Peringatan: Fanfiction ini berisi fiksi dan imajinasi belaka dari Author. Author hanya mencampurkan unsur ilmiah secara garis besar dengan imajinasi milik Author.

Guest Star: Kim Namjoon aka Rap Monster aka Rapmon dari Bangtan Boys, boyband Korea.

.

Gopal terus menarik tangan Fang, sampai akhirnya mereka tiba di taman belakang sekolah.

Terlihat Ying sedang duduk di bangku taman, memunggungi mereka berdua.

"Ying, Kak Fang sudah ada di sini," lapor Gopal datar.

Ying bangkit dari kursi taman lalu memutar badannya.

Fang mengernyitkan dahi melihat Ying. Mata anak itu terlihat sembab.

"Oke. Aku tidak mau berbasa-basi. Aku dan Gopal sudah tau pertengkaran antara Kak Fang dan Kak Yaya."

"Lalu?"

"Kak Fang tega ya. Bisakah kau sedikit lembut kepada Kak Yaya? Dia sudah menghabiskan air matanya untuk menahan malu," ucap Ying kesal.

Fang hanya diam mendengar omelan Ying. Perasaan bersalah mengenai Yaya kembali menghantuinya.

"Setelah Kak Fang menyakiti Kak Yaya, apa Kak Fang tega berbohong juga kepada aku, Gopal, dan Kak Yaya?"

Fang sedikit bingung dengan perkataan Ying. Kapan ia pernah berbohong kepada mereka?

"Maksudmu apa, Ying?"

"Tidak usah berpura-pura bodoh, Kak!" bentak Ying seraya menghentakkan salah satu kakinya.

Oke. Apa-apaan ini. Setelah ditarik tangannya secara paksa, Fang dibentak-bentak tidak jelas oleh adik kelasnya.

Perlahan Ying menangis pelan. Anak itu mengusap pipinya dengan kasar.

"Kemarin BoBoiBoy diculik Adu Du kan?"

Fang agak sedikit tersentak ketika Ying berkata hal itu.

Dari mana Ying mengetahui hal tersebut?

"Aku tahu hal itu dari Ochobot. Waktu itu aku bertemu dengan Ochobot di supermarket. Aku bertanya tentang kabar BoBoiBoy. Ochobot bilang BoBoiBoy diculik Adu Du. Kak Fang tahu tidak? Aku langsung panik setengah mati saat itu juga," ucap Ying dengan nada serak.

"Tapi Ochobot menyuruhku untuk tenang dan berkata bahwa Kak Fang sedang berusaha menyelamatkan BoBoiBoy. Kenapa Kak Fang tidak menghubungi kita saat itu?"

"Ying, aku—"

"KENAPA KAK FANG TIDAK MENGHUBUNGI AKU DAN GOPAL?! Seenggaknya aku dan Gopal bisa menyusulmu untuk menolong. Kau punya jam kuasa untuk menghubungi kita, Kak!"

Fang hanya menunduk. Ia tidak sempat kepikiran untuk menghubungi Ying ataupun Gopal waktu itu.

Atau mungkin ia tidak mau teman-temannya tahu dan Fang merasa bahwa BoBoiBoy sekarang adalah urusannya.

"Kak, aku tidak bisa membayangkan kalau seandainya Kak Fang gagal menyelamatkan BoBoiBoy pada waktu itu. Hiks... aku... hiks... tidak ingin kehilangan BoBoiBoy juga," ujar Ying terisak-isak.

"Tapi, aku bisa mengatasi itu, Ying," balas Fang.

"Jangan bohong! Aku tau Kak Fang pasti membutuhkan bantuan saat itu juga. Kenapa sih tidak berkata jujur aja kalau Kak Fang sedang diserang?"

"Apa karena Kak Fang merasa kuat sehingga kita tidak dibutuhkan?"

"B-bukan begitu."

"Kalau saja waktu itu BoBoiBoy tidak terselamatkan, aku tidak akan memaafkanmu, Kak."

Apa?

Ying menatap tajam ke arah Fang. Lalu segera lari dari hadapannya.

"Aku cukup kecewa dengan Kak Fang. Aku sependapat dengan Ying," ucap Gopal lalu menyusul Ying.

Fang memijit keningnya dengan frustasi. Apa lagi sekarang?

222

BoBoiBoy memasukkan pil terakhir ke dalam mulutnya lalu menenguk air putih.

TUK!

Bunyi dasar gelas kosong beradu dengan permukaan meja kayu. BoBoiBoy menghela napas panjang lalu mengarahkan wajahnya ke cermin di depannya.

Matanya menatap iris hazel refleksi dirinya. Lingkaran hitam masih menghiasi bawah matanya dan wajahnya begitu pucat. BoBoiBoy meraba kedua pipinya dengan perlahan.

BoBoiBoy Api, huh?

BoBoiBoy memejamkan matanya keras. Bayangan dirinya menyerang Fang tempo hari muncul di otaknya.

"AAAARRRGGGGHHHH!"

BoBoiBoy berteriak sekeras mungkin sambil menjambak rambutnya. Ia menyesali perubahannya menjadi BoBoiBoy Api.

Ia sudah melukai kakaknya sendiri.

Ia menyerang kakaknya sendiri.

Ia tidak mengenali kakaknya sendiri.

Ia bahkan menganggap Adu Du sebagai teman.

Punggung BoBoiBoy bersandar pada tembok. Tubuhnya lalu merosot sampai ia duduk di lantai. Ia menekuk kedua kakinya, lalu menenggelamkan kepala di antaranya. Tangannya masih menjambak rambut di bawah topinya dengan lemas.

Untung saja kau tidak sampai membakar kakakmu sendiri.

Suara penyesalan tersebut terus terngiang-ngiang di otaknya. Perlahan air matanya turun membasahi kedua pipinya.

"Maafkan aku, Kak Fang."

BoBoiBoy membenci alzheimernya. Dari sekian banyaknya manusia, kenapa harus ia yang menderita penyakit memuakkan itu? Ia tidak mau melepaskan memorinya begitu saja.

BoBoiBoy tidak bisa membayangkan dirinya hidup tanpa kakaknya.

"BoBoiBoy? Apa yang kau lakukan?"

Suara dingin mengejutkan BoBoiBoy. Kedua tangan bersarung ungu tersebut segera menjauhkan tangan BoBoiBoy dari rambutnya.

BoBoiBoy mendongakkan kepalanya. Terlihat wajah jutek Fang dan iris mata di balik kacamata nila memandangnya tajam.

"Kak Fang?"

Mata BoBoiBoy beralih ke lengan Fang yang baru saja sembuh akibat terkena serangan apinya. Mendadak rasa bersalah itu kembali muncul di hati BoBoiBoy.

"HUWAAAAAA!"

BoBoiBoy berteriak heboh lalu ia memeluk erat tubuh Fang. BoBoiBoy menenggelamkan wajahnya di dada Fang.

Tubuh BoBoiBoy bergetar, diiringi sesegukan yang keluar dari mulut bocah tersebut.

"MAAFKAN AKU, KAK! AKU... HIKS... AKU TAK BERMAKSUD MENYERANG KAKAK! HIKS..."

"Apa maksudmu, huh?" ketus Fang.

"M-maafkan a-aku, Kak! Kau harusnya tau maksudku!" jawab BoBoiBoy dengan nada sedikit membentak diiringi tangisan.

Fang tentu tahu apa maksud dari adiknya. Tapi ia sudah tidak mau menyinggung apa-apa kejadian yang tidak mengenakkan tempo hari.

"Lebih baik aku mati saja, Kak."

JGEERR!

Fang mendengar pernyataan dari BoBoiBoy, bagai tersambar petir di siang bolong.

"Hentikan perkataan bodohmu itu, BoBoiBoy!"

Fang mendorong kasar tubuh BoBoiBoy yang tengah memeluknya.

"Lalu, aku harus bagaimana? Aku hanya merepotkan kalian!" balas BoBoiBoy pasrah.

"Tutup mulutmu!"

"Percuma aku hidup. Nanti aku akan mati juga. Kanker sialan ini sudah merusak hidupku!" jerit BoBoiBoy sambil terisak.

"DIAM!"

Fang berteriak marah. Sungguh, ia marah. Fang membenci BoBoiBoy yang pasrah begitu saja. Tidak biasanya BoBoiBoy seperti ini. BoBoiBoy yang ia kenal adalah sosok yang semangat dan ceria, bahkan konyol.

Fang masih tidak percaya ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa BoBoiBoy kini sedang menangis sesegukan di depannya. BoBoiBoy tidak pernah menangis sesegukan atau Fang menganggapnya itu adalah tangisan cengeng bagi seorang bocah laki-laki.

Hatinya merasa sedikit bersalah akan beberapa hal. Entah ia tidak bisa menjaga adiknya, entah ia terlalu kasar kepada adiknya, entah...

Fang menarik tubuh BoBoiBoy, lalu memeluknya dengan erat. BoBoiBoy semakin memperkeras tangisannya.

"Maafkan aku," bisik Fang pelan.

"Lebih baik aku mati... hiks... lebih baik aku mati... hiks..." tangis BoBoiBoy seraya memukul-mukul lemah pundak kakaknya.

"Menangislah sepuasmu, BoBoiBoy."

222

Ochobot meletakkan mangkuk berisi salad buah dan cangkir berisi mayones di tengah meja makan.

"Ochobot, sebaiknya kau istirahat dulu. Ikutlah makan bersama kami," ujar Ayah ramah. Tak lupa dengan senyum hangat.

"Terima kasih, Yah," balas Ochobot.

Suasana di rumah begitu nyaman dan lengkap semenjak Ayah dan Ibu hadir. Lampu menerangi ruang makan ini. Ayah, Ibu, BoBoiBoy, dan Fang sedang makan bersama di bawah lampu tersebut. Ochobot sangat menyukai suasana ini.

BoBoiBoy tidak berhentinya berceloteh tentang kejadian di sekolah seraya makan. Bocah itu terlihat bahagia. Terlihat dari senyumnya yang lebar dan melontarkan beberapa gurauan. Ibu menanggapinya begitu semangat. Ayah mendengarkannya sambil makan dengan tenang.

Tapi tidak dengan Fang.

Fang tidak begitu menyukai canda dan gurauan yang BoBoiBoy lontarkan malam ini. Padahal tadi siang anak itu begitu frustasi dan menangis sejadi-jadinya. Fang menyenddokkan nasi dan lauk pauk ke dalam mulutnya dengan kaku.

Ya, Taufan sekarang sedang mendominasi kelakuan BoBoiBoy. Di balik senyuman dan candaan itu, BoBoiBoy menyembunyikan perasaan yang amat pedih.

"Seminggu lagi, kau akan mengikuti Ujian Nasional kan, Fang?"

Ucapan Ayah membuat keadaan di rumah itu menjadi hening sejenak. Fang menelan campuran nasi dan lauk pauk di mulutnya dengan santai.

"Iya, Yah," balas Fang datar.

"Ayah harap kau bisa mengerjakan dengan baik. Lalu kau melanjutkan ke Sekolah Menengah Pulau Rintis. Seperti yang kau inginkan," pinta Ayah tegas.

"Itu pasti, Yah. Aku—"

"Kau serius ingin sekolah di sana, Kak?" BoBoiBoy memotong perkataan Fang dengan ekspresi wajahnya yang serius.

"Sekolah Menengah Pulau Rintis adalah sekolah paling bergengsi di Pulau Rintis ini, Kak. Standar nilai di sana sangat tinggi. Setiap kelas hanya ada sembilan bangku. Banyak orang yang mengincar sekolah itu looh, Kaaaak~" ucap BoBoiBoy dengan setengah menggoda Fang.

"Ya, aku tahu itu," balas Fang datar.

"Yah, namanya sekolah bergengsi. Bukan namanya Kak Fang kalau ia adalah seorang bergengsi dan haus akan kepopuleran yang ingin sekolah di sana," sindir BoBoiBoy.

Sebuah perempatan imajiner muncul di kepala Fang. Anak itu lalu mengepalkan tangannya mengarahkan kepada BobBoiBoy.

"Apa kau bilang?!" ucap Fang tajam.

Ochobot yang duduk di bangku tinggi hanya tertawa melihat pertengkaran kakak adik tersebut. Ayah dan Ibu tersenyum melihat mereka.

"Hahaha. Peace ya, Kak," ujar BoBoiBoy sambil mengacungkan dua jari berbentuk huruf v.

Fang mendengus kasar lalu meminum air putih.

"Ketika sedang belajar bersama Ying dan Gopal, kami bertiga ingin sekolah di sana juga. Kami berpikir masuk ke Sekolah Menengah Pulau Rintis sama mudahnya ketika kami masuk ke Sekolah Dasar Pulau Rintis yang bergengsi juga. Tapi ketika Kak Yaya memberitahu tentang semua sekolah kelanjutan itu, kami jadi bergidik dan berpikir dua kali untuk masuk sekolah itu. Hahahaha," ujar BoBoiBoy.

"Ya ampun. Kau ada-ada saja, BoBoiBoy," celutuk Ibu sambil mengambil salad buah.

"Tapi aku yakin sekali, Kak Fang bakalan sekolah di situ. Kak Fang pintar dan kalau belajar juga sangat serius. Sampai aku bosan selalu menemukan Kak Fang dengan buku pelajarannya," celoteh BoBoiBoy.

"Tuh. Lihat. Adikmu mendukungmu, Fang," cetus Ayah.

Fang tersenyum bangga lalu mendorong kacamata di wajahnya dengan jari telunjuk.

"Oh, ya! Ayah... Ibu... Aku akan mengikuti pertandingan sepak bola di tingkat nasional. Aku dan timku mewakili sekolah. Pertandingannya sebulan lagi. Mohon dukungannya," ucap BoBoiBoy sambil tersenyum. Memamerkan deretan gigi putihnya.

Ibu mengerutkan keningnya, lalu menatap putra keduanya itu.

"Pertandingan sepak bola?" ucap Ibu memastikan perkataan BoBoiBoy.

"Iya, Bu. Hadiahnya keren looh. Kalau aku menang, aku akan mendapatkan piala, bea—"

"Tidak, tidak. Apa ada yang kau pikirkan selain hadiah, BoBoiBoy?"

"Hah?" BoBoiBoy bertanya dengan tampang cengonya.

"Kondisi kamu. Ibu khawatir kalau-kalau penyakitmu akan kambuh," ucap Ibu dengan raut khawatir.

Fang menyadari perubahan ekspresi BoBoiBoy. Dari senyum lebar sampai senyum kecut. Anak itu terlihat tidak suka dengan perkataan Ibu barusan. Ia tidak suka dipandang sebagai anak lemah.

Apa mungkin Halilintar sudah mendominasi dirinya sekarang?

Untuk mengantisipasi BoBoiBoy yang akan marah nantinya, Fang memutuskan untuk angkat bicara.

"Bu, BoBoiBoy berlatih dengan giat dan ia sangat serius untuk mengikuti lomba itu. Ia ingin sekali menang dan aku sangat mendukungnya," ucap Fang.

Mendukung? Fang merasa kata itu adalah kebohongan kecil. Sebagian hatinya tidak rela BoBoiBoy harus menguras energinya setiap hari untuk latihan sepak bola demi pertandingan itu. Fang juga mengkhawatirkan penyakit BoBoiBoy.

"Ibu tidak setuju denganmu, Fang," ucap Ibu dingin.

Ada suara retak di hati Fang. Ini terlihat berlebihan tapi... Ibu terlihat masih kesal dengan Fang.

"Hey, Bu. Apa yang dikatakan Fang benar. BoBoiBoy berbakat dan ia bisa mengharumkan nama sekolahnya. Kita seharusnya bangga," bela Ayah.

"Apa? Bangga? Ayah, apa kau lupa kalau anak kita menderita Alzheimer?"

"Ayah tidak lupa itu, Bu. Ayah yakin BoBoiBoy bisa mengatasinya, ya kan BoBoiBoy?" ucap Ayah seraya memandang anaknya yang sedang cemberut dengan senyum.

Senyum lebar langsung terukir di wajah BoBoiBoy. Anak itu lalu mengangguk semangat.

"Ayah, dengar, kita baru saja sampai di Malaysia. Kita mendengar kabar bahwa anak kita jatuh sakit. Lalu ia ingin sekali bermain di tanah lapang yang amat melelahkan," ucap Ibu dramatis.

"Tidak seburuk itu, Bu."

"Apa kau tidak mengerti keadaan, Yah?"

Akhirnya terjadi perdebatan antara Ibu dan Ayah di meja makan. Ochobot menggaruk kepala besinya dengan ekspresi bingung. Fang memandang muak ke arah orangtuanya.

BoBoiBoy benar-benar kecewa dengan reaksi Ibu nya. Ibunya terlalu berlebihan. BoBoiBoy tidaklah sepenuhnya lemah. Ia saja masih bisa mengeluarkan kuasanya.

Seharusnya dari awal ia merahasiakan penyakit sialan ini dari semua orang. Tapi terlambat sudah. Dan inilah yang terjadi.

BoBoiBoy menggebrak meja makan. Menghasilkan suara tabrakan kecil antara benda mudah pecah dengan permukaan meja. BoBoiBoy mendorong kursinya ke belakang dan segera beranjak menuju kamarnya yang ada di lantai dua.

Ayah dan Ibu menghentikan perdebatannya. Wajah keduanya bingung melihat tingkah anak mereka barusan. Fang menghembuskan napas. Ia tahu BoBoiBoy kini sedang marah.

"Bu, BoBoiBoy tidak su—"

"Diam kamu, Fang. Ini semua gara-gara kamu," ucap Ibu dingin lalu beranjak dari kursi.

Fang menatap punggung Ibu yang menghilang dari pandangannya dengan pilu. Mengapa Ibunya masih menganggap bahwa ini adalah kesalahannya?

"Sudahlah, Fang. Lebih baik kita menonton pertandingan NBA(2) saja di TV," ucap Ayah bangkit dari kursi dan beranjak menuju sofa di ruang tamu.

"Ok, Yah."

Sebenarnya Fang sudah tidak mood untuk melakukan apa-apa. Hatinya masih mendung memikirkan bagaimana caranya menjelaskan kepada Ibunya bahwa ia tidaklah salah.

Fang tahu, Ayahnya berniat untuk menghiburnya. Maka dari itu, ia menanggapi ajakan Ayahnya demi menghormatinya. Lagipula, Fang sangat menyukai NBA.

222

Siang hari tidak begitu terik dan tidak begitu mendung. Stadion milik Sekolah Dasar Pulau Rintis ramai dipenuhi oleh murid-murid yang nantinya akan menjadi tim lomba sepak bola tingkat nasional. Termasuk Gopal, BoBoiBoy, dan Stanley sudah hadir di situ.

Gopal sedang melakukan pemanasan di dekat gawang. Stanley sedang berlari kecil mengelilingi lapangan. BoBoiBoy sedang berlatih menendang bola untuk sampai ke gawang.

Kakinya begitu lincah berlari di atas tanah lapang. Bola bercorak hitam putih itu tidak lepas dari giringan kakinya. Mata hazel milik bocah bertopi dinoasurus itu berkonsentrasi untuk melihat ke depan.

Gopal berdiri di tengah-tengah gawang. Ia merentangkan tangannya yang terbalut sarung tangan dengan lebar. Matanya mengawasi sahabatnya yang sedang berlari ke arahnya seraya menggiring bola.

BoBoiBoy menggiring bola sambil berlari secara zigzag. Gopal sedikit kebingungan. Badannya bergerak ke kanan-kiri mengikuti arah lari BoBoiBoy.

Senyum menyeringai terpasang di wajah BoBoiBoy. BoBoiBoy menggiring bolanya ke arah kiri, Gopal mengikuti gerakannya. Gopal yakin BoBoiBoy akan menendang bola dari arah kiri. Tapi pikirannya melesat, BoBoiBoy justru menendang bola ke arah kanan dengan cepat.

Gopal berusaha sekuat mungkin bergeser ke arah kanan. Tangannya menjulur ke arah kanan, hendak menghalangi bola masuk ke dalam gawang. Tapi bola itu sudah masuk terlebih dahulu ke dalam gawang.

"YEAAAAYYYY! GOLLL!" BoBoiBoy berteriak lalu tangannya meninju udara ke atas.

"Alaaaah. Tanganku melesat," ucap Gopal ngeles setelah ia sudah berdiri seimbang.

"Hehehe. Terbaik!" ucap BoBoiBoy sambil mengacungkan jempolnya.

Gopal tersenyum kecut. Dari arah berlawanan, terdengar suara tepuk tangan dari seseorang.

"Well done, BoBoiBoy! Kau melakukannya sudah best sangat!"

"Terima kasih, coach Namjoon," ucap BoBoiBoy sambil senyum.

"Tapi ingat. Kau harus latihan lebih giat lagi. Di lomba nanti kau akan bertemu dengan orang-orang yang jauh lebih hebat daripada kamu dan Gopal," ucap coach sepak bola Sekolah Dasar Pulau Rintis yang bernama Kim Namjoon itu dengan nada tegas.

"Siap, coach!" balas BoBoiBoy sambil melakukan gerak hormat layaknya tentara.

"Gopal, kau harus serius lagi untuk nantinya. Latihan terus. Kalau perlu, minta bantuan Stanley," ucap coach Namjoon seraya menunjuk Stanley yang sedang minum di pinggir lapangan dengan jari telunjuknya.

"Baik, coach Namjoon," balas Gopal lesu usai melirik Stanley.

"Tenang saja, Gopal. Aku yakin kau akan hebat di lapangan nanti," hibur BoBoiBoy seraya menepuk pundak Gopal.

Gopal memutar bola matanya dengan malas.

"Yelah, tu."

"Jangan mengecewakanku nanti di sana, ok?" ucap coach Namjoon dengan mimik serius.

"Ok, coach!" balas BoBoiBoy dan Gopal.

"Bagus!"

Coach Namjoon lalu memutar badannya untuk melihat sekeliling. Para murid sedang sibuk dengan latihannya masing-masing.

"SEMUANYA! SAYA MINTA KALIAN KUMPUL SEKARANG! WAKTUNYA UNTUK LATIHAN LIMA LAWAN LIMA! SETELAH INI KITA AKAN BUBAR!" teriak coach Namjoon tegas seraya menggerakkan tangannya.

"BAIK, COACH!"

Latihan lagi. Tentu akan mengeluarkan keringat lebih banyak. BoBoiBoy sadar seragam sekolahnya sudah basah dan ia tidak nyaman memakainya. Seharusnya ia ganti baju dengan seragam olahraganya. Tapi ia terlalu bersemangat sampai lupa untuk mengganti baju dari awal.

"Coach, aku ingin mengganti baju. Bajuku sudah basah," ucap BoBoiBoy.

"Yasudah. Aku beri kau lima menit. CEPAT!" seru coach Namjoon.

BoBoiBoy berlari meninggalkan lapangan menuju Store Sukan Kebenaran(3) yang terletak di pojok lapangan.

BoBoiBoy memasuki store itu lalu menutup pintu. Sepi dan tidak ada orang. Terlihat fitting room di depannya. Di dalamnya terdapat masing-masing loker milik murid-murid yang eskul olahraga.

Tiba-tiba BoBoiBoy merasakan pusing yang luar biasa. Tangannya memegang kepalanya. Matanya tertutup, berusaha mengabaikan rasa sakit dan terus jalan menuju fitting room. Tapi ia sadar. Semakin ia berjalan, kepalanya semakin sakit.

"Oh, tidak. Jangan sekarang."

Tangannya yang satu lagi menyandar pada tembok yang dingin, demi menyeimbangkan tubuhnya yang sebentar lagi mungkin akan oleng. Ia terus berjalan seperti itu sampai ia tiba di depan pintu fitting room.

Tangannya yang bersandar pada tembok beralih memutar kenop pintu. Pintu terbuka 45 derajat dan BoBoiBoy langsung jatuh karena tangannya tidak berpegangan pada sesuatu.

Tubuhnya terbaring di lantai. Kepalanya semakin berdenyut sakit. Kedua tangannya meremas rambutnya begitu kuat. Topi dinosaurusnya tergeletak tak jauh dari kepala BoBoiBoy. BoBoiBoy terus merintih kesakitan.

BoBoiBoy mencium bau anyir yang sangat kuat.

Darah.

Mata BoBoiBoy melirik sebentar ke arah pintu. Cairan merah itu berceceran dari luar pintu sampai di samping tubuhnya. BoBoiBoy meraba bawah hidungnya. Ia sedikit terkejut melihat tangannya kini setengah penuh dengan cairan merah yang di keluarkan dari hidungnya.

Ia membutuhkan obatnya sekarang.

Obat itu terletak di dalam loker yang tak jauh dari jangkauan BoBoiBoy. Ia berusaha bangun tetapi rasanya sulit sekali. Seperti ada yang menahannya untuk tidak bangun.

"Aaaarrghhhh... s-sakiiit."

Cuma itu yang mampu BoBoiBoy katakan. Kedua tangannya terus meremas rambutnya. Darah terus mengalir keluar dari hidungnya sedikit demi sedikit.

"T-tolong... S-siapapun... d-di luar... s-sanaaa," rintih BoBoiBoy.

BoBoiBoy ingin sekali berteriak.

Tangannya berhenti meremas rambutnya. BoBoiBoy berusaha tenang untuk tidak meremas ramnbutnya karena itu tidak akan membuat sakit di kepalanya hilang. Tangannya berusaha menghentikan aliran darah dari hidungnya.

"T-tolong," ucap BoBoiBoy dengan suara seperti ada sesuatu yang menjepit pita suaranya.

Semakin lama, pandangannya semakin buram. Kelopak mata menutupi setengah matanya. Sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi. Tangannya menjadi melemah dan akhirnya terjatuh pelan di lantai.

BRAK!

Suara benturan pintu dengan dinding terdengar bersamaan dengan Gopal yang masuk ke dalam ruang fitting room. Gopal membuka mulutnya lebar dan matanya melotot melihat BoBoiBoy terbaring tak berdaya di depannya.

"BOBOIBOY!"

Setelah berteriak, bocah India itu segera loncat dan mendarat di depan BoBoiBoy. Kedua tangannya menopang tubuh BoBoiBoy dan mengguncangnya dengan keras.

"APA YANG TERJADI?! APA YANG TERJADI?! KATAKAN KALAU KAU BELUM MATI! HUHUHU!" ucap Gopal sarkatis sambil terus mengguncang tubuh BoBoiBoy.

"B-berhenti... A-aku belum mati, Gopal! Sakit tahuuuu," protes BoBoiBoy.

"Ehehehe... Sorry." Gopal akhirnya berhenti mengguncangkan tubuh BoBoiBoy.

"Hish... Kebiasaan," cibir BoBoiBoy pelan.

Gopal memandangi tangan kanan BoBoiBoy yang sedang memegang kepala dan tangan kiri sedang menahan aliran darah yang keluar dari hidung.

"Katakan apa yang terjadi," tuntut Gopal.

"Sebelum aku menjawab itu, kau harus ambilkan obat yang ada di dalam lokerku." Tangan kiri BoBoiBoy beralih masuk ke dalam kantong celana, menerogohnya untuk mengambil kunci loker, dan menyerahkan kunci lokernya kepada Gopal.

Gopal segera berdiri dan mencari loker berwarna jingga—sesuai dengan warna kunci yang dipegangnya. Setelah menemukan loker, Gopal membukanya dan segera mengambil satu-satunya botol obat yang ada di loker itu.

"Entah kenapa kepalaku tiba-tiba sakit," jelas BoBoiBoy.

BoBoiBoy meraih botol obat yang diulurkan oleh Gopal. Mendadak tangannya bergetar hebat ketika membuka tutup botol obat. Kedua tangannya yang bergetar membuat BoBoiBoy kesulitan mengeluarkan pil dari dalam botol tersebut.

TUK!

Botol obat itu jatuh ke lantai akibat getaran tangan BoBoiBoy. Sebagian isinya keluar dan tercecer dimana-mana.

"Ukh... Sial..." rintih BoBoiBoy. Sakit di kepalanya dan aliran darah dari hidungnya tidak kunjung berhenti.

"Sini. Biar aku saja."

Gopal mengambil botol obat dan mengeluarkan sebuah pil dari dalam. Kemudian menyerahkannya kepada BoBoiBoy beserta cup yang berisi air putih yang diambil dari loker milik Gopal.

BoBoiBoy mengambil pil itu, memasukkan ke dalam mulutnya, lalu menenguk air putih sampai habis.

Perlahan-lahan, sakit di kepalanya menghilang. BoBoiBoy lalu berusaha menetralisir pernapasannya. Matanya terbuka lebar. Tangannya—yang sudah berhenti bergetar—menyeka aliran darah dari hidungnya. Bingo! Ia sudah berhenti mimisan.

"Terima kasih, Gopal," ucap BoBoiBoy seraya tersenyum lemah.

"Sama-sama, BoBoiBoy. Kau pucat sangat. Aku harus memanggil coach Namjoon untuk meminta bantuan," ucap Gopal lalu beranjak untuk menuju pintu fitting room.

"JANGAN!" teriak BoBoiBoy lalu menahan tangan Gopal agar bocah yang mempunyai kuasa manipulasi molekul itu tidak kabur.

"Kenapa?" tanya Gopal sambil mengernyitkan dahi.

"Tolong. Jangan." Ucap BoBoiBoy dengan penekanan di setiap kata.

BoBoiBoy menarik lalu menghela napas sampai tiga kali.

"Ku mohon. Rahasiakan kejadian ini dari coach Namjoon dan anak-anak lain," pinta BoBoiBoy.

"T-tapi BoBoiBoy..."

"Aku tidak mau coach Namjoon mengeluarkanku dari tim karena penyakitku ini. Aku tidak mau mereka khawatir kepadaku."

"Pertandingan itu adalah mimpiku, Gopal. Aku tidak mau melewatinya dan menyia-nyiakannya begitu saja. Aku mohon kepadamu."

"Ceh. Mimpi kau itu untuk bertanding atau mau bertemu dengan pemain sepak bola Malaysia?" cibir Gopal kesal.

"Dua-duanya mungkin. Hehehe," balas BoBoiBoy cengengesan seraya menggaruk pipinya yang tidak gatal.

"Kalau penyakitmu semakin pa—"

"Aku bisa mengatasi penyakitku, Gopal."

"Tapi tadi itu apa?"

"Sudahlah, Gopal. Lihatlah, sekarang aku baik-baik saja kan?"

"Kau begitu keras kepala."

"Ku mohon, Gopal. Please," ujar BoBoiBoy dengan puppy eyes-nya dan menempelkan kedua telapak tangan.

"Yelah tu. Tapi awas yaa kalau kau sampai kelewatan seperti tadi," ancam Gopal.

"Tenanglah."

"Kalau begitu, lebih baik kau pulang sekarang juga."

"Tidak akan. Aku mengikuti latihan sampai akhir."

"Kau gila ya. Kau butuh istirahat. Bagaimana jika kau ketahuan oleh coach Namjoon kalau keadaanmu yang sebenarnya seperti ini?"

BoBoiBoy hanya nyengir kuda. Ia kemudian melepaskan seragam sekolah dari tubuhnya. BoBoiBoy mengelap wajah dan tangannya yang masih ada bekas darah menggunakan seragam sekolahnya yang berwarna putih. Selanjutnya ia mengelap lantai yang meninggalkan bercak darahnya dengan seragamnya itu.

"Lihat? Semuanya bisa kuatasi," ujar BoBoiBoy bangga.

"Ya ya ya. Sebaiknya kau cepat memakai baju lalu kita pergi ke lapangan. Kita sudah telat sepuluh menit. Kau tidak ingin membuat Rap Monster itu meledak lagi kan?" ujar Gopal lalu melempar seragam olahraga BoBoiBoy—yang di ambil dari loker BoBoiBoy tadi—kepada sang pemilik.

"Oh, kau benar, Gopal." Secepat kilat BoBoiBoy mengenakan seragam olahraga ke tubuhnya dan mengambil topi dinosaurusnya lalu memakainya secara terbalik.

BoBoiBoy meletakkan seragam sekolahnya yang sudah basah—karena keringat yang dikeluarkan dari tubuhnya sepanjang aktivitas latihan sepak bola—dan dipenuhi bercak darah miliknya ke dalam loker lalu mengunci loker itu.

BoBoiBoy dan Gopal lalu meninggalkan fitting room yang sudah bersih seperti semula. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa di dalamnya.

222

Fang berdiri kaku di hadapan sang Ibu yang sedang membaca majalah.

Ibu duduk di sofa begitu anggun dengan melipat kedua kakinya. Kacamata baca bertengger di hidungnya. Majalah diletakkan di atas pahanya yang ditutupi bantal sofa. Tangannya yang lentik membolak-balikkan halaman yang memuat tentang fashion.

Minggu ini adalah minggu yang penuh dengan try out. Itu artinya Fang pulang lebih cepat daripada jam pulang biasanya. Fang dengan cepat menuju rumahnya karena ia sudah memikirkan sesuatu yang akan dilakukannya sekarang.

Menjelaskan semuanya kepada Ibu dan meminta maaf—akan sesuatu yang Fang sebenarnya tidak tahu kesalahannya.

"Sampai kapan Ibu akan bersifat dingin kepadaku?"

Fang menyesal telah mengeluarkan kata itu. Hatinya menggerutu penuh. Harusnya ia langsung saja mengucapkan kata 'maaf'. Tapi entahlah itu sangat sulit sekali diucapkan karena Fang tidak tahu alasan mengapa ia harus meminta maaf.

Kepala Ibu tetap menunduk dan matanya fokus membaca kalimat per kalimat di dalam majalah itu.

Fang menarik napas dan mengeluarkannya dengan pelan. Itu adalah cara untuk mengendalikan emosinya—sesuai saran Ochobot.

Selama Ibu bersikap dingin kepada Fang, hati dan pikirannya tidak tenang. Fang sedikit merasakan hal itu ketika ia sedang melakukan semua aktivitasnya. Perasaannya juga semakin kacau ketika Ibu secara terang-terangan menyatakan bahwa beliau tidak menyukai aktivitas latihan BoBoiBoy untuk pertandingan nanti. Entah kenapa.

"Aku minta maaf, Bu."

Ochobot melayang ke arah Fang dan Ibu seraya membawa nampan yang ada secangkir teh beraroma melati.

"Ibu, ini tehnya," ucap Ochobot sopan.

"Terima kasih, Ochobot. Letakkan saja di meja samping Ibu," balas Ibu lembut sambil terus berkutat dengan majalahnya.

"Ok, Bu."

Setelah meletakkan cangkir yang berisi teh di meja, Ochobot melayang ke arah dapur.

Oh, wow. Bisa kau bayangkan kalau Ibumu bersikap baik terhadap orang—koreksi, Ochobot adalah robot— lain tetapi terhadap anak kandungnya sendiri malah bersikap dingin.

Itulah isi pikiran gila Fang.

Tapi Ibu tetaplah ibunya. Fang tetap harus bersikap baik.

Fang menyesal bahwa dulu ia sangat judes dan jutek kepada ibunya. Harusnya Fang belajar kepada BoBoiBoy untuk tetap menyayangi orangtuanya sesibuk apapun mereka.

Bahkan Fang pernah berpikir bahwa seharusnya orangtuanya tidak usah pulang ke rumah sekalian. Ia malas bertemu orangtuanya yang gila pekerjaan itu.

Tetapi sekarang Fang sadar, sesibuk apapun mereka, sejauh apapun tempat mereka bekerja dengan rumah, mereka selalu mengecek keadaan anaknya. Terbukti dengan telepon yang selalu berdering di rumah dan Ayah Ibu selalu mengecek aktivitas transfer di kartu ATM mereka masing-masing.

Fang menyimpulkan bahwa orangtuanya tetap memantau ia dan BoBoiBoy di tengah-tengah kesibukan akan kerja yang gila selama 24 jam.

Banyak bukti lain yang Fang tidak bisa sebutkan saking banyaknya. Dan hal itu membuatnya semakin menyesal. Mendadak air mata tertahan di pelupuk matanya yang ditutupi kacamata nila itu.

Fang menjatuhkan kedua lututnya di lantai. Badannya tegap dan kedua tangannya rapat dengan tubuh. Kepalanya menunduk penuh penyesalan.

"Sungguh, Bu. Aku minta maaf. Ini salahku. Aku tidak menjaga BoBoiBoy dengan baik. Seharusnya aku mengetahui penyakitnya sejak awal. Selain itu, aku minta maaf karena aku bersikap begitu buruk kepada Ibu. Bahkan Ayah. Maaf karena aku selalu menanggapi Ibu dengan sikap masa bodo ketika Ibu curhat ataupun berbicara kepadaku, bahkan menyapaku."

Tubuh Fang mulai bergetar. Namun ia masih bisa menahannya. Fang menggigit bibir bawahnya dengan keras, menahan agar ia tidak menangis.

Ya, ia adalah laki-laki. Laki-laki yang tampan dan populer. Mempunyai kuasa manipulasi bayang yang sangat kuat. Tidak boleh cengeng.

"Aku tidak becus menjadi kakak BoBoiBoy."

Ibu mengangkat kepalanya. Menutup majalah lalu melepaskan kacamata bacanya. Meletakkan kedua barang itu di samping cangkir teh beraroma melati.

Mata Ibu memandang rambut raven milik pemuda di hadapannya.

"A-aku anak yang tidak berguna."

Sepasang lengan memeluk tubuh Fang dari depan. Fang sedikit terlonjak melihat Ibunya yang kini duduk di hadapannya sambil memeluknya erat. Seketika tubuh Fang kaku dan tidak bergeming.

"Sayang, semua kata yang kau katakan itu salah," ucap Ibu lembut seraya mengelus punggung Fang.

"T-tapi, Bu..."

"Fang, kau tidak salah. Dari dulu Ibu percaya bahwa kau adalah kakak yang baik. Penyakit BoBoiBoy bukan salah kita semua."

Mendengar Ibu menyebutkan namanya, membuat Fang secara tidak sadar meloloskan air matanya. Entah itu adalah tangis lega atau sedih.

"Seharusnya Ibu yang minta maaf. Ibu bodoh sekali baru sadar sekarang. Ibu terlalu senang dengan pekerjaan Ibu. Ibu tak pernah meluangkan waktu Ibu untuk sekedar tertawa bersama kalian. Yang di otak Ibu hanyalah kerja kerja kerja dan kerja. Ibu baru sadar ketika BoBoiBoy mempunyai penyakit itu."

Ibu melepaskan pelukannya dari Fang. Mata anak-ibu itu langsung bertemu.

"Seharusnya Ibu selalu berada di sampingnya, menguatkannya, bahkan tidak pernah absen menemani BoBoiBoy untuk melakukan kemoterapi. Justru Ibu iri kepadamu, Fang. Kau begitu dekat dengan BoBoiBoy melebihi Ibu dan Ayah. Ibu yang tidak becus menjadi orangtua kalian."

Mata Ibu langsung beralih ke arah lain. Ekspresinya begitu sedih.

"Ibu..."

"Ah, tapi untuk apa Ibu lama-lama menyesali hal itu?" ucap Ibu riang.

"Sekarang waktunya kita melupakan masa lalu, Fang. Yang harus kita lakukan sekarang adalah selalu berada di samping BoBoiBoy dan memperbaiki kekurangan kita masing-masing."

Fang langsung memasang senyum dengan lebar. Mengangguk setuju perkataan Ibu.

"Maka dari itu, Ibu sudah memutuskan untuk berhenti bekerja," ucap Ibu mantap.

"Apa?!" ucap Fang dengan shock.

Fang tahu, berhenti dari pekerjaan—apalagi pekerjaan itu sekaligus hobi Ibu sejak remaja—bukan sesuatu yang mudah.

"Hihihi. Awalnya bos menolak mentah-mentah karena Ibu mengajukan pengunduran diri secara tiba-tiba. Tapi setelah Ibu menjelaskan alasannya, dia mengerti. Tapi tetap saja bos tidak memperbolehkan Ibu berhenti dari pekerjaan," jelas Ibu.

"Kau tahu, Fang. Ibu adalah desainer yang penting di perusahaan itu. Tapi untungnya Ibu punya asisten yang siap menggantikan posisi Ibu di kantor. Bos menyuruh Ibu melakukan pekerjaan di rumah. Dan pekerjaan itu bisa dilakukan kapan saja. Jadi, Ibu sangat santai tapi tetap ada pekerjaan. Gaji tidak berubah, looh," lanjut Ibu lalu mengedipkan sebelah matanya.

Fang menghela napas lega. Yang jelas, sekarang Fang sangat bangga kepada ibunya.

"Nah, terima kasih sudah mendengarkan dan berada di samping Ibu, Fang. Sekarang, Ibu akan buatkan teh manis dan donat lobak merah kesukaanmu."

222

"Sudah berapa kali aku peringatkan kau untuk tidak melakukan aktivitas berat?"

Dokter Tadashi memandang BoBoiBoy yang duduk di ranjang pasien. Bocah itu baru saja selesai melakukan kemoterapi.

Dokter Tadashi tengah mengomel kepada BoBoiBoy. Ya, BoBoiBoy harus menerima itu semua seusai latihan sepak bola.

"Main bola tidaklah berat, dok. Itukan hobiku," balas BoBoiBoy seraya senyum.

"Hah, terserah kau. Tapi kuperingatkan kau karena alzheimer itu semakin kuat, BoBoiBoy."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Catatan kaki:

2. Pertandingan NBA = National Basketball Association adalah liga bola basket pria di Amerika Serikat dan merupakan liga basket paling bergengsi di dunia. [Wikipedia]

3. Store Sukan Kebenaran = ingat episode 18? Saat BoBoiBot selesai memperbaiki ruang olahraga dan dia bilang, "...memperbaiki dan memperbaharui store sukan kebenaran." . Jadi, ruang olahraga di situ disebutnya store sukan kebenaran.

A/N: Hai, gais. Tanggal updatenya kelamaan gak? Hahaha.

Kok lama-kelamaan makin ke sini DIRY? makin ga jelas ;(? Bagaimana menurut kalian? Tolong beritahu Author kesalahan apa aja di dalam cerita ini. Supaya makin ke sana, Author bisa mengoreksi ff ini. Jujur aja gakpapa. Bilang aja ff ini ga jelas, jelek, ga nyambung sama summary, dll. Author sangat berterima kasih karena kalian sudah memperhatikan cerita ini dengan sangat baik ;).

Big thanks banget buat Kak Retno Widya aka Widzilla , author dari ff 5INS , sudah berkenan membaca DIRY? dan me-review lewat facebook. Saya seneng luar biasa banget xD.

Terima kasih untuk Fanlady , author dari ff favorit saya yaitu The Cost of Power , sudah menjawab keluhan saya tentang tanda pisah panjang dan memberi saran. Iiiih, aku seneng bangeeeet bisa saling PM sama Fanlady! xD

And big hug for NaYu Namikaze Uzumaki , author dari ff Trauma , yang udah mengerti Author banget huhuhuuhu :"). Kita sesama mahasiswi senasib emang. *plak.

Makasih sekali lagi untuk Fanlady dan Nayu yang sudah memberi saya saran tentang keluhan saya yaitu tanda pisah panjang. Sayang sekali saran kalian gagal bagi netbook saya :"(.

Daaaan ternyata ini semua officially salah saya! Selama ini saya salah pencet simbol di Ms. Word. Wkwkwk. Tolong jangan keroyok saya . -.

Jadi saya ngerti deh tanda pisah panjang sialan itu alias Em Dash. Ternyata ada di simbol Ms. Word. Terima kasih untuk forum FBSN Headquarter tentang artikel Tata Cara Penulisan Dialog (dengan contoh) - nya xD. Saya sarankan bagi kalian Author pemula di ffn untuk membaca artikel tersebut. Artikel itu ada di ffn kok ^^.

Ini balasan review saya:

Seriaryu Kairu syin: Waalaikumsalam. Ayo dong review lagiii ^^.

Guest: Makasiiiiih xD.

Aisyah Syawal: Yhaaa, jangan nangiiiisss xD. Oalaaah. Makasih yaa infonyaa :).

Diah Nurfadila: Yesss. Makasih udah gemes xD. Jangan sampai nangis, ya. Hahaha sampai banjir segala. Masa sih gak ketemu? Coba cari lagi. Akun lain? Author sarankan fb aja yaa. Soalnya facebook tempat mudah Author dan para fans BoBoiBoy berinteraksi di sana, termasuk sama kamu nantinya. Oke makasih udah review ;D.

Sheva: Bakal tau gak yaaaaa ;p ? Makanya pantau terus yaa chapter depannya :v *plak.

melinia: Makasiiiiih xD.

Khansa403: Uwaaaaaaa maaciiiiiiii *pelukeratKhansa*. Makasih yaa semangat dari kamu buat Author terharu :"). Jadi seneng deh menjalani hari-hari di kampus! #lebay .

NoName: Hahaha iya sip :D. Terima kasih yaa sudah dikasih tau. Terima kasih sudah review ^^.

Setiap review yang masuk ke sini buat Author semangat. Author selalu tunggu review-review kalian!

Tanggal 18 Desember nanti Author melaksanakan Ujian Akhir Semester. Doa-kan Author agar dilancarkan dan diberi kemudahan selama mengerjakan ujian yaa. Terima kasih ^^.

Silent Reader, saya tunggu review Anda!