Disclamer : Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Shonen ai
Pairing : SasuxNaruxSai
Rated : T
Don't Like! Don't Read!
Chapter 9 (Mencintainya)
Sebelum Membaca, cobalah kalian semua memahami penggalan isi ini.
Once upon a time there was a white male dove that's falling in love deeply with a lovely beautiful white rose. The dove had been trying so hard night and day to tell about his feeling to the rose, and no matter how hard he tried to express his desire but he couldn't get the love of the rose.
"I'll never fall in love with you and don't ask why. I just can't do it!" said the rose. But the dove never gave up on trying to prove his love by meeting the rose every single day of his life. Finally the rose told him that she would have love the dove if he could turn her into a red rose.
And then one day the male dove came again to the rose after he cut one of his wings by purpose and shed his blood by dripping it to the rose and eventually changed her into the red one.
Penggalan ini kudapat dari Dosen Bhs Inggris saya.. XD
Kalau sudah membaca akankah Sasuke akan seperti itu?
Baca saja Fanfic gaje ini.. ^^
Tereeeeeteeeteeeeet,,,,,,,,,,,,,,,,,,, n____n
"Sai, apa tidak apa-apa aku seperti ini?" kata Naruto.
"Tidak apa-apa, kau manis sekali Papa." Ucap Sai dengan senyum jahilnya.
Waktu itu adalah saat dimana Naruto dan Sai memberikan penyambutan untuk pembukaan acara festival ini. Seperti tahun lalu mereka memakai pakaian gothic dengan lagu ala rock-nya. Dan sekarang mereka akan membawakan sebuah lagu pop namun dengan dandanan yang berbeda.
Naruto dan Sai mulai berjalan memasuki panggung bersama anggota osis lainnya yang memakai dandanan yang segenre dengannya. Para penonton bersorak ria saat mereka mulai naik ke atas panggung.
Dan tidak sengaja Sasuke melihat Naruto yang berada di depannya, wajahnya tiba-tiba blushing dibuatnya. Sasuke menutup mulutnya sambil menundukkan kepalanya sebentar agar tak ada orang yang melihat wajahnya yang memalukan itu. Kepalanya masih diisi dengan penampilan Naruto yang begitu manis itu. Penampilan yang begitu girly namun bernuansa lolita itu membuat wajah para penonton begitu memerah melihat penampilan Naruto yang seperti wanita itu. Sedangkan Sai, dia memakai pakaian biasa dengan ala harajukunya. Hingga membuatnya sepadan dengan Naruto di sana. Para penontonpun ada yang menyiuli mereka dan menyoraki pasangan konyol itu. Semua ini adalah skenario yang dibuat oleh Sai untuk meramaikan acara festival terakhir mereka di sekolah ini. Naruto kini memang harus bergaya centil hingga meninggalkan sifat coolnya itu.
"Nee~~ Minna~~~" teriak Naruto dengan gaya centilnya hingga membuat para penonton di sana bersorak-sorai melihat penampilan manis Naruto. Sasuke yang melihatnyapun ikut terkejut dibuatnya. "Arigachuu~ sudah datang ke acara festival yang kami buat. Untuk pembukaan, kami selaku anggota osis akan menghibur kalian semua dengan lagu yang kami bawakan. Pertama-tama kami persembahkan lagu troublemaker dari Arashi." tambah Naruto diringi dengan kedipan mata kirinya, membuat para penonton lemas dibuatnya.
Sasuke pun tak akan tinggal diam dan mau kehilangan moment manis ini, diambilnya ponsel dari sakunya dan dipotretnya pose Naruto dengan baju lolitanya itu. Setelah itu dia kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan bersandar pada dinding di belakangnya sambil menikmati nyanyian Naruto di atas panggung itu.
Tiga puluh menit kemudian.
Sasuke masih dengan posisinya, dan sedangkan Naruto telah menyelesaikan beberapa lagu yang ia nyanyikan. Namun saat hendak turun ke panggung, tiba-tiba Sai memanggil Naruto dengan mike-nya. Hingga suara keras terdengar sampai keluar.
"Naru-chan…" panggil Sai membuat Naruto terhenti untuk turun dari panggung. Dia membalikkan badan dan melihat ke arah Sai yang tengah membawa sebuah bunga mawar merah. Naruto begitu terkejut saat Sai mendekati dirinya dan mulai berlutut di depannya, sambil mengacungkan serangkaian bunga mawar itu di depannya. Ditambah lagi dengan kata-kata manis yang dilontarkan oleh Sai.
"Sai, apa-apaan kau? Ini tidak seperti yang di scenario!" bisik Naruto pada Sai yang sedang berlutut di depannya.
"Naruto, terimalah bunga ini. Aku begitu bahagia tengah dipertemukan denganmu, kau selalu menemaniku saat gundah dan kau selalu menghiburku di saat aku sedang sedih. Aku mohon terimalah bunga ini."
Naruto begitu bingung dengan tingkah Sai ini. Dia ingin menolak bunga itu, namun orang-orang di sekitarnya mulai bersorak-sorak menyuruhnya untuk menerima bunga itu.
Saat Naruto ingin mengambil bunga dari tangan Sai, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang yang mengajaknya pergi meninggalkan panggung itu. Dan orang itu adalah Sasuke. Naruto begitu kaget dan hanya bisa mengikutinya tanpa harus menengok ke belakang.
Sasuke membawa lari Naruto dari Sai, lalu membawanya pergi ke taman belakang sekolah.
"Hah-hah.." nafas mereka terengah-engah karena berlari dan Sasuke pun masih menggandeng tangan Naruto.
"Apa-apaan kau Teme? Kenapa kau membawaku pergi?" bentak Naruto.
"Hnn, jadi kau ingin menerima bunga itu?"
"Eh, apa maksudmu?"
Tiba-tiba Sasuke pun memeluk Naruto, hingga membuat Naruto sedikit tersentak dengan perlakuan Sasuke ini.
"Aku tidak ingin melihatmu menerima bunga darinya. Bunga mawar merah itu tidak cocok untukmu. Aku kesal kau dekat dengannya, aku ingin kau selamanya bersamaku. Ini memang terdengar egois, tapi aku akan melakukan apapun sampai kau mau memberikan perasaanmu padaku."
"Hei, jangan bicara yang aneh."
"Aku memang aneh, dobe. Aku aneh karena melihatmu." ucap Sasuke sambil menatap lekat-lekat sepasang mata saphire itu. "Aku memang bodoh, aku bodoh karena memilihmu. Padahal di luar sana banyak wanita-wanita cantik yang menyukaiku. Dan aku gila gara-gara mencintaimu!" tambahnya. Naruto begitu terkejut dan terdiam bagai patung saat Sasuke mengucapkan kata-kata romantis barusan, hingga dia tak menyadari saat bibir mungil itu tengah dicium dengan lembut oleh Sasuke.
Sasuke masih memeluk erat tubuh Naruto, sedangkan Naruto sendiri membalas pelukkan Sasuke. Namun lama kelamaan Naruto sedikit kaget saat ciuman mereka tiba-tiba menjadi lebih panas lagi. Sasuke tengah berani memasukkan lidahnya masuk ke dalam mulut Naruto. Dia ingin sekali memberontak, namun tubuhnya tak sama dengan hatinya. Naruto kini malah menikmati ciuman dari Sasuke itu. Merasakan itu, Sasuke begitu senang saat Naruto mau membalas ciuman darinya. Hingga Sasuke tambah memeluk erat tubuh Naruto itu.
"Ne, Teme." panggilnya.
"Hnn?"
"Bisakah kau melepaskan pelukkanmu?"
"Tidak mau. Karena kau begitu manis seperti ini." ucapnya, hingga membuat wajah Naruto tak luput dengan semburat merah di pipinya.
"Teme, kenapa kau bisa menyukaiku?"
"Tidak tahu."
"Hei!"
"Hnn? Aku sendiri tidak tahu, dobe. Pokoknya aku jatuh cinta saat pertama kali melihatmu. Tidak ada alasan lain lagi. Jangan tanyakan hal yang sama lagi padaku."
Naruto begitu berdebar-debar mendengar jawaban dari Sasuke, padahal kalau bersama Sai dia tidak pernah merasakan hal yang sama seperti ini.
"Seminggu lagi aku akan ujian kelulusan, dan aku akan segera lulus dari sekolah ini. Kau yakin menyukai orang yang lebih tua darimu?"
"Memangnya kenapa, dobe? Aku tidak peduli umurmu berapa." jawabnya. "Ngomong-ngomong kau mau melanjutkan sekolahmu dimana?"
"Tokyo." jawabnya singkat.
"Tokyo? Sejauh itu? Kenapa?" Sasuke kaget dan melepaskan pelukkannya. "Padahal aku sudah susah payah datang ke sini dan kau malah mau pergi ke Tokyo?"
"Aku ingin melanjutkan sekolahku di sana."
"Lalu aku?"
"Hei, jangan bicara yang tidak-tidak. Kau masih harus melanjutkan sekolahmu di sini, teme. Jangan berbuat yang macam-macam." sungutnya.
"Aku tidak bisa hidup tanpamu, dobe."
"Hei! Jangan tergantung padaku. Aku bukan Tuhan, tak seharusnya kau tergantung padaku. Kau masih bisa melakukan apapun tanpaku, teme. Untuk sementara ini aku tidak bisa memilih kau maupun Sai, karena kalian begitu penting bagiku. Aku menaruh perasaanku padamu, teme. Berjanjilah padaku untuk tidak jadi milik siapa-siapa sampai aku kembali ke sini nanti." Ucapnya sambil menyentuh dengan lembut pipi orang yang ada di depannya itu.
"Apa maksud dari perkataanmu itu, dobe?" tanya Sasuke sedikit bingung.
"Tak ada. Untuk sementara ini jangan temui aku dulu. Aku ingin menyelesaikan semuanya dengan Sai. Peganglah kata-kata terakhirku, teme!" ucap Naruto lalu pergi meninggalkan Sasuke.
Sasuke begitu bingung dengan perkataan Naruto tadi, namun pendengarannya tak mungkin salah kalau dengan jelas Naruto bilang dia tidak akan melepaskannya.
Saat Naruto meninggalkan Sasuke, tiba-tiba ponselnya pun berbunyi. Dan ada sebuah telepon dari Sai.
"Naruto, kau dimana?"
"Hmm.. kau sendiri dimana? Aku akan kesana."
"Aku di atas atap sekolah. Kesinilah, aku membawa ramen kesukaanmu."
"Iya. Tunggu aku sebentar lagi." Kemudian Naruto pun pergi menyusul Sai ke atas atap sekolah.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Naruto saat melihat Sai sedang asyik tertidur dengan sebuah majalah menutupi mukanya.
"Hmm.. Kau sudah datang?"
"Ah, maafkan aku atas kejadian tadi."
"Emm, tidak apa-apa. Duduklah, ini aku membawakan ramen kesukaanmu. Kau pasti lapar gara-gara sejak tadi pagi belum makan."
"Thanks." jawabnya.
"Hah, hari ini cerah sekali. Pasti nanti malam acara kembang apinya berjalan sukses, nih." gumamnya.
"Sai.." panggilnya.
"Apa?"
"Aku ingin berbicara denganmu. sudah lama aku ingin membicarakan ini denganmu."
"Hahaha.. Ada apa, sih Naru-chan? Jangan bertampang serius seperti itu."
"Sai, dengarkan aku. Aku sudah memutuskan ini sejak lama."
"Eh?"
To be Continued…
Ckakakkaka… XD
Gomen lama updet.. o
Ngomong-ngomong, apa yang akan dibicarakan Naruto ya?
Nah, ini Episode menjelang akhir-akhir tamatnya nih..
Mungkin Chapter 10 akan tamat atau mungkin atau tidak..
Tunggu aja, ya..
Ditunggu reviewnya minna..
Sankyuu… n___n
