Mai, aku dilanda kelelahan luar biasa. Permohonan pengangkatan kembali jabatanku menjadi pengawas harian pasien 221 membutuhkan setidaknya persetujuan kepala sekolah dan rekomendasi laboran, serta tanda tangan seluruh staff RS Eir yang pernah bekerja denganku saat aku masih mengerjakan tugas besar berupa jurnal pengamatan.
Percayalah, kedengarannya jauh mudahnya daripada kenyataanya. Setiap orang punya kesibukan masing-masing, apalagi di sebuah rumah sakit yang menerima pasien unit gawat darurat, belum lagi pertanyaan seragam mereka: "Kenpa kau sangat ingin mengawasi gadis ini?". Kini bayangkanlah seorang kepala sekolah kedokteran yang bertanya demikian— dan jawaban nekat serta memalukanku kepada beliau.
Pada tanggal tujuh, aku sudah bertugas seperti amanah yang dipercayakan padaku, menjadi wali sekaligus penjaga pasien 221, Lana Michelin.
Buku ini, karya yang sedang kubaca, dua kopi aku mempunyai. Satu, tentu saja, kepunyaanku, dan satu lagi...
"Dallas, apa itu gastro-intestinal? Aku mengerti Kalau saluran, tapi kata ini..." milik Lana.
Sudah seminggu lamanya dia berusaha mempelajari hal-hal yang kupelajari. Tak pernah kuduga, Jemari lentik itu suatu hari akan tak henti-hentinya membalik lembar demi lembar kamus anatomi manusia. Itu benar, dan ketika menyaksikan adegan itu dengan mata kepalaku sendiri, Cuma keanehan yang kudapati.
Cih.
Sakit mengakuinya, namun Lana ialah orang terakhir di Midgard yang ingin kuajari sedikit tentang ilmu medis. Dasar pikiran mengapa aku melakukan demikian sama sekali sepele, aku enggan melihar dirinya sebagai penyelamat, ketika dia masih terjebak di ruanga dengan jendela menghadap timur.
Opsiku Cuma sebuah, mengeluarkannya dari sini, setelah itu, dia bebas mempelajari dunia kedokteran sepuasnya, aku tidak peduli, itulah, kenapa aku tak membiarkan jawaban pertanyaanya keluar dari ujung lidahku.
"Tidak tahu..."
"Eh, aku berhasil menemukannya di kamus."
"Umm... lajur proses pencernaan, terbentang dari mulut hingga... anus?"
Jika memungkinkan, aku ingin sekali membakar kamus sialan tiu. Sembarangan saja mengajarinya sesuatu yang tak dibutuhkannya.
Selama ia menyandang status pasien, aku menolak gairah pengetahuannya. Dan seandainya ia bukanlah pasien, aku tidak harus merasa tersakiti layaknya sekarang.
Dapatkah ia menebak bagaimana reaksiku bila ia mengetahui penyakit yang menjangkitinya? Semua usaha menyembunyikan Claustrophobia dari telinganya jadi sia-sia, dan fakta bahwa kami belum mempunyai terapi dan obat yang mampu menggilas penyakit tersebut secara sempurna juga ikut terungkap.
Bahkan setelah mengetahuinya, bisakah ia tetap hidup normal, setidaknya seperti saat sekarang, ketika dia punya aktivitas berarti dan mungkin, tujuan hidup? Bisakah ia tetap berani menghadapi masa depan miliknya yang tak tentu itu?
Betapa egoisnya, tapi aku pun tak berhak menghalangi kemajuannya, sebab kuyakini dengan pasti, serta kumaklumi, bahwa manusia senang mempelajari segala hal. Membantunya tidak kulakukan, tetapi aku berniat tidak berada diantara dia dan ilmu.
Bila saja ia tertarik pada ilmu selain ilmu ilmu medis...
"Haah..." desahan pendek terlepas dari kerongkonganku.
"Karakanlah, Dallas, perasaan saat kau sukses menyelamatkan nyawa orang lain."
Pertanyaan itu menghantamku tiba-tiba, dan tertegun ialah reaksi naturalku saat mendengarnya pertama kali. Setelah berpikir sejenak, aku menemukan jawabannya. "Hingga detik ini, seorang pun tidak ada yang kusdelamatkan nyawanya. Ilmu-ilmu ini—mereka bersifat teoritis, aku Cuma sepekan di sebuah klinik guna kegiatan praktikum, namun tak satupun memiliki keadaan parah sampai-sampai nyawanya terancam."
Lana mengganti kuda-kuda berbaringnya. Di kedua tangan, terpegang erat buku berjilid tebal, tiga jari yang dirapatkan. Serius mukanya, aku pun sulit mengalihkan fokus gadis itu.
Seorang gadis terperangkap di rumah sakit dengan himpitan tembok-tembok berwarna putih, sama seperti warna kasur dan selimutnya. Ketika gadis tersebut menemukan pengetahuan yang membebaskannya, walinya malah berpikir untuk merebut kebebasan itu kembali darinya, membiarkan gadis malang itu menjadi analogi burung dan sangkar.
Lana terhisap hidup-hidup. Isi buku hampir berada kopinya di otakku, namun hingga hari ini, aku belum mampu membacanya diiringi ketertarikan yang begitu tinggi. Alis mata menyempit, dua bola indah dibalik kelopak mata menyorot kata demi kata dengan presisi. Betul-betul tertarik, dia ini.
Dibawah terik mentari pagi dia membaca, pose tempurungnya masih ia kenakan. Ekspresinya kalem, tenang, aku dapat menyangka dia telah berhenti bernapas sejak lama. "Hei, kau begitu tertarik mempelajari ilmu medis?" pertanyaanku mungkin gerbang menuju neraka, tapi aku sebagai penjaganya— orang terdekat yang ia miliki sekarang, sudah sewajarnya aku mendukung hasrat intens itu, betapapun aku akan menghalanginya mempelajari dalam-dalam masalah phobia.
"Pa-Pasti! Memangnya kenapa?" binar dua batu permata itu hampir membutakanku. Pengharapan darinya membuat sedikit sukar menggerakkan lidahku tuk menjawab, tetapi aku tak akan gentar.
"Berjanjilah padaku, Lana."
"Kalau kau akan cepat sembuh, dan aku kan bersedia mengantarmu mendaftar sekolah umum."
Habis aku mengucapkan komitmen, Lana berwajah kecut menatapku, dia menunjukkan kekecewaan kukira. Tetapi pasien layaknya dirinya seyogyanya tak mengharap sesuatu yang terlalu muluk ketika ia masih terperangkap di ruang rawat inapnya. Lagipula, sekolah medis terlampau tinggi untuknya, dia tidak dapat masuk hanya karena minat yang menggebu-gebu akan dunia kedokteran. Dia butuh pendidikan dasar, dan niatku ingin membuatnya mendapatkan hal tersebut.
Namun dia mengangkat kedua bahunya, kemudian lanjut membaringkan tubuhnya di atas kasur. Bacaan rutinnya tetap diantara kedua telapak tangannya. Mudah menebak apa maksudnya; enggan mengambil tawaranku, dia.
Menganggap diriku gagal membujuknya, aku pun kembali terpaku dengan buku 'Anatomi dan kasus-kasus Lanjutan.'
"Boleh, jika kau mau menemaniku." Tanpa peringatan, dia berkata begitu saja. Pernyataan setuju yang menebas mampatnya percakapan kami.
Aku menghela napas sejenak, lalu menjawab keraguan yang mungkin tersisa di hatinya. "Sudah pasti, jika kau berjanji akan cepat sembuh." Kulayangkan pandangan ke atas ranjang.
Disana gadis itu menutupi wajahnya dari samping dengan bukunya. Membaca dari samping bukan keahliannya, aku tahu itu, lantas apa gerangan inti dari tindakan menghalangi pandanganku atas wajahnya?
Seraya melancarkan ekspresi mengusir melalui tangan, menyapu udara menjauhi dirinya, dia berkata: "Hus! Hus! Aku berjanji, aku berjanji. Makanya lihatlah kearah lain, aku mohon!"
Nonsens, bagaimana bisa? Setelah dia secara tidak langsung menggodaku dengan sifat seperti itu, membikin diri ini penasaran.
"Baik, baik. Asal kau berjanji, aku takkan mengganggumu." Sambil meletakkan kosongnya dua telapak tangan di udara, aku berujar pada gadis itu, sebuah kebohongan.
Karena mustahil aku bisa berhenti bermain api yang tidak menyengat.
