Wind Portal
-Love Forever-
©BocahLanang
.
.
.
Ӝ-Light Portal-Ӝ
...
Kali ini Jongin berdiam diri dalam bak emas yang luas itu seorang diri.
Pangeran tampan berambut ungu itu telah beranjak duluan kira-kira seperempat jam yang lalu.
"Aku melihat sendiri perubahannya.." Jongin bergumam sesaat. Lalu ia biarkan setengah wajahnya tercelup air hangat madu itu hingga sebatas pangkal hidung.
Dipejamkan kedua matanya dan ia memulai memutar kembali ingatannya.
Ia saat itu sadar dan melihat sang pangeran dengan tubuh kurus dan kulit menempel tulang itu menciumnya lembut. Ia mengamati jelas saat itu wajah pangeran yang tirus dan pucat berangsur angsur menjadi berisi, semakin tampan dan mata ungu menyala terang.
Pyash!
"Apa benar ciumanku menyembuhkannya?" Jongin bergumam sembari beranjak dari bak emas yang luas itu. Ia hendak mengambil kain putih yang disediakan terlipat rapih disamping meja batu berukir indah di sisi kiri sebelum pintu kamar mandi dibuka dengan tiba-tiba.
Krieet...
"Hei kau mandi sangat lama seperti wanita saja. Cepat aku harus-" perkataan pangeran Baekhyun sang pemilik pavilium itu berhenti sesaat begitu kedua matanya mendapati tubuh jenjang Jongin yang bugil berdiri basah membelakanginya.
"Aaah! Keluar kau!" Jongin melempar cawan keramik yang untungnya segera Baekhyun menutup pintu sehingga cawan itu pecah saat menabrak pintu, bukan kepalanya.
"Itu cawan dari cina, hadiah menteri Zhou Xi sebagai bukti perdamaian. Beraninya kau!" Baekhyun membuka kembali pintu kamar mandi. Jari telunjuk lentiknya menunjuk tepat di pecahan cawan yang ada pada lantai kayu. Dan mata tajamnya memicing menyorot pada Jongin yang telah membalut tubuhnya dengan kain lengan panjang putih tadi.
"Maaf tapi kau juga salah karena tidak mengetuk sebelum masuk." Jongin balas menatap pangeran didepannya dengan melotot.
"Aku pangeran. Aku paling egois di kerajaan ini. Cepat berganti pakaian atau kau kuusir telanjang keluar dari istana!" dengan angkuh Baekhyun menunjuk sebuah setelan baju disana.
"Baju apa ini? Tipis dan jelek sekali! Apa tidak ada kemeja dan celana panjang yang tidak kebesaran seperti ini?" Jemari Jongin menyibak-nyibak baju yang dikenakannya. Ia protes berjalan mondar-mandir ditengah kamar Pangeran Baekhyun yang tiap sudutnya didominasi warna ungu dan beberapa vas berisi rangkaian bunga lavender yang menyegarkan ruangan itu.
"Kau harusnya berterimakasih, iblis. Dengan pakaian kasim itu, kau bisa kujadikan pelayan pribadiku sehingga kau aman dalam pengawasanku." Jawaban pangeran tampan itu cukup rasional. Jongin dapat melihat punggung lebar Baekhyun saat pangeran itu terlihat tergesa memakai jubah ungu indahnya.
"Kau tidak merapihkan kerah jubahmu, pangeran." Suara Jongin terdengar lembut bersamaan dengan halusnya jemari Jongin merapihkan kerah jubah ungunya dan dilanjutkan dengan mengelus bahu kekarnya.
Baekhyun meremang dan tubuhnya merasakan hal aneh padahal bukan kontak langsung antara kulit dengan kulit. Baekhyun semakin menajamkan asumsinya bahwa Jongin benarlah bukan orang biasa yang ditarik paksa melalui portal dari masa depan.
"Kau iblis dari masa depan yang tidak sengaja dipanggil oleh dosa masyarakat di jaman joseon ini.." pangeran itu bergumam lirih sembari mengamati wajah cantik Jongin dari pantulan cermin besar didepannya duduk saat ini.
"Apa?" Jongin tidak begitu dengar.
"Tidak ada. Sekarang, sebagai pelayan pribadi, kau harus mengucir rambutku dan memasangkan mahkotaku!" Suara lantang Baekhyun yang penuh kesombongan itu membuat Jongin kesal namun pintu utama pavilium itu dibuka cepat oleh beberapa penjaga yang mendengar suara Baekhyun tadi.
SSSRRRIIINGG~! CRANG!
Sepuluh pedang langsung menodong pada wajah Jongin.
"A-a-" bahkan Jongin kehabisan kata-kata mengamati mata pedang yang berjarak satu senti dari mata kirinya.
"Yang Mulia Pangeran, apa anda baik-baik saja? Bunuh penyusup ini para pengawal!" selir Taeyon menunjukJongin dan menatapnya dengan tajam.
"Berhenti. Semua keluar." Ketegasan Baekhyun membuat semua pengawal yang menyerang berhenti. Mereka langsung menyarungkan pedang pedang mereka.
"Tapi pangeran-"
"Ini pavilium pangeran. Seorang selir tidak pernah diperbolehkan menginjakkan kaki pada pavilium pangeran yang bukan anak kandungnya." Tatapan tajam Baekhyun membuat Taeyeon terluka.
"Maaf, yang mulia selir Taeyeon. Pangeran Baekhyun benar. Mari ikuti saya keluar." Seorang kasim tua datang. Ia membungkuk memohon maaf karena ia yang dimandati oleh kaisar untuk mengatur dan mengawasi ketertiban jajaran pavilium para pangeran di sisi timur lingkungan kerajaan ini tidak dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik.
Baekhyun hanya mengangguk pelan menerima permohonan maaf kasim tua itu.
"Tapi siapa kasim muda dibelakangmu itu, pangeran? Saya tidak pernah melihatnya." Taeyeon berbalik sebelum mencapai pintu utama.
"Dia adalah pelajar pandai yang kutemukan dalam perjalananku memberi kehidupan lima ratus rakyat yang kritis lumpuh tidak dapat bergerak di wilayah kekeringan sebelah tenggara." Jawaban itu tak elak membuat para prajurit yang sebelumnya masuk tadi bersujud didepan Baekhyun.
"TERIMAKASIH, YANG MULIA PANGERAN BAEKHYUN!" Mereka dengan lantang merasa bangga menjadi prajurit pengawal Baekhyun.
Meski pangeran Baekhyun terkenal dengan sikap angkuh dan egois, tapi pangeran itu jelas mereka kenal sebagai pangeran yang berwibawa dan sangat memperhatikan rakyatnya.
Mereka melihat dengan jelas raut tegas pangeran ungu itu saat menahan sakit melepaskan umur hidupnya pada setiap sudut kerajaan yang dilanda penyakit dan wabah menyerang ribuan rakyat.
Bagaimana bisa satu orang menyembuhkan ratusan bahkan ribuan orang yang sebenarnya tinggal menunggu detik kematian, dapat dibuatnya bangun dan sehat bugar hanya dengan merentangkan kedua tangannya ke langit.
Pangeran Baekhyun adalah pangeran kehidupan yang penting bagi kerajaan Joseon.
Luasnya daratan kerajaan ini jelas ada campur tangan dengan sang pangeran ungu ini, ia menghidupkan kembali ratusan prajurit yang gugur dalam peperangan, sehingga ia membentuk ribuan pasukan imortal. Ia menghembuskan umur hidupnya yang berharga, namun kemenangan mutlak juga ditangannya.
Jawaban Baekhyun tidak memuaskan bagi selir cantik itu hingga bibir merahnya hendak bertanya lagi namun tangan kanan pangeran tampan itu mengangkat.
"Keluarganya memohonku menjadikannya pelayan pribadiku sebagai tanda terimakasih ratusan rakyat itu karena aku telah mengirimkan delapan kereta persediaan makanan ke wilayah itu."
"Maafkan hamba, Yang Mulia Pangeran Baekhyun." Selir Taeyeon terlihat geram. Ia membungkuk hormat pada Baekhyun sebelum pergi diiringi kasim dan para prajurit. Bagaimanapun juga ia hanyalah selir yang jauh kastanya dibandingkan anggota inti kerajaan.
Ruangan itu kembali sepi.
Jongin termenung melihat rambut ungu gelap Baekhyun yang terlihat berkilau disinari cahaya matahari sore itu.
"Beraninya kasim sepertimu melupakan perintahku." Baekhyun menatap tajam Jongin yang berdiri dibelakangnya dari cermin didepan mereka.
"Ah iya aku lupa." Jongin menepuk dahinya.
"Bicaralah dengan sopan didepan pangeran kerajaan!" Kembali keangkuhan Baekhyun membuat Jongin memutar kedua matanya bosan.
"Ne, maafkan saya, Yang Mulia Pangeran tertampan se-du-ni-a!" Ejekan Jongin hanya dibalas seringaian puas dari Baekhyun.
Jemari tangan Jongin dengan terampil mengikat rambut sebahu Baekhyun keatas sdhingga rapih lalu memasangkan mahkota emas dengan hiasan api ungu yang terbuat dari berlian indah.
Keduanya berjalan cepat menyusuri tangga dengan gelaran kain merah rajutn benang emas.
"Aku tidak tahu kalau Joseon memiliki beberapa arsitektur eropa pada sebagian sudut sudutnya.." gumaman Jongin berhenti saat Baekhyun didepannya meliriknya tajam.
"Jaga bicaramu. Kasim Jong." Baekhyun berujar lirih namun tegas dan tangan kanannya membuka pintu geser kayu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Wah-wah.. pangeran Baekhyun selalu angkuh seperti biasanya ya?" Sosok dengan pakaian pejabat kerajaan berdiri dari meja kerjanya, menyambut sang pangeran, dan membungkuk hormat setelah Baekhyun duduk di kursi emas yang sengaja disediakan untuk anggota kerajaan yang berkunjung ke ruangannya.
"Aku ada urusan denganmu, peramal Jimin." Terlihat tanpa basa-basi Baekhyun mengutarakan maksudnya.
PLAK!
"Pangeran, perkataan anda tidak sopan." Jongin yang berdiri disamping kiri Baekhyun memperingatkan sembari mengeplak keras kepala yang duduk angkuh itu.
ZRAATT!
Sebuah pedang menyerang tepat disamping pipi kiri Jongin namun jari telunjuk Baekhyun dengan mudah menangkisnya.
TRAK! TRANGGG—
"Ah?" Namja tan itu terkejut melihat kejadian itu.
Jimin menyerangnya namun dengan mudah Baekhyun menangkis pedang tajam itu hanya dengan jari telunjuk lentiknya hingga pedang itu gagal memenggal setwngah kepalanya, melainkan patah dan potongannya jatuh dengan dentingan keras pada lantai ruangan itu.
"Kau berani menyentuh pangeran. Keluarga kerajaan tidak dapat kau sentuh dengan tangan kotor beraliran darah rakyat jelatamu itu." Jimin menyarungkan kembali pedangnya yang sudah patah tumpul tepat pada bagian yang terkena jari Baekhyun tadi.
Pipi Jongin tergores kecil namun darahnya mengalir cukup banyak hingga ke leher. Benar-benar pedang yang tajam.
Jika saja jari telunjuk yang menangkis bukan Baekhyun, tapi orang biasa, sudah dipastikan jari itu putus dengan mudahnya. Bukannya malah menghancurkan pedang tajam itu.
"Tidak apa, dia anak yang sangat cerdas. Kasim pribadiku. Aku ada urusan yang lebih penting." Baekhyun mengambil kuas dan mencelupkannya pada tinta merah yang ada di meja depannya. Seolah kejadian tadi wajar.
"Yang Mulia mengangkat kasim pribadi? Bukankah sejak kecil Yang Mulia enggan berdekatan dengan siapapun termasuk Ibu Ratu dan Kaisar?" Lelaki dengan jubah petinggi kerajaan itu duduk di lantai berhadapan dengan Baekhyun yang duduk di kursi tinggi. Dipisahkan oleh meja ramal di tengah ruangan itu. Matanya menatap Jongin tajam dengan pancaran tidak suka.
"Kau tidak lihat apa yang telah orang hitam ini lakukan padaku?" Jari telunjuk Baekhyun menunjuk tidak sopan pada hidung minimalis Jongin.
"Hei singkirkan-"
Petinggi itu terkejut melihat perubahan pada tubuh Baekhyun. Ia barusaja menyadarinya.
"Pangeran Baekhyun mendapatkan utuh kembali usia 100 tahun yang sudah hilang setengahnya?!" Jimin beranjak sedikit terburu-buru, mendekat dan memandangi tubuh Baekhyun.
"Biarkan saya mengecek kesehatan Pangeran!" Dengan sigap Jimin menyentuh beberapa titik tubuh Baekhyun dimulai dari pergelangan tangan, leher, dan bagian punggung.
"Bagaimana?" Baekhyun masih tenang di kursinya.
"Luar biasa, Pangeran Baekhyun. Padahal tubuh Pangeran kemarin hanya dapat bertahan hingga usia 30 tahunan. Namun tubuh Pangeran yang sekarang mampu bertahan hingga 200 tahun." Jimin kembali dan memberikan senyum bahagianya.
Ia baru sadar jika kulit dan tubuh Baekhyun sudah kekar dan sehat tidak kurus benulang lagi. Keajaiban yang luar biasa.
"Benarkah?" Baekhyun tidak percaya dan meraba leher serta lututnya. Tidak kebas lagi. Sejak remaja ia sudah merelakan nyawanya untuk menghidupkan ribuan rakyat hingga tubuhnya menjadi sakit-sakitan dan renta, selalu ia terbaring lemah di dalam tandu untuk pergi ke tiap daerah yang membutuhkan nyawanya untuk dibagi.
"Ya. Saya yakin! Tolong beritahu saya apa obatnya, Yang Mulia! Saya akan mempelajarinya dan memberikannya pada tabib Jin untuk diperbanyak dan dijadikan obat kesehatan yang mujarab!" Tangan kanan Jimin segera mengambil pena tintanya dan secarik kertas dengan terburu-buru.
"Tidak ada."
"Hah? Maksud pangeran?" Jimin menatap bingung.
"Tidak ada ramuannya. Ini terjadi ketika sore itu-"
Baekhyun menceritakan semua kejadiannya tanpa kurang satu detikpun yang terjadi saat itu.
"Jangan menatapku seperti itu!" Jongin berkacak pinggang menatap melotot pada Jimin.
"Pantas saja, tidak ada orang berambut pangkas pendek di Joseon kecuali budak. Bahkan budak rambutnya kasar, tidak halus seperti dia." Penilaian Jimin menguatkan keyakinan Baekhyun kalaulah Jongin bukan berasal dari Joseon.
"Apa dia musuh yang menyamar?" Perkataan Baekhyun membuat Jongin mencubit lengan kekar pangeran tersebut namun tidak berefek sama sekali. Pangeran itu tidak kesakitan. Sial.
"Tidak, dia bukan wajah kriminal. Tapi lebih ke.. ehm!" Lelaki peramal itu menolehkan wajahnya kesamping menyadari apa yang terlintas dipikirannya saat melihat wajah Jongin.
"Geisha Jepang, kan?" Tiba-tiba saja tangan kanan kekar Baekhyun memeluk pinggang Jongin sehingga tubuh semampai itu jatuh duduk di pangkuan sang pangeran.
"Ya. Dia sangat cantik, Pangeran." Bahkan peramal itu mengakui kecantikannya.
"Kalau begitu, lukislah aku bersamanya." Baekhyun memerintah final dan membenarkan letak duduk Jongin dipangkuannya.
Jimin mengangguk mematuhinya.
"Apa benar, Jongin adalah lelaki? Pangeran sudahkah mengeceknya?" Jimin bertanya sembari memulai melukis.
"Ya, kami mandi bersama tadi. Dia punya, tapi kecil sekali. Kukira dia kasim yang salah prosedur kebiri." Baekhyun mulai menurunkan kerah pakaian kasim yang Jongin kenakan hingga merosot memperlihatkan bahu mulusnya.
CUPS..
Bibir Baekhyun mulai mengecap kulit tan itu. Rasa manis madu dan aroma mawar menguar begitu menggoda pada setiap inci tubuh Jongin.
"Ja-nganh.." Jongin tidak dapat melepaskan cengkraman kuat lengan kanan Baekhyun pada pinggang rampingnya. Bahkan tangan kiri pangeran itu menggerayangi masuk kedalam pakaian kasimnya, memijat dada ratanya lembut namun merematnya sesekali dengan sangat kencang. Membuatnya melenguh dan merintih.
"Su-dah.. aahshh.." Tubuh langsing itu menggeliat dengan pakaian yang semakin merosot memperlihatkan tulang selangka dan sebagian dadanya yang memerah diremas bergantian.
Bibir Jongin memekik ketika dengan sangat sengaja Baekhyun menandai pada bagian tengah dadanya hingga membiru.
CLPS..
Baekhyun menjilat tanda yang dibuatnya.
"Ehem! Pangeran, maaf mengganggu. Lukisannya sudah selesai." Jimin menyerahkan kain putih dengan coretan warna-warna lukisannya.
"Hm, bagus. Aku suka ini." Baekhyun menggulung kain itu dan menyerahkannya pada Jongin.
"Bagus kepalamu! Aku terlihat sangat jalang disini!" Jongin membuka kembali kain putih itu dan menunjuk gambar indah dirinya yang sedang menengadah memperlihatkan leher jenjangnya , jemarinya mencengkram leher Baekhyun, wajah menahan nikmat, dan bajunya yang turun hingga pinggang mempertontonkan lekuk tubuh langsingnya, duduk dipangkuan Baekhyun yang gagah dengan wajah pangeran itu sedang menyusu padanya.
Sangat erotis.
"Simpan itu." Baekhyun membenarkan pakaian Jongin yang sempat diacak-acaknya.
Dikecupnya lembut tanda yang ia buat di tengah dada Jongin, lalu dijejalkan kain putih itu kedalam pakaian Jongin.
"Aah.. pelan-pelan." Nipple Jongin yang sudah terlanjur tegang itu tergesek kasar kain putih itu memberikan rangsangan pada tubuhnya yang sensitif.
"Hm." Bibir Baekhyun melengkungkan senyuman tampannya dan memeluk tubuh yang duduk dipangkuannya dengan sangat erat.
"Hangat." Jongin tanpa sadar memejamkan kedua matanya dan menggesekkan pipinya pada dada bidang Baekhyun. Merasakan kenyamanan dan perasaan aman dalam pelukan hangat pangeran tampan itu.
"Segera ramal dia. Aku ingin tahu apakah tubuhnya memiliki sihir tertentu. Kurasa dia iblis, dia membuat jantungku berdetak kencang setiap aku menyentuhnya seperti baru saja tadi." Baekhyun menuntun tangan kanan Jongin untuk menyentuh kertas yang tercoret tinta merah. Kertas yang telah Baekhyun siapkan tadi.
"Baik." Jimin membisikkan sebuah mantra, lalu memercikkan air berwarna kebiruan pada kulit tangan Jongin dan perlahan air itu luntur pada kertas.
Jongin membelalakkan kedua matanya ketika cairan itu bergerak sendiri meresap pada kertas membentuk huruf demi huruf menjadi rincian informasi.
Baekhyun menarik tangan Jongin kembali dalam pelukannya setelah semua cairan itu meresap pada kertas.
Kedua mata Jimin bergerak membaca kalimat-kalimat pada kertas itu.
"Pangeran tadi bercerita bahwa saat Jongin belum sadar, tubuh Jongin menarik paksa satu tahun umur pangeran bukan?" Jimin menengadah dengan wajah sulit.
"Ya. Nyawa unguku keluar satu butir dan masuk begitusaja ke bibirnya. Aku hendak memakan nyawaku kembali namun cahaya portalku mengepung dan mendorong tubuhku sehingga aku tidak sengaja menciumnya. Anehnya saat ciuman itu, tubuhku berangsur menjadi sehat. Nyawaku kembali utuh menjadi 200." Baekhyun memainkan rambut brown Jongin yang halus sembari menjawab.
"Dia seperti adiksi. Saya melihat sendiri tadi, tubuh Pangeran menjadi kecanduan menyentuhnya. Mungkin itu yang melandasi pangeran memanggilnya iblis." Tangan Jimin membentuk sebuah gerakan lalu kertas itu terbakar sendirinya.
"Apa?! Kenapa dibakar? Aku belum tahu apa informasinya!" Jongin meronta dalam dekapan Baekhyun.
"Ini." Baekhyun mengangkat tangan kanannya lalu tiba-tiba keluar cahaya ungu lembut dan perlahan berubah menjadi secarik kertas ungu dengan tulisan indah tinta emasmelayang diatas telapak tangan kanan pangeran tampan itu.
Tubuh yang dipanggil oleh portal terkuat.
Tubuh dari masa depan.
Portal yang menghubungkan tubuh itu pada cinta sejatinya.
Membawa petaka dan menghancurkan cinta para pangeran.
Tubuh yang mensejahterakan rakyat.
Menghancurkan kerajaan.
Membuka dekade baru kerajaan yang lebih makmur dan jaya.
"Tubuh yang dimaksud itu aku?" Jongin kesusahan menunjuk tulisan pada kertas itu karena ia didekap sangat posesif oleh Baekhyun.
"Ya, kurang lebih seperti itu."
"Aku membawa petaka, jadi kau bisa kan mengembalikan aku ke masa depan? Berbahaya sekali aku ada dijaman ini. Kau bilang kau juga bisa membuka portal. Bukakan portal menuju ke jamanku oke?" Jongin menatap penuh harap pada Baekhyun dengan sedikit aegyonya.
"Tidak bisa, portal menghisap setengah nyawa penggunanya. Kau pergi sama saja aku kembali sakit dan terbaring di dalam pandu setiap aku harus bertugas." Baekhyun menggeleng dengan wajah tegas.
Dijentikkan jemarinya dan kertas itu lenyap menjadi cahaya ungu yang perlahan memudar.
"Kalau begitu.. kau tahu orang lain yang bisa menggunakan portal selain kau?" Jongin belum patah semangat.
"Semua anggota kerajaan memiliki kekuatan untuk membuka portal mereka."
Jongin termenung melihat wajah tampan Baekhyun yang terdiam menatap kosong keluar jendela.
"Ada berapa anggota kerajaan disini?" Jongin terpesona dengan wajah tampan itu.
"Ada lima pangeran, satu kaisar, dan satu ratu. Mereka semualah yang dapat menggunakan portal." Jimin menjawab pertanyaan Jongin ketika Baekhyun terlihat enggan bicara lagi.
"Tapi kau tidak dapat kembali dengan memohon pada mereka, bahkan pada Pangeran Baekhyun, Jongin-sii." Peramal itu membereskan kuas yang digunakan Baekhyun tadi. Menyimpannya pada sebuah kotak.
"Kenapa?"
"Hanya portal yang membawamu kemarilah yang dapat membawamu kembali. Jika memang portal Pangeran Baekhyun, maka Pangeran Baekhyun dapat mengembalikanmu. Namun jika itu portal milik anggota kerajaan lain, maka kau harus berusaha lebih keras." Perkataan serius Jimin membuat Jongin lemas.
Itu sama saja menantang jiwa.
Ia hanya bisa tetap bersama Baekhyun, mengingat Baekhyunlah yang menyelamatkannya. Tanpa berada disekeliling Baekhyun, ia akan diusir dari kerajaan karena jelas ia masuk menjadi kasim kerajaan tanpa prosedur seleksi ketat keajaan.
Ia seperti imigran gelap istilahnya.
Tidak mungkin imigran gelap berani memohon pada presiden padahal bukan warga negaranya. Terlebih di jaman Joseon, penyusup akan dibunuh mati.
Begitulah kira-kira.
"Untuk sementara waktu, sebaiknya kau tetap dalam penjagaan Pangeran Baekhyun, Jongin-sii." Saran Jimin menjadi bagian terakhir kunjungan keduanya di ruangan peramal petinggi kerajaan itu.
Jongin tertunduk lesu didepan Baekhyun yang sedang membaca buku.
"Kau kusebut-sebut pelajar pandai pada setiap orang yang menanyai tentangmu. Harusnya kau belajar mulai sekarang, sebelum mereka menyadari betapa bodohnya dirimu." Baekhyun mendorong beberapa buku tebal bacaannya kearah Jongin yang terlihat melamun murung.
"Hei! Aku juara dua dikelas setelah Sehun! Manamungkin aku bodoh." Jongin dengan kesal menggebrak meja bundar yang memisahkan keduanya.
"Diam. Kita sedang di perpustakaan." Baekhyun menatap tajam.
Jongin hanya mencebik dan mengambil asal salah satu dari tumpukan buku itu.
"Em.. juara itu apa?" Baekhyun bertanya lirih menatap padanya.
"Juara itu.. hm.. semacam peringkat.. posisi. Semakin menuju utama, semakin hebat. Aku peringkat kedua." Jongin menerangkan dan Baekhyun mengangguk mengerti.
"Kalau begitu, kau dari posisimu itu, otakmu cukup pintar untuk mempelajari silsilah kerajaan bukan? Itu hal penting bagi rakyat." Jemari Baekhyun mensejajarkan satu persatu buku itu.
"Se-semuanya sejarah?" Keringat mengalir di pelipis Jongin cukup banyak.
Jangan bilang kalau ia harus belajar sejarah!
Crap! Jongin berharap ini hanyalah mimpi buruknya karena terbawa tekanan ulangan sejarah Mr. Kevin besok pagi.
Semoga ia segera bangun dari mimpi buruknya dan disambut oleh pagi yang cerah bersama dengan Sehun yang memeluknya posessif semalaman suntuk.
-TBC-
Ide cerita?
Yang pasti gak jauh-jauh dari sejarah kok, hhe
Siapa yang suka pelajaran sejarah tapi ulangan nilainya jarang dapet seratus [sempurna]? *aku!
Naah.. jongin gak bisa balik ke masa depan kalau gak melewati portal yang membawa dia ke masa lalu.
Sayangnya Jongin pingsan (tidur juga) pas ditarik portal.. jadi dia harus berjuang keras untuk bisa kembali ke dunianya.
Belajar sejarah Joseon agar tidak di cap aneh karena tidak mengetahui kebudayaan negeri lampau itu.
Ya, ini bisa disebut Jongin Adventure
Kalian bisa tebak idenya dari mana? Yup! Scarlet Heartnya Baekhyun.
Gak nyambung sih sebenernya. Ide ini muncul ketika lihat Baekhyun di teaser drama pake pakaian pangeran, wuih boleh juga ni Byun jadi pangeran. Tapi ternyata dia jadi part komedinya kan coeg -_-
Intinya nanti Baekhyun bakal swag abis disamping tetap ada komedinya.
Ada Chanyeol dan Tao juga, yeeey!
Menurut kalian siapa sih Pangeran Wu Dragon yang digosipkan sangat tampan itu? Apakah Kris Wu sang sunbae tampan yang telah menjerat hati Jongin itu? yap!
Jadi Kris bakal muncul beneran, gak akan cuma disebutin namanya doang kayak iklan lewat -_-
Nama Pangeran Dragon?
hehe.. itu gara-gara BocahLanang habis nonton Kungfu Panda.. kan di Po nama lainnya Dragon Warior(?)
ya gitulah, nyeleweng dikit, wkwk
Sorry for late post, ada banyak kejadian buruk nih.. salah satunya keyboard laptop yg genti karena rusak dan jadi sulit kalo dipencet (sering gak keluar hurufnya dan jadi typo -_- )
Thanksbuat semua yg reviewww! Love all!
Thanks bro!
Salam HunKai^^
