"Ibu," panggilnya dengan suara lirih dari ambang pintu kamar ibunya yang dibiarkan setengah terbuka.
Uchiha Mikoto mengangkat pandangan dari majalah yang sedang ditekuninya di pangkuan ke arah Sasuke. Dua alis hitamnya yang terbentuk melengkung sempurna terangkat bersamaan. "Ada apa, Sasuke?"
Sasuke tampak bimbang untuk sesaat. "Kakashi. Aku bertemu dengannya kemarin."
Ibunya terlihat terkejut. "Aa," responnya.
"Dan…dia menceritakan banyak hal padaku."
Setelah keterkejutannya mencair, Mikoto mengulas senyum di wajahnya. "Apa saja yang diceritakannya?"
Kali ini raut wajah Sasuke berubah aneh, kalau tidak ingin dibilang mengerikan. Seolah ada beban berat yang baru saja dijatuhkan di bahunya sampai-sampai keningnya berkerut begitu dalam hingga dua alis hitamnya nyaris berdekatan satu sama lain, dan tangannya terkepal erat. Kecemasan dan kebingungan memancar darinya.
"Tentang hari-hari sebelum pernikahanku," jawabnya kaku.
Mikoto mengambil beberapa detik jeda sebelum kembali menanggapi cerita Sasuke. "Ada apa? Kau terlihat lebih kacau dari biasanya."
Untuk kali ini, Sasuke membiarkan emosinya terumbar jelas di matanya. Ada kemarahan yang teredam dalam-dalam, kebingungan, keingintahuan, sekaligus frustasi. "Aku…" Pemuda itu terdiam di tengah ucapannya. Tadi ada ribuan kata yang rasanya sedang mengantre di ujung lidahnya, tetapi kini dia kebingungan mencari kata. "…semuanya terdengar baru bagiku. Aku—" Dia tarik napas panjang dan dalam, dan dalam sekejap limpahan emosi di matanya menghilang. Sepenuhnya tersapu. "Aku tidak mengingatnya. Pernikahan kami, masa kecilku bersama Sakura, semua tentang dirinya aku tidak ingat."
Respon Mikoto selanjutnya justru membuat Sasuke bertambah bingung. Untuk sejenak Mikoto memang terlihat kaget dan sama bingungnya dengan dirinya, tetapi kemudian wanita tersebut mengulum senyum pengertian di wajahnya. "Ah, benar rupanya."
Putranya menatapnya dengan tatapan penuh tanya, membuat Mikoto mau tak mau mengulum senyum semakin lebar.
"Kau bersikap terlalu aneh sebagai seorang suami yang sudah lama tidak bertemu dengan istri tercintanya," ujarnya seraya tertawa kecil. "Duduklah di sini," ditepuknya tempat kosong di sebelahnya. "dan ceritakan apa saja."
.
"Jadi, apa saja yang Kakashi ceritakan kepadamu?"
Kening pemuda itu berkerut. "Sebelum itu, apa Ibu kenal baik dengannya?"
"Tidak juga. Hanya sebatas gūji dan pengunjung.
"Ibu pertama kali bertemu dengannya dua puluh tahun lalu. Saat itu, Kakashi juga hanya pengunjung rutin kuil. Setiap kali kami bertemu, Ibu tidak pernah melihat dia berdoa. Dia hanya duduk di bawah pohon sakura dan termenung.
"Wajahnya begitu kosong dan matanya meredup. Hanya dengan melihatnya saja, dada Ibu terasa ikut nyeri. Kakashi selalu tersenyum menyapa Ibu, tetapi senyumnya tak pernah mencapai mata. Setelah beberapa kali bertemu, Ibu baru tahu beban berat yang menimpanya."
"Apa?"
"Dia baru saja kehilangan dua orang yang sangat dicintainya. Seorang sahabat dan kekasih. Mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan." Seulas senyum keprihatinan terbentuk di wajahnya. Mata hitamnya menelusuri ekspresi wajah Sasuke. "Tak pernah bisa Ibu membayangkan bagaimana rasa sakitnya. Dia sangat menderita hingga kehilangan semangat hidup. Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk membantunya kala itu." Mikoto menunduk, memandangi majalah di pangkuannya, tetapi fokus matanya tak lagi ke sana. "Terkadang, jodoh dan takdir tidak bisa sejalan. Itu yang Kakashi katakan kepada Ibu ketika dia menyarankan pernikahan kalian."
"Apa hubungannya dengan kami?"
"Kakashi melihat kalian berjodoh, entah bagaimana cara 'melihat'nya. Dia tidak ingin pengalaman pahit yang sama juga menimpa kalian. Dia ingin menyatukan kalian yang sudah berjodoh." Dengan lembut Mikoto meremas tangan Sasuke. Jemarinya memainkan cincin putih di jari Sasuke sambil tersenyum. "Kakashi juga yang memberiku sepasang cincin ini. Dua cincin ini dulunya dipakai Kakashi dan kekasihnya."
Sasuke ikut menunduk memandangi cincin pernikahannya. Tiba-tiba saja jantung di dadanya berdebar tak karuan.
"Sepasang cincin ini adalah harta berharga kuil. Konon, dahulu kala ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Cinta keduanya begitu besar hingga masing-masing rela mengorbankan apapun. Sayangnya, si pria hanyalah rakyat biasa. Kala itu, strata sosial begitu dipegang teguh. Tidak mungkin seorang putri keluarga bangsawan bisa menikah dengan rakyat jelata.
"Suatu hari, si pria berhasil membuat sepasang cincin yang nantinya akan menjadi cincin pernikahan mereka. Namun, dia terlambat. Si wanita sudah dinikahkan paksa dengan pria lain. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya.
"Hanya berjarak beberapa bulan sejak pernikahan wanita itu, si wanita jatuh sakit. Sakitnya tidak diketahui apa, tetapi kian hari tubuhnya kian lemah. Sekadar membuka mata pun dia tidak lagi sanggup.
"Tak lama, si wanita pun meninggal tanpa sempat bertemu dengan kekasihnya."
"Lalu, pria itu?"
Mikoto mengedikkan bahunya. "Tak ada yang tahu. Di suatu pagi, sebuah kotak kayu diletakkan di depan gerbang kuil. Isinya…sepasang cincin, yang salah satunya sedang kau kenakan."
Kekalutan yang dirasakan Sasuke semakin memuncak. Jadi, cincin yang sedang dipakainya sekarang ini adalah semacam cincin legenda? Sasuke tak habis pikir. Dia bingung dengan apa yang harus dipercayainya.
"Cincin ini diserahkan kepada Kakashi sebelumnya. Dan dia sudah berjanji kepada kekasihnya akan menikah dengan memakai cincin ini. Sayang, kekasihnya meninggal terlebih dahulu. Itu artinya, cincin ini memang bukan untuknya.
"Ibu melihat Kakashi tersenyum dengan sungguh-sungguh ketika dia bertemu dengan kalian berdua. Tiba-tiba saja Kakashi tertawa, kemudian mengulurkan sebuah kotak kayu kepadamu." Mikoto terkekeh. "Sebenarnya apa yang dia harapkan dari seorang bocah delapan tahun ketika tiba-tiba disodori sebuah kotak?" Wanita itu menghela napas panjang, kali ini wajahnya penuh kelegaan. "Kakashi dan gūji waktu itu menceritakan mengenai kisah di balik dua cincin cantik itu. Juga, klaim Kakashi yang mengatakan bahwa kalian berdua berjodoh. Ketika dia menyarankan untuk menikahkan kalian secepatnya, entah kenapa Ibu setuju.
"Dan…yang paling mengagetkan adalah kau juga setuju. Bahkan seketika."
Sasuke terdiam dalam keterpanaannya. Wajahnya kosong dan matanya mengedip lambat. Apa?
"Jangan bengong begitu. Ibu tidak berbohong. Sejak kecil pun, semua orang bisa melihat betapa kau menyukai Sakura." Mikoto mengambil jeda sejenak. Kepalanya miring ke kanan, kiri, lalu ke kanan lagi selama berpikir. "Bukan sekadar menyukai, mungkin kau sudah mencintainya. Tapi…" Sekali lagi Mikoto menatap Sasuke. Bibirnya terkatup rapat membentuk sebuah garis. "Cinta tentu terdengar ganjil dialami seorang bocah delapan tahun, 'kan?"
Tanpa sadar, Sasuke mengangguk.
"Tapi, seperti itulah kau dulu. Setahun kemudian, kalian menikah," tutupnya dengan senyum lebar di wajah.
Sasuke bergeming di tempatnya. Rasanya sulit sekali baginya untuk mencerna semua itu. Kalau benar dia sejak kecil menyukai Sakura, bagaimana bisa dia melupakan Sakura seutuhnya? Tidak satu pun hal mengenai gadis itu yang bisa dia ingat. Sungguh tidak masuk akal.
"Penikahan kalian hanya upaya kami untuk mencegah kejadian yang dialami Kakashi terjadi lagi." Tiba-tiba senyum di wajah ibunya menghilang. Nada suara dan ekspresi wajahnya berubah luar biasa serius. Ada kerutan dalam di keningnya. "Tapi toh, kita hanya manusia biasa. Jika kalian memang tidak ditakdirkan bersama, tidak ada lagi hal yang bisa dilakukan."
"Apa maksud Ibu?" Sasuke duduk tegak di kursinya. Punggungnya tiba-tiba sekaku papan. Dia tidak suka mendengar nada suara ibunya yang seperti itu. Seolah-olah ibunya berkata…
"Semalam Sakura bicara kepada Ibu. Dia bilang," Mikoto mengerling ke arah putranya sejenak sebelum kembali bicara. "Dia bilang, kalau kau memang tidak bisa menerimanya, tak apa. Kalian bercerai saja."
Sasuke memang belum pernah mengetahui bagaimana rasanya disambar petir di siang yang cerah di musim semi, tetapi tidak ada ungkapan lain bisa digunakan untuk mengekspresikan sensasi kejut yang menyakitkan yang melandanya sekarang. Dia merasa benar-benar tersambar petir jutaan volt.
"Apa?"
Mikoto tersenyum hambar. Tangannya masih menggenggam tangan Sasuke yang kini sudah terkepal. "Tak apa. Baik Sakura maupun Ibu tidak ingin kau terbebani dengan semua ini. Sakura sedang mengurus surat-surat perceraian kalian sekarang."
Ketika baru saja dia merasa sedang mati rasa akibat sambaran petir, kini rasanya ada Vesuvius dalam dirinya yang menggelak dan siap meledak dengan satu sentilan.
Sasuke berdiri dengan tiba-tiba. Genggaman tangan ibunya lepas begitu saja, membuat wanita itu membelalakkan mata kaget.
"Sasuke?"
Sasuke berdiri dengan tangan terkepal rapat. Rahangnya dikatupkan begitu rapat hingga gigi-giginya terasa nyeri. Kepalanya begitu penuh hingga dia mulai migrain. Begitu banyak yang ingin dia ucapkan bersamaan, tetapi yang bisa keluar darinya hanyalah bisikan lemah yang tanpa daya.
"Bagaimana? Bagaimana bisa semuanya baik-baik saja?"
Mikoto ikut berdiri dan menghadap putranya sepenuhnya. Kerut keningnya semakin dalam. "Ibu tidak ingin memaksamu, Sasuke."
"Jadi, kalian berdua berpikir lebih baik menyudahinya sekarang?" Nada suaranya naik setingkat tanpa bisa dia cegah.
"Tidak." Mikoto cepat-cepat menggeleng. "Ibu tidak ingin begini, tapi Sakura benar. Kau terbebani oleh hal ini. Kau tidak ingat apa-apa, jadi di sini kau lah yang merasa paling berat."
"Bagaimana jika akhirnya aku mengingat semuanya? Sekarang aku memang tidak ingat, tapi justru karena itu Sakura tidak bisa memutuskan seenaknya."
Mikoto berusaha menenangkan putranya dengan mengusap-usap lengan atasnya. "Sasuke, tenanglah," pintanya. Tak pernah sekalipun Mikoto mengharapkan ledakan amarah Sasuke. Pemuda satu itu begitu tenang dalam menyikapi segala hal. Namun, mengapa sekarang dia begitu marah?
"Bagaimana aku bisa tenang kalau istriku menginginkan sebuah perceraian!"
"Katakan, katakan dengan jujur pada Ibu. Apa yang kau rasakan terhadap Sakura sekarang?"
Dua tangannya yang terkepal gemetar. "Aku merasa dikhianati dengan rencana perceraian ini," geramnya dari balik gigi-gigi yang gemeletuk.
"Bukan." Mikoto menggeleng. "Apa kau mencintainya?"
"Tidak." Begitu tegas jawabnya sampai-sampai Mikoto merasa sedih mendengarnya.
"Lalu kenapa kau begitu marah dan merasa dikhianati sekarang?"
"Karena dia memutuskan hal sepenting ini dengan begitu mudahnya."
Mikoto menatap dua mata hitam Sasuke tajam-tajam. "Tidak. Ini sama sekali tidak mudah baginya. Sakura sudah menyukaimu sejak dia mulai bisa mengingat. Dia besar dengan mengetahui dia memiliki seorang suami yang tinggal berjauhan darinya. Dia begitu mencintaimu sampai-sampai dia rela sakit supaya kau bisa bahagia. Apa kau melihatnya sebagai pengorbanan mudah, Sasuke?"
Sasuke bergeming kehabisan kata. Ledakan amarahnya seolah baru saja diguyur badai. Kini dia merasa hampa. Tidak tahu harus berpikir apa, tidak tahu harus merasa apa.
"Dia begitu sakit untukmu. Yang perlu kau lakukan sekarang hanya bersikap jujur. Sikap jujurmu itu bisa dengan segera membebaskannya dari sakitnya, atau mungkin saja mengobatinya."
Pandangan mata Sasuke terkunci pada dua hitam yang serupa dengannya. Dia mundur dengan kaku. "Jujur?"
"Ya. Hanya perlu jujur."
Sasuke mengangguk sekali dengan kaku.
"Kau tahu apa yang salah dari cinta dua orang dalam kisah cincin itu, Sasuke?"
Sasuke diam, tidak mampu menjawab.
"Mereka berdua salah karena tidak pernah mencoba mengubah. Harusnya mereka mencoba walau tahu mustahil mewujudkannya. Harusnya mereka mencoba. Harusnya kau mencoba, Nak. Sama sekali belum terlambat bagimu."
"Tentu, Ibu," jawabnya, kemudian dia berjalan mundur dan menghilang di balik pintu.
.
Ketika Sasuke baru setengah langkah menuruni tangga, sayup-sayup terdengar suara mobil keluar dari gerbang rumah. Keningnya mengerut, mencoba menebak-nebak siapa gerangan pengemudi mobil tersebut. Saat melihat Itachi yang baru saja menutup pintu, semangatnya turun seketika.
"Aa, Sasuke."
Pemuda tersebut memberi sebuah anggukan kecil sebagai jawaban. "Sakura?"
Itachi mengerutkan bibirnya, kemudian mengedikkan kepala ke arah pintu. "Baru saja pergi."
Diliriknya jam tangan hitam yang melingkari pergelangan tangan kirinya. "Kau tahu ke mana?"
"Dia hanya bilang perlu mengurus sesuatu." Menyadari air muka adiknya yang mendadak berubah suram dan menakutkan, Itachi buru-buru menyela. "Dia bilang tidak lama."
Air mukanya tidak juga berubah baik. Tanpa sepatah kata terucap, pemuda itu kembali berbalik menaiki tangga menuju kamarnya. Itachi yang berdiri di ujung tangga hanya bisa menatap punggung adiknya dengan bingung.
"Kau…akan coba bicara dengan Sakura, 'kan?"
Sasuke berhenti tepat di anak tangga teratas. Dia menoleh dari balik bahunya. "Kuharap dia mau dengar."
"Bagus. Semoga berhasil, Adik," katanya seraya terkekeh.
Uchiha Sasuke hanya meresponnya dengan dengusan.
.
Jendela dan gorden kamar ditutup sepenuhnya. Lampu dipadamkan seluruhnya. Kamarnya remang-remang sekarang. Sasuke berbaring malas-malasan di ranjang lebarnya. Dia memejamkan mata, berharap untuk bisa tidur, tetapi pikirannya terlalu penuh untuk bisa istirahat.
Dua hari yang konyol. Dalam dua hari ini, Sasuke sudah mendengar banyak cerita. Namun anehnya, tak satu pun masuk akal baginya. Tak satu pun ada dalam memorinya. Semuanya tentu akan lebih mudah bagi Sasuke untuk menerimanya jika benar pemuda itu benar-benar hilang ingatan (walaupun terdengar kurang masuk akal juga karena dia hanya melupakan Sakura).
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apa yang harus dilakukannya supaya bisa mengingat semuanya?
Dia tidak ingin membiarkan masalah ini berlarut-larut. Dia ingin cepat-cepat mengingat masa lalunya. Dengan cara apa? Dokter? Psikiater? Ahli hipnosis? Oke, oke. Apapun akan dia tempuh. Namun, sebelum dia bisa mengingat semuanya, dia perlu menyelesaikan masalah mereka berdua. Seperti saran ibunya tadi. Yang saat ini bisa dilakukannya adalah bersikap jujur. Baik, dia akan berusaha bersikap jujur terhadap perasaannya mulai sekarang.
Apa yang dirasakannya sekarang? Hanya satu. Dia tidak ingin bercerai.
Alasannya? Dia tidak tahu. Dia hanya tidak ingin memutuskan satu-satunya ikatan yang dia miliki dengan Sakura. Mungkin 'kah Sasuke sudah jatuh hati pada istrinya?
Tiba-tiba jatungnya berdegup sedikit lebih keras dari biasanya.
Dia sudah mencoba untuk bersikap jujur, tetapi permasalahan selanjutnya adalah dia merasa asing dengan perasaan-perasaan ini. Ini 'kah yang orang-orang sebut sebagai cinta? Begini 'kah rasanya?
Baiklah, Sasuke jelas merasakan hal yang berbeda jika sudah menyangkut Sakura. Naruto juga sudah pernah mengatakannya. Sasuke sekarang hanya belum bisa mengidentifikasi nama perasaan yang dia rasakan untuk Sakura.
Sepertinya sudah berjam-jam Sasuke berbaring dan terlarut dalam pikirannya. Suasana kamarnya berubah semakin gelap ketika tidak banyak lagi cahaya yang menembus gordennya. Dia baru saja berhasil menyingkirkan pikiran-pikirannya dan memaksa diri untuk beristirahat ketika mendengar suara pintu kamar yang tiba-tiba terbuka.
"Sakura?" Sasuke bangkit dari posisinya dan memicingkan mata, mencoba melihat melalui kegelapan.
Hanya ada suara pintu tertutup pelan. Siapa pun yang membuka pintu pastinya tidak bergerak dari tempatnya.
"Ja-jangan hidupkan lampunya." Suara gadis berbisik.
"Tidak, jika kau terus menghindar."
Beberapa detik berselang hingga akhirnya Sakura beringsut mendekat. Suara langkah kakinya teredam karpet tebal. Dia manjatuhkan tas dan barang-barang lain yang dibawanya di kaki meja rias dan berdiri di sana.
"Kemarilah."
Kali ini jeda yang diambil Sakura lebih lama. Sasuke yang mulai hilang kesabaran memutuskan untuk bergerak mendekati istrinya.
"Sakura."
Sakura tersentak kaget saat menyadari posisi Sasuke yang kini hanya terpaut beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Lebih dari itu, dadanya tiba-tiba sakit. Dia mencoba mencari-cari mata kelam Sasuke di tengah kegelapan, mencari sumber rasa sakitnya.
"Sakura," panggilnya lagi. Dia ulurkan tangan untuk menyentuh sisi wajah Sakura. Untungnya gadis itu tidak mengelak, atau mungkin tidak sempat mengelak. Ditariknya Sakura mendekat padanya. Ujung hidungnya nyaris menyentuh rambut Sakura. Dari jarak sedekat itu, Sasuke bisa merasakan ketegangan istrinya.
"Sakura, maaf," ucapnya berbisik pelan setelah beberapa saat lamanya terdiam.
Mulanya tubuh Sakura semakin tegang. Kemudian, sedikit demi sedikit dia merileks dan kini tidak ada lagi kecemasan ataupun ketegangan yang dirasakannya. Gadis itu masih belum berkata apa-apa. Dia hanya mendekatkan diri sampai keningnya menempel di dagu Sasuke, lalu memberikan sebuah anggukan kecil.
"Maaf karena belum mengingatmu. Maaf karena sudah berkata kasar," ujarnya parau.
Hela napas Sasuke terasa hangat di keningnya. Sakura mengangguk, tidak mampu bersuara. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Mati-matian dia jaga isakannya supaya tidak terdengar oleh Sasuke.
"Aku akan mencari cara untuk bisa kembali mengingatmu. Aku—" Ini dia. Lidahnya kaku seketika. Sasuke memaki-maki dirinya dalam batin ketika merasakan kegugupan melandanya. Demi Tuhan, dia bukan bocah yang perlu merasa demam panggung hanya untuk mengucapkan kata-kata itu! "Aku—" jeda, dia tarik napas dalam-dalam. "Aku ingin mencintaimu lagi." Suaranya serak, hanya berupa bisikan samar.
Namun, itu cukup bagi Sakura. Gadis itu kembali mengangguk berkali-kali dan kali ini isakannya lolos begitu saja dari mulutnya yang dibekap. Tak apa kalau Sasuke tidak mengingatnya karena dulu Sasuke melupakannya karena salahnya. Tak apa. Yang terpenting baginya adalah Sasuke yang mau menerimanya.
Dengan canggung Sasuke mengulurkan kedua tangannya, kemudian merangkum Sakura ke dalam pelukan besarnya.
Bisakah tadi disebut sebagai pernyataan cinta? Kalau iya, berarti yang tadi adalah pernyataan cinta pertamanya, atau mungkin juga yang kedua (karena sayangnya dia tidak ingat). Tak jadi soal.
Dadanya terasa luar biasa ringan dan Sasuke tidak bisa memikirkan hal apa pun selain rasa nyaman memiliki Sakura dalam proteksinya. Ketika akhirnya Sasuke menarik tubuh mereka berdua untuk berbaring di ranjang, dengan cepat dia jatuh terlelap.
.
"Itachi, mana mereka berdua? Sudah kau panggil untuk makan malam?"
"Hm. Mereka bilang tidak lapar dan sedang ingin bicara berdua." Dalam mimpi, guraunya di benak.
"Aa."
.
