyedihkan demi gadis yang perlahan memasuki hatinya. Tanpa disangka, mengingat perilaku Sehun yang dulu tidak pantas dianggap sebagai kekasih, meski dulu Sehun tentu memiliki alasan mengapa ia berperilaku demikian.

Anggapannya tentang Xi Luhan yang bersikap manja dan kekanakan, telah membutakan seluruh pikiran Sehun termasuk hati dinginnya. Oh Sehun bukan tipe pria yang akan bersenang hati menerima kelakuan perempuan berbuat manja dan kekanakan, alih-alih membenci sifat menyebalkan itu. Alhasil segala sesuatu yang Luhan lakukan tidak pernah benar dimatanya. Tanpa ia tahu dan berusaha mencari tahu, bahwa sikap itu bukan murni bersarang pada diri Xi Luhan.

Lalu kemudian, takdir menertawai kebodohannya melalui kejadian dimana dirinya melihat sang gadis dengan pita hitam di lengan tangannya. Gadis manja dan kekanakan seolah lenyap begitu saja, tergantikan oleh sosok gadis yang mempertahankan laju air matanya demi membangun kekuatan untuk orang disekitarnya. Sehun masih mampu bertahan, sebelum seorang lelaki memeluk gadisnya dengan bisikan-bisikan menguatkan yang entah apa itu, Sehun tidak mampu melihatnya. Hatinya menyesak dan tangannya terkepal kuat tanpa diperintah.

Sejak saat itu, kebencian Sehun perlahan sirna. Amarah yang selalu timbul saat menemukan Luhan disekitarnya memadam dengan sendirinya. Dan sejak saat itu pula, Sehun merasakan sesuatu yang lain dari biasanya. Perasaan membingungkan yang membuat Sehun ingin menarik tubuh lelaki itu, tidak ingin Luhan berada dipelukan lelaki lain selain dirinya.

Anggap saja Sehun egois. Menginginkan kembali sesuatu hal yang telah dibuangnya tanpa perasaan. Tapi apapun itu, Sehun tidak perduli. Yang jelas ia tidak akan menyia-nyiakan Luhan untuk kesekian kalinya.

TING! TONG!

Suara bel membangkitkan Sehun dari sofa malasnya. Mata elang itu nampak berbinar cerah dan langkah kakinya begitu ringan ketika membuka pintu apartment-nya.

"Sehun, aku dat-"

GREP!

Luhan mematung di tempat. Tangannya refleks membalas pelukan Sehun yang sangat mendadak untuknya. Ia baru saja datang. Seharusnya Sehun hanya perlu membukakan pintu untuknya dan membiarkannya masuk, bukan malah tiba-tiba memeluknya di depan pintu seperti ini. Jangan lupakan dengan detakan jantung Luhan yang berdebar cepat dengan mendadak pula.

"Sehun, lepas!"

Sehun menggeleng dalam pelukan eratnya.

"Sehun, biarkan aku masuk!" Luhan tidak menyerah.

"Tssk! Aku kira kau tidak jadi datang", ucap Sehun setelah terpaksa melepas pelukannya akibat dorongan tangan Luhan yang terus menerus. Si pria menggeser tubuh, membiarkan Luhan melepas flat shoes berwarna Tosca yang sebelumnya menempel indah dikakinya.

"Aku bukan tipe orang pengingkar janji.", balas Luhan lalu beranjak masuk, diikuti Sehun dibelakang setelah menutup pintu dengan senyum yang mengembang.

"Aku membawakan makanan untukmu. Makanlah dan minum obatmu setelah ini." Perhatian Luhan semakin membuat senyuman Sehun mengembang. Pria itu bahkan tidak masalah dengan Luhan yang memanggil namanya tanpa panggilan 'Oppa' seperti yang Luhan lakukan dulu, bahkan kini justru berperan sebagai seorang ibu yang menasehati putranya yang sedang sakit.

"Ternyata kekasihku memang penepat janji."

Detakan jantung Luhan bekerja tak terkendali. Kekasih? Apakah Sehun menganggap hubungan mereka sebagai pasangan kekasih? Luhan berdehem tanpa suara untuk mengembalikan fokusnya.

"Aku hanya membawa sandwich daging asap dan susu. Apa itu oke?"

"Oke."

Sehun menyetujui tanpa berfikir panjang. Mengetahui Luhan berada dilingkup matanya sudah membuat Sehun bahagia hingga tidak tahan untuk menyembunyikan senyumannya. Sungguh keajaiban bagi seorang pria yang tidak memiliki banyak waktu dengan perempuan seperti Sehun untuk mendapat kebahagiaan dengan seorang perempuan. Dulu, satu satunya hal yang membahagiakan bagi Sehun adalah menemukan sang ayah dan ibu tersenyum bangga dengan kerja kerasnya.

"Setelah ini jangan lupa meminum obatmu."

Sehun mengangguk mengerti. Menyelesaikan sesi sarapannya dengan sekotak susu dan segelas air untuk menemani obatnya. Beberapa butir obat yang sangat pahit namun tentu Sehun tidak mampu menolak perintah Luhan.

"Aku akan mencucinya nanti. Dan sekarang aku harus pergi.", ujar Luhan sembari membawa bekas peralatan makan Sehun di bak cuci piring.

Sehun jelas terkejut. Ia pikir Luhan akan tinggal lebih lama untuk menemani dan membunuh kesepiannya, tapi ternyata sebaliknya. "Jadi kau kemari hanya untuk mengantarkan sarapanku?", suaranya terdengar ketus.

Luhan, yang memang sejak awal sudah menduga Sehun akan protes dengan kedatangannya yang hanya sebentar, hanya menghela nafas. Jauh dilubuk hatinya ia juga ingin bersama dengan Sehun, menghabiskan waktu setelah hubungan mereka membaik dan sebelum Sehun sibuk dengan urusan kantornya esok hari. Tapi, Luhan juga memiliki urusan lain yang tidak bisa ia tinggalkan. Tugas kuliah sudah menanti dirinya yang satu minggu lebih mangkir dari kewajibannya sebagai seorang mahasiswi. Ia perlu bertemu dengan beberapa dosen untuk mengurus materi dan tugas kuliahnya yang sempat tertinggal.

"Aku harus ke kampus. Sudah satu minggu aku tidak masuk kuliah, itu sangat buruk.", ucap Luhan mencoba meyakinkan Sehun. Ia memposisikan tubuhnya di hadapan Sehun yang berdiri, menggigit bibirnya saat melihat Sehun nampak kecewa.

"Maafkan aku, hm?", pinta Luhan sungguh-sungguh. Tidak ingin membiarkan hubungannya dengan Sehun kembali buruk dalam waktu singkat.

Sehun memaku pandangannya pada raut bersalah Luhan. Otak cerdasnya berfikir cepat, mencoba menemukan pilihan yang tepat untuk dirinya. Haruskah dirinya marah atau justru sebaliknya, membiarkan Luhan pergi menyelesaikan urusannya.

Lama berfikir membuat Sehun tidak menyadari jika Luhan satu langkah lebih dekat dengannya. Tangan ranting gadis itu menyelip dan melingkar ragu di pinggang Sehun. Sehun terkesiap, terlebih saat Luhan menyandarkan kepalanya di dada Sehun dan pelukannya yang mengerat.

"Maafkan aku, Sehun. Aku tidak mungkin melupakan kewajibanku.", ucap Luhan lagi.

"Apa tidak boleh besok? Aku sungguh merindukanmu, Lu." Sehun membalas pelukan Luhan tidak kalah erat, melingkarkan lengan berototnya disekitar tubuh Luhan yang mungil dan sangat ingin dilindungi.

"Aku juga, Sehun. Aku juga ingin tinggal bersamamu seharian." Luhan lekas menggigit bibirnya lagi, merasa aneh dengan lidahnya yang tidak biasa mengungkapkan perasaannya secara gamblang. Tentu Sehun mendengar ucapan Luhan, dan itu mampu menorehkan senyuman di bibirnya.

"Baiklah."

Luhan lantas mendorong tubuh Sehun. "Apa?"

"Kau boleh pergi. Tapi aku yang akan mengantar dan menjemputmu nanti." Sehun mencuri satu kecupan di kening Luhan. "Nah, tunggu disini. Aku akan berganti baju."

Dan hampir satu menit Luhan tetap berdiri ditempatnya. Linglung. Tidak percaya jika Sehun dengan mudah membiarkannya pergi.

Tanpa Luhan tahu jika Sehun berubah pikiran sebab merasa bangga pada Luhan yang tidak melupakan kewajibannya hanya untuk bersenang-senang. Meski harus merelakan waktu berharga itu, Sehun tidak masalah. Toh, masih ada hari esok dan esoknya lagi untuk memandang Luhan sepuas hatinya.

"Kenapa masih disitu? Tidak jadi pergi?" Luhan terkesiap saat Sehun telah kembali dan dirinya masih terdiam di dapur. Segera Luhan menyambar tasnya dan melangkah mendahului Sehun.

"A-ayo pergi." Entah kenapa Luhan dilanda kegugupan mendadak. Kemungkinan terbeaar adalah ketika mata rusanya menangkap tubuh Oh Sehun yang sangat menawan dalam balutan kemeja biru laut yang dengan kancing rendah, lengannya digulung hingga siku dan dilengkapi celana jeans, sangat berbeda dari keseharian Sehun sebagai pemegang jabatan tertinggi di perusahaan yang lebih sering dengan setelan jas dan celana kain membosankan. Tampilannya yang terkesan santai membuat Luhan memerah saking terpesonanya.

"Lu," Sehun memanggil Luhan dengan nada santainya. Ia cukup tahu dengan kegugupan Luhan termasuk mengapa wajah cantik itu mendadak memerah.

Sedangkan sosok yang dipanggil tidak mengindahkan sedikitpun, sibuk dengan flat shoesnya dan sebisa mungkin tidak menoleh ke belakang untuk menghindari matanya bertemu dengan obyek indah yang menyaingi keindahan pemandangan laut favoritnya.

"Ayo, Sehun. Kita sudah ter-"

"Kita tidak akan berangkat sebelum kau membalikkan tubuhmu.", sela Sehun sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Menunggu Luhan berbalik sehingga ia mampu melihat wajah merah merona nan menggemaskan Luhan.

"K-kenapa?" Luhan memang berbalik namun tidak memandang Sehun tepat di mata elangnya. Matanya bergulir kemanapun selama tidak memandang Sehun yang berujung pada melemahnya titik syarafnya.

"Kenapa tidak menatapku? Apa penampilanku aneh?", tanya Sehun menyebabkan Luhan refleks menatap Sehun dan kerja jantungnya semakin tidak terkendali.

Ya Tuhan, Sehun benar-benar tampan!, hati Luhan bersorak. Luhan tidak percaya jika pria tampan inilah yang kemarin berlutut, menangis, dan mengemis cinta kepadanya dengan tulus dihadapannya.

Bukankah Luhan sangat beruntung?

"T-tidak. Kau hanya... sangat tampan." Kepalanya tertunduk malu.

Senyuman Sehun mengembang. Langkahnya otomatis mendekati si gadis dan mengangkat dagunya.

"Oh Tuhan, kau sangat menggemaskan!" Sehun tidak tahan untuk tidak melingkarkan lengannya di pinggang sempit Luhan. "Kau sungguh lucu saat malu. Dan terima kasih atas pujiannya."

Diam-diam Luhan ikut tersenyum. Hanya gadis tidak normal yang tidak akan jatuh pada ketampanan absolut milik Oh Sehun dan segala pesonanya. Tapi, mungkin hanya Luhan yang malu saat mengungkapkan ketampanan pria itu sebab sejak awal dirinya bukan tipe gadis yang dengan mudah membeberkan isi hatinya.

Matanya terpejam untuk merasakan kenyamanan tak terkira dari lengan Sehun di sekitar tubuhnya. Ia akan menambahkan pelukan Sehun sebagai salah satu hal favoritnya setelah ini.

"Astaga, aku sangat ingin mengurungmu di apartment, berdua denganku dan tidak mengizinkanmu pergi barang sedetikpun."

Luhan mendorong dada Sehun dan melotot lucu. "Ayo pergi. Kau membuatku terlambat."

"Kau sendiri yang membuat dirimu terlambat, Lu." Sehun terkekeh mengingat Luhan yang justru menikmati pelukannya hingga bermenit-menit berlalu.

"Sehun, aku ingin membeli kopi sebentar."

"Kopi tidak baik untuk kesehatanmu, Lu." Sehun –sok- bernasehat, meski beberapa hari belakangan kopi seolah menjadi temannya. Luhan yang tentunya masih ingat dengan penjelasan Jongin tentang kebiasaan Sehun selama ia pergi, hanya memutar bola matanya malas.

"Aku tahu. Tapi setidaknya aku tidak mengonsumsi berlebihan hingga pingsan di depan pemakaman.", sindir Luhan dan menyebabkan sosok lain dalam mobil menoleh cepat kearahnya. Dengan segera mobil itu berhenti di depan sebuah café, dimana Sehun sering menemukan Luhan pergi ke sana atau mungkin sudah menjadi pelanggan tetap disana.

"Cepatlah, hanya lima menit."

Kontan saja Luhan bersorak dalam hati. "Kau tidak ingin?", tanyanya.

"Tidak. Aku tidak mau pingsan saat menyetir." Luhan terkekeh pelan, lalu mengecup singkat pipi kanan Sehun. Dan seolah tak bisa tertinggal, pipinya kembali merona tanpa diperintah.

"Aku hanya bercanda."

Blam!

Sepergian Luhan, Sehun mengelus bekas kecupan Luhan di pipi kanannya. Tampaknya sudah ada kemajuan dengan hubungan keduanya, meski Luhan masih canggung dan malu untuk mengekspresikan perasaannya. Well, tidak masalah. Setidaknya Sehun memiliki satu kesempatan untuk tetap di samping Luhan dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Luhan memasuki pintu kaca itu dan tersenyum lega merasakan udara menyejukkan dari Air Conditioner yang sangat berjasa untuk mengurangi panasnya musim panas yang belum berakhir. Baru saja ia tersenyum, dua detik kemudian senyumnya kandas oleh betapa ramainya pengunjung café yang di datanginya. Ia tidak yakin bisa keluar dalam waktu lima menit jika antrian lumayan panjang. Tidak ada pilihan lain, Luhan berjalan ke arah kasir dan mengantri di baris kelima. Ada dua kasir, dan Luhan memilih barisan pertama yang dilayani oleh kasir sekaligus pemilik café ini.

"Dua moccacino, please?"

"Baik. Totalnya delapan ribu won, Nona.", ucapnya sopan namun tanpa mendongak menatap sang pembeli yang tengah menahan tawa.

"Terima kasih, Jin Sajangnim."

Barulah mata si penjaga kasir terbelalak lebar. "Luhan?!"

Sudah sepuluh menit Sehun menunggu dan belum ada tanda-tanda Luhan akan kembali di kursi sampingnya. Dari luar café itu memang terlihat ramai, tapi tidak akan menghabiskan waktu lama untuk membeli satu cup kopi kan?

Sedangkan di dalam café, Luhan tengah duduk di salah satu kursi yang kosong, bersama teman masa kecilnya yang Luhan lihat dari raut wajahnya, terlihat kaku terhadapnya.

Mungkin jika Sehun tahu apa yang menyebabkan Luhan lama di dalam, maka ia tak segan untuk menyusul Luhan dan membawanya pergi sehingga tidak lagi berbincang dengan seorang lelaki.

"Sudah lama aku tidak melihatmu. Bagaimana keadaanmu?", tanya Jin, sedikit ragu. Tentu ia tahu Luhan tidak baik-baik saja, setidaknya untuk beberapa minggu lalu. Masih Jin ingat bagaimana Luhan menangis sesenggukan dalam dekapannya saat kejadian buruk menghantam gadis itu dan keluarganya. Ia juga ingat bagaimana bersalahnya ia ketika tidak bisa menenangkan Luhan lagi setelah hari itu, dikarenakan oleh kesibukan mengurus cafe barunya yang baru diresmikan. Namun melihat Luhan yang sudah bersinar cerah seperti sekarang, sepertinya Jin tidak perlu menanyakannya lagi.

"Aku baik. Setidaknya aku harus bangkit, kan?" Luhan tersenyum kecil. Tidak ada gurat kesedihan yang tampak jelas di paras cantiknya. Kalaupun dalam hati rasa sedih itu masih ada, Luhan mampu menyembunyikan dengan baik.

"Syukurlah kalau memang begitu." Jin bernafas lega, memandang gadis dihadapannya yang asyik meminum salah satu cup moccacino-nya tanpa suara.

Jin tidak bisa membayangkan jika Luhan masih terpuruk dan parahnya tidak ingin menjalankan kehidupan normalnya lagi. Sudah cukup Jin melihat teman masa kecilnya itu menangis tersedu di depan makam orangtuanya waktu itu, ketika Jin ikut mengantarkan jenazah keduanya di pemakaman.

"Oh ya, selamat atas café barumu!", ujar Luhan menghancurkan keheningan.

"Terima kasih, Lu."

Luhan melebarkan senyumnya. Memperlihatkan binar mata rusanya yang cerah dan mampu mengalihkan perhatian para lelaki untuk menikmati paras cantiknya.

"Ehm!"

Suara deheman berhasil mengejutkan Luhan hingga ia refleks berdiri dari tempat duduknya. Matanya membola ketika menemukan Sehun berdiri tiga langkah di belakangnya lengkap dengan wajah muram tak bersahabat.

Sejak kapan ia ada disini?, Luhan bertanya dalam hati. Melihat tatapan tajam Sehun membuat ketakutan menjalar di tubuh Luhan hingga rasanya ia ingin menghilang begitu saja.

"Oh, hai. Selamat datang di café kami! Kau bisa memesan sesuatu disini." Jin berseru ramah di belakang Luhan, tidak gentar dengan tatapan setajam milik binatang buas yang beralih padanya. Sehun memberinya tatapan penuh peringatan, seolah mengatakan jika Luhan adalah miliknya dan tidak ada satupun lelaki lain yang boleh mendekati Luhannya.

"Terima kasih. Tapi aku tidak berminat."

"Sehun!"

Oh, tentu Jin tidak memasukkan kata-kata pedas itu dalam hatinya. Beruntung ia diberkati sebagai lelaki lembut yang tidak mudah tersulut emosi. "Tidak masalah. Kalau begitu, aku pergi dulu Luhan-ah!"

"Hn, selamat bekerja kembali."

Jin telah pergi, menyisakan dua sosok manusia yang baru kemarin berbaikan dan kini kembali memulai satu aksi perang dingin. Sebenarnya hanya satu pihak, sedangkan pihak lainnya hanya berjalan dengan kepala tertunduk.

"Tidak mau membela diri?" Si pria bertanya, dengan masih mempertahankan ketajaman matanya dalam menatap si gadis mungil yang menunduk.

"Kenapa? Aku tidak melakukan apapun. Jin temanku, dan aku sudah lama tidak bertemu dengannya." Tidak percaya Luhan mampu menjawab dengan nada tenang.

"Ya. Temanmu. Teman-pria-mu." Itulah kata terakhir yang Sehun ucapkan sebelum melangkah lebar-lebar berbalik dan keluar.

"Sehun!"

Dan diikuti Luhan yang mengejar dengan langkah mungilnya. Melupakan dua gelas kertas berisi moccacino yang hanya tersentuh beberapa mili.

"Baekhyun, bisakah kau mengantar pesanan di meja 27? Aku harus menemui Manager Han."

Baekhyun, gadis mungil itu lantas mengangguk saat salah satu rekan kerjanya meminta bantuan. Diletakkannya kain lap dan alat pembersih kacanya di tempat khusus penyimpanan, dan membawa nampan berisi pesanan menuju meja 27.

"Selamat menikmati, Nyonya.", ujarnya ramah sambil meletakkan pesanan di atas meja.

"Aku ingin berbicara denganmu, Nona Baekhyun."

Deg!

Jantung Baekhyun berdentum kencang ketika pendengarannya mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Suara wanita yang seolah menjadi kelemahannya. Dan dugaannya benar, saat perlahan kepalanya terangkat hingga membuatnya menatap sosok wanita itu.

Wanita yang melahirkan pria yang dicintainya.

"Duduklah."

Baekhyun menduduki kursi dihadapan wanita itu dengan ragu. Tangan bergetarnya saling menggenggam dan kepala menunduk, pasrah dengan apapun kata kata kasar dari mulut wanita itu yang akan ditujukan untuknya. Seperti sebelum sebelumnya.

"Aku tidak mengerti." Baekhyun semakin menguatkan genggamannya. "Apakah aku harus memuji keberanianmu atau malah semakin membencimu. Kau tidak mendengar satu-satunya permintaanku untukmu."

"Maaf, Nyonya." Hanya kata maaf yang bisa Baekhyun ucapkan. Ia harus menjunjung tinggi nilai kesopanan yang telah Ibunya ajarkan sejak kecil, meski hati kecilnya ingin menjelaskan dengan panjang lebar bahwa dirinya sampai kapanpun tidak akan menyerah bersama Chanyeol. Jika sang ibu adalah mentarinya, maka Chanyeol adalah mata air bagi Baekhyun. Tanpa sinar matahari dan air, manusia tidak akan mampu bertahan. Sama seperti Baekhyun yang tidak ingin kehilangan keduanya jika ia ingin tetap hidup. Walaupun setiap langkah yang diambilnya selalu dihiasi dengan duri penderitaan.

"Aku tidak butuh maafmu!" Si wanita paruh baya menaikkan nada suaranya. "Aku hanya menginginkan agar kau menjauhi putraku!"

"Maaf, tapi saya tidak bisa.", jawab Baekhyun tepat saat Nyonya Park menutup mulutnya. Ini adalah kekuatan terakhir Baekhyun. Ia harus bisa menepati janji untuk mampu bertahan bersama Chanyeol-nya, dengan atau tanpa restu orang tua Chanyeol. "Saya sangat mencintai putra Anda. Saya tidak ingin kehilangan Park Chanyeol seperti sebelum-sebelumnya. Saya sudah berjanji akan hal itu.", lanjutnya.

Nyonya Park terhenyak. Tidak percaya dengan keberanian gadis yang menurutnya tidak pantas bersanding dengan putra kebanggaannya itu. Byun Baekhyun tidak terlihat seperti yang Nyonya Park ketahui sebelumnya. Kemana perginya gadis yang nyaris menangis dan tubuh bergetar hebat itu?

"Baiklah jika itu memang pilihanmu. Tapi ingat, jangan menyalahkanku jika hidupmu akan berantakan sebentar lagi!"

"Anda tidak perlu berbuat demikian, Nyonya."

Ibu, maafkan Baekkie...

"Karena sebelum itu, hidup saya sudah lebih dulu berantakan. Dan satu-satunya hal yang membuat hidup saya semakin berantakan adalah kehilangan Chanyeol untuk kesekian kalinya. Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi, meski Anda mengancam saya bahkan membunuh saya."

Kemudian Baekhyun memejamkan matanya erat-erat. Menyebabkan cairan bening jatuh bebas di paras cantiknya yang memerah parah. Berulang kali hatinya meneriakkan hal yang sama. Ibu, maafkan Baekkie. Baekkie harus melawan keinginan orangtua. Baekkie tidak bisa memenuhinya permintaannya, Ibu!

"Sudah cukup, Ibu!"

Mata puppy Baekhyun otomatis terbuka lebar hingga pandangannya beradu dengan sosok tinggi tegap disampingnya. Refleks gadis mungil itu berdiri dan memandang Chanyeol dan Nyonya Park secara bergantian.

"Chanyeol…" Baekhyun menggumam lirih. Berusaha memberi isyarat pada Chanyeol untuk tidak melakukan sesuatu yang bodoh kepada ibunya. Chanyeol nampak kacau di mata Baekhyun dan tentu kacau pula emosinya. Beberapa orang mulai melihat ke arah mereka, dan Baekhyun mencoba meredam emosi Chanyeol dengan menyentuh lengan pria itu.

"Lepaskan, Baek. Kali ini jangan melarangku lagi.", ucap Chanyeol tanpa repot memandang Baekhyun. Satu tujuannya adalah agar ia tidak luluh dengan kesedihan di mata puppy itu dan berujung pada kegagalannya dalam berbicara serius dengan sang Ibu.

Baekhyun terisak dan menggelengkan kepalanya. Tidak! Chanyeol tidak boleh membenci Ibunya. Sebesar apapun kekecewaan Chanyeol terhadap Ibunya, tetap saja Baekhyun tidak menginginkan adanya pertengkaran. Pertengkaran yang berujung pada hilangnya keharmonisan Ibu dan anaknya.

Baekhyun tentu tidak ingin penderitaannya dialami oleh Chanyeol pula.

"Bee…" Suara Chanyeol melunak, namun Baekhyun justru beringsut masuk ke pelukan Chanyeol. Memeluk pria itu seerat mungkin demi meredam emosinya.

Satu-satunya sosok yang masih terdiam adalah Nyonya Park. Wanita itu lagi-lagi terhenyak dengan reaksi Baekhyun yang diluar ekspektasinya. Ia kira Baekhyun akan menangis ketakutan, ataupun berlutut agar Nyonya Park tidak meluruskan ancamannya. Tapi, apa yang terjadi? Baekhyun justru melawannya tanpa rasa takut dan kini berusaha meredam emosi putranya agar tidak meledak.

"Ibu lihat, kan?" Chanyeol kembali berucap dan semakin mengerat pula pelukan Baekhyun ditubuhnya. "Ibu telah membuat gadis yang kucintai ini menangis ketakutan. Bukan, bukan takut karena Ibu akan membuat hidupnya berantakan, tapi takut jikalau aku akan membenci Ibu setelah ini."

"Aku tidak tahu ini keberuntungan atau bukan. Yang pasti, secara tidak sengaja menemukan Ibu kembali memaksa Baekhyun untuk berpisah denganku, sudah cukup memenuhi kekecewaanku terhadap Ibu."

"Aku mencintai Baekhyun, Ibu. Sejak pertama kali, sejak aku melihat Baekhyun sebagai gadis yang berbeda dari gadis lainnya. Gadis yang masih tetap bekerja meski aku diam-diam menyelipkan satu credit card-ku di dalam dompetnya. Gadis yang selalu marah saat aku membelikan pakaian baru untuknya. Gadis yang tidak menganggapku sebagai Direktur Perusahaan ternama, melainkan menganggapku sebagai Park Chanyeol, pria bodoh yang terus mengejar cintanya tanpa lelah."

"Hiks…" Chanyeol merasakan kemeja bagian depannya basah.

"Jika Ibu fikir Baekhyun tidak memiliki apapun, maka Ibu salah besar. Baekhyun memiliki kelembutan dan kebaikan hati yang tidak dimiliki oleh gadis-gadis pilihan Ibu di luar sana. Dia sosok yang sederhana dan apa adanya, tidak memakai topeng untuk menutupi segala kekurangannya ataupun merasa malu dengan itu semua. Itulah mengapa aku tetap memilih Baekhyun dalam apapun kondisinya. Mungkin Baekhyun bukan dari keluarga kaya, tapi, rasa cinta bukan berdasar dari berapa saham dan uang yang keluarganya miliki. Ibu harus ingat itu."

Prok! Prok! Prok!

Chanyeol tidak tahu berapa pasang mata yang mengawasi, namun saat mendengar sorakan dan tepuk tangan menggema disekitarnya, Chanyeol menghembuskan nafas dalam. Final. Chanyeol sudah mengatakan semuanya, apapun yang mungkin bisa menggerakan hati sang Ibu untuk tidak lagi mengurusi masalah percintaannya ataupun melarang hubungannya lagi.

Sementara itu Nyonya Park tidak mampu berkata-kata. Pita suaranya tidak berfungsi dan tubuhnya sulit digerakkan. Tidak menyangka jika putranya yang biasanya tidak pernah berbicara sepanjang itu kepadanya, kini berbalik arah hanya karena ingin mempertahankan hubungan percintaannya.

"Dan, satu lagi, aku tidak mungkin meninggalkan Baekhyun bahkan jika Ibu mengancamku untuk keluar dari anggota keluarga Park."

"Tutup mulutmu, Chanyeol! Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu pada Ibu? Dan bagaimana mungkin kau keluar dari anggota keluarga Park sementara Ayah dan Ibu sangat bergantung padamu!"

"Tapi Ayah tidak mempermasalahkan hubunganku dengan Baekhyun. Justru disini Ibu yang gencar memutuskan hubungan kami. Ada apa? Apakah Baekhyun pernah melakukan kesalahan pada Ibu?" Chanyeol menyela dengan nada yang dibuat sesantai mungkin.

"Cukup! Baiklah, jika ini memang keinginanmu. Terserah! Ibu tidak akan mencampuri lagi. Ibu anggap kau sudah cukup dewasa untuk memilih mana perempuan yang pantas untukmu!"

Setelah itu, Nyonya Park melenggang pergi. Menyisakan satu pasangan yang masih saling berpelukan dan puluhan pasang mata lain yang mengawasi. Chanyeol mengurai lingkaran tangan Baekhyun dengan lembut.

"Ayo kita pergi."

Chanyeol segera menarik tangan Baekhyun sebelum gadis itu sempat bertanya kemana Chanyeol akan membawanya. Meninggalkan puluhan pasang mata yang terharu dengan perjuangan pasangan kekasih itu.

Chanyeol membawa Baekhyun masuk ke dalam mobilnya, sementara ia menduduki kursi kemudi.

"Hei, jangan menangis lagi.", ucap Chanyeol lembut, selembut usapannya di surai kehitaman Baekhyun.

"Apakah sudah berakhir?", tanya Baekhyun dengan suara sumbangnya.

Chanyeol tersenyum dan membenahi rambut Baekhyun yang berantakan. "Kau ingin kita berakhir?"

Gelengan lemah dan bibir mencebik menjadi jawaban Baekhyun. Tidak, tentu ia tidak menginginkan dirinya dan Chanyeol berakhir begitu saja.

"Kalau begitu, kita masih bersama." Chanyeol menarik tubuh Baekhyun dan membawanya dalam rengkuhannya. "Selalu bersama."

Saling tersenyum penuh kelegaan.

Ya, semoga setelah ini benar-benar berakhir penderitaannya.

"Sehun."

Langkah kaki Luhan bersusah payah mengikuti langkah lebar Sehun. Tungkai kakinya yang tidak terlalu panjang cukup menyulitkannya dalam menyusul Sehun.

"Sehun..." Sementara itu bibirnya tidak berhenti menggumamkan kata yang sama. Sehun. Berharap pria itu akan berbalik dan tidak meninggalkannya di belakang.

"Seh-"

Bruk!

"Ugh..."

"Apa?"

"Huh?", tanya Luhan linglung. Kepalanya tidak sengaja menubruk punggung tegap Sehun saat pria itu menghentikan langkahnya tiba-tiba.

"Kenapa terus memanggil namaku?"

Luhan memutar bola matanya berfikir. Ya, tadi dirinya memang menggumamkan nama Sehun untuk memanggil pria itu agar berhenti. Dan sekarang Sehun sudah berhenti, malah Luhan bingung harus mengatakan apa.

"Aku..."

Sebelah alis Sehun terangkat. "Kau?"

"Ingin... ingin minta maaf.", lanjutnya dengan terbata-bata dan kepala menunduk.

"Untuk?"

"Bertemu dengan lelaki lain saat kau menungguku."

"Kau bilang dia temanmu?"

"Tapi Oh Sehun tetap tidak menyukainya."

Sehun melipat bibirnya demi menghalau senyuman tampil di wajah datarnya. "Oh Sehun akan memberimu maaf jika kau mau melakukan sesuatu."

"Apa itu?"

Sehun menyelipkan satu seringaian dalam wajah tampannya. "Cium aku."

"A-apa?" Luhan otomatis mendongak dan wajahnya mulai diselimuti titik-titik merah.

"Cium Oh Sehun. Sekarang. Dan kau mendapatkan maafmu detik itu juga."

"D-disini?" Si gadis menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, sedikit ragu dengan permintaan pria dihadapannya.

"Ya. Singkat saja, setelah itu-"

Cup!

"S-sudah."

Wajah Luhan memerah sempurna hingga ke telinga. Sangat cantik.

Berbeda dengan Sehun yang mengerjap tidak percaya. Sesingkat itu? Bahkan ia belum sempat merasakan bibir cherry mungil itu. "Ulangi."

"Apa?"

"Aku belum merasakannya. Itu terlalu singkat."

"Sehun, ini di tempat umum."

"Aku tidak perduli."

Sepertinya Luhan perlu bersabar. Ia menghela nafas untuk mengumpulkan keberaniannya dan menyembunyikan detakan jantungnya yang tidak normal.

Perlahan kakinya berjinjit dan menyangga tubuhnya dengan meletakkan tangannya di bahu Sehun.

Cup!

Sedetik bibirnya mendarat di bibir Sehun, maka detik selanjutnya Sehun mendekap tubuh Luhan, melarangnya untuk menjauh. Sehun mengambil tugas Luhan dan memberinya ciuman manis untuk bibir cherry itu. Deru nafas Luhan terasa di wajahnya, membuat keberanian Sehun semakin tinggi untuk melumat bibir mungil itu tak kalah manisnya. Luhan hanya menerima perlakuan bibir Sehun di atas bibirnya. Membalasnya sesekali layaknya seorang gadis yang baru mengetahui rasanya berciuman. Demi Tuhan, ini adalah ciuman pertamanya, tidak menyangka jika Sehunlah yang terpilih untuk memilikinya.

Satu menit kemudian, ciuman manis dan memabukkan itu terlepas. Menyisakan nafas terengah dan bibir serta wajah memerah Luhan yang tampak menggemaskan seperti biasa.

"Hah, ini pertama kalinya kita berciuman, dan di depan umum pula.", ujar Sehun. Sehun tidak bisa menahan diri untuk mencubit gemas pipi Luhan. "Baiklah, maaf diterima."

Luhan perlu mengerjapkan matanya berulang kali untuk mengembalikan kesadarannya. Bahkan saat Sehun menggenggam tangannya untuk kembali ke mobil, Luhan masih terdiam kaku. Tidak tahu harus berbuat apa untuk menutupi kegugupannya.

Dilihat oleh pengguna jalan sih tidak terlalu dipusingkan oleh Luhan, namun jika berhadapan dengan Sehun, Luhan tidak tahu harus menyembunyikan wajahnya dimana. Sangat memalukan.

...

Katakanlah Sehun seperti orang bodoh. Senyum bahagia tidak juga luntur di paras tampannya meski sesuatu yang manis tadi sudah berakhir dan ia dalam perjalanan pulangnya.

Ting!

"Ini dia orangnya!"

Sehun tersentak kaget begitu memasuki apartmennya dan menemukan dua manusia berada di sana. Jongin dan sekretaris Lee duduk santai di ruang tengah seolah Sehun adalah seorang tamu disini.

"Apa yang kalian lakukan disini?", tanya Sehun sebal. Diletakannya kunci mobil di atas meja dan memposisikan tubuhnya di sofa depan dua orang itu.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa yang kau lakukan diluar? Aku tidak memberimu libur untuk berkeliaran tanpa tujuan.", tanya Jongin balik.

"Aku tidak berkeliaran, aku hanya mengantar Luhan ke kampusnya.", sahut Sehun, tidak terima dengan pendapat Jongin tentang alasannya tidak berada di apartment di masa istirahatnya.

Jongin berdecak malas. Tetap saja kepergian Sehun tanpa bisa dihubungi harus membuat sekretaris Lee kerepotan mencari si atasan hingga berinisiatif datang langsung ke apartment-nya. Untung saja Jongin datang disaat yang tepat, ketika menemukan Sekretaris Lee berdiri di depan pintu apartment Sehun dan belum juga dibuka oleh penghuninya. Dan untung pula, Jongin tahu password apartment Sehun hingga ia dan Sekretaris Lee tidak perlu menunggu diluar seperti pengemis.

Namun detik berikutnya, pria yang berprofesi sebagai dokter itu tersenyum penuh arti. Ia berdiri dan menghampiri Sehun hingga membuat Sehun mengerutkan keningnya.

"Kurasa 'penyakit parah'mu sudah sembuh. Apa yang kau lakukan hingga Luhan mau kembali padamu?"

Kening Sehun kembali ke semula tergantikan oleh senyum misterius yang sangat jarang hadir di wajah tampannya. Jangankan orang lain, Jongin yang selaku sahabat Sehun, sangat jarang menemukan senyuman dan air muka bahagia disana. Tapi lihatlah sekarang?

"Aku curiga kau terkena gangguan jiwa,"

Dan terdengar suara Sekretaris Lee yang terkikik di tempatnya. Sangat tidak sopan sebenarnya, namun ucapan ringan Jongin tidak bisa membuatnya diam saja.

"Maksudmu? Kau mau gajimu kupotong?"

Tidak hanya Jongin yang terkejut, sekretaris Lee juga sama pucatnya. Tapi Jongin hanya membalas dengan kekehan dan menepuk singkat bahu Sehun.

"Well, aku senang kondisimu benar-benar pulih. Kalau saja aku tahu dari awal jika Luhan sangat berpengaruh padamu, mungkin aku tidak akan membiarkanmu berbicara menyakitkan tentang Luhan."

Jongin masih ingat beberapa waktu lalu ketika ia mengunjungi Sehun di kantornya dan Sehun berbicara tentang tunangannya dengan nada kebencian. Dan tentunya Jongin juga ingat bagaimana bersalahnya ia saat melihat Luhan mendengar percakapannya dengan Sehun, lengkap dengan kemarahannya.

"Semuanya sudah berakhir. Aku dan Luhan sepakat melupakan masa lalu kami. Termasuk kesalahanku yang sebenarnya tidak pantas untuk dimaafkan."

Jongin menghela nafas dan meraih tas kerjanya. "Luhan memang gadis paling baik kedua yang pernah kutemui selain Kyungsoo. Jangan pernah menyia-nyiakannya lagi karena aku tidak ingin melihatmu sekarat seperti kemarin. Dan, aku harus pergi ke Rumah Sakit sekarang."

"Hm. Jadi kau kemari hanya untuk melihat kondisiku?"

"Ya. Meskipun alasan kuatnya adalah ingin tahu bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Luhan. Kau tahu, memikirkanmu dan Luhan membuatku merasa seperti berselingkuh di belakang Kyungsoo."

Sehun tertawa kecil dan ikut berdiri. "Terima kasih, bro! Aku tidak tahu bagaimana jadinya diriku tanpa bantuanmu."

"Ck! Aku tahu. Well, selamat membicarakan bisnis yang tidak kumengerti bersama Sekretarismu." Jongin berbalik ke Sekretaris Lee yang sempat diacuhkannya. "Aku pergi dulu, Lee Joon Hyung."

Jongin pergi beberapa detik kemudian, menyisakan atasan dan bawahan yang sama-sama berekspresi serius. Sehun tahu kedatangan Sekretarisnya bukan hanya untuk menyelesaikan masalah perusahaan, tetapi mungkin ada satu hal lain yang sejak semalam ditunggu oleh Sehun.

"Jadi?"

"Saya sudah mendapatkan apa yang Presdir cari."

Sehun menyeringai. Ternyata dugaannya benar. "Sekarang, jelaskan padaku."

Sekretaris Lee mengangguk dan membuka map berisi data yang diperolehnya.

"Namanya adalah Byun Seung Ho, suami dari adik Mendiang Tuan Xi Li Qiang yaitu Nyonya Xi Li Juan. Beliau memiliki seorang putra dan seorang putri, hasil dari pernikahannya pertamanya yang gagal sebelum menikah dengan Nyonya Xi Li Juan dan putranya juga ikut dengannya. Pekerjaan lamanya masih belum jelas, dan banyak yang mengatakan jika dulu dirinya adalah seorang penjudi di daerah asalnya, Incheon."

'Setidaknya, tidak adakah orang lain selain Paman Byun? Dia bukan orang baik-baik, aku yakin paman.'

Seketika Sehun mengingat ucapan Luhan tadi malam. Tapi, darimana Luhan tahu jika suami Bibinya itu bukan orang baik-baik?

"Putranya, Byun Taehyung, juga sering terlibat masalah dan berulang kali menjalani pemeriksaan di kepolisian."

"Lalu putrinya?"

"Saya hanya mendapat informasi jika putri Tuan Byun ikut dengan Ibunya setelah orangtuanya bercerai. Saya belum mengetahui siapa nama dan dimana gadis itu berada."

"Oke, lanjutkan."

"Setelah menikah dengan Nyonya Xi Li Juan, Tuan Byun ikut mengurus restoran istrinya dan menjabat sebagai pemilik disana. Namun hanya beberapa bulan, restoran itu kembali ke tangan istrinya sementara beliau mulai bekerja di Xiao Group menjadi Wakil Manager Pemasaran."

"Wakil Manager Pemasaran? Secepat itu?" Sehun tidak kuasa berkomentar. Sungguh, pertama mendengar profil Paman kekasihnya itu sudah membuat Sehun mengendus sesuatu yang aneh darinya.

"Ya, Presdir. Itulah yang menjadi pertanyaan beberapa pegawai Xiao Group, dan rumor yang beredar adalah karena adanya campur tangan Nyonya Li Juan yang meminta sang kakak atau Tuan Li Qiang yang merupakan pemilik perusahaan untuk memberikan jabatan itu."

Drrt drrt…

Getaran ponsel Sehun menyebabkan si pemilik kehilangan konsentrasinya. Disambarnya si ponsel dari atas meja dan melihat siapa pengirim pesannya.

Sehun, kau dimana sekarang?

Kening Sehun berkerut tatkala membaca pesan dari Chanyeol itu. Kenapa Chanyeol mengirim pesan sementara pria itu tidak suka mengetik pesan dan lebih memilih menelepon secara langsung? Belum selesai keterkejutan Sehun, ponselnya kembali bergetar dan menampilkan nama yang sama.

Jawab pesanku, bodoh! Aku tidak bisa menelepon karena takut membangunkan Baekhyun. Aku ingin meminta bantuanmu.

"Presdir Oh.", panggil Sekretaris Lee dengan hati-hati.

"Hm?" Sehun menjawab dengan gumaman sementara ia mengetik sesuatu pada Chanyeol.

"Saya baru mendapat informasi tentang nama putrinya. Namanya adalah Byun Baekhyun dan sekarang tinggal di Seoul untuk meneruskan kuliahnya."

Gerakan jemari Sehun refleks berhenti. Tatapannya menajam pada sang sekretaris yang bingung dengan perubahan ekspresi atasannya itu.

"Siapa namanya?", tanya Sehun.

"Byun Baekhyun, Presdir."

Sehun dengan cepat menghapus pesannya dan menelepon Chanyeol untuk memastikan dugaannya tidak salah.

'Hallo? Kubilang jangan telepon, Baekhyun-'

"Chanyeol, siapa nama marga kekasihmu?"

'Kenapa? Kenapa kau bertanya hal itu?'

"Cepatlah, atau aku tidak akan membantumu."

'Baekhyun. Byun Baekhyun."

_TBC_

Bye! *run*