PRETEND
.
.
GENRE : HURT, ROMANCE
LENGTH : CHAPTERED
FANFICT BY TIANLIAN
DESCLAIMER : THIS IS MY OWN
RATE: A+M (AGAK MENYIMPANG)
WARN : YAOI, BXB, TYPO'S
.
-CHANYEOL-JONGIN-
And
-KYUNGSOO (GS)-
Other cast
-WU YIFAN –BYUN BAEKHYUN (GS)-
And new cast
OH SEHUN
.
SUMMARY
Pernikahan Jongin dan Chanyeol bukanlah sebuah komedi putar yang akan selalu mononton dan terus berputar pada porosnya, pernikahan mereka lebih dari sekedar itu semua. Namun, sayangnya semua itu harus berakhir saat sosok lain hadir diantara keduanya.
.
.
And every night
I lie awake
Thinking maybe you love me
Like I've always loved you
But now,
Can you still love me?
Like I loved you,
When you can't even look me straight in my eyes..
.
.
Dua anak itu duduk bersebelahan diatas kayu tua yang telah tumbang, satu diantaranya bersenandung lirih sambil memejamkan matanya erat, menikmati hembus angin yang selalu membelai wajanya lembut dan satu lainnya telah tertidur nyenyak dengan kepala bersandar dibahu orang disebelahnya. Lelap.
.
"kau tahu, angin akan selalu menjadi teman yang baik melebihi apapun didunia.." anak yang bersenandung itu berbicara, pada angin… "dia.. selalu mendengar semua rahasiaku, lebih dari dirimu.." anak itu tersenyum lembut, mengusap rambut orang yang dengan sesuka hatinya selalu saja tertidur dibahunya tanpa permisi lalu menghela nafasnya perlahan.
.
"kau tahu," dia melanjutkan. " kau.. tidak akan pernah tahu rahasia besar ini jika kau selalu saja tertidur..." ia terus saja berbicara dengan tangan yang masih mengusap helai coklat yang begitu halus ditangannya. Kembali helaan nafas itu terdengar, usapan itu terhenti dan kemudian tanpa pikir panjang ia kecup bibir orang yang paling berharga dalam hidupnya ini dalam keheningan. Hangat.. sangat hangat, tapi… sayangnya kehangatan itu tidaklah sampai pada hatinya..
.
"aku mencintaimu… lebih dari yang kau pikirkan."
.
Tidak akan pernah sampai, seperti suara tetes air dari keran rusak pada malam hari.. hening namun tak ada satu orang pun mendengar atau memperhatikannya.
Sama seperti perasaanya.. yang tidak akan pernah bisa dia sampaikan tanpa merusak gerbang tinggi dihadapannya. Gerbang tinggi yang ikut membelenggu erat dirinya dalam garis batas yang tidak boleh ia sentuh bahkan lewati untuk seumur hidupnya..
.
"aku mencintaimu.."
.
.
.
Chapter 9
-Paper Hearts-
.
.
.
Oh Sehun mendengus malas saat taksi yang dia naiki berhenti tepat didepan gedung besar yang hampir menyamai gedung apartemen yang baru akan dia kunjungi nanti, yah nanti saat masalah yang baru saja dia bawa dia kembalikan ke tempat seharusnya. Seseorang yang dengan tenang masih fokus pada aktingnya. Berpura-pura pingsan.. well, harus dia akui acting orang asing ini tidak terlalu buruk memang, tetapi acting ini tidak cukup untuk mengelabui mata seorang Oh Sehun yang seorang dokter. Tidak cukup.
.
"hhhh… berhentilah berpura-pura pingsan, kau harus turun." Dengan malas Sehun membuka pintu disebelah Jongin dan mendorong-dorong tubuh berbalut baju khas pasien rumah sakit itu dengan cukup kasar.
.
Diam-diam jongin berdecak sebal, dia benar-benar sial.
Dengan nada sarkasme yang sangat di kuasainya Jongin pun membalas. "dimana ini, kau membawaku kemana?" Kim Jongin, yah dialah Kim Jongin.. dia bukanlah seorang yang gampang di tindas, dia bukan termasuk golongan orang-orang itu karena dia termasuk lawan dari makhluk-makhluk menyedihkan itu. Jika bisa diumpamakan, Kim Jongin adalah Karnivora dan mereka.. entah termasuk dalam golongan apa, dia juga tidak begitu perduli.
.
"yak! Orang buta ini benar-benar…" Sehun membasahi bibirnya yang terasa kering sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "kau pikir kemana lagi aku akan membawa orang buta sepertimu? Panti jompo?!"
.
"lantas kau pikir orang buta sepertiku bisa tahu dimana dan apa yang ada dihadapanku sekarang, hah?!" tak mau kalah Jongin balas membentak, dan Sehun lagi-lagi harus memijit pelipisnya yang mulai terasa berdenyut sakit secara tiba-tiba.
.
"haish, kau…" menggeram sembari mengepalkan tangannya, Sehun menatap orang buta disampingnya dengan kesal, mungkin lebih dari sekedar kesal.. tangannya bahkan gatal ingin menyapa wajah rupawan orang buta ini ―Jongin- dengan satu atau dua tinjunya sebagai salam perkenalan. Tapi, sayangnya dia masih waras dan masih betah menghirup udara seoul yang baru saja dia hirup setengah jam yang lalu, jadi.. dengan terpaksa dia harus megurungkan niatan mulianya itu untuk selamanya. Atau mungkin dia bisa menyimpannya untuk lain kali.. yah lain kali.
.
"sudahlah, jangan membuat masalah. Cepat turun!"
.
Dengan enggan Jongin turun dari taksi sembari mengumpat dalam hati, arrgghh… semua rencananya gagal karena orang ini? Lantas untuk apa pengorbanan tangan serta kakinya yang terpaksa merasakan perih karena berlarian dengan nekat tadi? Aish.. benar-benar menyebalkan. Tau begini dia tidak akan pura-pura pingsan tadi, tau begini seharusnya pergi saja setelah diterjang dengan keras oleh orang ini, tau begini..dia..dia… dia tidak tahu, yah. Jongin tidak tahu.. ia tidak tahu apa yang sekarang harus dilakukan.
.
Pada khirnya dia kembali lagi ketitik awal dimana semua sakit dia terima, kembali terkurung dan akan kembali menjadi orang menyedihkan. Lagi, dan… Dia kembali, kembali harus berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. setidaknya bagi seseorang yang masih menghkawatirkannya.
.
"aku baru tahu bahwa buta bisa menurunkan kinerja otak serta melumpuhkan beberapa saraf motorik. Kau bodoh? Kau tidak bisa menggerakkan kakimu? kau lupa caranya berjalan?"
.
Jongin berdecak sebal, orang ini.. orang asing ini benar-benar bermulut manis, terlalu manis sampai-sampai terasa pahit.
.
"lalu apa urusanmu?!" Jongin menyentak Sehun kasar.
.
"ahh, buta juga menyebakan tingkat emosi bertambah." Dengan pongah Sehun mengangguk pelan seakan membenarkan teori sintingnya.
.
"Aku tidak ada urusan denganmu." Sehun berujar ringan sembari memegang bahu Jongin. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah datar Jongin dan berbisik. "tapi kau menghambat jalanku. Jadi kalau kau tidak ada niatan untuk berjalan.. menyingkirlah, kau menghalangi jalanku. Tuan Kim Jongin."
.
Srrruukkk,
Tubuh Jongin sukses diseret kesamping kiri oleh sepasang tangan Sehun, hampir oleng. Tubuh Jongin yang belum siap agak terhuyung. Sedikit, namun dengan sigap Jongin masih dapat menyeimbangkan kembali tubuhnya hingga dia tidak berakhir tersungkur untuk yang kesekian kali dihari ini. Dan kabar buruknya.. Kim Jongin benar-benar dibuat mendengus sebal karena ulah orang asing itu―Sehun- heh? Orang ini benar-benar sinting!? Apa-apaan ini? Dasar gilaa! Batin Jongin terus saja memaki Sehun. Sedangkan Sehun, jangan tanyakan orang itu. Dia, Oh Sehun, orang itu memang benar-benar berjalan melewati Jongin dengan kaki lebarnya menuju pintu depan seoul Internasional hospital. Menghiraukan perbuatan menyebalkannya pada Jongin lalu dengan santai melenggang angkuh sembari menebarkan pesonanya untuk para kaum hawa. Yeah.. he is a lady killer, Oh Sehun.. just it.
.
.
.
.
.
Akhirnya dia kembali lagi, hhh… kembali helaan nafas itu terdengar dan Jongin diam-diam berpikir bagaimana kalau ia kembali berlari, tapi.. hhh, lagi-lagi ia menghela nafasnya. Tidak, tidak lagi.. cukup sudah.
BRRUUK,
Jongin menjatuhkan tubuhnya, ia tidak terjatuh ataupun tersungkur. Ia hanya lelah maka dari itu dia duduk. Dilantai, di depan lobi utama Seoul Internasional Hospital. Kim Jongin.. hhh, entahlah bagaimana jalan pikirannya itu bekerja. Begitu aneh, begitu tak terduga..
.
"benar-benar melelahkan." Bergumam pelan, dan kembali ia hembuskan nafasnya kasar apa yang dia lakukan sekarang? Tidak ada, dia tidak akan melakukan apapun lagi hari ini. Dia lelah, sangat lelah dalam artian yang sesungguhnya..
Dan…
.
"KIM JONGIN!"
.
Dia rasa nyawanya terancam sekarang,
.
"KIM JONGIN! DARI MANA SAJA KAU! APA KAU IDIOT? APA KAU BUTUH KUPUKUL? APA KAU…"
.
Teriakan itu terhenti dan berganti menjadi sebuah isakan secara tiba-tiba, dan Jongin kembali harus menelan pahit saat lagi-lagi dia merasa lemah, lemah saat dia menyebabkan orang yang dia sayangi menangisinya, menangisi dirinya yang begitu menyedihkan dan tak pantas untuk semua ini. Tangisan itu, tidak layak diberikan untuknya, dia tidak pantas untuk ditangisi.. tidak pantas untuk itu.
.
"aku.. aku sangat mengkhawatirkanmu bodoh," lagi, sebuah pelukan hangat lagi-lagi menyelubunginya. "aku sangat menghkawatirkamu."
.
Jongin bergeming, dia.. dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan, ia seperti membeku, membeku karena pelukan hangat dari seorang Byun Baekhyun. Pelukan hangat yang sudah sepatutnya juga dia balas namun nyatanya dia masih saja kaku dalam pelukan hangat itu. Dia Kim Jongin. Dia terlalu lemah. Terlalu lemah..
.
'Mengkhawatirkanmu'
.
Kata itu, satu kata itu sungguh ia rindukan.. kata yang begitu sederhana namun tanpa satu orang pun ketahui satu kata itu sangatlah bermakna sangat mendalam baginya, bagi Kim Jongin. Kim Jongin kecil yang bahkan tidak tahu apakah terluka itu menyakitkan, jatuh itu menyakitkan, dan berdarah juga menyakitkan. Kim Jongin yang tidak tahu apapun, Kim Jongin yang hanya tahu seseorang akan selalu tersenyum ketika saat-saat menyakitkan itu terjadi, tersenyum dengan senyuman paling indah melebihi apapun di dunia, tersenyum seakan tidak ada satu hal pun yang dapat merengggut senyum itu, tersenyum seakan dunia yang ditinggalinya begitu indah dan tidak akan pernah berubah.. tersenyum untuknya, hanya untuknya..
.
"eomma.."
.
Pelukan Baekhyun merenggang saat telinganya mendengar lirih suara Jongin bergema, eomma, dia tidak salah.. Jongin menyebut kata itu.. dia tidak salah dengar, tapi kenapa? Apa yang terjadi? Pikirnya. Dengan mata yang masih dipenuhi lelehan air mata Baekhyun menudukkan kepalanya untuk melihat Jongin. Mata itu, mata kosong itu seperti tertelan dalam masa lain. Tenggelam begitu jauh dan kosong. "Jongin.." Baekhyun mencoba mengusap bahunya, namun jongin masih tak bergeming. "Kim Jongin," ia coba meninggikan suaranya dan Jongin masih tetap saja diam tanpa ada respon berarti..
.
Baekhyun menghela nafasnya, menatap Jongin dan menguncinya dalam iris matanya.
.
PLAAKK!
.
Tamparan telak dari seorang Byun Baekhyun sekan menjadi sebuah pemicu atas kesadaran seorang Kim Jongin, mata itu masih sama. Namun tak lagi seperti tenggelam. Mata itu kembali.. pemilik mata itu telah kembali.
.
"aku akan mengantarmu kembali ke kamar." Dengan sigap tanpa perlu menunggu bantahan khas seorang Kim Jongin, Baekhyun telah mengangkat tubuh yang lebih besar serta tinggi dari dirinya itu dalam rengkuhan.
.
"aku tidak butuh ocehanmu, jadi diamlah." Belum sempat membuka mulutnya, Jongin telah terlebih dahulu di pukul telak oleh mulut tajam Byun Baekhyun.
.
"ck berhentilah mengoceh Byun. Aku hanya ingin bertanya apa aku begitu berat sampai kau harus membopongku dengan membungkuk begini hah? Kalau kau tidak kuat aku bisa berjalan sendiri. Lagipula posisi ini malah akan membuat punggungku sakit. Dasar Bodoh."
.
"diamlah!." Balas Baekhyun lagi.
.
Jongin mendesah malas, lalu tiba-tiba sesuatu membuat sebuah seringai dibibirnya terukir samar. "hey, Baek.. kau berhenti tumbuh pada umur berapa?"
.
Hening, Baekhyun tidak menanggapi Jongin dan malah tetap mencoba membawa Jongin menuju kamarnya. Tetapi..
.
"aku bahkan tidak tahu kau sekarang berubah menjadi perawan tua yang kekurangan kalsium. Hh, malangnya diriku." Kim Jongin masihlah seorang Kim Jongin, dan dia pasti memperoleh jawaban atas semua pertanyaannya, si tuan keras kepala, sang tuan muda Kim Jongin.
.
Baekhyun, diam-diam mengutuk sifat buruk yang dimiliki Jongin ini. Benar-benar menyebalkan, bocah itu benar-benar menyebalkan jika sudah seperti ini. Dan ia secara tak langsung sangat merindukan ini, lebih tepatnya merindukan wajah itu, wajah dengan seringai manis yang selalu menemani masa remajanya. Masa remaja mereka. Diam-diam Baekhyun tersenyum simpul, kau akan selalu baik-baik saja bukan? Kau akan selalu kuat bukan? Apapun yang terjadi, bagaiamanapun kelak.. kau akan tetap bertahan bukan? Dan semua itu bukan sebuah pertanyaan, semua pikiran itu adalah doa dan sebuah harapan dari seorang Byun Baekhyun untuk Kim jongin yang sangat tulus yang berasal dari seluruh dasar hatinya.
.
"bocah ini benar-benar bosan hidup eoh?" suara desisan itu menggelitik telinga Jongin. Baekhyun menyeringai saat raut wajah Jongin berubah kaku. Jongin mengingatnya, mengingat bagaimana mereka selalu menghukum satu yang lain dengan cara paling tidak manusiawi sepanjang masa. Dan Kim Jongin amat sangat membenci dengan sangat hukuman sialan itu. Sangat membencinya.
.
Jongin diam-diam menggeliat resah dalam rangkulan Baekhyun. Ia mencoba melepaskan diri. Namun, sayangnya Byun Baekhyun bukalah tipe seorang yang mempunyai belas kasihan atau pun empati yang tinggi, dia tidak baik namun juga tidak terlalu jahat dia hanya seseorang yang akan membalas apapun perbuatan tidak menyenangkan yang dia alami dengan pelajaran yang setimpal. Dan dalam kasus Jongin hal inilah balasan setimpal yang diberikan seorang Byun untuknya.
.
"HAHAHAH.. AHAH. BAEK, HENTIKAN.. AHAHA, BAEK! HAHAH, AKU PASIEN DI AHAHAH.. HENTIKAN!"
.
Tawa Jongin terus menggema sejurus dengan tangan-tangan lentik itu menggelitik area pinggang serta perutnya, tawa itu seperti oase ditengah padang pasir, begitu indah namun tampak tak nyata. Tawa itu, tawa milik Jongin itu membuat Baekhyun mau tak mau juga tertawa lebar bersamanya. Keduanya bahkan seperti tidak perduli mereka berdua masih berada di lobi utama dimana sudah dapat dipastikan aka ada banyak orang dan itu seperti bukan masalah. Yah itu semua bukanlah masalah. Karena tawa itu, tawa itu adalah segalanya.. tawa itu, entah bagaiamana dia bisa menjaga tawa itu nanti, entah sampai kapan ia masih bisa melihatnya, entahlah…
.
Entah sampai kapan mata itu betah menatap keduanya dalam diam, tawa itu.. entah bagaimana seakan menawan semua atensinya, membawanya ikut bergabung dalam euphoria semu yang sebenarnya bukanlah urusannya namun sayangnya dia sama sekali tidak bisa melepaskan atensinya dan lagi-lagi dia harus pasrah berdiri disini, diantara tembok bisu yang sama-sama menyaksikan tawa indah itu dan terpesona. Ini bukan tujuannya, ini bukan urusannya, dia.. dia tidak seharusnya disini. Bukan seperti ini..
.
.
.
.
.
Badai itu datang, saat semua tenang.. saat semua mengira tidak akan ada hal buruk kemudian setelah semua serangkaian neraka yang telah berlalu. Terlalu tiba-tiba, terlalu mengejutkan, dan terlalu sulit untuk diterima.
.
Chanyeol telah menapaki jalanan setapak Rumah sakit saat dering telpon yang tidak pernah berani dia pikirkan atau bayangkan itu muncul dalam flip ponselnya, tanpa sadar dia meneguk ludahnya yang seakan begitu tajam untuk dia telan bagaikan duri dan dengan canggung tangannya mengusap layar dan menggeser ikon telpon berwarna hijau dengan sedikit gemetar.
.
Ia gugup bukan main, dan ini memanglah bukan main-main.
.
Ada apa? Pikirnya menerawang cemas.
.
Perlahan ia mendekatkan ponselnya pada telinga dan dalam keheningan singkat yang tercipta sebelum ia menyapa dengan sopan orang yang tengah menelponnya disebrang seluruh tubuhnya berdoa. Semoga.. semoga saja apa yang ada dalam benaknya salah, semoga saja.
.
"nde, Tuan Kim―"
.
Tanpa bisa Chanyeol cegah suaranya mendadak hilang, matanya membola kaget, dan hal selanjutnya yang terdengar hanyalah suara cicitan Chanyeol yang tampak begitu frustasi mengiringi deru lembut angin bulan februari yang tampak begitu hangat, "aku segera akan memberitahunya." Hanya itu, hanya seuntai kalimat ambigu itulah yang mengakhiri percakapan aneh Chanyeol.
.
Namun, bagaimanapun juga.. apapun yang dibicarakan orang asing itu pada Chanyeol tampaknya begitu sangat mengguncangnya. Mengguncangnya dengan begitu kuat.
.
Seperti zombie Chanyeol menggenggam erat ponselnya yang masih tetap tertempel pada telinga kirinya. Mulutnya membuka dan menutup seperti seseorang yang tengah kehabisan nafas dan matanya menatap tak fokus pada apapun. Tubuhnya bahkan gemetar tanpa dia sadari dan mendadak dia bahkan lupa, bahwa ada orang lain yang sungguh harus menerima hal ini bahkan beribu atau bahkan berjuta kali lebih sakit dari yang tengah dia rasakan sekarang.
.
.
.
"bagaimana?"
.
"beliau akan datang, sesegera mungkin kita urus semuanya."
.
"baiklah, aku akan menyiapkan segalanya."
.
"hm."
.
Pemuda berdimple itu memandang langit cerah setelah rekan kerjanya pergi. Ia memnadang langit biru tanpa awan itu dengan seulas senyum kaku lantas menatap potret besar sebuah keluarga yang sangat dia hormati dan segani yang balik menatapnya dalam bisu dengan wajah sendu.
.
"maaf.."
.
.
.
.
.
Jongin hanya mendesah setelah Baekhyun selesai mengantarkannya kembali ke kamar dan berbaring terlentang tanpa menatap apapun, toh apapun yang ada dihadapannya ia juga tak tahu. Mendesah lagi dan kali ini pikirannya berhasil menerawang dalam bayangan seorang wanita cantik dengan mata sendu yang mirip dengan mata miliknya. Eommanya. Entah kenapa, diapun juga tidak mengerti. Entah kenapa tiba-tiba saja ia merindukan eommanya, sangat merindukannya dengan begitu besar. Hatinya yang bahkan tak lagi bisa merasakan apapun itu kini berdenyut sakit saat lagi-lagi bayangan senyum paling indah itu melintas dalam ingatannya.
.
"eomma.." lirihnya tanpa sadar.
.
Hatinya kembali berdenyut sakit ketika bayangan sang eomma yang dulu mengantar kepergiannya melewati gerbang megah mansion Kim dengan tangis berputar dalam benaknya. Perlahan tangan kanannya menyentuh dadanya yang masih saja berdenyut nyeri saat bayangan-bayangan itu menyerbunya dan berhasil memerangkapnya dalam pusaran rindu yang membuatnya sesak nafas. Mata itu terbuka, mata jongin terbuka lebar dengan warna merah menahan segerombol liquid bening yang menyusup secara perlahan dan sukses mengalir dari masing-masing sudut ekor matanya. Ia menangis, menangisi betapa menyedihkan dirinya, sekarang. Apa yang bisa dia katakan pada eommanya.. apa bisa banggakan dari semua tindakannya dimasa lalu yang menyakiti satu-satunya wanita begitu dia cintai itu? Apa?
.
Dan sekarang, ia yang hina ini begitu mendambakan dekapan hangat wanita yang selalu memberinya maaf dalam setiap senyum serta usapan hangat dalam peluknya. Ia yang begitu tidak tahu malu ini, menginginkan itu semua. Menginginkan bentangan tangan rapuh tetapi lembut dipenuhi kehangatan itu menyambutnya dengan tangan lebar dan merengkuhnya. Mengusap punggungnya yang terlalu lelah. Dan membiarkannya menangis dalam pundak kecilnya. Kim Jongin sangat menginginkkan hal itu, ia begitu merindukannya, ia merindukan eommanya.
.
Tetapi, pantaskan ia? Masih beranikah ia kembali setelah semua itu? Setelah keputusan konyol itu? Setelah semua tindakan kasarnya?
.
Tidak.. ia tidak bisa, ia belum bisa, bahkan dirinya sendiri pun belum mampu memberi maaf untuk semua kesalahannya. Lantas, semua itu.. semua keinginannya itu mungkin tidak akan pernah bisa dia wujudkan. Mungkin untuk selamanya.. sebab dia bahkan tidak yakin dapat memaafkan dirinya sendiri. Tidak sebelum ia mati.
Karena ia pantas mendapatkannya.
.
.
.
.
.
Chanyeol tak pernah mengira bahwa kaki-kaki jenjangnya yang bahkan mampu menempuh jarak 100 meter hanya dalam beberapa menit itu kini terasa begitu lamban, sangat lambat. Seakan kakinya tengah digelayuti ribuan ton beton dan meluruh bagaikan jelly. Bahkan jarak yang tak sampai sepuluh meter itu kini tampak begitu jauh. Bagaimana bisa?
.
'jongin telah kembali'
.
Pesan singkat dari Baekhyun sepuluh menit yang lalulah yang pada akhirnya dapat membuatnya fokus dari ketertegunannya. Dalam satu hembusan nafas yang panjang jemarinya mendial nomor Baekhyun.
.
"kau tidak perlu cemas, Jongin su―"
.
Belum sempat Baekhyun melanjutkan ucapannya Chanyeol buru-buru menginterupsinya dengan satu kalimat membingungkan yang membuat Baekhyun menngernyit bingung.
"apa kau belum tahu?"
.
Hening, Baekhyun diam. Dia sama sekali tidak tahu apa yang tengah dibicarakan oleh Chanyeol dan pada akhirnya. "apa maksudmu?" Baekhyun balik bertanya dengan nada datar.
.
"tidak." Jawaban singkat itu sukses membuat kernyitan didahi Baekhyun berkerut. "bukan apa-apa."
.
Dan percakapan itu terputus, oleh Chanyeol dengan sepihak tanpa menunggu kernyitan didahi Baekhyun menghilang. Ada apa? Pikir Baekhyun kebingungan.
.
Buru-buru Baekhyun kembali menghubungi Chanyeol, namun.. belum sempat hal itu terlaksanana sebuah panggilan yang sangat tak asing mnucul dalam flip ponselnya. Matanya mengernyit. Mencoba memahami bahwa orang yang tengah menelponnya adalah benar orang yang ia pikirkan. Matanya tidak mungkin berbohong bukan? Tetapi.. hal ini sungguh aneh, kenapa beliau menelponnya? Ada apa?
.
"nde sajangni―"
.
Ucapan Baekhyun terhenti, mata sipit itu membola sepersekian detik sebelum tiba-tiba tetes air bening itu menyeruak secara bersamaan dengan isak tangis menderu dari mulutnya. Tidak ada satupun kata yang terucap dari Baekhyun, kata-kata dari orang asing yang berada di line telpon itu sukses membungkamnya dalam arus kesedihan. Bibir tipisnya bergetar kelu.. tangannya bergetar tanpa ia bisa mengontrolnya dan pada klimaks sambungan telepon itu berakhir yang dapat Baekhyun lakukan hanyalah luruh, ia jatuh terduduk pada dinginnya lantai marmer, ia genggam erat telepon itu dalam dekapannya, dan menangis terisak.
.
"Jongin…" nama itu terucap dari bibirnya yang masih bergetar. Dan tiba-tiba saja ia mengingat kalimat aneh Chanyeol yang baru saja dia dengar. 'apa kau belum tahu?'
.
Tidak, sekarang Byun Baekhyun tahu.. ia tahu, 'bukan apa-apa' kalimat selanjutnya yang tadi terucap dari Chanyeol sontak membuatnya geram. Apanya yang bukan apa-apa.. dengan mata yang masih berkaca-kaca Baekhyun bangkit. Apanya yang bukan apa-apa!
.
Kau benar-benar brengsek, Chanyeol..
.
.
.
Pada akhirnya Chanyeol hanya mematung didepan pintu kamar rawat orang yang begitu ingin dia lindungi. Ia tidak gugup ataupun ling-lung untuk membuka kayu persegi tak bernyawa yang membentenginya dari sosok itu. Bukan itu, ia hanya, hanya belum siap… ia belum siap untuk menjadi sosok seorang brengsek untuk yang kesekian kalinya dihadapan sosok itu. Ia masih belum siap. Ia belum siap melihat mata itu kembali dipenuhi tetesan bening yang paling ia benci. Ia belum siap..
.
Namun, ia akan mendapat julukan yang lebih dari sekedar brengsek jika tidak memberitahu hal ini pada sosok itu.
.
Dan, pada akhir keputusannya… Chanyeol dengan perlahan memutar knop pintu. Mendorongnya dengan perlahan.. lalu..
.
BRRRAAAKKKK!
.
Suara benturan benda tumpul yang cukup keras membuat pergerakannya sukses terhenti. Buru -buru ia membuka pintu kayu itu dengan rasa khawatir yang bahkan melebihi rasa takutnya.
.
Jongin…
.
Kim Jongin nya.
.
Tidak ada satu katapun yang terucap dari bibir Chanyeol saat matanya melihat betapa kemarahan yang diselimuti kesedihan itu menguar dari setiap tindakan Jonginnya, Jonginnya yang lebih dari sekedar sakit, jonginnya yang rapuh dan mungkin telah hancur untuk yang kesekian kali. Kim Jonginnya…
.
AAAARRRGGGHHHH!
.
Teriakan penuh pilu itu menggema dengan lantang, matanya menatap setiapa gerakan yanga tak lebih hayalah sebuah spontanitas dari rasa frustasi dari sang pemilik, kakinya bergerak kaku menapaki lantai yang telah berserakan benda-benda asing yang entah apa wujud aslinya.
Dari sudut matanya ia melihat seorang perawat wanita tengah berdiri ketakutan menatap pemandangan dihadapannya
Jongin nya..
Kim Jongin nya..
.
Yang tengah mengamuk seakan seakan-akan ingin mengahncurkan seluruh dunia dengan raungannya, membanting apapun yang tertangkap tangannya dan melemparkan kesembarang arah tanpa perduli seseorang atau bahkan dirinya terluka akan semua itu.
.
Tak perlu bertanya kenapa dan apa penyebab semua ini. Suara televisi yang menyiarkan sebuah berita kematian dari sepasang suami istri kalangan chaebol di Korea Selatan telah menjelaskan semua yang terjadi. Tanpa perlu bertanya pada sosok perawat yang diam-diam berjalan menjauh dengan kaki gemetar menuju pintu, Chanyeol melangkahkan kakinya menuju Jongin yang masih tetap meluapkan amarahnya.
.
Satu langkah panjang dia ambil lalu tanpa pikir panjang lagi-lagi ia merengkuh punggung rapuh itu untuk entah yang keberapa kali, dan semua terasa sangat menyakitkan. Terlebih pada hatinya. Hati yang telah tega mengkhianati orang terkasihnya yang bahkan rela menuggunya dalam setiap hembus nafasnya. Hatinya yang bodoh.
.
Dekapan Chanyeol mengerat saat Jongin meronta di setiap raungannya yang bahkan kini terdengar seperti rintihan kesakitan. "sst.. tenanglah Jongin, tenanglah.." rontaan itu makin menjadi, Jongin berteriak. Meraung dan memukuli dada Chanyeol yang mendekapnya erat. Lama Chanyeol Membenamkannya dalam dekapan hangat yang kini bahkan tak lebih hanya seperti dekapan kosong yang begitu erat dan menyakitinya setiap detik. Dan yang hanya bisa Jongin lakukan hanya meraung frustasi atas semua omong kosong yang baru saja didengarnya. Bahkan tiap kata yang tadi sempat menyekat tenggorokannya bagai disayat pisau itu masih jelas terngiang dalam lempeng telingnya..
.
'kecelakaan tunggal di daerah goyang, Seoul. menewaskan pasangan suami istri Kim pemilik Kim Corporation'
.
Desakan air mata yang sedari tadi ditahan Jongin pada akhirnya luruh saat otaknya kemali memutar kata-kata yang tak lebih merupakan belati tajam dengan dua mata pisau mengkilat yang siap merobek seluruh hatinya.
.
'tidak ada saksi mata dalam kejadian naas tersebut dan kedua jenazah―'
.
AAAARRRRGGGHHHH!
.
Dan lagi-lagi meraung frustasi adalah satu hal yang dapat dilakukannya. Penyesalan itu seperti hujan yang selalu dibenci seorang Kim Jongin. Selalu datang tanpa pemberitahuan dan selalu membuat Jongin ketakutan. Bahkan rasa sakit yang kali ini melebihi batas toleransi sakit yang dapat diterima oleh hatinya. Ia hancur, Kim Jongin benar-benar hancur. Hancur karena takdir begitu senang menertawakan jalan yang di pilihnya, menyiksanya dalam omong kosong yang tak bisa diterimanya dan semua hal itu benar-benar membuanya tahu rasanya mati.
.
Air matanya bahkan telah kering, tenggorokannya pun telah sakit dan tak lagi bisa mengucapkan satupun suara, ia merintih dalam dekapan Chanyeol dan kata-kata penenang yang meluncur dari mulut Chanyeol hanya terdengar seperti suara deru mesin yang menggilas aspal hitam yang tak bergeming. Terdengar namun tak lantas membuat semuanya baik-baik saja. Semua tak lagi bisa diterimanya. Tubuhnya luruh dan jatuh.
.
Jatuh kedasar rasa bersalah yang selalu dipupuknya selama tahun-tahun saat ia memutuskan untuk pergi dan menjadi anak durhaka. Rasa rindunya yang membeludak itu kini hahkan tak lebih seperti embun yang pasti akan menguap tanpa perlu susah payah. Menghilang dan tak akan berbekas sehingga tak seorang pun tahu. Jejak basah itu tertinggal.
.
Hanya tertinggal seperti rasa sakit serta penyesalan yang kini bercokol dalam didasar hatinya, tertinggal dan tak pernah bisa tersampaikan.
.
"eomma…. Appa…"
.
.
.
.
.
"kau sudah melihat beritanya?" mata tajam itu menyapu pemadangan bulan februari yang selalu membuatnya tenang, suara seseorang yang ada di sambungan telepon mengalun indah seperti angin musim semi yang membelai lembut hatinya. Dingin namun begitu hangat dalam waktu yang bersamaan. Senyum tipis itu tersemat di bibirnya ketika suara merdu itu mengalun dengan nada khas.
.
"begitukah? Hm.. hati-hati. Aku mencintaimu. Princess."
.
Hening sejenak, dan suara itu kembali mengalun datar.
.
'aku tahu.'
.
Dan satu kalimat itu lagi-lagi membungkam hatinya yang berdenyut nyeri. Aku tahu, selalu seperti itu. Selalu kalimat itu yang diberikannya dan dia tak pernah bisa meminta lebih, karena hal itu tidak pernah bisa dia lakukan. Ia tak bisa menuntut apapun kepada princessnya karena dia tidak berhak. Dan untuk pertama kali, ia merasa bodoh.
.
Bodoh, karena telah memberikan seluruh hatinya kepada orang yang bahkan enggan melihat hatinya.
.
Bodoh, karena dia tak pernah bisa menolak apa yang diinginkannya.
.
Bodoh, karena masa lalu yang membelenggunya tak pernah bisa membiarkannya bernafas lega.
.
Bodoh, karena perasaan konyol yang mengunci hatinya. Perasaan yang orang sebut cinta itu benar-benar mengunci hatinya pada satu orang. Sialnya.
Orang itu tak pernah bisa melihatnya lebih dari pada seseorang.
Seseorang yang menjadi akar dari cerita sedihnya. Orang yang membuatnya berada disini dan bertindak seperti orang yang menyedihkan.
.
"mianhae…Park Chanyeol,"
.
.
.
.
Remember the way you made me feel..
Such young love.
But,
Something in me knew that it was real.
Frozen in my head.
Pictures I'm living trough for now..
Trying to remember all the good time..
Our live was cutting through so loud,
Memories are playing in my dull mind..
I hate this paper hearts, and I'll hold a piece of yours..
Don't think I would just forget about it..
.
.
.o0o.
Chapter 9 Finish
.
.
a/n :
sebelumnya saya mau minta maaf dulu karena telat banget apdet ini fanfict, rencananya sih minggu kemaren udah mau saya kelarin ini chapter tapi tiba-tiba ada sesuatu hal dan dengan terpaksa saya musti mengorbankan ini fict untuk beresin sesuatu itu.
.
Okeh. Karena chap ini agak mulai mendrama lagi saya harap kalian gak pada bosen dengan alur yang saya bikin kayak sinetron ini. Fanfict ini pasti bakalan agak lama tamatnya karena masalah yang sebenarnya pun belum terungkap. Mulai dari chap ini juga bakalan bermunculan hidden cast yang kece-kece. Hahah
.
Dan tiba-tiba saya jadi merasa, kayaknya yang brengsek disini kok saya yah? :p yasudah abaikan curhatan saya,
Yang ngeship Hunkai, mana suaranya? Chankai mana suaranya? Chansoo mana suaranya? KaiBaek mana suaranya? Haha, berasa konser.. setelah saya menelaah fanfict abal ini saya baru ngerasa, kenapa banyak kali pairing absurd disini yah? Kalian ngerasa nggak?
Hm, yasudahlah.. intinya saya sangat menghargai apresiasi kalian di chapter sebelumnya, terima kasih sudah mau follow sama favorite ini fict. Saya terharu.. :)
Dan terakhir
.
Thanks to my precious readers
| onrie1420 | Seraphine Rin | diannurmayasari15 | laxyovrds | kimpinku | YuRhachan | sehuniesm | Fawkaihoon | kaiku | Sa | Miss Wuhan | sehunfina | park28sooyah | ChocoBear Noona | xpasiphaey | gdtop | gothiclolita89 | unknown | GYUSATAN | jung Naera | jihan park | KJ | YooKey1314 | hana | Devia494 | hunkai lovers | sayakanoicinoe | KAI's | njongah | aNOnime9095 | Khoirunnisa890 | Uzumakichan | melizwufan | WyfZooey | diajunie61 | Veraseptian | nana.k | dhadhiaa | kai uke shiper | HaeSan | ariska | steffifebri | jjong86 | | Guest | cute | hanbinikon | Song Haru | Kim Jongin Kai | hunexohan | sejin kimkai | helenaaaaafela | GaemCloud347 | bapexo | hnana | lalalalala | kim | yellowfish14 | kimkai88 | ucinaze | Kimsibling | ohkim9488 | Wiwitdyas1 | Waniey318 | elidamia98 | KkaiOlaf | YooKey1314 | Aesmayae | KSKJ | xsxsso | Jun-yo | NadyaputriKpoperBestFriendofYuNaCha | geash | kim nara | kimkaaa | estkai | Parkyayim | kaieqso | BabyWolfJonginnie'Kim | Jungie nuna | sasha | Yuki Edogawa | ParkJitta | Disyeye | KimuraRin | onespoonfulloppa | Dya Kim | bubblebaek | JSA | ranirahma | NishiMala | yooonnah | KKOS | | minjoo | isnawati96511 | sheyy bunny | Ziyuu Exol9488 | rellicioud94 | KJInoona | seorinkim88 | May | popyanzz | chiekai | M2M | baby tan bear | jumee | Karen Ackerman |
terima kasih telah menyempatkan diri buat mampir dan baca ini fict. ^^V
Silahkan tinggalkan jejak kalian dikotak review jika berkenan.
GOMAWOO!
.
.
.
p.s :
yang mau berteman dengan saya di fb Tian Lian Lian
silahkan add #promosi
With love
=TianLian=
