Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

High School DxD © Ichiei Ishibumi

.

.

.

Pairing:

Naruto x Koneko x Rias

Mungkin

(Naruto x harem)

Closer

By Hikari Syarahmia

Senin, 7 Desember 2015

.

.

.

Chapter 9: Siapa?

.

.

.

Chapter sebelumnya:

Jantung Koneko kini bercahaya terang di saat merasakan perasaan yang aneh. Perasaan aneh yang dirasakannya sejak lama saat bertemu dengan Naruto. Koneko terdiam membisu dalam dekapan hangatnya Naruto. Ia merasa nyaman sekarang. Seulas senyum tipis terukir di wajahnya yang datar.

'Aku benar-benar jatuh cinta padamu, Menma,' batin Koneko di dalam hatinya.

.

.

.

Naruto terus memeluk Koneko. Betapa bahagianya sudah menemukan gadis yang akan dilindunginya. Akhirnya misi ini akan dia jalankan dengan sepenuh hati. Dengan penuh semangat yang membara, Naruto akan menjaga Koneko dari orang-orang yang mengincarnya.

Seperti tadi, ada seseorang yang telah melepaskan serangan jarum-jarum berjumlah banyak ke arah Koneko. Entah siapa orang itu. Namun, yang pasti mungkin dia sudah mengetahui bahwa Koneko adalah gadis yang membawa batu permata cahaya itu. Karena itu, dia mengincar Koneko. Tapi, untung ada Naruto yang menyelamatkan Koneko dari serangan mendadak itu.

Syukurlah, pada akhirnya suasana kembali tenang seperti biasa.

Koneko yang merasa berdebar-debar. Jantungnya terus bercahaya terang karena merasakan kehangatan pelukan orang yang disukainya. Ia merasa nyaman dan tenang.

Hening.

Suasana hening sejenak. Naruto masih memeluk Koneko dengan eratnya. Perasaan senang karena telah menemukan gadis yang dilindunginya. Dimulailah tugas besarnya sebagai pelindung Koneko dalam misi pentingnya.

Setelah itu, Naruto melepaskan pelukannya dari pundak Koneko. Ia tersenyum lagi sambil memegang dua bahu Koneko. Kini telinga dan ekor kucing Koneko sudah menghilang. Koneko sudah menjadi manusia seperti biasa.

"Jadi, kamu adalah nekomata, Koneko?"

Koneko mengangguk sambil masih menunduk.

"I-Iya, Menma," Koneko kelihatan salah tingkah ketika menyadari dua bahunya dipegang oleh Naruto.

"Syukurlah, aku sudah menemukanmu, Koneko-san. Kamu adalah orang yang harus kulindungi mulai dari sekarang."

"A-Apa? Kenapa kamu harus melindungi aku?"

Koneko mendongak ke arah wajah Naruto. Dilihatnya, Naruto memasang muka yang sangat serius.

"Itu karena kamu memegang batu permata cahaya. Banyak orang jahat yang kini mengincarmu. Untuk itulah aku datang ke sini atas perintah orang tuaku. Aku disuruh untuk mencari gadis yang memegang batu permata cahaya itu melalui tujuh petunjuk teka-teki. Sudah sekian lama aku mencari, akhirnya aku menemukan gadis itu melalui tujuh petunjuk. Gadis itu adalah kamu, Koneko-san. Atas perintah misi dari orang tuaku, aku akan melindungimu segenap jiwaku dari orang-orang yang mengincar batu permata cahaya itu. Aku berjanji akan selalu berada di sampingmu. Menjagamu setiap saat."

Mendengar hal itu, membuat Koneko kaget sekali. Kedua matanya sedikit membulat.

"Ja-Jadi, kamu adalah orang suruhan yang diminta untuk melindungiku?"

"Iya, aku adalah seorang ninja. Namaku bukan Uzumaki Menma. Tapi, Namikaze Naruto. Anak dari Hokage keempat yang memimpin desa bernama Konoha. Apa kamu sudah mengerti?"

Naruto sedikit tersenyum. Ia masih memegang dua bahu Koneko. Koneko terdiam sejenak sambil menatap wajah Naruto lekat-lekat.

BETS!

Dengan kasar, Koneko menepis dua tangan Naruto yang memegang dua bahunya. Dia berwajah sangat sewot.

"Aku tidak butuh perlindungan darimu. Aku bisa sendiri. Jadi, jangan menjadi pahlawan kesiangan seperti itu," sahut Koneko mundur sedikit."Aku tidak suka dilindungi ataupun melindungi. Sebaiknya kamu hentikan saja misimu itu, daripada kamu terluka nantinya. Aku juga bukan orang lemah dan ..."

Belum sempat Koneko menyambungkan perkataannya, Naruto malah memotongnya.

"APAPUN YANG TERJADI, AKU TETAP AKAN MELINDUNGIMU MESKIPUN KAMU TIDAK SUKA ATAU TIDAK. ITULAH TUGASKU SEBAGAI SEORANG TEMAN BAIKMU, KONEKO-SAN!" seru Naruto keras dengan lantang dan mampu membuat Koneko terdiam saat itu juga.

Keduanya saling menatap serius dalam jarak yang cukup jauh. Wajah Naruto menegang. Sementara Koneko berparas datar dengan kedua mata yang sedikit melotot.

Lantas Naruto menghembuskan napas kekesalannya karena merasakan Koneko yang mulai keras kepala. Sepertinya Koneko tidak gampang didekati dengan mudah. Dia adalah tipe gadis yang berpendirian kuat dan juga bebal.

Koneko memutuskan untuk berbalik badan menuju meja yang dipenuhi oleh bahan-bahan pembuatan miniatur peredaran planet-planet di tata surya itu. Ia pun melangkahkan kakinya seraya mengatakan sesuatu pada Naruto.

"Terserah apa katamu, Menma. Aku tidak peduli. Tapi, aku peringatkan jangan dekat-dekat denganku. Kalau perlu jauhi aku. Aku tidak mau keberadaanku sebagai orang yang membawa batu permata cahaya itu, diketahui oleh orang-orang yang mengincarku. Kamu juga jangan menunjukkan jati dirimu sebagai ninja. Cukup aku saja yang tahu. Aku akan menjaga rahasiamu dengan baik."

Naruto terpaku mendengarnya. Ia tercengang.

"Koneko-san, kamu benar-benar keras kepala ya!"

"Biarkan saja."

"Tapi, jika tidak ada orang, kamu boleh memanggilku Naruto. Kalau ada orang, kamu panggil saja aku, Menma."

"Ya ... Ya ... Aku mengerti, Naruto," Koneko manggut-manggut."Ayo, kita kerjakan PR kelompok kita itu!"

Gadis imut itu yang duluan meninggalkan Naruto. Naruto terdiam sebentar memandangi punggung Koneko.

'Koneko-san, apapun yang terjadi, aku akan berusaha mendekatimu dan melindungimu. Biarpun kamu tidak suka dilindungi seperti ini. Tapi, percayalah aku bisa menyelamatkanmu dari orang-orang yang ingin mengincarmu. Aku juga penasaran di mana letak batu permata cahaya itu kamu simpan. Baiklah, aku tidak akan menyerah untuk terus membuatmu dekat padaku! Kita lihat saja nanti.'

Itulah perkataan Naruto yang sudah bertekad kuat. Ia pun tersenyum simpul dan segera melangkahkan kakinya ke arah Koneko yang sudah menunggunya.

Tugas kelompok dilanjutkan lagi.

.

.

.

Sementara itu, di asrama perempuan yang lain, tepatnya di kamar asrama nomor 23. Di mana Sakura, Hinata, Ino dan Ten Ten berada.

Terlihat keempat gadis itu sedang sibuk dengan aktifitas masing-masing. Empat gadis yang berasal dari desa Konoha dan juga termasuk ninja. Mereka menghabiskan waktu weekend ini cuma berdiam diri di kamar asrama.

Sakura yang sedang tidur-tiduran di atas tempat tidurnya sendiri. Ia asyik membaca sebuah novel cinta. Ino yang berdiri di dekat jendela. Dia asyik menelepon seseorang dengan tawa yang keras. Ten Ten yang sedang menonton televisi. Sedangkan Hinata duduk berhadapan dengan Ten Ten. Dia memasang wajah suramnya.

Entah apa yang dipikirkan Hinata. Dia sedang merenung sesuatu. Dia sedang galau. Gundah gulana begitu.

Sesaat Sakura menyadari kegelisahan Hinata. Lantas dia memandang ke arah Hinata.

"Hinata, kamu kenapa?"

Hinata tersentak dengan suara Sakura yang bertanya padanya. Lalu ia melihat ke arah Sakura.

"Ah, ti-tidak ada apa-apa kok, Sakura," jawab Hinata tersenyum kecil. Berusaha menyembunyikan kegelisahan hatinya itu.

"Apa benar?" Sakura tidak percaya.

"Be-Benar."

"Hm ... Apa mungkin kamu masih memikirkan tentang orang yang bernama Menma itu?"

DEG!

Jantung Hinata kaget mendengarnya. Ternyata Sakura dapat memahami perasaannya dengan baik.

"Eh, da-darimana kamu tahu, Sakura?" Hinata tercengang.

"Tentu saja aku tahu," Sakura bangkit dari acara tidur-tidurannya dan memilih duduk di tepi tempat tidurnya sambil meletakkan buku di atas meja."Waktu itu, aku sudah menelepon Minato-Ojisan, kan? Minato-Ojisan bilang kalau Naruto bersekolah bukan di Sora Academy ini. Tidak mungkin Minato-Ojisan bohong sama kita. Orang itu pasti bukan Naruto. Bisa saja dia itu mirip dengan Naruto. Di dunia ini, setiap orang pasti mempunyai kembaran. Jadi, jangan terlalu dipikirkan lagi, Hinata."

Gadis berambut indigo itu tertegun mendengarnya. Namun, hatinya tetap yakin kalau laki-laki yang berjumpa dengannya waktu itu adalah Naruto. Tidak mungkin ada seseorang yang sangat mirip dengan Naruto. Hinata menepis rasa keraguannya yang sempat muncul karena perkataan Sakura tadi. Ia percaya kalau Naruto berada satu sekolah yang sama dengannya.

"Tapi, Sakura. Aku tetap yakin dia itu Naruto. Tidak mungkin aku salah," tukas Hinata yang berwajah sangat serius.

Mendengar perkataan Hinata itu, menarik perhatian Ten Ten. Ten Ten, gadis berambut hitam diikat cepol dua itu, ikut andil dalam percakapan antara Sakura dan Hinata.

"Kalau kamu yakin laki-laki itu adalah Naruto, kamu bisa memeriksanya lewat byakugan-mu, Hinata," usul Ten Ten tiba-tiba.

Spontan, Sakura dan Hinata tersentak dengan usulan Ten Ten.

"Oh iya, benar juga, Ten Ten," Sakura tertawa lebar.

"Be-Benar, aku bisa memeriksa keadaan sekolah ini dengan byakugan-ku. Dengan begitu, keberadaan Naruto dapat kuketahui di sekolah ini. Benar atau tidak," Hinata mendapatkan secercah harapan.

"Ya, coba saja sekarang, Hinata," Ten Ten mengepalkan tangannya di depan tubuhnya.

"Ba-Baik," Hinata segera mengaktifkan kekuatan ninjanya."BYAKUGAN!"

.

.

.

Sekarang Naruto dan Koneko berada di koridor lantai satu sekolah. Mereka sudah selesai mengerjakan tugas kelompok membuat miniatur letak peredaran planet-planet di tata surya. Kini miniatur itu berada dalam kotak kardus berukuran sedang, yang dibawa oleh Naruto sendiri.

Mereka berjalan beriringan. Saat mulai tiba di dekat pintu sekolah, Naruto pun berbicara pada Koneko.

"Koneko-san, biar aku yang menyimpan miniatur ini di kamar asramaku sampai tiba waktunya dikumpulkan. Boleh, kan?"

Koneko menghentikan langkahnya sejenak. Dia melirik laki-laki yang berada di sampingnya ini.

"Ya, boleh saja sih. Tapi, aku ragu nanti kamu menyimpannya di tempat sembarangan. Terus nantinya hilang."

"Hei, jangan berprasangka buruk padaku, Koneko-san! Aku ini tidak payah, tahu!"

"Siapa yang bilang kamu payah? Aku tidak bilang begitu, kan?"

"Huh, Koneko-san. Kenapa sikapmu menyebalkan sekali sekarang, hah?"

"Aku tidak tahu. Kamu juga menyebalkan, Naruto."

Mereka saling menatap dengan tajam. Wajah Koneko yang sangat datar. Sedangkan wajah Naruto sangat sewot.

Tiba-tiba, muncul seorang gadis yang berlari-lari kecil ke arah mereka berdua.

"MENMA-SAN!"

Naruto menyadari dirinya dipanggil oleh seorang gadis. Dia pun menoleh ke arah asal suara, tepatnya dari arah luar pintu sekolah.

Koneko juga melihat ke arah yang dilihat Naruto. Tampak seorang gadis berambut merah datang mendekat ke arah Naruto. Naruto dan Koneko sangat mengenalnya.

Rupanya Rias. Siswi kelas dua belas itu berpakaian kasual yang sedikit memperlihatkan lekukan tubuhnya. Dia kelihatan cantik sekali. Sehingga membuat Naruto terpesona melihatnya.

"Ri-Rias-senpai!" Naruto kelihatan gugup dan salah tingkah begitu."A-Ada a-apa Rias-senpai memanggilku?"

Rias tersenyum lembut sambil berdiri di dekat Naruto. Rona merah tipis hinggap di dua pipinya.

"A-Ano, kamu ada waktu nggak?" tanya Rias yang juga kelihatan gugup.

"Eh, wa-waktu?" Naruto heran.

"I-Iya, kamu bisa nggak temani aku pergi keluar sekolah sebentar? Aku ingin pergi ke pusat desa Sora karena ada sesuatu yang ingin aku beli."

"Oh ...," Naruto membulatkan mulutnya seperti huruf o."Aku rasa bisa, Rias-senpai."

Rias sangat senang mendengarnya. Secara langsung dia merangkul lengan kiri Naruto sehingga membuat Naruto kaget.

"Terima kasih, Menma-san."

"I-iya."

"Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang!"

"Tu-Tunggu dulu, Rias-senpai!"

Naruto kelabakan ketika hendak diseret oleh Rias. Lalu ia menoleh ke arah Koneko.

"Koneko-san, aku titip dulu miniaturnya," sambung Naruto menyodorkan kotak kardus itu pada Koneko. Koneko menerimanya dengan wajah yang datar.

"Uhm, baiklah," jawab Koneko mengangguk pelan.

Naruto tersenyum. Ia pun langsung diseret oleh Rias.

"Ayo, Menma-san!"

"Koneko-san, aku pergi dulu ya! Sampai nanti!"

Naruto melambaikan tangannya pada Koneko. Koneko terdiam sambil memeluk kotak kardus itu kuat-kuat. Wajahnya tampak kusut saat memandangi kepergian Naruto bersama Rias. Mereka pergi menjauh dari Koneko yang terpaku di tempat.

Seketika wajah kusut Koneko berubah menjadi suram. Dia menundukkan kepalanya dengan lesu.

"Naruto, kamu malah ikut sama Rias-senpai. Padahal kamu berjanji akan selalu ada di dekatku dan melindungiku. Tapi, nyatanya kamu malah mau menemani Rias-senpai pergi. Kamu memang laki-laki yang tidak bisa menepati janji. Aku benci padamu, Naruto!" ungkap Koneko yang merasa sangat kesal. Dia cemburu karena Naruto malah pergi dengan gadis lain tepat di depan matanya.

Kemudian gadis berambut putih itu melangkahkan kakinya keluar dari gedung sekolah. Dia meneruskan perjalanannya menuju ke gedung asrama. Dengan perasaan yang bercampur aduk, Koneko berjalan gontai sendirian. Tanpa ada yang menemani. Tanpa ada yang lewat juga di tempat itu. Sungguh sunyi dan sepi.

Tapi, diam-diam dari arah belakang Koneko, ada seseorang yang mengikuti Koneko sekarang. Dia tersenyum simpul sambil menutupi kepalanya dengan tudung jaket jingganya. Entah siapa dia. Namun, yang pasti tujuannya adalah melindungi gadis yang memegang batu permata cahaya itu.

.

.

.

Di tempat lain, di tengah hutan yang lebat dan jauh dari Sora Academy. Tampak beberapa orang yang sedang berkumpul. Mereka memakai jubah hitam dengan tudung yang menutupi wajah mereka sehingga tidak kelihatan. Entah siapa mereka. Namun, yang pasti mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius.

"Apa kamu sudah tahu siapa orang yang memegang batu permata cahaya itu, Machi?" tanya salah satu dari mereka pada gadis berambut merah muda diikat awut-awutan. Gadis bernama Machi.

Machi berwajah datar dengan mata yang sayu. Kepalanya juga ditutupi dengan tudung jaketnya. Ia menatap ke arah orang yang bertanya padanya.

"Belum. Aku belum mengetahuinya secara pasti. Tapi, yang kuketahui kalau orang yang memegang batu permata cahaya itu berasal dari ras wizard," jawab Machi dengan tenang."Informasi itu kuketahui dari ketua. Tapi, itu benar atau tidak. Lalu sekarang aku sedang mempunyai urusan lain."

"Urusan lain apa, Machi?" tanya yang lainnya.

Machi melirik ke arah orang yang berdiri di sebelah kirinya.

"Sepertinya ada seseorang yang sangat hebat, akan menghentikan niat kita untuk membunuh orang yang memegang batu permata cahaya itu."

"Siapa dia?"

"Entahlah, saat aku mencoba menyerang temannya sewaktu di perpustakaan tadi, tubuhnya bisa bersinar kuning seperti api. Lalu muncul tangan raksasa bersinar yang berasal dari tubuhnya dan menangkis seranganku dengan cepat. Dia juga bisa merasakan keberadaanku. Aku merasakan adanya kekuatan yang sangat besar bersemayam di dalam tubuhnya. Dia bukan orang sembarangan."

Semua orang yang berkumpul di tempat itu saling pandang dan kaget setengah mati. Tapi, salah satu dari mereka, menampilkan senyum sinisnya.

"Kurama ..." desis orang yang tersenyum sinis itu.

Semuanya melihat ke arah orang yang tersenyum sinis itu. Mereka mengerutkan kening masing-masing.

"Kurama? Siapa dia?"

"Kurama adalah musang berekor sembilan yang telah menyerang desa Konoha, enam belas tahun lalu. Aku tidak menyangka jinchuriki Konoha juga bersekolah di Sora Academy. Ini sangat menarik."

Machi menyipitkan kedua matanya. Ia tampak penasaran dengan cerita tentang "jinchuriki" itu.

"Jadi, kamu tahu soal anak bersinar kuning itu? Lalu tentang jinchuriki itu?" Machi pun bertanya.

Orang yang tetap tersenyum sinis itu, memandang ke arah Machi dengan serius.

"Tentu saja aku mengenalnya karena aku juga seorang ninja yang berasal dari desa Konoha. Jinchuriki adalah sebutan bagi orang yang dijadikan wadah penyegelan biju yang berkekuatan sangat hebat. Jinchuriki itu bernama Namikaze Naruto. Anak satu-satunya dari pasangan Namikaze Minato dan Namikaze Kushina. Anak Hokage keempat. Akhirnya Naruto diperbolehkan keluar dari desanya. Ini bisa menjadi kesempatan buatku untuk mengambil Kurama dari dalam tubuhnya. Khukhukhu ..."

Orang itu menyeringai sinis. Semua teman-temannya terdiam sambil menatapnya dengan serius. Tidak ada yang berani menyahut perkataannya itu.

Kini para musuh mulai muncul di permukaan. Konflik sesungguhnya akan segera datang sebentar lagi.

.

.

.

Di sisi lain, yaitu di ruang guru yang berada tepat di gedung sekolah Sora Academy. Terdapat empat pria yang sedang berkumpul sambil duduk dalam satu meja. Mereka adalah guru yang mengajar di sana.

Empat pria itu terdiri dari Maito Gai, Killer Bee, Shiranui Genma, dan Kabuto. Mereka berempat adalah ninja utusan dari desa Konoha atas perintah sang Yondaime Hokage. Mereka diutus untuk mengawasi pergerakan Naruto dalam melindungi Koneko dari ancaman orang-orang yang mengincar Koneko. Jadi, empat ninja terpilih ini menyamar menjadi guru di Sora Academy. Tapi, Naruto tidak tahu kalau dirinya diawasi oleh empat orang kepercayaan Ayahnya.

Maito Gai, seorang pria berambut hitam model bob. Selalu bersemangat dengan cengirannya yang lebar dan selalu menyilaukan mata. Dia berperan sebagai guru yang mengajar di bidang mata pelajaran matematika.

Killer Bee, pria berambut putih dan selalu suka nge-reff ini, berperan sebagai guru yang mengajar di bidang mata pelajaran seni dan juga kepala asrama murid laki-laki.

Shiranui Genma, pria berambut coklat. Berperan sebagai guru yang mengajar di bidang mata pelajaran olahraga.

Terakhir adalah Kabuto. Dia berperan sebagai guru yang mengajar di bidang mata pelajaran Fisika dan petugas yang menjaga perpustakaan.

Begitulah tentang keempat orang itu. Lalu mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting. Hal ini berkaitan tentang Naruto.

"Bagaimana?" tanya Genma yang menopang dagunya dengan tangannya yang ditahan di atas meja.

"Naruto sudah mengetahui Koneko adalah gadis pembawa batu permata cahaya itu," jawab Kabuto yang duduk berhadapan dengan Genma.

"Yooo, syukur sekali si bocah berambut kuning telah menemukan gadis yang dilindunginya. Aku yakin Naruto bisa menjalani misi ini dengan baik," Killer Bee ikut berbicara dengan nada nge-reff yang sangat keras. Membuat ketiga temannya bengong melihatnya.

"Tapi, walaupun begitu Naruto tetap harus diawasi. Apalagi kita belum tahu musuh seperti apa yang akan mengincar Koneko nantinya. Kita tidak boleh lengah sedikitpun," kata Genma.

"Betul yang dikatakan Genma. Sebagai utusan Yondaime Hokage yang terhormat, kita harus berjuang melindungi murid-murid kita dengan semangat muda yang membara!" seru Gai sangat bersemangat.

Semuanya tersenyum dengan semangat Gai yang terlalu berlebihan begitu.

Lalu Kabuto memegang kacamatanya sebentar.

"Tapi, aku rasa bukan hanya Koneko yang diincar. Naruto juga diincar karena dia adalah jinchuriki. Baru kali ini, Naruto mendapatkan misi di luar desa seperti ini. Selama ini, keberadaannya disembunyikan oleh Yondaime Hokage dari khalayak umum. Hanya orang-orang desa Konoha saja yang tahu tentang Naruto bahwa Naruto adalah jinchuriki yang menggantikan peran Ibunya. Aku takut jika ada pengkhianat desa Konoha juga ada di sini. Mengetahui tentang informasi Naruto dan menyebarkannya secara luas di luar desa. Bisa saja begitu, kan? Mengingat Naruto sudah bersekolah di sini."

Semuanya pun terperanjat dengan perkataan Kabuto.

"Yooo, benar juga!" Killer Bee mengangguk setuju."Kalau begitu, Naruto dalam bahaya juga."

"Hm, begitukah? Ini akan menjadi masalah yang sangat besar nantinya," Genma mulai merasa khawatir. Terlihat dari wajahnya yang mulai kusut.

"KITA HARUS MELAKUKAN SESUATU, TEMAN-TEMAN!" spontan Gai bangkit berdiri dari duduknya dan menghentakkan dua tangannya di atas meja."KITA HARUS MEMPERKETAT PENGAWASAN KITA TERHADAP DUA TARGET SEKALIGUS YAITU NARUTO DAN KONEKO. DEMI SEMANGAT MASA MUDA! KITA HARUS MELINDUNGI MEREKA SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN!"

Gai berputar-putar dan berhenti sejenak di tempatnya berpijak. Ia pun mengacungkan jempolnya ke depan seraya melemparkan cengirannya yang memperlihatkan giginya yang bersinar terang.

TIIIING!

Otomatis, ketiga guru itu sweatdrop melihat tingkah aneh yang ditunjukkan oleh Gai.

"Yeah, itu pasti Gai!" balas Killer Bee yang masih berkata dengan nada nge-reff sambil menggerakkan dua tangannya sesuai dengan nada irama suaranya.

"Hm, dasar merepotkan!" gumam Kabuto yang tersenyum simpul.

"Kamu bersemangat sekali, Gai," Genma juga ikut tersenyum simpul.

Kemudian mereka pun melanjutkan pembicaraan empat mata mereka lagi. Kali ini membahas topik lain.

.

.

.

Di pusat desa Sora sekarang ini.

Tampak dua murid Sora Academy sedang berjalan di antara keramaian orang-orang di jalan desa. Di dua sisi jalan desa tersebut, dipenuhi oleh pertokoan yang berderet-deret. Suasana sangat ramai dan bising. Apalagi hari sudah menunjukkan pukul satu siang. Sudah saatnya memasuki waktunya makan siang.

Sang senior yaitu Rias, sudah mendapatkan sesuatu yang dibelinya. Dia mengapit lengan kanan Naruto dengan erat. Sementara Naruto membantu membawakan sesuatu yang dibeli Rias tadi. Sesuatu itu sudah dimasukkan ke dalam plastik hitam kresek.

Rias tampak senang sekali bisa berduaan dengan Naruto sekarang ini. Entah apa yang terjadi. Kelihatannya Rias menaruh hati pada laki-laki ninja ini.

Naruto sendiri mau saja menuruti kemanapun Rias membawanya. Dia memang selalu bersikap baik pada Rias dan selalu mau menolong Rias jika Rias mengalami kesulitan. Ia sendiri juga menaruh hati pada seniornya ini. Terbukti, pada saat seperti ini, jantung Naruto tidak pernah berhenti berdetak kencang. Ia merasa hatinya tidak menentu sekarang.

"Rias-senpai, kita kemana lagi sekarang?" tanya Naruto yang sudah kelelahan.

Rias celingak-celinguk sebentar. Ia tersenyum lebar sambil menunjuk ke sebuah restoran.

"Kita ke sana dulu yuk, Menma-san!"

"Hm ..."

Naruto melihat ke arah restoran yang ditunjuk oleh Rias itu.

"Restoran?"

"Iya, kita makan dulu di sana. Soalnya aku sudah lapar," Rias tersenyum sambil melirik ke arah Naruto."Jangan khawatir. Aku yang akan mentraktirmu makan. Ayo, Menma-san!"

"Eh, tu-tunggu, Rias-senpai!"

Si Namikaze kewalahan ditarik lagi oleh Rias. Mereka pun berjalan cepat ke arah restoran itu.

Ternyata ada seseorang yang juga lewat di jalan itu. Seseorang yang juga bersekolah di Sora Academy. Ia melihat Naruto dan Rias yang baru saja masuk ke dalam restoran itu.

"Eh, itukan Rias senpai? Kenapa dia bisa bersama si rambut kuning itu?" sahut seseorang itu."Hm, lebih baik aku ikuti saja mereka."

Maka seseorang itu masuk juga ke restoran itu. Ia penasaran karena Rias bisa bersama Naruto di tempat seperti ini. Dia mengira Naruto dan Rias sedang berkencan. Dia cemburu sekali.

Siapakah orang itu? Lihat saja nanti.

Selanjutnya bakal terjadi kejadian yang tidak disangka-sangka.

.

.

.

Koneko duduk di atas sofa yang berada tepat di kamar asramanya. Di hadapannya terdapat meja kaca yang antik. Di atas meja tersebut, tergeletak sebuah kotak kardus yang berisi miniatur peredaran planet-planet di tata surya. Sebuah prakarya hasil kelompoknya bersama Naruto.

Pandangan mata kuning Koneko meredup. Ia memandangi kotak kardus itu dengan lama. Pikirannya melayang-layang entah kemana. Hatinya merasa sakit sekarang karena cemburu melihat Naruto pergi bersama Rias.

Hanya dia sendiri di kamar asrama itu. Tidak tampak Erza, Lucy maupun Serafall. Mungkin mereka sedang pergi ke suatu tempat untuk menghabiskan waktu libur weekend ini.

TIK! TIK! TIK!

Jam dinding berbunyi halus dan menunjukkan pukul satu lewat dua. Suasana sangat hening.

KRIIIET!

Pintu kamar asrama terbuka. Muncul di baliknya, seorang gadis berambut pirang panjang yaitu Lucy. Koneko menyadarinya.

"Hei, Koneko. Kamu di sini rupanya," sahut Lucy tertawa lebar sambil membawa sesuatu di dua tangannya. Sesuatu itu adalah dua cup ramen ukuran jumbo.

"Heh, Lucy?!" Koneko cukup kaget dengan kedatangan Lucy."Sedang apa kamu di sini? Bukannya kamu ada janjian sama Natsu buat ngerjain PR Fisika?"

Lucy hanya tertawa kecil. Ia langsung duduk di samping Koneko.

"Hehehe, sudah selesai kok. Makanya aku balik lagi ke kamar asrama. Sekalian bawa makanan buat makan siangmu. Kamu belum makan, kan? Jadi, ini cup ramen buatmu. Terimalah."

Lucy menyodorkan cup ramen itu pada Koneko. Koneko menerimanya dengan bengong. Pasalnya, tumben sekali Lucy memberikan dia sesuatu dan mendadak perhatian seperti itu. Biasanya kerjanya bertengkar dengan Erza dan selalu berkoar-koar soal kekesalannya sebagai ketua kelas. Dia juga sering menggosip tentang Natsu yang dibencinya. Kalau soal memberikan makanan seperti ini, Lucy belum pernah melakukannya. Biasanya juga Lucy mengajak Erza makan di kantin daripada mengajak dirinya. Notabene, dia termasuk gadis yang tidak mau diajak makan di kantin. Padahal Lucy pernah mengajaknya makan bersama Erza.

Begitulah tentang Lucy. Teman sekamar yang cukup akrab dengan Koneko.

"Ada apa?" Lucy mengerutkan keningnya karena Koneko memandangnya dengan aneh.

Spontan, Koneko tersentak. Lamunannya buyar seketika.

"Eh, ma-maaf. Tidak ada apa-apa," Koneko membuang mukanya dengan cepat.

Lalu Lucy yang memperhatikannya dengan aneh.

"Kemana Menma, Koneko? Apa kalian sudah selesai buat PR Fisika berkelompok itu?"

Koneko cukup kaget saat Lucy tiba-tiba bertanya tentang Naruto. Lalu ia pun menjawabnya.

"Menma pergi sama Rias-senpai sekarang. Soal PR Fisika berkelompok itu, sudah selesai. Ini dia, miniaturnya."

Koneko menunjuk ke arah miniatur yang berada di dalam kotak kardus tersebut. Lucy menengok ke arah yang ditunjuk Koneko.

"WAH, BAGUSNYA! KEREN SEKALI!" seru Lucy memegang dua pipinya. Ia kelihatan senang.

Koneko melirik ke arah Lucy.

"Terus miniatur kelompokmu mana?"

"Hm ... I-Itu ... Hm ... Natsu yang menyimpannya."

"Oh ..."

"Terus Menma dan Rias itu sebenarnya pergi kemana sih?"

Lucy kelihatan penasaran tentang Naruto dan Rias. Koneko menarik pandangannya ke arah lain. Ia menghembuskan napasnya sejenak.

"Mereka pergi ke pusat desa Sora. Katanya sih, Rias-senpai membeli sesuatu di sana. Aku tidak tahu sesuatu apa itu."

"Tapi, kamu tidak cemburu, kan? Kalau mereka pergi berdua seperti itu."

"Hm ...," Koneko menundukkan kepalanya sedikit."Kalau itu sih aku cemburu juga."

"Eh, kamu benar-benar cemburu?"

"Hm, soalnya aku suka sama Menma. Aku tidak suka jika dia berdekatan dengan Rias-senpai. Apalagi sama gadis lain. Rasanya hatiku sakit sekali melihatnya."

Mendengar perkataan Koneko itu, membuat Lucy terdiam sejenak. Raut mukanya menjadi kusut begitu. Entah apa yang terjadi.

"Aku baru tahu kalau kamu suka sama Menma, Koneko."

Koneko mengerling ke arah Lucy.

"Terus kamu sendiri, apa kamu menyukai Natsu?"

Lucy terdiam lagi. Raut mukanya kusut lagi.

"Kenapa kamu menanyakan tentang Natsu?"

"Aku ingin tahu saja perasaanmu pada Natsu bagaimana. Kamu sudah menganggapku sebagai teman dekatmu, jadi tidak ada salahnya, kan? Kalau aku tahu tentang siapa orang yang kamu sukai itu. Aku juga sudah bilang tentang siapa orang yang kusukai. Jadi, bilang saja sejujur-jujurnya bagaimana perasaanmu pada Natsu. Tidak usah malu-malu, Lucy. Aku akan menjaga rahasiamu ini dengan baik. Aku tidak akan memberitahukan semuanya pada orang lain. Percayalah padaku."

Lucy terpana mendengarnya.

'Ternyata di balik sifatnya yang pemarah, galak, suka memukul, dan kasar. Ada sifat yang hangat dan terbuka seperti ini. Koneko-san, kamu benar-benar gadis yang sangat menarik juga,' batin suara hati Lucy yang terdengar sangat besar seperti suara laki-laki.

Lho? Berarti Lucy ini sebenarnya ...

Lantas Lucy bangkit berdiri dari duduknya. Ia menyodorkan cup ramen satu laginya pada Koneko.

"Koneko, ini satu cup ramen lagi untukmu. Segeralah makan. Aku mau pergi keluar sebentar."

"Eh, iya," Koneko menerima cup ramen itu dengan perasaan yang bingung."Memangnya kamu mau kemana lagi?"

"Itu rahasia ...," Lucy mengedipkan salah satu matanya seraya menyengir lebar.

Membuat Koneko sweatdrop di tempat. Lucy pun tergopoh-gopoh keluar dari sana secepat kilat.

DRAP! DRAP! DRAP! BLAM!

Pintu kamar asrama tertutup dengan keras. Cukup membuat Koneko kaget setengah mati. Ia terbengong-bengong dengan sikap aneh yang ditunjukkan oleh Lucy.

"Aneh, kenapa Lucy mengedipkan matanya padaku? Apa dia itu juga lesbian?" Koneko merasa mual jika mengira Lucy seperti itu."Tapi rasanya ada yang aneh."

Koneko memperhatikan dua cup ramen yang kini di dua tangannya sekarang. Cup ramen berukuran jumbo. Ia pun terpaku sebentar.

"Tunggu dulu, aku rasa Lucy tidak suka membeli makanan instan seperti ini. Makanan ini mengingatkanku pada ..."

Koneko tersentak. Ia langsung bangkit berdiri dari duduknya dan meletakkan dua cup ramen itu di atas meja. Lalu berlari cepat ke arah pintu kamar.

Dibukanya pintu itu, kemudian ia keluar. Saat bersamaan, terdengar suara jeritan yang sangat memekakkan telinga di koridor lantai tiga itu.

"KYAAAAAA! ADA PENYUSUP YANG MASUK KE ASRAMA PEREMPUAN!"

"SEMUANYA KELUAR!"

"HEI, JANGAN LARI KAU, PENYUSUP!"

"TANGKAP DIAAAAAAAA!"

Koneko kaget setengah mati saat melihat dari kejauhan. Lucy dikejar segerombolan gadis yang masih ada di gedung asrama. Tapi, anehnya ada Lucy satu lagi yang juga mengejar Lucy. Lho? Lho? Mengapa membingungkan begitu?

"Eh, apa yang terjadi ini?" Koneko juga bingung melihatnya. Ia masih berdiri di dekat pintu kamarnya. Aksi kejar-kejaran mendadak ramai itu, mengarah pada Koneko.

Lucy yang dikejar, memasang wajah panik. Sedangkan Lucy yang mengejar, memasang wajah amarah dan menyeramkan. Semua penghuni asrama perempuan itu, bersatu untuk mengejar penyusup yang diduga menyamar sebagai Lucy. Jadi, Lucy yang mengejar itulah, Lucy yang asli.

Lucy berpapasan dengan Lucy palsu itu di dekat tangga. Mereka sama-sama kaget. Lantas Lucy asli berteriak keras sehingga membuat para penghuni yang masih ada di gedung asrama itu, mendengar suara teriakan Lucy yang sangat menggelegar. Maka mereka langsung menuju ke TKP di mana Lucy dan Lucy palsu berada. Maka secara langsung, Lucy yang memimpin pasukan dadakannya ini untuk menangkap Lucy palsu ini.

Begitulah kronologis pertemuan Lucy asli dan Lucy palsu itu.

Sementara Lucy palsu itu terus berlari cepat menghindari amukan massa yang ingin menghajarnya. Kepanikannya bertambah saat bertemu dengan Koneko di dekat pintu kamar asrama nomor 53 itu. Lucy asli menyadari ada Koneko di depan sana. Lantas Lucy asli berteriak kencang pada Koneko.

"KONEKO, HAJAR LUCY PALSU ITU!"

Koneko mendengar seruan Lucy asli itu. Ia berwajah garang dan melayangkan tinjunya ke arah Lucy palsu itu, dengan gerakan yang sangat kencang.

"HIAAAT, RASAKAN INI!" sembur Koneko keras sekali.

BETS!

Serangan Koneko berhasil dihindari oleh Lucy palsu. Lucy palsu merundukkan badannya ke bawah dan langsung merangkul pinggang Koneko dengan dua tangannya. Koneko kaget setengah mati.

"A-Apa?!" Koneko ternganga habis. Ia pun terangkat dan digendong ala bridal style oleh Lucy palsu itu.

Kemudian Lucy palsu mengeluarkan sesuatu dari saku roknya.

SET!

Dijatuhkannya sesuatu itu dengan cepat ke lantai. Terjadilah ledakan asap yang meluas di koridor itu.

BLAAAAR!

Para massa menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan Lucy asli. Mereka terganggu dengan kehadiran asap putih yang ditimbulkan dari bom asap itu. Sehingga mereka kehilangan jejak Lucy palsu yang membawa Koneko tadi. Lucy palsu dan Koneko menghilang saat bersamaan asap menipis.

"Kemana penyusup tadi pergi?" sahut yang lainnya, kebingungan.

"Penyusup itu membawa Koneko," Lucy membelalakkan kedua matanya."WUAAAH, GAWAT! KONEKO DICULIK! BAGAIMANA INI?"

Lucy menjerit sekencang-kencangnya. Memekakkan telinga orang-orang yang berada di dekatnya. Mereka semuanya sangat panik dan cemas karena telah terjadi bahaya lagi. Kali ini penculikan. Penculikan pertama kali di Sora Academy.

Setelah ini, apa yang akan terjadi selanjutnya?

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

SAAT MEMBALAS REVIEW:

syafiq: terima kasih atas review-mu ya.

Tara475: oke, ini lanjut. Udah update kilat nih.

Namikaze Nogami: terima kasih udah review cerita ini. Mudah-mudahan chapter ini nggak mengecewakanmu.

Baka Otouto: iya, nanti Naruto bakal memberitahukan siapa dia sebenarnya pada teman-temannya. Tunggu saja saat itu tiba.

Guest: ini udah next lho.

uzumaki megami: pairing naruto sama rias dan Koneko. Harem mini. Mungkin ada lagi yang suka sama naruto.

Iya, nanti teman-teman sekamar naruto bakal membantu naruto juga.

.

.

.

A/N:

Chapter 9 update!

Kali ini update cepat selagi ada idenya makanya saya percepat membuat cerita ini. Saya juga mau cepat tamatin nih ceritanya daripada nanti ngutangnya banyak. Jadi, saya angsur-angsur pengerjaannya dari sekarang.

Ya, ini cerita yang terakhir saya update di bulan Desember ini. Setelah ini, saya mau hiatus dulu sampai tahun depan. Lagi krisis paket internet karena paket internet di kartu hp saya ini habis dipakai sama abang saya. Jadinya tinggal sedikit, cuma bisa update satu cerita ini saja. Ya, sudah nasib saya begitu.

Terima kasih atas perhatianmu yang sudah membaca cerita ini dari awal sampai chapter 9 ini. Terus terima kasih buat yang favorit dan follow cerita ini. Arigatou gozaimasu.

Tertanda

HIKARI SYARAHMIA

SAYONARA! SAMPAI JUMPA DI CHAPTER 10 yang akan diupdate agak lama.

Berikan review-mu di bawah ini ya ... :3

SANKYUUU ~~~

Rabu, 9 Desember 2015