fairy where are you going... hikari zenbu atsumete... kimi no ashita terasu yo~~~ *digampar reader, bukanya ngetik story malah nyanyi sumbang*

Wokeh, kembali lagi dengan saiia di crossover aneh ini... maaf jika plot selalu rancu ^^v belakangan ini saiia jarang baca2 OP n FT, jadi agak kekurangan bahan (readers : BURUAN CERITA! MALES DENGER CURHAT FALES LO!)

Yow Minna~ Silahkan nikmati! (Insya Allah mulai chapt ini daku udah nggak collab lagi ma Diamond :D *ngelus2 kepala tu anak*)


One Piece vs Fairy Tail

By : Argentum F Silver-chan


I know boys you feel so unhappy

As if you`re spell somebody

Nothing seems to be as your wish

And you feel like your body won`t move

As you want it to

But boys, don`t you give up the fight

.

Cry out boys, break the spell

we`re not losing power yet

.

Yhe bad witch lives in your heart

She says to you

"Don`t break the world`s rule"

"Obey to the line of the people"

"You`re only dreaming of what can not be"

.

But, people, don`t you give up

While you still have hopes and dreams!

.

Break the spell

.

No, no boys, it is only you

Yes, yes girls, who can free yaourselves

.

break the spell


Luffy nyaris membelalakan matanya, menatap sosok berambut biru itu. Sosok itu berjalan perlahan menjauhi bibir pantai.

"VIVI!" teriaknya seketika. Teriakan nyaring bervolume tinggi yang kontan membuat si rambut biru menoleh ke sumber suara.

"Vivi! Tunggu! Tunggu aku!" seru Luffy lantang. Ia berbalik, melesat dengan kecepatan tinggi. Gerakan kakinya nyaris tak terbaca. Ia melompati beberapa anak tangga sekaligus dengan kasarnya dan...

BUAAAKKK!

"Ugh!" erang Luffy ketika tubuh rampingnya terhempas paksa karena beradu dengan tubuh 'seseorang'.

"Lu... Luffy? sedang apa kau?" seru 'seseorang' itu, yang ternyata adalah Natsu, orang yang sedari tadi Luffy cari.

"Ugh! Lho? Salamander?" seru Luffy kaget.

"Itu... Gray bilang kau mencari aku?" tanya Natsu polos. Tanganya terulur, mencoba membantu Luffy berdiri. Hati Luffy agak berdesir. Lagi-lagi kini yang dirasakanya adalah kelembutan tangan seorang Salamander Natsu.

"Eh? Errr... ya, tapi maaf, aku ada urusan sebentar... kau bisa menungguku kan?" pinta Luffy, "sekarang aku harus pergi! Daaagghhh!"

Bagai kilat yang mendadak membelah atmosfir, Luffy kembali melesat dengan kecepatan tinggi, keluar dari pintu utama guild dan menuju ke arah pantai. Mencari si rambut biru tadi.

"VIVI!" jeritnya, "VIVIIIIII!" Jeritan yang membahana meliuk mencapai puncak angkasa (secara imajinatif tentu)

"Mencari aku?" terdengar suara lembut dan kalem dari arah belakang. Luffy menoleh dengan cepat mendengar suara halus itu.

"Vivi?" ucapnya lirih. Ada rasa lega yang mendadak menjalari hatinya. Luffy menatap gadis itu dengan tatapan lembutnya yang err... seksi? Lalu Ia berujar perlahan, "Darimana kau? Aku mencarimu tadi. Kau tidak ingin ingkar janji bukan?"

Vivi blushing mendengar ucapan Luffy (Lho? bukanya tadi dia sibu mencari natsu?). Perlahan Ia menjawab dengan lirih, "Maaf Luffy. ada yang harus aku bicarakan denganmu. Sebenarnya aku ingin mengatakanya kemarin saat kita ada di kantin, tapi..."

"Hn?" Tanpa sadar, atau sekedar refleks, Luffy meletakkan tanganya ke pundak Vivi, sukses membuat wajah manis Vivi menjadi semakin merah.

Vivi menarik nafasnya, sebelum akhirnya Ia berucap dengan suara yang sangat berat, "...Aku harus ikut keluargaku untuk pindah rumah,"

CTTAARRR! Background kilat dalam kegelapan. Luffy membatu seketika.

"...Aku...Aku akan berangkat ke Arabasta besok pagi. Aku akan pindah sekolah, dan... dan..."

Suara isakan terdengar begitu lirih. Tanpa aba-aba lagi Vivi menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Luffy yang begitu hangat.

"...Aku sayang kamu," bisik Vivi dalam isakanya.

"Vi? Jangan menangis. I... iya deh... Aku juga sayang kamu..." Luffy menyentuh tangan Vivi, mencoba menegakkan tubuh gadis itu. 'Ini pakaian kakak. Gawat kalau sampai basah!' batin dark-side jiwa laknat si anak topi jerami ini.

"Aku tidak tega kalau melihat nakama ku menangis," ucap Luffy jujur. 'payah! aku tidak bawa sapu tangan lagi!' batin jiwa laknat Luffy lagi.

"Ta...tapi..." Vivi berusaha menatap mata jernih Luffy yang mendamaikan itu, "...aku...aku bahkan sudah ingkar janji untuk pergi ke pesta valentine denganmu..."

"Ah, bukan masalah... aku takkan menganggapnya sebagai ingkar janji. Tapi aku mohon... jangan menangis ya..." Luffy mengusap sudut mata Vivi, "Iya, aku sayang Vivi... Vivi akan selalu menjadi sahabatku,"

Vivi terdiam sesaat. ia mengusap matanya. "sahabat?" ucapnya, terdengar nada tidak percaya dalam ucapanya, "Aku... aku hanya gadis biasa yang sekali-sekali membatumu dalam tugas kimia. tidak lebih kan? bagaimana kau bisa menganggap aku sahabat?"

"Karena tidak ada yang seistimewa kamu, Vi," potong Luffy mendadak.

"Eh?"

"M...maksudku, aku menganggap semua orang dalam hidupku adalah sahabat. Selain itu, kau baik dan melakukan semuanya dengan tulus ikhlas. Enggg...Aku suka Vivi yang seperti itu, makanya, sedikit banyak hatiku merasa kalau Vivi itu spesial..."

Hening. Suara ombak bahkan tak mencapai gendang telinga mereka berdua yang tengah terlarut dalam pikiran masing-masing.

"...Apa itu pernyataan cinta?" tanya Vivi.

"Eh?"

Hening lagi.

"Ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Luffy. Ia memandang Vivi, Vivi memandangnya. Raga mereka nyaris tanpa jarak lagi kini. Di bawah samar sinar rembulan, kedua remaja ini membentuk siluet manis yang terkesan erotis.

"Kurasa..." Luffy tergagap sesaat, "...kurasa..."

"..." Vivi membungkam mulutnya. Ia meletakkan kedua tanganya di pundak Luffy. Matanya terus mengawasi tampang polos pemuda topi jerami itu. Hati Luffy tetap tenang, tak mendesirkan perasaan apapun atas interaksi itu. Hanya saja... hanya saja bibirnya yang agak tidak sinkron. Ia tidak tau harus menjawab apa.

"...kurasa tidak," tiba-tiba suara polos Luffy merobek hening malam. Vivi mendongak. Ia melepas tanganya dari pundak Luffy, lalu menatap Luffy lagi.

"...Aku menganggap Vivi sebagai sahabatku, dan aku menyayangimu sebagai seorang sahabat yang mengisi hidupku selama ini... Terserah kalau kau mau menganggapnya cinta. Tapi kurasa, apapun itu, perasaan ini takkan hangus sekalipun kita terpisah jauh," Luffy menatap Vivi penuh arti, lantas mengatupkan kedua tanganya di dada, "... persahabatan itu abadi, Vi," bisiknya.

Mata Vivi berkaca-kaca mendengarnya. Isakanya mulai terhenti, berganti dengan sinar bahagia yang memancar lembut dari kedua bola mata anggunya.

'Aku mengutip kata-kata itu dari majalah sekolah yang kucontek poemnya untuk tugas di tempat les, hihihi, untung Vivi tidak tau,' medadak batin laknat Luffy kembali bersuara.

"Jadi... bisakah kau mengatakan pada teman-teman yang lain tentang ini...?" pinta Vivi lembut.

"Yeah~ pasti akan kusampaikan nanti! Tenang saja!" Luffy terkikik, ia mengacungkan ibu jarinya ke arah Vivi.

Hening.

"Tapi kau janji harus kirim kabar ya? Kami sepi tanpa Vivi" ucap Luffy, memecah keheningan terlebih dahulu. 'dan aku juga gawat kalo tidak ada yang membantu mengerjakan tugas sekolah,' lanjut Luffy dalam batin.

"Pasti! Pasti kok,"

Hening.

"K... kau mau bilang apa lagi?" Luffy berucap lagi.

Hening.

"Kalau kau bilang sesuatu..."

Grep! Selang sedetik, bahkan sebelum Luffy menyelesaikan ucapanya, Vivi sudah menerobos, memeluknya dengan erat, seakan enggan terpisah lagi. "Luffy..." bisiknya lembut, "... aku akan merindukan kamu..."

"Aku juga, Vi. Tapi aku senang sekali kau mau pamit padaku. Selamat jalan ya, semoga perjalananmu menyenangkan! Ingat supaya balas sms ku kalau aku ada kesulitan tugas kimia, hehehe..."

"hihi... oke deh!"

Hening. Pelukan mereka masih belum terlepas. Desau ombak samar menerobos telinga mereka.

"Luff..." panggil Vivi.

Pelukan mereka semakin erat

"Hn?" Luffy menyahut pendek.

Pelukan mereka belum lepas.

"Nami-chan suka padamu..."

Masih belum lepas.

"Yaah... aku juga suka kok pada Nami. Dia temanku juga,"

Pelukan mereka belum lepas juga.

"Tapi perasaan Nami-chan berbeda... dia... dia mencintaimu..."

Hening.

PELUKAN MEREKA MASIH BELUM LEPAS.

"Yaahh... nanti aku akan bicara pada Nami kalau begitu," akhirnya Luffy bersuara lagi. Terdengar Vivi mendesah lega mendengarnya. Suara Luffy bagai vonis, yang menyatakan 'sesuatu'. Pelan, Ia melepas tanganya yang melingkari pinggang Luffy.

"Sungguh... Nami-chan suka padamu... bicaralah padanya, kurasa itu akan membuatnya lebih baik," ucap Vivi.

"Yeah... mungkin nanti aku akan melakukanya, Vi. Terimakasih sudah memberitahu aku..."

Mereka bertatapan. Sampai kemudian Vivi yang pertama kali bicara dengan suara lirih. "Oke... aku berangkat ya~ Oh, ya, dan aku minta kalau seandainya aku kembali, kau sudah harus berdamai dengan anak-anak fairy tail!"

"Hahaha... PASTI! laki-laki takkan ingkar janji!"

Lalu, Vivi berlalu. Luffy terpaku. Matanya kosong, menatap punggung Vivi yang melangkah menjauh. Ia kehilangan... ah... tidak... Ia tidak kehilangan teman. Dia hanya berharap, nanti akan bertemu Vivi lagi... Perpisahan terkadang hanya sementara kan?

Fyuuuhh... Luffy menghembuskan nafasnya. Vivi telah menghilang dari pandanganya. Ia pun berbalik, hendak meneruskan pesta valentinenya...

Tek.

Langkah Luffy terhenti.

Nami berdiri di belakangnya. TEPAT berada di belakangnya.

"Eh? Na... Nami? Aku..."

"..."

PLAAAAKKKKK!


"HAHAHAHA! " tawa laknat anak-anak fairy tail menggema. Rocky, Gray, Natsu, Gerald, Leon dan Elfman nyaris menggulingkan diri mereka masing-masing ke lantai.

"Waw! Rekor! Ada yang lebih PLAYBOY daripada Rocky!" Seru Gray, menepuk keras punggung Luffy yang merengut kesal. Luffy mengusap pipinya yang merah dan membengkak akibat gamparan maut high heel Nami yang setinggi lima senti.

"Jangan tertawa bodoh! Aku kan tidak tau kalau Nami melihatku begituan di pantai dengan Vivi!" keluh Luffy sebal. Anak-anak fairy tail malah tertawa semakin keras. Natsu tengah berjuang menyahut ucapan Luffy di sela tawanya.

"Haha... ja...jangan bilang kau ketularan... hahaha... virus hentainya Rocky!" serunya, disambut tawa yang lain.

"Sudah ah! JANGAN TERTAWAAA!" Luffy menjerit frustasi. Ia bengkit dan hendak menghantam anak-anak fairy tail itu. Sayangnya mereka jauh lebih gesit untuk menghindari pukulan Luffy sehingga aksi mengejar dan dikejar pun tak terelakkan. Dan aksi itu melahirkan erangan protes dari para penghuni guild.

"Woi, keren, pesta valentine kali ini diwarnai ricuh anak-tidak-bisa-bayar-utang sehingga LUFFY mengejar kelompok NATSU dan kawan-kawan, hahaha~" Gray tertawa bahagia sambil melompat ke atas lemari yang lebih tinggi tempat Mira menyimpan bir. "KEJAR TERUS LUFFF!" serunya keras.

"Woi Gray! Jangan jadi provokator kau! TURUN!" seru Gerald yang masih berusaha menghindari kecepatan lari Luffy.

"Oh No! Menonton kalian jadi victim nya si Luffy lebih asyik... kasihan deh! untungnya aku punya plan B untuk menyelamatkan dir..."

greb!

"Bilang apa kau Gray?"

Aura devil glare melebur. Ada 'seseorang' yang melingkarkan tanganya ke leher Gray dengan tekanan keras. 'Seseorang' menarik topi jeraminya lebih ke belakang, menampakkan beberapa perempatan di dahinya.

"GYAAAA~~~!"

Bruak! Jbuak! Bruaakkk! Jddaakkk!

"Hebat..." Natsu dkk hanya bersweatdrop ria mengamati Gray yang menjerit mengemis belas kasihan dibawah siksaan Luffy.

"BERISIK!" Mendadak, seruan nyaring yang jernih melengking, membelah ruangan besar guild itu. Bagai tersihir, semua keriuhan terhenti seketika, tanpa kecuali. Seperti film mati, semua mata tertuju ke arah suara.

Erza.

Ya, sang bidadari fairy tail itu berdiri anggun di bawah tangga. Entah terhipnotis lengkingan suaranya atau terhipnotis kecantikanya yang luar biasa, semua orang disitu bungkam. Tak terkecuali duo Luffy-Gray yang tengah berada dalam pose yang sangat memalukan. Luffy menduduki perut Gray dengan amat biadab, dan Ia saat itu amat bernafsu untuk mencekik Gray. Tapi kemudian Ia menurunkan tanganya dengan segera, dan ikut mematung bersama yang lain. 'daripada balik dihantam orang-orang sini, lebih baik ikut diam,' batin Luffy polos.

"Erza-saaann~~ kau cantik sekaliiii~~" tiba-tiba suara yang tak kalah melengking dari belakang meja bar terdengar. Mira.

"Hey, Mira! Terimakasih, kau juga cantik," jawab Erza. Cair sudah kekakuan. Bagai tersihir, semua aktivitas pun kembali. Tak jarang pula pengunjung pria yang masih mengagumi dan merayu Erza. Yah, Erza memang sangat cantik dengan gaun warna grape lembut dengan aksen untaian temali artstik. High heelsnya colourless, menambah kesan indah pada kaki jenjang nan mulusnya. Rambut merahnya tersanggul rapi ke belakang, kecuali beberapa helai di dekat telinganya yang dibiarkan menjuntai manis.

Mungkin hanya Lufy dan Natsu yangs ama sekali tidak tertegun menatap kecantikan luar biasa itu. Luffy masih sibuk mencekik Gray, padahal Gray sendiri kini sudah tak peduli. Sedangkan Natsu kini sibuk menyelinap untuk merampok makanan di meja. Nampaknya ayam bakar madu spesial dan steak sapi lezat yang teramat menggugah selera.

"E... Erza? K...kau cantik sekali?" seru Gerald dengan wajah sedikit bersemu merah.

"Ah, hai Ger... maaf ya aku lama..." jawab Erza lembut. Ia berjalan ke arah Gerald dengan anggunya, melahirkan golak kecemburuan di hati para pria single di tempat itu.

"Mau berdansa denganku, cantik?" rayu Gerald.

"Yeah, tentu Ger... tapi sebentar ya, aku rasa ada sedikit hal yang harus kutuntaskan," lirih Erza. Gerald memasang wajah bertanya-tanya. Ia menyentuh pundak Erza dan menanyakan hal itu. Tapi Erza hanya menanggapinya dengan senyuman manis khas.

Tanpa banyak bicara, Erza bergerak menjauhi Gerald. Oh tunggu, mau kemana gadis ini? Erza berjalan... berjalan... dan...

Erza berhenti di depan meja. Erza agak membungkukkan badanya sedikit. Tanganya yang dihiasi beberapa gelang perakpun menyibak sisi taplak satin yang menjuntai. Ia melihat ke arah kolong meja. Dan...

"Luffy?" panggilnya.

"Gyaaa!" Kedua makhluk laknat itu nyaris berteriak bersamaan. Hah! Rupanya kini Luffy sudah tidak disibukkan dengan Gray lagi. Kini ia berada di sisi Natsu untuk merampok ayam bakar spesial dari meja. Dan sekarang, piring besar berikut ayam bakar itu berikut makanan pelengkapnya sudah berada di tangan kedua bocah jabrik itu. Tidak heran mereka nyaris menjerit ketika melihat Erza datang.

"Hwaa! Erza... tolong jangan adukan ke Mira ya! Ini kuberi bagianku deh! Ya? Ya? Ya?" tiba-tiba Natsu bersuara panik.

"Huh~" Erza menghela nafas. "Aku tidak ada urusan denganmu, Natsu. makanlah itu, Mira membuat banyak kok tadi siang," erza sweatdrop.

"Lalu? Kenapa tadi Erza memanggilku?" tanya Luffy polos. Tanganya bergerak hendak meraih potongan ayam di piring Natsu, yang langsung disambut gamparan maut sang empu.

"Makan bagianmu, bodoh!" gertaknya kesal. Luffy hanya mendesah pasrah karena Natsu ternyata lebih protective dengan makananya.

"Yeah~" Erza masih sweatdrop, "Aku ada perlu dengan si topi jerami," ucapnya pelan.

"Oh? Uku? Udu upu?" tanya Luffy dengan mulut terisi. Sekarang giliran Natsu yang sweatdrop.

"Aku? ada apa?" translate Natsu kemudian.

"Sudahlah... ayo ikut. Daripada aku adukan pada Mira...?"

"OKE!" mendadak makanan di mulut Luffy sudah Ia telah bulat-bulat. ia pun melesat keluar dari kolong meja. Erza tersenyum. agaknya Ia takut kalau Mira mengetahui kenakalanya.

"Ok, Natsu Bye! Sisakan untuk Luffy ya!" Erza terkikik geli sebelum akhirnya mengamit lengan Luffy dan mengajaknya menjauh.


Alunan piano klasik Mira terdengar begitu lembut. Luffy dan Erza berada di sisi barat gedung.

"Kau mau apa Er?" tanya Luffy penasaran.

"Berbalik,"

"Hah?" Luffy kaget mendengar instruksi singkat itu.

"Berbalik," pinta Erza lagi.

"..."

"BERBALIK!"

"O..oke, oke..." panik, Luffy segera membalik tubuhnya. Uh, Ia kira kalau dalam balutan penampilan feminim, Erza takkan segalak itu~ "Iya, aku akan berbalik. Aku..."

Ucapan Luffy terhenti ketika Ia menangkap sosok Nami berada dua meter di depanya. Ups...

"E..Erz...?"

Lenyap.

"Yaaahhh~~ Si Erza nih! malah kabur!" keluh Luffy sebal. Ia pun tak ada pilihan lain selain mendekati Nami yang berdiri kaku tak jauh darinya.

"H...hai..." sapanya agak canggung. "Maaf ya? Kau mengadu pada Erza ya?"

"..."

"Nami? Kau dengar aku kan?"

Terdengar Nami menghela nafasnya panjang sebelum akhirnya suara merdunya terdengar. "Tidak, aku tidak mengadu tuh?" ucapnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke tiang yang berdiri di dekatnya. Ukiran artistiknya yang terkesan rumit membuat punggungnya terasa tidak nyaman. Tapi Nami tetap meletakkan punggungnya disana.

"Aah, udara malam disini nyaman ya? hahaha..."

"Apa kau merayu Vivi dengan cara begitu juga?" potong Nami mendadak.

Eh?

"Vivi kau bilang? Ah, maaf ya, soal yang tadi itu, Vivi hanya pamit padaku karena dia mau pindah. Nami tentu sudah tau soal itu kan? Nyatanya, kemarin kau memanggil Vivi waktu aku dan Vivi makan di kantin dan bilang kalau Vivi dipanggil wali kelas. Kukira itu untuk mengurus kepindahan Vivi, ya kan?" ujar Luffy innocent.

"Umm... yeah~ Kau benar, Luff," jawab Nami.

"Nami cemburu ya?"

"Hah! Luffy! Kau bodoh! Kau berangkat ke pesta valentine bersamaku, lalu tiba-tiba kau pergi dan bermesraan dengan perempuan lain! Pantas kan aku marah padamu?" Nami mendelik kesal. ia membuang wajahnya dari hadapan Luffy. Merasa tidak enak diperlakukan seperti itu, Luffy pun menarik pundak Nami.

"Jangan marah... kau tau kan kalau aku dan Vivi berteman seperti halnya aku dan kamu?" Luffy menghela nafas. lalu melanjutkan ucapanya. kali ini dengan suara yang lebih rendah, "Apa salah kalau aku memberi Vivi simpati?"

"Jangan-jangan kau mengajakku kemari hanya karena aku cadangan karena aku batal pergi dengan Vivi?" rajuk Nami.

"Oh, tentu tidak. Aku tulus mengajakmu. Aku tak pernah memilih dalam berteman. Aku sayang pada semua temanku. Tak terkecuali kamu. Apa salah kalau aku ingin menghabiskan malam 14 februari-ku dengan orang yang aku sayangi?"

"Tapi kenyataanya kau malah berduaan dengan Vivi!" tukas Nami acuh.

"Itu karena... yeah, Vivi juga temanku, dan aku tak mungkin mengabaikan temanku hanya karena sebuah pesta dan... "

hening. hanya suara piano Mira yang samar-samar masih mendentingkan lagu-lagu klasik bernuansa romantis.

"... lagipula kan partnerku malam ini adalah KAU, "

Nami blushing seketika. Tidak... kata-kata Luffy bukan rayuan. Kata-kata Luffy menyiratkan ketulusan. Ketulusan yang sangat dalam.

"Aku... aku..." agak tergagap, Nami mencoba mencari kata-kata lain yang pas.

"Sudahlah Nami, kau tau aku tidak romantis... aku takut kalau aku salah bicara dan melukai hatimu... bagaimana kalau kita masuk ke dalam?"

"O...oke..."

Tanpa aba-aba, mendadak tangan mulus mereka berdua bertaut. Dan mereka mulai melangkah ke pintu.

"Eh, tunggu," ucap Luffy tiba-tiba.

"Iya?"

Langkah mereka terhenti sejenak.

"Terimakasih ya Nami tidak pulang dulu... aku kira kau ngambek dan meninggalkan aku. Kau memang baik~" Luffy berkata dengan wajah polosnya yang manis. Nami tersenyum. ia hanya mengangguk pelan. Tubuh mereka berdekatan. Wajah mereka juga. Yah, tentu, karena Nami memang tinggi, nyaris setinggi Luffy.

Dekat...

Dekat...

Dekat...

BRAAAKKK! mendadak, pintu terbuka paksa. Spontan Nami dan Luffy langsung menjauh. Nampak Lucy berdiri di depan pintu dengan nafas agak terengah.

"Maaf mengganggu," uncapnya, "tapi sekarang gawat! darurat tingkat A!" serunya. Nami dan Luffy hanya saling memandang.

"Ikut aku!" pinta Lucy.

"Ok!"


Di sisi kanan, Sanji, Zorro, Ussop dan Brook.

Di sisi kiri, Gray, Leon, Rocky dan Gerald.

Angin malam berhembus memainkan anak rambut mereka semua. Tatapan dendam tersirat erat. Menikam pupil mata lawan masing-masing.

"Mugiwara menantang duel! MALAM INI!"


TBC