Chapter 9

warn: typos/ gaje/woman rape man/ rate: M for language and lemon/ mohon maaf apabila cerita agak melenceng dari summary-nya(maybe). Newbie author/NOT FOR UNDER 21 YEARS OLD, and etc

Summary: "Kehidupan bahagia Naruto bersama 7 istrinya yang sudah berlangsung selama 13 tahun harus berantakan karena sebuah masalah baru yang menimpa Naruto. Kali ini masalah tersebut jauh lebih ekstrem dari sebelumnya. Kira-kira apa masalah baru yang menimpa Naruto kali ini?"

Perubahan usia chara:

Naruto: 20 tahun

Konan: 22 tahun

Yugao: 23 tahun

Tayuya: 20 tahun

Shizuka: 20 tahun

Guren: 22 tahun

Hinata: 20 tahun

Hanabi: 18 tahun

Kaguya: 22 tahun

Sara: 20 tahun

The owner of Naruto is Masashi Kishimoto

Let the story begin...

Di sebuah tempat yang sangat gelap...

Terlihat dua orang perempuan berparas cantik dengan usia yang tidak terpantau jauh sedang berjalan menapaki jalan setapak yang mengeluarkan cahaya.

Perempuan pertama terlihat memiliki surai putih yang sangat panjang dan memiliki iris mata berwarna senada dengan surainya. Sementara perempuan kedua memiliki surai berwarna merah dan iris mata berwarna coklat yang indah.

Kedua perempuan tersebut berjalan beriringan sambil membicarakan sesuatu.

Akan tetapi wajah cantik perempuan yang memiliki surai putih panjang terlihat gugup saat akan mengucapkan sesuatu. Sementara perempuan cantik yang memiliki surai berwarna merah terlihat sudah tidak sabar menunggu apa yang akan di ucapkan perempuan pertama.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada Naruto kun, Kaguya san?" Ucap perempuan bersurai merah dengan suara yang sepertinya sudah kehabisan kesabaran. Sepertinya perempuan bersurai merah tersebut sudah tidak bisa bersabar lebih lama lagi.

"Sebenarnya, 99 persen dari fisik Naruto kun telah berubah menjadi perempuan, Sara chan." Jawab wanita bersurai putih yang bernama Kaguya tersebut.

Perempuan bersurai merah yang dipanggil Sara tersebut langsung diam seribu bahasa saat mendengar ucapan Kaguya. Bahkan kakinya yang sejak tadi melangkah, juga langsung berhenti.

Tik tik tik tik

Sepertinya pikiran perempuan berparas cantik dengan berwarna surai merah tersebut sedang berusaha mencerna apa yang di ucapkan Kaguya barusan.

Kaguya yang masih berjalan langsung ikut menghentikan langkahnya saat ia mengetahui Sara sudah berhenti berjalan dan berada beberapa langkah di belakangnya. Setelah itu wanita cantik bersurai putih tersebut menolehkan kepalanya ke arah perempuan cantik bersurai merah yang saat ini terlihat sedang menundukkan kepalanya.

Beberapa detik kemudian...

"Sara chan, kau tidak-" "APA?!" Saat Kaguya hendak menanyakan kondisi perempuan berparas cantik tersebut, tiba-tiba Sara langsung memotong pertanyaan Kaguya dengan teriakannya yang kerasnya bukan main.

Kaguya otomatis langsung memegang kedua telinganya setelah mendengar teriakan Sara. Sepertinya perempuan tersebut tidak menduga jika perempuan cantik yang berjalan dengannya akan berteriak sekeras itu.

DUAKKK

"KAGET SIH KAGET TAPI KAN TIDAK PERLU BERTERIAK SEKERAS ITU, SARA CHAN?!" Ucap Kaguya dengan tiga perempatan di kepalanya. Tangan wanita cantik tersebut juga terlihat megerluarkan asap karena habis memberi Sara sebuah jitakan yang lumayan keras.

"Go-gomen, Kaguya san." Ucap Sara sambil memegangi puncak kepalanya yang barusan di jitak oleh Kaguya. "Ha-habisnya aku ka-kaget sekali tadi setelah aku mengerti ap-apa yang kau ucapkan..." Lanjut Sara menjelaskan dengan nada yang terdengar gugup bercampur menyesal.

Kaguya langsung menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Ia melakukannya beberapa kali sampai ia merasakan dirinya sudah kembali tenang.

'Kenapa aku jadi bertingkah kekanakan seperti barusan?' Ucap Kaguya dalam hati saat ia merasakan dirinya sudah tenang kembali. 'Jangan-jangan dimensi ini sedang dalam keadaan yang tidak stabil.' Lanjut wanita berparas cantik tersebut masih dalam hatinya.

Setelah itu, Kaguya terlihat mengalihkan pandangannya kesana kemari seolah mencari sesuatu. Setelah mengalihkan pandangannya kesana kemari selama beberapa saat, akhirnya Kaguya langsung menggenggam salah satu pergelangan tangan Sara yang masih memegang puncak kepalanya.

Lalu wanita bersurai putih tersebut langsung melangkahkan kakinya untuk berlari secepat yang ia bisa.

"A-ada apa, Kaguya san?" Tanya Sara yang terkejut saat ia diseret oleh Kaguya.

"Dimensi ini sedang dalam keadaan tidak stabil, Sara chan." Jawab Kaguya sambil terus menyeret Sara. "Kita harus cepat-cepat keluar dari tempat ini atau kita akan terjebak selamanya disini." Lanjut Kaguya menjelaskan apa yang sedang terjadi.

Setelah beberapa saat menggenggam tangan Sara, akhirnya Kaguya melepaskan tangan Sara saat ia mengetahui perempuan berparas cantik tersebut sudah ikut berlari.

Sara berusaha mensejajarkan dirinya dengan Kaguya yang sudah beberapa langkah ada di depannya. Akan tetapi saat dirinya sudah hampir sejajar dengan wanita cantik bersurai putih tersebut, tiba-tiba ia merasakan keanehan pada tubuhnya. Sara merasakan tubuhnya tiba-tiba mengecil dan terlihat lebih pendek dari waktu ke waktu. Bukan hanya itu, baju yang ia kenakanpun terasa semakin kebesaran dan tas ransel yang ia bawa sudah jatuh di atas jalan yang bercahaya tersebut.

"Kaguya san, ada apa denganku?" Teriak Sara saat kakinya yang berubah mengecil tidak mampu mengejar Kaguya yang terlihat semakin jauh.

Kaguya langsung menolehkan kepalanya kebelakang saat mendengar suara Sara barusan dan menghentikan larinya seketika. Mata wanita bersurai putih tersebut langsung membelalak saat melihat kondisi Sara saat ini yang terlihat seperti seorang anak kecil berusia 5 tahunan.

Dengan segera perempuan tersebut berlari menuju Sara yang telah berubah dan langsung menekuk salah satu lututnya untuk mensejajarkan tingginya dengan perempuan bersurai merah tersebut. Setelah itu wanita bersurai putih tersebut langsung memeluk tubuh kecil Sara lalu menggendongnya.

"Kaguya chan, apa yang teljadi dengan tubuh Sala chan?" Tanya Sara dengan suara dan nada yang terdengar seperti anak-anak saat ia sudah berada di gendongan Kaguya.

"Sara chan tenang saja." Jawab Kaguya yang sambil mengeratkan dekapannya pada tubuh perempuan berusia sekitar 5 tahunan tersebut. "Semua akan baik-baik saja." Lanjut Kaguya dengan nada yang menenangkan sambil mengulas sebuah senyuman.

Sara yang merasakan tubuhnya dipeluk dengan penuh kasih sayang oleh Kaguya, langsung menunjukkan senyum hangatnya dan membalas pelukan Kaguya dengan kedua tangannya yang kecil.

'Sepertinya chakra Sara tidak mampu menahan tekanan dimensi ini.' Ucap Kaguya sambil berdiri dari posisi berlututnya. Dan setelah itu tubuh Kaguya langsung melayang beberapa centi di atas jembatan bercahaya tersebut dan langsung melesat dengan cepat meninggalkan tempatnya berdiri tadi. 'Semoga ingatan dan kemampuannya tidak ikut tertekan oleh ketidak stabilan dimensi ini.' Lanjut Kaguya dalam hati sambil terus melesat dengan cepat di atas jembatan cahaya yang ada di bawahnya.

"Kaguya chan, lansel Sala ketinggalan disana." Ucap Sara saat ia mengingat bahwa tas ransel yang ia bawa ditinggalkan begitu saja oleh Kaguya.

"Jangan khawatir, Sara chan." Ucap Kaguya dengan nada tenang. "Nanti Kaguya chan akan membelikan Sara ransel baru." Lanjut Kaguya tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.

"Janji ya?" Tanya Sara yang berada di gendongan Kaguya sambil menunjukkan jari kelingkingnya.

"Hm..." Gumam Kaguya sambil menganggukkan kepalanya. Setelah itu wanita bersurai putih tersebut mengalihkan wajah cantiknya dan menunjukkan sebuah senyuman untuk meyakinkan gadis yang ada di gendongannya.

Sara yang melihat senyuman Kaguya langsung menunjukkan cengirannya. Lalu gadis kecil bersurai merah tersebut memeluk erat tubuh Kaguya agar ia tidak jatuh dari gendongan wanita bersurai putih tersebut.

Kaguya yang merasakan pelukan Sara pada tubuhnya semakin erat, langsung menambah kecepatan terbangnya.

Sementara itu, malam hari di rumah sakit Konoha...

Terlihat seorang perempuan berparas cantik dan memiliki surai berwarna biru sebahu sedang tertidur dengan damai. Jika dilihat dari hembusan nafasnya yang teratur, perempuan tersebut terlihat dalam kondisi tenang dan stabil.

Perempuan tersebut baru saja melewati masa kritisnya beberapa jam yang lalu. Akan tetapi belum ada tanda-tanda perempuan tersebut akan membuka kelopak matanya dan memperlihatkan iris mata yang ada di baliknya.

Srettt srettt tap tap tap tap

Beberapa saat kemudian, terdengar pintu kamar tempat perempuan tersebut dibuka oleh seseorang lalu tertutup kembali. Dan beberapa saat kemudian, terdengar beberapa suara langkah kaki yang berjalan untuk memasuki ruangan bernuansa putih tersebut.

Terlihat 3 perempuan berparas cantik dengan surai yang berbeda warna sedang berjalan mendekati kasur tempat perempuan bersurai biru tersebut yang saat ini masih menutup kedua matanya. Mereka adalah Sakura, Naruto, Tsunade.

Naruto langsung mengarahkan tangannya yang lentik untuk menyentuh wajah cantik perempuan bersurai biru itu. Ia mengelus wajah cantik tersebut sambil menggumamkan kata permohonan maaf dengan suara yang pelan secara berulang-ulang.

Nada penyesalan dapat didengar dengan jelas di suara Naruto yang terdengar pelan tersebut. Tsunade dan Sakura malah merasa bersalah sendiri saat mereka melihat pemandangan tersebut. Mereka merasa bersalah karena mereka tidak bisa melakukan apapun untuk meringankan beban perempuan bersurai kuning panjang tersebut.

'Maafkan kami yang saat ini hanya bisa melihatmu seperti ini, Naruto.' Ucap Tsunade dan Sakura dalam hati mereka secara bersamaan.

Setelah terus bergumam dengan nada menyesal yang sangat kental, iris mata Naruto yang berwarna biru langit tersebut terlihat mulai meneteskan air mata.

Naruto menggigit bibir bawahnya dengan kuat saat air matanya mulai melewati pipinya sebelum akhirnya jatuh ke atas tangan perempuan bersurai biru yang masih menutup matanya. Sungguh pemandangan yang sangat memilukan dan sangat ironis.

Memilukan karena seorang perempuan tersebut menangis dalam diam dan tidak ada satupun orang yang bisa meringankan beban yang sedang ia rasakan. Sekaligus ironis, karena dia sendirilah yang menyebabkan perempuan bersurai biru tersebut terbaring lemah di atas kasur rumah sakit seperti sekarang.

Sementara itu di kamar rawat lain yang masih berada di rumah sakit desa Konoha...

Terlihat seorang lelaki berusia sekitar 30 tahunan atau lebih dan memiliki surai berwarna merah klimis dengan perban yang hampir menutup seluruh tubuhnya, sedang berbaring lemah di atas kasur yang ada di dalam kamar tersebut. Sepertinya lelaki tersebut mengalami luka yang cukup parah sampai-sampai seluruh tubuhnya ditutup perban seperti saat ini.

Nafas yang dihembuskan lelaki tersebut terkesan tidak teratur dan kelopak matanya yang menutupi iris matanya terus terlihat bergetar seiring dengan nafasnya. Bukan hanya itu, tangan lelaki tersebut juga terlihat menggenggam erat sprei kasur tempatnya dirawat. Sepertinya lelaki dengan wajah yang bisa dibilang tampan tersebut sedang mengalami mimpi buruk dalam tidurnya.

Srettt srettt tap tap tap tap

Tidak lama setelah itu, pintu kamar tempat lelaki bersurai merah tersebut terdengar dibuka oleh seseorang lalu ditutup kembali. Setelah itu seorang perempuan cantik bersurai kuning terlihat sedang melangkahkan kakinya untuk berjalan mendekati tempat lelaki tadi dirawat.

Langkah kaki wanita cantik tersebut terlihat sedikit gemetar saat mendekati kasur sang lelaki. Di tangan perempuan cantik tersebut terlihat sebuah keranjang yang berisi penuh dengan buah-buahan yang sepertinya ia bawakan untuk lelaki yang sedang dirawat tersebut.

"Gaara..." Ucap perempuan bersurai kuning tersebut dengan nada getir sambil menatap wajah tampan sang lelaki yang masih menutup matanya. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Lanjut perempuan tersebut bertanya pada sang lelaki yang masih belum menunjukkan tanda-tanda bahwa lelaki itu akan membuka kelopak matanya.

Setelah itu, wanita tersebut menaruh buah-buahan yang ia bawa pada meja yang berada di samping kasur tempat lelaki berambut merah itu dirawat, lalu ia mendudukkan dirinya pada sebuah kursi yang telah tersedia di kamar itu.

Wanita berwajah cantik tersebut mengambil salah satu buah yang ada di dalam keranjang dan mengupas lalu mengupasnya dengan menggunakan pisau yang ada di samping buah-buahan tersebut. Wanita cantikt itu terlihat mengupas buah yang ada di tangannya dengan berlinang air mata.

Wanita itu menangis bukan karena tangannya terkena pisau yang sedang ia gunakan untuk mengupas buah. Melainkan dia menangis karena meratapi nasib buruk yang dialami oleh lelaki berambut merah bata yang masih tertidur dengan mata bergetar.

Beberapa saat kemudian...

Beberapa saat telah berlalu dan malam terlihat semakin larut. Akan tetapi, keheningan yang menyelimuti kamar rawat lelaki berambut merah yang dipanggil Gaara oleh wanita bersurai kuning yang masih setia duduk di sampingnya. Sepertinya wanita cantik tersebut terlihat masih betah untuk berada di dalam kamar dengan kesunyian yang menghinggapi dirinya dengan sang lelaki yang juga masih belum sadar dari tidurnya. Mata indah wanita berparas cantik tersebut juga masih terlihat masih sembab karena linangan air matanya yang masih belum berhenti juga. Kelihatannya wanita berparas cantik tersebut tidak peduli dengan waktu yang sudah ia lewatkan dengan sia-sia.

Srettt srettt

Tiba-tiba pintu kamar tempat lelaki bersurai merah itu terdengar di buka oleh seseorang.

Wanita cantik bersurai kuning yang ada di dalam kamar rawat tersebut langsung mengusap sisa air mata yang masih ada di kedua pipinya dan langsung memasang wajah biasa saja saat ia mendengar suara pintu terbuka.

Tap tap tap tap

Setelah itu terdengar suara langkah kaki yang terdengar mendekat ke arah kasur tempat lelaki berambut merah itu dirawat.

"Temari chan?" Panggil suara seorang perempuan. Ternyata yang baru saja memasuki kamar tersebut adalah seorang perempuan dengan paras yang cantik, memiliki surai kuning panjang selutut, dan sepasang iris mata berwarna biru langit yang indah. Perempuan yang baru datang tersebut tidak lain adalah Naruto.

Perempuan yang sedang duduk di samping kasur tempat Gaara dirawat langsung mengalihka pandangannya saat dia mendengar seseorang memanggil namanya barusan. Wanita bernama Temari tersebut langsung mengangkat sebelah alisnya saat irisnya melihat Naruto yang sedang berdiri sambil menatapnya.

"Gomen, aku kira tadi tidak ada orang, jadi aku main masuk saja." Ucap Naruto sambil membungkukkan badannya 90 derajat secara berulang-ulang.

'Siapa perempuan berparas cantik ini? Dan bagaimana dia bisa mengenalku? Dan apa hubungan perempuan ini dengan Gaara?' Tanya Temari dalam hati yang merasa asing dengan perempuan bersurai kuning selutut yang masih membungkukkan badannya berulang-ulang.

"Tidak apa-apa, onna san." Ucap temari sambil menganggukkan kepalanya untuk memaklumi apa yang dilakukan Naruto barusan.

Perempuan bersurai kuning selutut tersebut yang tidak lain adalah Naruto langsung menghentikan acara membungkuknya setelah ia mendengar ucapan Temari. Setelah itu ia berjalan mendekati kasur tempat Gaara dirawat.

Wajah cantik Naruto langsung diselimuti kesedihan saat ia melihat wajah tampan lelaki yang masih belum sadarkan diri tersebut. Perasaannya juga menjadi bercampur aduk antara marah, sedih, dan khawatir. Semua perasaan itu terus berputar-putar di dalam hatinya.

Setelah itu kedua perempuan tersebut terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka membiarkan kesunyian menyelimuti kamar tempat Gaara dirawat saat ini.

Temari sibuk dengan pikirannya yang maish bertanya-tanya tentang siapa perempuan cantik yang saat ini berdiri tepat disamping kasur tempat Gaara berbaring saat ini. Sementara Naruto sibuk dengan pikirannya yang berusaha mengendalikan perasaannya yang masih berkecamuk seperti diterjang badai. Perasaan Naruto berkecamuk saat iris biru indahnya melihat keadaan Gaara yang sedang terbaring lemah di atas kasur di dalam kamar tersebut.

Naruto langsung berkeringat dingin saat ia merasakan perasaannya bukannya semakin tenang, tapi malah semakin berkecamuk meskipun ia terus mengatur nafasnya. Bahkan wajah cantik perempuan bersurai kuning selutut tersebut mulai dibanjiri oleh keringat dingin karena semakin kesusahan dalam mengendalikan dirinya. Saat ini nafas perempuan bersurai kuning selutut tersebut sudah berubah memburu dan posisinya yang awalnya sedang berdiri tegak berubah menjadi memubungkuk sambil dengan kedua tangan lentiknya yang memegang lututnya.

'Ada apa dengan perempuan ini?' Tanya Temari dalam hati sambil terus menatap perempuan tersebut dengan tatapan semakin bingung. Sebenarnya wanita berparas cantik bergelar Nara tersebut hendak menanyakan siapa sebenarnya Naruto. Akan tetapi ia mengurungkan niatnya saat ia melihat keanehan(menurutnya) di wajah cantik perempuan bersurai kuning selutut tersebut.

"Uh... Onna san, kau baik-baik saja?" Tanya Temari akhirnya karena sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama.

Naruto yang sedang ternegah-engah hanya bisa menganggukkan kepalanya. Karena merasa tidak punya pilihan lain, akhirnya perempuan bersurai kuning selutut tersebut menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.

Temari yang melihat hal tersebut sempat merasa panik dan hendak meminta bantuan seseorang. Akan tetapi ia langsung membatalkan niatnya saat melihat Naruto yang mengangkat sebelah tangannya untuk memberi isyarat bahwa dia akan baik-baik saja.

Setelah mengeluarkan darah yang cukup banyak, akhirnya Naruto bisa mengendalikan perasaannya yang berkecamuk. Perlahan perasaan perempuan cantik tersebut mulai berubah tenang. Akan tetapi, efek sampingnya adalah wajah cantik perempuan tersebut terlihat lebih pucat karena banyaknya darah yang keluar dari bibirnya yang ia gigit dengan sangat kuat barusan.

"Hah... hah... hah..." Perempuan tersebut langsung mencoba mengatur nafasnya kembali setelah menggigit bibir manisnya dalam waktu yang cukup lama. Lalu perempuan berparas cantik tersebut berusaha merubah posisinya yang membungkuk untuk berdiri tegak kembali.

"Gomen onna san jika aku mengganggu aktifitasmu, akan tetapi siapakah kau sebenarnya? Dan apa hubunganmu dengan Gaara?" Tanya Temari beruntun saat iris indahnya mulai melihat Naruto yang sudah berdiri tegak dan terlihat jauh lebih tenang dari beberapa saat yang lalu.

Naruto langsung tersentak saat ia mendengar ucapan Temari barusan. Ia lupa jika fisiknya saat ini sudah berubah menjadi perempuan. Jadi pantas saja jika wanita bermarga Nara tersebut menanyakan siapa dirinya. Ditambah lagi, Gaara tidak pernah begitu dekat dengan seorang perempuan lain kecuali istrinya.

"Uh..." Naruto langsung bingung hendak menjelaskan tentang siapa dirinya pada perempuan berparas cantik tersebut. Ia mengalihkan pandangannya kesana kemari untuk menghindari tatapan penasaran atau lebih tepatnya tatapan menyelidik dari Temari.

"Sebenaranya aku adalah-" Srettt srettt

Ucapan Naruto yang akan memberitahu tentang siapa dirinya langsung terputus saat ia mendengar pintu kamar tempat Gaara dirawat terdendgar dibuka lalu ditutup kembali.

"Naruto?" Ucap seorang wanita cantik bersurai merah muda sambil mengangkat sebelah alisnya. Ternyata yang barusan membuka pintu kamar tempat Gaara dirawat adalah Sakura. "Apa yang kau lakukan di kamar Gaara?" Lanjut Sakura bertanya pada Naruto.

"Oh... Ternyata kau, Sakura chan." Ucap Naruto dengan nada lega. "Aku kemari untuk melihat kondisi Gaara. Itu saja." Lanjut Naruto menjelaskan perihal mengapa ia berada di dalam ruangan tersebut.

"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk kembali beristirahat di kamarmu dan melihat keadaan Gaara besok saja?" Tanya Sakura.

"Hehehe... Gomen, Sakura chan." Ucap Naruto sambil cengengesan. "Habisnya aku terlalu khawatir dengan keadaan Gaara, jadinya aku tidak bisa beristirahat." Lanjut Naruto menjelaskan.

Temari yang mendengar Sakura memanggil perempuan muda tersebut dengan nama yang tidak asing baginya langsung mengangkat sebelah alisnya. Wajah cantiknya terlihat semakin bingung saat ia melihat keakraban dua perempuan tersebut seolah mereka sudah kenal sangat lama.

"Naruto, ada apa dengan bibirmu?" Tanya Sakura sambil mendekatkan wajahnya pada bibir Naruto yang terlihat ada bercak darah.

"Oh... Jangan khawatir, Sakura chan. Aku baik-baik-" "Gomen jika aku menganggu pembicaraan kalian berdua." Ucapan Naruto yang hendak mengatakan bahwa ia baik-baik saja langsung berhenti saat Temari yang sejak tadi tidak dianggap keberadaannya memotongnya dengan cepat.

"Akan tetapi kau masih belum menjawab pertanyaanku tadi, Onna san." Lanjut Temari berucap dengan nada yang terdengar menuntut perempuan bersurai kuning selutut tersebut. Ia juga menekankan kata pertanyaanku tadi dalam kalimatnya barusan.

"Oh... Iya aku hampir lupa." Ucap Naruto sambil menepuk dahinya menggunakan tangan kanannya. "Aku adalah Naruto, Temari chan." Lanjut Naruto memberitahu sang kakak perempuan dari pasien laki-laki yang tidak kunjung sadar tersebut.

Temari langsung diam saat mendengar jawaban dari perempuan bersurai kuning tersebut. Jika dilihat dari raut wajahnya, kelihatannya wanita cantik tersebut terlihat lebih bingung dari sebelumnya.

"Biarkan aku saja yang menjelaskan, Temari san." Ucap Sakura yang melihat kebingungan Temari semakin menjadi-jadi.

Dan setelah itu, Sakura menjelaskan tentang siapa sebenarnya perempuan cantik bersurai kuning selutut tersebut kepada Temari.

Beberapa saat kemudian...

"Apakah yang kau ceritakan itu benar, Sakura san?" Tanya Temari yang sepertinya belum 100 persen percaya dengan penjelasan dari Sakura.

"Untuk apa aku membohongimu, Temari san?" Tanya balik Sakura dengan nada tenang. "Dia memang Naruto, sang sichidaime Hokage." Lanjut Sakura.

Setelah itu, Temari terlihat memegang dagunya menggunakan kedua jari tangannya dan melihat Naruto dari atas hingga kebawah kakinya. Wajah cantikt perempuan tersebut masih menunjukkan kesan antara percaya dan tidak percaya dengan penjelasan dari sang kepala rumah sakit desa Konoha tersebut.

"Daripada kita meributkan hal ini, apakah kalian berdua bisa menjelaskan tentang apa yang sudah menimpa Gaara hingga dia bisa terluka parah dan belum sadarkan diri hingga saat ini?" Tanya Naruto memecah keheningan yang menyelimuti kamar tempat Gaara dirawat.

"Ah..." Kedua wanita cantik yang berada di dalam kamar tersebut langsung tersentak saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Naruto barusan. Sepertinya mereka terlalu sibuk dengan pikiran mereka sendiri.

"Memangnya Sakura san belum memberitahumu?" Tanya balik Temari pada Naruto setelah ia berhasil menguasai dirinya yang sempat tersentak.

Naruto hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Temari.

Setelah melihat gelengan kepala dari Naruto, Temari langsung mengalihkan pandangannya pada wanita bersurai merah muda yang saat ini sedang berdiri di samping Naruto.

"Bukannya aku tidak mau memberithahu Naruto, Temari san." Ucap Sakura seolah ia tahu bahwa Temari akan menanyakan alasannya mengapa ia belum memberitahu Naruto kabar sepenting ini. "Akan tetapi seperti yang aku jelaskan padamu tadi. Jika aku memberitahu Naruto tentang apa yang sudah terjadi pada Gaara, bisa-bisa ia akan lepas kendali di dalam rumah sakit. Apabila hal tersebut terjadi, pastinya akan timbul kepanikan dan akan menimbulkan banyak korban jiwa akibat amukan Naruto yang tidak terkendali." Lanjut Sakura menjelaskan.

Sebenarnya Naruto merasa kesal dengan penjelasan dari Sakura barusan. Akan tetapi ia tidak bisa membantah penjelasan wanita bersurai merah muda tersebut karena itu memang bisa terjadi jika ia lepas kendali.

"Hm... Benar juga ya." Ucap Temari sambil manggut-manggut tanda bahwa ia sependapat dengan wanita bermarga Uchiha tersebut.

"Baiklah cukup basa-basinya!" Ucap Naruto dengan nada yang berubah tegas bercampur kesal. "Jika kalian berdua tidak mau memberitahuku apa yang sudah terjadi pada Gaara tidak apa-apa. Aku akan mencari tentang hal itu sendiri." Lanjut Naruto yang sepertinya sudah tidak bisa menahan kekesalannya.

Setelah itu, perempuan cantik bersurai kuning selutut tersebut membalikkan badannya dan hendak melangkahkan kakinya untuk menuju pintu keluar kamar bernuansa putih tersebut.

"Tunggu Naruto." Ucap Temari saat ia melihat Naruto hendak melangkahkan kakinya untuk keluar kamar.

Naruto yang merasa namanya dipanggil langsung membalikkan badannya kembali untuk menghadap wanita cantik bersurai kuning tersebut.

"Hah..." Temari langsung menghela nafas panjang saat ia melihat perubahan drastis dari sifat Naruto. "Aku akan menceritakan padamu tentang apa yang menimpa Gaara beserta desa Suna." Lanjut wanita berusia 30 tahunan tersebut.

"Lain kali saja, Temari chan." Ucap Naruto sambil membalikkan badannya lagi dan langsung berjalan menuju pintu keluar dan masuk kamar tempat Gaara dirawat. "Lagipula jika kau memberitahuku sekarang, aku tidak bisa berjanji untuk tidak lepas kendali." Lanjut Naruto saat tangan kanannya sudah memegang pintu yang sudah ada di depannya.

Srettt srettt

Setelah berucap Naruto langsung membuka pintu yang sudah ada di hadapannya dan langsung menutupnya kembali saat ia sudah berada diluar kamar. Dan tanpa mengucapkan apapun, perempuan bersurai kuning selutut tersebut langsung berlalu begitu saja dari sana.

Temari dan Sakura langsung saling pandang setelah mereka mendengar ucapan Naruto sebelum perempuan tersebut membuka pintu dan berlalu dari sana.

"Memang seberapa mengerikan Naruto jika dia sudah lepas kendali, Sakura san?" Tanya Temari yang sepertinya sangat penasaran dengan hal tersebut. Dia melontarkan pertanyaan ini karena Sakura tidak menceritakan tentang Naruto yang sempat lepas kendali saat perempuan bersurai kuning selutut tersebut sedang berada di apartemen Tsunade beberapa saat yang lalu.

"Aku sendiri kurang tahu, Temari san." Ucap Sakura sambil menggelengkan kepalanya. "Akan tetapi, Tsunade sama pernah bercerita padaku, saat itu Naruto pernah lepas kendali saat ia berkunjung ke apartemennya. Dan beliau mengerahkan hampir seluruh kekuatannya untuk menghentikan Naruto. Akan tetapi fisik Naruto seperti berubah menjadi sekuat baja, bahkan pukulan Tsunade sama pun yang mengenai tubuh Naruto secara telak, tidak berhasil menorehkan sebuah luka." Lanjut Sakura panjang lebar untuk menjelaskan apa yang diceritakan mentornya saat ia berada di kantornya siang tadi.

"Tidak mungkin..." Ucap Temari dengan mata membelalak karena shok yang sangat luar biasa. "Seorang shinobi sekelas Tsunade sama, tidak berhasil membuat Naruto yang sedang lepas kendali terluka?" Lanjut wanita bersurai kuning tersebut bertanya dengan nada yang terdengar sangat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Hai'." Jawab Sakura dengan suara pasrah. "Mungkin aku sendiri belum bisa menghentikan Naruto jika ia sampai lepas kendali di dalam rumah sakit ini." Lanjut Sakura.

Temari langsung merinding saat pikirannya membayangkan kemungkinan seperti apa yang bisa terjadi jika Naruto lepas kendali.

'Aku harus berhati-hati dengan apa yang akan aku ucapkan jika aku berbicara dengan Naruto nanti.' Ucap Temari dalam hatinya sambil membayangkan bagaimana mengerikannya kekuatan Naruto jika ia sudah lepas kendali.

Sementara itu dengan Naruto...

Naruto terlihat berjalan keluar dari kamar Gaara dengan langkah yang tenang. Meskipun langkahnya terlihat tenang, akan tetapi wajah cantik perempuan tersebut terlihat murung dan menunjukkan kesan kebalikannya.

'Apa yang sebenarnya telah terjadi pada Gaara serta desa Suna?' Tanya perempuan berparas cantik bersurai kuning selutut tersebut dalam hatinya sambil terus berjalan dengan wajah yang terlihat murung. Saking sibuknya Naruto dengan pikirannya sendiri, ia sampai tidak sadar jika saat ini ia sedang berjalan tak tentu arah.

Beberapa saat berjalan, Naruto masih belum bisa mengendalikan pikirannya yang terus berkecamuk dan berusaha menenbak apa yang telah terjadi pada temannya yang menyandang gelar kazekage tersebut. Sepertinya Naruto masih belum bisa menerima kenyataan jika desa Suna telah hancur dan hanya Gaara seorang yang bisa selamat.

'Tapi mengapa hanya Gaara yang selamat?' Tanya Naruto dalam hati saat sambil terus melangkahkan kakinya tak tentu arah. Sepertinya pertanyaan tersebut sangat mengganggu pikiran Naruto.

Setelah berjalan tak tentu arah kesana kemari, akhirnya Naruto menghentikan langkahnya lalu mellihat sekelilingnya.

"Bagaimana aku bisa berada disini?" Tanya Naruto dalam hati setelah ia mengedarkan pandangannya. Saat ini perempuan berparas cantik tersebut sudah berada di taman yang ada di rumah sakit desa Konoha. "Bukannya tadi aku berjalan menuju kamarku ya?" Lanjut perempuan tersebut sambil melangkahkan kakinya untuk kembali ke koridor rumah sakit.

Setelah berjalan di kembali di koridor rumah sakit,kali ini Naruto memfokuskan pikirannya untuk berjalan menuju kamarnya.

"Sepertinya tadi aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri." Ucap Naruto pada dirinya sendiri saat ia sudah berada di koridor rumah sakit dan berjalan menuju kamarnya sendiri.

Setelah sampai di kamar tempatnya dirawat, Naruto langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur yang ada disana dan langsung menatap langit-langit ruangan tersebut. Sepertinya perempuan cantik itu masih belum ada niatan untuk menutup matanya.

'Aku harap Gaara segera sadar, jadi aku bisa meminta penjelasan secara langsung tentang apa yang sudah terjadi pada desa Suna.' Ucap Naruto dalam hati sambil mulai memejamkan matanya.

Dan beberapa saat kemudian, perempuan berparas cantik tersebut mulai terbuai mimpinya.

Sementara itu dikamar lain yang masih berada di rumah sakit desa Konoha...

Terlihat kelopak mata seorang perempuan berparas cantik bersurai coklat panjang sedang bergetar. Beberapa detik kemudian, kelopak mata perempuan cantik tersebut mulai terbuka dan memperlihatkan iris lavender yang ada di baliknya.

Perempuan tersebut menatap mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya ia melihat langit-langit tempatnya berbaring saat ini dengan pandangan penuh tanya.

Setelah cukup puas memandang langit-langit kamarnya, perempuan berparas cantik tersebut mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya.

"Sepertinya aku berada di rumah sakit." Ucap perempuan berwajah cantik tersebut yang lebih mengarah pada dirinya sendiri. "Dan sepertinya sudah malam hari." Lanjut perempuan tersebut saat iris lavendernya melihat langit yang gelap melalui jendela yang tirainya tidak tertutup.

Setelah berucap demikian ia mengalihkan pandangannya pada kedua tangannya yang terasa kesulitan untuk digerakkan saat ia mencoba mengubah posisinya.

Ternyata yang menahan kedua tangan perempuan cantik tersebut adalah dua orang remaja laki-laki yang sedang tertidur. Remaja yang sedang menindih tangan kanan perempuan cantik tersebut terlihat memiliki surai kuning pucat sementara di tangan kirinya ada seorang remaja laki-laki yang memiliki surai berwarna coklat jabrik dan terkesan tidak karuan.

"Reiga? Reiji?" Ucap perempuan tersebut sambil memandangi kedua remaja laki-laki yang sedang tertidur sambil memeluk kedua tangannya.

Dua pemuda yang dipanggil tersebut tidak bergerak sedikitpun. Sepertinya mereka sangat kelelahan hingga mereka bisa tertidur pulas seperti sekarang.

'Bagaimana mereka tahu jika aku ada di rumah sakit?' Tanya peremuan bersurai coklat tersebut dalam hati. Sebenarnya dia ingin membangunkan dua remaja laki-laki tersebut. Akan tetap ia tidak sampai hati untuk melakukan hal itu saat iris lavendernya melihat wajah damai bercampur lelah yang tercetak di wajah mereka.

'Mungkin aku harus menahan rasa penasaranku lebih dahulu.' Ucap perempuan tersebut dalam hatinya sambil menutup kedua kelopak matanya. Sepertinya perempuan berparas cantik tersebut memutuskan untuk kembali beristirahat.

Entah hanya kebetulan atau memang sudah takdir, ternyata kejadian serupa juga terjadi di kamar lain yang berisi seorang perempuan yang merupakan para istri Naruto.

Sementara itu di sebuah tempat yang gelap dan hanya terlihat sebuah jembatan yang mengeluarkan cahaya...

Seorang wanita berparas cantik bersurai putih terlihat sedang melayang beberapa centi di atas permukaan jembatan bercahaya yang ada di tempat itu. Wanita berparas cantik tersebut melesat dengan kecepatan tinggi sambil menggendong seorang perempuan cantik bersurai merah dengan usia sekitar 20 tahunan.

"Kaguya san, apa masih jauh?" Tanya perempuan cantik yang berada di gendongan wanita bersurai putih tersebut.

"Sebentar lagi kita akan sampai, Sara chan." Jawab wanita bersurai putih tersebut yang tidak lain adalah Kaguya. "Kau peluk saja tubuhku dengan kuat agar kau tidak jatuh." Lanjut Kaguya tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.

Perempuan bersurai merah yang berada di gendongan Kaguya yang tidak lain adalah Sara hanya bisa menganggukkan kepalanya dan mempererat pegangannya.

Setelah itu mereka berdua melesat di jembatan yang bercahaya tersebut dengan hening dan tidak ada satupun yang membuka suara untuk memulai pembicaraan lagi. Kelihatannya kedua perempuan berparas cantik tersebut sudah tidak sabar untuk keluar dari tempat mereka saat ini. Sepertinya tubuh Sara mengalami perubahan seiring dengan perjalanan yang dilalui oleh Kaguya dan Sara.

"Maafkan aku, Kaguya san." Ucap Sara setelah beberapa saat mereka melayang dalam keheningan. Sepertinya perempuan tersebut merasa merepotkan wanita bersurai putih tersebut.

"Jangan berkata seperti itu, Sara chan." Balas Kaguya sambil mengalihkan pandangannya yang awalnya fokus ke depan untuk melihat perempuan yang sedang berada dalam gendongannya. "Ini sudah menjadi tanggung jawabku untuk menjaga keselamatanmu karena aku yang melibatkanmu dalam hal ini." Lanjut Kaguya sambil menunjukkan senyumannya yang membuat wajah wanita berusia sekitar 30 tahunan tersebut terlihat lebih cantik.

"Tapi tetap saja aku jadi membuatmu menjadi kerepotan karena harus menggendongku seperti sekarang ini." Ucap Sara yang sepertinya tidak bisa menerima perkataan Kaguya padanya barusan. "Andai saja aku lebih kuat, aku pasti tidak akan merepotkanmu saat ini." Lanjut Sara yang lebih berkesan sedang merutuki dirinya sendiri daripada berucap pada Kaguya.

"Jangan menyalahkan diri seperti itu, Sara chan." Ucap Kaguya dengan nada tenang. "Kekuatan yang besar membutuhkan tanggung jawab yang besar. Dan juga kekuatan besar itu cenderung membawa bencana daripada kebahagiaan untuk banyak orang." Lanjut Kaguya dengan nada bijak.

Sara langsung bungkam saat mendengar kata-kata bijak dari Kaguya. Dia tidak bisa berucap apapun lagi ataupun menyalahkan dirinya lagi seperti beberapa saat yang lalu.

"Lalu apa yang harus aku lakukan, Kaguya san?" Tanya Sara setelah diam beberapa saat. Sepertinya perempuan tersebut belum terlalu mengerti dengan ucapan Kaguya. "Apakah aku harus menjadi orang yang lemah seperti saat ini?" Lanjut Sara bertanya pada wanita bersurai putih yang sedang menggendongnya.

"Lemah atau kuatnya seseorang tidak bisa dinilai dari fisik atau mentalnya saja, Sara chan." Jawab Kaguya dengan nada tenang. "Lemah atau kuatnya seseorang itu bisa dinilai dari seberapa kuat orang itu saat berjuang demi orang lain, Sara chan. Bukan berjuang untuk mencapai ambisinya sendiri." Lanjut Kaguya menjelaskan.

Sara hanya bisa menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan Kaguya. Sepertinya perempuan tersebut mulai mengerti dengan maksud ucapan Kaguya.

Kaguya yang melihat anggukan Sara meskipun sekilas hanya bisa mengukir senyuman di wajah cantiknya. Akan tetapi senyuman Kaguya langsung lenyap iris putihnya yang indah melihat cahaya dari jembatan yang berada dibawah beberapa centi dibawahnya, mulai terlihat meredup.

'Sial, sepertinya aku sudah mencapai batasku.' Ucap Kaguya dalam hati.

Tangan Kaguya yang sedang menggendong Sara langsung bergetar. Akan tetapi Kaguya tetap memaksakan dirinya sendiri untuk tetap melesat.

"A-ada apa, Kaguya san?" Tanya Sara dengan nada cemas bercampur panik saat sekilas ia merasakan getaran tangan Kaguya yang sedang menggendongnya. "Kau baik-baik saja kan?" Lanjut Sara bertanya pada wanita cantik bersurai putih tersebut.

"Jangan khawatirkan aku, Sara chan." Ucap Kaguya sambil menambah kecepatan terbangnya. "Ah... Kita hampir sampai, Sara chan." Lanjut Kaguya saat iris putihnya melihat ujung dari jembatan yang semakin lama semakin meredup tersebut.

Sara yang mendengar ucapan Kaguya barusan, langsung mengalihkan pandangannya ke arah mata Kaguya memandang. Perempuan tersebut hanya bisa mengangkat alisnya lagi saat ia melihat ujung dari jembatan tersebut.

"Apa maksudmu ujung jembatan ini merupakan akhir dari perjalanan kita, Kaguya san?" Tanya Sara dengan suara yang tiba-tiba terdengar seperti nenek-nenek.

Kaguya langsung melihat mengalihkan pandangannya dari jalan yang ada di depannya ke arah Sara yang sedang berada di gendongannya setelah ia mendengar ucapan perempuan bersurai merah tersebut.

Iris putih Kaguya langsung melotot saat ia melihat kondisi Sara saat ini. Kini Sara terlihat seperti seorang nenek-nenek berusia sekitar 70 tahun bahkan Kaguya yang sedang menggendong Sarapun terasa lebih ringan dari sebelumnya.

"Sepertinya tubuhmu terkena efek ketidak stabilan dari dimensi ini lagi, Sara chan." Ucap Kaguya saat iris putihnya melihat kondisi Sara saat ini. "Tapi aku harap kau bisa bertahan, karena sebentar lagi kita akan sampai." Lanjut Kaguya sambil mengalihkan pandangannya ke depan kembali.

"Kau bilang apa tadi Kaguya san?" Tanya Sara sambil melepaskan salah satu tangannya dan untuk memegang daun telinganya. "Gomen, aku tidak terlalu mendengar ucapanmu barusan." Lanjut perempuan tersebut yang saat ini telah berubah menjadi nenek-nenek.

"Bukan sesuatu yang penting." Jawab Kaguya yang sepertinya tidak peduli dengan ucapan Sara.

"Apa?" Tanya Sara lagi. "Tadi kau seperti mengucapkan sesuatu lagi." Lanjut Sara seperti tadi.

"Aku sudah bilang, itu tadi bukan sesuatu yang penting." Jawab Kaguya dengan suara yang terdengar lebih keras.

"Untuk apa membahas kertas, batu, dan gunting saat ini?" Tanya Sara lagi.

TWITCH TWITCH TWITCH

Tiga perempatan langsung muncul di dahi Kaguya setelah ia mendengar pertanyaan tidak penting dari Sara barusan. Sepertinya urat kesabaran wanita berparas cantik tersebut sudah hampir putus.

'Tenang Kaguya... Tenangkan dirimu...' Ucap Kaguya dalam hati yang mencoba mengendalikan dirinya. 'Ini bukan salah Sara chan, melainkan ini adalah pengaruh dari dimensi ruang dan waktu yang sedang tidak stabil...' Lanjut Kaguya dalam hati sambil mulai mengatur nafasnya.

Setelah beberapa kali mengatur nafasnya, urat-urat yang muncul di dahi Kaguya mulai menghilang satu persatu. Dan setelah cukup tenang dia kembali memfokuskan dirinya pada ujung jembatan yang semakin lama semakin dekat.

"Sedikit lagi sampai..." Ucap Kaguya yang menyemangati dirinya sendiri.

"Siapa yang memulai lagi? Kita kan belum main, masa sudah mau mulai lagi?" Ucap Sara lagi dengan nada yang terdengar bingung.

CTAK

Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang terputus yang berasal dari kepala Kaguya. Wajah wanita berkulit pucat tersebut terlihat berubah memerah dan telinganya mulai mengeluarkan asap. Dahi perempuan tersebut kini terlihat dipenuhi oleh perempatan. Kelihatannya urat kesabaran wanita berparas cantik bersurai putih panjang tersebut baru saja putus.

"AKU BILANG JANGAN DIPIKIRKAN, SARA CHAN!" Teriak Kaguya sekeras yang ia bisa. "SEKALI LAGI KAU MENANYAKAN SESUATU YANG TIDAK PENTING, AKU AKAN MENINGGALKANMU SENDIRIAN DISINI!"Lanjut Kaguya mengancam perempuan yang berubah menjadi nenek-nenek tersebut.

"Memangnya tadi aku bilang apa, Kaguya san?" Tanya Sara dengan suara yang terdengar tidak bersalah sedikitpun.

"GRRRR..." Kaguya hanya bisa menggeram kesal setelah mendengar pertnayaan Sara barusan. Mungkin karena saking geramnya, gigi-gigi perempuan tersebut terdengar bergemelatuk dengan sangat keras. Wanita berparas cantik tersebut sudah mencak-mencak dalam hatinya. Sepertnya wanita berparas cantik tersebut sudah berniat melempar nenek-nenek yang berada dalam gendongannya ke jurang dimensi ruang dan waktu yang berada di tepi jembatan cahaya yang mulai meredup di tempat itu.

Akan tetapi Kaguya langsung membatalkan niatnya saat ia sudah berada di ujung jembatan tersebut. Ia langsung menurunkan Sara dari gendongannya dan melakukan sebuah handseal rumit dan sangat panjang.

Setelah selesai melakukan handseal, tiba-tiba ruang kosong yang berada di ujung jembatan tersebut terlihat seperti sebuah pintu yang terbuka secara horizontal. Perlahan pintu horizontal tersebut terlihat semakin lebar dari waktu ke waktu. Wajah cantik Kaguya langsung dialiri setelah ia melakukan handseal yang panjang dan rumit barusan. Sepertinya wanita cantik tersebut sudah benar-benar mencapai batasnya.

Brukkk

Tanpa menunggu lebih lama atau melihat kondisi Sara saat ini, Kaguya langsung melemparkan perempuan Sara keluar dari dimensi ruang dan waktu tersebut.

Tap

Setelah melemparkan Sara, Kaguya langsung melompat keluar dari dimensi ruang dan waktu tersebut. Tepat saat Kaguya melompat, jembatan bercahaya redup yang menjadi pijakannya langsung lenyap tak berbekas. Kemudian pintu dimensi ruang dan waktu itu langsung tertutup kembali saat Kaguya melakukan sebuah handseal.

"Hah... Hah... Hah..." Kaguya langsung terengah-engah setelah keluar dari dimensi ruang dan waktu barusan. Wajah cantiknya yang dialiri keringat dingin terlihat sangat kelelahan.

"Ittaiii..." Ucap Sara sambil mengelus pinggangnya. Sepertinya perempuan tersebut jatuh dengan posisi pantat duluan yang mencium tanah yang menjadi pijakan mereka saat ini.

"Apakah kau tidak memiliki cara yang lebih lembut untuk memperlakukan seseorang, Kaguya san?" Tanya Sara dengan nada yang terdengar kesal sambil terus mengelus pinggangnya. Perempuan berparas cantik tersebut berucap tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.

Kaguya yang sedang mengatur nafasnya langsung mengalihkan pandangannya pada Sara saat ia mendengar suara perempuan bersurai merah tersebut sudah tidak terdengar seperti suara nenek-nenek lagi. Wanita cantik bersurai putih tersebut seolah tidak terkejut saat ia melihat kondisi Sara saat ini.

Kini kedua perempuan berparas cantik tersebut sedang berdiri di sebuah tanah lapang yang sangat luas. Sejauh mata memandang hanya terlihat rumput saja.

Kini Sara terlihat jauh lebih muda dari saat ia masih berada di dimensinya. Sepertinya saat Kaguya melemparkan perempuan tersebut, dimensi ruang dan waktu telah mengubah tubuhnya menjadi seorang perempuan dengan kisaran usia 20 tahunan.

"Seharusnya kau bersyukur karena bukan kepalamu dulu yang mencium tanah, Sara chan." Jawab Kaguya dengan nada cuek. "Padahal aku tadi berharap, kepalamulah yang akan mencium tanah tersebut." Lanjut Kaguya setelah ia jauh lebih baik dari sebelumnya. Bahkan perempuan cantik tersebut menekankan kata kepalamulah dalam kalimat yang ia lontarkan pada perempuan bersurai merah yang menjadi lawan bicaranya.

"APA KATAMU?!" Tanya Sara dengan suara yang meninggi sambil mengangkat wajahnya untuk melihat Kaguya.

"DASAR KAU-" Sara yang hendak menyumpah serapah Kaguya langsung membeku di tempatnya. Tiba-tiba mulutnya -tertutup rapat seolah-olah sumpah serapah yang hendak ia ucapkan menyangkut di tenggorokannya lalu menguap.

Kaguya hanya bisa menatap bingung perempuan cantik bersurai merah tersebut yang tiba-tiba diam sambil menatapnya dengan pandangan terkejut.

"Ada apa?" Tanya Kaguya sambil menatap perempuan cantik yang ada di depannya dengan pandangan bingung.

"Wa-wajahmu..." Ucap Sara menggantung. Sepertinya perempuan tersebut sedang dilanda shok yang sangat hebat.

"Memang ada apa dengan wajahku?" Tanya Kaguya penasaran. "Apa aku terlihat menjadi lebih cantik?" Lanjut Kaguya dengan rasa percaya diri yang tinggi.

"Ka-kau terlihat jauh lebih muda, Kaguya san." Ucap Sara akhirnya setelah ia bisa mengendalikan rasa terkejutnya.

Apa yang dikatakan Sara memang benar. Kini kondisi fisik Kaguya juga mengalami sedikit perubahan. Wajah cantik Kaguya terlihat seperti seorang perempuan berusia sekitar 20 tahunan.

"Owh... Aku kira apa." Ucap Kaguya dengan nada yang sangat santai. Sepertinya wanita cantik tersebut tidak terkejut sama sekali dengan kondisinya yang berubah. "Kaupun juga terlihat lebih muda, Sara chan. Kira-kira seperti perempuan berusia sekitar 20 tahunan." Lanjut Kaguya memberitahu kondisi fisik Sara saat ini.

"Benarkah?" Tanya Sara dengan nada yang terdengar senang. Perempuan bersurai merah tersebut langsung senang bukan main setelah ia mendengar apa yang Kaguya ucapkan barusan.

"Hah..." Kaguya langsung menghela nafas panjang saat melihat Sara yang saat ini sedang berjingkrak-jingkrak ria. "Jangan lupa tujuan kita kemari untuk apa, Sara chan." Ucap Kaguya sambil menghentikan aksi perempuan cantik bersurai merah tersebut.

"Oh ya, benar juga." Ucap Sara setelah ia selesai berjingkrak-jingkrak. "Tapi sekarang kita ada dimana, Kaguya san?" Lanjut Sara bertanya pada perempuan cantik bersurai putih tersebut.

"Kita sudah berada di wilayah Konoha, Sara chan." Jawab Kaguya sambil mengedarkan pandangannya untuk melihat tanah lapang yang ada di sekitarnya. "Desa Konoha ada di sebelah sana." Lanjut Kaguya sambil menunjuk sebuah arah mata angin menggunakan jari telunjuknya.

"Baiklah kalau begitu, kita segera saja menuju desa tempat Naruto kun menjadi Hokage." Ucap Sara dengan suara yang bersemangat.

Sementara Kaguya hanya bisa menganggukkan kepalanya saja tanda bahwa ia setuju dengan perempuan bersurai merah tersebut.

Dan setelah itu mereka berdua melangkahkan kaki jenjang mereka menuju arah mata angin yang barusan ditunjuk oleh Kaguya.

Sementara itu di sebuah tempat yang sangat gelap gulita...

Terlihat siluet bayangan seorang perempuan berambut panjang dengan iris mata berwarna merah. Sepertinya siluet perempuan tersebut sedang duduk di atas sebuah kursi yang ada di tempat yang sangat gelap tersebut. Mata merah siluet tersebut menjadi satu-satunya penerangan yang ada di dalam tempat gelap gulita itu.

"Hm... Desa Suna sudah aku hancurkan..." Ucap siluet perempuan tersebut pada dirinya sendiri dengan nada yang terdengar bosan. "Selanjutnya desa apalagi ya?" Lanjut perempuan tersebut bertanya pada dirinya sendiri.

Setelah itu keheningan menyelimuti tempat yang sangat gelap tersebut. Kedua matanya yang berwarna merah tidak terlihat lagi di dalam tempat gelap tersebut. Sepertinya perempuan yang berada disana sedang memikirkan sesuatu sambil menutup kedua mata merahnya.

"Ah... baiklah." Ucap perempuan tersebut sambil membuka matanya kembali dan memperlihatkan iris matanya yang berwarna merah darah. "Sasaran selanjutnya adalah, desa kabut atau lebih dikenal dengan Kiri gakure." Lanjut perempuan tersebut sambil mengukir sebuah seringaian yang sangat mengerikan.

Setelah itu siluet tersebut terlihat berdiri dari kursi yang ia duduki dan berjalan melewati lorong-lorong gelap yang ada di tempat tersebut.

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya perempuan tersebut bisa melihat gelapnya langit malam saat itu. Ia mengedarkan pandangannya untuk melihat langit malam yang membentang luas di atasnya.

"Sayangnya saat ini aku hanya bisa keluar selama satu jam dari tempat ini." Ucap perempuan tersebut dengan nada yang terdengar kecewa sambil menatap langit malam. "Jadi aku tidak punya cukup waktu untuk menikmati kesenangan dalam menghancurkan ciptaan busukmu." Lanjut perempuan tersebut sambil tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.

"Tapi tidak apa-apa lah..." Ucap perempuan tersebut pada dirinya sendiri sambil mengukir seringaian mengerikannya yang sempat memudar. "Karena tidak lama lagi, waktu itu akan datang. Dan saat itu, aku akan membuat ciptaanmu ini menjadi lautan darah." Lanjut perempuan tersebut sambil mengembangkan sepasang sayap yang berada di punggungnya.

"Kiri gakure, aku datang..." Ucap perempuan bersurai hitam panjang tersebut sambil terbang menembus langit malam tersebut.

TBC