Bagian 9: Tanya Hati, Entah

Penuh pertanyaan dan "Entah"

6. Entah di mana, keberanian itu bersembunyi. Meski samar kupandang jejakmu di jemari pagi, getar itu enggan bangkit lagi. Entah di mana. Entah!

Yellow's POV

Red-san, aku dengar dari Blue kalau Red-san sudah pulang ke rumahnya. Aku ingin sekali pergi ke rumahnya, hanya untuk menyapanya dan membuat dia tahu kalau aku sangat merindukannya. Namun...

Kenapa aku tak punya keberanian untuk melakukan itu?

9. Di sana, aku masih saja berharap bisa menunggumu. Tapi, entah apan itu menjadi nyata. Atau sebaiknya, aku pergi saja dan membunuh semua tentangmu, tak bersisa?

Yellow's POV

TIDAK! Aku tak akan menyerah! Meskipun aku harus berpura-pura menjadi laki-laki sekalipun, kalau itu agar aku dekat dengan Red-san tanpa melanggar janjiku, aku akan melakukannya!

Red-san, tunggulah aku!

12. Aku telah berjalan begitu jauh dari diriku – tapi sepertinya, tidak darimu. Entahlah!

Yellow's POV

"Akhirnya pertarungannya selesai!" kata Red-san sambil memegang kepalaku. Aku berusaha menjaga topiku agar tidak jatuh dan membongkar rahasiaku.

"Kau juga hebat, terima kasih, Yellow,"

"Jadi kau melakukan apa saja, Pika?" tanya Red-san ke Pika. Dan sambil mengelus kepala pokemon listrik itu, dia berkata,

"Aku ingin berpetualang dengannya lagi, tapi sepertinya Pika sangat menyukaimu," lalu aku memperhatikan benang Caterpie di kelingking Red-san, yang berujung di kelingkingku...

Sepertinya, walaupun aku menyembunyikan diriku yang sebenarnya, aku tak akan bisa jauh dari Red-san...

"Untuk menyelesaikan masalah ini, bagaimana kalau kita hidup bersama?!"

DEG!

18. Hari ini, sepenuhnya aku terperangkap oleh dirimu tanpa ampun. Entahlah. Mungkin karena kita berpisah tanpa senyum kemarin malam.

Red's POV

Aku lelah sekali! Pertarungan kemarin membuatku sangat lelah, sampai-sampai aku tak sempat megucapkan selamat malam padanya.

Dan akhirnya, tanpa kusadari, ada yang memelukku, membuatku susah bangun. Pikiran pertamaku adalah...

"Go..oooo..oold, pind –" aku langsung kaget karena, Gold tak punya rambut pirang. Dan yang ada di sana hanya dexholder dari Kanto dan Johto. Itu berarti...

"Yellow?!"

Bubar jalan... aku tak bisa bangun lagi sampai dia bangun. Lanjutkan saja tidurnya... lagipula aku mendapatkan guling terbaikku... Yellow...

Red catches Yellow, Yellow catches Red

19. Berharap, dan tak berhenti. Setidaknya, masih ada kesempatan untuk berlari lagi, suatu hari nanti.

Red's POV

Aku agak menyesali tidak mengajak Yellow ke Hoenn kali ini, saat semua temannya pergi keluar Kanto.

Tapi ini lebih baik, daripada aku membuat dia menjadi sasaran empuk musuh dan membahayakan nyawanya. Namun aku punya utang yang akan langsung kubayar setelah pertarungan ini selesai.

Yellow, aku akan mengajakmu kencan ke seluruh dunia kalau perlu, agar kau senang...

21. Dear you, Aku menunggu 30 menit lagi. Setiap kali menunggu, detik terasa berjalan begitu lambatnya. Apalagi ketika pikiran migrasi entah ke mana. Seperrtinya, berhenti di kamu.

Yellow's POV

Ahhh... Red-san... dia terlambat lagi...

Aku dan dia akan berkencan di Hutan Viridian, dekat rumahku. Hehehe, agak aneh, memang. Tapi Red-san juga tak keberatan. Entah kenapa sekarang dia terlambat. Padahal jarak dari Kota Pallet ke Viridian tak jauh.

Aku yakin Red-san pasti datang... dan aku membayangkan saat dia datang, dia membawa sesuatu yang spesial, lalu mengajakku jalan-jalan di tepian sungai, lalu memancing bersama, lalu istirahat siang, kuharap tak ada penantang yang datang ke Red-san, lalu melihat matahari terbenam, dan akhirnya, ...

"Yellow? Yellow? Kau tak apa-apa?" tiba-tiba, muncul suara yang membawaku kembali dari alam bawah sadarku, dan dia membawa sesuatu. Sebuah ikatan bunga matahari.

Dan pada saat itulah, semua pikiranku menjadi kenyataan.

24. Ternyata, aku memang harus menunggu. Manja sapamu? Iya. Lugu senyumanmu? Pasti. Entah kapan masanya, entah di mana.

Yellow's POV

"... jadi, tunggulah aku..."

Dan aku masih menunggu. Menunggu hadirmu, menunggu suara tegas tapi lembutmu, menunggu senyumanmu, menunggu pelukan darimu, menunggu tangan yang rambutku selalu ingin dibelainya, menunggu dada yang selalu kepalaku pakai sebagai bantal saat aku tidur, dan...

Menunggumu yang mencintaiku, Red-san...

...

Beberapa jam kemudian...

Red's POV

"Yellow, aku bosan... tak ada penantang selama sebulan ini..." kataku. Aku menelepon Yellow lewat Pokegear-ku, untuk menghilangkan kebosananku.

"Ya pulanglah kemari. Mungkin akan banyak penantang yang akan datang. Kalau tak ada pun, aa...a..a..."

"Yellow, ada apa? Kenapa kau tiba-tiba gugup?" tanyaku.

Yellow's POV

'Apa ini saatnya? Apa ini saatnya aku ajak dia jalan-jalan?' pikirku...

30. Tanda-tandamu tak juga bisa kubaca. Bahkan, sekedar satu kata pun, tak ada.

Yellow's POV

Red-san, why are you so dense?

Yang kaupikirkan hanya Pokemon, pertarungan, Pokemon, pertarungan, Gym Leader, jadi lebih kuat, Pokemon. Bahkan pembicaraanmu juga hanya tentang Pokemon, pertarungan, Pokemon, pertarungan, Gym Leader, jadi lebih kuat, Pokemon.

KAPAN KAU BERPIKIR TENTANGKUUUUU...?!

-Tanyaku di dalam kamar yang dingin di tengah hujan 30 jam-

35. Benarkah kita berpisah? Kenapa langkahmu masih mengikuti dari belakang? Sangat dekat, bahkan. Aku tak pernah lupa bau harum napasmu itu. Ya, bau harum napasmu. Seperti hidup memenuhi alam pikiranku. Pantas, hadirmu selalu kudekap dalam jarak satu sentimeter. Benarkah kita berpisah?

Red's POV

"Yellow?" aku memanggilnya, rasanya dia ada di dekatku, namun sebenarnya aku sangat jauh darinya kali ini.

Aku di Hoenn, dia di Kanto. Dan rasanya tak mungkin baginya untuk berada di sini sekarang. Sedang ada pertarungan antara aku dan Blue dengan panjahat Team Aqua dan Team Magma.

Blue jadi heran dengan tingkahku yang tiba-tiba berubah.

"Red, ada apa?" tanya Blue. Aku coba untuk mengalihkan perhatianku, kembali ke pertarungan.

"Ah, tak ada apa-apa. Aku hanya berpikir bagaimana cara mengalahkan mereka," kataku. Namun tiba-tiba, setelah aku mengatakan itu, firasatku muncul lagi.

"Yellow?" sebenarnya firasat apa ini? Langsung saja aku berpikir...

Aku harus cepat-cepat menyelesaikan pertarungan ini. Semoga Yellow baik-baik saja.

40. Sadarku semakin nyata. Tak berhak lagi aku bertanya. Biarkan saja lirih yang angkat bicara: "Di matamu, aku ini siapa?"

Yellow's POV

Red-san, why are you so dense?

Aku masih tak mengerti. Aku selalu malu kalau di depannya. Aku selalu menggambar dia. Aku selalu membayangkannya, bahkan aku selalu memimpikannya. Tapi tetap saja dia tak sadar kalau aku menyukainya.

Bahkan, dia mungkin hanya menganggapku teman biasa saja.

Makanya, Misty berani dekat-dekat ke Red-san.

Red-san, di matamu, aku ini siapa? Tanyaku di tengah tangisan langit, dan tangisan diri...

44. Senja. Entah berapa jauh lagi aku harus berlari ke arahmu. Hanya di garis finis, aku ingin berhenti. Masih jauhkah?

Yellow's POV

Aku dengar dari Blue yang ada di Hoenn kalau Ruby ingin minta maaf pada Sapphire. Aku sebenarnya tak tahu masalah mereka, tapi kata Blue, Ruby punya kesalahan besar yang membuatnya harus minta maaf pada Sapphire.

Aku juga baru saja ditelepon White, kabarnya Black akhirnya akan bisa keluar dari Light Stone. Katanya, Lack-Two yang akan keluar.

"Itu berarti Ruby dan Sapphire, serta Black dan White akan..." tiba-tiba aku mendapatkan tamparan keras di hatiku...

Ruby dan Sapphire sudah saling menyukai, walau Ruby pernah lupa, dan sepertinya dia ingin minta maaf karena itu. White sangat kehilangan Black saat dia masuk ke Light Stone. Pasti dia akan langsung memeluk Black kalau dia berhasil keluar.

Aku dan Red-san...

"Red-san..." sambil menangis menyadari kenyataan bahwa perjalanan cinta kami jauh dari akhir bahagia...

50. Bertakhtakan apa pesonamu hingga dalam gerimis senja pun, senymanmu mempukat palung pikiranku. Entahlah!

Red's POV

Hari terakhir di Hoenn. Aku dan Blue berhasil menang. Dan akhirnya kami akan kembali ke Kanto.

"Red! Sampaikan salamku untuk semua di Kanto!" seru Sapphire, Ruby tutup telinga, menghindari kerusakan telinga karena teriakan Sapphire.

"Berisik, tahu! Aku salam ke Yellow!" seru Ruby, tak terlalu keras seperti Sapphire.

'Yellow?' lalu tiba-tiba pikiranku tentangnya muncul.

Senyumannya, rambutnya, tubuh mungilnya, cara dia memanggil namanya, matanya, tangan kecil yang langsung tertutup kalau tangannya menggenggam tangannya, semuanya...

"Hei, Red? Mikir apa ayo..." Blue tiba-tiba mengembalikanku ke dunia nyata.

'Sial kau Blue, Aku sedang membayangkan keindahan, malah kau ganggu,' pikirku.

Dan keindahan itu bernama, Yellow.

56. Bibir kerapkali alpa. Ingkar hati, kaburkan kata-kata. Bilang rindu jadinya benci.

Red's POV

Masih lanjutan tadi, aku harus berpikir agar dia tak curiga padaku.

"Ahhh... mmm.. tak apa-apa. Hanya memikirkan rumah," kataku. Oh, tidak, dia terlihat semakin curiga denganku. Dengan tatapan tajamnya, dia bertanya lagi.

"Tak ada apa-apa? Heh?" langsung kulihat dia mengambil Pokegear-nya dan aku lihat dia memencet sebuah nomor. Aku tak tahu siapa. Kuharap bukan perkiraan terburukku.

"Halo? Ya, ini Blue. Red-mu? O—" langsung aku hentikan dia, aku mengambil Pokegear-nya dan...

"BLUE! HENTIKAN! OKE, OKE, AKU MENGAKU! AKU BERPIKIR TENTANG YE—" saat aku melihat Pokegear-nya yang mati, tak ada telepon atau apa...

Mati aku... dan Blue langsung memberikan tatapan jahat biasanya.

Mati kita, Yellow, mati kita...

67. Kapal telah berlaya jauh. Terlalu bodoh mengejarnya dengan berenang mengarungi lautan. Tapi, tak salah juga jika itu aku lakukan?

Yellow's POV

Memang, aku masih ingat saat itu, aku rela mencarimu bahkan sampai naik kapal, diajari bertarung Green, bahkan membuat kakek-kakek heran dengan tindakanku.

Dengan berbagai pengorbanan yang kulakukan untukmu, kenapa kau masih tak sadar juga? Why are you so dense, Red-san?

70. Mungkin tumpah rinduku untukmu percuma? Tidak. Percuma? Tidak. Tapi, kenapa sapaku selalu membentur dinding berbatu? Kosong.

Yellow's POV

Red-san, why are you so dense?

Aku heran dengan kebodohanmu. Aku juga bingung harus membawanya ke mana untuk menghilangkan ke-dense -annya itu.

Kubawa ke Gold, terlalu berbahaya. Aku ingin dia mencintaiku secara alami.

Kubawa ke Ruby, nanti malah lupa! Tak mau, tak mau!

Kubawa ke Diamond, dia punya nasib yang sama denganku...

Kubawa ke Black, dia masih ada di dalam Light Stone.

Kubawa ke Lack-Two, malah sama dengan Gold, plus, dia pernah gagal.

Kubawa ke X, entah, dia tak mau keluar rumah, setahuku.

Kubawa ke Green, mungkin...

Kubawa ke Silver, sepertinya dia masih ingin berlatih untuk mengalahkan ayahnya.

Kubawa ke Emerald, malah akan membahas Snorlax mereka.

Kubawa ke Pearl, entahlah...

Dan akhirnya aku memutuskan untuk...

"Aku akan berusaha sendiri. Red-san, tunggulah, aku akan mencurahkan semua perasaanku, segera..."

77. Hujan menitikkan air mata kebahagiaan, bukan duka. Tanda yang kuiba darimu, dari dulu. Dan penuh api keibuan, dahaga rinduku kau susui seperti bayi.

Yellow's POV

Aku senang sekali, aku senang sekali...

Red-san kembali pulang dari Hoenn, dan aku tak tahu harus melakukan apa selain memeluknya dengan pelukan terhangat yang pernah kuberikan pada manusia lain.

Aku biarkan dirimu mampu mendengar suara detak jantungnya Red-san, yang sepertinya semakin kencang. Dan aku juga merasa bahwa tangannya juga mengunciku dalam pelukan hangat dua arah.

Dan akhirnya, aku memutuskan untuk menangis dengan kepalaku kusembunyikan di pakaiannya. Bukan tangisan luka, tapi tangisan senang dan rindu.

Dan saat aku akhirnya selesai menangis, aku mendongakkan kepalaku untuk melihat Red-san yang tersenyum padaku, dan aku berkata...

"Selamat datang di rumah, Red-san..."

78. Apakah langkahku harus ditentukan di detik terakhir; ketika keputusasaan merajuk belas kasih dan mengiba hatimu untukku berdiam?

Apakah kisah SpecialShipping harus ditentukan di PokeSpe yang terakhir; ketika Yellow akhirnya memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada Red?

KAMI TAK SABAR, TAHU!?

-Protes seorang SpecialShipper di sebuah dimensi dimana ada virus yang dibawa oleh nyamuk yang membuat ibu hamil melahirkan anak dengan kepala lebih kecil daripada biasanya-

80. Aku percaya. Aku telah memenangi hatimu. Meski memilikimu mungkinhanya jadi mimpi indah di setiap tidur tak lena.

Yellow's POV

Setelah banyak hal terjadi, ada beberapa hal yang aku pikirkan tentang hubunganku dan Red-san.

Pertama, tak ada lagi rival kuat. Aku sudah lama tidak mendengar kabar hubungan Red-san da Misty. Kedua, sepertinya Blue tidak terlalu berhasrah lagi untuk menggoda Red-san.

Akhirnya, aku bisa tidur dengan tidak nyenyak.

KARENA RED-SAN MASIH DEEEEENNSSEEE!

87. Di baris keberapa, kamu ingin mengejaku sebagai subyek yang kamu garis bawahi dengan kata cinta? Entah!

Yellow's POV

Red-san, why are you so dense?

Aku tak akan bosan bertanya hal itu dalam hatiku, paling tidak sampai kau berkata padaku...

I love you...

Entah kapan...

98. Selalu berakhir dengan menunggu. Mungkin itu kelok jalanku. Sapa yang kurangkum pada decak sunyi, hanya menampar udara kosong. Inikah kecemasanku; yang merupa gelombang di bawah alam sadarku setiap kali menunggu manjamu?

Yellow's POV

Dulu, kau pernah berjanji akan menjadi Gym Leader, dan menyuruhku menunggu. Tapi pada akhirnya, kau tak dapat menjadi Gym Leader, dan aku harus mengejarmu dalam bentuk penyamaran sebagai laki-laki.

Sekarang, kau berjanji akan kembali setelah bertarung di Hoenn, dan menyruhku menunggu lagi. Apakah dalam kenyataannya...

Red-san tak akan kembali ke Kanto, dan tak akan kembali padaku? Atau aku harus mengejarnya lagi?

SEMOGA SAJA TIDAK...

101.

Dear you,

Inikah Rindu yang Tak Berdaya?

Rasakan perih teriknya rindu membakar keterpisahan. Sekelebat merupa perawan rupawan, ternyata sekadar bianglala siang.

Dari pantulan kaca di gedung-gedung pencakar langit, wajahmu adalah fatamorgana sempurna, dan tak berdayaku membingkainya.

Rinduku sekarat menunggu tiba persenggamaan mata. Datanglah seutuhnya, bukan serpihan fatamorgana. Entah kapan masanya.

Yellow's POV

Hanya satu kalimat yang kupanjatkan setiap kau tak ada di sisiku. Hanya satu kalimat yang kuharapkan akan menjadi kenyataan. Hanya satu kalimat doaku untuk malam ini dan seterusnya.

Red-san, pulanglah, datanglah padaku dan cintailah aku seperti aku mencintaimu, Red-san...

Ada pertanyaan?

Berlanjut...

Bagian 9 selesai! Sedikit galau, banyak "Red-san, why are you so dense?". Aku benar-benar berharap ada perkembangan SpecialShipping di masa depan.

Kripik jaran, aku kelaparan disini... :v

RWD, keluar...