It's Only My Secret – Challenge 1.5 – Banquet and Future Parent-in-laws?

Suara ponsel berdering membangunkan Len yang masih terkulai lemas di kasurnya. Dia berusaha membuka matanya, tapi matanya merekat dengan baik. Dia meraba-raba tempat tidurnya mencari ponselnya yang berdering. Dia meraih ponselnya yang ada di sebelah bantalnya, kemudian ibu jarinya menggeser layar ponselnya. Len menaruh kembali ponselnya di sebelahnya dan mengubur wajahnya dengan bantal.

Ponsel tersebut bergetar-getar dan terdengar suara-suara seperti orang berbicara. Tapi suara-suara itu tidak terdengar sampai ke telinga Len yang masih tertidur.

"Kagamine Len!" suara dari telefon itu sangat keras dan membuat Len langsung bangun. Matanya membesar dan melebar, alisnya terangkat semua dan telinganya kesakitan. Len bangun dari tidurnya dan langsung menyambar ponselnya tersebut. Matanya terbelalak melihat tampilan panggilan masuk dari layar ponselnya. "Pa-" Len langsung menoleh ke sampingnya dan melihat Miku yang sedikit terbangun, dia sedang mengusap-usap matanya. Len langsung mengalihkan pandangannya ke ponselnya. Waktu di ponselnya masih menunjukan pukul lima subuh, dan keluar suara-suara Gakupo yang memanggilnya sambil mengutuk-ngutuknya. Len kemudian mengangkat ponselnya dan menaruhnya di sebelah telinganya. Dia merubah suaranya menjadi Ran. "Ya ada apa...? kenapa telefon pagi-pagi sekali?" Ran mengusap-usap matanya kemudian menguap.

"Sudahlah kamu tidak usah banyak bicara, cepat mandi dan temui aku di depan gerbang asrama," ucap Gakupo.

Ran mengangkat sebelah alisnya. "Apa? mandi jam segini? jangan bercanda! musim gugur tahun ini itu dingin!" pekik Ran sambil melirik pada Miku yang terbangun dan bangkit dari kasurnya, dia duduk di sisi tempat tidur.

"Aku tidak mau tahu, 'kan bisa mandi pakai air panas, pokoknya satu jam lagi aku tunggu di gerbang komplek sekolah, pakai saja baju biasa," jawab Gakupo dan telefon pun terputus.

"Ada apa Ran?" tanya Miku yang menguap.

Ran menoleh kepada Miku, dia menghela nafasnya kemudian bergeser ke sisi kasur. "Tidak, hanya saja Gakupo menyuruhku untuk menemuinya di gerbang komplek sekolah." Kaki-kaki Ran terjatuh dan menyentuh lantai dingin. Bulu kuduk di punggungnya langsung berdiri. "Kami tidur lagi saja, toh ini masih subuh." Ran kemudian berjalan ke arah kamar mandi.

Miku mengangkat alisnya. "Kamu mau pergi pagi-pagi begini?" kepalanya menoleh mengikuti Ran.

Ran berhenti di depan pintu kamar mandi kemudian menolehkan kepalanya pada Miku. "Ya... karena Gakupo yang memaksa..." Ran kemudian membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalamnya.

Setelah membersihkan diri dia berdandan dan mengenakan pakaian sweater lengan panjang cream dengan rok selutut warna coklat susu. Kakinya yang sedikit berotot ia tutupi dengan stocking hitam untuk membuatnya telihat lebih ramping, kemudian dia menggunakan flat shoes pink. Ran mengaplikasian eyeliner pada matanya agar tampak lebih besar dan bulat. Dia memoles bibirnya dengan lip-gloss pink kemerahan, dan menggunakan teknik gradasi. Ran melihat bayangannya sendiri dan dia tersenyum berseri-seri.

"Katanya jarang memakai make-up... tapi kenapa hasilmu bagus sekali...?" tanya Miku yang melihat bayangan Ran di cermin dari kasurnya. Dia memeluk bantalnya.

Ran menoleh dan terkekeh. "Aku tadi melihat tutorial dari majalah sekolah," ucapnya kemudian dia berdiri dan mengambil tas selendangnya. "Aku pergi dulu ya," lanjutnya dan Ran berjalan menuju pintu. Dia keluar dari kamarnya sambil menoleh-noleh.

Lorong asrama begitu sunyi dan sepi. Saat subuh masih sedikit sekali orang yang bangun kecuali penjaga asrama. Terlebih lagi saat hari libur seperti ini, waktu sarapan setengah jam lebih siang dari hari sekolah.

Ran berjalan menyusuri lorong-lorong sepi dengan flat shoes miliknya. Dia berpapasan dengan beberapa penjaga asrama dan petugas asrama, mereka begitu ramah pada Ran setelah mereka mengetahui status Ran sebagai tunangan Gakupo. Para penjaga dan petugas yang lainnya biasanya berwajah masam pada murid yang lainnya.

Ran berjalan menuju gerbang asrama. Di balik gerbang asrama yang berdiri tegak dan tinggi, terpakir sebuah mobil hitam mewah. Mikuo berdiri di sebelah mobil tersebut, matanya tertuju pada Ran. Ran memanggil Mikuo dan Mikuo membungkukkan kepalanya.

Atas perintah Mikuo, penjaga gerbang asrama membuka pintu gerbang besarnya dan menuntun Ran keluar dari gerbang asrama. Mikuo membuka pintu mobil kursi belakang dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil, duduk Gakupo yang dibalut jas hitam mewah dengan, kerah jas atasnya dibiarkan tegak. Kemeja dalamnya berwarna putih. Kancing-kancing kemeja tersebut berwarna emas. Dia menggunakan dasi kain putih dengan bros amenthys di kepala dasinya. Sepatu fantofelnya disemir hitam dan terlihat cerah. Rambutnya ia biarkan terurai panjang ke bawah. Dia terlihat seperti seorang pangeran dari kerajaan.

Tangan Gakupo bersandar pada sandaran tangan mobil dan mengistirahatkan dagunya pada kepalan tangannya. Kakinya di lipat sementara satu tangannya menelungkup di atas pahanya. Jari-jari lentik Gakupo dibungkus oleh sarung tangan berwarna putih. Gakupo menolehkan kepalanya. "Masuklah ke dalam mobil." Gakupo mengangkat sebelah alisnya dan mulutnya sedikit menganga. "Kamu berdandan? belajar dari mana? kamu mau merayuku?!" pekik Gakupo pipinya sedikit merona.

Len duduk di sebelah Gakupo. "Tidak!" Len memandang jijik Gakupo dan diam sejenak. Dia kemudian bergeser-geser mencari posisi tempat duduk yang nyaman kemudian Mikuo menutup pintunya. "Aku berdandan untuk penyamaranku, agar aku terlihat seperti perempuan," jawab Len sambil berseri-seri.

"Kurasa hati perempuanmu benar-benar bangkit," balas Gakupo kemudian mendengus.

Mikuo kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi supir. Dia menyalakan mobilnya dan menjalankan mobil, mengendarainya melewati jalan lurus untuk keluar dari komplek asrama.

Len menoleh ke belakang melihat gerbang sekolah yang semakin menjauh. Kemudian dia menolehkan kepalanya lagi dan menatap ke depan. "Kemana kita akan pergi pagi-pagi seperti ini?" tanya Len sambil menunjuk jalan yang dapat dilihatnya dari jendela.

Gakupo menolehkan kepalanya pada Len, kakinya yang terlipat terbuka kemudian melipat lagi, memutar posisi sebelumnya. "Kita akan mempersiapkanmu sebelum jamuan makan dengan orang tuaku."

"Makan malam?" Len menyela sambil menoleh pada Gakupo.

"Bukan, makan siang. Mereka akan pergi ke luar negeri jam tiga, makanya mereka hanya bisa siang ini." jawab Gakupo.

Len menatap Gakupo keheranan. "Lalu kenapa kita pergi pagi-pagi seperti ini?"

"Sudah diam saja dan duduklah." Gakupo mengistirahatkan satu tangannya di atas sandaran tangan. "Dengarkan ceritaku baik-baik, Lily akan ada dalam jamuan makan, jadi sebisa mungkin jaga sikapmu baik-baik." Gakupo melirikan matanya pada Ran. "Jaga juga ucapanmu, aku yakin dia datang untuk menyelidikimu juga. Kalau orang tuaku bertanya sesuatu kamu cukup diam saja dan biarkan aku yang menjawabnya, atau jawab saja tapi jangan sampai memberi celah untuk Lily mendapatkan informasimu."

Len mengangkat sebelah alisnya. "Baiklah..."

Suasana di dalam mobil menjadi hening. Mereka semua diam, hanya bunyi roda dan mesin mobil saja yang mengiang-ngiang di kepala Len. Beberapa kali Len melirik Gakupo, tapi air mukanya tidak seperti biasanya, dia terlihat gelisah meskipun matanya memancarkan kefokusannya. Selama perjalanan, Len mengamati jalanan luar dari jendelanya. Kedua tangannya menelungkup di atas pahanya.

Sepertinya paman sedang banyak pikiran, pikir Len.

Setelah memakan satu jam perjalanan dengan mobil, Mikuo melambatkan laju mobilnya dan berbelok, memasuki halaman parkir sebuah toko besar yang mewah. Len memanjangkan lehernya dan mengintip ke luar jendela melihat tulisan besar yang menempel di toko tersebut. 'Ritsu Dress', itu adalah tulisan yang terpampang jelas di jendela besar–dinding kaca. Dengan hati-hati Mikuo memberhentikan mobilnya di depan pintu masuk toko. Dia keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Gakupo, sementara Len membuka pintunya sendiri dan keluar dari mobil. Len tahu saat ini dia harus berganti menjadi Ran, dan dia secara rekleks menekan otot-otot pita suaranya. Ran mengamati ke atas-bawah toko tersebut. Tokonya tidak bertingkat tapi terkesan mewah dengan desain bangunan campuran modern dan klasik.

Gakupo kemudian berjalan melewati Ran dan masuk ke dalam. Ran berlari-lari kecil mengikuti Gakupo yang berjalan tegap di depannya. Tulisan 'tutup' masih menggantung di pintu masuk meskipun dari luar terlihat ada beberapa orang di dalam toko tersebut. Gakupo membuka pintu tersebut, dia sedikit menoleh ke belakang memastikan Ran mengikutinya. Mereka berdua masuk ke dalam.

Ran mengangkat alisnya. Loh, tulisannya tutup, tapi kenapa paman dengan seenaknya masuk? Ran menoleh-noleh ke sekitar ruangan.

Di sisi dinding kaca berjajar patung mannequin dengan gaun-gaun indah, dan sebagian diantaranya adalah gaun-gaun pengantin berwarna putih yang anggun, sederhana tetapi mewah. Di dekat dinding juga berdiri mannequin-mannequin yang menggunakan gaun-gaun pesta yang indah dan mewah. Gantungan-gantungan baju berjajar di tengah-tengah ruangan, ada baju-baju kemeja, kaos, blouse, rok, celana dan juga gaun-gaun. Di sisi-sisi dinding tanpa jendela menggantung rak-rak sepatu yang menjajarkan sepatu-sepatu dan sendal cantik.

Mereka berdua berjalan melewati gantungan-gantungan baju dan berpapasan dengan beberapa penjaga toko. Para penjaga itu menunduk kepada Gakupo, seperti memberi hormat padanya. Ketika Gakupo berhenti di tengah-tengah ruangan, di depan meja kasir, seorang wanita cantik dengan rambut merah dan pakaian gothic mendatangi Gakupo dan berdiri di balik meja kasir. "Waw, apa yang tuan muda lakukan disini pagi-pagi sekali?" Wanita itu tersenyum jahil sambil melirik kepada Ran. Ran sedikit menundukkan kepalanya dan menghindari tatapan wanita itu. "Gadis yang cantik, cocok sekali dengan tuan muda, masih muda dan manis."

Ran menatap geli wanita tersebut kemudian melirik Gakupo, dia langsung membuang mukanya dan mengeluarkan ekspresi kesal, seperti melihat sesuatu yang menjijikan. Terima kasih atas pujiannya tapi tidak, tidak! jangan! aku tidak cocok sama sekali dengannya!

Gakupo sama-sama membuang mukanya dari Len ketika dia menyadari Len menatapnya. Gakupo kemudian menaikan ujung-ujung bibirnya berusaha mengembalikan wajah tenangnya. "Ehm..." Gakupo berdehem. "Dia tunanganku, namanya Ran." Gakupo kemudian menoleh pada Ran, telapak tangannya menengadah dan menjulur kepada wanita tersebut. "Ran, wanita ini adalah pemilik butik ini, dia adalah Ritsu."

Mata Ritsu terbuka lebar dan berseri-seri. Mulutnya terbuka lebar membentuk sebuah tawa. Tangannya saling bertautan kemudian terangkat ke sebelah kepalanya. "Tunangan?! kenapa tuan muda tidak mengadakan pesta sama sekali?! kalau saya tahu, saya akan menyiapkan gaun pesta untuk nona Ran." Matanya bersinar-sinar.

Gakupo memutar matanya dan melirik kepada Ran, dia mengusap-usap belakang lehernya. "Hm..." Gakupo berdehem kemudian menjatuhkan tangannya dan merangkul pinggang Ran, dan menariknya ke sebelahnya. "Sebenarnya aku membutuhkan gaun terbaik untuknya, kami akan datang memenuhi jamuan makan dengan kedua orang tuaku." Gakupo berusaha mengalihkan pembicaraan dari pertanyaan Ritsu.

Ritsu kemudian berjalan ke samping meja kasir dan keluar dari pintu kayu kecil, dia mendekati Ran kemudian memegang bahu Ran. "Tuan muda dan nona datang ke tempat yang tepat, ayo nona ikuti saya. Tuan muda bisa menunggu di sini, saya akan panggilkan pelayan untuk menemani anda."

Gakupo mengacungkan tangannya setinggi kepalanya. "Tidak perlu, aku akan menyuruh Mikuo untuk menemaniku."

Ritsu bergumam, dia memiringkan kepalanya dan memegang dagunya dengan telunjuk lentiknya. "Hm... baiklah," kemudian tangannya menggandeng tangan Ran, "ayo ikuti saya nona Ran." Ritsu menarik Ran dan membawanya untuk memilih-milih pakaian.

Gakupo berjalan ke sofa yang ada di sisi ruangan, dan tidak lama kemudian Mikuo masuk ke dalam dan berdiri di sebelah Gakupo.

Ritsu memilih-milihkan gaun pesta yang ada di deretan gantungan baju satu persatu kepada Ran. Gaun merah, biru, coklat, putih, hitam, semua gaun dicocokan untuk Ran.

Setelah memakan waktu satu jam memilih-milih, Gakupo berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Ran, diikuti dengan Mikuo di belakangnya. Gakupo kemudian berbelok kepada satu gaun yang terpasang pada mannequin. Gaun tersebut berwarna biru tua, berlengan pendek tapi telanjang bahu, rok mengambang selutut, terdapat pita pengikat di belakang pinggang. Dia menoleh kepada Ritsu dan menunjuk patung mannequin tersebut. "Ritsu, apa gaun yang ini dijual?" tanyanya.

Ritsu menoleh dan dia mengangakan mulutnya, mulutnya melengkung ke bawah dan matanya berubah masam. "Itu dijual..." Ritsu diam sejenak, "tapi..." matanya melirik kepada Ran, "itu bukanlah gaun terbaikku, itu terlalu simpel untuk tunangan tuan muda..." matanya melirik kepada baju, "tapi kalau tuan muda menginginkan baju itu... baiklah... akan kucoba baju itu untuk nona Ran." Ritsu kemudian berjalan ke barisan gantungan gaun sore. Dari gantungan tersebut dia mengambil satu baju yang persis dengan yang ada di mannequin. "Hmm... aku jangan salah sangka dulu tuam muda. Saya selalu membuat pakaian satu saja meskipun secara teknis saya membuat dua karena satunya dipasang di mannequin."

Gakupo mendengus. "Aku percaya padamu, aku juga tahu caramu berjualan." Gakupo melipat tangannya.

Ritsu kemudian menginstruksikan pelayannya untuk melepaskan gaun biru itu dari mannequin. Para penjaga toko segera melepaskan gaun tersebut dari mannequin dan membawanya ke ruangan belakang khusus kariawan.

Ritsu membawa gaun biru yang dibawanya sambil menarik Ran untuk ikut dengannya. Mereka berjalan ke ruang ganti. Ran masuk ke dalam ruang ganti sambil membawa gaun tersebut, tangannya kemudian perlahan menutup tirai ganti tapi kemudian Ritsu memegang tangan Ran dengan kencang, seperti menahannya untuk menutup ruang ganti.

Ran tercengang dengan kekuatan tangan Ritsu, dia lebih kuat dari pada Gumi! Alis Ran terangkat sebelah dan dengan canggung dia menurunkan tangannya, membuat Ritsu melepaskan pegangannya. "A-ada apa?" Ran berusaha tampak biasa-biasa saja di depan Ritsu.

Ritsu tersenyum dengan ceria, wajahnya ceria dan berseri-seri. "Biarkan aku membantumu mengganti pakaian ini." Ritsu kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang ganti tapi Ran memegang lengan-lengan atas Ritsu san mendorongnya keluar. "Ti-tidak! tidak perlu..." Ran mundur ke belakang dan memegang tirainya. "Ritsu-san tunggu saja di luar... aku bisa menggunakannya sendiri..." Pipi Ran merona merah.

Wajah Ritsu berubah cemberut. "Baiklah..."

Ran perlahan-lahan membuka bajunya, berkali-kali dia menoleh ke belakang memastikan Ritsu tidak mengintipnya. Dengan berhati-hati dan dengan cepat dia menggunakan gaun birunya, nafasnya sedikit sesak karena gaun itu membungkus badannya dengan erat, tapi masih cukup, hanya saja lebih sesak dari pada seragam sekolahnya. Dari dalam ruangan itu dia mendengar bunyi langkah kaki yang mendekat. Setelah selesai menggunakan baju tersebut, Ran berbalik dan membuka tirainya. Gakupo tercengang melihat Ran, pipinya memerah. Dalam hatinya Ran mengumpat Gakupo meskipun bibirnya melengkungkan senyuman yang manis.

Gakupo mengalihkan pandangannya kemudian kembali melirik Ran, dia menggaruk-garuk kepalanya. "Ya... kamu cantik Ran, kita ambil baju yang itu."

Ritsu memeluk Ran, menyandarkan kepalanya pada dada Ran. "Kyaaa! aku tidak menyangka gaun ini cocok untukmu!" Ritsu kemudian terdiam, dia menolehkan kepalanya pada dada Ran dan menatapnya heran sambil memiringkan kepalanya. Kemudian dia berbisik, "ara-ara aku tidak menyangka tuan muda menyukai hal yang semacam ini. Aku tidak seberuntungmu."

Ran menoleh kepada Ritsu, sebelah alisnya terangkat. "Hah...? apa maksudmu...?"

"Ooh, tuan Ran pasti mengerti maksud saya..." Ritsu cekikikan di telinga Ran. "Tenang saja, aku akan merahasiakannya dari siapapun." Ritsu kemudian melepaskan Ran dan bergerak sedikit menjauhi Ran.

"Ganti pakaianmu ke yang sebelumnya, kita akan pergi ke tempat yang lain," perintah Gakupo sambil memasukkan tangannya ke saku celananya. Dia menolehkan kepalanya, menatap Ritsu. "Kamu pasti punya pasangan sepatu yang cocok dengan gaun itu kan? Aku ambil satu untuk Ran."

Ritsu terkekeh kemudian melirik ke kaki Ran, dia mengangkat kepalanya. "Pastinya, semua sepatuku disini cocok dengan semua pakaian, akan kuambilkan sepatu yang paling cocok dengan gaun nona Ran, tunggu sebentar." Ritsu berbalik kemudian berjalan menuju rak-rak sepatu di dinding.

Ran kemudian berbalik dan kembali masuk ke dalam ruang ganti. Dia melepaskan gaunnya dan mengenakan kembali pakaiannya yang sebelumnya. Saat dia keluar, pelayan mengambil gaun itu darinya dan membawanya ke kasir. Gakupo, dan Ran mengikuti pelayan tersebut ke meja kasir. Ritsu kemudian mendatangi mereka sambil membawa sepatu sendal hak tinggi straps berwarna perak, tinggi haknnya sekitar tujuh centimeter. Tanpa mencocokannya dengan kaki Ran dia langsung memasukan sepatu tersebut ke dalam kotak sepatu dan memasukkannya ke dalam tas kertas. Gakupo memberikan sejumlah uang kepada kasir dan pelayan kasir itu memberikan dua tas kertas kepada Ran, satunya berisi gaun, dan satunya berisi sepatu sendal hak tinggi.

Mereka berdua langsung pergi dari toko tersebut. Mikuo menunggu di pintu depan kemudian membukakan pintu untuk Gakupo dan Ran. Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, Mikuo masuk ke dalam mobil dan menyalakan mobilnya. Mikuo menjalankan mobilnya.

Ran sedikit canggung setelah kata-kata Ritsu tadi, dia telah memanggil Ran dengan tuan. Ran menoleh kepada Gakupo dan mencoba untuk menceritakan yang tadi dikatakan oleh Ritsu.

Gakupo menghela nafas dan dia menghindari matanya dari tatapan Len. Gakupo melipat kakinya dan menautkan kedua tangannya dan menaruhnya di atas pahanya. "Tidak aneh kalau Ritsu mengetahui jenis kelaminmu..." ucap Gakupo, dia menelan ludahnya kemudian menoleh pada Ran, memandangnya dengan ekspresi kesal dan sedikit marah. "Ritsu itu sebenarnya sama sepertimu, dia laki-laki yang menggunakan baju perempuan..."

Rahang bawah Ran jatuh, membuka mulutnya lebar-lebar dia tak habis pikir orang secantik Ritsu adalah laki-laki, tapi setelah dia berfikir sebentar, dia tidak perlu berlebihan seperti itu karena dirinya sendiri berdandan seperti perempuan. Ran kemudian melirik tas belanjaan yang dipegangnya. "Aku belum mencoba sepatunya, bagaimana kalau nanti kekecilan atau kebesaran?"

Gakupo melirik tas belajaan tersebut kemudian menoleh pada Ran. "Tidak, tidak mungkin, Ritsu itu punya kemampuan yang hebat, tanpa mengukur badan seseorang dia mengetahui ukuran tubuh orang itu hanya dengan melihatnya saja."

Ran tercengang tapi tak berkata apa-apa. Dia kembali memerhatikan jalanan luar dari jendelanya. Matahari belum berada di puncaknya sehingga membuat pemandangan pagi jauh lebih indah, apalagi dengan daun-daun kemerahan yang berjatuhan dari pohon ke jalanan, menambahkan nilai keindahan sebuah pemandangan dengan warna kemerahannya.

Perjalan terasa lebih lama dari yang sebelumnya, karena jalanan sudah lebih ramai diisi dengan mobil-mobil, dan mereka berhenti di sebuah restoran untuk sarapan. Mikuo kemudian membelokkan mobilnya masuk ke dalam sebuah salon spa kecantikan. Mikuo memberhentikan mobil di depan pintu masuk salon. Mikuo membukakan pintu untuk mereka berdua. Ran meninggalkan tas belanjaannya di dalam mobil. Gakupo dan Ran masuk ke dalam salon kecantikan. Pintu salon menggantungkan tulisan 'buka'. Di dalam salon tersebut sudah berbaris beberapa orang gadis di meja resepsionis. Beberapa gadis yang lainnya duduk menunggu giliran mereka. Gakupo menarik Ran ke meja resepsionis, gadis-gadis memandang Gakupo dengan mata yang berbinar-binar terpesona dengan ketampamannya, tapi kemudian mata mereka melirik pada Ran dan menatap Ran dengan tajam. Tiba-tiba para pelayan salon spa memegang Ran dan menariknya membawanya masuk ke dalam ruang VIP.

Ran dibawa ke ruang VIP. Ran membalutkan dirinya dalam celana pendek, menginstruksikan para pelayan untuk tidak menelanjanginya. Wajahnya memerah dan berdebar takut para pelayan curiga dengan tubuhnya yang sedikit berotot. Dadanya belum terbentuk otot-otot seperti anak laki-laki pada umumnya, tapi tangannya berotot dan dadanya juga sangat rata.

Dia menutup dadanya dengan handuk putih kemudian membaringkan dadanya di meja pijat. Tukang pijat membalur tubuh Ran dengan minyak pijat dan mulai memijat punggung Ran. Tukang pijat itu kemudian menjelajah tubuh Ran dengan memijat tangan serta kakinya. Setelah selesai dengan pijatan, tukang pijat itu membalurkan tubuh Ran dengan lulur dan menggosok-gosok tubuhnya. Tak jarang mata Ran terkantuk-kantuk, tapi dia berusaha membuka matanya agar tetap terjaga dan berhati-hati dengan segala kemungkinan tukang pijat itu curiga dengan tubuhnya. Tukang pijat itu memijat Ran hampir satu jam lebih.

Setelah pijat dan lulur selesai, tukang pijat itu mengantar Ran ke sebuah ruang spa, Ran yang tubuhnya dibalut dengan handuk putih pun masuk ke dalam bak berisi air hangat dengan wewangian buah. Selama berendam juga pelayan spa membersihkan wajah Ran dengan berbagai scrub. Setelah memakan sekitar setengah jam lebih, Ran keluar dari bak tersebut dan menggunakan baju handuk yang disediakan oleh pelayan spa.

Pelayan kemudian membawa Ran ke sebuah ruang make-up. Pelayan itu kemudian memoles wajah Ran dengan bedak secara tipis, memakaikannya eyeshadow, dan make-up lainnya. Ran terus menutup matamya dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Setelah selesai dengan make up, dia membuka matanya. Dia melihat sosok wanita cantik di cermin tersebut, dirinya menjadi lebih cantik. Pipinya merona pink dan bibirnya dipolesi warna nude yang bergradasi dengan warna pink. Siapa yang ada di cermin itu?! matanya membulat kemudian mempelajari seksama sosok di cermin tersebut, itu aku...? waw... aku tidak menyangka bisa jadi secantik ini...

Penata rias kemudian mulai menyisir rambutnya, dia kemudian mengikat rambut Ran menjadi sebuah konde kecil kemudian menarik-narik pelan sedikit rambut Ran sampai terlepas dari ikatan konde. Penata rias itu kemudian mengambil sprai pengeras rambut dan menata tarikan-tarikan rambutnya menggantung ke belakang agar sedikit terlihat acak-acakan tapi rapih. Penata rias itu kemudian mengambil catokan rambut dan memutar sisa-sisa rambut Ran yang tidak digantungkan. Dia kembali menyemprot rambut ikal Ran, sebagian rambutnya yang memutar dia gantungkan kembali ke belakang, setelah selesai, penata rias menata poni Ran, agar rapih. Ran cukup kagum dengan hasil kerja penata rias tersebut yang mempercantik dirinya. Penata rias kemudian membawa tas-tas belanjaan Ran yang sebelumnya ditinggalkan di dalam mobil. Ran membawa tas tersebut dan mengganti pakaiannya dengan gaun biru, dia juga menggunakan sepatunya. Sepatunya sangat pas dan terlihat cantik di kaki Ran. Dia memasukan semua pakaian yang sebelumnya ia pakai ke dalam tas. Ran dituntun oleh pelayan salon pergi menemui Gakupo.

Jantungnya sedikit berdebar lebih kencang dari biasanya, karena untuk pertama kalinya dia menggunakan gaun perempuan, meskipun selama ini dia menggunakan pakaian-pakaian minim yang disediakan Gakupo. Ran berdiri di depan Gakupo, dia menundukkan kepalanya karena malu dengan pandangan-pandangan gadis yang menatapnya iri.

Gakupo sedikit tercengang tapi tidak bicara apa-apa. Dia kemudian menuntun Ran keluar dari salon dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Mikuo kemudian ikut masuk ke dalam mobil mewah tersebut, mengabaikan pandangan-pandangan gadis-gadis yang ada di dalam dan menjalankan mobilnya lagi.

Ran melemaskan punggungnya yang tegang dan menghela nafasnya. "Di dalam tadi benar-benar menegangkan, kemungkinan identitasku terbongkar tadi sangat besar, ngomong-ngomong kenapa harus spa segala sih, salon saja sudah cukup..." Ran kemudian mengelus-elus tangannya. "Ya, tidak rugi juga sih... aku jadi lebih cantik dan kulitku sekarang lebih halus."

Gakupo melirik Ran. "Aku tidak mungkin membawa gadis biasa ke rumah induk." Gakupo melipat kakinya dan bersandar.

Ran menyipitkan matanya dan cemberut. "Apa maksudnya gadis biasa itu hah?"

Gakupo menoleh pada Ran sambil mengangkat satu alisnya. Ujung-ujung bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman yang aneh. Bahunya kemudian terangkat melompat-lompat, nafas Gakupo sedikit terputus-putus, kemudian tawa lepas keluar dari mulutnya. "Hah? jadi sekarang kamu benar-benar menerima jati dirimu sebagai seorang gadis? tidak usah marah seperti itulah."

Ran menggertakkan giginya, ototnya menonjol di keningnya dan pipinya memerah. "Bukan itu maksudku! maksu-"

Mikuo melirik ke kaca spion di atasnya dan menyela Ran. "Nona Ran, tolong jaga emosi anda, make up anda bisa luntur."

Ran langsung menutup mulutnya, otot-otonya yang menonjol kembali melemas, menghilang dari keningnya. "Be-benar juga..."

Mobil mereka masuk ke sebuah komplek perumahan mewah. Ran memerhatikan rumah-rumah mewah tersebut dari jendelanya. Kemudian rumah-rumah tersebut tiba-tiba berganti dengan pepohonan dan pagar rumput, dari pagar-pagar rumput tersebut, salah satunya ada yang terukir seperti patung.

Suara gerbang yang terbuka kemudian menarik perhatian Ran. Gerbang itu berwarna hitam, tingginya hampir sama dengan gerbang sekolahnya, hanya saja pintu gerbang yang ada di depan mereka ini terbuka dengan otomatis. Mikuo mengendarai mobilnya masuk ke dalam halaman besar. Halaman depannya lebih luas dari halaman depan rumah Gakupo yang dikunjunginya dulu. Rumah yang dulu adalah rumah yang langsung mengarah pada jalan setapak, taman dipisahkan oleh pagar rumput. Ran sedikit menganga mengamati halaman depan rumah induk dari balik jendelanya. Rumah yang kali ini dua kali lebih besar, terdapat kolam air besar di tengah halaman depan, di tengah-tengah kolam tersebut tersadapat patung. Mungkin itu patung pendiri rumah ini, pikir Ran. Mobil berbelok dan melewati kolam tersebut, mobil kemudian berbelok lagi dan berhenti di depan pintu rumah induk.

Seorang pelayan sudah bersiap-siap di depan pintu menunggu kedatangan mobil Gakupo. Setelah mobil berhenti, pelayan tersebut membukakan pintunya untuk Ran sementara Mikuo keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Gakupo. Pelayan tersebut menuntun Ran keluar dari mobil, Ran meraih tangannya dan keluar dengan perlahan. Gakupo kemudian berjalan menghampirinya kemudian menggantungkan tangannya dan menyodorkan tangannya pada Ran. Ran meraih tangan Gakupo, dan menggandengnya. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah induk. Di telinga Ran terdengar suara langkah kaki Mikuo yang menjauh dan suara pintu mobil yang tertutup. Kemudian mobil kembali berjalan menuju lahan parkir. Ran ingin sekali melirikkan matanya dan melihat kemana arah mobil itu pergi. Tapi untuk demi menjaga sikapnya dan tidak mempermalukan Gakupo, dia menepis keinginan itu dan menatap lurus ke depan, sambil menahan lengkungan senyuman bibirnya.

Di rumah itu terbentang karpet-karpet merah. Tangga yang setengah melingkar. Tembok cat berwarna cream, lantai marmer berwarna light beige. Dekorasi-dekorasi dan lampu-lampu kecil mewah menggantung di dinding. Di tengah-tengah ruangan menggantung tinggi lampu besar bercorak permata yang dipahat berbentuk seperti air hujan. Ruang aula rumah induk ini dua kali lebih luas dari rumah Gakupo. Gakupo dan Ran disambut oleh para pelayan rumah yang berjajar di pinggir-pinggir karpet merah yang terbentang dari pintu menuju tangga. Ran teringat akan pemandangan disini mirip dengan yang ada di rumah Gakupo. Para pelayan itu membungkuk ketika Gakupo dan Ran mendekat.

Ketika berada di depan tangga Gakupo membawa Ran untuk berbelok ke arah kiri. Mereka berjalan lurus menuju ke sebuah pintu besar tinggi berwarna coklat dari kayu dengan ganggang pintu berwarna emas, di depan pintu itu dihiasi dua tirai merah yang diikatkan ke sisi-sisi pintu. Seorang penjaga yang menjaga di sisi-sisi pintu kemudian mendekati pintu dan membukakan pintu untuk Gakupo dan Ran. Gakupo kemudian masuk ke dalam sebuah ruang makan yang besar. Terbentang meja makan yang panjang berwarna coklat tua, Ran teringat akan meja makan yang ada di sekolahnya. Hanya berbeda ukirannya saja, dan kursi makannya jauh lebih mewah dengan kain pembungkus kursi dari sutra. Di meja makan itu duduk beberap pasang wanita dan pria paruh baya. Mereka duduk dari kursi paling ujung dari meja. Dari semua kursi, hanya tersisa tiga kursi makan. Warna cat dan lantai sama dengan ruang aula, desain lampunya juga sama.

Gakupo tetap menuntun Ran kemudian sedikit membungkukkan kepalanya ketika para tamu di meja makan menatap mereka. Sebagian dari mereka tersenyum, ada juga yang tercengang dengan mulut yang sedikit menganga. Gakupo memiringkan kepalanya dan mendekatkannya kepada kepala Ran yang lebih pendek. Dia berbisik, "Yang duduk di paling ujung meja makan adalah ayahku, yang di sebelah kirinya adalah ibuku. Yang lainnya adalah kolega ayahku, dan sebagiannya adalah saudara-saudaraku." Gakupo diam sejenak. "Inilah sebabnya aku mengajakmu keluar pagi-pagi, kalau tampilanmu biasa-biasa saja... kamu akan dipermalukan oleh mereka, meskipun aku pernah bilang keluarga ini tidak memperdulikan pasangan dari kalangan manapun."

Ran melirik kepada Gakupo, jantungnya berdebar-debar gugup. "A-apaan itu... paman... aku gugup sekali..." bisik Ran. Setiap langkah kaki yang diambilnya terasa sangat berat. Sekujur tubuhnya terasa dingin seketika ketika mereka semua memusatkan perhatiannya kepada mereka berdua.

"Tenang saja, yang penting... jangan bicara apapun, karena Lily juga ikut jamuan makan." Gakupo kemudian menegakkan kepalanya lagi. Gakupo berbelok ketika dirinya berada di sisi kanan meja makan. Dia kemudian berjalan di belakang tamu-tamu yang duduk di kursi meja makan. Gakupo berhenti di kursi sebelah kanan yang ada di sebelah ayahnya. Gakupo menarik mundur kursi untuk Ran dan menuntun Ran duduk. Setelah Ran duduk Gakupo menarik mundur kursi di sebelah Ran, dan duduk di antara ayahnya dan Ran, berhadapan dengan ibunya.

Ran melirik kepada orang tua Gakupo dan mengamati mereka. Pakaian mereka sederhana tapi mewah. Ayah Gakupo mengenakan jas hitam yang mirip dengan Gakupo, potongan rambutnya pendek dan disisir rapih ke belakang. Ibu Gakupo mengenakan gaun sore telanjang bahu berlengan sampai siku berwarna merah. Rok gaunnya tidak terlalu mengembang. Rambutnya pendek bermodel bob dan sebelah kirinya diselipkan ke belakang telinganya, menunjukkan anting-antingnya. Ibu Gakupo kemudian melirik Ran. Ran langsung membungkukkan kepalanya dan dengan senyuman tipis ibu Gakupo sedikit membungkukkan kepalanya.

"Terima kasih karena telah memenuhi undanganku," ucap ibu Gakupo.

"Aku tidak menyangka Gakupo akan membawa seorang gadis yang sangat manis, aku sangat terkejut Lily mengumumkan kalau kamu sudah bertunangan, kenapa tidak membuat pesta?" ucap seorang lelaki berambut pirang.

Ran dan Gakupo menolehkan kepalanya kepasa lelaki tersebut. Ran merhatikan lelaki tersebut. Pakaiannya lebih mewah dari pada Gakupo. Dia menggunakan jas dengan kancing berwarna putih dan dasi kain dengan bros warna aquamarine.

Gakupo membentuk senyuman tipis di bibirnya. "Karena aku lebih senang merayakannya dengan Ran saja. Berdua saja membuat semuanya menjadi lebih romantis," Gakupo kemudian sedikit menolehkan kepalanya kepada Ran kemudian tersenyum manja, "ya kan Ran?"

Ran mengangguk pelan. "I-iya..." Bulu-bulu halus di punggung Ran langsung berdiri, kakinya terasa dingin. Rasanya geli melihat Gakupo tersenyum seperti itu kepadanya. Tapi Ran tidak ingin rahasianya terbongkar dengan sia-sia. Ran tersenyum kepada Gakupo. Dia merasakan tatapan dingin dari ayah Gakupo. Kemudian dia menolehkan kembali kepalanya kepada lelaki pirang tersebut.

Pria tersebut tersenyum kepada Ran, tersenyum dengan manja menggoda Ran. "Aku kalah cepat dari Gakupo, kalau saja aku mengenalmu lebih dulu, kamu pasti akan menjadi milikku."

Ran tersenyum canggung kepada lelaki tersebut. Aku mau sama paman saja terpaksa! aku tidak menyukai yang sejenis! sialan! semuanya sepertinya percaya kalau aku ini anak perempuan... tapi... bagus juga sih... Ran ingin memutar matanya, tapi semua perhatian ini membuatnya kaku.

Ayah Gakupo memejamkan matanya dan membuka mulutnya. "Oliver, jaga sikapmu, nona Ran adalah tunangan Gakupo, jangan merayunya, kalau Lily tau, dia bisa marah," ucapnya kemudian melirik kepada Ran. Ran langsung sedikit membungkukkan kepalanya.

Oliver mengangkat sebelah alisnya kemudian terkekeh. "Aku tidak menggodanya paman, aku hanya terpesona dengan kecantikan nona Ran." Oliver kemudian menatap Ran dengan tatapan manja.

Ran sedikit mengangkat sebelah alisnya kemudian melirik Gakupo. Gakupo sedang tersenyum sambil menahan tawanya. Sialan! si paman sepertinya menikmatinya, dia senang kalau ada laki-laki yang menggangguku.

"Maaf saya telat, karena tadi banyak pekerjaan," ucap seseorang dari pintu. Ran dan yang lainnya menolehkan kepalanya memusatkan perhatiannya pada orang yang baru saja datang. Ran sedikit tercengang, itu adalah Lily. Lily menggunakan gaun sore tanpa lengan yang senada dengan warna rambut kekuningannya. Sepatu haknya berwarna perak. Rambutnya sebelah kanannya diselipkan ke belakang telinganya kemudian rambutnya diurai di depan dadanya. Rambutnya dibuat sedikit bergelombang. Lily berjalan ke sisi kiri meja makan dan berjalan menuju kursi kosong yang terdapat di antara ibu Gakupo dan Oliver. Lily kemudian duduk dan memberikan senyuman yang manis kepada semua orang.

Ran sedikit terpesona dengan senyumannya, apalagi Lily memang cantik, dia juga dibalut baju dan perhiasan mahal. Sesaat Lily melihatnya dan tersenyum kepadanya. Ran merasa bulu-bulu halus dibelakang lehernya berdiri.

Oliver menggembungkan pipinya dan melirik Lily. "Kemana saja kamu? aku tadi menjemputmu tapi kamu malah pergi."

Lily menoleh pada Oliver. "Maaf, tapi orang sibuk sepertiku ini banyak kerjaan."

"Dingin sekali, kadang dingin kadang lembut," Oliver memutar matanya dan menatap Gakupo. "Sepertinya aku harus belajar lebih banyak dari Gakupo untuk membuat tunaganku yanh di sebelah ini tunduk kepadaku."

Gakupo mendengus. "Aku rasa aku tidak bisa membantumu, karena untuk menundukkan Ran aku juga membutuhkan waktu yang sangat lama."

"Sudah-sudah, karena Lily juga sudah datang, mari kita mulai jamuan ini," ucap ayah Gakupo kemudian menoleh kepada Ran. "Jamuan ini diadakan untuk merayakan pertunangan Gakupo dan Ran."

Semua orang kemudian memulai menyantap makanan mereka. Ada yang menyantap supnya dahulu, ada juga yang memotong-motong daging ayam mereka. Ran mengambil pisau dan garpunya dan memotong daging ayam. Ran melirik kepada Lily.

Lily tersenyum dan menarik dagunya kedalam, kemudian menatap Ran dan Gakupo. "Ran, coba ceritakan bagaimana kalian bisa bertemu? aku sangat terkejut ketika kamu berteriak di sekolah kalau kamu adalah tunangan Gakupo."

Oliver menunjuk Ran. "Ah benarkah? Ran berteriak-teriak di sekolah? waw aku sedikit tidak menyangkanya."

Ran tersentak. Dia melirik kepasa Gakupo, Gakupo juga melirikkan matanya kepada Ran. Ran kemudian menghentikan tangannya yang sedang memotong daging. "Ehm... sebenarnya-"

Gakupo langsung menyelanya. "Sebenarnya dia berteriak seperti itu di sekolah karena ada anak yang menjahilinya, jadi dia semacam membela dirinya." Gakupo tersenyum dan melirik Ran. "Aku pertama kali bertemu dengan Ran di perpustakaan kota. Aku sedang memilih-milih buku kemudian aku melihat ada gadis yang tidak bisa meraih buku yang berada di rak tertinggi. Melihatnya yang berusaha mengambil buku seperti itu aku ingin tertawa." Gakupo diam sejenak kemudian tersenyum dengan tulus, senyumannya itu terlihat indah. "Aku membantunya mengambil buku tersebut, tapi dia justru memarahiku. Melihatnya memarahiku seperti itu, aku kaget karena dia adalah perempuan pertama yang berani memarahiku. Tapi kemudian dia meminta maaf, gadis itu pergi sambil membawa bukunya. Aku mengamatinya dari kejauhan, tanpa kusadari aku jadi sering mendatangi perpustakaan hanya untuk melihatnya, dan akhirnya kuberanikan diriku untuk menyapanya. Kami berdua menjadi teman dalam waktu yang cepat dan kalian mungkin tahu sendiri bagaimana kelanjutannya tanpa kujelaskan." Gakupo melirik pada Ran dan tersenyum. "Sebenarnya Ran ini lebih keras dari padaku, itulah yang membuatku tertarik padanya, aku jadi mencintainya."

Menjijikan... akh... aku ingin muntah... Ran tersenyum sambil mengangguk-angguk pelan. Dapat cerita menggelikan dari mana dia? aku padahal benci perpustakaan Ran melirik kepada Lily dan melihat matanya yang menatapnya tajam, menatap dengan kecemburuan. Perasaanku saja atau bagaimana...? kenapa Lily menatapku seperti itu? dia cemburu padaku?

Oliver mengangkat alisnya. "Waw... kalau begitu sama dengan Lily. Lily juga lebih keras dari padaku." Oliver melirik Lily kemudian menunjukan senyuman kepada para tamu. "Tapi tenang, aku bisa menjinakkannya," ucal Oliver sambil cekikikan. Para tamu yang lainnya juga cekikikan.

Ayah Gakupo kemudian menoleh pada Ran. "Ran, apa pekerjaan orang tuamu? apa mereka memiliki perusahaan?"

Ran menangkat sebelah alisnya dan melirik pada Gakupo. Gakupo kemudian menoleh kepada ayahnya. "Ran berasal dari keluarga biasa-biasa, tapi dia istimewa dalam hatiku," jawab Gakupo dengan suara dingin sambil berhati-hati melirik Lily.

Lily tercengang. "Keluarga biasa-biasa?! bagaimana bisa? lalu bagaimana kamu bisa sekolah di sekolah elit milik Gakupo?" tanya Lily kemudian dia menyipitkan matanya dan menarik satu ujung bibirnya ke atas. "Apa jangan-jangan kamu menjual dirimu kepada Gakupo agar bisa sekolah di sana?"

Ran ingin sekali mengahajar mulutnya itu dan ingin mengerutkan dahinya. Ran menundukkan kepalanya dan menelungkupkan tangannga di atas kepalanya. Sialan... lagi-lagi aku dituduh menjual diri. Apa tidak ada tuduhan yang lebih mengenakkan? misalnya aku menghipnotis atau mengancam meninggalkannya kalau dia tidak memasukkanku ke sekolahnya.

Pria paruh baya di sebelah Oliver langsung menatap tajam Lily. "Lily, jaga ucapanmu, Ran adalah tamu disini, jangan bicara yang tidak-tidak." Menanggapi pria itu, Lily hanya memutar matanya.

Oliver mengangkat sebelah alisnya dan menepuk bahu Lily. "Ayahmu benar. Jangan bicara aneh-aneh kamu. Itu sangat keterlaluan." Oliver menatap Ran dengan rasa bersalah. "Maafkan atas sikap Lily, Ran."

Ran sedikit tersentak. Pria yang ada di sebelah Oliver adalah ayah tiri Rin. Ran menatapnya dalam-dalam memerhatikannya. Wajahnya tampan dengan potongan pendek. Pakaiannya juga sama mewahnya dengan jas hitam dan dasi bergaris.

Gakupo menatap Lily dengan dingin kemdian menautkan kedua tangannya. "Aku dan Ran datang kesini atas undangan ayah dan ibu, bukan untuk mendapatkan tuduhan tidak mengenakan seperti itu." Gakupo diam sejenak, Ran meliriknya dan paham jika Gakupo sedang memikirkan kata-kata yang tidak akan menarik perhatian Lily. "Memang benar Ran berasal dari keluarga biasa-biasa saja dan biaya di sekolahku memang sangat mahal. Tapi, bagaimana cara dia masuk ke sekolah ada murni paksaan dariku. Dia kubebaskan untuk sekolah di sekolahku."

Ayah Gakupo menyela. "Kalau begitu kamu memperlakukan Ran secara khusus?" kemudian menyantap potongan daging ayam dari garpunya.

Gakupo mengangkuk dan memotong daging ayam dengan pisau makannya. "Ya, seperti yang ayah lakukan kepada beberapa anak di sekolah. Aku kan kepala sekolahnya, jadi aku bebas untuk memperlakukannya khusus, terlebih lagi dia adalah tunanganku." Gakupo menyantap potongan daging dari garpunya.

Oliver terkekeh. "Kamu beruntung sekali Ran mendapatkan Gakupo. Kapan pernikahan kalian diadakan? Aku pasti datang."

Hanya dalam mimpimu tuan Oliver... aku tidak akan pernah mau dan pernikahan itu tidak akan pernah terjadi. Ran tersenyum, kemudian cekikikan dengan lembut. "Mungkin setelah saya menyelesaikan pendidikan saya... saya ingin menyelesaikan pendidikan sebelum meneruskan ke jenjang yang lebih serius..."

Gakupo melirik kepada Ran kemudian menatap Oliver. "Ya, mungkin setahun atau dua tahun setelah dia lulus dan menjadi sarjana." Gakupo memakan potongan ayam lagi kemudian menelannya dan membuka mulutnya. "Bagaimana dengan kalian berdua?" tanya Gakupo.

Oliver dan Lily saling menatap satu sama lain dan wajah keduanya berubah menjadi memerah. Oliver menaruh garpunya di piring kemudian menggaruk pipinya. "Kami memutuskan untuk menikah setelah Lily lulus tahun ini."

Lily melirik. "Jangan bocorkan rahasia kita, bodoh," pekiknya dengan malu.

Para tamu yang lainnya tertawa dan tersenyum. Ibu Gakupo kemudian memulai pembicaraan-pembicaraan kecil mengenai Gakupo, menceritakan sedikit masa kecilnya dan sesekali menyebutkan nama Rinto. Dalam hatinya Len merasakan rindu kepada ayahnya, sudah lebih dari sebulan dia tidak bertemu ayahnya. Mereka tidak menanyakan pertanyaan-pertanyaan mengenai orang tua Ran, mereka hanya menanyakan nama sekolah Ran yang dulu, dan membuat Ran serta Gakupo kebingungan memilih nama sekolah. Ran kemudian menjawab nama sekolahnya yang dulu karena sudah tidak terpikirkan kata-kata yang lain dan takut kalau mereka akan curiga kalau mereka berdua tidak segera menjawab pertanyaan yang dilontarkan ibu Gakupo.

Setelah jamuan makan selesai. Kedua orang tua Gakupo memberikan pengumuman kepada para tamu kalau mereka berdua akan melakukan perjalan ke luar negeri dan menitipkan perusahaan ditangan Gakupo dan Lily sebagai kedua calon penerus perusahaan. Mereka juga mendoakan agar Gakupo dan Ran bisa bertahan dalam pertunangan mereka dan melanjutkannya ke pernikahan. Ran terus menerus mengumpar dalam hatinya.

Maaf saja, saya tetap tidak akan menikah dengan anak anda meskipun dia laki-laki sempurna sekalipun nona, ucap Len dalam hatinya.

Orang tua Gakupo dan beberapa koleganya berjalan keluar dari ruang makan menuju ruang kerja mereka untuk kembali bekerja. Rumah induk, selain digunakan untuk rumah tapi juga digunakan sebagai tempat pertemuan. Lily, Gakupo dan beberapa orang lainnya–saudaranya, masih duduk dan berbincang-bincang.

Gakupo keluar dari kursinya dan menarik kebelakang kursi Ran. Ran memegang tangan Gakupo, Gakupo berbisik, "acaranya selesai, ayo kita pulang," Gakupo menuntunnya keluar, Ran melirik ke arah Lily. Lily juga bangun dari kursinya, tapi Oliver menarik tangannya dan membuatnya kembali duduk.

"Mau kemana kamu? main pergi saja," ucap Oliver sambil menggembungkan pipinya. "Aku hanya dapat libur kerja hari minggu ini dan kamu langsung pergi begitu saja?" Oliver mengangkat alisnya sambil cemberut.

Wajah Lily memerah. "A-aku masih banyak pekerjaan."

Ran dan Gakupo berjalan menjauhi tempat duduknya. Ran melirik kebelakang menguping Oliver dan Lily sementara Gakupo mengucapkan salam perpisahan kepada saudara-saudaranya.

Oliver cemberut dan mengernyit kesal, dia mengangkat sebelah alisnya. "Kamu ini pelajar atau pegawai kantor sih? temani aku sampai jam tiga sore, besok aku akan pergi."

Lily kemudian memanggil salah satu pelayannya dan berbisik kepadanya. Ran tidak bisa mendengar apa-apa terlebih lagi Lily semakin tidak terlihat karena dirinya dan Gakupo pergi menjauhi meja makan. Setelah keluar dari ruang makan, mereka berdua berjalan di atas karpet merah menuju ke pintu utama. Para pelayan membungkuk menghormati Gakupo. Mobil sudah siap di depan dengan Mikuo yang memegang pintu mobil yang terbuka. Mereka berdua berjalan melewati pelayan dan penjaga pintu. Gakupo masuk ke dalam mobil terlebih dahulu dan bergeser ke dalam, kemudian Ran ikut masuk ke dalam. Mikuo kemudian menutup pintu mobil kemudian berjalan memutar dan masuk ke dalam mobil, duduk di kursi mengemudi. Mobil berjalan kemudian berbelok dan melewati patung besar yang mereka lewati sewaktu masuk ke rumah tadi.

Gakupo melipat kakinya kemudian menaruh sikutnya di sandaran tangan. Gakupo menghela nafasnya. "Untunglah Lily tidak menanyakan hal yang aneh-aneh," ucap Gakupo kemudian menoleh kepada Len dan mengerutkan dahinya. "Tapi kenapa kamu memberi tahu nama sekolahmu yang dulu? bagaimana kalau Lily mencari tahu... hah... kamu menambahkan pekerjaanku, aku harus pergi ke sekolahmu dan membayar orang dalam untuk mengubah data sekolah dan memasukkan nama Shizuku Ran ke dalam daftar murid sekolah."

Len kemudian melepaskan sepatu sendal hak tingginya. "Ya... maaf... masalahnya aku tidak ingin kedua orang tuamu curiga..."

Gakupo mendengus. "Kita langsung pulang ke asrama saja ya, aku juga harus segera memanipulasi datamu. Untunglah Lily atau ibuku tidak menanyakan lebih soal orang tuamu, karena Lily tidak mungkin mencari tahu keluargamu dengan meretas data pemerintah, itu bisa berimbas pada perusahaan."

Len menyipitkan matanya dan menatap Gakupo. "Kalau begitu yang akan kamu lakukan bukannya berimbas pada perusahaan? aku dulu sekolah di sekolah umum loh."

Gakupo diam sejenak dan menunduk ke bawah kemudian menatap Len. "Hmm... tapi tidak se'beresiko itu juga sih, aku hanya akan membayar orang dalam dan mengubah datanya yang akan di tunjukkan kepada Lily, aku punya kenalan di sekolahmu yang dulu. Tapi aku harap aku tidak perlu melakukan itu karena di luar sana masih ada orang yang tidak ingin di bayar untuk hal seperti itu. Semoga Lily tidak mendapatkan informasi apapun."

Len mengalihkan pandangannya. "Ya... aku harap begitu..." Mobil mereka kemudian melintasi sebuah perpustakaan kota, Len teringat akan perkataan Gakupo. "Ah iya..." Len menatap Gakupo yang sedang mengamati pemandangan dari jendela mobil. "Ceritamu soal pertemuan pertama kita bagus juga, tapi bagiku itu menggelikan."

Gakupo langsung menolehkan wajahnya pada Len. Pupil matanya mengecil kemudian membesar kembali normal dan pipinya merona. "Sebenarnya itu pertemuan pertamaku dengan Luka. Itu terjadi beberapa bulan sebelum penerimaan murid baru." Gakupo kemudian menoleh kepada jendela lagi. "Aku sendiri terkejut dan sekaligus senang Luka masuk ke sekolahku dan menjadi anggota OSIS jadi aku sering bertemu dengannya, tapi karena aku kepala sekolah dan dia murid aku membatasi diriku."

Len mengangkat alisnya. "Ternyata ada ya cerita macam itu." Len kemudian melihat ke depan. "Ya meskipun secara teknis paman kepala sekolah tapi umur pamankan tidak beda jauh dengan Luka." Len kemudian melihat orang yang berjalan dengan pakaian hitam-hitam dan membawa rangkaian bunga. Ingatannya teringat pada kuburan ayahnya. Len memperhatikan orang tersebut sampai mobil melewati orang tersebut dan menghilang. Len kemudian menoleh kepada Gakupo. "Paman, sebelum kembali ke asrama, boleh aku pergi ke sesuatu tempat?"

Gakupo menoleh pada Ran. "Hmm? boleh, mau kemana memangnya?" tanya Gakupo.

Len kemudian tersenyum tipis, matanya berubah menjadi lebih sedih. "Aku ingin menemui ayah... tapi..."

.

Setelah memakan lima belas menit perjalanan mobil mereka berhenti di depan sebuah pemakanan, pemakanan dimana ayah Len dimakamkan. Len, Gakupo dan Mikuo menyusuri jalanan berbata, Len membawa satu rangkaian bunga. Mereka bertiga kemudian berdiri di depan sebuah makam. Di batu nisan tersebut tertulis nama 'Rinto Kagamine'. Di atas makan tersebut terdapat sebuah rangkaian bunga.

Len sempat mengganti pakaiannya di dalam mobil dan sempat berdebat dengan Gakupo, karena Gakupo menganggap hal yang di lakukan Len itu merepotkan. Len menggunakan setelan pakaian Mikuo yang ada di dalam mobil Gakupo–baju cadangan, baju pelayan yang sama persis dengan Mikuo. Karena celananya yang kepanjangan Len melipat bagian bawah celana tersebut. Dia menggunakan sepatu Mikuo juga, sepatunya sedikit kebesaran di kaki Len. Dia menghapus semua make up yang ada di wajahnya dan kembali mengikat rambutnya menjadi buntut kuda. Sudah cukup lama dia tidak berpenampilan seperti 'Len' sehingga membuatnya rindu dengan potongan rambutnya. Len menggunakan minyak rambut Mikuo untuk menaikan poninya ke atas. Kalau aku ke kuburan ayah dalam wujud 'Ran' aku takut nanti ada yang curiga, lagipula aku tidak ingin menemui ayah dalam wujud 'Ran.'

Len memerhatikan dengan seksama bunga yang ada di atas kuburan tersebut. Len duduk jongkok di depan kuburan dan menaruh rangkaian bunga yang dipegangnya di sebelah rangkaian bunga lainnya. "Kenapa ada bunga disini?"

Gakupo menyela. "Mungkin ada kerabat Rinto-san yang berziarah."

Mikuo ikut menyela. "Bunganya masih segar, kelihatannya bunga ini baru di taruh disini." Mikuo kemudian menoleh-noleh ke sekitar pemakaman.

Len ikut menolehkan kepalanya ke sekitar. "Tapi siapa...?" Len mendapati sebuah bayangan di balik batu nisan. Batu nisan tersebut berasa di dua deret di depan makan ayahnya dan di baris sebelah kanan. Len kemudian berdiri dan memperhatikan bayangan tersebut. Bayangan itu seperti mengintip mereka yang berziarah ke makan Rinto. Len melangkahkan kakinya, tapi saat dia mulai melangkahkan kakinya bayangan tersebut bersembunyi di belakang batu nisan, Gakupo menghentikan Len. Siapa orang itu?

Gakupo menepuk bahu Len. "Sudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan, berziarah kan wajar, tandanya ada orang yang peduli dengan Rinto-san." Gakupo melepaskan bahu Len. "Lebih baik kita sekarang kembali ke asrama, kamu juga harus siap-siap untuk besok bukan.

Len menoleh ke Gakupo. "Ah... iya..." Len menundukkan kepalanya. "Benar, aku harus bersiap-siap."

Gakupo dan Mikuo kemudian berjalan meninggalkan makan Rinto, sementara Len tetap berdiri sambil memerhatikan nisan tadi digunakan untuk bersembunyi. Ada seseorang yang memperhatikanku... tapi siapa... ingatannya melayang pada Lily dan melayan yang dibisikinya, mungkin pelayan gadis itu...


To be continue