Naruto © Masashi Kishimoto

My Cute Lady © Hyuuga Cherry

.

.

.

SasuSaku Fic

With

NejiSaku

Warning : OOC, AU, gaje, genre gak tentu, typo banyak, & semua hal yang membuat fic ini jauh dari kata sempurna.

Genre : Romance, Drama, slight Humor.

.

.

MY CUTE LADY


CHAPTER 9

Perhatian semua murid-murid di koridor sekolah pagi itu tertuju pada pasangan yang baru saja melewati mereka. Uchiha Sasuke dan pacarnya, Haruno Sakura, dengan mesranya bergandengan tangan menuju kelas mereka. Mereka tidak mengacuhkan tatapan-tatapan iri dari murid-murid perempuan, mereka terus saja berjalan.

Sejak pembicaraannya dengan Neji dua hari yang lalu, Sasuke semakin berada di atas angin sekarang. Sejak dua hari ini Sakura tidak pernah lepas sedikitpun darinya. Hal ini menunjukkan pada semua orang bahwa hubungan mereka baik-baik saja. Sasuke bahkan dengan terang-terangan memamerkan kemesraan mereka di depan teman-teman mereka.

Tentu saja ini membuat Neji uring-uringan. Apa gunanya status pacaran jika dia tidak bisa sedetikpun untuk bersama-sama dengan kekasihnya? Bahkan dia harus mati-matian untuk menahan diri setiap melihat Sasuke merangkul Sakura di depan matanya. Punggung tangannya sudah biru lebam karena sering dihantamkan ke dinding. Kenapa cinta begitu rumit?

Seperti yang terjadi di kantin saat ini.

"Sakura-chan, makan makananmu!" Sasuke menatap tajam gadis yang duduk melamun di hadapannya.

Sakura menoleh ke arah Sasuke malas, "Tidak nafsu."

"Kau ini kenapa sih? Ada masalah?" Sasuke mendekatkan diri ke samping Sakura. Jemarinya memainkan rambut Sakura.

"Aku memikirkan Neji-kun." Jawab Sakura lemas.

Sasuke membeku seketika, tangannya mengepal erat. Matanya menatap Sakura dengan tajam.

"Yang ada di sampingmu ini aku, bukan Neji."

Sakura terkejut mendengar nada tajam yang dilontarkan Sasuke. Dia menundukkan kepalanya takut-takut. Sasuke pasti marah lagi setelah ini. Entah kenapa setiap Sasuke marah, dia selalu takut. Yang pasti, Sakura takut karena badan Sasuke lebih besar daripada dia. Bagaimana kalau Sasuke menggunakan jurus-jurus smack-down padanya? Badannya kan kecil, mana bisa dia melawan Sasuke yang berbadan tegap, tinggi, dan besar. Dia juga masih sayang nyawa.

"Tatap aku, Haruno Sakura!"

Secepat kilat Sakura mendongak menatap Sasuke. Daripada kena bogem, pikirnya. Sasuke diam menatap Sakura, jujur saja ekspresi wajah Sakura terlihat aneh dii matanya. Sakura mirip sekali anak ayam kehilangan induk yang menatap memelas pada seekor ular yang mau memangsanya.

"Kau kenapa? Mukamu aneh." Sasuke tersenyum tipis.

"Aku takut." Jawaban pendek Sakura membuat Sasuke bingung.

"Takut kenapa?"

"Kau kan sedang marah, aku takut kau memukulku. Neji yang badannya besar saja bisa jatuh karena pukulanmu, apalagi aku. Masa depanku masih panjang, aku tidak mau pindah rumah ke pemakaman sekarang." Sakura menggeleng frustasi sambil menutup matanya. Sasuke cengo.

"Hmmbp…Ha ha ha ha ha…" Sasuke tertawa keras mendengar ucapan Sakura.

Seluruh murid yang ada di kantin menoleh ke arah Sasuke yang tengah tertawa. Seketika mereka menghentikan aktivitas masing-masing. Ini merupakan pemandangan ajaib bin langka. Seorang Uchiha Sasuke si 'cowok kutub' yang dingin, jaim, dan pendiam, sekarang tertawa dengan keras di kantin?

"Jangan tertawa, Baka! Semua orang melihatmu." Sakura berbisik rendah di telinga Sasuke.

"Hmmmbp…biarkan saja mereka. Habis kau lucu, mana mungkin aku memukulmu. Aku tidak mungkin menyakiti tubuh gadis yang aku sayangi."

Kalimat terakhir Sasuke sukses membuat Sakura salah tingkah. Dia memalingkan wajahnya dan melihat kemanapun asalkan bukan melihat Sasuke. Sasuke menarik dagu Sakura dan mencium bibirnya sekilas, hanya sedetik. Ternyata bukan hanya wajah Sakura yang memerah, tapi wajah semua perempuan di sana juga ikut memerah melihat adegan mesra itu.

"Sa-Sasu…" Sakura gelagapan melihat Sasuke yang menyeringai puas.

"Hn." Sasuke mencium rambut lembut Sakura, menyesap wangi bayi yang menguar dari helaian merah muda itu.

"I-ini di kantin…"

Sasuke berhenti dan melihat sekelilingnya. Kantin senyap, tidak ada yang bersuara. Semuanya terpaku memandangnya dan Sakura. Sasuke menyeringai.

"Cueki saja mereka, anggap saja hanya kita berdua yang ada di sini." Hidungnya mulai menelusuri lagi rambut Sakura. Sasuke merangkul Sakura agar semakin mendekat padanya tanpa mempedulikan wajah gadis itu yang merah padam.

"Sasuke-kun…"

"Ssst…diamlah." Sasuke malah mempererat pelukannya. Akhirnya Sakura pun hanya bisa pasrah saja. Dan emeraldnya membulat begitu bertemu dengan mata perak yang menatap mereka geram. Pemilik mata perak itu pun segera pergi dari kantin setelah menendang kotak sampah di sampingnya. Sakura semakin merasa bersalah pada pemuda itu.

'Neji-kun…'

Sakura merasa berdosa pada Neji, apalagi saat melihat tatapan penuh kekecewaan dari mata perak yang biasanya selalu membuatnya tenang. Sakura memang tidak mencintai Neji, tapi dia juga tidak mau menjadi gadis kejam yang tega menyakiti hati pemuda sebaik Neji. Sakura jadi ingat pembicaraannya dengan Neji beberapa hari lalu di rumahnya.

Flashback

"Maksudmu apa, Neji-kun? Kau menyetujui usul Sasuke?" Sakura menatap tak percaya pemuda yang duduk di kursi di hadapannya. Neji hanya mengangguk enggan.

"Ini semua demi kamu, Sakura. Aku tidak mau kau mendapat masalah dengan cewek-cewek ganas itu. Ini hanya untuk sementara, tidak apa-apa kan?"

Sakura masih tak percaya dengan apa yang didengarnya, dia sungguh tidak menyangka Neji menyetujui usul Sasuke. Sakura yakin sekali Neji pasti merasa sakit hati sekarang. Bukannya ia tidak senang karena bisa bersama Sasuke terus, tapi setiap kali ia melihat wajah kecewa Neji seperti ini, dia semakin merasa bersalah. Dia tidak ingin berbahagia di atas penderitaan orang lain.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Memangnya kau tidak apa-apa jika aku menghabiskan waktuku di sekolah dengan Sasuke-kun?" Sakura bertanya dengan sangat hati-hati sambil menatap Neji untuk tahu bagaimana reaksi pemuda itu.

Neji terdiam, pandangannya terpaku pada gadis imut di depannya. Sakura benar, seharusnya yang dikhawatirkan itu adalah dirinya sendiri. Apa dia sanggup melihat kekasihnya berduaan dengan pemuda lain di depan matanya.

"Aku tidak apa-apa." Neji meyakinkan Sakura, meskipun sebenarnya dia hanya meyakinkan dirinya sendiri.

"Kau tidak marah?" tanya Sakura lagi, tapi Neji tidak menjawab dan hanya memandanginya.

Gadis itu mengalihkan zamrudnya saat kedua mata Neji tidak lepas dari matanya. Pipinya merona merah membuat Neji tersenyum. Sakura tersentak kaget saat dirasakannya Neji beranjak dari kursinya lalu duduk di sampingnya. Sentakan kaget menderanya lagi saat dirasakannya kedua lengan kekar Neji memeluknya.

"Tentu saja aku akan marah. Aku pasti akan marah sekali." Pemuda Hyuuga itu mengeratkan pelukannya ketika dirasakannya tubuh mungil dalam dekapannya gemetar.

"Tapi kau tidak usah khawatir padaku, aku mengerti keadaanmu saat ini. Aku tidak mau kau jadi bulan-bulanan singa-singa betina itu." Sakura terkekeh geli mendengar Neji mengatakan 'singa-singa betina' dengan nada geram.

End of Flashback

.

.

Sakura berdiri di depan gerbang sekolah, saat ini dia sedang menunggu Sasuke yang mengambil mobilnya di parkiran sekolah. Kejadian di kantin tadi memenuhi pikirannya sekarang. Dia masih kepikiran saat Sasuke memeluknya di depan orang banyak, lalu saat dia melihat Neji yang memandangnya dengan marah.

Sakura masih melamun saat sebuah Ferrari hitam berhenti di depannya. Pengemudi mobil itu pun keluar dari mobilnya dan langsung menarik Sakura.

"Eh, kau mau ap- Neji kun?" Sakura kaget melihat Neji.

"Ikut denganku, Sakura!"

Neji membuka pintu mobilnya dan menyuruh Sakura masuk ke dalam. Untung saja di gerbang saat ini sepi sekali, jadi tidak ada yang melihat ia dengan Neji. Setelah masuk mobil, mereka segera meninggalkan sekolah dengan cepat. Neji yakin sekali Sasuke akan kebingungan setengah mati saat melihat Sakura tidak ada.

'Rasakan itu, Uchiha. Ha ha ha…'

"Neji-kun, kita mau kemana? Kalau Sasuke mencariku bagaimana?"

Neji tersenyum, "Kau lupa kalau kita belum pernah kencan sekalipun?"

"Eh? Kencan?" Sakura memandang bingung Neji yang sedang menyetir.

"Ya, kita jalan-jalan." Neji melemparkan senyum manis yang sedikit lebih lebar dari biasanya.

Baru saja Sakura mau membuka mulut, Neji menyelanya.

"Jangan khawatir, aku sudah menelepon ayahmu kalau kau bakal pulang telat. Dan soal Sasuke, biarkan saja dia." Neji tersenyum semakin lebar, kentara sekali bahwa dia tengah senang saat ini.

Sakura mengangguk pasrah lalu menatap jalanan di luar mobil. Bayangan Sasuke yang marah-marah di depan gerbang berkelebat di pelupuk matanya. Sakura tersentak saat saku roknya bergetar, dia segera merogoh handphone dalam sakunya. Matanya membulat begitu tahu siapa meneleponnya.

'Sasuke-kun…'

Dengan ragu-ragu ia menerima panggilan itu.

"Halo…"

'Sakura, kau di mana? Aku mencarimu dari tadi, sekarang katakan kau di mana?' terdengar suara Sasuke yang membentaknya.

"Aku…"

Sakura terlonjak kaget saat Neji menyambar HP-nya dengan cepat.

"Dia sedang kencan bersamaku sekarang, Uchiha. Jadi jangan ganggu kami." Neji berkata tegas.

'Kau…sialan!'

Neji langsung memutuskan sambungan lalu menonaktifkan HP Sakura. Sakura tertegun melihatnya.

"Tidak keberatan kan?" Neji menatap Sakura tajam.

Sakura sontak mengkeret di kursinya, punggungnya menempel erat di pintu mobil. Neji yang melihat Sakura ketakutan langsung menghentikan mobilnya. Dengan lembut ia mengelus kepala Sakura.

"Maaf, Sakura. Aku tidak bermaksud membuatmu takut. Aku tidak marah padamu kok, sungguh." Neji menatap gadisnya dengan pandangan menyesal.

Sakura mengangguk pelan, "Iya, aku tahu. Aku hanya kaget saja tadi."

Neji pun merasa lega saat melihat gadis itu tersenyum. Debaran jantungnya semakin cepat melihat senyuman yang menurutnya sangat manis itu.

'Dia imut sekali.'

.

.

Neji dan Sakura tiba di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Konoha, Konoha International Mall. Sakura diam saja saat Neji menggandengnya ke dalam sebuah toko besar dan mewah. Toko itu menjual pakaian mewah, namun sangat indah. Dekorasi toko itu pun sangat menkjubkan, elegan, dan nyaman. Sakura langsung melihat-lihat pakaian yang ada di sana. Lidahnya berdecak kagum melihat betapa cantiknya semua pakaian itu. Saat dia melihat label harganya, runtuh sudah kekagumannya tadi, digantikan oleh rasa kecewa.

'Gila, harga satu baju ini bahkan hampir sama besar dengan gaji ayahku sebulan.'

Neji yang berdiri di samping Sakura tersenyum melihat raut wajah gadis itu yang muram ketika melihat harga pakaian itu. Selagi Sakura asyik melihat-lihat gaun, Neji menghampiri pegawai toko itu. Pegawai itu wanita yang sangat cantik, dandanannya manis dan anggun, cocok sekali dengan suasana toko ini.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" pegawai itu tersenyum ramah pada Neji, sekaligus mengerling genit pada pemuda itu.

"Tolong bungkus baju-baju itu, sekaligus gaun yang itu. Aku beli semuanya." Neji tersenyum pada pegawai itu, dia bisa melihat pegawai itu salah tingkah.

"B-baiklah, Tuan. Tunggu sebentar." Wanita itu semakin salah tingkah melihat senyum manis masih bertengger di wajah tampan Neji. Dengan canggung wanita itu mengambil baju-baju dan gaun yang ditunjukkan Neji dan membungkusnya lalu memasukkannya ke dalam tas jinjing.

Sakura sudah selesai melihat-lihat pakaian, masih dengan wajah yang sedikit muram dia mendekati Neji.

"Neji-kun."

Neji menoleh dan tersenyum lembut mendapati Sakura di depannya.

"Selesai? Ada yang ingin kau beli?" Sakura menggeleng, matanya mengamati wajah Neji.

"Tidak, habis semuanya tidak ada yang cocok dengan seleraku.." Sakura berbohong sambil mengerucutkan bibirnya. 'Kalau kau mau membelikanku, aku terima kok. He he he.'

Sakura mengamati setiap gerak wajah Neji, siapa tahu Neji berbaik hati dan mau membelikannya baju satu saja. Neji hanya tersenyum lalu merangkul bahu Sakura.

"Ya sudah kalau begitu…" harapan Sakura semakin dekat, "…kita makan saja yuk."

DOENG!

Neji menyeret Sakura yang berjalan terseok-seok. Pupus sudah harapannya. Kan biasanya seperti di sinetron-sinetron, lelaki yang mengajak seorang wanita belanja pasti akan membayar belanjaannya kan? Lalu untuk apa Neji membawanya ke sana kalau tidak mau membelikan baju? Sepanjang jalan, bibir mungil Sakura terus-terusan mengerucut. Sementara itu Neji menyeringai melihat raut wajah Sakura yang sangat lucu.

Setelah makan di restoran Yakiniku, Neji mengajak Sakura shopping lagi ke toko sepatu, tas dan aksesoris. Sama seperti tadi, Sakura melihat-lihat label harga setiap barang tersebut- yang pastinya sangat mahal- dan Neji akan membelikannya diam-diam. Sama juga seperti tadi, Sakura berharap dibelikan satu saja oleh Neji, lalu harapannya pupus lagi saat Neji malah mengajaknya ke tempat lain. Ck ck ck.

Hari sudah menjelang malam saat mereka kembali ke dalam mobil dan meninggalkan mall itu. Sakura benar-benar bad mood hari ini, tapi tentu saja tidak ditunjukkannya di depan Neji. Jaga image-lah. Hey, meskipun polos begini, dia juga perempuan normal yang pasti akan senang kalau dibelikan barang-barang seperti itu oleh pacar.

"Emm…Sakura." panggil Neji saat mereka sudah tiba di depan rumah Sakura.

"Ya?" Sakura berbalik menoleh ke arah Neji.

"Tunggu sebentar ya, aku ada sesuatu untukmu." Neji lalu berbalik ke mobilnya dan membuka bagasi mobilnya. Tidak berapa lama kemudian Neji kembali dengan membawa banyak tas-tas jinjing yang terbuat dari kertas tebal. Sakura mengerutkan alisnya.

"Apa itu?"

"Ini ku beli di toko-toko yang kita datangi tadi. Aku diam-diam membelinya dan menyuruh orang lain untuk menaruhnya di bagasi mobilku. Untukmu." Neji menyerahkan tas-tas itu pada Sakura.

Sakura melongo, ini benar-benar di luar dugaannya. Harapan yang tadi pupus kini bangkit lagi. Tapi saat ini bukan perasaan senang yang dirasakannya, melainkan perasaan tidak enak. Dia memang senang karena Neji membelikan barang-barang itu untuknya, tapi ini terlalu banyak. Sakura tidak pernah menerima pemberian dari orang lain sebanyak ini. Apalagi Sakura tahu Neji pasti mengeluarkan uang banyak untuk membeli itu mengingat harganya sangat mahal.

"Neji-kun, ini banyak sekali. Aku tidak bisa menerimanya, ini terlalu banyak." Sakura menyodorkan lagi barang-barang itu ke Neji.

"Kau harus menerimanya, Sakura. Jangan ditolak, aku membelikannya untukmu." Neji mendorong lagi tangan Sakura yang memegang tas-tas kertas itu.

Sakura menggeleng, "Tapi aku tidak mau menerima ini, ini pasti sangat mahal. Aku tidak mau kau malah menganggapku perempuan matre. Aku…"

"Ssst…" Neji menempelkan telunjuknya di bibir Sakura. "Aku tidak pernah menganggapmu begitu. Lagipula aku membelinya dengan uangku sendiri, bukan uang ayahku."

"…"

"Di Paris, aku juga membantu ayah mengurus perusahaannya dan aku mendapatkan imbalan juga. Bukannya aku mau menyombongkan diri, tapi jujur saja, imbalan yang aku terima lebih dari cukup. Apa salahnya aku menggunakan uangku untukmu? Kau kan pacarku." Neji mengelus rambut Sakura dengan lembut.

"Ne-Neji…"

Jemari Neji yang panjang beralih membelai pipi ranum gadis itu. Mata keperakannya memandang lembut gadis di hadapannya.

Kami-sama!

Betapa dia mencintai gadis ini. Jangankan pakaian, tas, sepatu dan perhiasan mewah, seisi bumi pun akan ia berikan untuk gadis ini. Oke, kalimat yang tadi itu mungkin terlalu berlebihan, tapi memang itu yang dirasakannya saat ini.

"Sakura, apapun yang kau inginkan, aku akan memberikannya. Kau mau pakaian yang bagus, sepatu yang lucu, pokoknya semua yang kau butuhkan, kau minta saja padaku. Aku akan memberikannya untukmu. Kau mengerti?"

Sakura mengangguk pelan, perasaannya nyaman saat melihat mata itu begitu teduh menatapnya. Rasanya mudah sekali untuk jatuh cinta pada pemuda itu, tapi tetap saja perasaan itu tidak sama dengan yang dirasakannya terhadap Sasuke. Di sisi Neji, Sakura merasa terlindungi, seolah-olah Neji adalah kakak kandungnya sendiri.

"Tapi satu hal yang tidak bisa aku berikan padamu, Sakura." Nada suara Neji berubah serius. Jemarinya yang tadi membelai pipi Sakura sekarang turun menggenggam tangan gadis itu.

Sakura diam menunggu kata-kata selanjutnya yang akan diucapkan Neji.

"Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu jika kau minta putus dariku." Neji meremas jari-jari tangan Sakura.

Sakura mematung di tempatnya berdiri sekarang, tidak tau harus berkata apa. Dia masih tidak melakukan apapun saat Neji mengecup keningnya.

"Selamat malam, cute!" Neji berbisik di telinga Sakura.

Setelah melemparkan sebuah senyuman lagi, Neji masuk ke mobilnya dan meninggalkan Sakura yang masih terdiam melihat kepergiannya. Sakura melihat ke tas-tas di tangannya, lalu melangkah masuk ke pekarangan rumahnya. Setitik air bening meluncur di pipinya.

'Gomenasai, Neji-kun.'

.

0My_Cute_Lady0

.

Sakura memasuki kelasnya dengan gontai dan malas. Kata-kata Neji semalam benar-benar mengganggu pikirannya. Sakura semakin merasa bersalah pada Neji karena sampai saat ini dia masih belum bisa mencintai pemuda itu seperti dia mencintai Sasuke. Memang rasa sayang itu ada untuk Neji, tapi tidak sebesar sayangnya pada Sasuke. Ngomong-ngomong soal Sasuke, Sakura belum melihat Sasuke di kelas.

'Ia belum datang.'

Entah kenapa Sakura jadi merasa rindu pada Sasuke, dia ingin sekali bertemu pemuda itu sekarang. Suara dinginnya, tatapan tajamnya, wajah datarnya yang sangat tampan, serta gerak tubuh tegapnya yang sangat cool menurutnya. Semua itu membuatnya rindu, padahal kemarin mereka bertemu. Sakura jadi ingin merasakan kemesraan yang selalu ditunjukkan Sasuke di depan teman-temannya.

'Mana sih Sasuke? Dia lama sekali datangnya.'

Sakura jadi khawatir karena sampai bel masuk berbunyi, Sasuke belum datang. Sakura meremas tangannya dengan cemas, bahkan hingga Ebisu-sensei masuk pun, Sasuke masih belum datang.

'Kemana dia? Jangan-jangan terjadi apa-apa padanya.'

Sepanjang pelajaran pagi itu, pikiran Sakura tidak tenang. Dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran, otaknya penuh dengan Sasuke, Sasuke, dan Sasuke. Akhirnya setelah bel istirahat dibunyikan, Sakura izin pulang dengan alasan ada urusan keluarga.

Sakura naik bis menuju apartemen Sasuke, untung saja ia masih ingat dimana alamat apartemen itu. Sesampainya di apartemen mewah itu, Sakura segera masuk dan langsung menuju lantai enam. Begitu tiba di lantai enam, dia bergegas ke kamar apartemen milik Sasuke. Sakura menekan bel yang ada di pintu, tapi tidak ada yang membukakan pintu.

"Sasuke-kun!" panggilnya, berharap Sasuke mendengarnya dan membukakan pintu untuknya.

Sekali lagi ia menekan bel itu, tapi tetap tidak ada yang membuka pintu. Sakura akhirnya menyerah dan bermaksud meninggalkan tempat itu. Tapi baru satu langkah dia berjalan, pintu di belakangnya terbuka.

"Sakura…"

Sakura segera berbalik lagi dan terkejut melihat Sasuke berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sangat pucat dan berantakan. Kancing piyamanya berantakan dan sepasang lingkaran hitam di bawah kelopak mata onyx-nya melengkapi kekacauannya.

"Sasuke-kun!" Sakura berteriak cemas dan berlari menubruk Sasuke. Sasuke hampir terjatuh karena Sakura tiba-tiba saja memeluknya.

"Hei, jangan berteriak seperti itu. Nanti didengar orang lain kan malu." Sasuke mendengus kesal lalu menarik Sakura masuk ke dalam.

"Duduklah dulu, ku ambilkan minum." Sasuke mendudukkan Sakura di sofa, lalu dia sendiri segera ke dapur.

Tidak berapa lama kemudian Sasuke kembali dengan membawa segelas air putih dan teko airnya.

"Minumlah dulu, kau pasti haus." Sakura meminum air itu sampai habis. Tapi sepertinya belum cukup karena dia masih merasa tenggorokannya kering.

"Masih mau minum?" tanya Sasuke. Sakura mengangguk lalu mengambil teko dan menuangkan airnya ke gelas. Ia pun meminum air itu sampai habis.

"Kenapa kau datang ke sini? Mana 'pacar kesayanganmu' itu?" Sasuke melihat Sakura dengan sinis.

Sakura menatap Sasuke dalam-dalam. "Jadi kau tidak suka aku di sini? Baiklah, aku pergi." Sakura beranjak dari duduknya.

"Eit…eit…eit…Jangan marah dulu, aku cuma bercanda saja. Duduklah lagi." Sasuke menarik gadis itu duduk lagi, dia tersenyum melihat Sakura yang mengerucutkan bibirnya.

"Kau bolos sekolah?" tanya Sasuke.

"Tidak, aku izin pulang dengan Shizune-sensei." Sakura menjawab ketus, bibirnya masih merengut.

"Untuk menemuiku?"

Blush.

Semburat kemerahan muncul di kedua pipi Sakura. Sasuke menyeringai melihatnya.

"Jadi kau kangen padaku ya? Baru sehari tidak bertemu sudah kangen." Sasuke mencolek hidung Sakura, wajah Sakura semakin merah karenanya.

"A-aku khawatir tau." Jawab Sakura dengan gugup. Ia memperhatikan wajah Sasuke yang pucat, lalu disentuhnya dahi dan leher Sasuke dengan punggung tangannya. Emeraldnya membesar begitu merasakan panas tubuh Sasuke, wajahnya berubah cemas.

"Kau demam, Sasuke-kun. Kenapa tidak beritahu aku? Kau sudah sarapan belum? Kau sudah ke dokter kan?" Sakura bergerak panik dan menghujami Sasuke dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.

Sasuke memandang Sakura yang terlihat sangat panik dan khawatir. Ia tersenyum, dalam hati ia sangat bahagia karena Sakura mengkhawatirkannya. Digenggamnya tangan Sakura yang berada di lehernya. Dibawanya tangan itu ke bibirnya, lalu dikecupnya lembut.

"Sasuke-kun, kau belum jawab pertanyaanku." Sakura cemberut karena pemuda itu diam saja.

"…"

"Sasuke-kun."

"Aku sudah sarapan tadi, aku tidak perlu ke dokter karena aku hanya pusing saja." Sasuke memandangnya lembut.

"Tapi kenapa kau tidak memberitahuku?"

Lama Sasuke terdiam sambil memperhatikan gadis itu. "Aku tidak mau mengganggu kencanmu dengan Neji. Kau juga pasti tidak suka kalau aku mengganggu acara kalian bukan?"

Sakura terhenyak mendengar perkataan Sasuke, dia bisa merasakan kesedihan yang tersirat di wajah tampan itu. Onyx yang biasanya tajam kini terlihat layu dan tidak bersemangat. Sasuke menundukkan kepalanya sambil memain-mainkan jari-jari Sakura. Dia membentuk jari-jari Sakura jadi seperti kepiting, kemudian dilepasnya lagi, dibentuk lagi, dilepasnya lagi, lalu dibentuk lagi.

"Maaf." Ucap Sakura dengan raut wajah yang menyesal.

"Hn."

"Aku bingung harus bagaimana lagi. Aku tidak bisa mengabaikan Neji-kun, bagaimanapun juga dia pacarku sekarang. Aku tidak mau menyakitinya, dia sangat baik dan perhatian padaku. Aku bingung, Sasuke-kun." Sakura berkata lirih sambil memperhatikan jari-jarinya yang sudah seperti kepiting.

"Hn."

"…"

"Apa kau masih suka padaku, Sakura?" tanya Sasuke tiba-tiba yang langsung mengejutkan Sakura.

"Eh?"

Sasuke mendongakkan wajahnya menatap emerald cerah di depannya. Emerald yang mampu meluluhkan ketajaman onyx miliknya. Sakura hanya menatap Sasuke dengan bingung karena tidak tahu harus menjawab apa.

"Apa kau masih mempunyai cinta untukku? Apa kau masih mencintaiku? Atau hatimu sudah berpaling pada Neji?" suara itu terdengar getir.

"…"

"Dia selalu baik dan perhatian padamu, selalu ada untukmu, sedangkan aku tidak. Aku selalu mengacuhkanmu, membuatmu sakit hati karena aku yang mengejar-ngejar Matsuri, dan diam saja saat orang-orang mengejekmu bahkan mengancammu. Aku tidak sebaik Neji, bukan?"

"Sasuke-kun…"

Tangan Sasuke bergetar lemah di tangan Sakura, membuat Sakura semakin merasa bersalah. Perlahan Sakura mengelus lembut punggung tangan Sasuke yang panas. Hatinya sakit sekali melihat Sasuke seperti ini. Tidak, bukan keadaan seperti ini yang diinginkannya. Ia hanya ingin Sasuke bahagia, bukan seperti ini.

"Kau tidak pernah bahagia bersamaku, kan? Aku selalu menyakitimu, tapi aku juga tidak pernah rela jika kau bersama Neji. Apa aku egois?"

Sakura menunduk, tidak berani melihat mata Sasuke langsung. Dan betapa terkejutnya dia saat sebuah titik air jatuh di punggung tangannya. Sakura meraba matanya, kering. Itu bukan air matanya. Sakura terkejut saat tahu air itu berasal dari onyx hitam Sasuke. Sasuke menangis? Mimpikah ia saat ini?

"Sasuke-kun!" tanpa pikir panjang Sakura maju dan memeluk leher dan kepala Sasuke.

Sasuke menenggelamkan wajahnya di pundak Sakura, sementara kedua tangannya memeluk erat pinggang gadis itu. Sasuke memejamkan matanya, begitu pula dengan Sakura. Mereka sama-sama nyaman saat ini. Sakura sendiri tidak menyangka sama sekali akan melihat Sasuke menangis. Apa Sasuke begitu sakit sehingga sampai mengeluarkan air mata seperti ini?

Sakura merasakan napas Sasuke yang teratur di pundaknya, sepertinya Sasuke sudah tenang. Tapi dia khawatir karena badan Sasuke masih panas. Sakura mencoba bergerak melepaskan pelukan Sasuke, tapi berhenti saat tahu Sasuke ternyata tidur. Akhirnya dibiarkannya saja seperti itu. Sasuke mungkin tertidur karena merasa nyaman.

"Aku tidak pernah bisa melupakanmu, Sasuke-kun. Aku selalu mencintaimu. Tapi keadaanku sangat rumit sekarang, aku juga tidak bisa meninggalkan Neji-kun. Apa aku egois?" Bisiknya lembut.

"…"

"Aku sadar aku ini sangat jahat, aku merasa seolah-olah hanya ingin mempermainkan kalian berdua. Aku harus bagaimana?" Sakura terdiam setelah berbicara seperti itu.

Sakura menyenderkan tubuhnya ke sofa untuk menyamankan diri. Dengan lembut ia membelai rambut raven yang mencuat itu. Selalu saja seperti ini, dia tidak pernah bisa berkutik di hadapan Sasuke. Lelah dengan segala beban pikiran yang memberatinya akhir-akhir ini, Sakura pun tertidur di pelukan Sasuke.

Tanpa Sakura sadari, kelopak mata Sasuke yang tadi terpejam kini terbuka. Ternyata Sasuke tidak tidur, dia hanya memejamkan matanya. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, perasaannya menghangat mendengar setiap kata yang diucapkan Sakura tadi. Sakura masih mencintainya, tidak pernah berubah.

Sasuke mengangkat kepalanya dan memandang Sakura yang terlelap. Mata gadis itu terpejam, menyembunyikan kilau emerald yang selalu mampu membuatnya luluh, pipinya montok dan bersemu merah, hidungnya agak mancung dan kecil, serta bibir pinknya yang mungil mengerucut lucu.

'Kenapa kau begitu imut?' Sasuke gemas sekali melihatnya, seperti melihat bayi yang lucu.

Sasuke mencium pipi ranum Sakura perlahan, menghirup wanginya dengan hidungnya. Perlahan bibirnya turun ke bibir Sakura. Dengan sangat lembut dan penuh perasaan Sasuke mengecup bibir itu. Tubuh pemuda itu bergetar pelan karena perasaan rindu yang selama ini dipendamnya. Sasuke lalu mencium keningnya, pucuk hidungnya, lalu turun lagi ke bibirnya. Kali ini Sasuke sedikit memperdalam ciumannya.

Sakura yang masih terpejam merasakan sesuatu yang lembut melumat bibirnya. Dia bergerak lalu terbangun dari tidurnya yang singkat. Sakura terkejut saat tahu bahwa Sasuke menciumnya. Sasuke sendiri tidak mau berhenti meskipun tahu Sakura terbangun gara-gara ulahnya. Sakura berusaha menarik kepala Sasuke supaya menjauh darinya, tapi tidak bisa. Sasuke bahkan semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Sakura.

"Sas..hmmmb..cukup..mmmb..sesak…" ucap Sakura di tengah ciuman Sasuke.

Sasuke lalu menjauhkan dirinya sedikit dari Sakura yang sedang berusaha menarik napas dalam-dalam. Muka Sakura seperti kepiting rebus dan dia jadi susah mengambil napas. Ternyata ciuman tadi benar-benar ciuman maut, kalau diteruskan, bisa membuat mampus.

"Hn. Maaf."

Sakura melotot pada Sasuke, "Kau hampir membuatku mati tau. Bisa tidak kalau mau mencium izin dulu dan jangan bernafsu seperti itu?"

Sasuke menyeringai, "Bisa kok, sini!"

"KYAAAAAAA..."

Dan terjadilah aksi kejar-kejaran antara Sasuke dan Sakura. Sakura berlari mengelilingi sofa, meja, lalu lari ke dapur dan mereka kejar-kejaran mengelilingi meja makan. Sesekali terdengar suara tawa Sasuke dan jeritan Sakura. Sampai akhirnya Sasuke berhasil mendapatkan tangan Sakura dan menariknya duduk di kursi di depan meja makan.

"UCHIHA PERVERT!"

"Tapi kau suka kan? Mengaku saja, jangan jual mahal!" Sasuke menjawil dagu Sakura dengan gemas membuat wajah Sakura memerah malu.

"KAU MESUM!"

"Apa kau bilang? Mesum? Awas kau ya!"

Sasuke menggelitiki pinggang Sakura hingga gadis itu tertawa kegelian. Mereka berdua terlihat bahagia saat ini, tawa berderai dari mulut mereka, dan mereka menikmati kebersamaan mereka ini. Sasuke memandang Sakura yang tengah tertawa. Seketika rasa penyesalan yang teramat sangat menelusup di hatinya.

Seandainya saja ia dan Sakura seperti ini sebelum Neji muncul di antara mereka, pasti saat ini mereka masih berpacaran. Seandainya saja ia menyadari perasaannya lebih awal, dia tidak akan pernah kehilangan Sakura. Dulu dia selalu menyangkal kata hatinya sendiri, dia sudah meyakinkan dirinya kalau dia tidak akan pernah jatuh cinta pada Sakura.

Yah, apa yang bisa dilihat dari seorang Haruno Sakura? Cantik? Masih banyak yang lebih cantik, seperti Matsuri, Hinata, Karin dan Ino. Pintar? Meskipun dia sekolah di KHS karena beasiswa, tapi jangan lupakan Hyuuga Hinata yang jauh lebih pintar daripada Sakura. Berasal dari keluarga terpandang? Setahunya, keluarga Haruno sama sekali tidak termasuk keluarga yang terpandang di Konoha. Berbody aduhai dan sexy? Kalau yang ini sih…yah…you know lah! Tidak perlu dideskripsikan ulang.

Tapi sekuat apapun Sasuke menyangkalnya, dia tidak akan pernah bisa membohongi hatinya sendiri selamanya. Dia sudah jatuh cinta pada gadis ini, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehnya saat pertama kali ia pindah kesini. Tapi sayang sekali ia baru menyadari itu setelah Neji merebut semuanya.

.

Neji menghempaskan dengan kasar tubuhnya ke ranjangnya. Helaan napas berat dihembuskannya, matanya terpejam. Beberapa menit ia tidak bergerak sedikitpun dari posisinya sekarang. Tidak berapa lama kemudian kelopak matanya kembali terbuka, menampilkan mata keperakan yang terlihat letih.

Dia benar-benar bad mood hari ini, penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah pacarnya sendiri. Keresahan menyiksanya dari sekolah tadi saat dia mengetahui dari Naruto kalau Sasuke tidak masuk sekolah dan Sakura yang izin pulang saat istirahat. Entah kenapa perasaannya mengatakan kalau Sakura pasti menemui Sasuke.

Ngilu dan sesak.

Itu yang dirasakannya saat ini, dia tidak mau membayangkan apa yang dilakukan pria Uchiha itu dengan pacarnya. Memikirkannya saja membuatnya sesak. Apa memang seperti ini rasanya mencintai? Kenapa sakit sekali? Apa memang tidak ada harapan lagi baginya untuk membuat Sakura berpaling padanya?

Sialan!

Terkadang dia berpikir, memangnya siapa itu Haruno Sakura yang membuatnya jadi kehilangan akal seperti ini? Dia adalah Hyuuga Neji, putra kebanggaan ayahnya, keturunan Hyuuga yang dibanggakan. Selama ini semua orang mengenalnya sebagai Hyuuga yang tegas, bijak, tidak pernah terpengaruh emosi, cerdas, dan pastinya tidak akan merendahkan dirinya sendiri hanya untuk seorang gadis. Seorang gadis yang bahkan tidak berarti apa-apa di lingkungannya.

Gadis biasa, tidak terlalu cantik, tidak juga kaya raya, tidak terlalu menonjol, dan juga tidak memiliki bentuk fisik yang…waw! Neji meremas rambut panjangnya. Kenapa dia bisa mencintai gadis itu? Kenapa dia takut sekali untuk kehilangan gadis itu? Kenapa dia selalu menganggap gadis itu istimewa? Dia juga tidak tahu.

Yang dia tahu, dia tidak akan membiarkan pria manapun merebutnya. Yah, meskipun itu sudah hampir terjadi karena pria Uchiha yang dengan liciknya membuat dia tidak berkutik dan membiarkan saja Sakura jauh darinya. Tidak akan pernah dibiarkannya. Neji tidak peduli lagi apakah Sakura bisa mencintainya atau tidak, yang penting status 'kekasih'.

Yang paling penting bukan perasaan gadis itu padanya, tidak apa-apa Sakura hanya kasihan atau merasa tidak enak padanya asalkan dia bisa bersama gadis itu. Dia akan merebut perhatian Sakura dengan cara apapun. Dan kemarin, ia sudah berhasil menjalankan usaha pertamanya, membelikan Sakura barang-barang mewah.

Dia yakin sekali bahwa sepolos apapun Sakura, dia pasti senang jika diberi barang-barang yang bagus dan mahal. Neji tidak sayang uang kalau memang itu bisa merebut hati gadisnya. Baginya uang tidak berarti apa-apa dibandingkan gadis itu. Dia rela menghabiskan semua uang yang dimilikinya hanya untuk mengambil hati Sakura.

Seulas senyum menghiasi wajah tampannya, sepertinya ia sudah menyiapkan rencana-rencana untuk mengambil hati gadis Haruno itu.

.

0My_Cute_Lady0

.

Hening. Itulah keadaan di kelas XII IPS 1 sekarang, kelas yang biasanya selalu gaduh itu sekarang sunyi senyap. Tentu saja sunyi karena di kelas itu sedang diadakan ulangan mendadak. Tapi meskipun terlihat sunyi, sebagian besar murid di sana gelisah bukan main.

Suara ketukan pelan di meja guru terdengar seperti lonceng kematian bagi murid-murid. Tapi sepertinya tidak semua murid yang gelisah, setidaknya masih ada tiga orang yang mengerjakan ulangan Akuntansi itu dengan tenang, siapa lagi kalau Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, dan Nara Shikamaru.

"Yap, bagus! Sekarang tinggal buat Cash Flow!" Sakura berseru senang dengan suara yang pelan.

Sasuke melirik ke sampingnya, tepatnya ke arah gadis pink yang tersenyum senang sambil mengerjakan ulangannya. Mau tak mau Sasuke ikut tersenyum dibuatnya. Pemuda itu meletakkan pulpennya di atas meja, dia sudah selesai mengerjakan semua soal dan sekarang dia hanya ingin memperhatikan Sakura.

Ingin rasanya ia tertawa ketika melihat wajah serius Sakura, menurutnya itu sangat imut dan lucu. Pandangan Sasuke turun ke bibir Sakura yang tengah mengerut. Bayangan kejadian ciuman di apartemennya kemarin membuat pipinya sedikit merah, otaknya mengingat-ingat lagi bagaimana rasa bibir mungil itu. Tanpa sadar Sasuke menjilat-jilat bibirnya sendiri.

Ketukan jemari di meja guru berhenti, Iruka memperhatikan seorang pemuda tampan berambut raven dengan seksama. Perutnya sedikit geli melihat pemuda yang biasanya bertampang dingin dan datar itu kini terlihat bodoh. Bagaimana tidak bodoh? Onyx pemuda itu seperti mata anak autis, raut wajah yang terlihat lapar dengan pipi merona merah dan lidah yang menjilat-jilat bibir sendiri. Iruka menyeringai, otak jahilnya muncul ke permukaan.

"Kau kenapa Uchiha Sasuke? Kau itu seperti monyet yang kelaparan melihat pisang segar!" Iruka berkata dengan suara lantang sambil terus menyeringai.

Sontak saja semua murid termasuk Sakura yang tadinya serius dengan soal-soal, sekarang menoleh ke arah Sasuke yang masih bertahan dengan posisi dan tampang bodohnya. Jelas Sasuke tidak mendengar perkataan Iruka sama sekali. Sakura bengong melihat Sasuke yang menatapnya aneh.

"…"

"…"

"…"

SIIIIIIINNNGGG…

"BWAHAHAHAHAAHA!"

"HAHAHAHAHAHA!"

Sasuke tersentak dari lamunannya tentang ciuman dan melihat ke sekeliling. Dia heran karena semua murid laki-laki tertawa. Sementara itu murid-murid perempuan melongo menatapnya.

"KYAAAAAAA!"

"KAWAAAIIIIII….."

"SASUKE-KUN KEREN SEKALI! KYAAAAA!"

"AW! MANISNYA!"

Sasuke yang sama sekali tidak mengerti hanya bisa bengong dan ekspresi bengongnya saat ini sukses membuat teriakan histeris para perempuan itu semakin heboh. Parahnya, teriakan histeris itu mengalahkan suara tawa murid laki-laki. Sontak saja kehebohan itu mengundang kelas-kelas lain yang penasaran. Ada apakah gerangan yang terjadi di kelas itu? Apa kelas itu ada jumpa fans Robert Pattinson?

Sasuke menoleh pada Sakura yang juga ikut-ikutan bengong. Merasa ditatap, Sakura pun membalas tatapan Sasuke lalu mengangkat bahunya cuek.

.

.

"Diam, bodoh!" gertak seorang pemuda berambut raven kepada pemuda di depannya yang sedang tertawa.

"Hahaha, kau harusnya lihat bagaimana wajahmu tadi! Kau terlihat bodoh, Sasu-chan!" pemuda itu masih tertawa tanpa mempedulikan tatapan maut nan mematikan milik seorang Uchiha.

"Kubilang diam, Naruto-baka! Dan jangan panggil aku dengan panggilan menjijikkan seperti itu." Sasuke mencengkeram tangan Naruto.

"Halah, bilang saja kau malu. Iya kan? Iya kan?" Naruto menepis tangan Sasuke dan balas menatap tatapan tajam Sasuke dengan kerlingan nakal.

Ow ow ow. Dahi Sasuke berkerut, baru kali ini ada orang yang berani menepis tangannya dengan enteng begitu, bahkan tidak terpengaruh sama sekali dengan deathglare andalannya. Dan fakta itu membuat Sasuke sedikit terkejut, Namikaze Naruto tidak takut padanya?

"Cih!"

Sasuke memalingkan muka, tapi tatapannya kembali pada Naruto saat dia sadar Naruto diam saja. Alis Sasuke berkerut melihat Naruto menatapnya dengan serius.

"Ehm, Sasuke. Aku mau tanya soal hubunganmu dengan Sakura. Jangan marah ya, sebenarnya aku tahu ini dari Hinata-chan, tapi kau jangan marah dulu!" Naruto berbisik sambil menengok kiri-kanan. Untung saja kelas dalam keadaan sepi.

"Hn?"

"Kata Hinata-chan, Saku-chan dan Neji-nii pacaran ya? Dan kau sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Saku-chan, benar?" Naruto menatap penasaran pada Sasuke.

Rahang Sasuke mengeras kaku, tubuhnya menegang mendengar ucapan Naruto. Matanya menjadi jauh lebih mengerikan daripada sebelumnya, tapi itu sama sekali tidak membuat Naruto ketakutan. Naruto menganggap diamnya Sasuke merupakan pembenaran atas ucapannya tadi.

"Jadi benar ya? Lalu kenapa kau sepertinya terlihat masih pacaran dengan Saku-chan? Atau jangan-jangan karena fansgirl-mu itu ya?" tatapan Naruto semakin menyelidik.

Sial! Sasuke sama sekali tidak menyangka 'si bodoh' ini ternyata pintar juga membaca situasi.

"Itu bukan urusanmu!" tukas Sasuke dingin.

Naruto menghela napas, "Memang sih itu bukan urusanku, tapi bagaimana pun juga Saku-chan itu temanku sejak SD, aku akrab dengannya dan aku sudah menganggapnya adik kandungku sendiri."

"…"

"Sakura itu dulu cengeng sekali…"

Sasuke menajamkan telinganya mendengar kata-kata Naruto. Sepertinya Naruto bermaksud untuk menceritakan tentang Sakura dan dia tidak mau melewatkan ini. Disimaknya setiap perkataan Naruto dengan seksama.

"Dia itu dulu tidak pernah punya teman, tidak ada yang mau berteman dengannya karena rambutnya yang aneh. Setiap sore aku selalu melihatnya di taman sambil membaca buku, lalu kami berkenalan. Lalu saat kelas lima, kami berteman dengan Ino dan Hinata."

"…"

"Sejak aku berteman dengannya, aku jadi tahu semua sifatnya, dia gadis yang periang, temperamen, aneh tapi penakut. Dia itu tidak suka kekerasan dan tidak suka dibentak, apalagi oleh laki-laki. Pernah ada anak laki-laki yang membentaknya dan Saku-chan langsung menangis sampai tidak mau masuk kelas karena takut dengan orang itu. Dan aku langsung saja membuat anak itu babak belur. Hahaha…" Naruto tertawa kecil sambil menepuk pundak Sasuke.

Sasuke mengerti sekarang, kenapa Sakura selalu terlihat ketakutan setiap kali dia bentak.

"Jujur saja, Saku-chan itu…cinta pertamaku." Ucap Naruto pelan.

Sasuke tersentak mendengarnya, matanya melotot ke arah Naruto. Sakura? Cinta pertamanya? Tapi dia dengan Hinata? Matanya memandang tajam Naruto yang terkekeh geli melihat ekspresinya yang posesif.

"Hei, santai bro! Jangan melotot begitu!" Naruto menepuk-nepuk pundak Sasuke sambil menyeringai.

"Aku akui dia memang cinta pertamaku dan yah…perasaan itu masih ada sampai sekarang, tapi hanya sedikit sekali. Sedikit kok!" Sasuke masih memelototi pemuda yang tengah nyengir itu.

"Apa Sakura tahu itu?" tanya Sasuke gusar.

Naruto mengangguk, "Ya, dia tahu. Aku pernah menyatakan cintaku saat SMP, tiga kali malah. Tapi…ditolak." Kali ini wajah Naruto terlihat muram.

"…"

"Dia hanya menganggapku sahabat baik, tidak lebih. Aku kecewa saat itu, tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak peduli dia menolakku, aku tetap bertekad untuk melindunginya. Dia itu meskipun terlihat cuek setengah mati di luar, tapi dia juga peduli pada semua orang."

"…"

"Aku cukup puas hanya menjadi sahabatnya, yang penting aku masih bisa menjaganya. Aku, Ino, dan Hinata sayang padanya. Asal kau tahu Sasuke…" tiba-tiba raut muka Naruto berubah serius saat mengucapkan kalimat terakhir.

"Hn?" Sasuke penasaran dengan kelanjutan kalimat menggantung dari Naruto.

"Di sekolah ini, sebenarnya sainganmu itu banyak. Jangan salah, meskipun kelihatannya Saku-chan itu tidak populer dan biasa saja, tapi banyak pemuda di KHS yang diam-diam menaruh hati padanya. Sakura juga sering jadi bahan pembicaraan di antara teman-temanku. Yah, walaupun dia bertubuh kecil, tapi wajahnya itu kan sangat imut. Dia itu benar-benar lucu dan menggemaskan. Setiap cowok yang melihatnya pasti ingin sekali mencubit pipinya yang tembem itu. Menggemaskan!" Naruto membuat gerakan seolah-olah sedang mencubit pipi Sakura dengan gemas.

"Apa?" Sasuke menggeram kesal, dadanya bergemuruh mendengar bahwa banyak yang mengincar gadisnya. Ditambah ekspresi Naruto yang semakin membuatnya cemburu.

"He'eh. Ya, menurutku wajar saja kalau kau dan Neji sampai menyukainya. Kau tahu Akasuna Sasori?"

Sasuke berpikir sejenak, "Sasori? Ketua klub karate?"

"Yap! Dia itu pernah 'nembak' Saku-chan lho waktu kelas satu."

Onyx itu membelalak, "Apa?"

"Iya, Sasuke. Bahkan kemarin dia bilang pada teman-teman klubnya kalau dia ingin kau putus dengan Saku-chan. Jangan ragukan perkataanku lho, kalau masalah gosip, aku juga tidak kalah dari Ino." Naruto bercerita dengan semangat.

"Benarkah? Terus, terus?" Sasuke sepertinya terlihat sangat bersemangat.

Oh, well. Sepertinya Sasuke tidak sadar kalau dia sudah terpengaruh jadi penggosip juga seperti Naruto. Tampaknya berteman dengan Naruto membuatnya sedikit demi sedikit melupakan harga dirinya.

"Ada lagi, kau tahu Suigetsu, Rock Lee, dan Shikamaru?"

"Ya aku tahu, mereka kan teman sekelas kita."

"Seratus untukmu, Uchiha! Mereka itu juga suka sama Saku-chan, tapi sepertinya Shikamaru tidak lagi, dia kan sudah pacaran dengan Ino."

"Ohh…" Sasuke manggut-manggut. "Lalu kau sendiri bagaimana bisa pacaran dengan Hinata?"

"Oh, ya karena menurutku Hinata itu anak yang manis sekali, lagipula aku sudah menyerah untuk mendapatkan Saku-chan. Aku tidak akan bisa bersaing dengan kau dan Neji."

"Tentu saja, mana bisa kau bersaing denganku." Ucap Sasuke bangga, secara tidak sadar dia telah menunjukkan kenarsisannya yang selama ini tersimpan rapat-rapat dalam hati. Good job for Naruto-baka!

"Kau sendiri bagaimana bisa mendapatkan Sakura?"

Dan bel masuk setelah istirahat berbunyi, obrolan…ehm, gosip mereka berhenti sampai di situ. Sebenarnya Sasuke masih ingin mengobrol (baca : menggosip) banyak dengan Naruto, tapi diurungkannya karena murid-murid lain sudah masuk kelas. Dalam hati, keduanya berpikir…

'Ternyata dia cukup menyenangkan. Aku bisa mendapatkan info lebih banyak tentang Sakura darinya.' Pikir Sasuke.

'Ternyata dia tidak sedingin yang kukira, orangnya cukup menyenangkan.' Pikir Naruto.

Sasuke tersenyum tipis, keputusannya pindah ke Konoha tidak disesalinya. Dia tidak hanya mendapatkan gadis yang sangat dicintainya, tetapi juga teman yang cocok untuknya karena selama ini Sasuke tidak pernah punya teman untuk diajak mengobrol. Sejujurnya dia salut pada Naruto yang sama sekali tidak takut padanya, bahkan Naruto tidak terpengaruh sama sekali dengan sikapnya yang dingin. Dia memandang Naruto yang sedang menyiapkan bukunya di atas meja, Sasuke tersenyum tipis.

'My first friend!'

0My_Cute_Lady0

TEET TEET TEET

Bel tiga kali menandakan sekolah sudah usai dan para siswa boleh pulang ke rumah masing-masing. Sakura membereskan buku-bukunya dan memasukkannya ke tas ranselnya. Kegiatannya berhenti ketika merasa ponselnya di tasnya bergetar. Dengan cepat ia mengambil ponselnya dan melihat ke layar ponsel.

Tunggu aku di kelas, jangan kemana-mana sebelum aku datang. Sebentar lagi rapat klub bola akan selesai. Ingat! Jangan kemana-mana kalau kau tidak ingin aku sakit lagi.

Sasuke.

Sakura menghela napas setelah membaca pesan itu, perlahan senyum terukir dari bibirnya. Dia senang karena Sasuke semakin menunjukkan tanda-tanda bahwa pemuda itu memang mencintainya. Seandainya saja ini terjadi sebelum dia menerima Neji jadi pacarnya. Sakura sedikit menyesal juga waktu itu terlalu terburu-buru memutuskan untuk jadian dengan Neji. Coba saja saat itu ia tidak terbawa emosi, pasti…

"Arrrghh…"

Sakura menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran itu dari otaknya. Apa yang dia pikirkan tadi? Neji sangat baik, terlalu baik malah. Hanya gadis yang sangat kejam dan bodoh yang tega menyakiti pemuda sebaik itu. Neji sudah jelas tahu ia mencintai Sasuke, tapi ia tetap menerimanya. Bahkan pemuda itu dengan gentle-nya berkata bahwa ia akan membuat Sakura jatuh cinta padanya dan memberikan apapun yang diinginkannya.

"Sakura."

"Eh?"

Sakura terbelalak begitu tahu siapa yang memanggil namanya. Panjang umur, baru dipikirkan orangnya sudah muncul. Neji memasuki kelas dengan santai, untung saja di kelas itu hanya ada Sakura.

"Kau ada waktu hari ini?" tanya Neji dengan lembut, membuat Sakura hampir meleleh saking lembutnya.

"Eh, aku… memangnya ada apa?"

Neji tampak berpikir sesaat sebelum akhirnya bersuara lagi, "Ayahku ingin bertemu denganmu."

"Hah?" Sakura terkejut bukan main saat mendengar kata 'ayah'.

"Ya, dia baru datang dari Paris tadi pagi. Mendadak memang, tapi dia ingin bertemu denganmu hari ini. Kau bisa?" Neji menatap Sakura penuh harap.

"Ehmm, tapi aku belum siap. Ak-"

"Jangan khawatir," ucapan Sakura dipotong oleh Neji, "sekarang aku akan membawamu ke salon langganan Hinata untuk bersiap-siap. Nanti biar aku yang memberitahu ayahmu. Mau kan?"

Sebenarnya Sakura masih teringat dengan SMS dari Sasuke tadi, tapi ia juga tidak enak menolak permintaan Neji. Bagaimanapun juga Neji itu kekasihnya, apa salahnya jika ia menuruti keinginan Neji? Tanpa pikir panjang Sakura mengangguk mantap. Neji tersenyum senang dan langsung menggandeng Sakura keluar kelas.

.

.

Rapat klub sepak bola baru saja selesai. Tampak anggota-anggota klub keluar dari ruang rapat. Naruto merangkul bahu Sasuke sambil berjalan melewati koridor tanpa menghiraukan wajah Sasuke yang kesal karena dirangkul.

"Kau hebat sekali, Sasuke. Akhirnya kau dipilih Kakashi-sensei untuk masuk tim inti, padahal kan belum lama bergabung. Selamat ya." Katanya sambil memamerkan cengiran lebarnya.

Sasuke menyeringai, "Tentu saja."

DUAK.

"Aduh, apa yang kau lakukan? Dasar bodoh!" Sasuke melayangkan tatapan mautnya pada Naruto yang tadi memukul kepalanya. Tapi sepertinya Naruto memang bermuka tembok, dia tidak terpengaruh sama sekali dengan tatapan mematikan itu.

"Makanya, kalau dipuji orang ucapkanlah 'terima kasih'. Jangan sok keren begitu! Teme!" Naruto menjulurkan lidahnya pada Sasuke.

"Kau bilang apa?" geram Sasuke.

"Teme! Karena kau memang brengsek, sok keren, kepedean, dan arogan."

"Kau…dobe!" Sasuke membentak Naruto dengan suara yang cukup keras.

"Apa?" Naruto balas menatap Sasuke tak kalah garang.

"Kau. Dobe. Karena kau memang bodoh, idiot, IQ bongkok tapi sok pintar."

"Oooh, berani sekali kau ya! Kau tidak tahu kalau aku pernah belajar karate?" Naruto menarik lengan bajunya dengan gaya ala preman.

Belum sempat Sasuke membalas, ponselnya yang ada di saku celananya bergetar. Dia merogoh ponselnya dan membaca pesan yang baru masuk.

Sasuke, maaf aku tidak bisa pulang bersamamu. Aku pulang duluan bersama Neji-kun. Dia mau mengajakku ke rumahnya. Kau langsung pulang saja ya, hati-hati di jalan.

Sakura.

Sasuke meremas erat ponselnya dengan geram, raut wajahnya jadi terlihat mengerikan. Tanpa buang waktu lagi ia berlari dengan kencang ke luar sekolah, mengacuhkan Naruto yang berteriak memanggilnya.

"HOI TEMEE! URUSAN KITA BELUM SELESAI!"

Sampai di tempat parkir, ia langsung memasuki mobilnya dan melajukannya kencang. Ia yakin Neji dan Sakura pasti belum jauh. Wajahnya terlihat sangat marah sekaligus panik. Tidak akan ia biarkan lelaki manapun membawa pergi Sakura-nya. Gadis itu miliknya dan selamanya tetap begitu. Ia tidak mempedulikan lagi umpatan-umpatan pejalan kaki yang hampir saja tertabrak mobilnya yang tengah ngebut tak karuan. Yang ada di pikirannya hanya satu, Sakura.

Tidak butuh waktu lama untuk menemukan mobil Neji yang melaju dengan kecepatan sedang di depannya. Saat di jalanan yang sepi, Sasuke segera menyalib mobil Neji sehingga Ferrari itu berhenti mendadak. Dengan amarah yang menguasainya ia turun dari mobilnya dan mendekati mobil Neji.

DUAGH!

Sasuke memukul kaca mobil Neji, untung saja tidak pecah.

"KELUAR!"

Tidak berapa lama kemudian Neji turun dari mobilnya dan langsung saja lehernya dicengkeram oleh Sasuke. Tubuh Neji terhempas ke pintu mobilnya karena didorong Sasuke, sementara lehernya masih saja dicengkeram Sasuke.

"Apa masalahmu, Uchiha?" desis Neji geram.

Neji berontak dari cengkeraman Sasuke dan menepis tangan Sasuke dengan kasar. Baik Neji maupun Sasuke berdiri tegap dengan tatapan yang saling menantang satu sama lain. Sakura yang merasa akan terjadi perkelahian lagi langsung turun dari dalam mobil dan mengambil tempat di antara mereka berdua.

"Kalian berdua hentikan!" Teriak Sakura kencang, membuat Neji dan Sasuke mengalihkan pandangan mereka.

"Sakura! Sudah kubilang tadi kau pulang bersamaku. Tunggu aku di kelas dan jangan kemana-mana sebelum aku datang, tapi kenapa kau malah pulang duluan?" tanya Sasuke marah.

"Jangan seenaknya, Uchiha! Kau hanya boleh mendekati Sakura jika di sekolah, tapi kalau di luar sekolah dia hanya boleh bersamaku." Ucap Neji tak mau kalah.

Sasuke mendelik marah pada Neji, "Aku tidak bicara padamu, Hyuuga!"

"Tapi kau mengganggu kami sekarang, jadi aku berhak marah padamu." Balas Neji tak kalah garang.

Sakura menoleh kepada Neji sejenak dan meminta izin untuk bicara pada Sasuke sebentar. Tanpa menunggu persetujuan Neji, Sakura menarik Sasuke menjauh.

"Sasuke-kun, aku mohon padamu, izinkan aku ikut Neji-kun sekarang. Please!" Ucap Sakura menatap Sasuke yang masih marah.

Sasuke terdiam menatap mata gadis itu yang memelas. Bukannya luluh tapi dia malah semakin marah melihat Sakura memohon padanya seperti itu. Dicengkeramnya bahu Sakura erat, membuat gadis itu sedikit meringis.

"Kau sudah janji padaku, Haruno Sakura." Nada dingin menusuk itu terdengar mengerikan di telinga Sakura. Dia sudah merasakan firasat buruk saat Sasuke memanggilnya Haruno Sakura.

"Tapi, Sasuke-kun, ayah Neji ingin bertemu denganku sekarang. Aku tidak enak menolaknya. Ayolah, jangan seperti anak kecil begini." Sakura berusaha membujuk Sasuke yang kelihatannya semakin kesal saja.

Sasuke terdiam cukup lama. Di otaknya berseliweran bayangan Sakura bertemu dengan ayah Neji…ehm bagaimana ya menyebutnya, 'calon mertua' mungkin. Baru membayangkannya saja ia sudah ngeri setengah mati. Bagaimana kalau ayah Neji ingin bertemu dengan ayah Sakura? Lalu mereka akan membicarakan perjodohan, lalu Sakura dan Neji akan ditunangkan, lalu Neji akan menikahi Sakura, lalu…

'Arrrggghhhhh…!' Sasuke menggeram dalam hatinya.

Tidak. Itu tidak boleh terjadi, dia tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Jangan harap!

"Aku tidak mau kau pergi dengan Neji, kau sudah janji padaku. Kau lupa akan menemaniku ke mall, Sakura?" Sasuke masih bersikeras menahan Sakura, sementara itu Neji yang berdiri di samping mobilnya menatap tidak sabar ke arah mereka.

"Aduh please, Sasuke-kun. Besok saja ya? Aku janji besok pasti aku akan menemanimu." Sakura mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.

Tiba-tiba saja tangan Sakura ditarik oleh Neji, "Sudahlah, Sakura. Jangan memohon seperti itu padanya. Dia sama sekali tidak berhak mendapatkan itu, ingat aku ini pacarmu. Dia bukan siapa-siapa." Setelah berkata seperti itu Neji langsung menarik Sakura pergi.

"Sasuke, maaf ya!" Ucap Sakura pada Sasuke yang masih berdiri di samping mobil Neji.

"Terserah! Kau pergi saja sana, semoga saja calon mertuamu menyukaimu dan kalian langsung menikah!" Bentak Sasuke kesal tanpa berpikir dulu.

Sakura mematung mendengar ucapan Sasuke, ternyata pemuda itu benar-benar marah. Dia masih mematung sampai Neji menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Neji pun tersenyum sinis pada Sasuke.

"Terima kasih doanya, Uchiha. Kau jangan khawatir, kau akan jadi orang pertama yang kami undang ke pesta pernikahan kami nanti." Ucap Neji sarkastik.

"Cih!"

Setelah melayangkan senyum kemenangan untuk terakhir kali, Neji pun melajukan mobilnya meninggalkan Sasuke yang baru saja ingin menendang ban mobilnya.

"SIALAN!"

.

0My_Cute_Lady0

.

Setelah menghabiskan waktu tiga jam di salon langganan Hinata, pasangan NejiSaku itupun melaju ke mansion Hyuuga. Sepanjang perjalanan Neji tak henti-hentinya melirik ke arah Sakura dan sepanjang itu pula wajahnya diliputi semburat merah. Gadisnya sangat cantik dengan memakai gaun terusan indah berwarna merah marun selutut. Polesan make-up yang profesional memperindah wajah imutnya sehingga terlihat natural.

Sakura yang merasa dipandang terus oleh Neji jadi salah tingkah sendiri. Keadaan sunyi didalam mobil menambah rasa canggungnya. Selain itu dia juga gugup karena akan bertemu dengan ayah Neji. Entah kenapa dalam hatinya dia berharap ayah Neji tidak akan terlalu suka padanya. Jahatkah dia? Dia juga tidak tahu kenapa ia berharap begitu. Dengan begitu dia punya alasan untuk lepas dari Neji karena bagaimanapun juga, dia akan terus menyakiti pemuda itu jika terus bersama. Neji pantas mendapatkan gadis yang jauh lebih baik daripada dirinya.

Tapi Sakura teringat lagi perkataan Neji malam saat pulang dari mall. Neji tidak akan pernah mengabulkan permintaannya jika itu adalah permintaan putus. Bagaimana ini? Di satu sisi ia tidak tega meninggalkan Neji begitu saja, tapi jika terus dipaksakan yang ada malah ia terus membohongi Neji. Ia masih sangat mencintai Sasuke dan perasaannya pada Neji hanyalah sebatas perasaannya yang menginginkan kasih sayang seorang kakak.

Saking sibuk dengan pergelutan batin, Sakura tidak sadar kalau mereka sudah tiba di halaman mansion Hyuuga. Neji menepuk pundak Sakura pelan.

"Sakura, kita sudah sampai."

"Eh? I-iya." Jawab Sakura bingung, tentu saja Neji menyadarinya.

"Kau kenapa? Sakit?" tanya Neji khawatir.

Dengan cepat Sakura menggeleng, "Tidak, aku cuma gugup saja."

Seulas senyuman lembut terlukis di wajah tampan itu, Neji menggenggam tangan Sakura, berusaha untuk meyakinkan gadisnya.

"Tidak apa-apa, lebih baik kita masuk ke dalam. Aku jamin ayahku pasti akan menyukaimu."

Mereka pun turun dari mobil dan melangkah masuk ke pintu utama mansion. Saat masuk ke dalam, Sakura berusaha menyembunyikan kekagumannya pada dekorasi ruangan ini. Jujur saja, meskipun ia sudah berteman lama dengan Hinata, tapi dia sama sekali belum pernah sekalipun main ke sini. Saat tiba di ruang yang sepertinya ruang makan, Sakura disambut oleh sahabatnya.

"Sakura-chan, selamat datang." Sapa Hyuuga Hinata lembut lalu memberikan pelukan singkat pada Sakura.

"Hai, Hinata-chan." Sakura membalas pelukan Hinata. Dalam hati ia sangat bersyukur karena ada sahabatnya disini, jadi dia terlalu canggung.

"Ayahku dan Hizashi-jisan sudah menunggumu. Ayo kita kesana." Hinata menarik Sakura ke sebuah meja besar yang di atasnya sudah tersedia makanan-makanan. Tapi bukan itu yang jadi perhatian Sakura, melainkan tiga orang yang duduk di kursi di depan meja itu.

Seorang gadis belia berumur empat belas tahun yang sudah dikenalnya, Hyuuga Hanabi. Lalu dua orang pria empat puluh tahunan yang mempunyai fisik yang sama. Sakura memang tahu kalau ayah Hinata dan ayah Neji itu kembar, tapi tetap saja dia tidak bisa membedakan mana Hiashi dan mana Hizashi. Sakura masih berspekulasi untuk membedakan dua pria itu hingga tangan kekar Neji merangkul bahunya.

"Ayah, Paman, kenalkan ini pacarku yang aku ceritakan, Haruno Sakura." Sakura ber-ojigi memberi hormat pada Hiashi dan Hizashi meskipun dia masih bingung.

"Ah, jadi ini calon menantuku? Neji benar bukan Hiashi? Dia cantik sekali." Sakura melihat seorang pria yang berambut agak pendek tersenyum padanya, Sakura balas tersenyum manis.

'Jadi dia ayah Neji?'

Setelah dipersilahkan duduk, mereka pun segera larut dalam obrolan yang akrab namun elegan. Yah, tentu saja khas orang kaya sekali, apalagi untuk keluarga seperti Hyuuga. Untung saja Sakura bisa mengimbangi setiap obrolan dan pertanyaan dari Hizashi maupun Hiashi dengan baik. Tapi dalam hati Sakura tetap berharap Hiashi tidak terlalu menyukainya.

"Jadi apa kalian sudah merencanakan untuk lanjut ke pertunangan setelah tamat sekolah?"

Sakura nyaris tersedak minumannya saat mendengar pertanyaan yang terdengar enteng dari bibir Hizashi. Well, Sakura berharap sekali ayah Neji akan menentang hubungannya dengan Neji.

"Ehm…kami belum merencanakannya, Ayah. Kami belum pernah membicarakannya." Jawab Neji ringan.

Alis Hizashi mengerut, "Kenapa belum dibicarakan? Kalian sudah kelas tiga, sebentar lagi lulus. Ayah ingin kalian cepat-cepat menikah karena ayah sudah tidak sabar ingin dapat cucu, benar kan saudaraku?" Hizashi mengalihkan pandangannya pada Hiashi.

"Ya, benar. Aku saja sudah berencana untuk cepat-cepat menikahkan Hinata dengan Naruto setelah mereka tamat." Jawab Hiashi.

Kali ini Hinata yang nyaris tersedak ludahnya, wajahnya sudah memerah seperti tomat. Hanabi terkikik melihat Sakura dan Hinata yang sama-sama memerah wajahnya.

"Ta-tapi, Paman…" Sakura ingin berkata namun langsung dipotong oleh Hizashi.

"Kenapa? Kau memikirkan pendidikanmu setelah tamat? Kau tenang saja, setelah menikah kan kau bisa melanjutkan kuliah di Paris."

Kedua bola mata Sakura membelalak, "Pa-Paris?"

Hizashi mengangguk, "Ya, setelah tamat SMA Neji akan ke Paris lagi. Dia harus membantuku mengurus perusahaan di sana. Jadi setelah menikah kau dan Neji akan tinggal di Paris. Untuk sementara ini kalian tunangan saja dulu, biar setelah tamat bisa langsung menikah. Nanti aku akan membicarakan ini pada ayahmu, Sakura."

Sakura bungkam seribu bahasa, tidak tahu harus berkata apa lagi. Ini bahkan jauh lebih mengerikan dari yang dibayangkannya. Bertunangan? Menikah? What the…? Dia melayangkan tatapan pada Neji yang memandangnya lembut, Sakura bahkan tidak membalas senyuman Neji saking shock-nya. Dialihkan tatapannya pada Hinata yang balas menatapnya prihatin. Hinata tahu benar bagaimana perasaan Sakura sekarang.

Hinata tersenyum menenangkan seakan mengatakan, 'Yang sabar ya, Sakura-chan!'

Sakura menunduk memandangi piring bekas makannya tadi. Bayangan Sasuke yang memeluknya, tersenyum padanya, menciumnya, dan mencolek dagunya berkelebat di pelupuk matanya. Dadanya sesak membayangkan Sasuke yang kecewa melihatnya bertunangan dengan Neji, lalu Sasuke yang stres karena pernikahannya dengan Neji, lalu Sasuke yang gantung diri saat dia dan Neji pergi meninggalkan Jepang.

'Argggh…!'

Tidak. Jangan sampai itu terjadi. Dia tidak akan rela melihat Sasuke yang bunuh diri karena dirinya. Tapi tetap saja bayang-bayang mengerikan itu terus bermunculan di otaknya. Wajah Sasuke yang pucat tidak bernyawa, tangisan massal fansclub Sasuke, cacian Karin dan Matsuri padanya, dan…

Kami-sama, sepertinya otaknya mulai rusak sekarang. Lalu ia harus bagaimana sekarang? Apa yang harus dilakukannya?

'Ayah! Tolonglah putrimu ini!'

To Be Continued…


.

.

H-hai s-semua…! *nunduk takut*

Go-gomen, Cherry telat, ehm sangat telat update-nya. Tapi bneran cherry gak bermaksud menelantarkan fic ini, sungguh *DigeplakK*

Maslahnya, Cherry lupa password akunnya, hehehe… jadi gak bisa dibuka, udah dicoba-coba tapi tetep gak bisa. Akhirnya setelah gali-gali di dasar otak sampai batasnya, akhirnya inget juga. Hahaaha…*Ketawa ketakutan*

Beneran, Cherry gak bohong! Sekali lagi maafkan saya ya, atas keterlambatannya dan atas cerita chapter ini yang gak sesuai dengan keinginan para reader sekalian. Di chap ini Sasuke belum balikan ama Sakura, saya mau buat Saku bingung setengah mati karena Hizashi, fu fu fu *smirk*… kira-kira gimana ya reaksi Sasuke dengan rencana pertunangan NejiSaku?

Chapter ini mungkin lebih pendek ya? Tapi untuk chapter depan cherry usahakan lebih panjang dan update dalam waktu yang cepat. Sekali lagi gomenasai, minna!

N makasih banget ya buat support yang dikasih ke cherry. Akhirnya saya bisa melalui UTS dan UAS dengan selamat dan dpat hasil yang sngat memuaskan. Cherry dapet IP 3,96 semester ini. Ini semua juga karena support kalian, berarti kerja keras cherry gak sia-sia. Hehehe… dan cherry bisa bikin ortu di rumah bahagia dgn nilai segitu. N bentar lagi cherry bkalan mudik nih Palembang, wkwkwk…

Ada yang mau nitip pempek? Hahaha…& thank you very much buat yg review n yg baca fic cherry. Tanpa kalian semua fic ini gak akan lanjut, kalian emang supporter terbesar cherry. Maksih ya *Peluk cium*…

Makasih banyak buat Kurasuke UchiHaruno, imechan, Yue Heartphilia, Rizuka Hanayuuki, Matsumoto Rika, Raynfals, Yunna-chan, Valkyria Sapphire, Uchiharu 'nhiela Sasusaku, Nana chan uchiharuno, Eky-chan, Seiran, DeAkemi Hikaru, ayu matsuchika, vvvv, mayu akira, Just ana g login ( nopenya udah di-PM, hehehe…), Michilatte626, Uryu Ryu Yu Ryuzaki, me, Debbie J'Bieber, Ryuuki-chan, Kikyo Fujikazu, Zhie Hikaru, Ryuki Edogawa, Nay Hatake, Niwa Sakura, Sha-chan anime lover, Sky pea-chan, Tsukiyomi Kumiko, indrichan, agnes BigBang, Rein Megumi, Kimimaru Tooya, 4ntk4-ch4n, tadashi yanai, Jennifer Sarutobi, tiffany90, Ren-kun the Chikenbutt, Yuuto Tamano, Lovers SasuSaku, Pritana Uchiha, No name, Naoki-kun, tiaRa muy, lathiefniwa 'UCHIHA, Lisana s.e, nabila haruno, rika nanami, Hiakri Uchiha, Nagi Sa Mikazuki Ananda, Cup Cake143, Arisa Nakamura, dan Aliyah zhu.

makasih bgt ya buat kalian semua, saran dan nasihat kalian semua akan saya perhatikan. Saya janji akan mengingat passwordnya, hehee… mungkin gara-gara UAS pelajaran yg bertumpuk-tumpuk di otak saya membuat saya lupa password akunnya, hahahahaa….

Dan saya Hyuuga Cherry dan suami saya ( Hyuuga Neji ) mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan bagi yg menjalankan, semoga amal dan ibadah kita diterima dan mendaptkan pahala yg berlipat ganda, Amin. Tpi sya lagi ada cobaan, Neji-kun susah bgt dibangunin buat sahur, hehehehee…*nyengir*

Terima review dengan senang hati dan terima flame dengan ikhlas.

Akhir kata, maukah reader buat review?

REVIEW PLEASE! ^O^