Disclaimer : Persona, SMT © ATLUS.
WARNING!
OOC's, Typo(s),Persona AU. Semua berlatar belakang Indonesia (karakter, tempat, etc.), adanya perkataan kasar dan kotor, Keterbatasan bahasa, pengunaan kalimat yang terkesan berulang, abal, dan masih banyak lagi kecacatan yang berbentuk ketidak-sempurnaan yang saya lakukan sebagai Author.
.
.
— PERSONA : Ethereal Innocence—
— Chapter IX : Basket Team —
.
.
Gak suka?
.
Gak usah baca.
.
.
Friday, August 4
Early Morning
"Selamat pagi, Fadil!" Eli berkata ketika aku turun untuk sarapan. "Kudengar ekstra basket akan diadakan sore nanti. Apakah kamu akan ikut?"
"Aku belum yakin," kata Fadil.
"Begitukah? Bagaimana kamu mencobanya terlebih dahulu," kata Eli. "Mungkin kamu akan menyukainya." gadis berambut blonde itu tersenyum tipis kearahnya sebelum akhirnya menoleh kearah Annisa, "Benar juga, Annisa juga anngota basket tahun lalu, bukan?"
Annisa tampak terkejut, "H-Huh? Ya.." dia menoleh kearah Fadil dan tersenyum kecil, "Kita bisa datang bersama-sama, bagaimana kamu setuju?"
Fadil terdiam sejenak, tak lama dirinya mengangguk kecil. Setuju dengan perkataan gadis berambut cokelat muda itu.
Morning
Hari ini adalah pelajaran olahraga, pak Aris yang mengajar mereka. Fadil kini duduk menatap beberapa murid yang sedang bermain dilapangan Voli dan lapangan futsal—yang terletak besebelahan dengan lapangan Voli. pemuda itu duduk sambil meluruskan kakinya, beberapa menit yang lalu seluruh murid dikelasnya selesai melakukan senam dan lari sebanyak 3x putaran dan itu cukup membuat kakinya nyeri.
"FADIL, AWAS! "
Fadil terbangun dari lamunannya, sebuah suara teriakan seseorang berhasil membuat pemuda itu menoleh, dari arah kirinya dapat ia lihat sebuah bola basket yang tengah melayang cepat kearahnya. dengan spontan tangan pemuda itu menangkap bola itu, dan untungnya dia berhasil menangkap bola itu sebelum mengenai wajahnya.
"WOAH! kamu gak apa kan?!"
Dapat dia dengan suara yang persis dengan sebelumnya, pemuda itu menatap darimana asal suara itu dan mendapati seorang siswi, dia berambut cokelat muda dan bermata hijau, sama seperti yang lainnya, gadis itu juga memakai baju Olahraga. Gadis itu adalah Annisa, dapat ia lihat gadis itu berjalan mendekatinya—mengabaikan teman sekelasnya yang sepertinya sedang memarahi kelakukan ceroboh gadis itu, " Sorry, kamu gak apa kan? " tanyanya, pemuda itu tampak mengangguk menjawabnya, dapat ia lihat gadis itu tersenyum, " Bagus deh! "
Annisa tampak senang, "Tapi, tangkapanmu bagus banget! Seriusan deh!"
Fadil hanya diam mendengar perkataan gadis itu, tak lama terdengar suara salah satu siswa mengoda mereka, wajah Annisa tampak memerah mendengar perkataan mereka, dia menoleh kearah teman-temannya, melempar bola basket yang baru pemuda itu tangkap kearah mereka. Tak lama, lapangan itu dipenuhi oleh tawa seluruh murid yang berada disana.
Fadil hanya diam, menatap kelakuan gadis itu dengan senyuman kecil diwajahnya, sebelum akhirnya kembali datar karena melihat Ridwan yang terlihat menjauh dari mereka.
"…"
After School
Ujian untuk tim basket memang menyenangkan, tetapi melelahkan. Annisa tampak natural, dan terlihat sangat hebat memainkan bola basket. Entah mengapa, dia terlihat berbeda dengan Annisa yang dia kenal di kos-kosannya.
Ada sekitar sepuluh lelaki dan sepuluh perempuan hadir. Setelah satu setengah jam pertandingan dan latihan, pelatih memanggil berhenti untuk berlatih.
"Oke! Kerja bagus, semuanya! Aku akan membuat daftar siapa yang membuat tim di Metabook. Semua orang yang ada di tim, kita bertemu pada hari Rabu dan Jumat setelah sekolah."
Tak menunggu begitu lama, ada sebuah pesan di Metabook, dia memencetnya dan terkejut menyadari dirinya masuk kedalam tim.
"Itu tadi menyenangkan!" Kata Annisa. "Selamat masuk kedalam tim!"
"Terima kasih," kata Fadil.
"Aku akan mandi," kata Annisa. "Ugh, aku berkeringat dan sangat kotor!"
Dia tidak berkeringat sama sekali ...
Annisa meninggalkannya sendiri, saat ini Fadil berkeringat cukup banyak. Dia duduk di tanah untuk mengatur napasnya setelah bermain cukup lama.
"Kamu ingin minum sesuatu yang dingin?"
Fadil melihat ke atas. Seorang pemuda berdiri di dekatnya, tangan kanannya menawarkan sebotol air mineral. Dia berkulit kuning langsat dan mata emerald. Rambutnya berwarna kuning, Dia mengenakan kemeja putih lengan pendek dengan kerah merah dan celana olahraga biru kuning, serta sepatu putih dan kaus kaki merah.
Dia duduk disebelahnya. "Aku manajer tim, Zidan Alfarizi, panggil saja Zidan." Dia menyodorkan botol itu pada pemuda itu, "Ambilah. Kamu kelihatan kelelahan."
Fadil menerimanya. "Terima kasih," katanya. "Kamu manager tim? Aku tidak tahu jika tim basket disini mempunyai manager."
Zidan tertawa pelan, "Ya, aneh bukan? Tapi ya, aku juga baru menjadi manager di tim basket tahun ini," kata pemuda itu menatap lapangan basket.
Zidan kembali menatapnya, "Ngomong-ngomong, aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, apa kamu anak baru?" Fadil mengangguk, " Oh? Kelas berapa?"
" Dua, jurusan Multimedia." jawab Fadil.
"He.. Dua toh, wah, jadi kamu adik kelasku. " ucapnya sambil tersenyum kecil, Fadil hanya diam. Dia tidak menyangka kalau dia akan bertemu kakak kelasnya.
"ZIDAN ALFARIZI!" suara seorang gadis meraung. Seorang gadis jangkung dengan kulit sawo matang. Rambut lavender gelapnya disapu dengan anggun di depan, sementara di belakangnya diikat menjadi kuncir kuda panjang. Dia mengenakan pakaian olahraga berwarna biru kuning.
Zidan menghela nafas panjang mendengar suara teriakan itu.
"Apa yang kamu lakukan duduk disini, ketika ada pekerjaan yang harus dilakukan?" bentak gadis itu. "Ada bola basket sekolah perlu dimasukkan kembali ke lemari peralatan, dan kamu bahkan tidak memberikan ku minuman yang ku pesan!"
"Maaf, maaf." ucap Zidan. "Aku juga butuh istirahat, jadi bersabarlah. Lagipula," dia menyeringai, "Gak baik loh, teriak-teriak kayak gitu, keriputnya banyak."
"K-Kau!" sebelum gadis itu sempat berteriak, Zidan langsung berlari pergi. Meninggalkan gadis itu dan dirinya disana. Dapat dia lihat, gadis berambut lavender itu menghela nafas sejenak sebelum akhirnya mengalihkan perhatiannya kearah Fadil, membalik poninya. "Kamu punya keterampilan yang sangat bagus. Sudah lama bermain?"
"Pertama kali, sebenarnya."
"Oh, benarkah? Oh, aku Iva Mayasari, dan aku kapten tim basket perempuan." Dia merapikan celananya. "I'm the Ace of Karman Amat, hmhm, mmkay? Temui saja aku jika kamu butuh pelajaran, hmhm, mmkay."
"….Ya, tentu.. Akan ku ingat.."
Zidan datang secara tiba-tiba, memberikan minuman dingin tepat di pipi gadis itu. Iva berteriak, gadis itu langsung berbalik dan mengeluarkan geraman kesal. "ZIDAN ALFARIZI! KAU! BERANINYA KAU MEMPERMALUKAN DIRIKU!"
"Ya, Ya.. Ini sudah kubelikan minumanmu."
"Tch," Iva mengerang. Dia mengambil paksa minuman itu dan pergi ke kamar mandi.
Sambil mengerutkan kening, Fadil berdiri. " Apa dia selalu begitu?"
"Ya, begitulah. Tapi kamu tidak perlu mengawatirkannya," katanya. "Lagipula, aku adalah manager di tim ini.. Pantas aku akan bertemu dengan orang seperti dia.."
"Kamu tidak jengkel?" tanya Fadil,
"Jengkel?" Zidan berfikir sejenak, "Nah, aku biasa saja.."
Fadil terdiam sejenak, sebelum Zidan pergi membereskan peralatan kegiatan basket disana, Fadil memutuskan untuk membantunya. Awalnya Zidan terlihat tidak ingin, tapi Fadil memaksa. Membuat pemuda itu membiarkan dirinya membantu.
Setelah selesai membantunya, Zidan segera berterima kasih kepada pemuda itu, "Thanks, aku tidak menyangka akan selesai secepat ini," katanya.
"Tidak masalah," katanya. "Aku senang bisa membantu kakak kelasku."
"Kamu.. " Zidan terdiam. Dia melihat ke bawah. "Aku... Aku benar-benar terharu!" tiba-tiba saja dia memeluk pemuda itu, membuat Fadil benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Tak berapa lama kemudian, dia melepaskan Fadil dan berkata, "Siapa namamu? Kamu belum memberi tahu namamu bukan?"
"F-Fadil Mahardhika."
"Oh! Mahar? Oke!" Zidan menjabat tangan Fadil, "Semoga kita bisa menjadi teman baik ya!"
Thou art I, and I am thou...
Thou hast established a new bond...
It brings thee closer to the truth...
Thou shalt be blessed when creating
Personas of the Magician Arcana...
The Magician RANK 1
Fadil hanya mengangguk pelan melihatnya, setelah beberapa lama kemudian, dengan bantuan Fadil, Zidan selesai mengerjakan semuanya dan pergi sebelum Iva keluar dari ruang ganti, dan Fadil mandi dan pulang.
Evening
"Whoo!" Geral berteriak gembira saat masuk kedalam kos-kosan, meregangkan tubuhnya. "Akhirnya libur juga!" Dia menjatuhkan diri di sofa diruang tamu atas dan menyalakan TV. "Waktunya menonton televisi!"
"Kamu tidak berencana untuk menghabiskan akhir pekan tanpa melakukan apa-apa, kan?" Eli bertanya.
"Tentu saja tidak," kata Geral. "Aku akan bersenang-senang besok!" Dia mengganti saluran. "Tapi malam ini, aku akan bersantai di depan TV."
Annisa mengangkat alis. "Yah.. kurasa bersantai setelah seminggu penuh tekanan di sekolah menarik.." Dia menatap Fadil. "Bagaimana denganmu, Fadil? Ada rencana?"
"…Tidak juga," kata Fadil. "Membaca, mendengarkan musik... Dan mungkin besok aku akan pergi untuk melihat-lihat di toko olahraga." Fadil tersenyum. "Aku masuk dalam tim."
"COOL!" Geral bersorak.
Fadil masuk ke kamarnya dan menganti bajunya sebelum makan malam. Setelah makan malam, dia duduk di diruang tamu atas bersama yang lainnya. Annisa duduk sambil memakan cemilan di tangannya, bersamaan Geral yang duduk disebelahnya, sementara itu Eli duduk sambil memangku sebuah buku novel.
Sisa malam berlalu dengan tenang. Fadil kembali kekamarnya, pemuda itu kini merebahkan dirinya ke kasur, menggunakan earphonenya dan menyalakan musik di ponselnya sampai akhirnya dia menutup matanya dan tidur.
Velvet Room
"Selamat datang di Velvet Room."
Igor duduk di serbangnya, Saville di sebelah kirinya. Saville memegang buku tebal yang diikat kulit.
"Saya perhatikan Anda sudah mulai menjalin ikatan dengan orang-orang di sekitar Anda. Ikatan ini akan membantu Anda mengembangkan potensi Anda.
"Ketika kita bertemu nanti, anda sudah dapat datang kemari atas kehendak anda sendiri. Anda akan menemukan banyak Persona yang tidur di dalam lautan jiwamu. Di sini, di tempat ini, saya akan membantumu membangunkan Persona baru anda melalui ikatan yang anda buat, pada akhirnya, mereka akan membantu Anda membuka jalan untuk membangun Persona yang lebih kuat."
"Dan ketika anda telah membangun persona baru, bawa mereka padaku, dan aku akan menggabungkannya menjadi Persona yang lebih kuat." Saville berbicara untuk pertama kali, seingat pemuda itu.
"Buku tebal ini adalah panduan menuju lautan jiwamu. Mencatat pertumbuhan dibatinmu adalah peranku."
"Anda akan segera memahami semua ini... kembalilah kemari ketika anda mendapatkan Persona baru." Igor menyeringai. "Saya menantikan pertemuan kita berikutnya."
