Delapan jam lebih melakukan perjalanan udara yang sungguh melelahkan. Membuat gadis bersurai indigo itu langsung terlelap ketika dihadapannya disuguhkan ranjang besar dan tentunya dengan springbed yang empuk.
Namun semua itu tak bertahan lama ketika lagi-lagi alam bawah sadarnya membawanya ke dalam ilusi yang membuat tidurnya tak nyenyak. Hinata terjaga dengan nafas tersengal dan keringat yang membasahi dahinya.
Belum ada duapuluh empat jam ia berpisah dengan sosok yang baru saja menghampiri mimpinya. Namun kehadirannya barusan benar-benar membuat Hinata kembali menumpahkan air matanya.
"Sasuke-kun… gomen ne…" lirihnya.
.
.
.
Pemuda pirang itu megemudikan mobilnya dengan sedikit kalap. Bagaimana tidak, ketika pagi-pagi yang seharusnya diisi dengan semangat dan senyuman bahagia, malah digantikan dengan kabar yang membuat otaknya seakan kosong melompong dan jiwanya entah melayang kemana.
Naruto tak habis pikir kenapa sahabat yang sangat disayanginya selalu mendapatkan hal yang kurang menyenangkan. Baru saja Sasuke mendapatkan sedikit lagi nyawa kehidupan setelah kehadiran seorang gadis yang perlahan-lahan menghangatkan hatinya, tiba-tiba gadis itu lenyap dengan cara yang tentu saja kembali menggoreskan luka baru untuk sahabatnya.
Betapa Naruto sangat marah kepada kehidupan yang seakan-akan tak pernah berlaku adil pada sahabatnya itu. Dengan tatapan tajam yang seakan mampu mengupas aspal dihadapannya, Naruto terus memacu mobil sport orange-nya dengan kecepatan tinggi.
"Cih sial!"
.
.
.
Beberapa botol berserakan dan barang-barang lainnya berserakan di lantai pada sebuah ruangan yang biasanya terlihat rapi. Sang pemilik ruangan seakan mengabaikan semua kekacauan yang sungguh membuat mata siapapun yang melihatnya akan sedikit menyipit.
Tidak ada yang berani masuk untuk sekedar membereskan ruangan tersebut. Tidak, disaat sang pemilik kamar dalam kondisi yang tak boleh didekati. Kalau masih nekat, maka jangan menyesal ketika keluar, wajah dan sekujur tubuh harus direparasi.
Sang pelayan yang selalu setia menemani tuannya, terus berdiri di balik pintu yang tertutup rapat. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali menunggu bantuan datang. Ebisu terus berdiri tenang seakan pikirannya tak berkecamuk mendengar berkali-kali sesuatu yang dilempar dan akhirnya pecah.
Sedangkan Matsuri terus menangis. Sejujurnya ia merasa bersalah karena dirinyalah tuan mudanya kembali menderita. Seandainya ia tak membantu Hinata untuk keluar dari rumah ini, mungkin sekarang tuan mudanya masih baik-baik saja.
Tapi disisi lain ia juga tak tega kalau harus membiarkan Hinata jauh dari keluarganya. Ia yakin, Hinata pasti akan kembali setelah melihat kakaknya baik-baik saja. Pasti.
Dikoridor rumah yang begitu sepi, kedua orang tersebut mendengar derap langkah kaki yang mendekat ke arah mereka. Seketika Matsuri berbalik dan menghapus air matanya. Ia merasa begitu lega saat orang yang ditunggu-tunggu datang.
"Bagaimana keadaan Sasuke?" tanya Naruto dengan nafas tersengal. Kemeja kantornya yang biasanya rapi, kini terlihat acak-acakan.
"Tua muda tidak mau keluar kamar setelah beberapa jam lalu. Dan dia terus melemparkan apapun yang ada di dalam kamarnya," jawab Ebisu dengan suara beratnya.
"Kumohon… tolong tuan muda Sasuke…" timpal Matsuri dengan terisak.
Naruto hanya melempar pandangannya pada dua orang tersebut sebelum mata birunya bergulir menatap pintu ganda bercat putih tepat dihadapannya. Perlahan, tangan tan-nya menggenggam knop pintu dan sebelum mendorongnya, ada tangan besar yang menyodorkan sebuah kunci.
"Kamarnya dikunci dari dalam, dan kebetulan saya punya duplikatnya," terang Ebisu.
Naruto hanya diam sebelum meraih kunci dan memasukannya ke lubang yang ada di knop pintu tersebut. Terdengar bunyi 'clek' pelan saat Naruto memutar kuncinya. Setelah menarik nafas panjang dan menghembuskannya, perlahan Naruto mendorong pintu besar itu.
Begitu pelan sampai tidak ada suara yang ditimbulkan. Seketika sapphire indahnya disuguhi pemandangan yang tak mengenakan. Kamar yang biasanya rapi dan begitu lengang, tiba-tia terasa begitu menyesakkan dengan pecahan-pecahan kaca dab barang-barang yang berserakan.
Ia mengedarkan pandangannya di kamar itu. Sapphire-nya seketika meredup ketika menemukan sosok bersurai hitam itu terduduk dibawah ranjangnya dengan keadaan yang jauh dari kata baik.
"Sasuke…" panggil Naruto pelan. Ia tidak peduli kalau tiba-tiba saja sahabatnya ini mengamuk dan melukainya. Baginya, asal bisa sedikit mengurangi penderitaan sahabatnya, Naruto rela kalau harus menginap beberapa hari di rumah sakit.
"Untuk apa kau kemari Dobe…" jawab Sasuke datar. Naruto sungguh tak menyangka Sasuke tidak membentak dan memarahinya karena memasuki kamarnya tanpa permisi seperti yang sudah-sudah.
"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto memastikan.
Ia memandang Sasuke dengan tatapan yang sulit diartikan. Dihadapannya, Sasuke terlihat kacau dengan pandangan mata yang kosong. Namun yang membuatnya heran dan bingung adalah, Sasuke masih bisa mengeluarkan nada bicaranya yang terlalu tenang seolah dia baik-baik saja tidak sesuai dengan keadaan fisiknya.
"Ya…aku baik-baik saja," jawab Sasuke dengan nada yang sama.
"Kau…tidak-"
"Aku tidak merasa kehilangan Hinata. Aku sadar, bahwa aku bukanlah pria baik-baik yang pantas mendapatkan gadis sepertinya. Aku tidak menyalahkannya kalau memang dia ingin pergi dariku."
Ucapan Sasuke yang jauh dari perkiraan Naruto sungguh membuat pemuda itu tak tahu harus berkomentar apa.
"Tidak, Sasuke… kau pantas mendapatkannya," ujar Naruto pelan.
"Tidak."
"Kau pantas! Bagaimana kalau Hinata tertangkap Orochimaru? Jangan berusaha membodohiku! Aku tahu dalam hatimu kau merasa kehilangan dia kan?" entah kenapa suara Naruto meninggi.
Ia benar-benar merasa tak tahan melihat topeng ketidakpedulian yang Sasuke pasang. Perlahan, Sasuke mendongak menatap sahabatnya yang baru saja meneriakinya. Namun tak ada tatapan tajam yang biasanya ia berikan pada siapapun yang berani bersikap kurang ajar padanya –tidak terkecuali untuk Naruto.
Sasuke hanya menatap datar Naruto yang masih terlihat menahan amarah. Sungguh tak ada reaksi yang diharapkan Naruto. Tidak ada Sasuke yang akan menatapnya tajam bahkan tak segan menghajarnya apabila ia bertindak kurang ajar.
Ada yang aneh dengan sahabatnya ini. Tidak ada Sasuke yang meledak-ledak. Naruto menatap sekelilingnya yang penuh dengan pecahan botol dan perabot lainnya. Apakah Sasuke sudah lelah setelah ia membanting semua barang-barangnya? Pikir Naruto.
Sedangkan Sasuke hanya diam, tak meanggapi ucapan sahabatnya barusan. Memang benar apa yang diucapkan Naruto. Ia sungguh kehilangan Hinata sampai tak tahu harus bersikap seperti apa. Jiwanya seakan hilang bersama perginya gadis yang sudah menghangatkan hatinya itu.
Begitu hancur hingga ia tak bisa membedakan lagi mana darah dan mana air mata. Sasuke seperti tak bisa merasakan hatinya sendiri akibat rasa sakit yang bertumpuk. Begitu seringnya ia harus kehilangan orang-orang yang dicintainya, membuatnya menganggap dirinya tak pantas dicintai siapapun.
Ia tahu, Hinata tidak tertangkap Orochimaru sehingga membuatnya sedikit lega. Kalau begitu kemana perginya gadis itu? Hinata seakan tertelan bumi. Hanya beberapa saat setelah kepergiannya, Sasuke mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari keberadaan gadis itu, namun hasilnya nihil.
Sekarang Sasuke tahu bahwa gadis itu pergi memang karena keinginanya sendiri. Hinata tak mau hidup dengannya yang terselubung sepi dan hidupnya yang penuh dengan masa lalu suram. Hinata tak mencintainya seperti dirinya yang mencintai gadis itu.
Entah kenapa otak Sasuke yang biasanya jenius tiba-tiba menjadi bebal. Kenapa ia menyimpulkan sesuatu tentang Hinata sedangkal itu? Tak tahukah kau bahwa Hinata begitu tersiksa karena harus meninggalkanmu Uchiha Sasuke?
.
.
.
Gadis itu terlihat begitu pucat. Entah karena ia yang kelelahan atau karena semalam tak bisa memejamkan mata barang sejenak. Entahlah, yang jelas Hinata terlihat tidak baik saat kaki mungilnya menjejakan langkahnya di koridor rumah sakit.
Ia sudah tak sabar ingin melihat keadaan kakaknya yang masih koma. Sedangkan Kakashi berjalan tenang disamping Hinata menjadi penunjuk jalan. Hatinya tiba-tiba berdenyut sakit ketika langkahnya mulai mendekati kamar rawat kakaknya. Hinata tak bisa membayangkan keadaan kakak satu-satunya yang sangat ia sayangi.
Setelah ia memasuki ruangan serba putih itu, Hinata perlahan menggulirkan amethyst indahnya pada sosok yang terbaring lemah di atas ranjang. Ya, kakaknya Hyuuga Neji, kakak yang sudah begitu lama menghilang dan begitu ia rindukan.
Kini yang nampak di mata Hinata adalah kakaknya yang terlihat tertidur dengan berbagai peralatan yang membantu hidupnya. Perlahan, air mata kembali mengalir seakan tak ada habisnya setelah semalaman membanjiri pipi putihnya.
"Neji-Nii…? ucap Hinata pelan. Tangan mungilnya menggenggam tangan Neji yang dingin. Hinata terus terisak tak sanggup menahan kesedihannya ketika melihat orang yang disayanginya terbaring lemah.
"B-bangun… aku disini…" Hinata tak pernah menyangka bahwa kakak yang selalu terlihat begitu kuat akan mengalami hal seperti ini. " bangunlah… apakah Neji-Nii tak merindukanku?" imbuhnya lagi.
Tangan mungilnya mengelus pelan wajah pucat Neji yang begitu tirus. Namun tak ada reaksi dari Neji seakan ia sedang mengarungi mimpi indah yang membuatnya enggan terbangun. Sudah beberapa bulan kakaknya koma.
Hinata bersyukur setidaknya kakaknya tidak meregang nyawa karena peluru yang bersarang di dadanya. Setidaknya, Neji masih punya harapan untuk bangun lagi walaupun entah kapan. Dan sampai kapanpun, Hinata akan tetap menunggu kakaknya sampai benar-benar membuka kembali matanya.
"Lebih baik nona kembali beristirahat, tuan muda biar saya yang menemani," suara berat Kakashi mengintrupsi Hinata yang sedang larut dalam kesedihan tak terperi.
"Aku sudah cukup beristirahat, sekarang aku ingin bersama dengan Neji-Nii. Kau saja yang berstirahat Kakashi-san, dari kemarin kau terus menjagaku," jawab Hinata pelan tanpa menatap lawan bicaranya.
"Tapi anda terlihat tidak baik nona…" Kakashi terus berusaha membujuk Hinata.
Kakashi tahu ada sesuatu yang tidak baik dengan nonanya itu. Ia terlihat begitu pucat dan terlihat lemas tak bertenaga. Apakah karena perjalanan jauh yang kemarin mereka tempuh? Atau beban di hati gadis itu yang sekan tak mampu ia tanggung? Entahlah Kakashi belum bisa mengambil kesimpulan apapun karena Hinata yang terus menolak setiap kali ia menyuruhnya untuk memeriksakan kondisinya ke dokter.
"Aku baik-baik saja Kakashi-san…sungguh," walau terlihat aneh, Hinata berusaha memperlihatkan senyumannya. Karena tak bisa lagi membujuk nonanya yang ternyata sama keras kepalanya dengan sang Ayah –bosnya- akhirnya Kakashi menyerah. Setelah sedikit membungkuk, pria bertubuh tegap itu akhirnya keluar ruangan meninggalkan dua Hyuuga itu.
.
.
.
Sudah beberapa minggu Hinata berada di Negara asing yang begitu jauh dari Jepang. Swiss, sebuah Negara di benua Eropa. Dan sampai sekarang pun tak ada tanda-tanda kakaknya akan terbangun. Namun Hinata tak menyerah karena ia yakin kakaknya pasti kuat dan mampu melewati masa sulit ini.
Apartemen yang Hinata tinggali memang tidak jauh dari rumah sakit agar memudahkannya setiap hari mengunjungi kakaknya. Setiap hari Hinata selalu duduk berjam-jam disamping ranjang sang kakak sambil menceritakan kisah menyenangkan yang pernah mereka alami bersama. Sampai kadang gadis itu lupa waktu dan lupa makan.
Kadang senyum manis terungging di bibir mungilnya yang terlihat pucat setiap kali Hinata menceritakan kisah lucu ataupun konyol. Gadis itu benar-benar tak menghiraukan kondisi tubuhnya yang sebenarnya makin melemah.
Hal itu membuat Kakashi tak bisa meninggalkan Hinata terlalu lama. Ia selalu membawakan Hinata makanan atau menyuruhnya beristirahat setiap kali nonanya enggan untuk meninggalkan sang kakak. Setiap beberapa jam sekali, Kakashi selalu mengecek Hinata di rumah sakit seperti saat ini.
Ia berdiri diam diambang pintu agar tidak menganggu interaksi satu arah yang sedang dilakukan oleh gadis bermanik pearl itu dengan tatapan mata sayu.
Sampai mata berbeda warna itu tak sengaja menangkap pemandangan dimana Hinata berdiri dan baru beberapa langkah gadis itu tiba-tiba terhuyung dan ambruk. Seketika Kakashi menjeplak pintu itu keras dengan tatapan nyalang dan langsung mengangkat tubuh mungil itu dan membawanya secepat kilat ke ruang pemeriksaan.
Kakashi terus menyusuri koridor menuju ruangan dokter yang sudah dikenalnya.
"Apa dokter Terumi ada di ruangannya?" tanya Kakashi pada seoarang perawat yang baru saja keluar dari sebuah ruangan.
"Ya, dokter Terumi baru datang beberapa menit lalu. Ada yang bisa saya bantu tuan?" jawab sang perawat sekaligus mengajukan bantuan ketika matanya menangkap sesosok gadis di gendongan pria itu yang sepertinya membutuhkan pertolongan.
"Tidak perlu," jawab Kakashi singkat. Setelah itu, sang perawat membukakan pintu dan membiarkan Kakashi masuk dengan tergesa.
"Dokter! Cepat periksa gadis ini!" teriak Kakashi panik luar biasa.
Seketika dokter bersurai merah itu terkejut luar biasa mendapati tamu yang masuk keruangnnya tanpa permisi. Tanpa berusaha menanyakan apa yang terjadi, dokter yang masih terlihat muda itu langsung mengeluarkan suaranya.
"Cepat letakkan dia di sana," tunjuk sang dokter pada tempat tidur kecil yang ada di ruangannya. Setelah Kakashi meletakan Hinata disebuah ranjang kecil, dokter bersurai merah itu dengan sigap langsung memeriksanya.
"Keluarlah dulu Kakashi-san," ucap sang dokter.
Tanpa membantah, Kakashi langsung keluar dan menunggu dengan gelisah di balik pintu. setelah beberapa saat menunggu, akhirnya sang dokter keluar dan mempersilahkan Kakashi untuk masuk kembali.
"Apakah dia baik-baik saja Terumi-san?" tanya Kakashi tenang walaupun sebenarnya ia panik luar biasa. Setelah melepas kacamata yang menutupi mata indahnya, akhirnya sang dokter yang bernama Terumi itu membuka suaranya.
"Sebenarnya siapa gadis itu Kakashi-san… apakah dia kekasihmu?" tanya sang dokter sedikit tidak yakin mengngat Kakashi terlalu dewasa untuk memacari perempuan seusia gadis itu.
Walapun sedikit merasa aneh dengan pertanyaan dokter cantik itu, Kakashi tetap menjawab dengan jujur."Dia adalah anak dari atasanku, dan adik Hyuuga Neji," jawab Kakashi singkat.
Terumi sedikit kaget mendengar kebenaran tersebut. Terumi adalah dokter yang menangani Hyuuga Neji. Kebetulan ia juga berasal dari Jepang sehingga dengan mudah ia bisa akrab dengan Kakashi. Beberapa minggu ini ia memang ditugaskan diluar kota sehingga tidak mengetahui bahwa ada saudara dari pemuda yang sedang koma itu.
"Jadi … apa yang terjadi dengannya?" Kakashi mengulangi lagi pertanyaannya. Sang dokter tetap terlihat tenang walaupun sebenarnya ada kegelisahan di hatinya.
"Berapa usianya?" Seakan Terumi mengabaikan pertanyaan Kakashi. Kakashi sedikit mengernyitkan alisnya bingung. Kenapa dokter ini malah menanyakan usia Hinata dan mengabaikan pertanyaanya yang jelas-jelas lebih penting?
Tetap bertahan dengan ekspresi datarnya Kakashi menjawab, "enambelas tahun."
Sang dokter terlihat sedikit melebarkan matanya ketika mendapat jawaban yang sebenarnya sudah ia duga. Melihat wajahnya saja Terumi sudah tahu bahwa gadis itu masih sangat muda dan belum siap untuk menjadi-
"Dia hamil."
-seorang ibu.
Seketika jiwa Kakashi entah terbang kemana mendapati jawaban yang sungguh diluar nalar otaknya yang terbilang jenius. Dari kecil Hinata tumbuh dengan pengawasan ketat Ayahnya bahkan waktu Junior high school gadis itu sudah dimasukkan di sekolah asrama khusus perempuan.
Artinya Hinata tak pernah berinteraksi dengan anak laki-laki -kecuali kakaknya. Baru ketika beberapa bulan lalu ia masuk sekolah umum. Dan Kakashi yakin, Hinata yang pemalu tidak mungkin berani berinteraksi berlebihan dengan lawan jenisnya.
Hanya ada satu kesimpulan yang bisa pria bersurai silver itu ambil, yakni ketika gadis itu mengalami tragedi berat dalam hidupnya beberapa bulan silam. Dan kemungkinan Ayah dari janin yang Hinata kandung adalah Uchiha Sasuke. Pria yang menolong nonanya itu.
"Berapa usia janinnya?" tanya Kakashi datar setelah beberapa saat larut dalam pikirannya.
"Sekitar enam minggu," sang dokter terlihat menarik nafas pelan sebelum melanjutkan kembali kalimatnya. "dia masih terlalu muda untuk mengandung. Tubuhnya yang lemah dan juga rahimnya memungkinkan gadis itu mengalami keguguran kapan saja," imbuhnya. Mata sewarna madu itu menatap Kakashi sendu.
Kakashi meremas rambutnya pelan. "Apa yang harus kulakukan," gumam Kakashi pelan.
"Kalau kau ingin bayi dan ibunya baik-baik saja maka kau harus menjaganya sebaik mungkin. Itu tanggung jawabmu Kakashi-san … aku tahu kau bukan Ayah dari janin yang Hyuuga-san kandung, tapi untuk sekarang kaulah orang terdekat yang dimilikinya … " ujar sang dokter menegaskan.
Terumi sudah mengetahui semua tragedi yang menimpa keluarga Hyuuga. Karena dialah yang membantu Kakashi untuk menyembunyikan identitas asli Neji agar tidak mudah terlacak.
"Aku tahu … tapi… aku tidak percaya …" ujar Kakashi dengan pandangan kosong.
Bagaimana bisa Uchiha Sasuke yang Kakashi kenal adalah pemuda angkuh yang suka bergonta-ganti pacar dapat membuat nonanya terjerat dalam pesonanya? Kakashi yakin, Sasuke bukanlah pria baik-baik dan Hinata tidak mungkin jatuh cinta pada pria seperti itu.
Jadi kesimpulannya selama Hinata tinggal bersama pemuda itu ia diperkosa? Kakashi terus menduga-duga kenapa hal buruk –atau baik- itu bisa terjadi.
"Ini tidak buruk. Anak adalah anugerah … kau hanya perlu menjaga Hyuuga-san dengan baik. Aku akan membantumu," ucap dokter berambut merah itu menenangkan.
.
.
.
Hinata terbangun karena merasakan perutnya yang lapar luar biasa. Perlahan ia mendudukan dirinya sekedar menghalau pening di kepalanya. 'kenapa aku sudah ada dikamar?' pikir Hnata bingung.
Seingatnya, ia masih di kamar rawat kakaknya. Tanpa menghiraukan kebingunganannya, akhirnya gadis itu perlahan menjejakan kaki langsingnya ke lantai. Ia bisa mendengar ada seseorang yang sedang memasak di dapar. Apakah itu Kakashi?
"Anda sudah bangun nona?" tanya Kakashi dengan sikap biasa.
"Kenapa kau memasak didapurku?" tanya balik Hinata. Apartemennya memang bersebelahan dengan apartemen Kakashi. Tapi kenapa pria itu bisa masuk ke apartemennya?
"Duduklah dulu nona, setelah anda makan, saya akan memberitahukan apa yang terjadi pada anda tadi di rumah sakit," perkataan berintonasi datar Kakashi sanggup membuat Hinata lagi-lagi dihampiri kebingungan yang berlipat ganda.
Namun gadis itu menurutinya tanpa mengeluarkan suaranya lagi. Ia duduk dan mulai menyantap berbagai hidangan sehat di meja makan. Tidak ada perbincangan di kala dua orang tersebut sedang menghabiskan makanan masing-masing.
Hinata nampak terus menyuapi nasi ke mulutnya seperti tak merasakan nikmatnya makanan buatan sekretaris Ayahnya itu.
.
.
.
Setelah Hinata membersihkan tubuhnya sehabis makan malam, gadis itu menghampiri Kakashi yang terduduk santai di ruang tamu dengan tangan kanannya yang sibuk memencet tombol remote control TV.
"Apa yang terjadi padaku tadi di rumah sakit Kakashi-san … aku tak bisa mengingat apapun," Hinata melontarkan pertanyaannya setelah duduk persis disamping Kakashi. Pria itu menoleh sebentar pada gadis yang memandang kosong TV dihadapannya.
"Apakah sekarang anda merasa lebih baik?" tanya Kakashi memastikan.
"Ya … aku merasa lebih baik setelah makan tadi … jadi … ?" Mata bulannya memandang Kakashi dengan tatapan yang sungguh membuat Kakashi begitu mengagumi betapa indahnya mata itu.
"Anda pingsan … karena …" Kakashi terlihat enggan untuk mengatakan penyebab kenapa gadis itu pingsan. Tapi cepat atau lambat Hinata akan mengetahuinya juga. Dan akan lebih menarik apabila mengetahui reaksi Hinata apabila ia mengatakan kebenarannya. Akan terlihat senang atau sebaliknya?
Hinata masih terus menunggu kata-kata Kakashi yang masih menggantung. Kakashi menatap Hinata intens mencoba mencari gurat kekhawatiran yang terlihat jelas di wajah ayunya.
"… anda hamil," kelanjutan kalimat Kakashi membuat jiwa Hinata seakan menembus dimensi lain yang tak berujung. Hinata terus terdiam seakan jiwanya tak menemukan jalan kembali ketubuhnya. Sampai ketika jari-jari lentiknya meremas pelan ujung baju tidurnya.
"Aku hamil…" lirihnya seakan suara itu tercekat ditenggorokannya. Seketika ingatannya membawanya kembali pada sosok yang beberapa minggu ini selalu menghantui mimpi-mimpinya. Sosok yang sangat ia rindukan. Sosok yang ia tinggalkan tanpa ucapan 'sampai jumpa lagi'. Sosok yang menanam benih dalam rahimnya.
"Apakah Ayah dari bayi di rahimmu adalah Uchiha Sasuke?" tanya Kakashi begitu hati-hati. Kakashi bisa melihat bahwa mata seindah bulan itu mengalirkan air mata. Tapi ia tak dapat menyimpulkan air mata yang mengalir itu adalah air mata kebahagiaan atau kesedihan?
Karena Hinata yang belum manampakan ekspresi apapun selain ekspresi syok dan telapak tangannya yang terus mengelus perutnya yang masih rata. Hinata menatap Kakashi sendu sebelum ia mengeluarkan suaranya.
"Ya … bayi ini adalah anaknya…" jawab Hinata sendu sambil memandang tangannya yang terus mengelus perutnya.
Ada satu pertanyaan lagi yang sebenarnya begitu mengganjal di benak Kakashi. Tapi Ia sedikit ragu untuk menanyakannya karena menurutnya, pertanyaannya kali ini terlalu menjurus masuk pada kehidupan pribadi nona mudanya ini.
Tapi ia sungguh penasaran. Setelah mengesampingkan rasa sopannya, Kakashi akhirnya megajukan pertanyaan itu. "Apa … anda mencintai Uchiha Sasuke?" kali ini Kakashi tak mampu lagi menatap sosok mungil yang terlihat begitu rapuh. Menyiratkan sebuah kesedihan yang mendalam.
"Ya… aku mencintainya… sangat mencintainya… aku bersyukur, Kami-sama memberikan 'dia' sebagai penggantinya," jawab Hinata tanpa ragu yang terus menatap dan mengelus perut ratanya.
Memang gadis itu tak tersenyum, tapi Kakashi tahu bahwa Hinata tak berbohong. Gadis itu benar-benar mencintai Uchiha Sasuke. Setidaknya sekarang ia tahu bahwa bayi itu bukanlah hasil dari hubungan paksa dan setidaknya, nonanya itu melakukan atas dasar suka tanpa paksaan.
.
.
.
Hinata tak tahu harus bersikap seperti apa saat Kakashi memberitahukan kabar yang sebenarnya sangat membahagiakan baginya. Ia hamil.
Dan anak yang dikandungnya adalah anak Uchiha Sasuke. Pria yang dicintainya. Betapa bahagianya seandainya ia dapat memberitahukan ini pada pria itu. Dan seandainya saja Sasuke masih ada disampingnya, bagaimana reaksinya?
Apakah ia juga akan sebahagia dirinya? Hinata terus menangis tetapi bukan tangisan kesedihan karena ia harus mengandung di usia muda. Bukan itu.
Tapi ia begitu sedih mengingat tidak ada Sasuke lagi disisinya. Dan itu berarti anaknya kelak akan lahir tanpa seorang Ayah disampingnya. Betapa hatinya begitu nyeri mengingat kenyataan itu. Dia masih terus berada disini sebelum kakaknya terjaga. Entah sampai kapan.
"Sasuke-kun…" bisiknya pelan.
Malam ini, lagi-lagi ia tak dapat memejamkan matanya.
.
.
.
"Sekarang anda harus makan tepat waktu, tidak boleh terlalu lelah, tidak boleh terlalu lama berada di rumah sakit karena itu tidak baik untuk perkembangan janin, dan yang terpenting … anda tidak boleh terus-terusan bersedih."
Entah kenapa untuk pertama kalinya pagi ini Kakashi sudah datang ke apartemennya dan langsung menyuguhi ceramah yang begitu panjang untuk Hinata. Untuk pertama kalinya juga, pagi ini Hinata terkena morning sickness.
Bangun tidur, Hinata terus berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan semua makan malamnya. Yang sukses membuat wajahnya begitu pucat.
"Baik Kakashi-san…aku akan menuruti perintahmu," jawab Hinata dengan sebuah senyum tulus yang menyiratkan kebahagiaan. Hinata memang sudah bertekad untuk menjaga bayinya sebaik mungkin. Ia tahu resikonya hamil di usia yang begitu muda.
Bahkan Hinata masih tergolong belum cukup umur untuk hamil. Usianya baru menginjak enambelas tahun. Maka dari itu, ia harus ekstra hati-hati menjaga kandungannya. Baginya, ini adalah salah satu kenangan indah yang ditinggalkan Sasuke untuknya.
"Tentang tuan muda, biar saya yang menjaganya. Untuk saat ini, nona harus beristirahat total. Kata dokter Terumi, kejadian kemarin membuat kondisi tubuh nona begitu memburuk dan itu sangat beresiko pada kelangsungan hidup bayi anda nona," ujar Kakashi lagi.
Kali ini Hinata hanya mengangguk dengan mengunyah makanannya begitu bersemangat. Setidaknya Kakashi sedikit lega dengan perubahan yang terjadi pada Hinata. Kehadiran janin dirahimnya membuat gadis itu lebih bersemangat untuk melanjutkan hidupnya.
.
.
.
"Teme … nanti malam akan ada pesta di rumah Sasori. Bagaimana kalau kita kesana?" ucap Naruto yang langsung mendekati Sasuke setelah mereka baru saja menyelesaikan rapat bersama anggota dewan direksi yang lain.
Sasuke terlihat masih acuh dengan tangannya yang terus bergerak lincah di atas keyboard."Kau saja aku tidak," jawaban datar terlontar dari bibir Sasuke yang sejak beberapa bulan lalu jarang sekali di gunakan untuk bicara kalau bukan menyangkaut hal yang penting.
Naruto seakan kehabisan akal untuk membuat sahabatnya -paling tidak- bersikap sedikit lebih normal. Setelah kejadian hilangnya Hinata, Sasuke hampir tak pernah bicara dan bersosialisasi dengan orang lain –kecuali di kantor.
Kesehariannya ia habiskan untuk bekerja. Dan setelah ia merasa lelah, barulah ia akan pulang untuk tidur. Tidak ada Sasuke yang akan memarahi atau memelototinya setiap kali pemuda blonde itu membuat kesalahan.
Demi Tuhan, ia lebih suka melihat Sasuke yang bersikap dan bertindak sesuka hatinya seperti dulu -sebelum datangnya Hinata dalam kehidupannya. Paling tidak, Sasuke yang dulu masih mampu berlari dari rasa sakit dan kesepiannya.
Tidak Sasuke yang sekarang. Sasuke yang seperti tanpa jiwa yang benar-benar bagaikan robot yang bernafas. Sasuke yang sekarang seperti menyerah pada keadaan hidupnya yang selalu dijauhi oleh kata 'kebahagiakan'.
Naruto benci.
Hatinya berkali lipat lebih sakit melihat Sasuke yang seperti itu. Ia lebih suka menemani Sasuke yang minum sampai mabuk semalam. Ia lebih suka melihat Sasuke yang bergonta-ganti teman kencan. Atau Sasuke yang akan menghajar siapapun yang membuat masalah dengannya.
Setidaknya Naruto tahu sahabatnya itu masih memilki daya untuk seperti ini. Tubuhnya hidup namun jiwanya seakan mati. Tapi sekali lagi tak ada yang bisa ia lakuakan untuk membuat sahabatnya kembali terlihat 'hidup' kecuali membawakan kembali 'jiwa' Sasuke yang telah enyah entah kemana.
"Baiklah … tapi jangan menghabiskan waktumu di kantor ini," ujar Naruto sebelum ia berlalu dari ruang rapat. Tidak ada sahutan berarti dari Sasuke kecuali hanya gumaman tak bermakna pasti.
Barulah setelah sahabat pirangnya berlalu dari hadapannya, Sasuke menghentikan gerak jemarinya diatas keyboard. Tatapan matanya yang seolah tanpa cahaya memandang layar tanpa berkedip. Sekali lagi, pikirannya berkelana tak tentu arah.
Mengupas kembali kenangan yang seharusnya mampu ia kubur dalam sanubari hati terdalam. Hinata memang tak pantas dilupakan, namun kenangan dimana gadis itu meninggalkannya seharusnya dienyahkan. Hinata gadis baik, ia yakin bahwa tatapan matanya waktu itu bukanlah hanya sekedar dusta.
Gadis itu tak pernah mengasihinya yang berkubang dalam sepi. Tatapan matanya begitu tulus saat mengulurkan tangan dan sedikit demi sedikit menariknya dalam kubangan sepi itu. Tidak mungkin gadis itu sanggup berpura-pura kan?
Tapi kenapa Hinata meninggalkanya? Setelah membuatnya tak takut lagi menjemput kebahagiaan. Tanpa ia sadari, tatapan mata Sasuke menajam seakan layar monitor dihadapannya mengejek dirinya yang begitu menyedihkan.
"Hinata …" bisiknya parau seakan hanya desau angin yang sanggup mendengarnya.
.
.
.
Sejak mengetahui dalam rahimnya bersemayam nyawa lain, Hinata tak pernah lagi terlihat sedih. Tubuhnya pun jauh lebih sehat dari sebelumnya. Ia menjalani kehidupannya dengan pola yang sehat. Semua itu ia lakukan semata-mata demi kesehatan sang jabang bayi yang sudah memasuki usia lima bulan.
Hinata bersyukur bayinya mampu melewati masa-masa sulit dimana setiap saat dirinya bisa keguguran. Perutnya mulai terlihat membuncit. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi membuat Hinata terlihat seperti mengandung usia tujuh bulanan.
Walaupun begitu, ia tetap terlihat lncah. Setipa hari ia selalu mengunjungi sang kakak yang belum juga membuka matanya. Sedangkan Kakashi terus berada disisi Hinata. Seakan-akan dialah orang yang paling bertanggung jawab atas janin yang ada dalam rahim Hinata.
Bukan apa-apa, semua itu Kakashi lakukan semata-mata karena pengabdiannya pada Hiashi. Selain dari segi pengabdian, juga dari segi kemanusiaan. Kakashi tidak mungkin tega membiarkan gadis di bawah umur yang sedang mengandung -tanpa Ayah dari bayi yang dikandungnya- itu sendirian. Hinata butuh seseorang yang setiap saat bisa membantunya.
Dan Kakashi sudah membuktikan bahwa dirinya bisa diandalkan. Demi keselamatan bayi dan ibunya, Kakashi rela tidak menghabiskan waktu malamnya di club malam ataupun bersenang-senang dengan wanita. Ya, semua yang seharusnya dilakukan Uchiha Sasuke mampu digantikan oleh Kakashi dengan baik.
"Kakashi-san… sebaiknya kau beristirahat di rumah. Tidak perlu menungguku," ujar Hinata pelan saat Kakashi mengantarkannya pagi itu untuk memeriksakan kandungannya.
Ya, semalaman Hinata tak dapat memejamkan mata karena tubuhnya yang demam. Dan semua itu berimbas pada Kakashi yang menungguinya hingga hampir pagi. Walaupun Hinata tak dapat membedakan mana Kakashi yang bertampang mengantuk dan mana yang bukan. Karena mata beda warna milik Kakashi selalu tampak sayu.
"Tidak nona… anda sedang tidak sehat. Sebaiknya nona pulang bersamaku," jawab Kakashi datar. Tidak ada yang bisa Hinata lakukan apabila Kakashi sudah memutuskan sesuatu.
"Terserah kau saja…" ucap Hinata sebelum memasuki ruangan dokter kandungan.
.
.
.
"Kakak… sebentar lagi kau akan punya keponakan… apa kau tak mau melihatnya?" ujar Hinata yang sudah beberapa bulan ini selalu berbicara dengan kakaknya yang tak pernah merespon. Tapi Hinata tak peduli karena ia tahu bahwa, kakaknya pasti mendengar semua ucapannya.
"Jadi kumohon bangunlah … aku takut …" Mata Hinata mulai berkaca-kaca saat benaknya berlari kemasa dimana ia harus melahirkan sendirian. Berjuang antara hidup dan mati tanpa seorangpun yang terdekat dalam hidupnya. "… saat melahirkan t-tidak ada yang menemaniku…" imbuh Hinata dengan suara tercekat.
Tenggorokannya benar-benar terasa sakit harus menahan isakannya. Namun lagi-lagi Neji hanya diam. Wajah rupawannya yang pucat nampak begitu tenang dalam tidurnya. Hinata mengelus pelan perutnya seakan menghentikan ketakutanannya yang akan mengalir pada bayinya.
Saat-saat seperti ini, Sasuke lah yang kembali muncul dalam benak Hinata. Seandainya pria itu ada di sisinya, ia tak perlu ketakutan menghadapi saat dimana dirinya harus berjuang menghadirkan si kecil ke dunia. Sasuke pasti akan menemani dan menyemangatinya.
Tapi sekali lagi, Hinata bagaikan sedang bermimpi. Sasuke tidak mungkin ada disisinya saat itu. Ia akan melahirkan disini dan tentu saja Sasuke tak akan mengetahuinya. "kakak… sudah waktunya aku pulang… sampai jumpa besok," ucap Hinata pelan setelah menghapus air matanya.
Ia mengecup kening sang kakak sebelum beranjak dari tempat duduknya. Tanpa Hinata sadari, mata terpejam Neji mengelirkan air mata yang entah karena apa.
.
.
.
TBC
.
Oke Minna… chap ini kayaknya makin gaje aja -_-
Tanks to: sasuhina lovers, Moku-chan, akasuna suraiya, cherry kuchiki: Oke ni dah apdeth. Sugar Princess71: kalo Hina perginya pamitan mah Sasu gak bakal bolehin. Makanya dia pergi diam-diam hehe. Himetarou Ai, Zae-Hime, lavender hime chan: pertanyaan kamu banyak banget -_- mending ikutan terus aja ya say …(Smirk). Sasuhina-caem: jangan diseret kan diperut Hina lagi ada dedeknya, kasian atuh ^_^. Sky pea-can, RK-Hime: kotak rahasia haha… ada ditangan Kakashi cos dia orang kepercayaan Hiashi. Tu kotak punya dia. Mamoka: apanya yang aneh say? Malah bakalan aneh kalo gax aku kasih warning gitu. Kan ada pemain yang masih di bawah umur. Kan ga elit banget kalo adek-adeku yang masih di bawah umur jadi salah persepsi -_-(dasar author stres suka nyebarin Virus keburukan) tapi intuk semuanya aja, Ini adalah fanfic, jangan melegalkan hal-hal yang ga sepantasnya yang ada di fick ini dalam dunia nyata Oke?(jempol Guy sensei). n: nah gitu dong adeku yang manis, kalo merasa di bawah umur jangan baca ya… Hahaha lompatin aja. indigOnyx: ga akan ada yang mati tenang aja. Aku Cuma suka nyiksa mereka (Devil smile). Hanazono Suzumiya: aku bukannya tega Cuma sadis -_- (sama aja). Akeboshi ni dah apdeth. Tiva-qwiensy: terimakasih ^_^. Mamizu Mei: salam kenal juga ^_^. Evil.
