New Adventure (Rebirth)
A/N: Karena saya gak punya sesuatu untuk disampaikan, langsung masuk ke cerita aja! XD (seperti biasa, RRC ada di bawah)
-Chpater 7: Battle for Kanavan Part. 2-
Meanwhile,
Outer Wall of Kanavan
Normal POV
Sementara pertarungan untuk melindungi Kanavan terus berlanjut, tampak 6 sosok beserta seekor serigala besar tengah memandangi keadaan Kanavan dari sebuah bukit di dekat dinding luar Kanavan. Salah satu dari mereka memegang sebuah teropong dan mengarahkannya ke Kanavan.
"Memulai serangan pada Kanavan yah? Untung kita memutuskan untuk ke Kanavan terlebih dahulu," ucap perempuan itu sambil memberikan teropongnya pada laki-laki berambut silver di sebelahnya. Laki-laki itu menyambut teropong tersebut kemudian segera mengarahkannya ke Kanavan.
"Kelihatannya mereka kerepotan, Kanavan Royal Guards dan Ruby Knights mulai terdesak, sementara Ryan, Lire, dan Cruz tampak hampir mencapai batas mereka," komentar laki-laki itu sambil mengembalikan teropong itu pada pemiliknya.
"Tunggu, bisa pinjam sebentar teropong itu?" ujar seorang laki-laki dengan rambut silver lainnya. Ia kemudian mengarahkan teropong itu menyusuri tempat pertarungan itu dan shock saat ia menyadari bahwa penyerangan itu dilakukan di dekat sebuah panti asuhan.
"Well, itu tidak bisa dibiarkan, mereka terlalu dekat dengan sebuah panti asuhan," gumam seorang laki-laki lainnya. Mata kirinya tertutup eye-patch, sedangkan mata kanannya berubah dari warna merah menjadi warna emas dengan bentuk oval.
Laki-laki berambut merah itu menepuk pelan serigala besar disampingnya yang tengah memberikan tumpangan pada seorang gadis mage berambut ungu dan seorang gadis pengguna es di atas punggungnya.
"Cerberus, tolong jaga Arme dan Shera, ok?" gumam laki-laki itu dan disambut dengan geraman serigala besar itu sebagai respon untuk permintaan laki-laki tadi. Laki-laki itu tersenyum, kemudian berjalan kearah tiga rekannya yang lain yang sudah bersiap dengan senjata mereka masing-masing.
Laki-laki itu membuka Eye-patch mata kirinya bersamaan dengan simbol Rune yang mulai bercahaya kemerahan di kedua tangannya. Saat eye-patch itu sudah bergeser dari posisi awalnya, perlahan ia membuka kelopak mata kirinya dan menampakkan mata berwarna hitam dengan iris merah berbentuk oval di tengahnya.
"Lass, Reina, Sean, apa kalian siap?"
Reina tersenyum sambil mengeluarkan sepasang DS-Maverick. Lass merespon dengan membungkukkan sedikit badannya sementara kedua tangannya menggenggam erat katana-nya, bersiap berlari ke medan tempur dan menyayat habis musuh-musuhnya. Sedangkan Sean, ia sudah membuat semua jarum lempar yang dimilikinya untuk terbang mengitarinya, melindungi sekaligus sebagai persiapan serangan baginya.
"Kami sudah siap dari dulu, Theo,"
"Tidak adil!" ujar sebuah suara tiba-tiba. Laki-laki itu – Theo – menoleh kearah sumber suara itu dan mendapati Ice User yang ada di atas Cerberus menggembungkan pipinya.
"Masa' Cuma Lass, Reina, dan Sean yang ditanyai? Kami berdua juga sudah siap tahu!" ujar si Ice User sambil menganggkat tinggi Hammer-Key miliknya, sementara mage berambut ungu di belakangnya juga menganggukkan kepala antusias.
Theo tertawa pelan melihat reaksi dua rekannya yang ia beri tumpangan di atas peliharaannya. Theo kemudian memanggil Blade-Gunnya yang saat ini sudah terselimuti api hitam, bersama summoning rune di kedua telapak tangannya juga sudah siap untuk digunakan.
"Yah, tapi tanpa diberitahu sekalipun, kalian pasti akan selalu siap, bukan? Arme, Shera," ucap Theo sambil tersenyum lebar kearah sang Ice User dan Battle Mage itu. Sementara sang Ice User blushing berat, Theo kembali mengalihkan pandangannya kearah Kanavan.
"Ayo maju teman-teman. Jangan biarkan Kanavan jatuh ke tangan lawan,"
Dan dengan bersamaan, keenam sosok itu ditambah seekor serigala besar berlari menuju Kanavan, memulai serangan mereka pada Orc dan juga Troll yang tengah menyerang kerajaan itu.
Back to Kanavan
Normal POV
"Awas!" ujar Ryan saat melihat Troll yang ada di belakang Cruz mulai mengangkat paku besarnya. Dengan segera, Cruz berguling kearah kanan kemudian melompat mundur. Namun ternyata Troll yang satunya lagi sudah ada di belakangnya.
Troll itu mengangkat tinggi paku besanya dan bersiap menghantam Cruz dengan benda itu. Tapi, bukan Cruz namanya kalau tidak memiliki satu atau dua strategi untuk menghadapi bahaya macam ini.
Cruz menyeringai sambil membisikkan satu kalimat.
"Hunter Trap,"
Dan seketika, tanah disekitar Troll itu berpijak berubah menjadi sepetak jebakan pemburu yang luas, membuat Troll itu kehilangan keseimbangannya juga mobilitasnya. Dengan senyum puas dan juga mengeluarkan manly-tears dari kedua matanya, Cruz mengepalkan salah satu tinjunya.
"Akhirnya kejebak juga!"
SET! Sebuah anak panah lewat tepat di depan mata Cruz, dengan jarak antara panah dan mata Cruz hanya bisa diukur dengan satuan mikroskopik, melesat mengenai seekor Orc yang berniat menyerang Cruz. Cruz terdiam di tempat berdirinya untuk beberapa saat, kakinya gemetaran.
Dilihatnya dari arah mana anak panah itu datang, Cruz mendapati Lire dengan Composite Bow miliknya terarah padanya. Wajah serius Lire saat membidik musuhnya berubah menjadi ekspresi khawatir.
"Cruz! Kamu gak apa-apa, kan?"
Dengan gerakan kaku, Cruz menoleh kearah Lire dan mengangkat salah satu jempol tangannya.
"Iya…tapi seluruh kehidupanku melintas di depan mataku barusan…" ucapnya lemah, sementara Lire memiringkan kepalanya bingung. Tak jauh dari situ, Ryan sweatdrop sambil tertawa garing melihat kejadian yang baru saja terjadi pada Cruz.
"Ayo kita akhiri disini," ujar Lire berlari kearah Troll yang terjebak Hunter Trap milik Cruz. Mengompres energi manna-nya, Lire menembakkan sebuah anak panah berwarna merah keatas.
"Blood Rain!" ujarnya sementara anak panah berwarna merah itu tampak membuka dua vortex yang kemudian menembakkan lebih banyak lagi anak panah berwarna merah, menghujani Troll itu.
Karena tidak bisa lari lagi, Troll itu menerima semua anak panah itu dan akhirnya mati.
"Bagus! Satu lagi, kawan-kawan!" ujar Ryan, Storm Blades di kedua tangannya sambil berlari kearah satu-satunya Troll yang tersisa. Saat sudah cukup dekat, Ryan mengalirkan energi manna-nya sambil meneriakkan signature skill-nya.
"Power Strike!" ujar Ryan, menebaskan kedua Storm Blades-nya berkali-kali secara bergantian, kemudian mengakhiri serangannya dengan melompat ke atas lalu melemparkan kedua Storm Blades-nya ke arah Troll itu dan menciptakan sebuah ledakan.
Troll itu mulai kehilangan keseimbangannya dan jatuh terkapar dengan tubuh yang penuh dengan bekas sayatan. Ryan menggabungkan kedua Storm Blades-nya kembali, kemudian mendekati tubuh Troll yang sudah tidak bergerak itu lagi sambil meletakkan salah satu tangannya di atas kepala Troll itu.
"Aku harap, di waktu yang lain, kita bertemu kembali sebagai teman," ucap Ryan dengan kedua mata tertutup, sementara tubuh Troll itu berubah menjadi serpihan debu yang menghilang di tiup angin, begitu juga dengan Troll yang diserang Lire tadi.
Namun ternyata Ryan dan yang lainnya belum bisa bernapas lega, karena saat ini seorang Orc Warrior berlari dengan kecepatan tinggi ke arah Ryan, palu besi yang ada di tangannya terangkat, bersiap untuk menghantam Ryan dengan benda itu.
Dengan kecepatan yang sudah terlatih, Ryan segera membagi Storm Pike-nya, kemudian bersiap menahan serangan Orc Warrior itu dengan membentuk kedua senjatanya menjadi 'X'. Namun, karena perbedaan massa antara War Hammer dan Storm Bladesnya, Ryan agak sedikit termundur saat palu itu melakukan kontak dengan Storm Bladesnya.
Belum sempat Cruz ataupun Lire melakukan sesuatu untuk membantu Ryan, sebuah bayangan jatuh di atas kepala Ryan. Sang Vanquisher menengok ke atas dan mendapati sesosok perempuan dengan kuping dan ekor rubah mengangkat sebuah palu besar dan bersiap menghantam tanah.
"Minggir Ryan!" ujar sosok itu berteriak, sementara dengan panik Ryan segera mendorong palu si Orc Warrior dengan kedua Storm Blades-nya kemudian melompat mundur, tepat saat gadis itu menghantamkan palunya pada mahluk yang satu ras dengan Hulk itu.
Ryan terbelalak melihat Orc Warrior yang terkapar di depannya dengan tanah yang retak di sekitar tempat ia terkapar, kemudian mengalihkan pandangannya pada sosok yang menolongnya.
Rambut aquamarine, mata yang juga berwarna senada, juga aura sejuk yang menenangkan yang dipancarkan oleh perempuan itu. Tidak ada siapapun yang memiliki ciri-ciri seperti itu di Grand Chase selain Shera Glaciem…well, meskipun perlu ia akui bahwa Shera mengalami banyak perubahan selama 3 tahun ini, khususnya bagian kuping dan ekor rubah miliknya itu.
Selain Shera, Ryan juga menyadari bahwa Arme juga berada disitu, saat ini tengah meng-heal Lire juga Cruz, dengan serigala besar milik Theo – Cerberus – disamping mereka. Tak lama, Shera mengusap keningnya dengan tangan kanannya sambil menyandangkan palu miliknya di bahu kirinya.
"Fyuh…nyampe juga," ucap Shera dengan nada puas.
Ryan yang saat ini sudah dapat mengkonfirmasi bahwa keadaan sudah aman segera menjatuhkan dirinya dalam posisi duduk, kedua Storm Blades miliknya ia tancapkan ke tanah. Dengan senyum terlebarnya, Ryan langsung berkata pada Shera.
"Kulihat 'Taring'-mu sudah tumbuh, terima kasih atas bantuannya Shera," ucap Ryan, menaikkan salah satu jempolnya kemudian merubah posisi duduknya menjadi posisi telentang.
"Kau tidak tahu berapa lama kami menahan para Troll dan Orc itu agar tidak mendekat ke Kanavan," gumam Ryan pelan sebelum akhirnya jatuh tertidur, senyum konyol muncul di wajahnya diikuti dengan suara dengkuran sang Vanquisher.
Para mantan chaser yang lain terdiam melihat hal ini, kemudian tertawa lepas bersama.
Meanwhile,
Back to Ronan & Others
Normal POV
"Tidak mungkin bisa lebih buruk dari ini," gumam Dain sementara Scythe-nya perlahan muncul di tangannya. Namun perkataan Dain malah terbukti sebaliknya. Sementara Lire, Ryan, dan Cruz berhasil menarik perhatian para Troll agar menjauh dari Kanavan, sosok Gaikoz muncul, bendera dengan tulisan kanji dipunggungnya digantikan dengan bendera berlambang D5.
"Aku berkata terlalu cepat…," gumam Dain meratapi ironi yang dialaminya sambil terus berlari dan berlari. Kemudian menerjang musuh bersama para chaser yang lain.
Menyadari kedatangan Dain, beberapa Orc yang berurusan dengan para Royal Guards, mengganti target mereka dan mulai berlari kearah Dain. Beberapa Stone Orc melempar senjata mereka yang terbuat dari batu ke arah Dain, namun Dain sudah terlebih dahulu mengibaskan Scythe-nya dan membelah senjata mereka menjadi dua.
Melihat serangan mereka tidak berhasil, beberapa Orc Warrior mengangkat palu mereka tinggi-tinggi dan mengayunkannya pada Dain. Seakan waktu berhenti, Dain dapat melihat serangan para Orc Warrior itu dalam gerakan lambat.
Tanpa mengeluarkan gerakan yang sia-sia, Dain mengayunkan Scythe-nya dan mengenai tiap Orc Warrior yang berlari kearahnya, bahkan ia menggunakan bagian tumpul dari Scythe-nya untuk memukul mundur dua Orc Warrior sekaligus.
Namun, momentum setelah ia menyelesaikan tiap gerakannya membuat Black Gaikoz melihat celah yang terbuka dari pertahanan Dain. Dain sendiri bahkan tidak sadar bahwa ia sudah sangat dekat dengan sang hantu samurai itu.
Black Gaikoz menancapkan ujung katana-nya ke tanah kemudian mengibaskannya ke atas, membuat beberapa bongkahan batu yang lumayan besar terbang kearah Dain. Dain segera membelah bongkahan batu itu, namun ternyata batu itu hanyalah umpan.
Saat Dain membelah batu itu, Black Gaikoz sudah ada di depannya tepat saat bongkahan batu itu terbelah menjadi dua. Dain yang masih shock merasa seakan waktu berjalan lambat kembali saat katana Black Gaikoz hampir mengenainya, namun kemudian ia sadar akan sesuatu kemudian menyeringai.
"Rock Blaster!"
Black Gaikoz terpental beberapa kaki sebelum kemudian melakukan air-flip dan menancapkan katana-nya di tanah untuk memperlambat kecepatannya. Mata Black Gaikoz bersinar merah saat menatap siapa yang menyerangnya barusan.
Disana, bersama rekan-rekannya yang tengah bertarung menahan para Orc Warrior, tampak Ronan dengan salah satu tangannya terbuka lebar yang masih terdapat energi sihir tersisa disana. Semua yang ada disitu juga sudah pasti tahu bahwa Ronan-lah yang menolong Dain barusan.
"Thank's, Ronan," ucap Dain saat ia sudah melompat mundur dan berdiri tepat di samping Ronan, kedua matanya tidak pernah melepaskan pandangannya dari Black Gaikoz. Ronan hanya menurunkan tangannya kemudian mengarahkan Tyrfing miliknya kearah Black Gaikoz.
"Kau bisa berterima kasih padaku kalau masalah ini sudah selesai,"
Dain terkekeh mendengar tanggapan Ronan. Ronan tersenyum kecil, pandangannya juga tidak pernah terlepas sedikitpun dari Black Gaikoz. Mereka berdua ditambah Black Gaikoz menggenggam erat senjata mereka, dan kaki mereka sudah mengambil ancang-ancang untuk bergerak.
Tanpa aba-aba, Black Gaikoz langsung berlari kearah Ronan dan Dain, begitu pula dengan kedua mantan Chaser yang saat ini menjadi lawannya. Ronan menyerang dari depan, sementara Dain berlari ke belakang Black Gaikoz. Karena Ronan adalah target serangan yang paling dekat, Black Gaikoz mengibaskan katana-nya ke atas untuk menebas Ronan, namun ternyata keputusannya benar-benar salah karena Scythe Dain sudah terlebih dulu menahan katana-nya seperti sebuah kait dari belakang.
Saat katana-nya terhenti, Ronan langsung mengibaskan pedangnya dan melakukan beberapa tebasan, kemudian ia lanjutkan dengan memukul tanah di bawahnya dengan gauntletnya dan menciptakan sebuah pilar sihir yang membuat Black Gaikoz terlempar ke atas.
Sebelum Black Gaikoz menyentuh tanah, Ronan mengalirkan energi sihirnya ke salah satu tangannya kemudian mengibaskannya, dengan maksud untuk menciptakan sebuah gelombang sihir. Namun, sebelum gelombang sihir itu keluar, Black Gaikoz segera menangkap tangan Ronan yang dikibaskan tadi saat masih di udara, kemudian dengan memanfaatkan gravitasi, Black Gaikoz membuat Ronan menurunkan tangannya sehingga gelombang sihir itu berubah arah.
Saat melakukan itu, entah bagaimana, katana Black Gaikoz sudah ada di dekat leher Ronan, bersiap memisahkan tubuh dan kepala si Abyss Knight. Tapi usaha Black Gaikoz untuk membunuh salah satu mantan anggota Chaser lagi-lagi terganggu, kali ini karena sebuah tembakan.
Kalau ukuran pelurunya kecil sih bukan gak apa-apa, masalahnya peluru yang tertembak ke arah Black Gaikoz ini ukurannya lumayan besar dan di selimuti api hitam, mungkin cukup untuk meledakkan satu kepala.
Tapi, karena pelindung wajah yang terlalu keras, Black Gaikoz hanya terpental beberapa kaki dari Ronan saat melakukan kontak dengan peluru itu.
"Cih, keras sekali pelindung wajahnya," ucap seseorang dengan nada kesal. Ronan dan Dain mengingat suara itu, meskipun mereka sadar bahwa kali ini kalimat yang diucapkannya lebih banyak mengandung emosi daripada yang sebelumnya.
Perlahan, Ronan dan Dain memalingkan wajah mereka dan menyadari bahwa kali ini bala bantuan yang datang membantu mereka adalah salah satu partner lama mereka saat masih di Grand Chase dulu.
Berdiri beberapa kaki di belakang mereka berdua, tampak Theo dengan ujung Blade-Gun miliknya yang masih mengepulkan asap, sedangkan tangannya yang lain memutar-mutar satu unit DS-Maverick. Di kedua sisinya nampak dua sosok lain yang bersiap dengan senjata mereka masing-masing.
Theo menyeringai ke arah mereka, menandakan bahwa Theo benar-benar sudah terlahir kembali. Satu pikiran melintas di kepala Ronan dan Dain.
'Kita bisa mengalahkan mereka sekarang!'
Ronan segera menganggkat Tyrfing-nya kemudian mengibaskannya ke bawah dengan bagian ujung pedangnya mengarah ke depan. Para Royal Guardian yang melihat ini mengerti maksud sang Abyss Knight bahkan sebelum Ronan meneriakan:
"Seluruh Pasukan! Serang Dengan Kekuatan Penuh!"
Dain menyeringai mendengar perkataan Ronan, kemudian menatap Theo dengan tatapan sendu bercampur senang.
'Nampaknya…dia sudah mendapatkan ingatan yang nyata kali ini,'
Merasa ada yang memperhatikannya, Theo mengalihkan pandangannya ke arah Dain yang mengangkat salah satu tangannya ke arah Theo, tidak lupa seringai bodohnya nampak tercetak jelas di wajah temannya yang seharusnya sudah mati 3 tahun yang lalu itu.
Namun, karena saat ini keamanan Kanavan adalah hal yang harus di prioritaskan, Theo menunda niatnya untuk mendekati Dain dan terfokus kembali pada medan pertempuran di depannya.
"Reina, aku percayakan posisi penyerang jarak jauh kepadamu," perintah Theo sambil menatap serius Reina. Si Drane.D. berkacamata itu mengangguk kemudian mengeluarkan Blade-Gun miliknya yang berwujud seperti Magnum Sniper Riffle. Theo mengalihkan pandangannya pada Sean.
"Sean, aku percayakan urusan evakuasi kepadamu. Di dekat sini ada panti asuhan, jadi aku harap kau mengurus mereka yang tinggal disana terlebih dahulu,"
Sean mengangguk, kemudian berlari menuju panti asuhan yang Theo maksud. Setelah Sean sudah berada di luar jarak pandang, Theo kembali memfokuskan dirinya pada medan tempur di depannya. Ia menarik napasnya perlahan, kemudian mengeluarkannya melalui mulutnya dengan perlahan juga. Tangannya mendekati Eye-Patch di mata kirinya yang mengeluarkan simbol aneh saat jarinya menyentuh Eye-Patch itu.
"Release," gumamnya kemudian melepaskan Eye-Patch itu dan menampakkan mata biru Cobalt miliknya, sementara Dragon-Eyes sudah aktif di mata kanannya. Sekarang, Theo sudah dapat melihat keseluruhan medan tempur ini dengan lebih baik.
"Saatnya menggunakan teknik Trickster," ucapnya saat ia mulai menyimpan kedua senjata api yang ia pegang. Sebagai gantinya, di punggung kedua tangannya mulai muncul simbol Rune berwarna merah. Dan Theo-pun berlari menuju Dain dan Ronan untuk bergabung dengan mereka.
Sementara itu, Ronan dan Dain berkali-kali bertukar serangan dengan Black Gaikoz yang gerakannya makin brutal namun tetap tidak kehilangan ketepatan serangannya. Ronan sudah beberapa kali men-summon Valkyrie, namun panah dari mahluk astral itu dengan mudahnya di tangkis Black Gaikoz.
"Cih, aku tidak ingat dia sekuat ini," gumam Dain sambil menahan serangan Gaikoz sementara beberapa kali bertukar dengan Ronan untuk melakukan serangan atau sekedar memberi waktu pada sang Abyss Knight untuk mengisi Manna-nya.
"Yeah, aku juga berpikir demikian," gumam Ronan, sekali lagi meng-cast Rock Blaster dan sekali lagi pula serangannya itu berhasil dihindari.
"Dan baju pelindungnya terlalu keras," gumam Theo setelah beberapa kali mendaratkan beberapa pukulan pada Black Gaikoz. Mereka bertiga menatap kesal Black Gaikoz, dan sekilas mereka dapat melihat hantu samurai itu seakan menyeringai meremehkan mereka berdua di balik pelindung wajahnya.
"Kalian berdua sudah selesai? Sekarang, giliranku!" ujar Black Gaikoz mempercepat gerakannya dan mulai memperkecil jaraknya dengan Ronan, Dain, dan Theo. Awalnya, mereka bertiga sudah pasrah untuk menerima serangan Black Gaikoz. Kalaupun ditahan menggunakan senjata mereka, kekuatan di balik Katana Black Gaikoz itu tetap saja akan membuat mereka termundur. Dan kalau mereka menghindar…Dain melirik belakangnya dan melihat seorang lansia terduduk lemas ketakutan tepat dibelakangnya.
'Kalau kami menghindar, orang tua itu bisa dalam bahaya!'
Namun…DAR! Tepat saat Black Gaikoz hendak mengayunkan Nodachi-nya, Sebuah peluru menembus dada kiri Black Gaikoz, menampakkan rongga hampa di balik tebalnya baju pelindung hantu samurai itu. Ronan dan Dain melirik Theo, namun si Trickster sama sekali tidak nampak menggenggam senjata api apapun.
"Sampah," ucap seseorang di belakang mereka. Ronan, Dain, dan Theo segera mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara dan mendapati seorang demon dengan wajah nyaris mirip dengan Lass, ditangannya nampak sebuah pistol dengan ujung laras mengeluarkan asap.
Belum sampai disitu, tiba-tiba sebuah bayangan nampak melompat dari belakang demon pengguna pistol itu, dan dalam hitungan detik, Black Gaikoz yang sempat terlupakan selama beberapa detik tadi nampak terpotong, terpisahkan antara tubuh bagian atas dengan tubuh bagian bawahnya.
"Jiwa yang sudah terkirim ke Underworld tidak boleh kembali lagi ke World of Life," gumam Demon lain yang menggenggam sebuah scythe ditangannya, sangat jelas bahwa dialah yang melakukan serangan terakhir pada Black Gaikoz.
Sementara Ronan dan Theo memasang wajah bingung, Dain malah nampak sangat kesal.
"Cih, kenapa kau ada disini, Wilde?"
Demon pengguna pistol tadi mengalihkan pandangannya pada Dain, wajahnya kemudian berubah dari tenang menjadi ekspresi tidak suka.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, 'Crow'," ucap demon itu dengan nada geram. Dan akhirnya keduanya melempar death-glare pada satu sama lain. Ronan yang tidak tahan ingin bertanya segera mengangkat tangannya untuk menginterupsi.
"Um…kau kenal mereka, Dain?"
Dain mendengus.
"Aku harap aku tidak kenal mereka berdua,"
"Ayolah! Kalau kau tidak bertemu dengan kami, mana mungkin kau bisa mengendalikan senjata-mu itu," ucap demon pengguna scythe tadi sembari merangkul Dain sambil nyengir lebar. Setelah itu dia – demon itu – segera mengalihkan perhatiannya pada Ronan dan Theo.
"Perkenalkan! Dia adalah Rufus Wilde! Bounty Hunter dari Underworld! Aku adalah partner Rufus sekaligus mentor Dain, Freddy Leonard!"
-To Be Continued-
RRC (Review Replies Corner)!
PhiRadian: (yang bales si Dain) ENGGAK! AKU ENGGAK RAPOPO! *nangis* kenapa kau begitu kejam membuat Nerin melupakanku Author?! *maki-maki Shirokawa Hazuki*. Kok nasibku ngenes terus di cerita ini yah? Yo'I gak, Phi? Yah pokoknya, terima kasih atas perhatian anda terhadap saya, karakter yang mati di season 1 kemarin *makin pundung* Well, terima kasih sudah mereview dan terus ikutin NA(R) yah!
The-Flame-lord617: (yang bales si Theo) itu namaku WOE! *kena lempar ke Henir Time & Space juga* *balik lagi sambil nyeret Crow Rider* yah, karena author saya buka penggemar Vanguard, jadi kurang tahu tuh yang mana maksud Flame, tapi jujur nih, plot yang itu memang sudah di siapkan author saya jadi yah…pastinya ada 'sedikit' kesamaan di dalam plot-nya :3, dan soal bagaimana Dain 'menipu' Veigas (Selamat! Anda dapat menebak Mysterious Character-nya!), ntar saya tulis Side Story-nya, cuman nanti-nanti, ok (y)? akhir kata, terima kasih sudah mereview, dan terus ikutin NA(R) yah!
the girl writer: (yang bales si Shera) *puppy eyes dengan kuping rubah diturunin* Spoiler dong maksud kamu di cerita Elsword author~ kalo gak mau kasih tahu, bisikin ke aku aja! Gak bakal ku kasih tahu si author kok (y) hahaha, entah kenapa waktu si author nulis chapie yang itu, konslet-nya meradang, sehingga cerita yang awalnya seriusan berubah jadi ngelawak XD kalau begitu, terima kasih sudah mereview, dan terus ikuti NA(R) yah! X3
Guest: (yang bales si Nerin): Oh! Sudah lama author tidak mendapatkan review dari Guest! Wah, terima kasih Guest-san, karena selalu menunggu lanjutan cerita ini! *bow* Oh ya? Semakin lama semakin seru? Terima kasih atas pujiannya. Akhir kata, terima kasih sudah mereview, dan terus ikutin NA(R) yah! XDD
Perfect Maid Haruka: Hai Ru-chan! Lama gak nampak di fandom GC nih! Pasti sibuk banget yah? He…jadi plotnya mirip Forgotten yah? Hm…jadi pengen ngeliat film-nya langsung. Hahaha! Entah kenapa, setelah S2 dari NMA, Dain malah jadi terlalu serius, yah? Ayo kita buat dia yang paling iseng lagi :3 dan akhirnya gak ada Typo lagi! Yey! Ini dia lanjutannya Ru-chan, selamat membaca!
