Disclaimer: Kuroko no Basuke was created by Tadatoshi Fujimaki

Warning: AU, OOC, Typo, tak sesuai EYD, Violence, Blood dsb

Summary: Kuroko dan "Kiseki no Godai" berhasil mencapai tujuan mereka, yaitu kota Betlehem. Mereka memutuskan akan beristirahat di sebuah losmen bernama Sunny Inn. Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya? Let's check it out! ;)

Bab 8

*Selamat Datang di Sunny Inn!*

Setelah menguburkan mayat Haizaki, mereka berdoa dipimpin oleh Kuroko.

"Haizaki-kun, kami takkan pernah melupakanmu... Semoga kamu tenang di alam baka..." Kuroko mengakhiri doanya. Setelah itu dia bangkit, diikuti yang lain.

Kuroko dan 'Kiseki no Godai menatap batu nisan dari batu biasa sebagai tanda peringatan kematian Haizaki. Mereka tidak mau beranjak pergi dari tempat itu sampai Akashi mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan.

"Semuanya, ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Hari sudah mau petang. Kita harus mencari tempat perlindungan dari kejaran Assassin. Mereka tidak akan menemukan keberadaan kita," ujarnya sambil bergegas pergi membelakangi mereka.

"Baik!" seru mereka serempak.

Mereka pergi meninggalkan makam Haizaki. Setelah Akashi dan rekan-rekannya berjalan menjauhi makam itu, dia menatap makam itu dari kejauhan. Di dalam hatinya dia berkata:

"Sayonara, Haizaki... Terima kasih kamu sudah menyelamatkanku. Kamu telah mengorbankan dirimu demi hidupku. Aku takkan pernah melupakan jasamu..."


"Hmph... Aku tak percaya Haizaki sudah tewas. Padahal dia salah satu orang yang ingin menjadi muridku. Dia Assassin yang cukup hebat..." ucap sosok seorang pria berjubah yang sedang menghadap balkon kastilnya.

"Yang Mulia, akulah yang membunuh Haizaki, meskipun aku awalnya ingin membunuh pemimpin 'Kiseki no Godai' yang berambut merah itu. Tapi dia muncul di hadapanku untuk melindungi orang itu. Itulah sebabnya, dia tewas tertusuk pedangku," kata Imayoshi.

Sosok yang mendengarkan cerita Imayoshi hanya menyeringai. "Fufufu... Tak apa, Imayoshi. Dia memang pantas untuk dibunuh. Karena dia telah berani mengkhianatiku," katanya sinis.

"Fufufu..." Imayoshi tertawa pelan. "Terima kasih karena Anda telah mengampuniku."

"Kamu tak salah, Imayoshi. Untuk apa aku mengampunimu, hm? Kamu telah melakukannya dengan baik."

"Tapi aku dan anak buahku belum berhasil membunuh 'Kiseki no Godai', Yang Mulia. Sangat sulit untuk mengalahkannya. Seperti rumor yang dibicarakan, mereka memiliki kekuatan yang hebat hingga anak buahku mati di tangan mereka." Tak lama kemudian, dia melanjutkan, "Sejak seorang pendeta ikut bersama mereka, kekuatan mereka semakin bertambah. Kemungkinan tingkat kesulitan untuk membunuh mereka lebih tinggi lagi..."

Sosok itu terkejut, namun tak lama dia kembali tenang. "Seorang pendeta? Hmm... Aku belum pernah mendengarnya."

"Aku juga, Yang Mulia. Baru pertama kalinya aku bertemu dengan orang itu. Dia bukan petarung, tapi ilmu sihirnya jauh lebih kuat dari mereka. Makanya itulah, aku ingin mencoba membunuhnya. Hanya saja masalahnya, nanti 'Kiseki no Godai' takkan segan-segan untuk melindungi pendeta itu," jelas Imayoshi.

Hmm... Aku penasaran, siapa orang yang sekarang bersama 'Kiseki no Godai'? Aku harus mencari tahu, pikir sosok itu.

"Aku mengerti, Imayoshi." Sosok itu manggut-manggut. "Sekarang, lanjutkan saja misi yang kuperintahkan padamu. Bunuh kelima ksatria itu dan bawa mereka kemari. Jangan lupa sekalian membawa pendeta itu."

"Baik, Yang Mulia! Perintahmu akan segera kulaksanakan," ucap Imayoshi dengan hormat. Lalu dia menghilang dari pandangan untuk melanjutkan tugasnya.

"Fufufu... 'Kiseki no Godai'... Ternyata kalian mengajak seseorang untuk ikut bersama kalian untuk melawan para anak buahku. Hmph! Jangan harap kalian bisa mengalahkan Assassin dengan mudah. Karena suatu saat nanti, kalian pasti akan mati di tangan mereka! Hahaha!" Sosok menyeramkan itu tertawa keras. Seringai jahat muncul menghiasi bibirnya.


Malam tiba. Rembulan muncul menyinari bumi menggantikan sang mentari. Bintang yang jumlahnya tak terhingga berkelap-kelip dengan indahnya.

"Kuu, kuu... Kuu, kuu..."

Terdengar suara burung hantu yang bertengger di atas cabang pohon. Burung hantu itu menoleh ke belakang, kadang ke kanan dan ke kiri. Mencari mangsa yang dapat dimakan untuk mengisi perutnya.

Di bawah pohon, terlihat enam anak muda dengan rambut beraneka warna sedang melanjutkan pengembaraan mereka. Mereka adalah 'Kiseki no Godai' dan seorang pemuda berpakaian pendeta, Kuroko. Ada seekor serigala ikut bersama mereka. Serigala itu adalah Nigou, peliharaan Kuroko.

"Ah, sudah malam. Aku lapar sekali. Persediaan makananku sudah habis..." keluh Murasakibara, orang yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa dan bersurai ungu sebahu sambil mengusap perutnya yang keroncongan.

"Ya, ampun. Bisakah kamu berhenti mengeluh karena makanan?" tegur pemuda bersurai hijau lumut dan berkacamata, Midorima. "Kalau kamu terus seperti itu, kamu bisa makan rumput di sini nodayo."

"Dasar Mido-chin, aku bukan kambing," tandas Murasakibara sambil menggembungkan pipinya kesal, terlihat seperti pipi tupai. "Kalau aku kambing, aku akan memakan rumput di kepalamu itu," sambungnya.

"Hei! Ini rambutku, nanodayo. Bukan rumput, tahu!" seru Midorima marah, merasa diejek rambutnya kayak rumput. Hei, kenapa malah jadi ngomongin soal rambut Midorima sih?

"Hoaaahm... Aku tak tahan lagi. Aku ngantuk..." kata pemuda berambut biru dan berkulit gelap, Aomine dengan wajah lelah sambil menguap lebar-lebar.

"Aku juga, Aominecchi..." timpal Kise sambil mengusap matanya yang berair. Pemuda berambut pirang itu juga tak kalah capeknya. Kakinya sudah tak kuat lagi untuk berjalan saking lelahnya.

"Jangan khawatir, semuanya. Sepertinya kota Betlehem sudah mau dekat. Kita sabar saja," sahut pemimpin 'Kiseki no Godai' bernama Akashi sambil memperhatikan peta di tangannya. Pisuke yang bertengger di bahunya terkantuk-kantuk. Sepertinya dia juga lelah. Lho? Burung itu kan nggak melakukan apa-apa selain bertengger di bahu pemiliknya.

"Seberapa dekat, Akashi-kun?" tanya Kuroko, yang berjalan di sampingnya sambil ikut memperhatikan peta.

"Sekitar 500 meter lagi," jawab Akashi yang kontan membuat rekan-rekannya terkejut bukan main. Mulut mereka menganga lebar, seakan rahangnya mau lepas dan jatuh ke tanah. Sudah mau dekat? Apanya yang dekat? Masih jauh...

"Hoi, Akashi! Apanya yang sudah mau dekat?! 500 meter itu kan artinya masih jauh, tahu!" seru Aomine kesal.

Kise cengegesan. "Hueeeh...! 500 meter lagi? Kakiku saja rasanya sudah mau copot-ssu..."

Murasakibara merasa dirinya mau mati saja. Dalam hatinya, dia tak kuat meneruskan perjalanannya ke kota Betlehem sebab rasa lelah sekaligus lapar yang tak tertahankan. Perbekalan makanan saja sudah habis tanpa sisa. Gimana mau jalan lagi?

"500 meter itu kelihatannya dekat. Tapi kalau melanjutkan perjalanan ini, aku sudah tak sanggup lagi nodayo..." timpal Midorima sambil mengusap keringatnya. "Lebih baik kita istirahat saja dulu, Akashi. Ini sudah gelap nanodayo."

"Midorima, kalau kita beristirahat di sini, aku khawatir kalau para Assassin akan menemukan kita," kata Akashi. "Kan aku sudah bilang, kita ke kota Betlehem untuk mencari tempat bersembunyi yang aman dari kejaran Assassin. Dengan ini, kita bisa memulihkan kekuatan sihir yang kita miliki dan menyerang balik serangan para Assassin," sambungnya.

"Huh, Assassin itu bukan apa-apanya. Aku bisa mengatasi mereka dengan kekuatan yang kupunya. Kalau mereka datang, aku akan menghabisi mereka semua. Yang bisa mengalahkanku hanyalah aku, bukan mereka," kata Aomine enteng seraya membusungkan dada. "Jadi, nggak usah khawatir kalau para Assassin itu menyerang kita. Kita bisa mengalahkannya, kan?"

"Ho, benarkah begitu, Daiki?" Tiba-tiba sisi lain Akashi (baca: Bokushi) muncul lagi. Dia mengeluarkan pedang dari sarungnya dan mengacungkannya ke arah Aomine. Aomine yang menatapnya seketika bulu kuduknya berdiri. "Kalau begitu, kau tak usah ikut bersamaku untuk meneruskan perjalanan. Kau lebih baik di sini dan para Assassin itu akan menghajarmu sampai mati..." ucapnya sinis.

Glek! Aomine menelan ludah. Dia termakan ucapannya sendiri. Tidak bisa membantah Akashi lagi. "OK... OK... Aku lebih baik pingsan di tengah jalan daripada aku mati diserbu para Assassin. Aku akan ikut denganmu!" katanya ketakutan.

"Bagus. Dan kalian..." Akashi melayangkan pandangannya ke arah rekannya. "Ikuti saja apa perintahku dan ini mutlak. Jangan mengeluh ataupun membantah. Apa hanya dengan berjalan ke kota Betlehem sekitar 500 meter saja membuat kalian kelelahan, hm?" tanyanya sinis sambil mengacungkan pedangnya ke arah mereka, membuat mereka yang memandangnya jadi merinding. Mulut mereka terkunci, tak dapat mengucapkan sepatah kata pun.

"Ayo, cepat jalan! Jangan bengong saja. Atau kalian mau mati di sini?!" titahnya dengan penuh keabsolutan bak kapten pasukan perang.

"Hiii! I, iya, Akashi/Akashi-kun/Akashicchi/Aka-chin!" balas mereka ketakutan. Tanpa ngomong A-I-U lagi, mereka langsung bergerak cepat untuk melanjutkan perjalanan.


"Akhirnya kita sampai," kata Akashi setelah membandingkan peta dengan tujuannya, yaitu kota Betlehem yang sekarang sudah berada di depan matanya.

"Nah, di sini kita bisa berisitirahat dengan tenang. Para Assassin tidak akan menemukan kita," sambungnya optimis. Di belakangnya, Midorima dan yang lain terengah-engah. Begitu juga Nigou. Dia terlihat kelelahan habis menggendong Kuroko di punggungnya. Kelihatannya Kuroko tak bergerak sama sekali. Mungkin dia pingsan di tengah jalan karena tak kuat meneruskan perjalanan. Kasihan sekali...

"Hueh! Akhirnya sampai juga-ssu... Youkatta..." ucap Kise pelan. Kemudian tubuhnya ambruk ke tanah karena capek.

"Hoi, Kise! Jangan pingsan di situ!" seru Midorima agak panik.

"Tolong... Aku... Bawakan aku... Makanan..." ucap Murasakibara terbata-bata. "Aku lapar... Lapar sekali..." Akhirnya dia juga pingsan.

"Murasakibara! Kamu juga, jangan ikut-ikutan pingsan!" omel Midorima. Lalu kedua bola matanya menangkap sosok berkulit gelap dengan rambut biru tua sedang tidur di bawah pohon. Menghilangkan rasa lelah yang masih hinggap di tubuhnya. Sosok itu tak lain adalah Aomine.

"Ya, ampun..." Midorima hanya bisa menepuk jidat melihatnya. Lalu dia berpaling ke arah Akashi dan mendekatinya sambil membenarkan kacamatanya yang masih setia bertengger di hidungnya. "Kamu yakin kita sampai di Betlehem, Akashi?" tanyanya.

Akashi mengangguk. "Ya. Sesuai dengan peta ini, perkiraanku tak salah."

Masih merasa tak yakin dengan jawaban Akashi, Midorima melayangkan pandangannya ke depan untuk memastikan. Tak lama kemudian, ekspresi wajahnya berubah. Dia takjub melihat sebuah kota di depan matanya.

"Wah, benar-benar kota Betlehem. Tak salah lagi..." gumamnya terpesona. Matanya tak berkedip sedikitpun melihat kota yang megah itu.

"Benar, kan? Sudah kubilang kalau aku selalu benar dalam hal apapun. Mencari kota dengan peta ini bukan masalah bagiku," ujar Akashi.

"Ano... Dimana kita sekarang?" tanya Kuroko yang ternyata sudah berada tepat di belakang Akashi dan Midorima. Spontan saja Midorima terkejut.

"Waduh! Oh, ternyata itu kamu, Kuroko... Hei, jangan kamu mengejutkanku seperti itu!" seru Midorima sambil menuding ke arah Kuroko yang masih menatapnya datar.

"Aku sudah di sini dari tadi, Midorima-kun. Kamunya saja yang tak sadar..." balas Kuroko.

"Huh! Mentang-mentang punya hawa keberadaan tipis, seenaknya saja ngomong seperti itu nanodayo..." tutur Midorima agak kesal. "Yah, kuakui hawa keberadaanmu tidak mengancam kami. Untung saja yang datang bukan Assassin nodayo."

"Sudah kuduga. Akhirnya kamu sadar juga, Kuroko," kata Akashi.

"Nigou yang membangunkanku," ucap Kuroko pendek. "Oh, ya. Kamu belum menjawab pertanyaanku," sambungnya mengingatkan.

"Kita sudah sampai di kota Betlehem," jawab Akashi. Begitu mendengar jawaban Akashi, semua yang masih tergeletak jadi bangun lagi.

"Kota Betlehem? Benarkah itu-ssu?" Muka Kise mendadak berubah cerah. Dia bangkit untuk berdiri dan berlari untuk melihat kota Betlehem yang sekarang sudah di depan matanya.

"Sugee! Horeee... Kita akhirnya sampai di kota Betlehem-ssu!" serunya sambil melompat girang. Kemudian dia memeluk Kuroko erat saking senangnya. "Aku senang sekali, Kurokocchi!"

Dasar Kise-kun. Main peluk segala... Memangnya aku ini guling? batin Kuroko. "Tolong lepaskan aku, Kise-kun. Aku sudah sesak..." katanya dingin.

Aomine dan Murasakibara juga bangkit dan berjalan ke arah rekan-rekannya. Lalu mereka melihat kota tersebut untuk memastikan.

"Wah! Akhirnya kita sampai ke tujuan. Kota Betlehem," kata Aomine takjub.

"Hebat... Aku berharap aku bisa mendapat makanan enak di sana..." ucap Murasakibara. Dasar, makanan mulu yang dipikirkan.

"Baiklah teman-teman. Kota Betlehem sudah ada di depan mata kita. Ayo, kita berangkat!" titah Akashi.

"Yeah!" seru rekan-rekannya serempak. Lalu mereka segera melesat pergi memasuki kota.


Meskipun hari sudah malam, kota Betlehem masih terlihat ramai. Banyak penduduk dan kereta kuda berkeliaran di kota itu. Sebagian ada yang sedang beristirahat di rumahnya masing-masing. Lampu-lampu jalan turut menerangi kota itu dari kegelapan malam. Menambah keindahan kota yang megah itu.

'Kiseki no Godai' dan Kuroko begitu terpesona melihat bangunan-bangunan tinggi dengan ukiran-ukiran yang indah. Mereka mengakui kalau kota itu adalah kota yang memiliki bidang kesenian yang berkembang pesat. Tak hanya itu, kota Betlehem adalah kota yang makmur. Yang mereka dengar, hampir setiap penduduk memiliki pekerjaan dalam bidang peternakan. Maka itulah, penduduk di kota itu terlihat kaya dan tak kekurangan suatu apa.

"Tak semegah kota Rosaria, ya..." gumam Kuroko.

"Hn. Tak kusangka kalau kota ini begitu maju dan memiliki jumlah penduduk yang besar." Akashi menimpali. "Lihat saja. Kota ini kelihatannya ramai sekali padahal sudah malam."

"Katanya, kota ini memiliki daging dengan kualitas terbaik... Hmm... Aku penasaran bagaimana rasanya..." tukas Murasakibara. Hampir saja air liurnya menetes kalau dia tak segera menahannya. Yang lain hanya heran sekaligus sweatdrop melihatnya. Dia masih saja memikirkan makanan... batin mereka serempak.

"Ukh!" Kise menahan sakit pada bagian lengan kanannya akibat terkena sabetan pedang Imayoshi tadi. Waktu itu Kuroko yang menghentikan pendarahannya dan mengobatinya.

"Kise-kun, kamu tak apa-apa?" tanya Kuroko. "Mau kuobati lagi?"

"Eh, tidak usah, Kurokocchi... Aku baik-baik saja, kok. Sebentar lagi pasti sembuh-ssu," jawab Kise sambil tersenyum.

"Kamu masih saja menyangkal. Kalau lukamu terinfeksi jangan salahkan aku, ya," balas Kuroko datar. Lalu dia berpaling ke arah Aomine. "Kalau Aomine-kun bagaimana?" tanyanya.

"Hah? Aku?" Aomine balas menatap Kuroko. "Lukaku tidak separah Kise, kok. Hanya saja pipiku memar akibat tendangan dari si Assassin bermata empat itu," jawabnya enteng.

"Untung saja ada Kurokocchi yang mengobatiku dan Aominecchi. Aku sungguh berterima kasih sekali-ssu!" ujar Kise. Kuroko yang mendengarnya hanya menatap Kise heran.

"Memangnya kalau nggak ada aku, siapa yang akan mengobatimu?"

"Hidoi-ssu. Malah responnya dingin begitu..." kata Kise cengengesan.

"Di antara kami nggak ada yang memiliki kemampuan menyembuh sepertimu, Tetsu. Kalau seandainya ada di antara kami berlima terluka, kami-lah yang saling membantu untuk menyembuhkan lukanya dengan persediaan obat yang kami bawa. Biasanya yang membawa obat itu adalah Midorima," jelas Aomine.

Midorima yang merasa namanya disebut, menoleh. "Kalian tadi membicarakan soal apa, nanodayo?" tanyanya jutek.

"Oh, hanya tentang kemampuan menyembuh-ssu. Aominecchi tadi bilang, kamu-lah yang membawakan obat untuk kami," jawab Kise.

"Lalu?"

"Yah, cuma itu."

"Cuma itu? Ya, sudah..." Midorima berpaling ke arah lain. "Aku bukannya penasaran atau apalah, aku hanya merasa namaku disebut nodayo," sambungnya.

Dasar Tsundere. Bilang saja kalau kamu penasaran-ssu... batin Kise.

Mereka berenam akhirnya sampai di sebuah bangunan berlantai tiga dengan papan gantung di depan pintu masuk bertuliskan, "Sunny Inn". Dilihat dari namanya, sepertinya bangunan itu adalah losmen (hotel kecil).

"Hmm... Sepertinya ini tempat yang cocok untuk beristirahat," gumam Akashi. Kemudian dia menoleh ke arah rekan-rekannya. "Baiklah. Aku sudah memutuskan. Kita akan beristirahat di sini," ucapnya mantap.

"Wah, akhirnya kita bisa beristirahat di sini-ssu," kata Kise.

"Hufft... Aku capek sekali. Aku harus memulihkan tenagaku," tukas Aomine sambil memukul bahunya.

"Ano, Aka-chin... Bolehkah aku beli makanan dulu?" pinta Murasakibara pada Akashi.

Akashi menggeleng. "Tidak perlu. Kita kan bisa makan di sini, Murasakibara."

"Hmm, baiklah..." Suara Murasakibara terdengar kecewa. "Tapi, nggak apa-apa. Aku bisa makan di losmen ini. Aku harap mereka menyediakan makanan yang enak di sini..." sambungnya.

"Ayo, kita masuk," ajak Akashi sambil membuka pintu losmen dan masuk. Diikuti oleh Kuroko dan yang lain.

Di dalam losmen itu terdapat ruangan yang luas sekali. Di ujung ruangan ada sebuah counter sebagai tempat untuk melayani pelanggan yang ingin memesan kamar. Sebagian besar ruangan itu diisi oleh beberapa meja dan kursi sebagai tempat makan. Sisanya terdapat perabotan seperti jam dinding yang terbuat dari kayu, beberapa guci dari tanah liat dan bingkai foto. Sehingga ruangan itu terlihat sederhana tapi terasa nyaman. Losmen itu cukup ramai. Terlihat ada beberapa pelanggan yang sedang duduk-duduk sambil menikmati minuman di meja. Bahkan ada yang sedang bermain kartu.

Seiring dengan bukanya pintu, terdengar lonceng berbunyi. Itu pertanda ada pelanggan datang. Langsung saja si pemilik losmen berkacamata dan berambut pendek yang mendengar bunyi lonceng itu, menoleh. Begitu melihat Kuroko dan 'Kiseki no Godai' berada di depan pintu, dia segera menyambut mereka dengan wajah ramah.

"Ah, selamat datang di 'Sunny Inn'! Ada yang bisa kubantu?"

"Ehm... Apa masih ada kamar untuk kami berenam? Kami akan bermalam di sini sampai pagi," jawab Akashi.

"Berenam?" Pemilik losmen itu menatap Akashi heran. Dia lalu memperhatikan yang lain di belakang Akashi dengan seksama. "Bukankah jumlah kalian ada lima?"

"Ano, sumimasen... Yang nomor enam itu aku..." Kuroko langsung menjawab sambil melepaskan tudung yang dikenakannya. Sontak saja pemilik losmen yang melihat ke arah Kuroko terkejut.

"Ah! Se, sejak kapan kamu di situ?!" serunya.

"Aku sudah di sini dari tadi bersama dengan teman-temanku," balas Kuroko datar tanpa menghiraukan kekagetan pemilik losmen itu.

"Sou, maaf aku tidak melihatmu." Pemilik losmen itu berusaha untuk bersikap tenang, lalu dia berpikir. "Hmm... Masih ada. Bahkan cukup untuk kalian berenam. Tapi, kalian harus dipisah."

"Eh? Kenapa begitu-ssu?" tanya Kise dengan kening berkerut.

"Karena kamar yang belum dipakai di sini tinggal dua dan setiap kamar memiliki tiga tempat tidur. Jadi, itulah sebabnya kenapa harus dipisah," jelas pemilik losmen itu.

"Junpei, siapa yang datang? Pelanggan, ya?" Tiba-tiba muncul seorang wanita berambut coklat pendek sebatas leher keluar dari pintu dapur menginterupsi pembicaraan.

Si pemilik losmen yang dipanggil Junpei itu menoleh ke arah wanita itu. "Mereka ini pelanggan yang akan memesan kamar di sini," jawabnya.

"Wah, senang sekali bertemu kalian! Selamat datang di 'Sunny Inn'." Wanita cantik itu menyambut 'Kiseki no Godai' dan Kuroko dengan hangat. "Junpei, layani mereka dengan baik, ya! Siapkan kamar untuk mereka," katanya antusias pada Junpei.

"Baik, Riko. Aku akan mengurus mereka," jawab Junpei sambil tersenyum.

"Yosh! Aku akan kembali ke dapur, ya." Wanita yang dipanggil Riko itu kembali masuk ke dapur.

"Sumimasen. Siapa wanita itu?" tanya Kuroko sambil menunjuk Riko yang sudah masuk ke dapur.

"Oh, dia itu..." Wajah Junpei terlihat memerah. Dia langsung memalingkan mukanya ke arah lain. "Istriku..."

"Istri?!" Betapa terkejutnya 'Kiseki no Godai' dan Kuroko (meskipun ekspresinya masih terlihat datar) mendengar itu. Mereka sama sekali tak menduga kalau Junpei si pemilik losmen sudah menikah.

"Kalau begitu, apa kamu sudah punya anak?" tanya Akashi.

"Ya, aku punya dua anak. Satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Mereka sekarang ini sedang tidur karena sudah malam," jawab Junpei sambil menaikkan kacamatanya yang sudah merosot ke ujung hidung. Lalu dia berjalan menuju lemari di belakangnya dan mengambil dua kunci kamar untuk 'Kiseki no Godai' dan Kuroko.

"Ah, sudahlah! Jadi malu membicarakan istri dan anak segala... Nih, kunci kamar kalian," ujarnya sambil meletakkan dua buah kunci itu di atas counter. Akashi segera mengambil satu kunci dan Midorima mengambil kunci satunya lagi.

"Kamar kalian nomor 211 dan yang satu lagi nomor 212. Seperti yang kalian minta, kalian boleh bermalam di sini sampai pagi. Untuk membayar tarifnya, bisa dilakukan besok," jelas Junpei.

"Arigato gozaimasu," balas Akashi, kemudian diikuti oleh rekan-rekannya, dia berjalan menuju kamar yang dimaksud.

"Tunggu!" Tiba-tiba Junpei menghentikan Kuroko, Akashi dan teman-temannya yang baru saja beranjak pergi dari counter. Mereka menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Junpei dengan wajah heran.

"Ada apa?" tanya Midorima.

"Apa kalian perlu bantuan untuk membereskan barang-barang kalian?" tanya Junpei.

"Tidak perlu. Kami bisa melakukannya sendiri," jawab Akashi.

"Tenang saja-ssu. Kami tidak akan kerepotan menangani barang-barang kami, kok," timpal Kise sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Hmm... Ya, sudah kalau begitu," kata Junpei akhirnya.

Lalu 'Kiseki no Godai' dan Kuroko melanjutkan langkahnya menuju kamar mereka untuk melihat-lihat isi kamar sekaligus membereskan barang-barang mereka.


Setelah Kuroko dan yang lain membereskan barang-barang di kamar, mereka segera bergerak menuju ruang makan. Yah, itu karena perut mereka sedang demo minta diisi. Maka mereka memutuskan untuk makan malam. Saat mereka menunggu makanan dari Riko, istri Junpei yang akan memasakkan untuk mereka, Junpei datang menemui mereka.

"Maaf, kalian mau makan malam, kan?" tanyanya, berusaha bersikap sopan.

"Ya, kami sedang menunggu makanan dari istrimu," jawab Aomine.

"Aku sudah tak sabar untuk menikmati makanannya. Pasti enak..." kata Murasakibara.

Mendengar jawaban mereka, ekspresi wajah Junpei seketika berubah. "Kenapa kalian tidak beli makanan di tempat lain saja?"

"Hah? Apa maksudmu?" Murasakibara malah balas bertanya, heran mendengar pertanyaan Junpei. Begitu juga dengan yang lain.

"Memangnya istrimu membuat makanan aneh, nanodayo?" tanya Midorima.

"Ehm, begini..." Junpei memberi isyarat pada Kuroko dan 'Kiseki no Godai' untuk mendekatinya. Lalu dia berbisik, "Sebenarnya Riko tidak pandai memasak. Karena itu, setiap pelangganku tidak begitu menyukai masakan istriku. Mereka langsung kabur atau pingsan kalau mereka selesai menyantap masakannya. Makanya aku peringatkan kalian untuk berhati-hati. Jangan sampai berkomentar soal masakannya yang buruk, atau dia akan marah..."

Mereka yang mendengar itu langsung bergidik ngeri.

"Ah! Maaf karena telah membuat kalian menunggu." Terdengar suara Riko dari depan pintu dapur. Dia membawa enam piring makanan di atas nampan. "Kalian berenam pasti lapar sekali, kan?" tanyanya sambil tersenyum manis.

Senyumnya memang manis, tapi... Aneh bin ajaib. Makanan itu kelihatannya sudah tak layak untuk dimakan. Lebih mirip makanan ternak. Tentu saja membuat orang tak punya selera untuk memakannya sampai habis.

Riko berjalan menuju meja dimana Kuroko dan 'Kiseki no Godai' duduk. Kemudian dia meletakkan enam piring makanan di atas meja mereka. Masing-masing mendapat satu porsi. Namun Kuroko dan teman-temannya hanya memperhatikan makanan yang sudah di hadapan mereka dengan wajah pucat. Mereka tak sedikitpun berani menyentuh apalagi sampai memakannya.

"Ada apa? Ayo, makan saja. Tak usah malu-malu untuk menghabiskannya," pinta Riko. Lah, mana mungkin Kuroko dan 'Kiseki no Godai' termasuk Murasakibara yang tukang makan sekalipun mau memakannya kalau makanannya seperti itu?

Tapi, mau tak mau mereka harus memakannya sampai habis. Sebenarnya mereka tak mau mengecewakan istri Junpei yang sudah capek-capek memasakkannya untuk mereka. Maka mereka segera mengambil garpu dan pisau yang sudah disediakan.

"Itadakimasu!" Lalu mereka memotong daging dan memasukkannya ke mulut.

"Hap!" Setelah beberapa saat, Kuroko dan 'Kiseki no Godai' akhirnya merasakan daging dari Riko di mulut mereka. Sementara Riko sudah kembali ke dapur seraya bersenandung riang. Lalu mereka akhirnya mulai merasa mual karena daging yang rasanya belum matang.

"Ini tidak enak-ssu! Rasa dagingnya belum matang," komentar Kise.

"Makanan macam apa ini?! Aku merasa seperti makan daging rusa mentah!" seru Aomine agak keras.

"Huek! Daging ini tidak enak sama sekali..." keluh Murasakibara sambil berusaha memuntahkan makanannya.

"Aku menyesal sekali karena telah memakan ini nodayo..." kata Midorima. Dia segera mengambil air minum untuk menelan sekaligus menghilangkan rasa daging mentah itu.

"Tolong... Aku butuh kantung plastik. Ini perintah..." Akashi yang merasa mual meminta Junpei untuk mengambil kantung plastik. Junpei lalu mengambilnya dan memberikannya pada Akashi. Dengan secepat kilat, Akashi menyambar kantung plastik pemberian Junpei lalu memuntahkannya ke dalam kantung plastik.

"Sudah kubilang, kan?" kata Junpei.

Bagaimana dengan Kuroko? Karena merasa dagingnya masih mentah, dia segera memberikannya pada Nigou. Nigou pun langsung melahapnya.

"Hei, Kurokocchi curang! Dia malah kasih makanannya pada Nigou," ucap Kise.

"Menurutku ini lebih baik daripada membuang makanan..." balas Kuroko tak mau kalah. Haha... Dia memang cerdik kali ini.

Melihat Kuroko memberi makanannya pada Nigou, Akashi punya ide. Dia lalu memutuskan untuk memberi makan Pisuke dengan makanan Riko. Maka dia memanggil Pisuke. Pisuke terbang ke arah Akashi dan hinggap di kursinya.

"Pisuke, mau makan? Nih, buat kamu saja. Aku sudah tak lapar, kok," tawar Akashi sambil menyodorkan makanan ke burung peliharaannya itu.

"Hah? Pisuke apa mau makan daging?" tanya Aomine dengan dahi berkerut, heran.

"Heh, jangan anggap sepele dengan Pisuke-ku, Daiki. Dia itu burung Phoenix dan Phoenix adalah bangsa burung pemangsa seperti elang. Jadi, dia mau makan apa saja yang dia makan, termasuk daging sekalipun," ujar Akashi sambil mendelik ke arah Aomine. Dan benar saja, Pisuke mau memakannya.

"Ternyata Pisuke juga mau memakannya!" komentar Aomine dengan mata terbelalak saking kagetnya.

"Hmph, dugaanku tak salah, kan? Karena aku selalu benar," kata Akashi tersenyum bangga.

"Bagaimana denganku-ssu? Hiks, aku benar-benar iri dengan orang yang punya peliharaan seperti Kurokocchi dan Akashicchi..." papar Kise dengan ekspresi mata puppy eyes-nya.

"Apa boleh buat nanodayo. Kita berpura-pura makan ini sampai habis di luar!" usul Midorima dengan nada final.

"Eh?!" Semua yang mendengar usulan Midorima menoleh ke arahnya.

"Maksudnya apa, Mido-chin?" tanya Murasakibara penasaran.

"Ya, Midorimacchi. Usul apa itu-ssu?" Kise ikut-ikutan bertanya.

"Usulku adalah kita akan berpura-pura menghabiskan makanan ini dengan cara membuangnya nodayo."

"Tapi bagaimana caranya?"

"Kita akan membuang makanan ini secara diam-diam tanpa sepengetahuan istri si pemilik losmen itu nodayo. Dan kita akan pergi melalui pintu belakang itu," jawab Midorima sambil menuding. "Biasanya di halaman belakang ada tempat sampah. Kita harus membuangnya di sana, nanodayo," sambungnya optimis.

"Usul yang bagus, Mido-chin. Malah lebih baik daripada harus menghabiskannya dan mati karena makanan mengerikan ini..." Murasakibara setuju seraya mengacungkan jempolnya.

"Yosh! Ayo, kita lakukan," kata Aomine.

"Oke-ssu!"

Kemudian mereka berempat segera mengendap-endap ke arah pintu belakang dan membuang makanan mereka ke tempat sampah tanpa diketahui Riko.

Beberapa menit kemudian, Riko keluar dari dapur dan kembali ke ruang makan. "Sudah selesai makannya?" tanyanya, lalu dia menatap piring makanan Kuroko dan 'Kiseki no Godai' yang sudah ludes tanpa sisa sedikitpun. Tentu saja Riko senang sekali karena berpikir mereka mau menghabiskan masakannya. Padahal, bukan mereka sendiri yang menghabiskannya.

"Ya, terima kasih atas makanannya..." jawab mereka serempak sembari tersenyum tipis.

Wanita itu membalas senyuman mereka. "Aku senang sekali kalian menikmati masakanku. Arigato," katanya. Kemudian dia mengambil piring bekas makan Kuroko dan teman-temannya dan berlalu meninggalkan mereka.

"Hufft..." Mereka menghela napas lega bersamaan.

"Youkatta... Untung saja-ssu. Dia mengira kita menyantap masakannya," ujar Kise sambil mengusap wajahnya yang berkeringat.

"Aku bersumpah takkan mau menghabiskan makanan mengerikan itu lagi, nanodayo," kata Midorima.

"Aku juga..." timpal Murasakibara.


Malam semakin larut. Seluruh pelanggan losmen beserta pemilik dan istrinya sudah tidur di kamar mereka masing-masing. Begitu juga dengan Kuroko dan 'Kiseki no Godai'. Setelah selesai makan malam dengan makanan yang dibeli oleh Murasakibara, mereka langsung tidur. Mengistirahatkan tubuh dan kekuatan mereka untuk melanjutkan perjalanan dan menghadapi para Assassin.

Namun, ternyata Kuroko masih terjaga dari tidurnya. Manik aquamarine-nya masih menatap bulan yang bersinar menerangi malam. Pikirannya menerawang jauh. Dalam hatinya dia berdebar sebab dia ingin tahu seperti apa petualangannya bersama dengan 'Kiseki no Godai' nanti di hari esok.

"Kamu masih belum tidur, Kuroko?"

Kuroko terperanjat. Seketika lamunannya lenyap entah kemana. Dia lalu menoleh ke arah suara yang menegurnya.

"Oh, Akashi-kun..." Rupanya itu Akashi yang tersenyum menatap Kuroko. Dia sedang terbaring di ranjangnya tapi kedua matanya masih terbuka. "Kupikir kamu sudah tidur."

"Tadinya aku mau memejamkan mataku untuk tidur, tapi kuperhatikan kamu masih terus terjaga..." terang Akashi. Dia lalu membalikkan badannya ke arah kanan tempat tidur, dimana Kuroko terbaring di atasnya. Sedangkan tempat tidur sebelah kiri ditempati oleh Kise. Sekarang Kise sudah tertidur pulas.

"Apa ada sesuatu yang mengganggumu hingga kamu nggak bisa tidur?" tanya Akashi lagi.

"Tidak ada apa-apa. Hanya saja..." Kuroko terdiam sesaat. "Aku masih membayangkan apa yang akan terjadi di hari esok. Suatu hari nanti kita semua akan menghadapi para Assassin yang datang mengancam kita. Tapi, aku tidak tahu bagaimana setelah itu..."

"Sou..." Akashi manggut-manggut. "Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi padaku di hari esok. Namun aku yakin kalau hari esok nanti, pasti akan terjadi hal yang baik."

Kuroko terpana dengan jawaban Akashi. "Benarkah itu, Akashi-kun?"

"Hn. Makanya aku selalu mempercayai rekan-rekanku kalau kami pasti berhasil mengalahkan para Assassin dengan kekuatan kami. Karena itulah, aku tanamkan itu di dalam benakku bahwa aku yakin suatu hari nanti akan terjadi hal yang baik untukku dan rekan-rekanku," jawab Akashi optimis. Kemudian dia berpaling ke arah lain. "Tidurlah, Kuroko. Istirahatkan dirimu untuk hari esok..." sambungnya, lalu kedua matanya terpejam.

"Ha'i," balas Kuroko singkat sembari menatap Akashi yang sekarang sudah tertidur lelap. Kemudian dia kembali menatap jendela kamar. Sambil memandang bulan di langit malam, dalam hatinya dia berkata," Akashi-kun benar. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita di hari esok, tapi kita yakin kalau ada suatu hal baik terjadi nanti..."

Setelah berkata seperti itu, mata biru langitnya terpejam dan akhirnya dia tertidur.


"KYAAA!"

Terdengar teriakan keras menggema di seluruh ruangan losmen. Membuat semua penghuni losmen kaget dan terbangun dari alam mimpi mereka karena teriakan itu.

Kuroko, Akashi dan Kise juga terkejut mendengar suara teriakan itu. Mereka lalu terbangun dari tidurnya.

"Suara keras apa itu barusan-ssu?" gumam Kise bingung sambil celingukan.

"Aku juga mendengarnya, Kise-kun. Tapi, suara apa itu?"

Tiba-tiba Akashi merasakan suatu firasat buruk begitu mengetahui siapa pemilik suara itu.

"Akashicchi, kamu tahu suara apa itu?" tanya Kise pada Akashi.

"Kelihatannya ini suara..."

Sementara itu, di kamar 212...

Midorima, Aomine dan Murasakibara terbangun begitu mendengar teriakan keras itu.

"Suara berisik apa itu? Mengganggu tidurku saja..." keluh Murasakibara dengan tatapan setengah mengantuk akibat terbangun secara tiba-tiba.

"Siapa yang berteriak-teriak di tengah malam begini? Bikin orang kaget saja," gerutu Aomine sambil mengelus dada. Sumpah, suara itu membuat jantungnya berdetak keras.

Tiba-tiba kedua mata Midorima terbelalak. Sepertinya dia mengetahui suara itu. "Jangan-jangan..."

"Ini suara istrinya pemilik losmen itu!" seru Akashi dan Midorima bersamaan. Meskipun mereka berada di ruangan yang berbeda. Memang benar, suara teriakan itu kedengarannya suara seorang wanita. Sebab hanya Riko, istrinya Junpei satu-satunya seorang wanita penghuni losmen itu.

"Apa?!" Tentu saja mereka kaget. Ini berarti Riko dalam bahaya!

To be continued

Konbanwa, minna-san~! Ogenki desuka? \ (^o^) /

Hore! Bab 8 update! Akhirnya aku bisa melanjutkan FF ini. Sumimasen kalau telat dan ceritanya ngaco dan kurang seru. Kurasa di bab ini kebanyakan humor daripada action-nya... :'v *bows*

Hmm... Kalau kalian menikmatinya dan mau cerita ini dilanjutkan, aku senang sekali. Insya Allah akan kulanjutkan kalau idenya nggak mentok. Hehe... :3

Sekarang ini Author sedang menjalani UTS (Ujian Tengah Semester) di kampus. Jadi, aku harap usahaku mengerjakan UTS berhasil dan mendapat nilai bagus-bagus. Mohon doanya, ya, minna-san...

Arigato gozaimasu karena telah mau membaca FF-ku ini. Jangan lupa beri komentar, ya. See you next chapter! ^_^)/