—18 VS 29—
a YunJae fanfiction presented by Cherry YunJae.
.
Jaejoong, Yunho, Junsu, Changmin, Yoochun, Jessica, Woobin, Siwon.
YUNJAE, MINSU.
T-M Rated.
Drama/Romance.
WARNING! GENDERSWITCH! Typos everywhere! Out of Character!
.
DON'T LIKE, DON'T READ! Told ya before!
.
.
[ © Sebuah remake dari novel milik Ji Suhyun dengan judul yang sama(2003), cerita sepenuhnya milik Ji Suhyun hanya beberapa yang saya potong & ubah termasuk pemeran dan latar untuk keperluan cerita. ]
.
.
.
.
Bagian Delapan.
.
.
.
Telepon atau tidak ya?
Baru kali ini Yunho merasa sulit sekali menelepon seseorang, padahal yang ingin dia telepon adalah istrinya sendiri.
Kau bisa menghubungiku jika kepalamu sudah dingin dan kau siap mendengar ceritaku.
Satu-satunya wanita di Korea yang berani menyuruhnya menelepon duluan hanyalah Jaejoong. Dia terus saja berpikir keras kiranya apa yang ingin dibicarakan wanita itu.
Yunho terus mengingat hal yang dilakukan istrinya waktu itu. Jaejoong seenaknya saja memeriksa laci, marah-marah, dan pergi dari rumah. Bahkan tak ada niat untuk melihat keadaan suaminya yang dia tinggalkan. Ditambah lagi, dia mulai pergi menemui pria lain yang bukan suaminya dan mengobrol dengan pria itu sambil tertawa-tawa. Ketika menerima foto mereka berdua dari paparazzi, Yunho langsung emosi.
Yunho memaki-maki istrinya yang melakukan hal tidak berguna. Yunho juga marah karena istrinya malah menyuruhnya menelepon. Saking marahnya, Yunho tidak mengisi ulang baterai ponselnya.
Tapi kini, dia sangat takut mendengar apa yang akan istrinya bicarakan. Rasanya nyaris gila sekaligus penasaran.
Jaejoong menyuruhnya untuk menelepon saat kepalanya sudah dingin. Sayangnya, saat ini amarahnya belumlah reda. Apalagi ada Siwon di hadapannya.
"Pada scene ini kau harus menekankan perasaan simpati dan kesedihan akan kehidupan yang seperti ini. Sekarang bukan saatnya kau menunjukkan kebencian, Jung Yunho! Hentikan tatapan tajammu! Bagaimana bisa kau mendapat award tahun lalu? Aku tidak percaya."
Sutradara—Siwon terus saja mengusik Yunho yang sedang istirahat. Anehnya, Yunho hanya diam sambil menatap Siwon. Itu karena Yunho sedang memikirkan apa kiranya yang harus ia katakan pada pria itu.
"Kenapa kau terus saja pergi menemui Jaejoong? Pada hari kecelakaan itu, dan juga kemarin."
Sesaat, Siwon bingung mendengarnya. Barulah lima detik kemudian ia mengerti apa yang dimaksud Yunho. Dia langsung tersenyum.
"Apa aku harus memberitahumu kenapa aku menemui Jaejoong?"
"Sampai sekarang wanita itu masih istriku."
Senyuman yang tadi menghiasi wajah Siwon pun menghilang.
"Aku benci orang sepertimu."
Di luar jam kerja, Siwon adalah orang yang tenang tapi kali ini tidak demikian. Dia menggeram pada Yunho.
"Orang sepertiku itu orang yang seperti apa?"
"Orang yang tidak memperlakukan hartanya sebagai barang berharga karena sudah terlalu banyak yang didapat. Orang yang menggunakan orang lain sebagai senjata. Juga, orang yang melupakan tanggung jawabnya kalau sudah bosan."
Yunho tahu, jumlah orang yang membencinya amat banyak. Ia tahu, tapi ia mengabaikannya karena ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya. Hanya pendapat Jaejoong yang dia pedulikan. Namun, ia masih menyayangkan istrinya yang berhubungan dengan pria seperti Siwon. Itu membuatnya tidak senang.
"Aku juga tidak suka orang sepertimu, Choi Siwon. Orang yang beraninya melirik wanita yang jelas-jelas sudah menjadi milik orang lain. Kau dan Jaejoong, kenapa kalian bertemu? Apa kau berani menjamin bahwa pertemuan kalian hanya untuk urusan film?"
Sudah sebelas tahun sejak Siwon berusia sembilan belas tahun dan Yunho yang delapan belas tahun. Mereka saling membenci. Keduanya tidak tahu kenapa bisa begitu, hanya saja Jaejoong selalu ada di tengah-tengah mereka. Siwon benar-benar membenci Yunho karena baginya Yunho adalah sosok yang bisa mendapatkan apapun tanpa usaha keras. Dia selalu bisa mendapatkannya hanya dengan modal tampang dan kharismanya. Suatu hari, tiba-tiba Yunho datang ke hadapannya dan merebut Jaejoong, wanita yang sudah lama ia perhatikan.
"Aku tidak bisa menjamin itu. Sejak awal, kami bertemu karena urusan film itu hanya alasan. Aku bertemu Jaejoong untuk membuka matanya bahwa dia lebih baik pergi bersamaku daripada bersamamu. Dia selalu menderita karena tinggal bersamamu."
Sekarang, seolah muncul api dari mata Yunho. Pukulan Yunho langsung melayang ke wajah Siwon. Namun Siwon berhasil menghindar dan memukul balik lawannya itu.
"Ku bunuh kau, brengsek! Beraninya berkata seperti itu pada istri orang!"
Mereka terjatuh dan bergulingan di tanah.
"Kau yang akan ku bunuh! Merusak wanita lugu dan membuatnya menikahimu dengan cara memalukan seperti itu! Kau hanya bisa membuatnya menderita! Aku lebih bisa membuatnya bahagia jadi lebih baik kau pergi dari kehidupannya!"
Beruntung tempat mereka berada jauh dari keramaian, jadi tak ada yang berkerumun melihat perkelahian antara sutradara dan aktor itu. Mereka berelahi sampai tenaga mereka habis. Akhirnya, mereka berbaring di atas tanah sambil memandang langit.
Perkelahian mereka berakhir sengit dan kekanak-kanakan.
.
.
.
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Siwon dapat mmenggerakan tangannya kembali. Ia mrngambil rokok yang ada di sakunya lalu menyulut rokok tersebut. Lalu ia menoleh pada Yunho yang duduk kira-kira tiga meter darinya.
"Kau tidak merokok? Bukannya dulu kau bahkan menghabiskan satu bungkus dengan cepat?"
Yunho menggeleng dengan ekspresi datar.
"Sudah lama aku berhenti merokok. Itu bisa merusak paru-paru —akh! Sial. Sudah ku bilang jangan memukul wajah, sudut bibirku sakit sekali."
Yunho menyentuh sudut bibirnya sementara Siwon tersenyum karena berhasil membuat wajah Yunho babak belur. Ia pun berseru dengan penuh semangat.
"Kalau tidak suka, tuntut saja! Siapa tahu kejadian ini bisa mempromosikan film kita. Atau kau mau berhenti? Oh ya, kenapa kau berhenti merokok?"
"Supaya Jaejoong menikah denganku. Kalau aku tidak mengubah sifatku dan berhenti merokok, ia tidak akan mau menikah denganku. Katanya dia tidak mau menikah dengan orang yang punya penyakit paru-paru."
Dulu Yunho bahkan bisa menghabiskan tiga kotak rokok dalam sehari, tapi ia bisa berhenti setelah menikah dengan Jaejoong. Meski setelah ucapan cerai waktu itu ia sempat mulai merokok lagi, tapi kini ia sudah berhenti total.
"Aku juga bisa berhenti merokok." celetuk Siwon.
Seandainya dulu Jaejoong menyuruhnya untuk berhenti merokok, Siwon tentu akan melakukannya. Tapi, Jaejoong tidak memintanya seperti itu. Wanita itu hanya meminta Siwon untuk merokok di tempat yang tak terlihat olehnya. Mungkin seperti itulah bedanya perlakuan Jaejoong pada pria yang dicintainya dengan pria yang tidak dicintainya.
"Kau sudah mendapatkan Jaejoong tapi kenapa malah membuatnya seperti sekarang? Kalau Jaejoong bahagia, tidak mungkin aku punya pikiran untuk mengajaknya pergi. Waktu kalian menikah, Jaejoong bilang ia akan bahagia. Makanya aku menyerah dan pergi. Tapi ini bahkan baru beberapa tahun, dasar bodoh."
Yunho jadi penasaran, apa benar Jaejoong pernah bilang begitu? Apa wanita itu pernah merasa bahagia bersamanya? Sama seperti dirinya yang bahagia bersama Jaejoong.
"Siapa yang kau sebut bodoh? Yang bodoh itu yang mengajak kabur istri orang!"
"Sepertinya tidak buruk juga sesekali jadi orang bodoh. Kenapa? Kecewa ya?"
Sambil tertawa dingin, Siwon menyentuh matanya yang terluka. Sepertinya ia harus memakai perban untuk sementara waktu. Namun, dengan mata yang terluka seperti itu ia masih bisa membaca tatapan Yunho.
"Waktu kau berkelahi dengan Woobin, Jaejoong bertanya padaku apa kau terluka parah. Saat itu ku katakan saja padanya, kalau dia mengkhawatirkanmu sebaiknya dia pergi melihatmu. Kalau tidak, ia lebih baik pergi bersamaku ke luar negeri. Tapi dia bilang dia sedang tidak boleh naik pesawat."
Kata-kata itu sama persis dengan yang Jaejoong katakan pada Yunho.
"Jung Yunho, katanya walaupun dia membencimu, sekarang ini dia masih istrimu. Statusnya mungkin bisa berakhir kapanpun, tapi yang jelas saat ini ia masih milikmu. Karena itu, dia tidak mau melakukan hal gila seperti pergi bersama pria lain. Pria yang ada di pikirannya hanya kau. Mendengar hal itu, perasaanku... ya begitulah.".
Yunho pun begitu—merasa aneh. Sebenarnya ia merasa senang, seolah ada angin sejuk yang berhembus ke arahnya. Tapi yang keluar dari mulutnya justru berlawanan.
"Kenapa ia bicara padamu bukannya padaku? Dasar wanita aneh."
Siwon mengerutkan dahi.
"Apa kau punya hak untuk bicara seperti itu? Lucu sekali. Kau sendiri kenapa membuat wanita yang kau sukai jadi menderita? Bukankah harusnya kau senang saat bersamanya? Bahkan aku pun ikut menderita karena kalian, cih."
Yunho hanya terdiam. Ia malas menanggapi ucapan Siwon meski dalam hati ia ingin menjawab bahwa ia melakukan hal itu karena khawatir.
Apapun yang terjadi, Jaejoong harus terus berada di samping Yunho. Lagipula mereka berdua sudah berjanji untuk menjaga satu sama lain sampai tua nanti. Dulu Yunho tidak pernah tahu kalau Jaejoong menderita selama bersamanya sampai wanita itu mengajaknya bercerai dan Yunho tak tahu harus melakukan apa selain melampiaskan kemarahannya. Tapi kali ini ia sungguh menyesal dan tidak ingin melepas Jaejoong lagi.
Matahari semakin tinggi, Siwon dan Yunho beranjak kembali ke lokasi syuting namun tiba-tiba Yunho berbelok dan membuat Siwon bingung.
"Sebentar lagi syuting dimulai. Kau mau kemana? Kabur?"
"Aku mau menelepon istriku dulu."
"Telepon saja disini, bisa kan? Ku pinjamkan ponselku."
"Memalukan sekali menelepon di depanmu."
Bibir dan pipi Yunho terluka, kalau Yoochun tahu hal ini pasti Yunho akan dimarahi habis-habisan. Tapi ekspresinya justru terlihat cerah. Ia bilang ia akan kembali ke lokasi syuting setelah selesai menelepon Jaejoong.
Namun, sampai matahari terbenam pun dia tak kunjung datang.
.
.
.
Tidak ada yang tahu kenapa tiba-tiba Yunho tidak muncul di lokasi syuting. Entah apakah dia hilang ditelan bumi atau sekedar bolos syuting dan kabur... Semua orang hanya bisa menduga-duga. Namun, Kim Jaejoong membantah semuanya.
"Hari ini dia mengajakku bertemu, makanya dia menyuruhku kesini. Tidak mungkin dia menghilang."
Siwon, yang biasanya tak pernah akur dengan Yunho pun kali ini sependapat dengan Jaejoong.
"Tadi dia bilang akan kembali setelah menelepon istrinya. Tidak mungkin dia kabur. Biasanya dia memang begitu, tapi kali ini tidak."
Sejak datang ke lokasi syuting, Jaejoong menenangkan hatinya. Ia teringat akan pembicaraannya dengan Yunho di telepon tadi siang.
Saat Junsu bilang bahwa Yunho menelepon lewat ponselnya, Jaejoong berusaha bersikap tenang meski jujur ia sedikit antusias untuk segera bicara dengan suaminya itu.
[Halo]
"Halo? Siapa?" Meski Jaejoong mengenali suara suaminya, ia memilih untuk berpura-pura tidak tahu.
[Suamimu. Apa kau ada waktu?]
"Uhm... Bisa ada, bisa juga tidak."
[Mana ada jawaban seperti itu.]
Suara Yunho terdengar lebih lembut dari biasanya. Hati dan suara Jaejoong pun ikut melembut.
"Sudah makan?"
Apa kau sudah makan, apa pekerjaanmu lancar dan pertanyaan semacam itu adalah cara basa-basi yang biasa dilakukan oleh Jaejoong. Kadang sulit baginya untuk berkomunikasi dengan Yunho, tapi kali ini semua mengalir begitu saja. Rasanya Jaejoong ingin hidup seperti ini terus.
Jaejoong ingin bertanya apakah Yunho sudah makan, dan mengajaknya makan bersama. Ingin meminta maaf, ingin mengatakan cinta dan ingin mengatakan hal-hal yang diucapkan seorang istri pada suaminya.
[Sudah, aku sudah makan siang tadi. Kalau kau ada waktu datanglah ke sini nanti. Aku akan mentraktirmu makan malam sambil membicarakan masalah kita. Atau aku saja yang ke tempatmu setelah syuting?]
Sepertinya Yunho sedang dalam mood yang baik, bahkan sampai mengajak dinner di luar. Juga sebelum telepon ditutup dia mengatakan "Sampai bertemu nanti" sambil tertawa.
Karena itu, Jaejoong yakin betul kalau suaminya tidak mungkin kabur.
"Apa mungkin diculik?"
Orang-orang di sekitar mereka langsung menoleh karena ucapan Junsu. Gadis muda itu terbengong karena semua menatap padanya.
Sementara manager Yunho, Park Yoochun angkat bicara.
"Untuk sementara kita tunggu dulu sampai matahari terbit. Kita tidak bisa langsung melapor ke polisi kalau ada seorang pria dewasa yang menghilang. Bisa ramai juga nanti kalau media tahu. Kita teruskan saja syutingnya agar berita ini tidak tercium keluar."
Kemudian sang manajer menatap Jessica.
"Jessica, kau tidak perlu ada di sini. Kau tidak bisa memerankan peranmu tanpa Yunho. Kita lanjutkan saja jadwalmu berikutnya, jam delapan ada Henry's fashion show jadi pergilah duluan dengan Jeongmin."
Entah kenapa nada bicara orang yang mencari uang selalu dingin seperti itu. Jaejoong ingin sekali berkata apa sekarang ini syuting lebih penting daripada menghilangnya seseorang? Namun, sebelum dia mengatakannya, Jessica sudah lebih dulu menyuarakan pikirannya.
"Memangnya jadwalku lebih penting saat ada seseorang yang menghilang? Aku tidak mau pergi! Akan ku tunggu sampai Yunho oppa datang."
Selama lima detik suasana berubah hening dan kaku. Jaejoong bisa melihat wajah Jessica yang memucat. Dia ingat, wanita cantik itu pernah mengatakan hal yang memalukan padanya.
Yunho oppa adalah orang yang penting bagiku.
Sekarang, Jessica mengulangi perkataan yang sama artinya dan membuat Jaejoong kesal. Jaejoong sedang khawatir karena suaminya menghilang, tapi Jessica malah memperlihatkan ekspresi seperti itu. Ingin sekali ia bertanya pada Jessica, untuk apa kau masih disini? Namun, diurungkannya niat itu. Sebagai gantinya ia berkata pelan.
"Jessica, kau pergi saja seperti yang dikatakan manajer. Biar aku dan keluarga yang menunggu disini."
Kalimat Cukup aku dan keluarga yang menunggunya disini pada akhirnya juga mengisyaratkan Untuk apa kau masih ada disini? dan Jessica marah mengetahui maksud tersirat Jaejoong. Ia merasa diusir.
"Baiklah kalian memang keluarga Yunho oppa. Tapi apa memangnya yang sudah kalian lakukan untuk Yunho oppa?"
Daritadi Jessica hanya diam dan memperhatikan, tapi kali ini dia mendekati Jaejoong.
"Kau merasa hebat karena Yunho oppa mencintaimu? Apa kau tahu betapa sedihnya Yunho oppa selama ini? Sekarang Yunho oppa malah menghilang, ini pasti karenamu! Kau puas?! Kalau sampai terjadi apa-apa padanya, aku tidak akan melepasmu!"
Jaejoong bingung, sebenarnya apa hak Jessica sampai berani bicara begitu padanya? Barangkali karena Jessica tidak menyukai Jaejoong. Sebenarnya Jaejoong juga membenci Jessica karena selalu mengikuti Yunho meski status pria itu adalah suami orang. Ia semakin membenci Jessica saat mengingat kilasan memorinya tentang Yunho yang memeluk seorang wanita itu.
Tidak terima dengan ancaman Jessica, Jaejoong menyahut keras.
"Kau itu siapa? Beraninya bilang tidak akan melepaskanku. Dari dulu aku ingin bertanya, kau itu sebenarnya siapa sih? Kenapa selalu ada disekitarku dan Yunho? Kau itu siapa sampai-sampai selalu memanggil 'Yunho oppa' seolah dia itu milikmu?!"
Kata-kata pedas dari Jaejoong membuat Jessica terdiam sesaat. Beberapa detik kemudian, Jaejoong melihat airmata Jessica mulai menetes, sontak membuat istri Yunho itu kaget. Tapi itu belum seberapa dibanding kagetnya ia saat mendengar kalimat Jessica berikutnya.
"Tentu saja aku memanggilnya 'oppa', memangnya aku harus memanggilnya apa? Yunho oppa itu benar-benar kakakku. Aku adik perempuan yang dilahirkan Han Yoomi setelah menikah lagi di Amerika."
Setelah Jessica selesai bicara, ruangan itu pun hening.
.
.
.
Yunho tidak tahu dirinya berada dimana, ruangan itu hening dan tak ada siapa-siapa semenjak ia membuka mata.
Ia ingat betul saat selesai menelepon Jaejoong dan hendak kembali ke lokasi syuting, tiba-tiba dua orang berkacamata hitam mendatanginya. Awalnya ia pikir orang-orang itu adalah rekan syutingnya sebelum akhirnya mereka membekap Yunho dengan saputangan berisi kloroform. Saat terbangun, tangan dan kakinya sudah terikat dan kepalanya pusing. Hanya ada satu hal yang ia pikirkan, ini penculikan!
Sebenarnya, Yunho masih tak percaya bagaimana bisa ia menjadi korban penculikan. Waktu masih kecil dulu, mungkin saja hal ini terjadi karena pelaku ingin menguras harta kakeknya. Tapi kini Yunho seorang pria dewasa, tentu saja hal ini tak bisa ia percaya.
Yunho mencoba tenang dan berusaha memikirkan siapa kiranya yang melakukan hal ini. Apa penculiknya seorang penguntit? Atau murni karena tujuannya uang?
Saat Yunho sedang hanyut dalam praduganya, tiba-tiba pintu terbuka. Yunho langsung berpura-pura tertidur lagi, dan mendengarkan suara penculiknya.
"Hei, apa obatnya terlalu kuat? Dia masih belum sadar juga. Kita harus membuatnya sadar sebelum ada perintah lagi dari klien kita."
Klien? pikir Yunho. Terdengar sahutan dari penculiknya yang lain.
"Jangan khawatir, memangnya kita baru sekali dua kali menculik? Tapi omong-omong, tugas ini cukup berbahaya. Dia Jung Yunho yang terkenal itu kan? Walaupun kita mendapat banyak komisi, tetap saja kita pasti tertangkap."
"Jangan bicara begitu! Kalau misi ini selesai dengan baik dan kita mendapat komisinya, kita segera pergi ke tempat yang jauh! Sebaiknya sekarang telpon saja klien kita, dia bilang untuk menghubunginya jika kita berhasil membawanya tapi kenapa ponselnya dimatikan, dasar."
Tiba-tiba, terdengar suara ponsel berdering.
"Halo? Ya... ya. Kenapa baru menelepon? Tugas sudah beres. Sekarang orangnya masih tidak sadar. Kapan mau datang melihatnya? Atau kami habisi saja? Jadi salldonya... oh, begitu. Oke kita bertemu dan bicara, datanglah sebelum dua jam."
Yunho mulai merangkai ucapan para penculik itu di dalam otaknya. Ada seseorang yang menyuruh orang-orang ini untuk menculiknya dengan menjanjikan uang. Tapi sebenarnya siapa?
Ah, untuk sementara ini penculiknya bukanlah hal penting. Yang terpenting ia harus memikirkan bagaimana caranya keluar dari tempat ini.
Yunho mendengar pintu tertutup namun masih ada suara langkah di dekatnya, jadi ia menduga salah satu penculik pergi meninggalkannya dan seorang penculik lagi di ruangan itu. Yunho berpikir ia harus benar-benar konsentrasi untuk bisa lepas dari mereka. Bagaimanapun ia punya janji dengan Jaejoong.
Yunho membuka matanya dan membuat si penculik terkejut.
"Orang yang menyuruh kalian menculikku menjanjikan uang seratus juta ya?" Yunho mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk tenang.
"Bagaimana? Aku tidak tahu soal siapa yang menyuruh kalian tapi soal komisi, aku jelas bisa memberikan lebih banyak dari orang itu. Aku memberi kalian tawaran yang tidak bisa ditolak."
.
.
.
"Yunho oppa yang menyuruhku untuk tidak mengatakannya pada siapapun kalau aku adiknya. Dengan begitu, oppa akan berpura-pura tidak mengenalku."
Mendengar pengakuan Jessica bahwa ia dan Yunho adalah kakak beradik membuat Jaejoong dan semua orang disana bingung dan tak bisa berkata apa-apa.
Sudah sekitar tiga tahun sejak Jessica datang ke Korea dan memulai karirnya sebagai aktris. Jaejoong tak habis pikir bagaimana mungkin Yunho dan Jessica bisa menyembunyikan rahasia yang menggemparkan itu rapat-rapat? Ternyata karena hal inilah Yunho bisa dekat dengan Jessica sampai muncul gosip yang tidak-tidak, sebab Yunho tidak pernah dekat dengan wanita lain selain istrinya.
Jaejoong sedikit kecewa, kenapa Yunho tak memberitahunya bahkan tak memberitahu Changmin.
"Bodoh! Harusnya ia mengatakan hal itu padaku dan Changmin."
Pengakuan Jessica membuat Jaejoong stres karena tak percaya kenapa Yunho bisa melakukan itu padanya.
"Dia tidak mau memanggilku sebagai adiknya di depan banyak orang karena dia membenciku." isak Jessica. Tatapannya tertumpu pada kakak keduanya, Changmin.
Pria tinggi itu bertanya sesuatu pada Jessica dengan bahasa isyarat yang kemudian diartikan oleh Junsu.
"Dia bertanya kenapa Yunho oppa membencimu padahal kau juga adiknya. Dan kenapa kau tidak bicara padanya."
Dulu Jessica ingin sekali bertanya hal itu pada Yunho, kenapa Yunho sangat membencinya. Jessica lahir di Amerika tanpa saudara, tapi saat ia mendengar dari ibunya bahwa ia mempunyai dua kakak laki-laki tentu saja Jessica segera bertekad untuk pergi ke Korea. Ia senang karena kakaknya lebih keren dari yang ia bayangkan namun sambutan yang ia dapat tak sesuai harapan.
Harusnya seorang kakak menerima kehadiran adiknya dengan senang dan membangun kembali hubungan mereka tapi Yunho tidak begitu. Yunho memang membantu segala kebutuhan Jessica saat gadis itu baru datang ke Korea tapi bukan itu yang diinginkannya, ia hanya ingin diperlakukan seperti adik sebagaimana mestinya. Awalnya Jessica pun marah tapi lama kelamaan ia mengerti dan lebih memilih untuk dianggap sebagai junior yang menyebalkan ketimbang dilihat sebagai orang asing bagi Yunho.
Dan setelah beberapa saat, Jessica mulai mengerti kenapa Yunho begitu membencinya.
"Karena aku mirip sekali dengan ibu yang melahirkan kami. Karena harusnya aku bukan Jessica Jung melainkan Jessica Yeon. Karena aku hanya terpaut tiga tahun dari Changmin oppa. Dan karena aku bisa mendengar serta bicara."
Yunho tidak bisa menerima semua hal itu. Ibunya pernah mencoba bunuh diri dan tak ingin melahirkan Changmin yang saat itu sedang dikandungnya. Karena hal itu, Changmin terlahir sebagai anak cacat yang tak bisa menangis saat dilahirkan. Yunho tak bisa memaafkan orang yang sudah menelantarkan suami dan kedua anaknya demi menikah dan melahirkan anak dari pria lain. Ia tidak bisa menerima anak pria itu dilahirkan dalam kondisi sehat, bisa mendengar dan bicara. Apalagi wajah anak itu sangat mirip dengan ibunya.
"Karena itulah dia membenciku... Dia.."
Saat mengatakan hal itu, tangis yang sebelumnya ditahan Jessica akhirnya pecah juga. Changmin memang tidak bisa mendengar suara tangisan gadis itu tapi ia bisa melihat bagaimana airmata yang berjatuhan dan bahu Jessica yang bergetar. Andai saja ia bisa bicara, ia ingin mengatakan hal yang bisa menenangkan adiknya. Tapi saat ini yang bisa Changmin lakukan hanya menepuk bahu gadis itu.
Merasakan tangan hangat di bahunya, Jessica mengangkat wajah dan mendapati Changmin disana mengatakan sesuatu lagi dengan bahasa isyarat.
Junsu yang melihat itu kembali membantu menyuarakan, "Dia bilang jangan menangis. Dia tidak membencimu, begitupun Yunho oppa. Kalau Yunho oppa membencimu dia tidak mungkin membiarkanmu masih ada di sekitarnya. Dia memang kasar tapi sebenarnya hatinya tidak begitu."
Mendengar hal itu, Jaejoong pun diam-diam ikut menyetujui ucapan Changmin. Ia tahu benar Yunho sering kasar padanya tapi nyatanya pria itu tidak membencinya. Begitupun dengan Jessica, jika Yunho membenci gadis itu, tidak mungkin Yunho membiarkan Jessica berkeliaran di sekitarnya.
Kenapa dia selalu mengungkapkan kasih sayang dengan cara seperti itu? batin Jaejoong.
Semua orang kembali sibuk mengkhawatirkan Yunho sampai tidak menyadari bahwa ada satu orang yang pergi dari ruangan itu.
.
.
.
"Mereka belum melapor polisi. Aku baru bisa menghubungi karena sedang bersama mereka... Jadi dia masih pingsan? Baguslah."
Selama di drama, Woobin sering mendapat peran protagonis yang membuatnya selalu terlihat baik-baik tidak seperti saat ini. Siapa sangka tersangka utama di balik penculikan Yunho adalah junior sekaligus rivalnya itu sendiri.
"Jangan lukai dia atau melakukan apapun tanpa instruksi dariku. Sekarang sedang ada sedikit masalah tapi nanti pasti ku kirim bayaran untuk kalian."
Entah bagaimana, saat ini jantungnya berdegup kencang. Mungkin karena ia berpikir sedang terlibat kejahatan besar, atau mungkin juga karena masih terkejut mengetahui fakta bahwa Yunho adalah kakak kandung dari Jessica.
Tanpa melepas ponselnya yang sedang ia gunakan untuk berdiskusi dengan para penculik itu, Woobin mengangkat wajahnya untuk melihat pantulannya di cermin toilet itu. Sesaat, ia melihat pantulannya disana sebelum sadar ada refleksi orang lain juga disana, ia terkejut lalu berbalik dan mendapati sosok Changmin di belakangnya.
"Aish orang ini."
Woobin bersyukur karena yang memergokinya adalah si bisu dan tuli ini jadi ia berpikir Changmin bukanlah suatu ancaman.
"Tidak apa, ada orang tapi ku pikir tidak apa-apa karena orang ini bisu dan tuli." lanjut Woobin bicara di sambungan telepon.
Woobin tak mengacuhkan kehadiran Changmin lagi dan lebih memilih untuk menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Ia tak tahu bahwa mood Changmin saat itu sedang sangat buruk karena kakaknya menghilang. Detik berikutnya, Woobin tersentak karena kerahnya ditarik paksa dan sebuah pukulan telak menghantam wajahnya.
"ARGHH! APA-APAAN KAU!" pekik Woobin. Suara itu sampai terdengar oleh Junsu yang menunggu Changmin di luar dan mau tak mau gadis itu masuk untuk melihat apa yang terjadi.
"CHANGMIN! APA-APAAN INI!" Junsu ikut panik saat melihat orang yang ia sukai itu tengah memukuli aktor Kim Woobin tanpa ampun, ia berusaha melerai dengan memeluk pinggang Changmin.
"Hentikan! Hei! Kumohon!"
Changmin pun terhenti meski tatapan tajamnya masih jatuh pada Woobin. Ia berusaha memberitahu Junsu dengan bahasa isyarat.
"Orang itu yang menculik Yunho hyung, aku membaca gerak bibirnya saat menelepon. Semua yang terjadi atas Yunho hyung adalah perbuatannya."
Junsu menatap penuh marah pada Woobin kali ini. "Mau ku hajar juga rupanya!" ucap gadis itu.
Woobin tak tahu kalau Changmin yang tidak bisa mendengar, bisa membaca gerak bibir orang dengan mudah.
.
.
.
Tidak butuh waktu lama bagi orang-orandi lokasi syuting untuk mengetahui kejahatan Kim Woobin. Mulanya Woobin bilang Changmin salah paham, tapi akhirnya ia mengaku di hadapan Siwon yang jauh lebih menakutkan dibanding Changmin. Siwon segera menuju mobilnya untuk pergi ke tempat Yunho berada, ia khawatir orang-orang suruhan Woobin melakukan sesuatu pada Yunho sebelum polisi tiba. Namun ternyata Jaejoong sudah ada di depan mobilnya, ia ingin ikut ke tempat itu.
"Aku juga pergi."
Tentu saja Siwon menolak.
"Kau sudah gila? Yang kita datangi ini penculik, bahaya. Kau tetap disini saja."
Akan tetapi Siwon harus mengingat bahwa Jaejoong itu sangatlah keras kepala.
"Aku ikut, pokoknya aku harus ikut! Aku akan pergi ke tempat itu bagaimanapun caranya."
Siwon terlihat sangat jengkel, "Kau tahu?k kau seperti anak kecil! Sudah sebulan lebih tak bertemu dengannya kau masih bisa hidup, tapi sekarang kau malah bertingkah seperti akan mati tanpanya."
Siwon bisa melihat mata Jaejoong yang berkaca-kaca. Ia tahu ucapannya barusan keterlaluan, sedekat apapun mereka tentu saja tak seharusnya Siwon berkata seperti itu. Tapi dasarnya ia sudah tidak tahan lagi.
"Aku juga tidak tahu, tapi aku harus kesana..."
Jaejoong benar-benar takut saat ini, ia tak tahu masih bisa bertemu dengan Yunho atau tidak. Ia tak mau sesuatu terjadi pada suaminya itu.
Siwon menghela nafas sesaat, "Baiklah, tapi apapun yang terjadi kau harus tetap di mobil, mengerti?"
.
.
.
Jaejoong benci sekali pada hal yang terjadi tiba-tiba seperti petir dan padam listrik. Kecelakaan yang dulu menimpanya juga terjadi karena seorang anak kecil yang muncul tiba-tiba.
Setelah kecelakaan itu, Jaejoong menghabiskan tiga belas bulan hidupnya bersama Yunho tanpa bisa melakukan banyak hal. Kali inipun ia tak bisa membantu suaminya yang sedang dalam masalah. Mau tak mau, ia hanya bisa mengawasi dari dalam mobil. Setidaknya ini lebih baik ketimbang menunggu di lokasi syuting.
"Kalau sudah menemukannya, aku akan menghubungimu dan membawanya kesini. Jadi, kau jangan ke mana-mana, tetap di dalam mobil! Awas kalau kau keluar meskipun cuma selangkah, mengerti?!" pesan Siwon sebelum ia dan beberapa orang selaku staffnya keluar dari mobil dan menjauh dari tempat Jaejoong berada.
Yang terhampar di depan sana hanyalah gedung tak terpakai yang sangat gelap dengan rumput tinggi disana-sini.
Jaejoong yang benci kegelapan pun menyalakan lampu dan mengambil ponselnya. Ia baru sadar ada notifikasi pesan suara disana.
"Hei... Kau tadi tidak mengangkat teleponku jadi aku menghubungi ponsel Junsu. Kau pasti tidak mau mengangkat teleponku kan? Dasar! Terima teleponku dong dan isi baterai ponselmu, kali ini aku akan meninggalkan pesan yang memalukan."
Pesan itu dikirim beberapa menit setelah mereka berbincang di telepon siang tadi, Jaejoong benar-benar tidak tahu kalau Yunho meninggalkan sebuah pesan suara untuknya.
"Aku mencintaimu."
Jaejoong mengerjap tak percaya.
"Kau pernah bertanya padaku kenapa kita menikah, waktu itu aku sedang marah dan mengatakan kalau kita menikah karena anak yang kau kandung. Tapi sebenarnya bukan itu alasannya. Aku..."
Yunho menghela nafas sebelum melanjutkan.
"Aku menikahimu karena aku ingin hidup bersamamu."
Jaejoong tentu saja terharu mendengarnya mengingat Yunho bukanlah orang yang mudah mengungkapkan isi hatinya.
Ia sampai mendengar pesan suara itu empat kali dan terkekeh dengan mata berkaca-kaca.
"Dasar bodoh, kenapa tak pernah bilang langsung padaku."
Ia sedih karena nyatanya Yunho tak ada disini saat ini, dan kesedihannya bertambah saat perasaan khawatir semakin menyeruak. Ia takut terjadi apa-apa pada Yunho.
Merasa clueless dengan kegelapan di luar sana, Jaejoong menyalakan lampu depan mobil itu.
Ia teringat ucapan Yunho saat listrik padam dulu... aba-aba ini ku buat untukmu. Sekali flash berarti 'dimana?' dan dua kali flash berarti 'aku disini.
Ia ragu, namun ia berpikir ini mungkin satu-satunya cara untuk mengetahui dimana Yunho.
Ia pun menyalakan lampu mobil dalam sekali flash dan tatapannya terfokus pada gedung gelap di depan sana, menanti dengan cemas dan berharap ada respon. Sesuatu yang mustahil memang mendapatkan sandi balasan tapi Jaejoong tak putus harapan.
Hingga salah dari satu jendela terlihat cahaya yang berpendar dua kali secara cepat dan membuat Jaejoong melotot tak percaya.
'aku disini.'
Itu sebuah kode yang sangat jelas, Jaejoong yakin Yunho ada disana.
Wanita itu segera beranjak keluar dari mobil. Ia tahu, Siwon pasti akan sangat marah jika melihatnya turun dari mobil. Tapi ini bukan saatnya menepati janji pada Siwon.
.
.
.
to be continued
.
.
.
a/n: Again, big thanks for u all bec still waiting for this-super-slow-updated-fanfic xD
Masih ada dua chapter yang tersisa dan akan saya usahakan selesai secepat mungkin, so... see ya in the next chapter!
.
sign,
Cherry.
