Naruto milik Masashi Kishimoto

.

.


Like Puppy Love


AU. SasuSaku—slight NS & SK.

Pengingat : Sasuke (34), Sakura (26), Konohamaru (10), Ken (6), Naruko (2)

Chapter IX

.

.

Tangis bayi terdengar di kejauhan. Sasuke harus bangun. Sungguh demi apa pun ia harus bisa membuat tubuhnya bangkit dan matanya terbuka.

Suara tangis bayi terdengar samar lebih jelas…

"Ayahhh…!" susul suara Ken yang sedang mengguncang-guncangkan bahunya. Sasuke tak punya pilihan lain selain membuka matanya secara paksa.

"Hn." Rambut hitamnya agak berantakan dengan matanya yang sepenuhnya sipit saat bangkit.

"Konohamaru! Pakai sepatumu! Sudah hampir setengah tujuh!"

Sasuke membuka matanya ketika mendengar suara wanita itu. Sakura sepertinya masih di dalam kamar dengan tangisan Naruko bersamanya.

"Hhhai'!"

Sasuke menggelengkan kepalanya, supaya ia lebih terjaga dari kantuknya. Ugh, futon merah muda yang dipakainya terasa sangat nyaman dan lembut. Meski ranjang di apartemennya lebih empuk, tapi entah mengapa tidur di sini membuatnya terlalu nyenyak.

Sasuke melihat mulut penuh Konohamaru menyahut teriakan Sakura dan bocah itu buru-buru menghabiskan sarapannya serta susu di gelasnya

"Ken-kun, masuk sekolah jam berapa?" Sakura keluar kamarnya menggendong Naruko yang masih nangis.

"Jam delapan, Bachan." Jawab Ken yang rambut 'jiplakan' Sasuke-nya masih berantakan seperti sang Ayah di sebelahnya.

Sementara itu, tangisan Naruko masih kencang. Sepertinya Ken dan Sasuke sendiri terbangun karena suara tangis Naruko.

"Bachan, hujan!" seru Konohamaru kecewa karena tiba-tiba terdengar suara hujan.

"Pakai jas hujan," jawab Sakura berusaha menenangkan Naruko di gendongannya.

"Hai'!"

Sakura mengusap pipi Naruko kecil, "Naruko, jangan nangis… sebentar, ya."

Sasuke berdiri sambil meregangkan tubuhnya.

"Bachan, jas hujanku hilang!"

"Di kamar…" sahut Sakura yang sedang menuju dapur bersama Naruko.

"Tidak ada…!" rengek Konohamaru lagi.

Sasuke yang sejujurnya akan pergi ke kamar mandi, hampir bertabrakan dengan Sakura yang tiba-tiba berbalik badan. Untung saja tidak benar-benar bertabrakan.

"Eh? Maaf!" Sakura sedikit nyengir tidak enak. Pagi ini rusuh sekali.

Sasuke menyodorkan kedua tangannya seperti meminta Naruko dari pelukan Sakura. "Sini."

"Papa…" Naruko begitu mudahnya terayu oleh Sasuke dan suara inosennya saat memanggil Sasuke 'Papa' langsung membuat Sakura melotot kaget.

"'Jisan', Naruko! Panggil, 'Jisan'…!" Sakura wajahnya kini merah ketika menuding balitanya sendiri sambil segera masuk kamar untuk mencarikan jas hujan Konohamaru. Naruko yang hampir surut tangisnya jadi kencang kembali karena tidak boleh memanggil 'Papa'.

"Papa…" rengeknya. Sasuke jadi bingung mau apa. Ini karena keisengan Ino dan kawan-kawan di kantor waktu itu yang menyuruh Naruko kecil memanggilnya dengan sebutan 'Papa', jadi begini…

"Ssshhh," ya sudah, mau diapakan lagi? Sasuke mengusap pipi Naruko yang sedang membuka mulutnya lebar untuk menangis. "Iya, sama Papa." Kata Sasuke, menggoyangkan Naruko di gendongannya.

Sakura yang baru keluar kamar bersama jas hujan Konohamaru, terpaksa melirik. Ia berusaha pura-pura tidak dengar. Barang kali pendengarannya juga salah. Sakura berusaha fokus memakaikan Konohamaru jas hujan dengan cepat di dekat pintu.

Terdengar lagi Naruko meminta susu pada 'Papa'nya.

"Sabar ya, Naruko-chan. Papa payah bikin susu. Nanti mama yang buatin, oke?" suara Ken terdengar pula sedang merayu Naruko.

Sedang apa mereka?! Dumal Sakura yang bingung dalam hati dengan suasana di belakang punggungnya.

"Aku berangkat!" seru Konohamaru setelah jas hujan yang Sakura pakaikan sudah benar.

"Ya sudah hati-hati." Sakura membalikkan badan, dan menemukan Sasuke duduk menimang-nimang Naruko yang rewel bersama Ken yang berusaha pula ingin membujuk Naruko.

"Sebentar, ya, Sasuke-san." Sakura segera menuju dapur. Pagi ini ia terlambat bangun, ia hanya sempat menyiapkan sarapan untuk Konohamaru yang justru hari ini membangunkan Sakura. Naruko kebetulan bangun dalam keadaan demam, jadilah rewel pagi ini.

"Nah, nih." Sakura menyodorkan botol susu pada Naruko yang mulai surut tangisnya ketika melihat apa yang Ibunya bawakan. Naruko menyedot, kedua tangan bulatnya memegang botol selagi kepalanya bersandar pada dada bidang Sasuke.

Sakura merentangkan kedua tangannya akan mengambil Naruko, tapi ketika tiba-tiba Naruko merengek, Sakura bingung. Balita kecil itu enggan dipindahkan dari gendongan Sasuke.

"Naruko, Sasuke-jisan-nya mau mandi dulu, terus kerja. Sini sama Mama." Sakura merasa tidak enak sekali, Sasuke harus kerepotan begini padahal harus siap-siap kerja. Sakura tak punya pilihan lain selain memaksa anaknya untuk ikut bersamanya.

Namun botol susu Naruko terjatuh karena kedua tangan gembulnya memeluk erat leher Sasuke. "Maunya sama Papa! Papa…" dan ia tak lupa mengadu pada 'Papa'nya sambil menangis lagi.

Sakura menarik napas salting, ia mengambil botol susu yang jatuh di atas lantai permadani itu.

"Iya, iya, sama Papa." ucap Sasuke menggoyangkan lagi Naruko dan sedikit membungkuk mengambil botol dari tangan Sakura. Entahlah, ia pribadi sudah tidak peduli Sakura mau berpikir apa. Ia… yah, hanya melakukannya saja.

"Kau bisa mandi duluan," saran Sasuke sebelum Sakura mengomeli Naruko lagi. Wajah cantik Ibu muda itu merona hebat. Sasuke masih menggoyangkan Naruko yang sedang minum dari botol yang Sasuke pegangi. "Tak apa, cepatlah."

Sakura seperti tak punya pilihan, di samping Naruko sendiri sudah diam karena sibuk meminum susu dari botol, Sakura juga bingung harus bersikap apa. Jantungnya berdegup-degup, lagi pula Naruko terlalu polos untuk diomeli.

Ih, ini gara-gara Ino dan lainnya sih…! Sakura menggerutu gemas dalam hati saat baru saja menutup pintu kamar mandi. "AAAAHHH~!" teriaknya tak sengaja frustasi.

"Mama baik-baik saja?!" seru Ken dari luar menggedor-gedor pintu.

"Eh? Tidak apa. Aku hanya melihat kecoa." Jawab Sakura cepat. Ia merasa bodoh.

"Apa-apaan kamu! Panggil, Bachan!" susul suara Sasuke protes ke anaknya sendiri di luar sana.

"Lho, Naruko saja boleh memanggil Ayah dengan sebutan Papa. Kenapa aku tidak boleh panggil Sakura-bachan dengan sebutan Mama?"

"Itu beda! Naruko masih kecil."

"Aku juga masih kecil!"

"Pokoknya tidak boleh!"

"Ini namanya di-eskrimisasi!"

"Diskriminasi, maksudmu?"

"Iya, pokoknya sesuatu yang tidak adil!"

Nah, kan sekarang jadi tambah runyam.

Sakura mengguyur kepalanya dengan air dingin. Cermin di kamar mandi menunjukkan wajahnya merona parah. Harus membaik dengan air dingin ini! Harus!

Sementara Sasuke menghela napas menahan emosi gemasnya pada anak sendiri. Ia berusaha untuk tidak berteriak berhubung ada balita mungil yang habis rewel di gendongannya.

Ken cemberut melipat tangan. Ia mendumal-dumal, "Aku juga ingin punya Mama." Dumalan seorang anak polos yang menggores hati Ayahnya.

.

.

"Nah, sarapan-sarapan…" tawar Sakura yang pagi ini cuma masak sup ayam. Itu pun menggunakan bahan masakan seadanya yang ada di kulkas mininya. Meja rendah ruang tengah sudah ditempati nasi hangat berserta sup. "Maaf ya, lauknya cuma telur mata sapi."

"Aku suka telur mata sapi!" sahut Ken riang. Ia lahap sekali makannya, sayangnya tersendat suhu panas kuah sup. Sakura tersenyum menambahkan telur mata sapi di atas mangkuk Ken.

Sasuke bilang, hari ini Ken belum memungkinkan untuk masuk taman kanak-kanak karena jaraknya yang cukup jauh kalau dari apartemen Sakura. Sasuke pikir, izin sakit selama dua hari tak masalah.

Naruko sedang tertidur pulas kembali berbalut futon kuning tak jauh dari mereka. Sasuke menaruh telapak tangannya pada dahi Naruko. "Sudah sedikit lebih baik," ujarnya memberitahukan pada Sakura yang kedapatan sedang memperhatikannya. Sakura menangguk, sejujurnya ia agak terpesona dengan penampilan Sasuke yang masih kinclong bin wangi seperti saat ini.

Sakura sama sekali tak sadar kalau pipinya merah saat Sasuke duduk di sebelahnya (yah, yang terdekat menurut Sasuke, sesampainya saja). Pria itu mengambil mangkuknya yang sudah berisi nasi mengepulkan uap.

"Hm, enak." Seru Ken. "Lagi, boleh, ya?"

"Boleh…" Sakura hanya tersenyum senang, masakkannya hari ini laku dimakan. Ia dan Sasuke sama-sama menaruh mangkuknya untuk mengambilkan Ken yang minta nambah.

Ken bingung, ada dua pasang tangan orang dewasa di depan mangkuknya. "Sama Mama aja deh," katanya tersenyum lebar memberikan mangkuk kosongnya pada Sakura.

Sasuke melirik tajam, "Ken, sudah kubilang—"

"Aku kebelet pipis."

Bocah itu pun kabur karena ingin buang air sungguhan. Sasuke menghela napas. Ia melirik pada wanita merah muda yang telah menampungnya dan anaknya semalaman di sini. Pipi Sakura digoresi rona merah tipis. Sungguh manis ketika tersenyum. "Tak apalah, Sasuke-san. Namanya juga anak-anak."

"Hn," Sasuke ingin bilang kalau dirinya tak enak hati, tapi entah mengapa tak sanggup.

"Yah, kalau cuma begitu aku tidak keberatan asal Ken-kun senang." Sakura menaruh mangkuk Ken. Eh, lantas ia tersadar. Matanya membulat. 'Tidak keberatan?'

Aduh, salah lagi…

.

.

Sasuke mengerutkan alisnya menatap duplikat dirinya sedang nemplok di belakang Sakura. Mereka di ambang pintu apartemen.

Sasuke memaksa Ken ikut bersamanya, sedangkan Ken bersikeras ingin tinggal sampai Ayahnya pulang kerja. "Aku tidak mau di kantor, aku mau di rumah sama Mama."

Aduhhh, Sakura tak bisa berbuat banyak sejak Ken meniru-niru dan iri dengan Naruko yang memanggil Sasuke 'Papa'.

Sasuke mendelik tajam, ingin menjitak keras kepala kecil bergaya pantat ayam tersebut. Ken masih mengumpat di belakang pinggang 'Mama'nya.

"Jangan menyusahkan!" hardik sang Ayah. Bagaimana tambah tak enak hati kalau begini? Sudah cukup bertamu dari kemarin, menginap pula, masa harus menitipkan si bandel ini bersama Sakura?

"Naruko sedang sakit, kasihan Sakura-ba—"

"Aku tak akan nakalin Mama kok, janji!" Ken membuat jari 'peace' secara takut-takut.

Aduhhhh, Sasuke menghela napas guna menahan kegemasannya. Tidak ada yang mengajari Ken memanggil Sakura dengan sebutan 'Mama'. Berkali-kali pula Sasuke peringatkan untuk tidak memanggil begitu. Ia merasa tak enak dengan Sakura.

"Tak apa," Sakura memotong sebelum Sasuke akan menghardik anaknya lagi. "Kasihan Ken-kun bosan di kantor. Tak ada salahnya ia tetap di sini sampai kau selesai kerja." Sakura tersenyum mengelus rambut hitam Ken.

Sasuke menghela napas, memerintah untuk yang terakhir kalinya. "Panggil, Bachan."

Ken mengangguk tersenyum lebar melihat Ayahnya hendak berangkat.

"Berangkat dulu." Sasuke menjauh menuruni tangga untuk keluar.

Sakura menghela napas sambil tersenyum, "Ayo masuk, Ken."

"Iya, Ma."

.

.

Jam menunjukkan pukul lima sore lewat sekian menit saat Sasuke buru-buru keluar.

"Salam buat anak isterinya di apartemen, ya!" Goda Mei saat Sasuke lewat mejanya.

Ah, Sai sialan. Sasuke mengutuk merasa salah bicara di depan Sai. Ia sempat keceplosan karena buru-buru pulang, keceplosan menjawab harus buru-buru menjemput Ken di apartemen Sakura.

Tak setengah menit, Sai langsung berdiri dari tempatnya duduk, mengumumpkan, "Whoa Ken dan Ayahnya terjebak hujan semalaman di apartemen Sakura, saudara-saudara!" tak perlu susah menebak, sudah pasti keriuhan langsung tercipta. Apa lagi Ino dan Shion yang mulai bertaruh berapa minggu lagi Sakura dan Sasuke akan jadian.

Cih Cih Cih.

Sasuke mendencih tak suka, ia benciiii sekali saat wajahnya mendadak tak bisa memasang ekspresi keras. Memasang ekspresi datar, adalah keahliannya, menutupi perasaan adalah keahliannya, tapi khusus hari ini ia tak bisa menahan senyum meski diliputi kerutan alis pura-pura heran sambil menyahut, "Apaan sih!"

Bus berjalan dengan kecepatan sedang saat Sasuke menghela napas menghadap jendela. Langit senja berwarna oranye menghiasi pandangannya. Secara tak sadar, ia tersenyum tipis sekali di sudut kiri bibirnya sambil mendengus—menatap sayu ke luar jendela, mengingat-ingat rona hebat di wajah Sakura.

Sasuke bukan lagi remaja. Ia sudah tiga puluh empat tahun dan ia tahu betul alasan wajah Sakura memerah malu. Mengetahui itu pun ia hanya menggeleng. Sudahlah, kau bukan lagi remaja!

Bus pun berhenti di halte dekat apartemen Sakura, saat Sasuke turun, ia tak sengaja melihat Sakura menggendong Naruko bersama Ken dan Konohamaru yang ada di dekatnya.

"Ayaaah!" panggil Ken saat tak sengaja pula melihat Ayahnya baru turun dari bus.

Sasuke memegang kepala hitam Ken yang baru saja menabraknya, "Sudah gelap, kalian mau ke mana?"

Sakura yang mulanya agak terkejut, jadi tersenyum, "Mini market, aku ketiduran dan lupa belanja persediaan dapur yang habis."

"Yeah, sekalian beli ice cream!" seru Konohamaru. Sakura membulatkan mata. Tidakk…

"Ayolah Bachan. Sudah lama sekali aku tidak makan ice cream."

Sasuke memegang dompetnya seraya berpikir, ia kemudian berkata. "Aku habis gajian. Makan di luar?"

"E-eh?" Sakura belum sempat menjawab Konohamaru, Sasuke sudah menambal dengan pertanyaan baru.

"Ice cream juga, ya?" Konohamaru kemudian mengaduh dicubit Sakura.

Sasuke mangangguk disambut sorakan gembira Konohamaru dan Ken, dua bocah tersebut berjalan duluan dengan ceria di trotoar setelah mengetahui lokasi makanan yang dituju Sasuke dekat situ.

Sasuke mendorong sopan punggung Sakura yang semula seperti akan menolak. "Tapi Sasuke-san…"

"Anggap saja bayar hutang."

Mau tak mau, Sakura akhirnya berjalan juga bersama Sasuke yang kini menggendong Naruko karena minta gendong 'Papa'. Ugh, Sakura menggerutu mencari cara untuk menghentikan Naruko supaya tidak terlalu centil dengan Sasuke.

Bisa-bisa salah paham semua orang.

Sementara itu, di sudut restoran yang baru saja dimasukki Sasuke dan Sakura serta anak-anaknya, terdapat seorang wanita cantik berambut merah yang baru saja menutup menu makanan. Mata ruby di balik kacamata wanita itu terbuka lebih lebar saat tak sengaja melihat tamu lain yang masuk.

"Sasuke?" alis merahnya yang semula mengerut, kini terangkat. "Ken!" ia berdiri hendak menghampiri…

.

.


Bersambung! x)


Hey, it's me again. Lagi-lagi terlambat update (ugh). Maaf :(

Jika tak berhalangan, update minggu depan. Tepat hari rabu. Doakan mood-ku ya… :D terima kasih untuk para pembaca, aku sayang kalian semua!

Pembaca: GOMBALLL!