A/n : Maaf atas keterlambatan publish kali ini, berhubung saya juga sedang membuat fic lain dan juga harus mengedit lagi beberapa bagian, semoga para reader tidak kecewa. Inilah lanjutan chapter kesembilan.

Kakashi benar-benar tidak menyangka keadaannya bisa sampai separah ini. Hanya merasakan tekanan cakra orang itu saja, tubuhnya sampai membeku dan tak dapat digerakkan. Entah apa yang terjadi kalau orang misterius itu benar-benar menunjukkan kemampuan aslinya.

Kakashi benar-benar bergidik ngeri membayangkannya.

Bukan sifatnya untuk gentar dan mudah menyerah begitu saja. Namun untuk kali ini, Kakashi mau tidak mau harus mengakuinya. Lawannya kali ini benar-benar kuat. Tidak, bukan hanya kuat... namun berbahaya.

Kakashi mengalihkan pandangannya pada Naruto dan lainnya. Mereka masih tidak sadarkan diri.

Kakashi kembali menatap keluar, setelah berpikir sejenak ia pun memutuskan.

"Kuchiyose no Jutsu." serunya. "Keluarlah Pakkun!"

Darker than Night by Lightning Chrome

I do not own Naruto

Summary : Diambil dari manga terkenal "Naruto", namun protagonis disini bukanlah anak laki-laki tersebut. Protagonis utama di fic ini adalah Hyuuga Hinata. Seorang gadis muda keturunan dari Hyuuga klan, sekaligus pewaris bagi klan terbesar di Konoha. Sosoknya yang lemah memancing kehadiran seorang iblis dari dunia lain untuk melatihnya. Bersama dengan Kuro, Hinata melewati hari-harinya dengan berlatih dan bertarung untuk menjadi kuat.

Alur dalam cerita ini akan saya samakan dengan komiknya. Namun akan ada beberapa bagian yang sengaja saya bedakan. Terutama ketika terjadinya perang dunia shinobi keempat. Begitupun dengan munculnya tokoh-tokoh antagonis baru yang tidak ada dalam cerita aslinya.

Kehidupan masa lalu yang sulit akan mewarnai perjalanan panjang Hinata untuk mencari ingatannya yang terkubur. Bersama dengan tokoh-tokoh lainnya, sedikit-demi sedikit ingatan tersebut akan bangkit kembali. Saat itu terjadi sesuatu yang lebih gelap dibandingkan dengan malam akan bangkit.

.

Pengorbanan seorang kakak demi adiknya

.

Tragedi berdarah klan Uchiha

.

Itachi mengorbankan segalanya untukmu.

Baginya kehidupanmu lebih utama dibandingkan seluruh desa.

Ia mencintaimu melebihi dirinya sendiri.

Sampai akhir hayatnya, ia tetap berusaha untuk memberimu kekuatan

.

.

Itachi... Nii-san!

.

.

Sasuke tersenyum sedih. Bayangan terakhir dari kakaknya memenuhi pikirannya. Masih segar dalam ingatannya senyuman terakhir dari sang kakak. Sosok yang begitu tegar menghadapi beban yang dipikulnya. Senyuman yang begitu tulus untuknya. Sekaligus senyuman terakhir yang bisa diberikannya untuk adik yang paling dicintainya. Menangis darah demi mengemban misi sebagai shinobi Konoha.

Misi dan tugas yang wajib untuk diselesaikan demi desa.

Hanya untuk desa...

"Itachi bagiku adalah musuh." Sasuke membuka suaranya. Pandangannya ia alihkan menatap bulan purnama dari balik jendela kamarnya yang terbuka. Mengingat bulan purnama seketika itu juga mengingatkannya akan tragedi berdarah yang seumur hidup tidak akan pernah bisa ia lupakan. Kenangan akan peristiwa menyedihkan yang membuatnya begitu membenci hidupnya hingga sekarang.

"Tujuan hidupku adalah untuk membunuhnya." lanjutnya. Mata sharingannya kembali menjadi hitam. Ekspresinya kian melunak, "Aku begitu membencinya. Sampai aku tidak lagi sadar, antara kebohongan dan kejujuran yang diucapkannya. Bertahun-tahun kuhabiskan untuk mencari kekuatan. Meskipun harus tenggelam dalam kegelapan sekalipun." ujarnya dengan nada yang begitu rendah seakan berbisik.

Di lain pihak Kabuto yang sudah tahu maksud dari Uchiha terakhir itu hanya diam mendengarkan. Berusaha menerka-nerka kemana arah pembicaraan ini akan terus berlanjut. Meskipun demikian ia tidak keberatan untuk sekedar mendengarkan. Sasuke kembali berbicara, "Begitu mendengar peristiwa tersebut murni adalah misi yang diemban oleh Itachi. Aku tidak bisa langsung mempercayainya. Tidak! Aku bukannya tidak akan percaya. Tapi aku tidak mau mempercayainya..." nada suara Sasuke semakin meninggi. Seolah ingin menjerit dan meraung-raung, namun tidak satupun yang bisa ia lakukan.

Ia dekat dengan kakaknya melebihi siapapun di klannya. Ia tahu sifat sebenarnya dari Itachi. Kakaknya itu adalah orang baik dan penyayang. Ia bukanlah orang yang dengan mudah menghabisi nyawa orang lain tanpa alasan yang jelas. Ia bukanlah orang seperti itu.

Tapi...

Adikku yang bodoh. Aku berperan menjadi kakak yang baik untukmu selama ini hanya untuk mengukur kemampuanmu.

Kau yang sekarang tidak ada harganya untuk hidup

Saat itu tiba datanglah padaku, dan milikilah bola mata yang sama denganku dan datanglah kehadapanku!

Kau jadi lebih kuat Sasuke

Maaf Sasuke... Ini yang terakhir...

Cairan bening perlahan menetes membasahi pipi Sasuke. Kenapa? Hanya mengingat kakaknya saja rasanya begitu sakit. Seakan akan ada pedang yang menembus jantung dan menusuk-nusuk hatinya. Membuat lukanya seakan membesar dan berganti rasa sakit yang baru. Balas dendam yang diinginkannya dari dulu... berhasil ia tuntaskan. Namun mengapa? Hatinya malah semakin terluka dan bertambah perih.

Sasuke tidak mau percaya. Kalau ia telah membunuh keluarga terakhir yang ia miliki. Satu-satunya keluarga yang dibenci sekaligus paling disayanginya. Satu-satunya saudara yang begitu mencintainya dan rela berkorban hanya untuk dirinya. Kini hilang.. dan tak akan pernah kembali lagi.

Kabuto menyaksikan dalam diam. Meskipun ia tidak begitu peduli pada anak itu, namun mau tidak mau ia bisa mengerti penderitaan bocah itu. Kehilangan seluruh keluarganya, tentu sangatlah berat. Apalagi mati dalam keadaan tragis. Seakan-akan mengingatkannya akan dirinya yang dulu.

"Walau bagaimanapun. Itulah kenyataan." Kabuto mengemukakan pendapatnya, "Itulah masa depan yang dipilih oleh Itachi."

Sasuke masih tetap bungkam. Memalingkan wajahnya, ia tidak mau seorang pun melihat wajahnya yang tengah menangis. "Apa kau ingin menjalani hidupmu sesuai keinginan Itachi?"

Masih tidak ada jawaban, Kabuto lagi-lagi bertanya. "Atau kau malah ingin menghancurkan seluruh harapannya dengan menghancurkan Konoha?"

"Kau sebenarnya ingin mati bukan, Sasuke?"

.

~Darker Than Night~

Lightning Chrome Present

Chapter 9 : Hinata vs Kuro

I do not own Naruto

Character : Hinata, Sasuke, Kuro (OOC), Gaara, Kakashi, Naruto

Genre : Adventure, Action, Hurt-comfort, Mystery, Angst, Drama, Romance

Warning genre : Warning : Multipairing inside, dedicated for Hinata centric, Bloody, Danger, Inspiration from Comic and Imagination.

.

.

xXXxXXx

Kadang-kadang orang yang kau anggap baik belum tentu baik

Justru orang yang kau anggap jahat sebenarnya adalah orang yang baik

xXXxXXx

.

.

"Aku tidak akan mati." jawaban mengejutkan datang dari Sasuke. Ya, kali ini dengan segala kesombongan dan keangkuhan dari seorang Uchiha diperlihatkannya. Bukan lagi ekpsresi lemah dan menyedihkan. "Aku tidak akan mati sebelum memberi mereka semua pelajaran." tukasnya. "Kebencian dan dendamku tidak akan musnah begitu saja. Mereka, orang-orang Konoha akan merasakan penderitaan sepertiku. Bagaimana rasanya kehilangan orang-orang yang mereka sayangi. Akan kuajarkan pada mereka!"

Kabuto menyunggingkan senyumnya ke atas. "Lalu? Setelah kau berhasil membunuh mereka. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"

Tanpa berpikir panjang, Sasuke lantas menjawab, "Merestorasi kembali klan Uchiha."

"HOO, menarik sekali. Dengan siapa kau berniat untuk membangkitkan kembali klan Uchiha? Apakah dengan Karin Uzumaki ataukah dengan Haruno Sakura?"

"Aku tidak perlu memberitahumu."

Seringai Kabuto makin melebar, "Malu? Heh... tak kusangka seorang Uchiha sepertimu bisa malu juga untuk memilih calon pendamping hidup. Benar-benar sulit untuk dipercaya. Apa kau benar-benar sudah tidak laku? Atau jangan-jangan kau adalah seorang gay seperti yang digosipkan oleh ora-"

Belum sempat Kabuto menyelesaikan candaan gilanya, Sasuke lebih dulu mengaktifkan sharingannya dan mengarahkan pedang kesayangannya ke leher pria tersebut. "Tidak peduli apapun pikiran kotormu tentangku. Lebih baik kau tarik kata-katamu tadi. Sebelum aku sempat berubah pikiran untuk memasung kepalamu dengan pedang Kusanagi ini!" perintah Sasuke dengan nada tinggi bercampur marah."

Mau tidak mau Kabuto hanya mengangguk pasrah. Ya, dia datang kemari bukan untuk mati konyol. Namun untuk mengajak Sasuke sesuatu yang lebih penting.

Sasuke kembali menyarungkan pedangnya. "Kalau tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, CEPATLAH PERGI! Kau membuang waktuku!" ujarnya sembari berbalik untuk melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda.

"Bagaimana dengan Hyuuga Hinata?"

Mata Sasuke yang semula menutup, seketika itu juga terbuka. Dari balik tempat tidur ia berseru, "Cepatlah pergi!"

Tidak mau melewatkan kesempatan yang ada Kabuto berusaha mengorek informasi yang begitu ingin diketahuinya. "Hyuuga Hinata, gadis dari Souke Hyuuga. Seorang heiress terhormat dari keluarga bangsawan Hyuuga. Kalau informasiku tidak salah kalian teman satu akademi sekaligus rival dalam klan terkuat Konoha. Tidak pernah terlihat berbicara karena tekanan dari para tetua. Gadis lemah yang menyukai Naruto Uzumaki, salah satu dari temanmu dari kelompok tujuh. Wah, tak kusangka ada juga gadis yang menyukai siluman rubah itu...! Pemalu dan tertutup teman satu timnya adalah Shino Aburame dan Kiba Inuzuka. Guru pembimbingnya adalah Kurenai Yuuhi namun sekarang absen dan mereka menjalani misi seorang diri..."

Sasuke terpaksa bangkit dari tidurnya, "Tch, sepertinya kau benar-benar ingin mengganggu tidurku, Kabuto!"

"Aku bukannya ingin mengganggumu. Aku hanya penasaran. Apa maksud dari ucapan Madara yang mengatakan kalau kalian bertiga adalah teman sepermainan. Setahuku hubungan Hyuuga dan Uchiha itu dilarang. Beberapa kali kupergoki kau tengah menengoknya ketika di rumah sakit dulu. Baru-baru ini aku juga tahu kau babak belur habis dihajar olehnya." Mata Kabuto seketika itu menajam. Dengan hati-hati ia menanyakan pertanyaan selanjutnya, "Sebenarnya... ada hubungan apa diantara kalian berdua?"

Tubuh Sasuke sedikit menegang mendengar pertanyaan frontal dari pria berkacamata itu. Ia tahu Kabuto bukanlah pria bodoh. Jika ia bertanya, mau tidak mau ia harus menjawab dengan jujur. Karena sedikit kebohongan yang diucapkan dari mulutnya, pria tersebut akan tahu. Dan jika itu terjadi, sampai ke neraka sekalipun pria tersebut akan mengejarnya untuk mendapatkan keterangan yang akurat.

"Dasar mata-mata menyebalkan." Sasuke menggerutu.

Sasuke menghela nafas, ia benar-benar tidak ingin menjawabnya. Pembicaraan mengenai gadis Hyuuga itu hanya akan menambah kesedihannya.

"Tunangan..."

Kabuto mengerutkan keningnya, "Apa kau bilang tadi?"

Sasuke mengulang kalimatnya, "Gadis Hyuuga itu... Dia adalah tunanganku."

xXXxXXx

Berlari. Hinata terus berlari. Tanpa perlu khawatir akan tersesat, ia terus mempercepat langkah kakinya. Memaksa gerak otot dan seluruh anggota badan yang dimilikinya untuk menarik paksa korbannya. Mencoba menjauh, demi keselamatan teman-temannya.

Hinata takut. Ia takut Kuro akan benar-benar membunuh Naruto dan Kakashi. Meskipun selama ini senseinya -Kuro- selalu bersikap kasar dan kejam padanya. Namun tidak pernah sekalipun ia sampai menyakiti orang lain selain dirinya.

Kejadian tersebut bermula ketika dirinya menyetujui ajakan dari Naruto untuk makan bersama.

Pada mulanya semua berjalan lancar. Sampai Kakashi-sensei datang, lalu Kuro memintanya untuk berlatih bersama. Situasi memanas ketika Naruto dan juga Kakashi-sensei tidak menyetujui permintaannya tersebut, malah memaksanya untuk tetap makan bersama mereka.

Saat itulah puncak ketegangan itu terjadi, Kuro memberitahu posisi keberadaannya. Cakra monster miliknya mendadak bangkit dan menakuti orang-orang. Saat itu terjadi hanya beberapa detik namun sanggup membuat kaku orang yang merasakannya.

Mendadak seluruh tubuh Hinata merasa membeku sesaat, namun kesadarannya mengambil alih, sebelum Kuro sempat melukai para penduduk, Hinata menarik tangan Kuro dan membawanya sejauh mungkin keluar desa. Hingga akhirnya ketika tersadar mereka sudah jauh berada diluar desa, masuk menuju sebuah hutan kematian. Tempat yang menjadi ujian kedua baginya ketika Hinata masih berstatus sebagai genin.

"Sekarang, bisakah kau melepaskan tanganku, Hyuuga?" suara baritone dari Kuro memaksa Hinata untuk kembali kedalam realita. Cepat-cepat gadis itu melepaskan tangan senseinya sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Tepat setelah Hinata melepaskan tangannya, Kuro dengan cepat menyambar dan mencekik Hinata sehingga gadis tersebut tidak sempat untuk menghindar.

Suara benturan dengan pohon terdengar begitu kerasnya sehingga membuat takut burung-burung yang hinggap di sekitarnya. Kuro tidak menghiraukannya, saat ini pikirannya hanya satu, yaitu gadis Hyuuga yang ada didepannya. Gadis tersebut begitu terkejut dan mengerang kesakitan. Ini bukanlah kali pertama Kuro menyiksanya, oleh karena itu Hinata hanya tetap diam. Tidak membalas sama sekali. Karena ia tahu senseinya itu tidak akan suka apabila Hinata melawan perintahnya.

Mengabaikan rasa sakitnya, Hinata hanya pasrah membiarkan Kuro berbuat sesukanya. "Apa kau tahu, Hyuuga? Hari ini kau melakukan tiga kesalahan besar." desis sang iblis. "Yang pertama, kau berani MENGACUHKANKU ketika aku sedang berbicara. Yang kedua kau berani MENGHALANGIKU untuk menghabisi mereka berdua. Dan yang ketiga..."

Kuro merasakan ada perasaan aneh ketika tangan itu menyentuhnya.

"Yang ketiga..." ulang Kuro dengan nada yang semakin meninggi. "Kau berani bersikap kurang ajar pada iblis sepertiku." Kuro mempererat cengkramannya. Ia benar-benar marah saat ini.

Dengan penyebab yang sama sekali tidak bisa dimengerti.

Kali ini bukan karena gadis itu yang terlalu bodoh dan lemah untuk mengikuti pelajaran yang diberikannya. Atau bukan karena kebaikannya yang selalu saja memperhatikan orang lain yang tidak harus diperhatikan. Tapi kali ini...

Karena kedekatan gadis tersebut dengan guru bermasker itu.

"Tidak mungkin!" umpatnya kesal.

Tidak... Itu tidak mungkin! Ia tidak mungkin cemburu karena kedekatan mereka berdua. Seratus persen tidak mungkin. Mata merah miliknya berganti warna menjadi kuning keemasan. Tatapan nyalang seekor predator diberikan kepada korbannya.

Ia yang seorang iblis terhormat... tidak mungkin jatuh cinta pada seorang manusia. Makhluk yang dianggapnya sangat hina dan tidak lebih dari sekedar hama pengganggu.

"K-kuro sensei..." Hinata mencoba memanggil senseinya. Namun hanya cengkraman dan pelototan mata tajam yang diterimanya. Ini seperti bukan sensei yang dikenalnya. Hinata merasakan itu. Sejahat-jahatnya Kuro ia tidak akan pernah mencekik lehernya lebih dari dua menit. Namun ini sudah lewat lima menit, Kuro belum juga melepaskannya. Hinata merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.

Mata merah Kuro yang telah berganti warna memancing rasa ketakutan yang amat dalam di hati Hinata. Kalau Senseinya itu tengah berniat untuk membunuhnya. Mata Hinata seketika itu melebar.

"Bunuh...!" desis tajam dari Kuro menggelitik indera pendengaran sang Hyuuga. "Bunuh!" ulangnya lagi, "Bunuh.." bagaikan mantera ampuh Kuro menekan tubuh Hinata hingga jatuh tersungkur, ujung-ujung kukunya berubah panjang. "

Bunuh dia... Pangeran iblis..."

Pandangan Hinata seketika mengabur. Air mata miliknya jatuh perlahan. Ia menangis. Butir demi butir air mata terus turun hingga membasahi kedua pipinya. Kali ini Hinata yakin, Kuro akan membunuhnya.

0-0-0

Sepasang mata berwarna merah menyala di tengah kegelapan. Hawa cakra yang begitu mengerikan dapat dirasakannya. Cakra ini... cakra milik seseorang yang tidak asing lagi baginya. Meskipun dalam kungkungan sangkar bersegel FUU yang ditempatinya sekarang, monster itu masih bisa merasakan aura aneh di sekelilingnya.

Kurama Kyuubi, siluman rubah berekor sembilan yang sangat ditakuti di desa. Muncul enam belas tahun yang lalu, menghancurkan dan membunuh sebagian besar penduduk desa. Karena kekuatannya yang begitu hebat itulah, Hokage keempat harus rela mengorbankan nyawanya untuk menyegel sang rubah ke tubuh Naruto, putra semata wayangnya dengan Kushina.

Membuatnya harus rela berbagi tubuh dengan bocah pirang yang bercita-cita menjadi Hokage kelak. Terpaksa membagi kekuatannya untuk bocah lemah yang begitu ingin mengejar seorang teman yang suatu hari nanti menjadi musuh baginya.

Sekelilingnya mendadak gelap. Kyuubi meyakini saat ini bocah yang menjadi pemilik tubuh ini sedang tidak sadarkan diri. Rubah itu tidak ambil pusing jika mengingat suatu saat kapanpun dan dimanapun Naruto akan menemui musuh yang terlampau kuat.

Namun ini bukanlah sembarang musuh. Meskipun berada jauh di dalam hati Naruto, Kyuubi bisa merasakannya. Cakra besar yang selevel dengan cakra miliknya. Bahkan jauh lebih besar.

Tidak mungkin.

Mata Kyuubi seketika membelalak. "Tidak mungkin... Orang itu seharusnya sudah dipenjara beratus-ratus tahun yang lalu oleh Rikudou Sennin terdahulu. Tidak mungkin ia bisa bebas begitu saja." suara geraman dari sang monster bergema hingga ke pelosok ruangan.

Menggunakan cakra miliknya, Kurama menembus sel penjara untuk menemukan sang pemilik tubuh.

Jika benar cakra tersebut adalah milik orang itu. Bukan hanya Konoha yang terancam bahaya namun juga seluruh penduduk dunia. Meskipun Kurama tidak peduli pada nasib mereka semua, mau tidak mau dirinya juga merasa khawatir. Karena satu hal yang ia takutkan keberadaan orang itu akan memancing... kedatangan monster yang sebenarnya.

"Naruto..." Kurama berteriak, "BANGUN KAU BOCAH!"

0-0-0

Seorang pria tinggi berpakaian layaknya ANBU nampak sedang berlari menuju gedung Hokage. Wajahnya yang mirip dengan Hokage terdahulu tidak bisa terlihat karena topeng musang yang dikenakannya. Bukan salahnya karena memang kenyataanya topeng dan pakaian seragam yang dikenakannya merupakan peraturan langsung dari Hokage terdahulu yang wajib untuk dipakai.

Mengabaikan amarah dari penduduk desa yang mengatainya tidak sopan karena seenaknya memanjat atap rumah-rumah mereka yang baru saja diperbaiki, tidak membuatnya menyesal sama sekali. Ia akan lebih menyesal apabila terlambat memberitahukan informasi itu pada Hokage Kelima.

Tanpa terasa ia sudah mencapai gedung Hokage. Dengan langkah terburu ia bergegas mencapai ruang Hokage.

BRAK

Terdengar suara gebrakan dari arah dalam ruangan. Tsunade menggebrak meja dengan keras. Tidak peduli akibat yang ditimbulkannya itu sanggup membuat takut orang-orang di sekitarnya. Namun sayangnya hal itu tidak mempengaruhi perempuan yang menjadi tersangka kali ini.

"Kuulangi sekali lagi. Aku bertanya padamu... Karin! Katakan, apa tujuan sebenarnya Sasuke berkomplot dengan Madara. Katakan yang sejujurnya, atau aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu seperti meja ini!" ancam Tsunade.

Karin yang mendengar ancaman dari Tsunade balas menjawab, "Bukankah sudah kukatakan, Sasuke ingin menghancurkan Konoha. Selebihnya aku tidak tahu."

"Apa motif dibaliknya?"

"Mana kutahu. Tanyakan saja sendiri padanya."

Sudah cukup.

Kesabaran Tsunade benar-benar sudah diambang batas. Jangan salahkan dirinya yang sudah berpuluh-puluh kali bersabar menanyai wanita berkacamata ini. sebagai pengganti dari Ibiki Morino yang ternyata juga tidak bisa mengorek informasi dari sang tersangka.

Tsunade sudah siap mengarahkan tinju andalannya sebelum sempat dihentikan oleh Shizune dan Sakura. Namun mendadak mereka semua terdiam dan membeku tatkala merasakan cakra yang luar biasa kelam dan dahsyatnya datang dari luar gedung Hokage.

"A-apa itu?" Karin bertanya dengan rasa takut luar biasa. Kemampuannya untuk mendeteksi cakra dan keberadaan pemiliknya itu benar-benar membuatnya takut kali ini. Sudah berkali-kali ia dimintai tolong oleh Orochimaru maupun Sasuke untuk mendeteksi keberadaan seseorang. Namun tidak pernah sekalipun ia merasakan hawa cakra semengerikan orang ini.

Benar-benar gelap, besar dan menakutkan.

Melebihi hawa bijuu.

"Karin!" teriak Tsunade dan Sakura. Mereka berdua lekas menolong dan memeriksa keadaan Karin yang mendadak tidak sadarkan diri. Situasi bertambah panik manakala ada seorang ANBU yang menerobos masuk keruangan. "G-gawat, Tsunade-sama!"

"Ada apalagi?" Tsunade bertanya dengan nada kasar. "Kau tidak bisa lihat sekarang aku sedang sibuk, Yamato?"

ANBU bertopeng musang itu membungkuk minta maaf, seraya melepas topengnya. "Maafkan saya, Godaime-sama. Tapi ada masalah yang lebih penting."

"Apa itu?"

"Naruto.."

Tsunade mengerutkan dahinya, "Ada apa dengan Naruto?"

"Naruto dan juga penduduk desa... mereka semua tidak sadarkan diri." jelasnya.

"APA KAU BILANG?"

0-0-0

Kakashi makin mempercepat langkahnya, jika intuisinya tidak salah. Pemilik suara itu adalah orang yang sama dengan yang pernah menolong Hinata tempo hari. Pria berpakaian serba gelap dengan iris mata berwarna merah darah. Nada suaranya, tekanan cakra yang sama, hampir seratus persen akurat. Orang itu adalah guru misterius yang selama ini mengajar Hinata diam-diam.

"Pakkun!" panggilnya, "Dimana letaknya?"

Anjing milik Kakashi tersebut berbicara, "Jaraknya tidak jauh lagi. Sekitar setengah kilometer dari tempat ini. Hutan Kematian Konoha. Tempat ujian Chunin biasa berlangsung!"

"Baiklah. Ayo!" Kakashi berdoa dalam hati, "Semoga kau selamat, Hinata!"

"Benar-benar merepotkan."

Kalimat yang selalu ia ucapkan kembali terlontar dari mulutnya. Ya, Shikamaru Nara, seorang chunin Konoha yang kini telah menjadi salah satu ahli strategi perang aliansi desa. Terlihat berjalan sambil sesekali menguap. Dia sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali ia bisa berjalan sesantai ini.

Semenjak kekacauan yang terjadi di pertemuan para Kage, dan ditambah lagi informasi dari Madara Uchiha yang mengeluarkan ultimatum untuk menghancurkan seluruh desa, membuatnya terus bekerja rodi siang dan malam. Melupakan kebiasaan lamanya yang selalu bermalas-malasan dan hanya bisa tidur sesembari memandang awan.

Hanya menjadi ahli startegi desa saja, sudah merepotkan begini. Apalagi menjadi Hokage? Sekali ini dia mengingat kata-kata terakhir dari almarhum gurunya, Asuma yang mengatakan dirinya cocok untuk menjadi Hokage. Yang benar saja.

Shikamaru menghela nafas panjang.

Untuk kali ini sepertinya menjadi ahli strategi lebih cocok baginya ketimbang Hokage.

Shikamaru mengetuk pintu perlahan, menunggu seseorang dari dalam membukanya. Namun dia begitu terkejut ketika melihat ada banyak orang yang berkumpul di ruang Hokage. Bukan hanya Ino dan Chouji namun juga Lee, Neji, Maito Guy, Sakura, Sai, Hibiki, beberapa jounin lain dan ANBU. Terlihat rupa mereka yang memucat seketika, Shikamaru terlihat bingung, memandang wajah mereka satu per satu.

"KATAKAN ITU TIDAK BENAR! YAMATO!"

Tsunade menggebrak mejanya, memaksa Yamato untuk mengaku.

"Mendokusai.." Shikamaru menarik nafas panjang.

Sepertinya kedatangannya hari ini akan makin melelahkan. Shikamaru menyesal ia menolak permintaan Temari untuk menunda kepulangannya ke Konoha selama sehari. Yah, kali ini sepertinya tugasnya akan semakin berat. Melihat wajah mereka semua, Shikamaru yakin. Tidak lama lagi ia akan diserahi tugas yang tidak ringan.

0-0-0

Darah itu kembali mengalir. Hinata merasakan putaran dunia semakin melambat. Di hadapannya kini terbaring sesosok tubuh yang tak bernyawa. Bekas sayatan dan tusukan pedang masih tersisa, terukir rapi di seluruh anggota badannya. Hinata tidak percaya ia baru saja membunuh seseorang.

Alunan bunyi itu semakin keras, memaksanya terus mendekat. Kesadarannya mulai mengambi alih, detik kemudian ia mulai menghampiri, mencoba mengenali orang tersebut. Dengan ketakutan dan kepanikan luar biasa ia memutarkan kepalanya. Mencoba melihat pemilik wajah tersebut.

Hinata di umurnya yang baru menginjak lima tahun, harus merasakan penderitaan yang luar biasa, kehilangan seorang ibu.

- Kenyataan yang terselubung akan mulai terbuka-

Lehernya kini telah membiru. Kuku panjang dari sang iblis menorehkan luka lamanya hingga menembus kulit dan menimbulkan sensasi getir yang tidak pernah ada selama ini. Membuatnya kembali meronta-ronta karena ingatannya akan sang ibu tercinta.

Pertemuannya dengan Kuro sedikit demi sedikit mulai meruntuhkan tiang kebohongan dalam diri Hinata. Membuatnya sedikit demi sedikit mengingat akan kehidupan masa lalunya. Peristiwa dan tragedi yang ingin dilupakannya hingga membuatnya begitu sulit untuk menerima sebuah kekuatan.

Sesuatu yang lebih gelap dibandingkan malam.

Kegelapan.

Kegelapan yang ada dalam dirinya bangkit begitu saja. Mencerai beraikan aura lemah yang ada dalam dirinya. Memaksa bertarung dengan seseorang yang lebih kuat dan lebih berbahaya dibandingkan dengan dirinya.

Dua orang yang terikat jadi satu karena kegelapan yang mereka bagi bersama.

"Bunuh..." Kuro menyerangnya dengan kuku taringnya, namun sebuah seruan kecil menghentikan gerakannya.

"Nyorai!"

Simpul berbentuk kegelapan mulai melilit tubuh sang iblis. Membuat sang korban bisa lepas untuk beberapa saat. Wajah Hinata yang semula ketakutan berubah dingin. Bola matanya kian menggelap. Seringai tipis tersungging dibibirnya. Untuk kedua kalinya ia membiarkan kegelapan mengambil alih tubuhnya. Kali ini pastikan tidak akan gagal.

Secepat kilat, Hinata mengambil ancang-ancang. Menggunakan cakra miliknya dan membentuk bola besar di tangannya yang kemudian diarahkannya kepada Kuro yang tidak bisa bergerak. Dan kena... pria tersebut terhempas dan jatuh terguling-guling ratusan meter darinya.

Senyum keji mewarnai bibir Hinata. Namun seketika itu juga menghilang tatkala melihat Kuro-sensei bangkit dan dari tubuhnya keluar cakra gelap yang seketika itu menelan simpul Nyorai yang mengikatnya. Tidak hanya itu luka besar yang ditinggalkan oleh jurus Hinata, perlahan-lahan mulai menutup dan sembuh seketika.

Hinata tertegun sesaat. "Bagaimana bisa..."

"Terlalu lambat!" kemunculan Kuro dari belakang memaksa Hinata untuk fokus pada pertarungan. Ia berhasil menghindar dari tendangan kuat senseinya. Dan memaksa dirinya untuk bersalto kebelakang untuk mempertahankan diri. Kuro menyeringai, dengan telunjuknya ia menciptakan jurus nyorai berelemen kayu yang muncul tiba-tiba.

Melumpuhkan gerakan Hinata dan mengunci seluruh cakra gadis itu. "Tidak! Lepaskan aku!" teriak Hinata.

Kuro makin mendekati Hinata. Mata kuning keemasannya masih dalam keadaan aktif. Sorot matanya yang tajam dan dingin makin terlihat menyeramkan di mata Hinata. Seketika itu juga kegelapan dalam diri Hinata berangsur-angsur menghilang sebelum akhirnya kembali seperti semula.
Ketakutannya pada Kuro semakin bertambah melihat Kuro mendekatkan wajahnya padanya.

Hinata merasakan jantungnya terpompa semakin cepat. Deru nafas pria tersebut dapat dirasakannya. Jemari Kuro perlahan-lahan menyentuh pipinya kemudian turun menyentuh bibirnya. Sorot mata yang dingin itu berubah hangat. Mata kuningnya menghilang berganti warna menjadi merah.

Hanya dalam hitungan detik, Hinata terkejut menemukan dirinya telah berciuman dengan Kuro.

(~)

Chapter nine complete

To be continued

(~)


Author: Terima kasih atas perhatian para reader sekalian yang sudah bersedia memfollow fic saya ini. Untuk berikutnya saya usahakan untuk tidak terlalu lama updatenya. Untuk penyelesaian fic-fic selanjutnya anda bisa lihat di profil saya. Sekaligus promosi untuk fic-fic saya berikutnya.

Harap chapter ini tidak mengecewakan.

Untuk OMAKE mungkin akan saya tiadakan. Karena chapter-chapter selanjtnya akan mulai menginjak inti dari cerita.

Singkat kata, tetap follow dan review cerita ini ya. Dukungan kalian menjadi penyemangatku.

Salam

Lightning Chrome