'SkyLark'

oleh Majah

diterjemahkan oleh Ilie

Link ke versi original: (ganti # dengan titik)

www#fanfiction#net/s/2126570/9/Incorporated

Disclaimer:

Saya tidak memiliki CCS, dan Majah yang memiliki cerita dan segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan CCS dalam cerita ini. Semua tempat, peristiwa sejarah dan hal-hal lain yang disebutkan, dimana Anda mungkin tidak tahu IRL, adalah hasil imajinasi Majah. Segala kemiripan dengan dunia nyata hanyalah kebetulan semata.

Ja, have a nice read~


Dari Chapter Sebelumnya:

Pemuda itu mengulurkan tangan membantunya berdiri. Dalam satu gerakan cepat, ia kembali berdiri.

"Gak ada yang retak atau patah, kan? Aku gak bisa memaafkan diriku sendiri kalau kamu luka parah." kata pemuda itu khawatir, masih menggenggam tangan Tomoyo.

Tomoyo masih menatap pemuda tersebut ketika salah satu asisten berhasil menyusulnya.

"Nona Tomoyo, Anda baik-baik saja? Saya tadi masih jauh dari Anda ketika saya menangkap apa yang terjadi disini." tanya asistennya; terengah-engah.

Tomoyo kembali ke alam sadar. "Umm...Aku baik-baik saja, Lana." kata Tomoyo tersenyum pada asistennya yang cemas. Kemudian ia kembali menatap pemuda di depannya. "Ummm...ah..." lalu menunduk menatap tangannya yang masih dalam genggaman pemuda itu.

"Oh!" Pemuda itu juga tersadar. "Aku minta maaf," katanya meminta maaf sambil memegang belakang kepalanya dengan satu tangan. "...Miss...Tomoyo?" lalu pria itu menunduk menatap tangan halus yang masih ia pegang. "...dan karena aku masih memegang tangan Anda, aku ingin mengambil kesempatan ini untuk memperkenalkan diri." Pria itu tersenyum dan mengubah genggamannya menjadi jabat tangan.

"Senang bertemu denganmu. Namaku Eriol." Ia menjabat tangan Tomoyo. "Eriol Hiiragizawa."


Chapter Delapan: Perasaan Bersalah

Tomoyo masih menatap wajah pemuda itu saat ia dengan lemah menjabat tangannya. Hiiragizawa, pikirnya. Dimana ia pernah mendengar nama itu? Terdengar sangat akrab di telinganya.

Eriol mengangkat sebelah alisnya saat menyadari gadis itu menatapnya. "Ada yang salah, Miss Tomoyo?" tanya Eriol; menunduk untuk mengecek wajah Tomoyo yang memerah. Pria itu meletakkan tangannya yang lain di atas tangan Tomoyo yang berada dalam genggamannya.

"Aku pikir kacamatamu sedikit miring," Tomoyo memulai.

"Oh," Eriol berkedip dan melirik bayangannya di jendela kaca bandara. Di tengah keributan dan keramaian bandara, suatu keajaiban mereka masih bisa mendengar perkataan satu sama lain.

"Dan aku pikir..." lanjut Tomoyo pelan. Eriol kembali memandang gadis itu penuh tanya. "...sebaiknya kamu melepaskan tanganku sekarang, Mr. Hiiragizawa." Tomoyo terkejut melihat dirinya begitu tenang dan begitu pelan suaranya ketika berbicara dengan pria itu. Dalam kasus lain, ia pasti akan meneriaki pria beruntung itu.

Eriol terdiam sesaat lalu menatap tangan yang masih digenggamnya. "Oh! Aku minta maaf." Pria itu melepaskan tangan Tomoyo dan sedikit membungkuk meminta maaf. "Maafkan aku. Dan tolong... panggil aku Eriol." Pria itu tersenyum padanya.

Eriol... Sekali lagi, nama itu terdengar akrab. Ia mengamati pemuda di depannya. Dia tinggi dengan tubuh tegap. Rambut gelapnya halus dan matanya memancarkan kecerdasan di balik kacamata. Pria itu tersenyum hangat padanya tapi ada sesuatu tentang kehadirannya yang meneriakkan kemewahan dan membuat gadis itu menggali ingatannya dimana ia pernah mendengar nama tersebut.

Lana berdeham, menyela pikiran Tomoyo. "Nona...barangnya...bea-cukai..."

"Oh!" seru Tomoyo, akhirnya kembali ke masalah awal. Ia melihat melewati bahu Eriol dan berusaha mencari Kepala Petugas Bea-Cukai yang tadi ia hampiri. "Tidak... Dimana dia!" kata Tomoyo, sedikit panik.

"Hmmm?" kata Eriol. Pria itu bergeser sedikit agar gadis itu bisa melihat dengan lebih baik. "Apa yang jadi masalah?" tanyanya.

Tomoyo maju selangkah dan berjinjit untuk melihat orang-orang yang datang dari gerbang terminal terdekat. "Kepala Petugas Bea-Cukai," gadis itu memulai. "..Aku mencoba berbicara dengannya ketika..."

"Ketika aku menghalangi jalanmu." Eriol menyelesaikan. Pria itu bergeser ke sampingnya, berusaha melihat keramaian di sekitar mereka.

Tomoyo tersipu. "Aku gak bermaksud terdengar seperti itu...tapi..."

Eriol melambaikan tangannya. "Tidak, tidak... jangan khawatir tentang hal itu. Aku yang salah kok." kata sang pemuda tersenyum meminta maaf lagi padanya. "Bukannya bermaksud ikut campur, tapi ada urusan apa kamu dengan Makoto-san?"

"Makoto-san?" tanya Tomoyo pada pria di sampingnya.

"Makoto Yune, Kepala Petugas Bea-Cukai." jawabnya sambil menyipitkan mata mencoba mencari pria yang dimaksud.

"Kamu kenal beliau?" tanya Tomoyo ingin tahu.

Eriol menyerah mencari pria itu di antara kerumunan orang-orang sekitar mereka dan sekali lagi memfokuskan perhatian ke wanita di sampingnya. "Bisa dibilang..." pria itu memulai. "...Aku pernah berbisnis dengannya." Pria itu memasukkan kedua tangannya ke saku dan dengan santai berbicara dengan Tomoyo. "Jadi katakan padaku... Kenapa kamu membabat jalanan mencarinya? Aku gak tahu kalau dia tertarik pada wanita cantik."

Pipi Tomoyo memanas saat pria itu bercanda. "Bukan seperti itu, oke." Ia menjernihkan pikiran dan berusaha berkonsentrasi. "Hanya saja ada hubungannya dengan bisnisku." kata Tomoyo menjelaskan secara umum, tidak ingin memberikan detil ke orang asing.

"Ah, tentu saja. Siapa aku, coba-coba menanyakan hal macam ini." kata Eriol.

Tomoyo tidak mengira dirinya begitu transparan. "Maaf.. Aku gak bermaksud seperti itu..." ia ingin mengatakan hal lain tapi Eriol menghentikannya.

"Jangan khawatir. Lagipula itu memang bukan hakku untuk bertanya. Tapi asal kamu tahu, aku ini pengacara. Mungkin aku bisa membantumu dalam masalah bea-cukai."

"Kamu pengacara! Tapi kamu terlihat begitu muda!" Tomoyo berseru terkejut.

Eriol tertawa. "Itu yang dibilang semua orang. Tapi...aku benar-benar pengacara."

"Ummmm..." Tomoyo memberi pria itu pandangan curiga.

Eriol tertawa lagi. "Oke... Aku gak menyalahkanmu karena gak percaya padaku. Itu terserah kamu. Tapi sekali lagi...aku mungkin berguna kalau kamu mau percaya padaku."

"Benarkah?" Tomoyo menyilangkan kedua lengan di depan dadanya. "Berguna gimana?"

"Well, misalnya..." pria itu mengeluarkan satu tangan dari sakunya dan menunjuk bandara yang luas. "Tampaknya kamu kehilangan Kepala Petugas Bea-Cukai. Aku bisa menghubunginya dalam sekejap."

"Kamu serius?" kata Tomoyo pada Eriol dengan matanya terbelalak.

"Kenapa gak? Kenapa aku harus bercanda tentang hal macam itu apalagi jelas banget urusanmu dengan beliau itu sangat penting." Pria itu memiringkan kepala menunjuk asisten Tomoyo yang berdiri di dekat mereka, menatap mereka lelah.

Tomoyo masih menatap Eriol curiga.

Eriol menghela napas dan mengeluarkan ponselnya. "Ah... masyarakat zaman sekarang. Gak percayaan." Pria itu menekan tombol pada ponselnya dan menempatkannya di telinga dan menunggu. Pandangan curiga Tomoyo digantikan dengan pandangan berharap sementara ia menunggu.

"Halo? Makoto-san?" kata Eriol pada orang yang menjawab di seberang telepon. "Ya, ini saya." Eriol menunduk mengedipkan mata ke Tomoyo. "Tidak... Tidak ada masalah dengan Mr. L—" Pria itu memotong apa yang mau dikatakannya, sadar bahwa Tomoyo mendengarkan dengan seksama. "—Tidak ada masalah dengannya." akhirnya pria itu berkata. "Tapi ada seseorang yang saya kenal, sekarang berdiri di samping saya, yang kelihatannya punya masalah dengan bea-cukai. Kami di bandara. Apa Anda bisa menemui kami? Atau beritahu dimana Anda." Pria itu berhenti sejenak mendengarkan jawaban Makoto-san. "Uh-huh...oke...kami akan kesana." Eriol menutup ponselnya.

"Well?" kata Tomoyo cemas.

Eriol tersenyum padanya. "Beliau akan menemui kita di bagian informasi, beberapa gerbang dari sini."

"Yang benar!" kata Tomoyo. Matanya berseri-seri. "Kita harus pergi sekarang! Aku sudah disini sejak waktu makan siang. Aku gak mau kehilangan beliau lagi. Ayo cepat!" Tanpa berpikir gadis itu meraih lengan Eriol dan menyeret pria itu dengannya.


Sakura berjalan dengan kaki telanjang di pantai pasir putih. Kakinya tenggelam dalam butiran pasir hangat sementara ia memanjakan diri dengan pemandangan laut di hadapannya. Ia melepas topi jerami yang ia pakai. Sakura mengayun-ayunkan tangan yang memegang topi jerami tersebut sementara pikirannya mengembara ke kejadian yang baru-baru ini terjadi dalam hidupnya. Dulu ia begitu bosan. Ia memiliki segalanya. Semua yang diinginkan gadis sepertinya. Tapi apa itu benar-benar miliknya? Semua yang ia punya sekarang? Ia tidak perlu bekerja. Semuanya terhampar di depannya dan hanya itu. Tanpa kepuasan. Tidak ada sama sekali. Ia menengadah memandang langit cerah dan membiarkan rambut cokelat kemerahannya terbawa angin. Tapi dimana akhirnya ia menemukan kepuasan?

Di InterVEST.

Ia tidak tahu kenapa. Di InterVEST, ia memulai dari nol. Mungkin terdengar bodoh tapi ia benar-benar menghargai semua yang telah ia capai di InterVEST. Semua itu memang tidak nyata tapi ia tahu ia bisa mengatakan dengan bangga bahwa itu miliknya. HANYA miliknya.

-Masukkan bunyi telepon disini-

Lamunan Sakura diganggu bunyi ponselnya. Ia merogoh tas tangannya dan mengeluarkan benda tersebut. Ia membukanya dan melihat layarnya.

'Damaski-is memanggil...'

"Hoe!" seru Sakura. "Dia nelpon...lagi?" Sekarang masih tengah hari dan ia baru saja berbicara dengan pria itu tadi pagi. Demi Tuhan, ia lebih sering berbicara dengan Damaski-is dibanding dengan Tomoyo.

Sakura menjawab telepon. "Apa maumu?" katanya blak-blakan; mengingat-ingat bahwa ia harus waspada karena bagaimanapun juga mereka bukan sekutu di InterVEST.

"Apa? Gak ada suara manis yang menyapa halo?" pria yang berada di seberang telepon terkekeh pelan.

"Kalau tadi pagi aku tahu itu kamu, aku bakal mut—"

Tapi Damaski-is segera menyela, "Aku tahu... aku tahu. Gak perlu mengatakannya keras-keras." Pria itu terdiam sejenak dan mungkin mengganti posisinya dilihat dari suara gemerisik yang ia dengar dari telepon.

"Jadi..." Sakura berkata pelan.

"Hmmm?" balas Damaski-is.

"Kenapa kamu nelpon!" serunya tidak sabar.

"Aku tadi janji kalau aku bakal telpon kamu begitu selesai meeting, kan?"

"Itu saja? Memangnya aku peduli kamu telpon atau gak."

"Tentu saja kamu peduli. Kamu kangen aku."

Sakura tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Berani-beraninya!"

Damaski-is hanya terkekeh di saluran telepon seberang.

"Berhenti mempermainkan aku, Damaski-is. Aku tahu kamu gak sungguh-sungguh menyukaiku. Bagimu aku cuma bidak bisnis dan kamu itu tipe orang yang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang kamu mau." Sakura membalas pria itu.

"Ouch," Damaski-is jelas berpura-pura terdengar terluka. "Kamu gak percaya aku menyukaimu, eh?"

"Jelas gak," kata Sakura tegas. "Gimana bisa. Mengingat sejarah kita di InterVEST... itu gak mungkin banget."

"Yang berlalu biarlah berlalu. Ini awal baru bagi kita berdua." kata Damaski-is dengan nada serius.

"Anggap saja ini awal yang baru tapi tolong... berhenti main-main, Damaski-is. Jangan samakan aku dengan cewek-cewek online lain yang biasa kamu 'permainkan'."

"Aku gak 'main-main' dengan cewek." kata Damaski-is pelan.

"Whatever." Sakura mengabaikannya. Ia duduk di atas pasir dan melipat kaki sementara ia menempatkan topi ke kepalanya.

"Jadi..." sekarang giliran Damaski-is yang memakai kata itu.

"Jadi... apa?" balas Sakura. Jari-jarinya membuat jejak di pasir.

"Kamu udah mengerjakan PR-mu?"

"PR?" Sejenak ia tidak mengerti apa yang pria itu katakan. "Hoe! Itu."

"Iya. ITU." tegas Damaski-is.

"Apa kamu bercanda? Baru beberapa jam berlalu." Jari-jarinya terus meninggalkan jejak di atas pasir. "Kamu bilang kamu ngasih aku waktu tiga hari." keluh Sakura. Ia tidak sadar bahwa ia berbicara dengan nada manis dan tenang di kalimat terakhir.

Damaski-is terdiam entah karena apa. Satu-satunya yang terdengar adalah suara ombak yang menyapu kerang di tepi pantai. Waktu berlalu sementara penghitung waktu di ponselnya terus berjalan. Kedua belah pihak masih tidak bergerak dan terdiam, tapi suasananya nyaman... dan damai.

"Agatha..." Damaski-is akhirnya berbicara.

"Hmmm...?" kata Sakura; jarinya masih sibuk dengan karyanya di atas pasir.

"...uh...gak."

"Eh?" balas Sakura dengan nada penuh tanya.

"Bukan apa-apa. Beneran..." pria itu menghela napas dalam-dalam. "...bukan apa-apa. Lupakan."

"Kalau kita lagi online, aku bakal ngirimin kamu ratusan tanda tanya." kata Sakura cemberut.

Damaski-is tertawa kecil. "Aku yakin kamu pasti melakukannya." jawabnya dengan santai. "Dengar... Aku akan berhenti main-main seperti maumu. Karena kita sudah melewati tahap ini."

"Uh-huh."

"Jadi kita kembali ke transaksi." Pria itu mengingatkannya. "Aku percaya, kamu sedang melakukan bagianmu sekarang. Jadi gak ada yang bisa kulakukan selain menunggu."

"Terima kasih sudah mempercayaiku." kata Sakura; sinis.

"KEPERCAYAAN itu, sayangku, unsur yang sangat penting dalam suatu hubungan. Entah dalam urusan bisnis maupun pribadi."

"Seperti yang kamu bilang." balas Sakura.

"Tapi tentu saja, kamu bebas menelponku kapan pun kamu kangen aku." Kalau Sakura bisa melihat wajah Damaski-is, pria itu pasti sedang tersenyum lebar sekarang.

"Damaski-is!"

"Oke...oke...bercanda. Berhenti main-main dalam 5...4...3...2...1...Berhenti main-main." Pria itu kembali ke nada monotonnya. "Kamu tahu gimana caranya menghubungiku kalau kamu sudah memutuskan."

"Tentu saja." kata Sakura blak-blakan.

"Semoga harimu menyenangkan." Lalu pria itu memutuskan telepon.

Sakura agak tersentak mendengar pria itu tiba-tiba memutus telepon. Ia melepaskan ponsel dari telinganya dan melihat layar ponsel di depannya. Mereka tidak banyak berbicara tetapi durasi teleponnya lama. Keheningan itu yang membuatnya lama. Pria itu kelihatannya tidak peduli meneleponnya dalam waktu yang lama dengan ponselnya. Ia menebak siapapun pria itu di dunia nyata, sudah jelas Damaski-is bukan orang miskin. Tagihan teleponnya mungkin setinggi genteng kalau pria itu terus-terusan meneleponnya seperti ini. Lalu ia berpikir, tentu saja, pria itu tidak miskin! Damaski-is itu full-player. Dan full-player membayar sejumlah uang yang besar di InterVEST. Orang biasa tidak mungkin mampu membayarnya.

"Dia mungkin pengusaha kaya atau semacamnya." Sakura berkata pada dirinya sendiri.

Sakura menghela napas dan memasukkan ponselnya kembali ke tas tangan. Entah karena apa, ia merasa murung. Ia mengingatkan dirinya kalau harusnya ia bersyukur panggilan telepon itu berakhir. Tidak ada gunanya berbicara dengan Damaski-is lebih lama. Lalu kenapa ia merasa kecewa?

Tidak lama setelahnya, ponselnya berdering lagi. Hal itu membuatnya terkejut.

"Hoe!" ia tertawa kecil. "Kelihatannya dia gak tahan." Ia mengangkat telepon sekali lagi dan menjawabnya. "Kamu gak tahan, kan!" goda Sakura.

"Kamu benar, bunga kecilku! Aku gak tahan jauh-jauh darimu." Pria di saluran telepon seberang berkata semangat.

Bunga kecil? Dia memanggilku 'Bunga kecil'. Lalu hal itu menyadarkannya. Peneleponnya bukan Damaski-is.

"Yukito!" seru Sakura. "Ba...bagaimana kabarmu?" Ia sedikit tergagap karena kecerobohannya. Harusnya ia melihat caller-ID di ponselnya. Sakura mencatat dalam hati untuk selalu mengecek layar ponsel sebelum menerima telepon mulai sekarang. Untung saja Yukito tidak mencurigainya.

"Aku baik-baik saja, my angel." jawab Yukito dengan manis. "Walaupun, aku merasa bersalah gak bersamamu sekarang di surga pelarian itu."

Aku juga mulai merasa bersalah... tapi tentang hal lain, pikir Sakura. "Oh, jangan khawatir. Aku ngerti kok." Sakura berseru pada Yukito. "Apa boleh buat. Kamu benar-benar dibutuhkan disana."

"Kadang aku bertanya-tanya kenapa aku bisa mendapatkan seseorang yang pengertian sepertimu." kata Yukito. Hal ini membuat Sakura merasa lebih bersalah. Bagaimana ia merasa lebih tidak sabar menunggu pria lain meneleponnya dibanding dengan Yukito.

"Kata-katamu berlebihan." kata Sakura berusaha tersenyum. Ia seharusnya tidak merasa bersalah. Lagipula, ia toh tidak punya hubungan apa-apa dengan Damaski-is. Seperti yang dikatakan pria itu, transaksi bisnis lain. Hal ini membuatnya merasa lebih baik.

"Tidak ada kata-kata yang dapat mendeskripsikanmu, bunga kecil."

Sakura memerah, "Oh, Yukito." Sakura berkata pelan.

"Aku mencoba menghubungi dari tadi," kata Yukito. "Teleponmu sibuk terus."

"Hoe!" Ia mematikan fungsi tersebut dari ponselnya karena ia tidak suka diganggu ketika sedang menelepon seseorang. "Itu...," ia mati-matian mencari alasan yang tepat. "Itu tadi telemarketer." Bagus, Sakura. Telemarketer memuakkan itu lagi. Well, kenapa tidak? Ia menggunakan alasan yang sama dengan Tomoyo tadi. Tidak ada ruginya dipakai lagi? Hal ini akan membuat alasannya konsisten. Ia mengangguk sendiri dan berjalan bolak-balik di tepi pantai. Pohon-pohon tropis terdekat mulai menghamparkan bayangan di tempat Sakura berdiri sementara matahari berpindah posisi di langit.

"Telemarketer?" tanya Yukito.

"Iya," tegas Sakura. "Ada telemarketer yang mengganggu pagi ini. Dan dia terus-terusan menawarkan servis tambahan buat ponselku." Pembohong. Pembohong.

"Oh," kata pria itu. "Kamu terlalu baik untuk menolaknya makanya dia mengambil keuntungan darimu."

Bagus. Sama dengan yang dikatakan Tomoyo.

"Telemarketer itu dari perusahaan mana? Biar aku yang bicara dengannya. Dia merepotkan. Maksudku, membuang waktumu selama itu."

"Gak!" kata Sakura sedikit berteriak.

"Huh?" Yukito terdengar bingung.

Ia berdeham. "Maksudku... gak usah melakukan hal itu. Aku sudah membereskannya. Dia gak akan menggangguku lagi."

"Kamu yakin, bunga kecil?" pria itu terdengar khawatir.

"IYA," kata Sakura berdoa agar Yukito mempercayainya.

Doanya dikabulkan. "Well, oke. Kalau kamu bilang begitu," kata Yukito dengan riang.

Yukito berbicara dengannya selama beberapa menit. Memberinya kabar tentang perkembangan terkini tentang proyeknya dan kakaknya. Sebaliknya Sakura memberitahu pria itu tentang Tomoyo dan masalah bea-cukainya. Keduanya setuju untuk menelepon Tomoyo di sore hari.

"Aku harus pergi, Bunga Kecilku," Yukito akhirnya berkata, "Aku masih harus menemui Touya."

"Oh, baiklah. Sampaikan salamku padanya," kata Sakura sambil tersenyum dan sekali lagi berdiri di tempat yang sama ia duduki tadi.

"Semoga mimpimu indah malam ini," kata Yukito padanya. "Love you."

"Love... you...," kata Sakura dengan suara pelan. Yukito memutuskan telepon dan Sakura diam menatap ponsel di tangannya. Yukito seperti biasa penuh dengan kata-kata manis dan suara lembutnya ketika berbicara dengannya. Hal itu masih membuatnya tercengang bagaimana ia masih berpikir dua kali ketika mengatakan kalimat 'Love you' pada pria itu hari ini. Perasaan bersalah yang sama kembali menggerogoti Sakura.

"Aku gak melakukan hal yang salah, kan?" kata gadis itu; berbisik pada dirinya sendiri. Ia menunduk melihat kakinya, tapi hal itu malah menambah perasaan bersalah yang mengalir dalam dirinya dan hammpir membuatnya menjatuhkan ponsel yang ia pegang.

Di atas pasir, jejak yang secara tidak sadar dibuat jarinya masih terlihat. Di tengahnya, satu jejak gambar tampak mencolok. Di dalam gambar berbentuk hati tertulis nama Damaski-is.


"Maafkan saya atas kecelakaan ini, Miss Daidouji," Kepala Petugas Makoto Yune meminta maaf kepada Tomoyo ketika pria itu memberikan dokumen pengiriman.

"Aku kira itu bisa dibilang wajar dengan barang mahal dari Constantine," kata Eriol sambil tersenyum padanya. "Bahkan aku, terkejut kamu bisa mendapatkannya."

"Aku punya koneksi," celoteh Tomoyo. "Dan aku pernah membantu seseorang yang berpengaruh dari Constantine. Aku ingin berterima kasih, Mr. Makoto karena menghabiskan waktu Anda untuk menghadapi masalahku. Dan kamu juga," katanya pada Eriol. "Karena membantuku."

"Sama-sama," kata Makoto-san.

"Kubilang panggil saja aku Eriol," pria yang satunya mengingatkan Tomoyo.

Tomoyo hanya tersenyum kepada kedua pria itu. Ia sangat lega karena barangnya sekarang diangkat ke mobilnya dengan selamat. Asistennya sedang mengurus hal itu bersamaan ketika mereka mengobrol.

"Well, kupikir lebih baik kami pergi sekarang, Makoto-san." Eriol berkata kepada pria yang lebih tua itu; mengulurkan tangannya. "Terima kasih untuk waktunya."

Makoto-san menjabat tangan si pemuda. "Kapan saja. Jika Anda membutuhkan sesuatu, mohon diingat untuk menelepon saya." Setelah menjabat tangan Eriol, pria itu mengulurkan tangannya kepada Tomoyo. "Dan itu juga berlaku bagi Anda, Miss Daidouji. Semua teman Mr. Hiiragizawa adalah teman kami juga."

Tomoyo menjabat tangan pria itu dan berpikir apa reaksinya ketika mengetahui bahwa ia baru bertemu Eriol siang tadi. "Terima kasih," kata Tomoyo sambil tersenyum cerah. "Sekali lagi terima kasih." Kemarahan yang meluap-luap sebelum benar-benar mereda.

Dan dengan begitu, Makoto-san mengucapkan selamat tinggal dan meninggalkan keduanya berdiri di depan gerbang paket khusus.

"Itu tadi berjalan lancar, kan?" seru Eriol, masih menatap punggung pria yang berjalan menuju keramaian bandara.

"Iya, Tomoyo mengangguk. "Kamu benar-benar pengacara," kata Tomoyo; tertawa kecil. "Aku minta maaf karena gak percaya tadi."

Eriol meletakkan kedua tangan di depannya. "Gak perlu minta maaf. Hal itu benar-benar wajar. Aku toh orang asing. Dan sudah sewajarnya seorang lady seperti kamu tidak mempercayai pria yang baru saja ditemui."

"Dan seorang lady seharusnya tidak menarik orang asing itu dan menyeretnya bersamanya," seru Tomoyo; dengan humor di matanya.

Eriol tertawa juga dan mengangkat lengan yang dicengkeram gadis itu. "Kupikir lenganku bakal patah. Segalanya terjadi begitu cepat dan aku bersumpah kalau ini di lapangan terbuka, serangga pasti bakal menabrak kacamataku seperti mereka menabrak kaca mobil."

Tomoyo tersipu, "Aku benar-benar meminta maaf."

"Jangan mengkhawatirkan hal itu. Itu tadi... bisa jadi pengalaman," kata Eriol sambil menatapnya. "Ngomong-ngomong, Ms. Tomoyo... Tadi kamu bilang kamu sudah berada disini sejak waktu makan siang?"

"Iya," jawab Tomoyo.

"Jadi asumsiku kamu belum makan siang?" kata Eriol; melepaskan kacamatanya dan membersihkannya dengan selembar kain. "Mungkin, kafe di seberang jalan terdengar menarik?"

Pandangan Tomoyo jatuh melewati pintu kaca otomatis bandara ke kafe kecil seberang jalan.

"Aku tahu mungkin kafe itu gak sesuai dengan selera eleganmu," kata pria itu sambil memakai kacamatanya. "Sangat sangat jauh dari budaya mewah Constantine...," lanjutnya. "...tapi aku dengar mereka menawarkan cappuccino terbaik di kota."

Bibirnya melengkung membentuk senyuman dan ia dengan masam mendongak menatap pria itu, "Wah... Mr. Hiiragizawa... apa kamu mengundangku makan siang?"

"Oh tolong... panggil aku Eriol," Eriol tersenyum.

Tomoyo mengangkat sebelah alisnya.

"Aku janji kita impas," lanjut pria itu sambil tersenyum malu-malu. "Ayolah... aku yang traktir."

"Oke... kalau kamu pikir kehadiranku bisa membuatmu senang sampai menganggapnya impas," Tomoyo menyetujui.

"Luar biasa!" seru Eriol.

"Tapi dengan satu syarat," kata Tomoyo.

Eriol menatapnya penuh tanya.

"Kamu harus memanggilku Tomoyo. Hanya Tomoyo." Ia tersenyum manis padanya.

"Dengan senang hati...," angguk pria itu. "Apakah kamu keberatan jika aku menawarkan lenganku lagi, Tomoyo?" kata Eriol sambil mengulurkan lengan yang gadis itu cengkeram tadi.

"Berani sekali kamu melakukannya," kata gadis itu ketika menggandeng lengan Eriol.

"Ya." Eriol berjalan menuju pintu keluar dengan Tomoyo di sampingnya. "Memang. Berani sekali aku," kata pria itu dengan santai tapi matanya tampak berkilau misterius karena arti tersembunyi yang hanya diketahuinya.


"George, apa yang kamu dapatkan untukku?" Sakura bertanya langsung ketika ia melompat-lompat datang dari lorong dan masuk ke kamar hotelnya.

"Taphi Nona, inih barru beberrafa djam. Mazih adha bhanyak hal yank ferlu dhikonfirrmazih," protes George; melirik Sakura dari tempatnya duduk.

Pelayan tua itu sekarang sedang duduk di bangku yang tampaknya terlalu kecil untuknya sementara membungkuk di depan laptop kecil Sakura. Karakter gadis kecil yang tersenyum dengan rambut dikuncir dua masih berkelana dari kota ke kota dalam InterVEST.

"Aku tahu, George, dan aku benar-benar minta maaf," kata Sakura ketika mengempaskan diri ke kursi rotan besar dengan alas bantal empuk bermotif bunga persik di sudut ruangan. "Tapi aku harus mengakui kalau aku mulai gelisah dengan semua ini."

"Ghelizah, Nona?" George membiarkan karakternya duduk di bawah naungan pohon dan menoleh melihat majikannya. "Afakah inih bherarti Andha muhlay memferchayai Mazter?"

Sakura bersandar ke kursi yang nyaman itu dan menutup matanya sementara menjawab pelayannya. "Jujur saja... Aku punya firasat. Intuisi yang memberitahuku kalau patch semacam itu... ada."

"Ithu bukhannya tidhak mungkhin terdjadi, Nona."

"Kamu juga berpikir begitu, George?" kata Sakura masih dengan mata tertutup.

"Yha."

"Itu opini pribadi atau kamu sudah menemukan sesuatu di dunia bawah tanah InterVEST?"

George terdiam. Terdiamnya pria tua itu membuat Sakura membuka satu mata dan mengintip George setengah khawatir.

"Oh George," mulai Sakura dengan lemah. "Aku agak berharap firasatku salah."

Sang pelayan kembali ke karakternya di dalam game dan melanjutkannya dengan menggunakan kontrol. "Andha tauh benarr, Nona. Kahlaw zaya tidhak zematah-matah berrganthunk fadha hal-hal zubdjektif. Hal ithu harruz didhukunk dhengan fhaktha."

Hal itu membuat Sakura terbangun dan duduk tegak. "Jadi kamu sudah menemukan sesuatu di bawah tanah."

"Zaya mendhengarr zezuatuh dhi bhauwah thanah," George mengangguk. "Taphi...," pria itu menekankan. "...mazih khabarr ahngin, behlum adha yank pazti. Nahmun kitha zemuwa tauh bahuwa..."

"Jika ada asap, maka ada api." Sakura menyelesaikan kalimat George.

"Yha. Taphi djangan kahwathir. Zaya berharraph unthuk menghubhungih behberrapha zumber therferchayah. Zaya fikir zaya bhiza memberrikhan lhaforan lengkhaph zore inih." Ada keheningan singkat sebelum George berbicara lagi, "Bagaymanah djikha Mazter mengathakhan yank zebenarrnyah, Nona. Afa yank akhan Andha lakhukhan?"

Sakura tidak langsung menjawab pelayannya. Tampaknya ia mengambil waktu untuk memikirkannya dengan keras.

"Reaksi Kinomoto Sakura menghadapi segala hal akan seperti ini." Akhirnya ia berkata sambil menatap George dengan mata berkaca-kaca, "Aku gak akan pernah... dalam keadaan waras memikirkan hal semacam itu, George."

Mata sang pelayan sejenak meninggalkan layar laptop untuk melihat ekspresi wajah Sakura yang dilemparkan padanya. Majikannya mencoba untuk terlihat manis sambil menggoyang-goyangkan tubuh kekanakan di kursinya.

Memastikan George mengerti maksudnya, Sakura kembali ke posisi tegaknya dan berdeham.

"Agatha, di sisi lain...," lanjutnya dengan nada yang lebih serius dan formal. "...akan melihat keuntungan besar yang Damaski-is tawarkan." Ia mengakhiri pernyataannya dengan senyum jenaka dan bangga.

"Beghitu," jawab George. Pria itu menggelengkan kepala dengan lemas lalu kembali ke karakternya di InterVEST yang terlihat menarik-narik baju setiap orang yang dilewatinya.

"Itu saja?" tanya Sakura serius. "Hanya itu yang kamu katakan?"

"Nona, dhari zemuwa wakthu yank zaya habizkhan membanthu uzaha Andha... Zaya beladjar zatu hal."

Sakura berkedip. "Yaitu?"

"Kahlaw hiduph zaya tidhak akhan fernah membohzankhan azalkhan zaya tethaph sethia menurruthi kheinginan Andha."

"Hoe!"

"Zaya fikirr Andha mengehluwarkhan yank terbhaik dhari dhiri zaya, iyyah tidhak?" Lalu pria itu memberikan Sakura senyuman lebar yang memperlihatkan giginya yang ompong. George melakukan hal tersebut sambil menyodorkan layar laptop sehingga Sakura bisa melihat senyum riang karakternya di dalam InterVEST.

Sakura menatap dari sosok pelayannya yang tersenyum ke gadis kecil imut di dalam InterVEST. Ia tidak bisa tidak memberikan senyum gugup.

"Asal kamu senang, George. Asal kamu senang."


T/N:

Review, kritik, saran, maupun sekedar salam ditunggu ;)

Memutuskan apdet setelah nonton Kuroko no Basket episode 25. Bener-bener heboh di episode terakhir ini. Tumblr isinya pada spam Kurobasu semua, lagi pada galau kelihatannya. Kurobasu fandom lagi di heartbreaking momen. Saya juga sebenarnya. Tiap sabtu selalu nunggu episode terbaru keluar. Sekarang tiap sabtu, saya harus ngapain?! Aku butuh season duaaa!

Begitulah, makanya saya apdet agar setidaknya hidup saya agak sedikit cerah dengan men-share chapter baru kepada teman-teman semua.. Cheer me up, please.. Right now, the light of my life is too dim.. :'(

Hope you have a nice day~