Setelah bertemu dengan Reborn, Tsuna kembali melangkahkan kakinya entah menuju kemana, namun yang pasti ia masih setia mencari orang yang akan menyangkal kehamilannya.
Tsuna menghela nafas. Ah, sepertinya sangat mustahil.
Katekyo Hitman Reborn! © Amano Akira
Pregnancy Issues © Haraguroi Yukirin
All27 Fanfiction
"Tsuna!"
Tsuna sontak menoleh mendengar ada yang meneriakkan namanya. Ia melihat orang yang sangat tidak asing untukknya; blonde, tinggi, dan juga boss mafia, berlari kearah Tsuna dengan kecepatan penuh. "Tsunaaaa!"
Ah, lihat siapa lagi yang datang.
Tsuna mengerjap, "Dino-san?" Bola matanya membelalak ketika melihat Dino yang mulai kehilangan keseimbangan dalam larinya. "Dino-san hati-ha—"
BUK
"Aaaagh—oww! Ouch!" Sudah terlambat. Dino sudah tersandung kakinya sendiri. Dengan itu Cavallone Don meraung penuh kesakitan.
Tsuna yang merasa prihatin dengan orang yang mengaku sebagai Kakaknya itu langsung berlari membantu Dino. "Dino-san, kau tidak apa?" Tsuna berusaha membantu Dino berdiri.
Dino mendongkak dan tersenyum canggung, "Ahaha, tidak, aku tidak apa." Sang blonde mengusap tengkuknya dengan rasa malu. "Ini sudah biasa."
Iya, biasa. Tsuna tersenyum maklum. Biasa jatuh maksudnya. "Eh, tapi Dino-san kenapa ada disini?" Tsuna bertanya ketika menyadari mengapa Boss Cavallone itu ada di Jepang.
"Ah, eh—" Dino tersentak ketika ia mengingat tujuannya jauh-jauh terbang dari Italia ke Jepang. Cavallone Don tersebut langsung mengguncang bahu Tsuna. "Tsuna, ayo ikut denganku!"
Tsuna menegang kaget karena perbuatan Dino, "Hiie!" Pekiknya. "Di—Dino-san, memang aku harus ikut kemana?" Tanya Tsuna heran juga sedikit takut.
"Ikut aku ke Italia, Tsuna. Kau akan aman disana." Dino mencengkram bahu Tsuna membuat sang brunet mengerang perih. "Aku akan menjagamu disana, Tsuna!"
"Ouch, sakit, Dino-san." Tsuna berusaha menurunkan tangan Dino dari pudaknya. Dino yang menyadari ia menyakiti adiknya langsung melepaskan cengkramannnya. Kenapa orang di sekelilingku sepertinya sangat brutal?—itulah yang Tsuna pikirkan.
"Ma—maafkan aku, Tsuna." Sesalnya. Dino menatap Tsuna khawatir. "Maaf, aku tidak sadar menyakitimu."
Tsuna tersenyum maklum, "Tidak, tidak masalah, Dino-san." Maklum Tsuna. "Anou, jadi kenapa aku harus ke Italia?"
Dino kembali terlonjak. Ia menatap Tsuna dengan mata yang berkaca-kaca, "Tsunaaa! Tsunaku yang malang." Dino mulai terisak. "Kau ikut aku ke Italia dan aku akan melindungimu, Tsuna."
Tsuna mengerutkan dahi bingung, "Melindungi? Melindungi dari apa?" Bingungnya. "Ti—tidak mungkin ada yang mau membunuhku 'kan, Dino-san?"
Dino menggeleng, tangannya mengusap matanya yang berair—air mata. "Bukan! Ini lebih parah dari itu!"
Tsuna membelalak, keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Lebih parah dari membunuh itu apa? Memutilasi? Kremasi? "APA?" Jeritnya tidak percaya. "Le—lebih parah? Bohong." Tsuna bergetar ketakutan.
Dino mengangguk, "Maka dari itu, kau harus ikut denganku, Tsuna." Dino menarik nafas. "Kau akan ikut aku ke Italia, dan kita akan menikah disana. Aku akan menjagamu. Aku janji."
"Bai—" Tsuna langsung berhenti. "Apa?" Ia merasakan ada suatu kejanggalan dalam kalimat yang terucap begitu manis dari mulut Dino.
"Kita akan menikah dan aku akan menjagamu. Aku janji, Tsuna." Ulang Dino.
Iya, tidak perlu Dino ulang juga Tsuna sudah tahu. Dia tidak salah dengar—TAPI KENAPA MENIKAH?! Batin Tsuna histeris. "Tapi kenapa?"
"Aku akan menikahimu, menggantikan orang yang tidak bertanggung jawab padamu, Tsuna." Sang brunet makin bingung dengan apa yang dikatakan Dino. Orang tidak bertanggung jawab? "Daripada orang lain yang menikah denganmu, aku lebih baik Tsuna!"
"Tu—tunggu, Dino-san. Aku tidak mau menikah dengan siapapun dulu." Tsuna mengibaskan tangannya. "A—aku belum mau menikah—tunggu, bertanggung jawab?"
Okay, Mr. Intuition bilang jika ada suatu yang tidak beres dengan semua ini. Tsuna rasa ia tidak ingin mengetahui hal selanjutnya.
"Kau hamil, Tsuna, orang yang membuatmu begitu tidak mau bertanggung jawab 'kan?"
"..." Oh yeah, dia hamil, bagaimana Tsuna bisa lupa. Okay sekarang semua orang sepertinya percaya. "Dino-san, kau pikir aku sungguh—"
Hal selanjutnya yang Tsuna dengar membuat dia tersedak ludahnya sendiri. "Aku mau bertanggung jawab, Tsuna. Aku akan bertanggung jawab dan aku akan melindungimu juga calon anak kita."
Dino melamarnya, banzaii!
Kenapa semua harus jadi begini?! Sebelum Tsuna menangis frustasi, ia memutuskan untuk meninggalkan sang Cavallone Don tersebut. Aku kira Dino-san seorang Kakak yang pengertian.
"Tsunaaa! Bagaimana jawabanmu? Aku akan menjagamu dan bertanggung jawab!" Raung Dino yang tertinggal di belakang Tsuna.
Tsuna berhenti dan menoleh, "Dino-san, aku pikir kau sosok Kakak yang pengertian. Tapi—" Sudahlah, Tsuna sudah lelah. Ia berbalik dan kembali berjalan meninggalkan Dino.
Dino mematung mendengar apa yang terucap dari mulut Tsuna. Kakak yang pengertian. Kakak. Kakak. Dino memucat, ia tertunduk depresi. Tsuna menganggapnya hanya sebagai Kakak. Ini namanya brother-zone.
Untuk NamikhraKyra, saya pas baca review kamu dan ada request D27 saya langsung teriak kegirangan XD
Dear, ini D27, yatta, ada juga yang lirik D27 X'D /kamu ga konsisten
Buat readers yang lain juga yang suka rela fav/follow story ini saya benar-benar berterimakasih banyak :'D *bow*
Hope you guys like this chapter. Ciao!
