DIAMOND
.
.
Present by Shin Key Can
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Cuma mau kasih tahu kalau fic ini berisi , AU, OOC, Typos, etc...
Pairing : Naruto Uzumaki, Ino Yamanaka, Uchiha Sasuke dan masih banyak lagi
Terima kasih buat yang dah follow and favorite, Shin seneng bingittt. Muachhh
Special thanks for :
KeyKeiko, Yona Nobunaga, amakuza ryuu, soputan, Guest, Namikaze Sholkan, Himeka Karine, robyzek, Redcas, leontujuhempat, , .Emperor97, Soputan, Fahmi-Goblin, yuichi, zie lavienaz96, Runa BluGree Yama, Namikaze achilez, SasuIno, azurradeva, , Blue-senpai, Nirvas, , Gray Areader, shiro19uzumaki, kuroko, Zou Raa, Everfox, , rikudou uzumaki, , Dark Namikaze Ryu, Astro O'connor, narushion.
.
.
.
~Mansion Uchiha
"Hei, Naru. Apa kau sudah baikan? Itachi-nii mencemaskanmu," ucap gadis cantik bernama Shion.
"Sudah agak mendingan. Memangnya Itachi-nii cerita apa saja?" Naruto tersenyum lembut ke arah Shion. Ia mulai menikmati obrolan ringan bersama Shion. Naruto suka sekali memperhatikan Shion bicara.
"Banyak sih. Hehehee.." Shion terkekeh.
"Shion, pudingnya di makan. Ibu khusus untukmu karena mendengar kau akan datang," ucap Naruto jujur.
"Oya? Benarkah itu. wah, aku jadi terharu. Bibi begitu baik padaku," ucap Shion terharu. Ia lantas mengambil puding yang tadi di bawakan Mikoto dari dapurnya. Shion sampai tak berhenti menyuapkan puding ke mulutnya. Ia mengakui jika puding buatan Mikoto itu sangat enak. Naruto tertawa pelan mendengar pengakuan itu dari mulut Shion.
"Tentu saja itu benar. By the way, kau tidak takut tertular cacar?" Naruto kembali menatap wajah Shion yang duduk di kursi samping meja belajarnya. Mereka sedang berbincang santai di kamar Naruto. Shion sudah biasa masuk ke kamar Naruto, maklum saja, ia sudah mengenal akrab keluarga ini sejak dulu.
"Tidak. Kalaupun tertular, itu kesempatanku untuk tidur dan beristirahat." Shion menjawabnya dengan enteng.
"Sesibuk itukah sampai kau tidak bisa beristirahat, Shion?" tanya Naruto penasaran.
"Begitulah."
Hening, di antara keduanya bingung harus membahas apa lagi. Shion hampir dua jam berada di kamar ini. Shion kemudian bangkit dari kursinya dan melihat-lihat sekitar kamar Naruto. Naruto masih menatap Shion ketika sang gadis berpindah sudut ke arah meja belajarnya. Ia melihat sebuah figura yang ia pajang. Shion menganggkat figura foto itu. Ia tidak pernah melihat foto ini.
"Ini foto siapa? Kenapa aku baru melihatnya?" tanya Shion memandang wajah tiga orang yang ada di dalam foto itu.
"Itu orang tua kandungku. Anak kecil itu aku, dan orang dewasa yang memelukku adalah ayahku, Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina, ibuku." jawan Naruto enteng.
"Lalu kau memakai nama keluarga ibumu atau ayahmu?" tanya Shion lagi.
"Aku memakai nama keluarga ibuku."
'Namikaze Minato? Sepertinya aku tak asing dengan nama itu. Mungkin aku bisa bertanya pada ibu,' batin Shion.
"Kau kenapa diam?"
"Tidak. Hanya saja nama ayahmu seperti tidak asing di telingaku," ucap Shion jujur.
"Hehe. Namikaze Minato itu mungkin banyak yang memakai, Shion-chan. Mungkin saking terkenalnya nama itu, kau jadi tidak asing mendengarnya."
"Bisa jadi sih. Ini sudah malam. Aku harus pulang. Istirahat yang cukup, Naruto."
"Kau hati-hati di jalan. Aku akan mengantarmu sampai ke depan, Shion-chan."
"Tidak usah. Kau tidur saja. Aku bisa pulang sendiri bersama supirku, Naruto." Shion mendorong pelan tubuh Naruto yang semula duduk di ranjang. Naruto sempat protes. Shion kemudian menarik selimut ke batas dada Naruto. Shion kemudian mengusap rambut pirang Naruto. naruto sendiri terhanyut dengan belain itu.
"Shion, sudah lama kau tidak mengacak-ngacak rambutku," ucap Naruto bahagia.
"Benarkah? Kau merindukanku, ya?"
"Umm.."
"Kalau kangen, kau telpon aku saja ya. Ini sudah malam. Aku pulang dulu. Have a nice dream, boy."
"Have a nice dream too." Shion tersenyum lembut. Ia lantas keluar dari kamar Naruto. hari ini Naruto akan mimpi indah. Percayalah, hatinya bahkan berbunga-bunga saat ini.
.
.
Naruto berusaha memejamkan matanya. Ia pikir, dengan kedatangan Shion tadi membuatnya tidur nyenyak. Setelah kepergian Shion beberapa jam lalu, ia tidak bisa tidur nyenyak. Naruto termenung setelah Shion keluar dari kamarnya. Ia melirik sekilas ke arah foto yang tadi diletakkan kembali oleh Shion. Ia kemudian bangkit dari ranjang empuknya untuk sekedar mengambil figura itu. Air matanya tumpah. Naruto kembali merindukan belaian hangat ibunya dan pelukan erat dari ayahnya. Naruto kembali ke atas ranjangnya dengan membawa foto di figura itu. Ia tak henti-hentinya bermonolog.
"Kaa-san, Otou-san."
"Aku sangat merindukan kalian, peluk aku. Kumohon."
"Biarkan aku menikmati kebersamaan kalian sejenak. Aku sayang kalian."
Kini Naruto berusaha memejamkan matanya, meskipun air matanya masih mengalir. Tanpa ia sadari, orang yang tadi di panggil kaa-saan dan otou-san berada di samping Naruto. Keduanya tersenyum lembut. Meski Naruto tidak bisa melihatnya, namun ia merasakan bahwa tubuhnya hangat seperti di peluk oleh orang tuanya. Naruto tersenyum sendiri. Ia kembali melanjutkan tidurnya.
'Arigatou kaa-san, otou-san,' batin Naruto.
.
.
.
~Dua hari kemudian
Hari ini, dengan wajah yang sumringah, Naruto memasuki sekolahnya dengan bersenandung pelan. Jalannya lebih santai karena Sasuke lebih dulu berjalan di depannya. Sesekali ia memindahkan list lagu yang ada di i-podnya, dan mencari lagu favoritenya. Lagi-lagi, Naruto tersenyum lembut mengingat sudah satu minggu ia dirawat di rumah karena penyakit cacar yang menyerang. Untung saja obar yang diberikan dokter segera membuat keadaan Naruto membaik, bekas luka akibat cacar perlahan-lahan menghilang sehingga Naruto bisa masuk sekolah dengan percaya diri lebih.
Naruto masih asik menatap layar i-podnya, ia kemudian berjalan lagi menyusuri koridor sekolah yang nampak mulai ramai. Beberapa saat berjalan, temannya memanggilnya dari belakang dan menepuk pundak Naruto pelan.
"Ohaiyo. Kau sudah sembuh Naruto?" sapa Shino.
Naruto tersenyum ramah. Seperti biasa, ia akan memberikan senyum terbaiknya pada siapa saja. "Tentu saja. Aku sudah bosan di rumah terus, Shion."
"Kulitmu tidak terlihat seperti kena penyakit cacar," cibir Shino.
"Hei, ini semua berkat Tuhan, doa orang-orang yang menyayangiku juga berkat dokter," jawab Naruto enteng.
"Jiahhhh...kau terlalu narsis. Tapi syukurlah kau sudah sembuh. Aku senang mendengarnya." Shino berkata tulus. Ia tersenyum bisa melihat sahabatnya ini kembali kesekolah.
"Terima kasih kau menolongku saat aku pingsan. Oya, selama aku tidak masuk ada berita apa saja di kelas," tanya Naruto penasaran.
"Kau sudah liat video Ino-chan bersama Sasuke belum?" ucap Shino berbisik.
"Sudah. Saat itu aku mau tidur, tapi kemudian Itachi memanggilku ke kamarnya." Naruto berkata jujur. Saat itu memang begitulah kejadian yang sebenarnya.
"Lalu Itachi-nii tidak cerita kalau Ino-chan marah-marah?" Shino kembali bertanya. Naruto menggeleng pertanda ia belum mengetahui soal hal itu.
Keheningan sesaat menyelimuti keduanya. Shino mengambil nafas sebentar untuk menceritakan dengan detail apa yang terjadi setelah ceritanya itu. Shino mengatakan pada Naruto, bahwa Ino datang menemui Sasuke dan meminta penjelasan.
"Lalu Sasuke sendiri bagaimana reaksinya?" tanya Naruto penasaran.
"Khehh..sepertinya karma sedang terjadi pada Sasuke. Saat itu justru Sasuke mencium bibir Ino di depan kelasnya. Hal ini membuat kehebohan tersendiri bagi fans girl Sasuke," ucap Shino serius.
'Mereka berciuman. Tidak...tidak..tidak... kau tidak boleh marah atau cemburu, Naruto. Kau tidak mencintai Ino,' batin Naruto.
"Kenapa reaksimu begitu?" tanya Shino membuyarkan lamunan Naruto.
"E-eh? Tidak kok. Aku hanya tidak menyangka Sasuke berani menunjukkan perasaannya pada Ino, itu saja."
"Ah, ya sudah. Kita masuk saja ke kelas, Naruto. Bel masuk akan berbunyi sepuluh menit lagi."
"Umm."
.
.
.
Sreettt
Naruto menarik kursinya. Ia kemudian duduk manis di atasnya. Sambil menunggu sensei masuk, ia kemudian mengambil novel yang kemarin dibelikan Itachi. Ia menyobek plastik pembungkusnya. Ia kemudian membuka halaman pertama di novel itu. Naruto membaca pada baris pertama. Ia tertarik membacanya lagi.
'Hati selembut Diamond, bagai cahaya yang berkilau terpancar terang dan menyilaukan. Silaunya yang angkuh tak sekalipun menyakitkan. Mereka simbol yang kuat dalam mempertahankan diri. Orang yang dianugerahi hati seperti diamond adalah orang-orang yang beruntung. Mereka yang disebut 'Diamond' harus terus dijaga jangan sampai kilaunya redup. Sang diamond akan selalu menjaga perasaan dan hati orang-orang disekitarnya.'
'Keren!' batin Naruto kagum. Ia melanjutkan membacanya, namun sebuah suara menginterupsi bahwa ia harus menunda rasa penasarannya pada novelnya tersebut.
"Naruto, Anko-sensei sudah datang. Cepat masukkan novelmu," perintah Ino berbisik.
"Ino? Sejak kapan kau datang?" tanya Naruto terkejut.
"Sejak tadi, Naruto. Kau keasyikan membaca novelmu itu sampai tidak menyadari sejak tadi aku sudah duduk di sampingmu." Ino mengendus kesal, dirinya seperti tidak dianggap Naruto.
Ino kemudian memperhatikan raut muka Ino yang terlihat kesal. Ya, tentu saja, diabaikan itu tidak enak. "Maaf. Aku tidak tahu," ucap Naruto pelan. Naruto kemudian memilih memperhatikan sang sensei yang mulai menjelaskan pelajaran. Ia kini kembali sibuk dengan pelajaran-pelajaran sekolah, setiap hari.
'Kapan sih kau bisa memperhatikan kehadiranku. Naruto baka!' batin Ino kesal.
.
.
Treeettttt
Treeetttttt
"Pelajaran hari ini sekian dulu minna. Sensei harap kalian belajar dengan baik dan jangan lupa mengerjakan tugas." Anko-sensei mengakhiri pelajarannya.
"Ya Sensei," suara bariton murid di kelas itu. Anko-senseipun meninggalkan kelas itu.
"Akhirnya jam istirahat datang juga. Ayo ke kantin Naruto," ajak Ino ceria.
Naruto menatap Ino sekilas. "Sebentar Ino. Aku mau update Inst*gr*m dulu. Kalian duluan. Aku akan menyusul nanti."
"Khehh..kau narsis juga ya?" cibir Ino terkekeh.
"Itu karena-
"Ino, ikut aku." Ucapan Naruto terpotong ketika Sasuke datang ke kelas Naruto dan langsung menarik tangan Ino. Ino hanya pasrah ketika tangannya di tarik oleh Sasuke. Ia sedikit malu, namun sepertinya jantungnya sedikit berdebar ketika Sasuke menggenggam tangannya.
"Naruto, aku duluan." Ino berteriak ketika Sasuke hampir mendekat ke pintu ruang kelasnya. Naruto hanya diam saja. Ia masih terpaku saat Sasuke menarik Ino.
'Kenapa denganku?' batin Naruto.
Sementara itu, Ino meronta-ronta pada Sasuke atas tindakan seenaknya pada dirinya. "Lepas, aku mau dibawa kemana, Sasuke?" pinta Ino pada pemuda berambut raven itu.
Sasuke menghentikan langkahnya. Ia kemudian berbalik memutarkan tubuhnya untuk melirik menatap Ino. "Kemana saja, asalkan kau tidak dekat bersama si dobe itu."
'Hei, apa ini artinya Sasuke cemburu pada Naruto?' batin Ino.
"Khehh..kau cemburu pada Naruto?" sembur Ino. Sasuke hanya diam. Ia kemudian melanjutkan jalannya sambil tetap menggandeng tangan Ino. Dalam diam, Sasuke membenarkan ucapan Ino, namun karena gengsi yang tinggi, ia hanya diam saja saat dihujani pertanyaan yang sedikit menyentil hatinya.
"Kalau diam berarti benar dong. Kau cemburu." Skak matt, Sasuke merasa di tohok oleh ucapan Ino.
"Diam, dan ikuti aku, Ino."
"Sasuke. Aku mau ke kantin. Aku lapar." Ino sedikit kesal.
"Diamlah, kita akan sampai."
"Sasuke."
"Diam atau kau kucium, Ino."
BLUSHH
Wajah gadis berambut blonde itu memerah. Ia masih ingat kejadian beberapa hari lalu ketika Sasuke menciumnya di sekolah. Antara malu dan bingung. Ino kemudian menepuk kepalanya, menyadari kebodohannya. Ia kini menurut saja.
.
.
"Heh, Naruto. Aku dengar Shion kemarin menjengukkmu." Hinata bertanya pada Naruto sambil melirik Naruto yang sedang memakan ramennya.
Naruto tersenyum. Ia kemudian bercerita soal kedatangan Shion. "Umm. Dia perhatian sekali padaku. Aku senang dia bisa menyempatkan waktu menjengukku."
"Kau masih menyukainya, Naruto?" Kali ini, Sakura ikut andil dalam percakapan itu.
Naruto yang ditanya seperti itu, menghentikan aktifitas makannya. "Masih," ucap Naruto singkat.
"Mungkin dalam waktu dekat. Ngomong-ngomong dimana Shikamaru dan Shino, Sakura?" tanya Naruto.
"Sepertinya ada rapat Osis dadakan," ucap Sakura cuek.
"Lalu kenapa kalian tidak ikut?"
Sakura dan Hinata terdiam. Setelah dipikir-pikir, kenapa mereka masih santai ketika Shino dan Shikamaru ikut rapat.
"Kyaaa. Kami baru ingat itu. kami pergi dulu, Naruto. Bye!" ucap Hinata panik.
Sakura menghabiskan minumnya. Ia kemudian menyusul Hinata yang sudah berlari menjauh. "Kami pergi dulu."
'Dasar wanita. Huh, aku makan sendirian lagi, dong,' batin Naruto menggerutu.
.
.
Jam menunjukkan pukul dua siang. Waktunya pulang sekolah. Hari ini, tidak seperti biasanya, Shikamaru mengantarkan Naruto pulang dengan MoGe *Motor Gede, Harley Davidson* kesayangannya. Sebenarnya Naruto ingin menolak ajakan Shikamaru, kerena ngeri saat membonceng motor yang dikendarai temannya itu.
"Oh, ayolah. Kau baru saja sembuh, Naruto."
"Tenang saja, aku bisa kok naik bus."
"Aku tahu, kau dan Sasuke selalu pulang sendiri-sendiri, tapi setidaknya pulanglah saja bersamaku hari ini."
"Kau kalau membonceng itu membuatku takut. Jika tidak ngebut, sudah dari dulu aku mau pulang bersamamu." Naruto mengungkapkan alasannya menolak ajakan pulang bersama Shikamaru.
"Aku janji, kali ini aku tidak akan ngebut-ngebut. Ayolah, please." Shikamaru berusaha membujuk Naruto. Shikamaru lantas meyakinkan Naruto bahwa dirinya tidak akan ngebut di jalan raya.
"Iya, baik. Asal kau tidak ngebut, aku ikut denganmu."
"Yes. Come on bro!" Cukup lama meyakinkan Naruto, namun akhirnya ia berhasil meyakinkan pemuda beriris blue shapire itu.
Naruto mengenakan helm cadangan yang selalu ia bawa jika temannya ingin numpang pulang bersamanya. Selesai memakai helm, Shikamaru kemudian menyalakan mesin MoGe-nya dan segera mengantarkan Naruto pulang.
Sesuai janji, Shikamaru mengendarai dengan kecepatan 40km/jam, tidak telalu cepat menurut Naruto, tapi sangat lambat menurut Shikamaru. Mereka kini sedang berhenti di lampu lalu lintas. Sesekali, Naruto dan Shikamaru mengobrol untuk mengurangi kejenuhan. Tanpa mereka sadari, dari arah belakang datang mobil sedan yang melaju kencang dan-
CKITTTT
BRUKKK
Mobil sedan itu mengerem secara mendadak dan mengakibatkan Shikamaru dan Naruto terjatuh. Shikamaru yang segera sadar dari tempatnya, langsung berlari menolong Naruto yang tersungkur. Lalu lintas sempat terganggu akibat insiden itu.
"Naruto!"
"Arrghh. Tanganku, Shika." Naruto merintih kesalitan memegang tangannya. Shikamaru panik dan segera membantu Naruto menyingkirkan roda ban depan MoGe yang menimpa tangan sahabatnya. Meski ia terlihat tidak apa-apa, namun tangan dan kakinya tergores akibat kecelakaan tadi.
"Bertahanlah," ucap Shikamaru cemas.
"Maafkan kami. Kalian tidak apa-apa?" tanya sang pengemudi mobil sedan itu.
"Matamu di mana sih. Menyetir tidak lihat-lihat. Sudah tahu lampu merah, masih saja tidak berhenti," maki Shikamaru kesal.
"Maafkan kami, mobil yang saya kendarai tiba-tiba saja sulit dikendalikan karena pecah ban. Kami akan bertanggung jawab," ucap sang supir menyesal. Perdebatan itu akhirnya membuat seorang penumpang lain di mobil itu keluar. Sebenarnya, ia tidak menyalahkan sang pengendara motor, namun melihat salah satu korban yang terjatuh merasa kesakitan, ia lantas turun.
"Kalian memang harus bertanggung jawab." Shikamaru berkata sambil menahan emosi.
"Nak, sepertinya kau dan temanmu harus mendapat pertolongan. Kami akan panggilkan ambulance," ucap pria tua yang keluar dari dalam mobil itu. Pria tua itu sedikit terkejut melihat Naruto yang tampak sepeti sesorang yang ia kenal.
"Shika, kita menepi di jalan dulu sambil menunggu ambulance datang," ucap Naruto menahan sakit. Pria tua itu kemudian menelpon ambulance untuk membawa Naruto ke rumah sakit terdekat, tidak berapa lama, polisi lalu lintas datang dan di susul mobil ambulance. Petugas medis langsung membawa masuk tubuh Naruto masuk ke dalam ambulance, diikuti Shikamaru dan pria paruh baya itu.
.
.
Ambulance yang membawa mereka bertiga, telah sampai di rumah sakit. Para medis segera membawa Naruto dan Shikamaru untuk mendapat pertolongan pertama. Pria tua yang diketahui bernama Kyochi Namikaze itu menunggu Shikamaru dan Naruto yang sedang di tangani dokter.
Kyochi Namikaze duduk di depan ruangan dimana Shikamaru dan Naruto berada. Pria baya itu, merenung sejak tadi. Ia kembali mengingat Naruto seperti mengingat Minato, putra kesayangannya yang telah ia usir. Pemuda itu mirip sekali dengan putranya. Memori kembali berputar di otaknya.
"Minato." Tanpa sadar nama itu terucap. Ia kembali merundukkan kepalanya. Menyesali kebodohannya di masa lalu. Kyochi Namikaze kemudian mengangkat kepalanya. Ia kembali menatap ruangan di depannya. Entah kenapa, ia sangat ingin melihat pemuda yang mirip sekali dengan putranya.
Ceklekk
Pintu ruangan itu terbuka, sang dokter yang menangani mereka berdua keluar dari ruangan itu. Kyochi Namikaze lantas menanyakan keadaan dua orang siswa SMA itu.
"Bagaimana keadaan mereka dokter?" tanya pria tua itu.
"Shikamaru Nara hanya mengalami luka ringan, sedangkan Uchiha Naruto mengalami patah tulang akibat tertimpa roda ban depan motor temannya." Sang pria tua itu tertunduk lesu. Biar bagaimanapun, ini semua salahnya.
.
.
"Suster, apa ada pasien bernama Uchiha Naruto? Bisa beritahu aku dimana ruangannya?" tanya Mikoto panik. Sang suster di bagian informasi langsung mencari data pasien yang masuk hari ini.
"Dia berada di lantai tujuh kamar 132, nyonya." Begitu mendapat informasi tersebut, Mikoto dan Itachi langsung menuju kamar Naruto.
Mikoto dan Itachi memasuki lift, tombol lift itu di tekap pada angka tujuh. Dalam hati, ia merasa cemas pada putra angkatnya. Ia tidak menyangka jika hari pertama masuk sekolah pasca sembuh dari sakitnya, malah mengalami kecelakaan.
Ting
Pintu lift terbuka, Itachi dan Mikoto langsung mencari kamar Naruto. beberapa saat mencari akhirnya ketemu. Mikoto langsung masuk ke dalam kamar itu.
"Naruto. Kau tidak apa-apa nak?" tanya Mikoto cemas.
"Sepertinya tanganku mengalami patah tulang, bu. Yang terpenting aku dan Shikamaru selamat," ucap Naruto meyakinkan Mikoto.
"Bibi, Itachi-nii, maafkan aku," ucap Shikamaru menyesal.
"Sudah, jangan begitu. Ini semua karena kecelakaan," ucap Itachi menghibur.
"Bibi tidak marah kok, Shika. Syukurlah kalian tidak apa-apa." Mikoto tersenyum lembut ke arah Shikamaru.
Ceklek
Pintu dibuka dari luar. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu menoleh ke arah pintu.
"Maaf, nyonya. Apa anda ibu dari Naruto?"
"Ah, benar tuan. Anda?" tanya Mikoto atau lebih tepatnya mengintrogasi.
"Saya yang menabrak motor mereka. Saya mohon maaf atas kejadian ini pada anda. Saat itu mobil yang dikemudikan sopir saya mengalami pecah ban dan mobil sulit dikendalikan. Saya benar-benar minta maaf," ucap Kyochi Namikaze merasa bersalah.
"Tuan, yang terpenting sekarang mereka tidak apa-apa. Kami bisa mengerti bahwa anda tidak sengaja." Mikoto berkata lembut pada pria tua itu. Baik Itachi, Shikamaru dan Naruto bisa memahami kondisi yang terjadi saat itu.
"Saya akan bertanggung jawab hingga mereka sembuh."
"Terima kasih banyak, tuan sudah bersedia membawa mereka ke rumah sakit," sambung Itachi ramah.
"Panggil saja aku Kyochi Namikaze."
'Kyochi Namikaze? Seperti nama keluarga otou-san. Ah, mungkin saja nama itu ada banyak,' batin Naruto.
.
.
~Esok harinya
Hari ini, para sahabat Naruto datang menjenguk Naruto di rumah sakit. Shikamaru sendiri hanya menjalani rawat jalan karena lukanya tidak terlalu parah di bandingkan dengan Naruto. Naruto tampak senang mendapat kunjungan dari sahabatnya. Ia bertambah senang karena ada Sasuke yang ikut menjenguk, meski disana ia tetap sama 'dingin' terhadap Naruto.
"Kau ini, baru juga kemarin masuk kenapa sekarang malah dirawat di sini sih," ucap Sakura prihatin.
"Namanya juga kecelakaan. Ya, kan Shika." Naruto melempar candaan itu pada Shikamaru.
"Ini pasti gara-gara kau mengebut ya, Shika," tuduh Shino. Shikamaru sempat kesal pada temannya itu.
"Heh Shino, kami itu sedang berhenti di lampu lalu lintas. Kami tertabrak dari belakang." Shikamaru kemudian menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya pada sahabat-sahabatnya. Mereka hanya meng-oh ria.
"Aku kira kau ngebut seperti biasa," celetuk Hinata membuat mereka tertawa.
"Enak saja," ucap Shikamaru tidak terima.
"Ngomong-ngomong, kenapa Ino tidak bersamamu Sasuke-nii?" Naruto berusaha mengajak Sasuke ngobrol. Pihak yang ditanya hanya mengendus kesal karena sang pujaan hatinya tengah pergi bersama ayahnya.
"Dia ada urusan dengan paman Inoichi," ucap Sasuke singkat. Naruto hanya ber-oh ria. Suasan tiba-tiba berubah menjadi hening. Tidak ada lagi obrolan. Naruto kemudian duduk bersandar di ranjangnya dengan perasaan gelisah.
"Ada apa? Kenapa wajahmu lesu seperti itu?" tanya Shikamaru yang sejak tadi memperhatikan Naruto.
"Kakek tua yang menabrak kita itu, marganya sama seperti marga ayahku," ucap Naruto lirih.
"Benarkah? Tapi kau bilang kau tidak punya keluarga lagi," kata Shikamaru terkejut. Hinata, Sakura, Sasuke dan Shino juga berekspresi sama seperti Naruto.
"Iya sih. Otou-san dan Okaa-san tidak pernah membahas kakek ataupun nenek. Jadi aku pikir mereka itu tidak punya keluarga selain aku yang mereka miliki." Naruto berkata jujur. Ia sungguh mengatakan yang sebenarnya bahwa ia tidak memiliki keluarga lain.
"Atau mungkin sebenarnya mereka menyembunyikan rahasia itu darimu, Naruto." Sakura ikut menduga-duga.
"Ah, coba aku cari profil orang itu Naruto." Shikamaru kemudian mengambil tabletnya. Ia kemudian mencari nama Kyochi Namikaze di g0g*&l.
"Ketemu!" teriak Shikamaru girang. Ia lantas membacakan hasil pencariannya di g0g*&l pada teman-temannya.
'Kyochi Namikaze adalah adalah putra Kichiro Uzumaki. Beliau adalah salah satu keturunan bangsawan terkenal di Jepang. Klan Uzumaki, hampir sebagian menguasai perekonomian di Jepang. Kyochi Namikaze sendiri adalah seorang pewaris tahta Uzumaki Corp yang bergerak di bidang perbankan dan industri pertambangan. Kyochi Namikaze memiliki dua orang anak kembar laki-laki dan perempuan bernama Minato Uzumaki dan Mikasa Uzumaki. Hingga sekarang, klan Uzumaki masih dipandang sebagai keluarga yang berpengaruh di Jepang.'
"Jangan-jangan, Naruto?" ucap Shino tanda tanya.
"Hei, mungkin itu kebetulan saja mirip. Coba baca lagi lanjutan dari artikel itu, Shikamaru," ucap Naruto tidak percaya.
"Tidak ada keterangan lain selain ini."
"Itu mustahil. Coba cari foto keluarganya di internet, Shika." Hinata ikut penasaran, begitu juga Sasuke dan yang lain. Shikamaru segera mencari foto klan Uzumaki. Beberapa saat kemudian muncullah foto-foto yang dicari mereka.
"Mustahil, ini-
Ucapan Shikamaru terpotong ketika Sasuke berjalan dan mengambil tabletnya. Ia memperhatikan dengan jelasfoto di tablet Shikamaru. Ia kemudian ingat dengan foto yang dipajang Naruto di kamar saat ia menemani ibunya melihat kondisi pemuda berambut pirang itu yang sedang sakit. Shikamaru, Sakura, Shino, dan Hinata berdiri mengerubungi Sasuke dan secara bergantian melihat foto di tablet itu.
"Ini foto ayahmu, kan?" tanya Sasuke to the point.
"Mirip."
"Ini jelas ayahmu, dobe." Perkataan Sasuke jelas mengundang tanya semua temannya termasuk Naruto.
"Selidiki saja dulu. Kalau benar itu keluargamu, kau akan jadi pewaris tunggal," ucap Sakura enteng.
"Aku yakin, kau pasti akan bisa membeli ramen sepuasmu," ucap Hinata bercanda.
"Jangan dengarkan ocehan mereka, Naruto. Semua belum jelas jika belum diselidiki. Aku yakin masa lalumu akan terkuak."
"Umm.. arigatou minna," ucap Naruto tersenyum.
.
.
Jam menunjukkan pukul empat sore, Shikamaru dan teman-temannya pulang menjenguk Naruto lima menit lalu. Naruto sendirian lagi. Ibu dan kakaknya tadi pagi sudah menemaninya di rumah sakit. Naruto di landa kebosanan akut. Ia kemudian memutuskan untuk merebahkan dirinya di ranjang rumah sakit. Masih dengan jelas ingatan beberapa jam lalu mengenai topik yang sedang dibahas bersama teman-temannya. Pria tua yang menabrak mereka, marganya sama dengan ayahnya. Naruto merasa tidak tenang dengan hal ini. Ia kembali berusaha memejamkan matanya agar bisa melupakan hal ini.
Tok
Tok
Tok
"Masuk saja," ucap Naruto dari dalam.
Naruto menoleh ke arah pintu. Ia sedikit terkejut ketika mengetahui yang datang menjenguknya adalah Ino.
"Hai, Naruto. bagaimana keadaanmu. Apa lukannya parah?" tanya Ino bertubi-tubi. Naruto stewdrop melihat Ino yang bertanya seperti itu.
"Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka biasa."
"Aku bawakan ramen nih. Kau sudah makan?" tanya Ino lagi.
"Wah, kebetulan. Aku kangen sekali dengan ramen. Kau memang teman yang baik." Naruto tampak senang ketika Ino membawakan ramen kesukaannya.
'Mungkin kali ini memang teman, tapi suatu hari nanti, kau harus jadi pangeranku,' batin Ino kecewa.
Ino melamun, Naruto kemudian memanggil namanya. Baru beberapa kali memanggil, akhirnya Ino kembali sadar dari lamunannya.
"Kenapa melamun?" tanya Naruto heran.
"Ah, tidak kok."
"Ino, bisakah kau membantuku makan. Dengan tangan kananku yang terpasang gips, aku kesilitan bergerak," pinta Naruto. Ino sempat melupakan rasa kecewa, dan kini berganti dengan senyuman lembut dari gadis berambut blonde itu. Ino perlahan membuka tutup ramen itu, ia mengambil sumpit dan sendok agar Naruto dapat merasakan ramen beserta kuahnya.
"Buka mulutmu, Naruto." Ino kemudian memasukan ramen yang dibawanya ke mulut Naruto. Naruto menerima suapan dari Ino. Ino dan Naruto sempat merona. Mereka bukan sepasang kekasih, namun melihat adegan yang mereka perankan sekarang ini, seperti layaknya kekasih sungguhan.
"Suapkan kuahnya juga, Ino. Ramennya enak sekali. Kau beli dimana?" tanya Naruto lagi.
"Aku membelinya di cabang ramen Ichiraku yang terdekat dengan rumah sakit, Naruto."
"Oh begitu ya. Pantas saja rasanya enak sekali."
Mereka tetap melanjutkan aktifitas menyuapi dan disuapi itu. Naruto sedikit salah tingkah, begitu juga dengan Ino. Sepuluh menit kemudian, Naruto telah menyelesaikan makan ramennya dengan perasaan senang.
"Terima kasih banyak untuk ramennya, Ino," ucap Naruto tulus.
"Sama-sama, Naruto."
Keheningan tercipta beberapa saat. Ingin sekali Ino memulai pembicaraan, namun sepertinya gengsi tinggi memaksanya untuk diam. Sejenak Ino lupa kalau ia bertekat untuk mendekati Naruto, namun kenapa ia jadi membisu seperti ini.
"Tadi Sasuke kemari. Apa kau sedang marah padanya." Naruto membuka suara. Ia paling benci dengan kesunyian.
"Marah? Tidak kok. Lagian aku bukan kekasihnya, Naruto." Ino salah tingkah.
"Aku rasa Sasuke mulai menyukaimu. Kenapa tidak mencoba berhubungan lagi dengannya?" tanya Naruto lagi.
"Benarkah seperti itu?"
"Tebakanku tidak pernah salah dalam menilai Sasuke, Ino."
"Lalu bagaimana jika aku lebih menyukai orang lain dibandingkan Sasuke?" Ino balik tanya.
"Semua itu ada pada pilihanmu, Ino." Naruto menjawabnya dengan bijak tanpa harus membuat ucapannya menyinggung Ino.
"Jika boleh memilih, aku akan memilihmu di bandingkan Sasuke, Naruto."
'Hah, kenapa aku justru senang saat kau mengatakan itu Ino," batin Naruto galau.
'Aissshhh, kenapa aku bicara blak-blakan seperti ini,' batin Ino merasa bodoh.
Ino buru-buru mengendalikan keadaannya saat ini. "Ah, lupakan ucapanku Naruto. Aku hanya bercanda," ucap Ino menutupi wajah gugupnya.
"Kau lucu Ino. Pantas saja Sasuke begitu possesif terhadapmu." Naruto terkekeh pelan, sedangkan Ino hanya melongo.
.
.
.
To be countinued.
A/N : Nah, penasaran kenapa saya mengambil judul ini? alasan di atas cukup untuk saya menggambarkan sosok Naruto seperti diamond.
Oke, bagaimana dengan si penabrak itu? sudah ada yang menduga dia siapa? Hahah... yups, saya tahu apa yang minna pikirkan...hehehe...
Masalah semakin rumit, tapi akan Shin jelaskan perchapter. Semoga minna g bingung atau lari...hehehe..
Shin mo tanya, apakah kalian suke dengan scene terakhir? Oh, mungkin bagi sebagian orang itu sepele ya, tapi bagaimana jika bagi Ino itu sangat berkesan setelah adegan menyuapi Naruto. Scene terakhir ini sedikit ringan ya, tapi tidak mengurangi bagaimana perasaan Ino terhadap Naruto. Agak blak-blakan, namun cukup membuat Naruto sedikit tersentil. Hehehe..
Okelah kalau begitu. Shin sangat seneng sekali atas review dan dukungan minna sekalian... jangan tinggalkan aku minna... wkwkwkkw #nangis lebay.
SasuIno: xixixi, thanks for RnR. Naruto bukannya menolak, tapi menjaga hatinya...hehehe
Kuroko: heheh..setujur bingittt. thanks for RnR. Shin usahakan. Okoko
Nirvas : aduhhh, soal itu gak ada bayangan sama sekali soal penculikan dan sebagainya. Heheh... thanks for RnR.
Yuichi : iya, dia emang jahil, tapi dia gak jahat kok. thanks for RnR
Narushion : hahah, suka banget sama pairing itu ya... hem, shin usahain ya, misal gak bisa, maafin shin ya,,,heheh. thanks for RnR
See u next chapter..
