Just a Drabble

I

Itu

"Oi, Kuroko…" seorang pemuda berpostur tubuh tegap berlari ke arah pemuda bersurai baby blue sambil melambaikan tangannya

"Selamat siang Kagami-kun." Sapa pemuda bernama Kuroko Tetsuya tersebut sopan, sedikit membungkukkan tubuhnya

Kagami Taiga memasang wajah keheranan. Iris merahnya memandang tas besar di samping kaki Kuroko, tumben sekali bayangannya itu berada di dekat apartemennya sambil membawa tas besar. Seperti mau menginap di rumah seseorang saja.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Kagami tak lupa mengacak rambut Kuroko dengan asal menyebabkan rambut halus itu sedikit berantakan

"Menunggu Akashi-kun." Jawab Kuroko singkat, sedikit merasa sebal karena pemuda tinggi di hadapannya itu seenaknya merusak tatanan rambut yang dengan susah payah ia tata agar rapi

"Hah? Untuk apa kau menunggu si Teme itu?"

Kagami memandang Kuroko dengan pandangan curiga dan merasa tak terima bila sahabatnya itu bertemu dengan singa kelaparan layaknya seorang Akashi Seijuuro yang maniak gunting

"Karena aku akan menginap di rumahnya."

Iris mata Kagami membulat, dengan sedikit kasar dipegangnya kedua bahu sang sahabat "Kau serius?! Kau yakin akan aman berada disana bersamanya? Kalau ada apa-apa bagaimana?!"

'Kagami-kaasan telah muncul,' batin Kuroko risih karena temannya terlalu berlebihan terhadapnya "Tak masalah. Lagipula aku ada urusan dengannya, Kagami-kun."

"Urusan apa?! Bagaimana bila dirimu tidak bisa keluar dari rumahnya secara utuh?!" lihatlah betapa posesifnya pemuda satu ini bila sudah menyangkut anak kesayangannya. Ya, anak kesayangannya yang tingkat kemanisannya sudah melebihi batas, siapa lagi bila bukan Kuroko Tetsuya

Kuroko menghela nafas lalu menjawab "Akashi -kun berjanji akan memberiku jatah. Semalam dia berjanji akan memberikanku 'itu'."

Alis bercabang milik Kagami bertaut mendegar kata-kata ambigu yang dilontarkan oleh Kuroko. Tunggu, sejak kapan anaknya yang manis itu ketularan ambigunya Akashi dan mesumnya Aomine?! Ternyata memang benar, membiarkan Kuroko bergaul dengan makhluk-makhluk aneh dari Generation of Miracle bukanlah ide yang bagus. Tidak baik untuk kesehatan siapapun.

"Apa maksudmu dengan 'itu'? kalian tak bermaksud melakukan hal yang aneh-aneh kan?"

Kuroko membenarkan posisi tas ranselnya "Tapi aku sangat menginginkannya, Kagami-kun. Kau tau, aku selalu tak bisa menahan diri saat merasakan rasanya yang kental dan manis. Sangat enak, apalagi bila dihasilkan bersama orang yang kita cintai."

"K-kau gila! Tunggu! Apa tadi kau bilang? Orang yang kita cintai? Jangan bilang kalian berdua pac—"

Sebuah gunting melesat, menggores punggung tangan Kagami yang masih betah di atas bahu Kuroko

"Kami memang berpacaran, Kagami Taiga. Dan cepat jauhkan tanganmu itu dari Tetsuya."

Kuroko menoleh, segera berlari menuju sang empu gunting ketika menyadari orang yang ditunggunya telah tiba sambil mengangkat tas besar di sebelah kakinya "Kau terlambat, Akashi-kun," bibir ranumnya sedikit manyun karena merasa sebal akan keterlambatan sang kekasih

"Maaf ya, tadi aku harus menemui rekan kerja Otou-sama terlebih dahulu." Sebuah tangan hangat mengusap surai birunya lembut—berbanding terbalik dengan usapan Kagami tadi "Kita pergi sekarang?"

Ah, sudah berapa kali Kuroko terhipnotis dengan senyuman Akashi Seijuuro? Tidak terhitung. Kuroko mengangguk pelan, menyembunyikan wajah merahnya dengan kepala tertunduk

"Kagami-kun, aku pergi dulu. Sampai jumpa."

Dan Kuroko Tetsuya meninggalkan Kagami Taiga yang membeku bersama pikirannya yang tak bisa tenang.

OMAKE

"Mengapa kau menjadi anak jahil, Tetsuya?"

Sepasang kekasih itu sudah berada di dalam mobil milik Akashi Seijuuro, saling berhadapan. Sepertinya Akashi akan menunda perjalanan mereka ke rumahnya untuk sementara, pemuda bersurai merah itu ingin mendegar penjelasan kekasihnya terhadap fenomena yang baru saja terjadi.

"Tidak ada hal yang spesial. Aku hanya merasa bosan tadi saat menunggu Akashi-kun."

Alis Akashi sedikit terangkat, tak lama setelahnya muncul senyum jenaka di paras tampan miliknya "Dan Tetsuya melampiaskannya pada Taiga dengan berbicara ambigu padahal yang kau maksud adalah membuat Vanilla Milkshake berdua, begitu?"

"Itu bukan hal yang mengejutkan kan," Kuroko menempelkan tangannya di depan dada Akashi yang tertutup kemeja putih dan meremas kemeja kekasihnya lembut "Kau sendiri yang mengajarkannya padaku, Akashi-kun."

"Kalau begitu tidak ada salahnya bukan bila kita benar-benar melakukan hal yang ada di pikiran Taiga setelah ini, Tetsuya?"

Mendaratlah sebuah ciuman di bibir Akashi yang masih menyunggingkan senyum menawan. Sebuah ciuman untuk mengakhiri kisah di chapter ini.

-End_Itu-