Hai Minna. Ini Fic fantasi saya... hehehe memang masih agak kacau. dan udah lama ada dalam saya. cuman belum berani publish. semoga tidak bosan dengan fic gaje saya yang memenuhi fandom ini.

DISCLAIMER : TITE KUBO

RATE : M (For Safe)

WARNING : OOC, AU, GAJE, MISSTYPO, Cerita pasaran dan mudah ketebak. Segala sesuatu yang ada dalam fic ini sama sekali tidak ada yang benar. semuanya hanya fiksi belaka dengan imajinasi indah saya.

ATTENTION : Fic ini adalah fiksi belaka. apabila ada kesamaan atau kemiripan di dalam fic atau cerita lain dalam bentuk apapun itu adalah tidak disengaja sama sekali.

.

.

.

Ichigo melepaskan ciumannya dengan tergesa.

Rukia masih menggigil dan pucat. Tampaknya dia benar-benar kedinginan. Bagaimana caranya supaya Rukia bisa berhenti menggigil?

"Rukia..."

Rukia memejamkan matanya menahan gemetar bibirnya sendiri. Ichigo tak tega melihat Rukia yang seperti ini. benar-benar salahnya kenapa dia tidak melindungi Rukia dengan baik. Seharusnya dia bisa melindungi Rukia seperti janjinya. Dan sekarang dia malah membiarkan kekasihnya seperti ini karena kecerobohannya.

Sudah berapa kali Rukia menderita karena kecerobohannya?

Sudah berapa kali Rukia hampir mati karenanya?

Mengingat itu rasanya ingin Ichigo membunuh dirinya sendiri.

Ichigo merasa hujan di luar sana sudah berubah menjadi badai. Beberapa kali terdengar suara angin besar yang sepertinya bisa saja segera merobohkan pondok usang ini. Tangan Ichigo kemudian bergerak cepat membuka atasan Rukia yang basah itu. Tapi, dengan gerakan lemah, tangan mungil Rukia menghentikannya. Mata besarnya menatap sayu pada Ichigo yang masih memandanginya penuh kekhawatiran.

"K-kau... mau apa?" lirih Rukia.

"Bajumu basah. Sebaiknya dibuka dulu. Aku akan mencari kain kering yang bisa menutup tubuhmu nanti," jelas Ichigo penuh harap. Dia ingin segera mungkin melepas baju basah Rukia.

Rukia menggeleng lemah. Semakin mengeratkan tangannya di tangan Ichigo yang tadi berusaha membuka baju atasannya.

"A-aku... masih kuat. Kau... tenang saja," bisiknya lagi.

"Tolong. Demi aku Rukia. Kita tidak tahu sampai kapan hujan ini berhenti. Dan kita masih terlalu jauh menemui Hacchi untuk mengobatimu. Aku... tidak akan melakukan apapun padamu. Sungguh..."

Rukia memandang Ichigo serba salah. Bukan begitu maksudnya. Hanya saja... Rukia tidak ingin Ichigo melihat...

Rukia tetap menggeleng. Tiba-tiba airmatanya meluncur dengan deras. Dia takut... takut kalau Ichigo akan...

"Jadi... kau mau aku bagaimana? Kau akan semakin sakit Rukia..."

Kini mata Ichigo sudah memandang putus asa pada Rukia. Dia tak tahu lagi bagaimana mestinya menghadapi orang ini. Dia tahu Rukia keras kepala, sama seperti dirinya, tapi ini keadaan genting. Dia tidak mau Rukia bertambah sakit karena baju basahnya. Ini benar-benar bisa membuat kekasihnya mati kedinginan di udara seperti ini.

"Baiklah. Aku akan tunggu di luar supaya kau mau membuka bajumu. Tidak masalah jika kau ingin aku semalaman di luar. Asal kau membuka baju basahmu."

Ichigo bersiap akan berdiri dari tempat duduknya. Rukia segera menggenggam tangan Ichigo secepat mungkin. Bagaimana bisa Rukia membiarkan Ichigo menunggu di luar di saat hujan lebat begini. Dia tahu yang diinginkan Ichigo hanyalah agar Rukia melepas bajunya saja. Niatnya memang baik. Tapi Rukia juga tidak ingin Ichigo melihat...

Rukia akhirnya menyerah. Cepat atau lambat... Ichigo akan tahu ini.

Pelan-pelan Rukia membimbing tangan Ichigo untuk menarik turun kerah atasannya. Ichigo terlihat beberapa kali meneguk ludah ketika bahu putih dan mulus Rukia mulai terbuka. Rukia masih menunduk, tapi tangannya tidak melepaskan tangan Ichigo yang masih dibimbingnya untuk membuka kerah atasannya.

Kini, sebelah bahu Rukia sudah memperlihatkan sebagian tubuh mungilnya. Di dalam baju atasan itu, Rukia masih memakai kain putih yang melilit dada atas hingga perutnya. Jadi sebenarnya Rukia tidak memperlihatkan seluruh tubuhnya. Kemudian, sebelah tangan Rukia yang tidak menggenggam tangan Ichigo mulai menarik turun kerah bahu sebelah lagi. Ichigo langsung membelalakkan matanya selebar mungkin.

"Tu-tunggu Rukia! K-kau... berbalik... dulu..." ujar Ichigo salah tingkah.

Rukia semakin khawatir ketika Ichigo menyuruhnya berbalik. Ichigo langsung memalingkan wajahnya. Mungkin dia sedikit gugup jika Rukia langsung membuka semua atasannya. Padahal, Rukia tidak sepenuhnya telanjang. Yah... di jaman seperti ini, melihat tubuh gadis, apalagi Putri Mahkota, adalah sesuatu yang amat sakral. Karena seharusnya, hanya suami sah seorang gadis saja yang bisa melihat seluruh tubuhnya tanpa sehelai benang pun.

Rukia tak punya pilihan lagi. Dia hanya berharap Ichigo tidak akan melihatnya.

Rukia berbalik, dan perlahan menurunkan atasannya lagi. Sesaat dia mendengar suara Ichigo yang berdiri. Tampaknya dia mulai mencari kain kering untuk Rukia. Tampak suara kasak kusuk Ichigo yang mulai menggeledah isi pondok usang ini.

"Ada. Walau agak kotor," ujar Ichigo lega setelah menemukan sehelai kain yang sepertinya agak kotor. Tapi lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Begitu berbalik melihat Rukia yang duduk membelakanginya, Ichigo langsung tertegun.

Ada sebuah pola aneh di punggung atas gadis itu.

Seperti... bekas luka.

Ichigo segera merapat ke arah Rukia. Terduduk di depan punggung gadis itu untuk memperhatikan bekas luka itu sekali lagi. Dan ketika Ichigo menyentuhnya, betapa hancur hatinya saat itu. Ini...

"Ini... karena aku...?" gumam Ichigo tak percaya.

Bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan bekas luka ini pada punggung kekasihnya sendiri?

Hal inilah yang tidak ingin Rukia perlihatkan pada Ichigo. Rukia menahan getir hatinya. Dia berusaha untuk tidak menangis. Tapi sepertinya setelah mendengar suara Ichigo tadi, hati Rukia bertambah sakit.

Rukia berbalik dan langsung memeluk Ichigo. Menumpahkan tangisnya di bahu sang kekasihnya. Rasa sakit... sakit...

"Maaf Rukia... maafkan aku..." lirih Ichigo.

Dan ketika bibir tipis Ichigo akan berucap maaf lagi, Rukia segera membungkamnya. Menghentikan bibir itu dengan bibir tipisnya. Terus menekan bibir Ichigo dan bergerak lembut untuk menenangkan Ichigo. seharusnya dia bisa menghilangkan bekas luka ini. tapi kata tabib istana Seireitei, butuh waktu lama untuk menghilangkannya. Rukia tak menyangka bahwa luka ini akan terlihat lagi oleh Ichigo.

Rukia sesak setiap kali Ichigo meminta maaf padanya. Rukia mengerti kenapa Ichigo melakukan hal itu padanya dulu. Jika Rukia yang berada di posisi Ichigo, pasti Rukia juga tak mau mengerti dan terus berupaya membalas dendam. Tapi Rukia bersyukur karena kesalahpahaman ini tidak akan terulang lagi.

Rukia menjilat lembut bibir Ichigo. Rasa hangat menjalar pelan ke tubuh Rukia. Tangan mungilnya mengelus leher Ichigo dan memijatnya pelan. Lidah mereka akhirnya saling bertautan satu sama lain. Memberikan sentuhan nyaman yang bisa menenangkan satu sama lain. Rukia masih menutup matanya menikmati sentuhan ringan ini. ciuman itu semakin erat kala Ichigo mendekap pinggang Rukia dan membawanya ke pangkuan pemuda berambut orange ini. Rukia sepenuhnya duduk di atas pangkuan Ichigo. mereka masih melanjutkan ciuman demi ciuman itu. Rukia lebih memilih tidak melepaskan ciumannya daripada mendengar Ichigo meminta maaf terus menerus padanya.

Sejenak, Rukia melepaskan bibirnya. Ternyata, nafasnya sudah terputus sedari tadi. Ichigo menatap Rukia lagi. Merasa bersalah.

"Tidak apa-apa, Ichigo. Tidak apa-apa."

Ichigo memeluk tubuh mungil kekasihnya. Mendekapnya hangat. Kemudian mengecup bahu putih yang mulus itu.

Ichigo mengubah posisi mereka.

Kini Ichigo bersandar pada dinding pondok usang ini dan Rukia di dekapannya. Bersandar pada dada bidangnya. Ichigo sudah memberikan kain kering itu untuk menutupi tubuh depan Rukia. Gadis cantik ini bersandar begitu nyaman di pelukan kekasihnya.

"Sakit?" bisik Ichigo.

"Apa?" balas Rukia tanpa membuka matanya.

"Bekas... lukamu."

"Jangan dibahas lagi."

"Tapi―"

"Jangan... dibahas... lagi," ujar Rukia pelan.

Rukia menegakkan tubuhnya sejenak. Memandang kosong lantai kayu di depannya ini.

"Aku tidak mau mendengarmu meminta maaf dan merasa bersalah padaku Ichigo. apa kau tidak tahu itu menyakitiku? Aku mengerti posisimu. Makanya aku bisa menerima semua ini. Jadi jangan lagi―"

Kata-kata Rukia berhenti total saat dia merasakan sensasi basah di punggungnya. Sentuhan yang begitu lembut. Rukia menoleh sekilas. Ichigo mengecup punggung... bekas lukanya begitu lama. Rukia bisa merasakan bibir kekasihnya bergetar ketika menyentuh punggungnya. Dan setelah sekian lama, bibir Ichigo sudah menjauh dari punggung Rukia.

"Aku... janji akan melindungimu. Bahkan dengan taruhan nyawaku," bisik Ichigo.

"Ya..."

Sekali lagi Rukia menoleh dan mendapati bibir Ichigo sudah menyambar bibir mungilnya sekali lagi.

Tidak akan Ichigo. Selain kau... aku juga akan melindungimu dengan taruhan nyawaku.

.

.

*KIN*

.

.

Pagi sudah menjelang.

Rukia mendapati dirinya berbaring di di lantai kayu itu. Ichigo juga berbaring di sisinya dengan sikap melindungi walau mereka berdua tertidur dengan nyenyak semalam.

Ichigo sendiri tidak membuka baju atasannya dan sudah mengering di tubuhnya. Tubuh Rukia sendiri masih dibalut rapi dengan kain semalam. Begitu menoleh ke arah jendela pondok yang tertutup ini, Rukia melihat baju atasannya sudah kering.

Mereka harus sesegera mungkin meninggalkan tempat ini. Apalagi ada orang aneh yang mencoba menangkapnya.

Juga... Rukia tak menyangka, pengawal pribadi yang selama ini sangat dipercayanya bisa begitu mudah berkhianat padanya. Bagaimana bisa... padahal Rukia begitu mempercayainya sepenuh hati. Tapi...

Ichigo bersiap untuk meninggalkan pondok itu. Keadaan Rukia memang belum sepenuhnya pulih. Tapi setidaknya dia sudah lebih baik untuk bisa bergerak sendiri.

Mereka tinggal menyusuri hutan ini dan keluar dari perbatasan Juurinan dan menuju Dangai. Mungkin Shinji dan lainnya sudah pulang ke Dangai dan memulai rencana mereka. Seharusnya pihak Juurinan sedang mempersiapkan rencana yang sudah mereka sepakati.

Rukia sedikit lega ternyata Juurinan mau bekerja sama dengan Ichigo. tapi masih jadi pikirannya jika seandainya pernikahan Ichigo dengan Putri Mahkota Juurinan itu akan tetap berlangsung. Sampai saat ini Rukia belum berani bertanya hal itu. Karena dia takut jawabannya.

Dihadapkan pada pilihan sulit dan takdir yang sulit pula.

"Kau kenapa Rukia?" Ichigo menyadari mimik aneh dari gadisnya itu.

"Tidak. Tidak apa-apa..."

"Bohong. Wajahmu aneh. Apa yang kau pikirkan?"

Rukia berhenti berjalan. Lalu memandang penuh tanya pada Ichigo. Walau Ichigo tahu ada yang Rukia pikirkan, tetap saja―

"ICHIGO! AWAS!" pekik Rukia begitu melihat seseorang dengan pakaian serba hitam tiba-tiba muncul di belakang Ichigo.

Langsung saja Ichigo cepat tanggap, mengeluarkan katana-nya dan berdiri di depan Rukia untuk menjaga gadis cantik itu. Kenapa pagi-pagi begini sudah ada penyerang?

"Siapa kau?" bentak Ichigo ketika berhadapan dengan sosok tak dikenal dengan pakaian serba hitam dan penutup wajah itu.

"Kami datang untuk mengambil Putri Mahkota Seireitei!" balasnya dengan suara tegas.

Ichigo menahan katana orang asing ini kemudian mendorongnya dengan cepat. Ketika berhasil mendorongnya, Ichigo langsung menebas orang aneh itu. Dia sudah terluka. Ketika Ichigo berpikir semuanya beres, beberapa orang dengan pakaian sama datang lebih banyak. Ichigo tak bisa bertarung sementara membiarkan Rukia tanpa penjagaan. Rukia tidak punya katana-nya lagi. Karena itu Ichigo bergegas menarik Rukia dan berlari menghindari orang-orang aneh itu.

Tapi ini adalah hutan. Mau berlari kemanapun tetap tidak ada gunanya. Tangan Rukia yang digenggema Ichigo semakin dingin. Terasa gemetar juga. Ichigo semakin bingung, mereka harus berlari sejauh apa lagi.

Tak disangka, jalan mereka sudah diblokir dengan beberapa orang berpakaian hitam itu di depan mereka.

Ichigo menghindarkan beberapa katana yang mencoba mencari celah itu. Rukia terus berdiri di belakang Ichigo mengikuti gerakan Ichigo yang bersamaan melawan gerombolan aneh ini.

Mata Ichigo menangkap bayangan di atas pohon yang tengah membidikkan sebuah panah. Panah berbulu hitam.

Jadi... jadi mereka pelakunya!

Ichigo sudah berhasil membunuh dua sampai empat orang. Masih tersisa dua orang lagi.

"Siapa kalian? Kalian mau apa?" bentak Ichigo. Apa ini... ada hubungannya dengan Aizen?

"Tepat!"

Ichigo terkejut ketika mendengar jeritan Rukia dan langsung berubah panik ketika melihat Rukia tak lagi dibelakangnya.

"RUKIAAA!"

Dengan memasang jarak aman, pria berkulit pucat itu berhasil membawa Rukia dengan menekan leher Rukia dengan lengan pucatnya. Rukia terlihat kesulitan bernafas.

"Lepaskan Rukia brengsek!"

"Seharusnya kau melihat situasimu dulu, bocah!"

Ichigo merasa bahunya begitu perih. Ternyata bahunya berhasil dilukai oleh...

"Grimmjow..." desis Ichigo tak percaya ketika melihat pengawal pribadi Rukia berdiri di belakangnya dengan katana berdarah itu.

"Sampai di sini saja kita bermain kucing-kucingan, Pangeran Matahari. Jangan halangi kami untuk mengambil Putri Bulan," jelas pria berkulit pucat itu.

"APA MAKSUDMU MENANGKAP RUKIA HAH? APA YANG KAU INGINKAN? GRIMMJOW! KAU SEHARUSNYA MENOLONG PUTRI MAHKOTAMU!" pekik Ichigo berusaha menyadarkan Grimmjow yang berubah aneh ini. Sejak kemarin, memang ada yang aneh dengan Grimmjow.

"Kita pergi, Grimmjow."

Pria berkulit pucat itu melakukan sebuah mantra sambil tetap membekap Rukia. Lalu kemudian ada sebuah lubang seukuran pintu yang terbuka di depannya. Lubang hitam itu kemudian membuat Rukia dan pria berkulit pucat itu menghilang segera. Demikian juga dengan Grimmjow.

"RUKIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

.

.

*KIN*

.

.

"Apa ini bisa diperbaiki?"

Shinji masih berharap Hacchi melakukan sesuatu pada katana putih yang dipungutnya kemarin ini. Setelah pagi tadi, Hacchi hanya memandangi katana patah itu tanpa melakukan sesuatu. Sejak penyerangan tiba-tiba Ichigo, Shinji belum tahu dimana Rukia dan Ichigo sekarang. Tapi sepertinya, Ichigo tengah melakukan sesuatu untuk menyelamatkan mereka. Shinji tidak boleh gegabah. Dia harus menunggu kabar dari Ichigo. Makanya dia segera kembali ke Dangai untuk menunggu Rukia.

"Ini... katana milik Putri Bulan. Aku bisa menyambungkannya kembali. Tapi aku butuh sebagian roh dari Putri Bulan, agar bisa menyeimbangkan kekuatan katana ini kembali. Juga mengembalikan roh katana ini yang sekarang tengah menghilang perlahan karena kehilangan rohnya."

"Sebagian roh Putri Bulan? Maksudmu... kau butuh roh Rukia?"

"Tepatnya roh spiritual. Manusia yang dipilih oleh dewa, adalah manusia yang memiliki kekuatan roh spiritual yang sangat tinggi. Karena, biasanya roh itu bisa diberikan kepada roh penjaga dan sesama manusia dengan kekuatan roh spiritual yang tinggi, untuk keadaan seperti ini."

"Jadi... apa roh itu bisa menghidupkan orang mati?"

"Tidak semua manusia bisa cocok dengan roh spiritual. Hanya orang-orang tertentu yang telah dipilih oleh dewa yang bisa menerima roh itu. Hal itulah yang membuat manusia yang dipilih oleh dewa adalah manusia istimewa."

"Jadi... Ichigo dan Rukia punya roh yang istimewa?"

"Tepat. Makanya mereka mendapat gelar Putri Bulan dan Pangeran Matahari. Karena mereka mendapat roh spiritual dari langit."

"Aku baru mengerti kenapa ada ritual penobatan Pangeran Matahari dan Putri Bulan."

"Tapi, jika roh ini digunakan sembarangan, dia juga bisa jadi penyebab kekacauan dunia. Akan ada banyak bencana yang muncul jika roh ini disalahgunakan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab. Karena roh ini pemberian dari langit, maka roh ini sangat berbahaya. Apalagi... untuk manusia biasa seperti Putri Bulan dan Pangeran Matahari. Karena pemiliknya saja belum tentu bisa mengendalikannya."

"Lalu... siapa yang bisa mengendalikan roh itu kalau pemiliknya saja tidak bisa?"

"Aku ragu dia ada. Kalaupun ada yang bisa mengendalikan roh ini, dia pasti punya persembahan yang besar. Dan sangat berbahaya jika roh ini dikendalikan oleh orang jahat."

"Hacchi! Cepat keluar! Bantu aku!"

Shinji kaget mendengar teriakan dari Rose. Mereka berdua langsung bergerak cepat keluar dari rumah mereka. Dan betapa terkejutnya Shinji mendapati Kensei yang menggendong Ichigo dipunggungnya. Ichigo terluka di bahunya dan cukup parah.

Hanya satu hal yang Shinji tak mengerti.

Dimana Putri Mahkota Seireitei?

.

.

*KIN*

.

.

"Lepaskan aku brengsek! Apa yang kalian lakukan?" pekik Rukia sambil meronta saat pria berkulit pucat ini membawanya paksa. Tangan Rukia diikat di depan dengan tali, sementara dia digotong dengan tidak sopan di bahu orang ini!

"Wah... ternyata Putri Mahkota Seireitei tetap galak seperti biasa. Sikapmu... sangat liar."

Rukia terkejut ketika di letakkan di sebuah hall megah yang sangat suram.

Aizen...

Rukia tahu semua ini pasti ada hubungannya dengan orang gila ini! Sudah seharusnya Rukia bisa memasang sikap waspada. Dia berada di tempat yang tidak dia kenal. Suasana suram seperti ini, apa mungkin dia ada di istana Las Noches?

Aizen terus mendekat kepadanya dengan seringaian mengerikan itu. Apa yang diinginkannya dari Rukia?

Tidak jauh dari singgasana raja, Rukia melihat Grimmjow yang berdiri bagaikan patung tanpa jiwa itu. Tatapan matanya kosong. Apa... dia sudah dipengaruhi?

"Grimmjow... Grimmjow! Dengarkan aku!" pekik Rukia. Tapi pengawalnya tetap tidak bergeming sedikit pun.

"Percuma saja. Grimmjow sudah tidak akan mendengarkanmu lagi."

"Apa yang kau lakukan padanya? Berani sekali kau pada Putri―"

"Ahahhaa! Ya. Aku tetap ingat kau adalah Putri Bulan yang dipilih oleh dewa. Mana mungkin aku bisa lupa. Dan karena itulah alasannya aku membawamu kemari."

Rukia tertegun. Alasan... kenapa dia dibawa kemari?

"Alasan? Apa alasannya?"

"Tenang. Aku pasti akan menceritakan semuanya padamu. Karena kau... harus tahu tentang takdir kalian. Kau... dan Pangeran Matahari. Kenapa legenda itu ada."

Legenda itu ada? Maksudnya... tentang Putra Mahkota Karakura dan Putri Mahkota Seireitei yang tidak boleh bersama.

Rukia penasaran. Tapi dia ingin pergi. Tapi dia harus mendengarkan semuanya. Kalau orang ini tahu tentang... legenda itu.

"1000 tahun yang lalu, antara klan Kuchiki dan klan Kurosaki, masih bisa bersatu tanpa perlu pengaruh legenda mana pun. Dan ini adalah awal dari legenda yang selama ini terjadi. Waktu itu, manusia istimewa masih bisa jadi dewa. Seperti kau, Putri Mahkota. Saat itu, manusia pilihan dewa bisa menjadi dewa juga. Tapi... mereka harus melepaskan semua hal tentang duniawi dan menyerahkan seluruh hidup mereka hanya pada langit.

"Sayangnya... Putri Bulan dari klan Kuchiki ternyata jatuh cinta pada Pangeran Matahari dari klan Kurosaki. Tentu saja hal itu dilarang. Seorang manusia yang menjadi dewa, tidak boleh memiliki perasaan duniawi. Termasuk cinta. Tapi kemudian, dua insan ini akhirnya saling jatuh cinta dan memilih melepaskan hak mereka sebagai manusia yang dipilih oleh dewa. Mereka lebih memilih cintanya daripada perintah dewa, yang akhirnya membuat dewa murka.

"Dua manusia ini akhirnya dihukum mati dan dihapuskan keberadaannya. Tragisnya, mereka berdua mati bersama. Karena itulah, dewa memberikan perintah untuk memisahkan klan Kurosaki dan klan Kuchiki. Agar peristiwa ini tidak terjadi untuk kedua kalinya. Dan akhirnya, tidak ada lagi manusia yang bisa menjadi dewa. Semua itu... adalah kesalahan leluhur kalian. Padahal... mereka tahu, bahwa Matahari dan Bulan tidak ditakdirkan untuk bersama. Kalau mereka bersama... bencana akan datang menimpa seluruh klan dan dunia. Itulah keegoisan mereka.

"Dan jika... kau tetap menjalin hubunganmu dengan Pangeran Matahari... kalian berdua akan dihukum mati oleh dewa langit. Dan keberadaan klan kalian mungkin akan dihapuskan. Itulah keegoisanmu, Putri Bulan."

Rukia terpaku. Apa benar... itu sejarah klan-nya? Apa benar... itu... yang terjadi di masa lalu?

Makanya... makanya...

"Kau... pasti bohong..." lirih Rukia.

"Aku juga tidak memintamu percaya. Tapi itulah kenyataan yang ada. Hal ini tidak boleh diungkit oleh siapapun. Makanya alasan klan Kurosaki dan klan Kuchiki yang dipisahkan itupun, tidak boleh diceritakan oleh siapapun. Karena itu... hingga sekarang, tidak pernah ada yang tahu alasan sebenarnya legenda itu ada."

Di masa lalu, Putri Bulan jatuh cinta kepada Pangeran Matahari hingga membuat dewa murka. Mereka rela melepaskan hak mereka dan memilih cinta mereka. Tapi pada akhirnya, mereka berdua mati karena hukuman dari langit dan keberadaan mereka dihapuskan selamanya. Rukia tak menyangka leluhurnya ternyata... seperti itu.

Bagaimana jika... bagaimana jika... perasaannya saat ini, sudah membuat dewa murka? Apakah dia dan Ichigo juga akan... berakhir seperti awal terjadinya legenda ini.

"Yah. Jika matahari dan bulan bersatu, akan ada gerhana besar yang terjadi dan menyebabkan bencana di seluruh negeri ini. Dan jika bencana itu datang karena kalian... dewa tidak akan pernah memaafkan kedua klan."

"HENTIKAN OMONG KOSONGMU! AKU TIDAK PERCAYA CERITAMU!" pekik Rukia.

Yah. Orang ini bohong. Dia hanya ingin memprovokasi saja. Tidak peduli legenda apapun. Tidak ada yang bisa memisahkan dia dari Ichigo. Tidak ada.

"Sudah kubilang bukan... aku tidak minta kau percaya. Tapi itulah yang terjadi. Semua... terserah padamu Putri Bulan."

"Lalu apa rencanamu membawaku kemari? Apa yang kau inginkan?"

"Bagus sekali pertanyaanmu. Awalnya, aku tidak ingin bermain kasar begini. Seharusnya jika pernikahan Seireitei dan Las Noches terjadi, aku tidak akan menceritakan awal legenda ini padamu. Tapi ternyata... kau sangat keras kepala."

"Apa yang kau inginkan?"

"Roh spiritualmu."

Roh... spiritual? Memang... Rukia punya yang seperti itu?

"Kau pasti tidak mengerti. Manusia yang dipilih dewa memiliki kekuatan roh spiritual yang sangat hebat. Hanya saja, tidak bisa dikendalikan sembarang orang karena butuh persembahan yang besar. Kau tidak tahu mengenai keberadaan roh itu karena sampai sekarang roh itu belum dibangkitkan. Tapi... setelah penobatanmu sebagai Putri Bulan, roh itu sudah aktif. Apa kau... tidak merasa ada sesuatu yang terjadi padamu setelah penobatan itu terjadi?"

Penobatan?

"Ada tanda yang muncul di dahimu ketika kau terancam bahaya bukan? Tapi ketika berdekatan dengan Pangeran Matahari, tanda itu akan hilang dengan sendirinya. Apa kau pernah merasakannya?"

Tanda apa?

"Tidak ada tanda apapun yang muncul! Kau pasti menipuku untuk membuatku percaya padamu! Lepaskan aku brengsek!" bentak Rukia histeris.

"Sepertinya... kau adalah orang yang meminta bukti, bukan omong kosong ya? Baiklah... kubuktikan padamu."

Aizen mengambil katana di balik pinggangnya. Katana itu berkilau dan terlihat begitu tajam. Rukia tertegun ketika orang gila itu semakin dekat padanya. Katana itu terancung begitu tinggi ke arahnya. Bersiap untuk menyakitinya. Rukia bergerak cepat untuk segera pergi dari tempat ini. tapi begitu dia akan berlari, pria berkulit pucat itu menahannya. Mengacungkan katana pada lehernya juga. Rukia gemetar panik. Sepertinya, mereka serius ingin membunuh Rukia.

Dan begitu Rukia berbalik hendak melarikan diri, punggungnya digores begitu pelan oleh sebuah mata katana yang tajam. Walau pelan, tapi Rukia bisa merasakan katana itu menyentuh kulitnya langsung.

Tiba-tiba, sebuah cahaya putih menyilaukan, bersinar begitu terang di dahinya. Rukia jatuh terduduk karena terlalu kaget.

Pria berkulit pucat dan berambut hitam itu maju selangkah dan membuka ikatan di tangan Rukia. Rasanya lemas sekali.

"Kau bisa merasakannya bukan? Tanda bulan sabit di dahimu. Tanda yang muncul ketika kau terancam bahaya," suara Aizen bergema lagi di ruangan suram ini.

Tanda yang muncul ketika Rukia terancam bahaya. Tapi tidak muncul ketika Ichigo nyaris membunuhnya waktu itu.

"Sekarang saatnya eksekusi."

Aizen berdiri tepat di depan Rukia. Kemudian mencengkeram leher Rukia dengan satu tangannya. Rukia terlalu lemas untuk melawan sekarang. Seluruh tubuhnya sudah gemetar ketakutan. Cengkeram satu tangan Aizen di lehernya memang tidak begitu kuat, tapi sanggup mengangkat tubuh mungil Rukia hingga kakinya tidak lagi menyentuh lantai.

Satu tangan Aizen yang tidak mencengkeram leher Rukia bersiap untuk melakukan sesuatu pada Rukia.

Rukia terdiam. Merasa kalau dadanya terasa kaku. Rasanya, jantungnya berhenti berdetak. Darah terasa mengumpul di dalam mulutnya. Beberapa saat kemudian, Rukia memuntahkan darah yang begitu banyak dari dalam mulutnya. Rasanya, tubuhnya mulai kebas.

"Ternyata... ini roh spiritual itu. Hanya sebuah mutiara putih yang begitu kecil."

Tangan Aizen sudah berlumuran darah karena begitu cepat menusuk dada Rukia dengan tangan kosongnya. Kini ada lubang menganga di dada gadis mungil ini setelah Aizen mengambil paksa roh spiritual yang diincarnya.

Aizen melepaskan tangannya dari leher Rukia hingga gadis cantik ini jatuh tergeletak di tanah.

"Kau akan mati dalam waktu 12 jam. Tidak apa-apa Putri Bulan. Kau sudah tidak dibutuhkan lagi di dunia ini. Tanpa roh spiritualmu, kau hanyalah manusia biasa yang tidak berguna."

.

.

*KIN*

.

.

Hacchi membelalakkan matanya selebar mungkin ketika melihat pedang putih itu berubah menghitam dan rapuh.

Setelah selesai mengobati Ichigo yang hanya luka ringan itu, Hacchi bermaksud melihat katana itu lagi, tapi ada yang aneh. Perlahan, tapi sangat perlahan, sebagian katana itu mulai terlihat hitam keabuan dan rapuh. Seperti kehilangan sesuatu.

"Ada apa Hacchi?"

"Shinji-kun... terjadi sesuatu dengan Putri Bulan. Kalau dibiarkan seperti ini, Putri Bulan bisa mati," jelas Hacchi panik.

"Mati? Apa maksudmu mati? Kenapa bisa mati? Bukankah dia punya roh spiritual yang―"

"Roh itu sepertinya menghilang dari tubuh Putri Bulan. Katana ini sepenuhnya kehilangan roh penjaganya dan berubah rapuh. Dalam kurun waktu tertentu, ketika katana ini hancur, Putri Bulan juga akan hancur."

"Apa maksudmu Hacchi? Rukia..."

Shinji terpaku melihat Ichigo yang sudah berdiri di belakang mereka berdua. Shinji masih ragu mengatakannya, tapi mau bagaimana lagi. Ini... berita gawat.

.

.

*KIN*

.

.

"Ini sudah laporan ke sekian puluh aku dengar mengenai perawan yang mati karena kehabisan darah," gumam Byakuya di ruang kerja kerajaannya.

"Sepertinya, bukan hanya wilayah Seireitei yang kehilangan perawan yang mati kehabisan darah. Di berbagai wilayah, termasuk Rukongai juga mengalami kasus yang sama," jelas kepala kasim kerajaan Seireitei.

"Sejak kepergian Rukia, semua masalah ini semakin menjadi. Apa benar... Putri Mahkota baik-baik saja," gumam Byakuya lagi.

Kenapa banyak sekali kasus mengenai perawan yang mati kehabisan darah.

Tubuhnya ditemukan memucat dan sangat putih seperti kapas. Tidak ditemukan setetes pun darah di dalam tubuh yang mati itu. Ini aneh bukan?

Apa tiba-tiba ada penghisap darah yang muncul? Tapi kenapa hanya darah perawan saja?

"Selidiki lebih lanjut lagi. Kalau perlu, kita buat jebakan untuk memancing pelakunya keluar," perintah Byakuya.

Berharap putri semata wayangnya tidak akan mengalami hal berbahaya.

.

.

*KIN*

.

.

Rukia tidak ingin percaya legenda itu. Tidak.

Tapi kenapa kesannya seperti begitu nyata.

Bahwa Bulan dan Matahari memang tidak pernah ditakdirkan bersama.

Sedikit lagi kebahagiaan itu berhasil digenggam, ada saja halangan untuk menikmati kebahagiaan itu.

Rukia masih tergeletak sendirian di tengah ruang suram ini. Dengan luka menganga di dadanya. Di sisi tubuhnya mengalir deras darah miliknya. Mungkin... dia akan mati kehabisan darah. Dia ingin... sebelum mati nanti, bisa melihat sosok kekasihnya. Wajah kekasihnya. Dia ingin... melihat Ichigo.

Meski sudah melalui berbagai kehidupan, ternyata masa lalu tidak pernah berubah. Mereka tetap tidak pernah bisa bersama apapun yang Rukia lakukan.

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Ok... saya nyaris lupa sama fic ini. untung masih bisa diselamatkan! hehehehe

kira-kira ada yang ngerti gak yaa sama penjelasan chap ini? kalo gak ada yang ngerti, bisa tanya kok sama saya heheheheh

ehmm saya terpaksa gak bikin soal menghangatkan itu. masih agak was-was tuh... sama rule barunya. mungkin kalo nanti nanti yaa pasti saya bikin dehhh heheheh

ok deh, balas review dulu...

ika chan : makasih udah review senpai... maaf yaa lama banget ini udah update heheheh

Seo Shin Young : makasih udah review Seo... ini asal usulnya, dari Aizen sih hihii yaa menghangatkannya gak jadi dehhh hihii

retnoeNo : makasih udah review senpai... hehehe iyaa karena pribadi saya emang gak fokus ke lemon sihh hehehe

Naruzhea AiChi : makasih udah review Eva... mkasih pujiannya hihiih jadi terharu maaf yaa lama updatenya hihii

Chlie hanariunnse : makasih udah review senpai... Kin aja, jangan senpai hihii ok ini udah lanjut

FYLIN-chan : makasih udah review senpai... hhihiihih iyaa ini udah update kok maaf ya lama...

212 : makasih udah review senpai... makasih semangatnya hihii iyaa ini udah saya update...

Kim Na Na : makasih udah review senpai... iyaa nanti kalo dapat hidayah, saya bakal update Prince Assassin heheheh

Wakamiya Hikaru No login : makasih udah review Hikaru... iyaa ini udah updatee hehehe

ChappyBerry Lover : makasih udah review senpai... ehehehe gak jadi deh ngelakuinnya tuh kayaknya chap nanti hehehehe

Piyocco : makasih udah review Piyocco... ehehehe saya usahakan update kok heheheh makasih yaa...

beby-chan : makasih udah review beby... hehehe ini asal mulanya, dari Aizen sih hehhehe iyaa ini udah update...

ELLE HANA : makasih udah review senpai... eheheh emang sih nyontek di sana kata-katanya hihii

Shirayuki Umi : makasih udah review senpai... nggak jadi lemon hihiii, saya masih rada was-was mungkin chap nanti hihiihihi iyaa ini udah update...

shiianhia el kuchiki : makasih udah review nhia... iyaa ini udah update heheheheh

Voidy : makasih udah review neechan... kayaknya setelah chap ini neechan bakal pusing lagi hihiiiiihiii

AkiHisa Pyon : makasih udah review Pyonchan... hehhehe iyaa ini udah update hehehe

blingblingjh : makasih udah review senpai... iyaa ini udah lanjut hihiihi

chy karin : makasih udah review senpai... iyaa ini udah lanjut...

tentang Grimm yang nganeh itu bakal di bahas chap depan, saya sih memperkirakan ini bakal panjang, semoga gak bosan yaa sama jalan ceritanya, karena emang fic bertema kerajaan kayak gini kalo gak bisa dimengerti bakal bosan dan gak menarik sih hehehehe...

ok deh, makasih yaa sama semua senpai yang udah berpartisipas sama semua fic saya... makasih banyak loh... hihihi

ok, jadi ada yang mau saya lanjutin fic ini?

Jaa Nee!