Lala Chastela: Oh, iya, itu. Maaf saya bodoh *jitak diri sendiri* Ahaha, saya mempertimbangkan memindahkan sebagian besar fanfic saya ke Livejournal ataupun Dreamwidth, 'sih... nanti. Kalau saya tidak malas.
.
.
.
Title: Tredici
Genre: Romance
Rating: T
Summary: Tiga belas tahun. Tiga belas tanggal penting. Tiga belas pengalaman pertama Byakuran dan Mukuro Rokudou. 10069.
Prompt(s): Payung.
Warnings: kemungkinan OOC, gay marriage, kemungkinan typo.
Disclaimer: Kateikyoushi Hitman Reborn © Amano Akira
.
.
.
.: 14 Februari, usia 19 tahun :.
~ First Lover's Quarrel ~
.
.
.
Ada suara pintu diketuk, sebelum kayu yang membatasi lorong dengan kamar tersebut berayun membuka. Si pemilik kamar diam saja saat seorang tamu tak diundang memasuki kamarnya karena ia bisa menebak siapa tamu tersebut meskipun saat ini ia sedang membenamkan wajahnya ke dalam bantal.
"Ada perlu apa, Ghost-kun?"
Pemuda dengan rambut pirang panjang yang dipanggil Ghost-kun itu berjalan mendekati Byakuran, si pemilik kamar, dan duduk di tepi ranjang. Selama beberapa saat ia terus diam, sebelum kemudian mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut putih Byakuran.
"Paman dan bibi khawatir," ia memulai, "katanya tadi kau pulang sambil marah-marah, sampai membanting pintu kamar. Ada masalah apa?"
Byakuran menengadahkan kepalanya, mengerutkan dahi. "Kau ini apa, sepupuku atau psikolog pribadiku?"
"Kalau kau mau membayarku, aku bersedia mengambil tawaran pekerjaan itu."
Salah satu bantal yang berserakan di atas kasur melayang, mengincar wajah tampan si rambut pirang namun sayang bidikan si pelempar meleset. Ghost tetap memasang tampang kalem dan kembali mengelus rambut Byakuran, seolah dengan begitu sepupunya itu bisa mengendalikan emosinya lagi. Suasana kembali hening, dan hanya dipecahkan saat Byakuran memutuskan untuk berbicara.
"Kau tahu pacarku, 'kan?"
Ghost menaikkan sebelah alisnya. "Tentu aja. Rokudou Mukuro, pria yang selalu kau bangga-banggakan karena menurutmu sifat tsundere-nya itu sangat manis."
"Aku bertengkar dengannya."
"Bukankah biasanya juga kalian sering bertengkar karena mempermasalahkan hal-hal sepele?"
Byakuran menggeleng. Ghost masih terlihat bingung, tidak mengerti apa yang membuat Byakuran bad mood seperti itu. Maka sekali lagi ia menunggu Byakuran untuk berbicara, untuk menjelaskan rincian permasalahannya. Ia tidak perlu menunggu lama, karena setelah menghela napas panjang, sang tuan muda Gesso mulai bercerita.
.
.
.
Ia mengira sore itu akan menjadi sore yang indah karena, hei, lihat saja kalendar. Hari itu adalah hari di mana banyak pasangan kekasih menghabiskan waktu bersama menikmati makanan manis bernama cokelat. Yup, hari itu adalah Hari Valentine.
Sebagai seseorang yang berstatus taken, tentunya Byakuran juga ingin merayakan hari itu bersama kekasihnya. Persiapannya sudah pas—sekotak Godiva Chocolatier yang digemari Mukuro sudah terbungkus rapi dan berada di tangannya. Jika biasanya ia memberitahu Mukuro bahwa ia akan datang berkunjung ke apartemen lelaki dengan surai biru indigo itu sebelum berangkat ke sana, kali ini ia tidak melakukannya. Malahan, ia mengatakan bahwa ia akan sibuk dengan kegiatan kuliahnya pada hari itu sehingga tidak bisa mengunjungi Mukuro. Niatnya, 'sih, ingin memberi kejutan.
Namun, ternyata bukan hanya Mukuro yang akan merasa terkejut. Ia sendiri juga merasakannya tatkala menemukan mobil truk milik penyewa jasa pindahan di depan gedung apartemen Mukuro. Tidak perlu menjadi seorang jenius untuk menduga siapa yang akan pindah, karena Byakuran segera menemukan dua sosok familiar membantu pegawai perusahaan jasa untuk mengangkut kardus-kardus ke dalam truk.
"Chikusa-chan! Ken-chan!"
Keduanya menoleh karena dipanggil, namun hanya Ken yang menatap Byakuran dengan pandangan tidak senang. "Geh! Si maniak marshmallow!"
Byakuran tidak menggubris cemoohan yang baru saja dilemparkan oleh Ken dan terus berjalan mendekati mereka. "Barang-barang ini... jangan bilang kalau ini milik Mukuro-kun?" Ia bertanya sambil mengamati kardus-kardus yang sudah masuk ke dalam truk. Beberapa ia kenali sebagai kardus yang ia temukan di gudang apartemen Mukuro dan Nagi.
"Begitulah," Chikusa mengangguk. "Memangnya kau tidak diberitahu, Byakuran-san?"
"Tidak."
Bukan Byakuran menjawab pertanyaan dari Chikusa, melainkan Mukuro. Pria dengan surai biru indigo itu mendadak sudah berdiri di belakang Ken, membawa sebuah kardus yang entah apa isinya.
"Aku memang sengaja tidak memberitahunya."
Byakuran dan Mukuro bertatapan selama beberapa detik, sebelum kontak mata tersebut terhenti karena Mukuro mengalihkan pandangannya dan bergerak untuk memasukkan kardus ke dalam truk.
"Hei, Mukuro-kun."
Mukuro, yang hendak berjalan kembali ke apartemennya untuk mengangkut kardus-kardus yang tersisa, berhenti. Sebagai seseorang yang sudah bersama Byakuran selama lima tahun lebih, ia langsung mengenali mood Byakuran melalui nada suaranya. Berdasarkan hal itu, ia paham bahwa, meskipun pria dengan mata sewarna lembayung itu menunjukkan senyum termanisnya, Byakuran sedang marah.
"Kau mengaku kalau kau sengaja tidak memberitahuku bahwa kau akan pindah hari ini. Kuharap kau punya alasan bagus untuk membenarkan tindakanmu itu."
Mendadak atmosfir di sekitar sepasang kekasih itu terasa berat. Chikusa dan Ken bisa merasakannya. Meskipun begitu, keduanya tetap berada di sana, menyaksikan apa yang akan terjadi dan bersiaga kalau-kalau sahabat mereka akan diapa-apakan oleh Byakuran.
Mukuro kembali menatap Byakuran. Lelaki yang lebih muda darinya itu masih tersenyum bak malaikat, namun aura yang ia berikan lebih mirip iblis yang sedang menahan diri untuk tidak mengirim semua manusia ke neraka. Mengintimidasi, namun tidak cukup untuk membuat Mukuro gentar. Ujung bibirnya sendiri ikut tertarik, membentuk senyum yang tak kalah manis.
"Memang ada. Namun aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskannya padamu."
"Kenapa?"
"Seperti yang kukatakan tadi, aku tidak punya ke—"
Kalimat Mukuro terputus saat Byakuran memegang lengannya dan menariknya maju agar keduanya bisa saling bertatapan dengan lebih jelas. Senyum di wajah putera keluarga konglomerat Gesso itu sudah pupus, digantikan dengan ekspresi murka. Ia seperti seorang singa yang hendak menyantap tikus yang sudah mengganggu tidur siangnya.
"Katakan, Mukuro-kun," pelan ia berbicara, seolah jika tidak begitu maka Mukuro tidak akan mendengar apa yang ia katakan. "Sebegitu tidak berharganya aku di matamu? Sebegitu tidak pentingnya, sampai-sampai kau tidak pernah membicarakan masalah-masalahmu jika aku tidak menyadarinya? Menurutmu aku tidak bisa diandalkan, begitu?"
Hening beberapa saat sementara sepasang manik lembayung menatap lurus iris heterochromic di depannya. Lalu setelahnya Byakuran mendapatkan jawaban tegas dan menyakitkan dari Mukuro.
"Sejak awal kau sudah membuatku merasa muak. Jika saja kau bukan berasal dari keluarga kaya dan dapat membantuku mengatasi kesulitan ekonomi semenjak aku dan Nagi pindah ke sini, maka aku tidak akan sudi berbicara denganmu. Itu saja."
.
.
.
"Dan setelah itu kau langsung pulang ke sini, tanpa pamit baik-baik?"
Byakuran mengangguk. Ceritanya sudah selesai, ya. Sekarang ia hanya perlu menunggu saran dari Ghost, yang memang sudah terbiasa menasehatinya sejak kecil. Sepupunya itu biasanya selalu tahu apa yang harus dikatakan agar ia bisa kembali bersemangat. Banyak yang heran kenapa Ghost, yang memiliki wajah nyaris serupa dengan Byakuran, memiliki sifat yang begitu berkebalikan dengan sang tuan muda.
"Kau benar-benar tidak tahu kenapa dia mendadak memutuskan untuk pindah?"
"Tidak."
"Jadi kau tidak pernah menonton berita di televisi?"
"... hah?"
Ghost memutar bola matanya secara imajinatif. "Di mana-mana tersiar berita tentang kematian pemilik perusahaan Rokudou dan istrinya yang artis itu. Mereka termasuk dalam korban kecelakaan pesawat yang hendak terbang ke Amerika kemarin."
Byakuran, yang awalnya berada pada posisi telungkup, segera bangkit ke posisi duduk. Matanya membelalak tak percaya. "Kau serius?"
"Untuk apa aku bercanda?"
Penggemar marshmallow tersebut menggigit bibir bawahnya. Sekarang ia mengerti, atau setidaknya bisa menduga, alasan mengapa Mukuro mendadak pindah dari apartemennya. Ia diminta kembali ke rumah keluarganya untuk mengurus pemakaman kedua orang tuanya itu dan kemungkinan besar akan dibujuk untuk melanjutkan usaha keluarganya. Jika Mukuro menjadi penerus, maka waktu yang bisa ia habiskan bersama Byakuran akan semakin sedikit sehingga hanya butuh waktu hingga hubungan mereka merenggang sebelum benar-benar hilang.
Makanya Mukuro mengatakan hal sekejam tadi, agar mereka tidak perlu melakukan kontak lagi. Agar mereka lebih cepat saling patah hati, lalu segera mengobati diri masing-masing dan move on.
Ghost mengamati perubahan ekspresi Byakuran sambil tersenyum tipis. Ia tahu sepupunya itu sudah mengerti apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan untuk terlepas dari permasalahan ini.
"Kau ingin meminta maaf padanya karena sudah bertindak kasar tanpa tahu alasannya?"
"Ya, tapi—"
"Kalau begitu, ambil jaketmu dan keluarlah. Dia sedang menunggu di luar gerbang."
Byakuran mengerjap beberapa kali. Ghost hanya tersenyum melihat reaksi sang sepupu. Tidak ada tanda-tanda bahwa si rambut pirang itu sedang berbohong. Setelah menyadari hal itu, Byakuran bergegas meraih jaketnya dan berlari meninggalkan kamar.
.
.
.
Mukuro melirik jam tangannya. Sudah sejam ia menunggu sambil bersandar pada dinding yang membatasi area kediaman Gesso dengan jalan umum, tapi Byakuran tak kunjung keluar. Ia jadi berpikir bahwa pria berambut pirang yang menyapanya tadi tidak berhasil membujuk si pemilik rumah untuk menemuinya dan mulai menimang-nimang apakah ia pulang saja. Toh salju mulai turun dan ia benar-benar kedinginan. Bisa gawat juga kalau ia ngotot menunggu dan malah sakit karena terlalu lama berada di luar ruangan.
Namun sebelum ia mencapai keputusan, gerbang pagar bergerak membuka dan Byakuran muncul sambil membawa payung untuk melindungi kepalanya dari guyuran salju. Pemuda dengan rambut putih jingkrak itu berlari mendekati Mukuro, terlihat lega karena sang kekasih belum berhenti menunggu.
"Maaf lama," Byakuran tersenyum canggung seraya berdiri di dekat Mukuro, membuat kekasihnya itu berada di bawah payung juga. "Ghost-kun tidak langsung bilang kalau kau menungguku. Jadi..."
"Tidak masalah. Toh aku hanya ingin mengantarkan sesuatu."
"Sesuatu?"
Pria bermata heterochromatic itu mengangguk, lalu menyodorkan sebuah kotak sambil tersenyum manis. Kotak yang Byakuran kenali sebagai kado Valentine untuk Mukuro. Tampaknya benda itu terjatuh saat ia berlari pergi dari apartemen Mukuro.
"Karena kita sudah putus, jadi kurasa aku tidak berhak menerima coke—"
"Tunggu." Byakuran memegang pundak Mukuro, mengguncang tubuh lelaki yang lebih tua darinya itu sedikit. "Siapa bilang kita putus?"
Mukuro menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya setelah kukatai seperti itu, kau tidak ingin berpisah dariku?"
"Tentu tidak!"
"Tapi—"
Mukuro tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena bibirnya telah terkunci oleh bibir Byakuran. Ia tidak menolak ciuman itu. Tetap diam tak bergeming, menerima rasa hangat yang tersalurkan dari kontak langsung di antara mereka berdua. Ketika ciuman itu terputus, keduanya menatap lurus mata satu sama lain.
"Kalau kau memang akan mewarisi usaha keluargamu," Byakuran memulai, "tunggulah hingga aku lulus. Aku akan bekerja dan suatu saat juga akan mewarisi perusahaan ayahku. Kita akan tetap melanjutkan hubungan ini. Maka dari itu," ia menggenggam tangan Mukuro, yang masih memegang kotak Godiva, "bawalah pulang."
Mukuro diam selama beberapa detik, sebelum menghela napas. "Kau benar-benar seenaknya sendiri, kau tahu?"
Byakuran membalas olokan Mukuro itu dengan tawa. Ia sudah tahu tentang hal itu, dan ia merasa tidak perlu memperbaiki sifatnya yang satu itu. Karena berkat dirinya yang senang berbuat sesuka hati itu, ia berhasil memenangkan hati Mukuro dan juga mempertahankan hubungannya untuk sementara waktu ini.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
Komentar?
