Halloo, minna-san! Ini adalah chapter terakhir! Tadinya pengen ku update kemarin-kemarin, tapi nggak bisa karena ada sesuatu hal. Jadi, gomen kalo tidak sekilat yang diharapkan.
Aku ingatkan lagi sebelum baca fic ini, tolong perhatikan warning yang udah kutulis dengan sangat jelas disetiap chapternya. Jadi kalau kalian merasa tidak suka, just go back!
:: :: ::
WARNING : OOC, Typo, aneh, gaje en banyak lagi. DON'T LIKE? DON'T READ!
I DON'T ACCEPT FLAME!
Disclaimer : All Characters from Naruto belong to Masashi Kishimoto
Story by Rinzu15 © 2010
Insert song : Bokura no Message Performed by. KIRORO
:: :: ::
~Ok, minna-san happy reading last chapter! Enjoy! ~
.
Kokoro no Melody
Last Chapter : Jalan yang Baru
.
"Kau pasti bisa… Kau putuskan sendiri jalan apa yang ingin kau tempuh… Kelak kau pasti akan berbunga…"
"Aku…mulai sekarang tidak akan menjadi penghalang kalian lagi… Mulai sekarang akan kucoba mencari jalan yang bisa kutempuh sendiri…"
"Kau pasti bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku. Yang mencintaimu dengan sepenuh hatinya. Maafkan aku…dan terima kasih untuk selama ini."
"A-aku bisa berdiri tanpa berpegangan! Ka-kalian lihat 'kan? Lihat 'kan?"
"Ini benar-benar mukjizat!"
.
~R.I.N.Z.U.1.5~
.
Cahaya matahari terlihat menyilaukan pagi ini. Sakura yang semalaman tidak bisa tidur sekarang tengah sarapan bersama Sasame dan Naruto dengan wajah yang terlihat kurang bersemangat. Walaupun Sakura senang karena kini sudah bisa berjalan kembali, namun bagaimanapun juga hatinya belum bisa merasa lega sepenuhnya sebelum mendengar kabar baik tentang ayahnya.
Yamato yang mengantar mereka malam itu langsung kembali ke rumah sakit untuk menemani Shizune yang menjaga Haruno.
Suasana di ruang makan terasa hening. Tidak ada seorang pun dari mereka yang membuka topik pembicaraan. Mereka bertiga terlihat sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Namun tiba-tiba saja keheningan itu berakhir ketika mereka mendengar suara langkah seseorang yang masuk ke apartemen.
"Sakura-chaaann!"
Mendengar itu, Sakura, Naruto dan juga Sasame langsung beranjak dari ruang makan menuju pintu depan. Di sana terlihat Shizune yang datang dengan napas terengah-engah. Tentu saja hal itu membuat Sakura, Naruto dan Sasame terkejut.
"Shizune-san, ada apa? Kenapa tergesa-gesa begitu? A-apa terjadi sesuatu dengan ayah?" tanya Sakura dengan perasaan takut, raut wajahnya sudah cemas.
"Ya, Sakura-chan…aku punya kabar untukmu― Ya Tuhan…Sakura-chan…kau…sudah bisa berjalan?" Shizune menutup mulutnya tak percaya ketika melihat Sakura berdiri tanpa pegangan apapun.
"Iya, Shizune-san…"
"Syukurlah, Kami-sama…" Shizune langsung menghampiri Sakura dan memeluknya dengan erat.
"Lalu, apa yang terjadi, Shizune-san?" tanya Sasame dengan nada ragu.
Shizune yang kembali teringat akan tujuannya kembali ke apartemen segera melepaskan pelukannya pada Sakura dan sesaat kemudian tersenyum. "Iya, Sakura-chan, Sasame-chan, Naruto-kun, Haruno-sama sudah siuman!"
Semua mata terbelalak seketika.
"A-ayah siuman? Be-benarkah?" tanya Sakura tak percaya.
"Benar! Beliau ingin bertemu denganmu, Sakura-chan!"
"Syukurlah~" ucap Sasame dan Naruto bersamaan.
"Terima kasih, Kami-sama…" Sakura mulai menangis terharu.
"Paman Haruno pasti senang melihat kau sudah bisa berjalan lagi, Sakura-chan! Ayo, sekarang kita bergegas ke rumah sakit!" Naruto menepuk bahu Sakura.
Sakura mengangguk. Mereka pun segera bergegas menuju rumah sakit.
Tak lama kemudian mereka tiba dan langsung menuju kamar rawat Haruno. Sebuah senyum tipis terkembang di bibir Haruno ketika melihat sang buah hati tercinta bersama para orang kepercayaannya muncul dari balik pintu dan memasuki kamar.
"Ayah…"
Haruno sangat terkejut ketika melihat anak semata wayangnya berjalan dengan kakinya sendiri, meski langkahnya masih amat sangat lambat.
"Sakura…kau bisa berjalan, nak?" tanya Haruno tak percaya. Meski suaranya masih terdengar lemah, namun hal itu tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Setelah berusaha keras melangkahkan kakinya, dengan susah payah Sakura akhirnya berhasil sampai di samping tempat tidur ayahnya. Seketika itu juga Sakura langsung memeluk ayahnya dengan penuh kerinduan.
"Ya, Ayah! Aku sudah bisa berjalan…"
"Syukurlah… Ayah bahagia sekali, sayang!" Haruno memeluk Sakura dengan erat.
"Aku juga senang sekali akhirnya ayah siuman juga! Aku takut…takut sekali kalau Ayah akan meninggalkanku…hiks, hiks," Sakura mulai menangis di pelukan ayah tercintanya. Sasame, Naruto, Shizune dan Yamato hanya tersenyum bahagia melihat kehangatan itu.
"Maafkan ayah, sudah membuatmu khawatir, sayang…" Haruno mengelus punggung Sakura dengan lembut sebelum akhirnya melepaskan pelukannya. "Sekarang kau tidak usah cemas lagi, ya?" Haruno mengusap airmata Sakura yang disertai anggukan Sakura.
"Paman Haruno, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Naruto.
"Sudah lebih baik, Naruto. Yah, meski terasa masih sangat lemas. Terima kasih kau datang jauh-jauh kemari untuk menjengukku, Naruto," Haruno tersenyum lembut.
"Ahaha…tidak apa-apa, Paman."
"Haruno-sama, syukurlah…"
"Terima kasih, Sasame…kau sudah menemani Sakura selama ini. Kau memang anak yang baik."
"Aku senang bisa membantu, Haruno-sama."
Tiba-tiba saja dari balik pintu muncul seorang pria berkulit putih pucat datang menjenguk dengan membawa seikat bunga yang masih segar. "Permisi…"
Semua kepala tertoleh pada sumber suara dan seketika terkejut melihat siapa yang datang. Terutama Naruto, matanya sempurna membulat sekarang.
"Sai-san!"
"Ohayou!" sapa Sai sambil tersenyum. "Wah, sedang berkumpul, ya?"
"Kemarilah, Sai-kun!" Shizune mempersilakan Sai untuk masuk. Dia mengambil buket bunga yang diserahkan Sai kemudian menyimpannya di meja samping tempat tidur.
"Syukurlah, Haruno-sama. Anda sudah siuman? Saya mendengar kabar ini dari rekan ayah saya yang kebetulan satu perusahaan dengan Haruno-sama."
"Ya, terima kasih sudah jauh-jauh ke sini untuk menjengukku, Sai," Haruno tersenyum tipis.
Naruto memperhatikan Sai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan perasaan agak tidak suka. Dia kembali mengingat pertemuannya di kafe waktu itu. 'Hmm…tidak salah lagi. Memang dia orangnya yang mau melamar Sakura-chan…' batinnya.
Sai mengamati satu-persatu orang yang berada di sekitarnya. Matanya langsung menangkap sesuatu yang terasa berbeda. Dia memandang Sakura yang tengah berdiri di samping tempat tidur. "Astaga, Sakura…kau bisa berdiri? Kau…"
"Iya, Sai-san, aku sudah sembuh, hehe…"
"Wah, syukurlah…"
"Oh, iya, Sai-san kenalkan, ini temanku, Naruto. Naruto, ini Sai, pemilik Sai Record. Dia adalah orang yang berjasa mengundangku untuk tampil di konser kemarin," jelas Sakura.
"Halo, Naruto…senang berkenalan denganmu," Sai mengulurkan tangannya.
"He? Jadi kamu pemilik studio rekaman terkenal itu, ya? Hmm…ngomong-ngomong, kau juga sudah melamar Sakura-chan 'kan?"
"HAAAAH?" koor semua orang terkejut.
"Baka! Apa maksudmu dengan melamar?" semprot Sakura sambil menjitak kepala Naruto.
"Aduh! Sakit, Sakura-chan!" Naruto mengusap kepalanya yang kena jitak.
"Ah, jangan-jangan laki-laki yang Naruto-senpai bilang melamar Sakura-san di kafe dekat sekolah itu maksudnya Sai-san?" tanya Sasame.
"Ya, aku tidak sengaja melihat kalian saat di kafe waktu itu,"
"Ahaha…kenapa kau berpikir aku melamar Sakura, Naruto? Saat di kafe itu aku hanya membicarakan tentang konser musik jalanan yang tempo hari digelar. Aku mengundang Sakura untuk tampil di acara itu," jelas Sai sambil terkekeh.
"Oh…ja-jadi aku salah, ya?" tanya Naruto kikuk.
"Dasar baka! Kau mengambil kesimpulan sendiri?" cibir Sakura.
"Gomen, Sakura-chan…aku benar-benar tidak tahu, ehehe…" wajah Naruto mulai memerah karena menahan malu.
Semua orang pun tak bisa menahan tawanya mengetahui kepolosan (kebodohan?) Naruto. Sementara Naruto hanya nyengir dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dalam hatinya, Naruto merasa lega karena kekhawatirannya saat itu hanyalah kesalahpahamannya saja.
Setelah beberapa lama, Sai pun berpamitan untuk kembali ke Konoha. Namun sebelumnya Sai meminta waktu untuk berbicara empat mata dengan Sakura. Mereka pun keluar dari kamar rawat dan berbincang di koridor.
"Sakura, aku senang kau sembuh. Aku punya tawaran lagi untukmu."
"Tawaran lagi?"
"Ya. Konser musik jalanan waktu itu berhasil dengan baik. Selain itu sekarang semakin banyak yang tertarik dengan penampilanmu juga lagu yang kau buat, jadi aku ingin mengajakmu untuk bekerjasama dan bergabung di perusahaanku. Kau…mau membuat album, Sakura?"
Seketika itu juga Sakura terbelalak sambil menutup mulutnya tak percaya. "A-apa? Me-membuat album?"
"Ya. Aku yakin sambutannya pasti akan bagus! Ini peluang yang besar untukmu memulai karir di bidang musik."
"Apa kau tidak salah, Sai-san? Ini…maksudku aku―"
"Merasa tidak pantas?" ujar Sai melanjutkan kata-kata Sakura yang sengaja dipotongnya.
"Ya…itu hal yang terlalu besar untukku…"
"Apa salahnya dicoba dulu, Sakura? Aku punya harapan besar padamu. Jadi anggap saja ini permintaanku padamu."
Airmata Sakura mulai menggenang di mata emeraldnya. "Kenapa…kenapa kau begitu percaya padaku, Sai-san? Aku sudah berhutang banyak padamu… Bagaimana aku bisa membalas semua itu?"
Sai tersenyum simpul. "Mudah saja, Sakura. Kau terima tawaranku, maka semuanya terbayar. Aku percaya padamu karena kau punya bakat luar biasa. Jadi, kau mau 'kan?"
Sakura mengangguk mantap sambil mengusap airmata yang jatuh membasahi pipinya. "Terima kasih banyak. Aku benar-benar senang!" ungkapnya sambil membungkukkan badannya.
"Baguslah. Nanti aku hubungi lagi untuk langkah selanjutnya. Aku pamit kalau begitu."
"Ya."
Sakura menatap punggung Sai yang semakin menjauh. Airmata mulai kembali mengalir di pipinya. Naruto yang mengamati dari balik pintu segera menghampiri Sakura yang hanya berdiri sambil terisak di koridor rumah sakit.
"Sakura-chan, kau kenapa? Kenapa menangis? Apa laki-laki itu berbuat tidak sopan padamu?" tanyanya cemas.
Sakura menggelengkan kepalanya. "Tidak, Naruto. Sebaliknya…dia memberikan sesuatu luar biasa padaku. Sai-san menawariku untuk bergabung di perusahaannya dan membuat album…"
"Membuat album? Su-sugoooii! Ini benar-benar hebat, Sakura-chan! Kau menerimanya 'kan? Iya 'kan?"
"Tentu, Naruto."
"Waaaahh, bagus! Bagus! Baiklah, mulai sekarang aku yang akan jadi manajermu, Sakura-chan! Pokoknya kau tenang saja, ahahaha…"
"Dasar baka…aku 'kan belum jadi artis."
"Tapi sebentar lagi akan jadi artis 'kan?"
Sakura menatap Naruto yang tertawa senang. Sakura pun memeluk Naruto yang tentu saja langsung membuat Naruto blushing dan salah tingkah. "E-eh, Sakura-chan…"
"Terima kasih."
.
~R.I.N.Z.U.1.5~
.
Seminggu kemudian, ayah Sakura akhirnya keluar dari rumah sakit. Meski kondisinya masih belum pulih secara keseluruhan, namun keadaannya sudah jauh lebih baik. Hanya perlu banyak istirahat dan melakukan perawatan secara berkala untuk pemulihan. Keluarga Sakura kini telah kembali ke Konoha.
Semuanya telah kembali normal. Hanya satu yang sangat berbeda. Sakura sudah tidak menggunakan kursi rodanya lagi. Meski jalannya masih sangat lambat dan sedikit terhuyung-huyung, tapi hal itu tidak membuatnya patah semangat. Dia terus berusaha untuk membiasakan kakinya agar bisa berjalan seperti dulu lagi.
Akhir-akhir ini, Sakura juga lebih sering pergi terapi. Kakashi yang bertugas untuk membantu terapi Sakura, merasa kagum atas kemajuan pesat yang dialami gadis itu. Semangat luar biasa yang ada dalam dirinya membantunya lebih cepat membuat kemajuan.
"Sakura, kau tidak berniat untuk pindah ke sekolah biasa? Kau sudah mulai sembuh 'kan?" tanya Kakashi di sela-sela terapi Sakura.
"Tidak apa-apa, Kakashi-san. Masaku sekolah hanya tinggal sebentar. Mungkin tinggal beberapa bulan lagi. Lagipula sekolahku sangat menyenangkan. Teman-teman dan sensei di sana semuanya baik dan ramah. Aku sama sekali tidak merasa kekurangan suatu apapun. Mereka semua sudah seperti keluarga bagiku. Aku…ingin menghabiskan tahun terakhirku bersama teman-teman di sana. Bagaimanapun juga mereka adalah bagian dari semangatku selama ini."
"Hmm…begitu, ya? Syukurlah kalau kau baik-baik saja."
"Ya."
"Baiklah, terapinya cukup untuk hari ini. Sepertinya pacarmu sudah datang menjemput." Kakashi mengarahkan pandangannya pada pintu masuk ruang terapi sambil tersenyum dibalik masker yang selalu melekat di wajahnya. Di sana sudah berdiri Naruto yang sedang nyengir dan melambaikan tangannya pada Sakura.
"Naruto…" Sakura mulai merona.
"Tetaplah semangat, Sakura!" ujar Kakashi.
"Hem. Terima kasih, Kakashi-san."
Sakura mulai beranjak menghampiri Naruto yang sudah menunggunya. Naruto segera menuntun tangan Sakura untuk membantunya.
"Naruto, kau membawa dua gitar? Apa yang mau kau lakukan?" tanya Sakura ketika melihat dua buah gitar yang berada di punggung Naruto.
"Hehe…tadi sebelum ke sini aku ke rumahmu untuk meminjam gitarmu. Kau tidak keberatan 'kan?"
"Tentu saja tidak, bagaimanapun juga gitar itu milikmu juga, Naruto. Lalu, gitar yang satunya punyamu juga?"
"Begitulah. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Hah? Kemana?"
"Hem…kita lihat saja nanti. Pokoknya kau ikut saja!"
"Baiklah."
.
~R.I.N.Z.U.1.5~
.
Konoha High School
Kiba berjalan menuju pintu gerbang sekolah dengan langkah lesu. Setelah kejadian konser Minggu itu, Kiba tidak bertegur sapa dengan Naruto. Setiap kali Naruto mengajaknya bicara, Kiba selalu menghindar.
Sebenarnya dalam hati Kiba juga sudah merasa lelah bersikap seperti itu terus-menerus pada Naruto. Walau bagaimanapun, Naruto adalah sahabatnya juga. Tapi di sisi lain dia juga sedih dan kesal karena Naruto sudah menyakiti Hinata, gadis yang menarik hatinya.
Mengetahui Naruto yang akhir-akhir ini sudah kembali ceria dan penuh semangat seperti dulu membuat Kiba merasa sedikit lega, meski dalam hatinya masih tersisa perasaan kesal pada si blonde itu.
"Ha-halo, Kiba-kun…"
Deg! Jantung Kiba langsung berdetak kencang ketika mendengar suara yang mampu membuat hatinya merasa hangat. Kepalanya yang sedari tertunduk, seketika itu juga langsung mendongak demi melihat seorang gadis berambut indigo yang kini tengah berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Matanya terbelalak tak percaya.
"Hi-Hinata-chan? Ke-kenapa di sini? Ah, aku tahu. Kau mencari si Naruto, ya? Sayangnya dia sudah pulang dari tadi.
"Bu-bukan, kok! Aku datang ke sini untuk be-bertemu dengan Kiba-kun…" Hinata menundukkan wajahnya malu-malu.
"Eh? Mencariku? Ada apa?" Kiba merasa semakin salah tingkah.
"Um…a-ada yang mau kubicarakan…"
"Apa itu?"
"A-aku sudah dengar dari Naruto-kun kalau kalian sedang bertengkar gara-gara aku, ya?"
"Eh, i-itu… Aku hanya kesal saja karena dia seenaknya memutuskan pertunangan kalian!"
"Aku mengerti, Kiba-kun. Tapi sekarang semuanya sudah berlalu. Memang aku juga awalnya sangat sedih, bahkan shock. Tapi sekarang aku sadar, Naruto-kun juga berhak untuk mengejar kebahagiaannya. A-aku tidak mau memaksakan perasaannya. Ternyata tanpa kusadari, aku juga telah melukai hatinya…"
"Hinata-chan…"
"Ternyata melihatnya bahagia lebih membuatku merasa lega dan ikut bahagia… Ja-jadi, aku harap kalian bisa berbaikan lagi, Kiba-kun…"
Kiba menatap Hinata dan berpikir sejenak, merenungkan kata-kata Hinata.
"Baiklah, aku mengerti. Kalau Hinata-chan sudah bilang begitu, aku tidak punya alasan lagi untuk tidak berbaikan dengannya. Lagipula aku juga sudah lelah bersikap seperti ini terus padanya. Besok aku akan minta maaf pada Naruto." Kiba tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu, Kiba-kun… Aku senang mendengarnya."
"Ahaha…aku juga senang melihat kau baik-baik saja dan ceria seperti ini."
Wajah Hinata sedikit merona mendengar hal itu. Dia merasa malu.
"Hmm…sebenarnya aku kesal bukan hanya karena Naruto memutuskan pertunangan kalian, tapi aku juga marah karena melihat gadis yang kusukai disakiti oleh temanku sendiri," lanjut Kiba.
"E-eh?"
"Kau mengerti maksudku 'kan, Hinata-chan?"
"…"
"Ya, gadis yang kusukai itu sekarang sedang berdiri di hadapanku…"
"Ki-Kiba-kun…"
Wajah Hinata sekarang sudah merah padam. Begitu pula dengan Kiba. Hinata terlihat kebingungan dan salah tingkah mendengar pernyataan Kiba yang begitu mengejutkan baginya. Sementara Kiba berusaha menahan rasa malunya.
"A-apa kau menerimaku, Hinata-chan?"
"A-aku…tidak tahu, Kiba-kun… Ma-maksudku i-ini benar-benar mendadak… Aku senang sekali mendengarnya, ta-tapi aku perlu waktu untuk memikirkannya. La-lagipula aku masih berusaha untuk bisa melupakan perasaanku pada Naruto-kun. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, ja-jadi kau bersedia menungguku 'kan, Kiba-kun?"
"Tentu saja, Hinata-chan! Akan kutunggu sampai kapanpun! Kau tenang saja, tidak perlu terburu-buru. Hanya saja, satu hal yang perlu kau tahu, bahwa aku tulus mencintaimu, Hinata-chan!"
"Te-terima kasih, Kiba-kun…"
Hinata pun memeluk Kiba dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting di dada Kiba. Kiba yang dipeluk seperti itu sontak terkejut dan semakin blushing. Tubuhnya kini terasa membeku bagai patung saking senangnya. Namun akhirnya perlahan Kiba pun membalas pelukan Hinata.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah memperhatikan mereka dari jendela ruang OSIS.
"Ck, sepertinya hanya aku saja yang masih sendiri. Hh~ tapi syukurlah, semuanya berakhir bahagia. Benar-benar menyusahkan…"
"Kenapa, Sasuke-kun?" tanya Karin, sang wakil ketua OSIS.
"Tidak."
Sasuke pun menutup jendela ruang OSIS dan kembali membereskan berkas-berkas yang akan digunakannya untuk rapat kali ini. Karin hanya mengangkat alisnya, bingung melihat sikap ketuanya yang sedikit aneh itu.
.
~R.I.N.Z.U.1.5~
.
"Naruto, kenapa kau membawaku ke bukit belakang sekolah?"
"Ehehe…tidak apa-apa, Sakura-chan. Apa kau tidak merasa rindu pada tempat ini? Dulu kita sering bernyanyi di sini."
"Ya, aku masih ingat. Sudah lama sekali tidak ke sini… ternyata keadaannya tidak berubah, ya? Padahal yang lainnya sangat berubah total."
Sakura melangkahkan kakinya ke padang rumput hijau yang berada di hadapannya. Dia memejamkan matanya dan merasakan hembusan angin segar yang menyentuh kulitnya. Rambutnya yang kini sudah mulai panjang berkibar pelan tertiup angin. Naruto yang melihat hal itu hanya tersenyum dan sedikit merona.
"AAAAAAAAAAA!" tiba-tiba saja Sakura berteriak kencang, membuat Naruto kaget setengah hidup. Sakura hanya tertawa terbahak-bahak.
"Ke-kenapa berteriak begitu, Sakura-chan? Kau hampir membuatku jantungan!" Naruto mengelus dadanya.
"Ahaha…hanya pelampiasan saja, Naruto! Rasanya aku benar-benar senang!"
Naruto pun akhirnya ikut tertawa bersama Sakura. Inilah yang selalu Naruto rindukan. Bersama dengan Sakura dan melihatnya tertawa gembira. Naruto merasa senang tak terkira.
"Naruto, aku ingin sekali berlari!"
"Eh, eh, Sakura-chan! Tunggu dulu―"
Belum sempat Naruto menyelesaikan kata-katanya, Sakura sudah pergi dari samping Naruto. Namun belum sampai berapa langkah, Sakura sudah terjatuh di rerumputan hijau itu.
"Sakura-chaaaann!" Naruto panik dan segera mnghampiri Sakura yang kini sudah duduk terjatuh. "Sakura-chan, kau tidak apa-apa? Kenapa malah berlari seperti itu? Bahaya tahu!"
"Haha…jangan khawatir, Naruto! Aku baik-baik saja, kok! Maaf…habis aku senang sekali! Tapi ternyata kakiku masih belum cukup kuat untuk berlari, ya?"
"Tentu saja! Kau 'kan belum sembuh benar, Sakura-chan! Bersabarlah, ya?"
"Hem…"
"Sekarang ayo kita bernyanyi saja!"
"Ide bagus, Naruto!"
Naruto segera menyerahkan salah satu gitar yang dibawanya pada Sakura. Sakura pun membuka tempat penutup gitarnya dengan perlahan.
"Eh?" Sakura terlihat kebingungan ketika melihat isinya bukanlah gitar tua pemberian Naruto yang selalu dipakainya, melainkan sebuah gitar baru dengan corak bunga sakura yang menghiasinya dengan cantik.
"Na-Naruto…ini bagus sekali! Hebaaaat!" Sakura mengelus gitar itu dengan sangat hati-hati. Matanya berbinar melihat keindahan gitar itu.
"Hehe…bagus 'kan? Aku baru saja membelinya kemarin. Mulai sekarang gitar itu jadi milikmu, Sakura-chan!" ucap Naruto nyengir.
"He?" Sakura terlihat masih kebingungan. Namun setelah berhasil mencerna kata-kata Naruto, barulah Sakura terlihat kaget dan tak percaya. "A-apa? Benarkah? Ma-maksudmu gitar ini untukku, Naruto?"
"Yap! Benar sekali, Sakura-chan!"
"Kau…tidak sedang bercanda 'kan, Naruto?"
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?"
Sakura memandangi gitar barunya dan kembali menatap Naruto. 'Naruto benar-benar tidak sedang bercanda,' batin Sakura. Sedetik kemudian senyum terkembang di bibirnya.
"Terima kasih banyak, Naruto!" Sakura memeluk Naruto dengan perasaan yang membuncah. Dia benar-benar senang sekali dan tak menyangka Naruto akan memberikannya kejutan terindah seperti itu. Naruto membalas pelukan Sakura.
"Syukurlah kalau kau menyukainya, Sakura-chan. Gitar itu sangat cocok untukmu."
"Ya, ini benar-benar bagus! Pasti harganya sangat mahal 'kan, Naruto? Dari mana kau bisa mendapatkan uang untuk membelinya?" tanya Sakura setelah melepaskan pelukannya.
"Ahaha…kau tidak perlu memikirkan hal itu. Yang penting kau harus menjaga gitar itu baik-baik, Sakura-chan! Itu hadiah dariku!"
"Tentu saja! Aku pasti akan menjaganya. Sekali lagi terima kasih, Naruto!"
"Sama-sama, Sakura-chan! Hmm…ngomong-ngomong, Sakura-chan…kau pernah bertanya padaku kenapa aku memutuskan pertunangan itu 'kan?"
"Eh?"
"Sebenarnya jawabannya mudah saja."
"Ke-kenapa?"
"Karena…karena aku juga…mencintaimu, Sakura-chan."
"A-apa?" Sakura terlihat kaget dengan pernyataan Naruto.
"Bahkan sejak dari dulu, saat kita pertama kali bertemu dan menjalin persahabatan. Kau sudah berhasil menarik hatiku…" Naruto menyentuh belakang kepalanya, wajahnya sudah merah padam sekarang.
"Naruto…"
"Naruto Uzumaki juga selalu mencintai Haruno Sakura sampai kapanpun."
Sakura hanya terdiam tak percaya selama beberapa saat. Kata-kata Naruto benar-benar terasa seperti sebuah mimpi. Sakura tidak menyangka kalau ternyata Naruto punya perasaan yang sama dengannya. Sakura merasa sedih ketika mengingat apa yang telah dilakukannya dulu. Dengan bodohnya dia menyakiti hati Naruto. Hati yang sama-sama menyimpan rasa cinta yang tulus.
Tiba-tiba saja airmata Sakura sudah meyeruak keluar dari mata emeraldnya.
"Sa-Sakura-chan…?"
"Maafkan aku, Naruto…" Sakura menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis terisak. Tanpa berkata-kata lagi Naruto kembali memeluk Sakura dengan erat.
"Mulai sekarang, aku akan selalu ada di sampingmu, Sakura-chan. Aku berjanji untuk tidak membuatmu menangis lagi gara-gara aku."
Sakura tidak berkata apapun. Dia semakin menenggelamkan wajahnya di dada Naruto dan menumpahkan perasaan bahagianya. Naruto semakin mempererat pelukannya. Dia bahagia sekali karena akhirnya dia bisa bersama dengan gadis pujaannya.
"Terima kasih, Naruto." Sakura melepaskan pelukannya.
Naruto menatap Sakura dan menghapus airmata Sakura dengan kedua tangannya. "Jangan menangis lagi, Sakura-chan!"
Sakura mengangguk dan tersenyum. Naruto kemudian mendekatkan wajahnya pada Sakura dan mengecup dahi lebar Sakura sekaligus kedua pipi mulusnya. Tak lupa dia memberikan sentuhan bibirnya di bibir mungil Sakura.
Perasaan hangat kini memenuhi hati keduanya. Sakura dan Naruto. Pada akhirnya mereka kembali bersatu dalam takdir. Setelah semua kesedihan yang terjadi, kebahagiaan pun akhirnya datang menghampiri.
.
Kono sora ga, kono kaze ga, kono iro ga moshi kiete shimattara
Bokura wa, bokura wa dounatte shimaun darou
Kono umi ga, kono hoshi ga, kono yume ga, kono toki ga
Togirete shimawanu you ni
(This sky, this wind, this scene should they all disappear
You and I, you and I, I wonder what will become of us
This sea, this star, this dream, this moment
We hope they will not come to an end)
.
"Sakura-chan, kita bernyanyi sambil berkeliling di jalanan Konoha, yuk!"
"Hah?"
"Ayo!" Naruto menarik tangan Sakura menuruni bukit dan menuju Taman Konoha.
"Ayo, mainkan gitarnya, Sakura-chan!"
"Tapi, masa di jalanan begini?"
"Tidak apa-apa. Kita hibur orang-orang, pasti menyenangkan! Kau juga pasti ingin mencoba gitar barumu 'kan, Sakura-chan?"
"Hmm…baiklah."
Sakura pun menyetel gitar barunya dan mengetesnya beberapa saat. Setelah menemukan nada yang pas, musik pun mulai mengalun. Naruto yang membawa gitar tua Sakura, tak ketinggalan untuk ikut mengiringi. Dia segera mengikuti petikan gitar Sakura.
Sakura pun menyanyikan sebuah lagu diikuti oleh Naruto. Mereka mulai menggerakkan badan dan menari mengikuti irama.
.
Tabidachi da nayanderu hima nado nai
Mugen hirogaru mirai ni mukatte
Kakedashita ano hi hadashi no manma de
Shinjite itai kawaranai aitachi wo
Let's set off! There's not even time to be worried
We made a run towards the boundless future
Like in those days when we were barefooted
We wish to be believing in our unchanging love)
.
Usaha mereka berhasil. Satu-persatu orang mulai berdatangan dan berkumpul di tempat Naruto dan Sakura menggelar aksinya. Orang-orang mulai ikut bertepuk tangan dan bernyanyi. Menggerakkan badan mereka, menikmati musik yang mengalun dengan penuh harmoni.
.
Ano hikari, ano namida, ano egao, ano uta mo
Togirete shimawanu you ni
(Those brilliance, those tears, those smiles, and those songs
We hope they will not come to an end)
.
Tawa bahagia dan wajah penuh keceriaan menghiasi siang itu. Jalan baru telah terbuka. Melodi hati yang penuh dengan harapan mengalun dalam diri masing-masing.
.
Atarashii peeji wo mekutte mireba
Mugen ni tsuzuita bokura (no) monogatari
Kanashimi ya sayonara mo dakishimete
Shinjite itai kawaranai aitachi wo
(By trying to turn over to a new page
We continued it forever, our story
We embrace even sorrows, farewells…
We wish to be believing in our unchanging love)
::
~OWARI~
::
Wah, akhirnya ini fic bisa selesai juga! Gomen kalo alurnya kecepetan, ehehe…
Setelah ini aku berencana bikin fic oneshot buat IshiHime perdana. Aku juga punya rencana bikin fic NaruSaku dengan genre adventure, tapi masih rencana, sih, hehe…
Aku ucapkan banyak terima kasih pada semua readers yang udah membaca fic-ku dari awal sampai akhir maupun yang cuma setengahnya atau cuma baca judulnya doang, huhu…aku sangat senang sekali! *nangis terharu*
Makasih buat saran, kritik, pujian, semangat, dukungan, bahkan juga flamenya. Hontō ni arigatou! *bungkuk-bungkuk badan*
Maaf atas segala kesalahan dan kekurangannya. Gimana pun juga aku bukan seorang author hebat, profesional apalagi (jauh banget!). Jadi kekurangan dan kesalahan udah pasti bejibun.
Oke, deh sampai jumpa lagi minna-san! Tak lupa aku mau ngucapin Happy Idul Adha... Ja ne! ^^v
Thanks to all silent readers (kalo ada, ehehe… =P)
Thanks to all reviewers:
Wi3nter • Fidy Discrimination • Masahiro 'Night' Seiran • elven lady18 • Thia2rh • Temari Fanz • sky sorcerer • Heixarn Mizu • Ammai • Deidei Rinnepero • Kanazawa Ryuki • Qwli • Ren Nakuhiko ShieKaru • Arisa-Yuki-Kyutsa • Namikaze Meily Chan • Sandal Jepit • Hikari Hime • Tisa's Flower • Dandelion Dreamless • Ridho Uciha • Uchiha Sakura97 • May' GumMy-chan • The RED Phantom • Kiryuu Ardhi Uzumaki • Nisrina-chan • karinuuzumaki • Nara Aiko • Oline Takarai • Misyel • 00 Ayuzawa 21 Usui 00 • Marmoet-chan • Haruno-chan • Tamarinitemari • Uchiha tu keren • narusaku lovers • lady uchia • Uchiha Icha-chan • hinata hater narusaku lover • Lady Lacus • Ebi katsu • Putri Luna • Intan •
