*Balasan Review non-login:
#natasyaratmu: Waah … arigatou. Saya sangat tersanjung. Semoga chapter kali ini seru, ya! ^^
#Masane Sayuri: Eh? Benarkah fluff? Wah, makasih. Saya kira malah kebanyakan galaunya. Hehehe …. Thanks ya udah review ^^
.
.
.
Drabble of Len x Miku
Genre: (little bit) Romance, and Friendship
Category: Drabble
Disclaimer: Vocaloid © Yamaha Corp.
Summary: Beberapa momen yang tercipta diantara Len dan Miku. Apakah suatu saat mereka akan saling menyadari perasaan masing-masing?
.
.
.
*) Special for Chocolate, Caramel, Coffee, Sugar, Melody, and Nita-chan (Because they are my beloved friends)
.
.
.
(Butuh Tumpangan?)
Miku menghela nafas. Karna ban sepedanya bocor, gadis berambut hijau tosca itu terpaksa harus jalan kaki. Mana siang ini panas banget lagi! Pasti semua orang langsung nggak nafsu pulang ke rumah dan lebih memilih 'ngadem' dikedai minuman deket sekolah.
"Sepeda lu kemana, Mik?"
Miku menoleh, mendapati seorang Len Kagamine yang sedang mengendarai motor dengan kecepatan rendah.
"Bocor," jawab Miku singkat.
"Butuh tumpangan?" tanya Len dengan cengiran lebar.
Muka Miku tersipu. Tapi pada akhirnya, Miku duduk dibelakang Len.
(Emas Karatan)
I am now singing in the sky
Even just a little bit, even just a little bit
As long as you'll be able to smile
Suara Len mengalun merdu diruang musik. Didepannya terdapat Leon yang memainkan gitar akustik, dan Miku yang bersiap untuk membaca puisi. Ya, mereka sedang latihan untuk acara kenaikan kelas.
"Suaramu bagus, Len," puji Miku.
"Iya lah, suara emas," balas Len ge-er.
"Iya, bagus kayak emas KARATAN," kata Miku sambil nyengir lebar.
Jleb! Sakitnya itu dihati tahu nggak? *tunjuk pinggang bawah*
(Bingung)
Sejujurnya, Len bingung sama perasaannya ke Miku. Dia suka sama Miku, tapi dia masih suka sama mantan pacarnya yang namanya Yuzuki Yukari itu. Sungguh, ini dilema bagi seorang Len.
"Sekarang gini aja, siapa orang yang paling deket sama lu?" tanya Kaito mencoba menyelesaikan permasalahan Len.
"Miku."
"Yang sering buatin lu bekel makan siang?"
"Miku."
"Yang suka bayarin lu uang kas?"
"Miku."
"Orang yang sering bikin lu ke rumah orang itu?"
"Miku."
"Orang yang paling setia nungguin lu?"
"Miku."
"Yaudah, berarti lu cinta sama Miku."
Len kini mengangguk paham. Len paham kalau hatinya lebih menyayangi Miku lebih dari apapun.
(Trouble)
Len menengok kesana-kemari, niatnya sih dia pengen cari Miku. Tapi ternyata, Miku itu sekalinya lepas dari pandangan Len langsung ilang gitu aja –tanpa jejak kaki.
"Len, sini deh! Gue pengen ngomong sesuatu," panggil Tei.
"Apaan sih? Gua kagak mau dengerin gossip," kata Len ketus.
Yang Len tahu, Tei itu tukang gossip –walaupun kenyataannya gossipnya selalu benar. Tapi yang bikin Len risih itu si Tei jatuh cintrong sama dirinya. Jadi Len kadang suka ogah gitu sama Tei.
"Sebenernya, lo mending jangan deket-deket sama Miku deh! Miku itu sebenernya dari dulu manfaatin lu! Kalau nggak percaya tanya aja Gumi atau Kaiko," kata Tei to the point.
Len hanya bisa diam –tidak merespon kata-kata Tei. Tapi entah mengapa kepalanya terasa pusing dan hatinya terasa sangat sakit.
(Please Say the Truth)
Miku nampak bahagia. Pulang sekolah memang hal yang paling ia tunggu-tunggu karena ada masakan lezat buatan Okaa-san tercinta.
"Miku, gua mau ngomong sama lu," kata Len dengan nada serius.
"Ngomong apa?" tanya Miku bingung. Ia heran mengapa Len jadi seserius ini.
"Lu … sebenernya dari dulu manfaatin gua, kan?" tanya Len.
Miku terdiam. Gadis itu bingung mau merespon apa.
"Siapa yang mengatakan itu padamu?" tanya Miku lirih.
"Itu nggak penting buat lu," jawab Len ketus.
Len berjalan meninggalkan Miku begitu saja. Sementara Miku hanya bisa diam ditempat. Bulir-bulir air mata mulai muncul disudut matanya.
"Tolong, katakan kebenarannya padaku," kata Miku lirih. Gadis itu kini mulai frustasi.
(Median)
"Miku, lu galau berat?"
Miku menghela nafas. Ring Suzune, temen les Len yang paling cerewet itu kini datang mengkhawatirkan drinya.
"Enggak kok, aku hanya lagi 'median'," jawab Miku lirih.
Ring berpikir sejenak. Median itu sama dengan nilai tengah alias bingung antara lanjut atau berhenti alias galau. Intinya, 'median' itu kode rahasia buatan Miku yang mengatakan kalau 'ia sedang galau'.
"Sialan tuh si Len! Dia nyari gara-gara sama lu?" tanya Ring dengan perempatan didahinya.
"Enggak, kok. Aku tak apa-apa," jawab Miku berbohong.
Ring hanya menghela nafas. Ia tahu kalau Miku itu orang yang kuat, tegar, dan bisa berakting ceria ketika hatinya sedang sedih.
"Aku akan selalu mendukungmu, Miku," gumam Ring.
(Obat Depresan)
Sejujurnya, Len merasa ia melakukan kesalahan. Kenapa Len justru malah termakan omongannya Tei? Kenapa rasanya ia begitu emosi ketika tahu kalau Miku ternyata memanfaatkan dirinya? Lalu, apa maksud teriakan 'suka' yang Miku lontarkan dulu? Kenapa rasanya hidup itu terasa tidak dapat Len mengerti?
"Len … lu keliatan depresi," komentar Lui.
"Ya … begitulah," balas Len ketus.
"Beli obat depresan gih," celetuk Lui usil.
"WTF! Dah, lu!" seru Len.
Tapi sejujurnya, obat depresan yang dapat membuat Len tenang ialah nyanyian Miku yang sempat Len rekam dulu.
(Hilang)
Miku menghela nafas. Entah mengapa marahnya Len terhadap dirinya membuatnya merasa sangat frustasi –bahkan untuk makan saja ia merasa tidak nafsu. Ia merasa ada yang salah dengan dirinya. Sepertinya ada yang hilang dari dirinya.
Miku membuka tempat pensilnya. Disana hanya terdapat sebuah pensil dan sebuah penghapus.
"Ne, Len. Dulu kau pernah menghilangkan pensilku dan berpura-pura tidak tahu. Tapi jika pensil yang kau hilangkan itu dari mantan pacarmu … apa kau akan terus menjaganya dan tidak menghilangkannya?" tanya Miku berbica sendiri.
Miku menghela nafas. Rasanya beban dihatinya masih sangat banyak. Rasanya ia ingin teriak pada saat ini juga.
"Ne, Len. Apa kalau aku yang menghilang dari hadapanmu, kau akan berpura-pura tidak tahu?"
Oke, sekarang Miku merasa dirinya sudah semakin gila saja. Miku tak habis pikir, kenapa dia malah berbicara sendiri seperti ini? Apakah sistem kerja otaknya sedang sedikit bermasalah?
Tanpa Miku sadari, kini sedikit demi sedikit bulir-bulir air mata muncul dari sudut matanya.
(Nostalgia)
Len kini hanya bisa bernostalgia. Ia ingat betapa banyaknya pengorbanan seorang Miku Hatsune untuknya. Entah itu berupa waktu, jasa, dan sebagainya.
"Miku …," gumam Len pelan.
Kini Len tahu, seberapa besar perasaannya pada Miku
.
.
.
Apapun yang terjadi, membenci seseorang yang kita sukai itu sangat susah, bukan? ^^
.
.
.
Tak terasa udah 89 drabble aja. Padahal awalnya cuman iseng-iseng doang. Hahaha …
Besok chapter terakhir. Tapi kalau sempat ada ide, cerita ini bisa saja jadi 'fanfic' bukan 'drabble' lagi.
Oke, see you next time! ^^
