NIGHT PLEASURES

.

.

.

Novel karangan Sherrilyn Kenyon. Disini saya hanya meREMAKE, saya sedikit merubah tempat,nama dan ada yang kurangi maupun ditambah untuk keperluan cerita. Ini series dari Dark Hunter, ini buku ke2 yang pertama berjudul Fantasy Lover. Fantasi Lover sudah ada yang ngeremake dengan cast KyuMin setau saya dan katanya lagi ada yg versi HaeHyuk YAOI

Cast : Donghae, Eunhyuk, Dan Yang Lain

GS!

TYPO, Banyak Kekurangan, DLL, DLDR!

.

.

.

Bab 6

Happy reading

.

.

Eunhyuk mengerang ketika merasakan tangan yang kuat dan hangat meluncur turun dari perut telanjangnya sampai ke pinggulnya. Secara naluriah, ia berbalik kepada belaian itu, tubuhnya langsung terbakar oleh hasrat.

Donghae menggulingkannya, menelentangkannya, dan memagut bibirnya. Kepalanya serasa berputar-putar karena sentuhan itu. Karena merasakan segenap tenaga dan kekuatan donghae. Dalam hidupnya, belum pernah ia merasakan apapun yang lebih nikmat daripada lidah donghae di lidahnya, atau tubuh indah dan keras donghae yang bergerak-gerak ditubuhnya.

Ia semakin terbakar.

Ciuman donghae ganas dan panas, namun anehnya terasa lembut. Eunhyuk memejamkan mata, menghirup aroma kulit donghae yang kuat dan mengecap hawa panas dimulut pria itu. Eunhyuk menggerakkan tangan di rambut donghae yang selembut sutra, ia menyukai bagaimana rambut itu melingkari jemarinya.

Donghae mundur dan menatap eunhyuk dengan gairah yang menggebu yang membuatnya terbakar, sementara otot-otot bahu pria itu mengeras dibawah tangannya.

"aku akan memilikimu." Kata donghae dengan tegas dan posesif.

"dan aku akan memilikimu." Kata eunhyuk, ia tersenyum sambil mengaitkan kaki di pinggul donghae.

Senyum donghae yang nakal dan bertaring membuat eunhyuk tidak bisa bernapas. Sambil mendekap eunhyuk, donghae berguling sampai terlentang dan menarik eunhyuk keatas tubuhnya. Eunhyuk menggigit bibir ketika memandang wajah tampan donghae sekaligus merasakan tubuh maskulin dan keras pria itu di tengah-tengah pahanya.

Donghae memandang tubuh eunhyuk dengan bernafsu. "aku bisa memandangimu sepanjang malam," bisik donghae.

Eunhyuk juga bisa mengatakannya karena tidak ada satu hal pun yang bisa lebih memuaskannya daripada memperhatikan donghae bergerak sambil telanjang di sepanjang keabadian. Cara berjalan itu... tubuh itu... itu lebih dari yang bisa dihadapi oleh seorang wanita fana biasa.

Donghae mengangkat pinggulnya, membuat eunhuk terhempas kedepan. Eunhyuk bertopang dengan lengannya. Ia bersandar diatas donghae, rambutnya jatuh kesekeliling wajahnya hingga membentuk sebuah kanopi gelap yang meliputi mereka.

"nah, itu yang kuinginkan." Donghae mengangkat tangannya untuk menangkup wajah eunhyuk dan menarik bibir eunhyuk ke bibirnya. Mulutnya menggoda mulut eunhyuk ketika dengan lembut ia menghisap bibir bawah eunhyuk di tengah-tengah giginya. Eunhyuk mengerang karena sentuhan itu sementara donghae menurunkan tangan kebagian samping tubuh eunhyuk hingga ke kewanitaannya.

"dan ini yang paling aku inginkan."

Donghae menghujam dua jari kedalam tubuhnya. Eunhyuk mendesis penuh kenikmatan ketika jemari donghae menggodanya tanpa ampun. Masuk dan keluar dan berputar-putar, menyulut api panas yang membakarnya.

Donghae melepaskan bibirnya. "sekarang katakan apa yang kau inginkan."

"kau." Bisik eunhyuk.

"kalau begitu, kau akan mendapatkanku."

Eunhyuk mengigit bibirnya dengan penuh harap, ia ingin merasakan donghae didalam tubuhnya. Ingin pria itu meregangkan tubuhnya sementara mereka berbagi pengalaman yang paling intim. Tepat ketika eunhyuk merasa yakin donghae akan meluncur kedalam tubuhnya, alarm jam berbunyi.

Eunhyuk terbangun dengan kaget. Ia tertegun, memandang ke sekeliling kamar yang asing dan membutuhkan waktu semenit penuh untuk mengingat bahwa ia tidur dikamar anak di rumah sungmin.

Semua itu hanya mimpi? Tapi rasanya begitu nyata. Eunhyuk bersumpah ia masih bisa merasakan tangan donghae ditubuhnya, napas pria itu di lehernya.

"sungguh tidak adil." Eunhyuk bersungut-sungut sambil turun dari tempat tidur dan mematikan alarm. Baru saja mulai terasa sangat nikmat. Bagaimana mungkin itu hanya sebuah mimpi? Mimpi tentang orang asing misterius yang menyembunyikan kepedihan dibalik sindiran-sindiran sinis. Berusaha semampu mungkin untuk melupakan terjangan alam bawah sadarnya, eunhyuk membalut tubuhnya dengan kimono tebal sungmin lalu berjalan menuju kamar mandi.

"darimana datangnya?" tanya sungmin.

Eunhyuk berhenti di koridor ketika mendengar sungmin dan kyuhyun berbicara dibawah.

"kurasa donghae hyung yang meninggalkannya." Sahut kyuhyun.

Eunhyuk turun kelantai bawah dan mendapati mereka berdua diruang tamu dikelilingi dengan kantong-kantong belanjaan dan kardus-kardus. Kyuhyun sudah siap untuk pergi bekerja.

"ada apa ini?" tanya eunhyuk. Kyuhyun mengangkat bahu.

"kau benar kyu, ini dari donghae-ssi." Ujar sungmin daat menemukan sebuah pesan disalah satu kantong belanjaan itu. Ia membaca pesan itu dan tertawa. " yang tertulis hanya 'terimakasih untuk band-aid-nya,'" ia memberi pesan itu kepada kyuhyun.

Kyuhyun menghela napas secara berlebihan sewaktu membaca pesan itu. "pada masa kami, membawa hadiah saat mengunjungi teman memang sudah biasa. Tapi... sial, lazimnya tidak sebanyak ini." Kyuhyun mengamati tumpukan hadiah itu. "donghae memang selalu murah hati, tapi... sial, kurasa dia kembali tadi malam meninggalkannya selagi tidur."

Eunhyuk tercengang. Ia memperhatikan sungmin mengeluarkan lusinan mainan untuk si kembar. Boneka-boneka untuk minhyuk, mainan balok untuk kyumin. Sebuah kereta dan kuda-kudaan. Sungmin mengeluarkan sebuah kotak kecil dari salah satu kantong itu.

"untukmu kyu." Kata sungmin dan memberikan kotak itu kepada kyuhyun. kyuhyun membuka kotak itu, kemudian wajahnya memucat. Sungmin melongok dan terengah.

"ini cincin jenderalmu kyu. Darimana dia mendapatkannya?" sungmin dan kyuhyun saling memandang dan tertegun.

Eunhyuk mendekat untuk melihat cincin itu. Seperti punya donghae, ada pedang dari berlian dan daun salam yang dilatarbelakangi batu rubi tua.

"mirip seperti yang dipakai donghae, tapi miliknya ada mahkotanya."

"iya. Cincin donghae ditandai dengan segel kerajaan, sedangkan cincinku murni militer."

"kerajaan?" eunhyuk memandang kyuhyun dengan bingung.

"donghae hyung dulunya seorang pangeran dan pewaris tunggal."

Mulut eunhyuk menganga. "bangsa romawi menyalib seorang pewaris? Kukira mereka tidak bisa melakukannya."

"secara teknis, mereka tidak bisa. Tapi... ayah donghae hyung tidak mengakuinya lagi pada hari ketika dia menikahi sohyun."

"wa-waeyo?"

"wanita itu seorang hetaira. Wanita rendahan yang dilatih untuk menjadi penghibur dan teman bagi pria-pria kaya."

"ah..." cetus eunhyuk sambil mengangguk-anggukan kepalanya, dengan mudah eunhyuk memahami mengapa itu membuat keluarga donghae marah. "apa donghae sedang mencari teman sewaktu bertemu dengannya?"

Kyuhyun menggeleng. "donghae hyung bertemu sohyun dipesta seorang teman dan terpesona pada wanita itu. Dia bersumpah itu merupakan cinta pada pandangan pertama. Kami semua berusaha meyakinkannya bahwa sohyun hanya mengincar hartanya, tapi dia tidak mau mendengar. Dulu dia memang sering seperti itu. Ayahnya, begitu memujanya. Tapi begitu ayahnya mendapati bahwa donghae memutuskan pertunangan dengan putri makedonia supaya bisa menikah dengan sohyun, dia murka. Ayahnya mengatakan pada donghae hyung bahwa seorang raja tidak boleh memerintah dengan pelacur disisinya. Mereka berdebat, dan akhirnya, donghae hyung berkuda meninggalkan istana, langsung mendatangi sohyun dan menikahi wanita itu. Saat ayahnya tahu, dia berkata pada donghae hyung bahwa donghae hyung sudah mati baginya."

Dada eunhyuk terasa sesak karena cerita kyuhyun, sementara kepedihan menyayat hatinya. "jadi, donghae merelakan segalanya demi sohyun?"

Kyuhyun mengangguk dengan muram. "bagian yang terburuk adalah, donghae hyung selalu setia pada sohyun. Kalian tidak tahu betapa berartinya itu. Pada masa kami, tidak ada yang namanya monogami. Tidak pernah terdengar ada pria yang setia pada istrinya, apalagi pria dengan warisan dan harta seperti donghae hyung. Tapi setelah donghae hyung menikahi sohyun, dia tidak menginginkan siapa-siapa lagi. Melirik wanita lain saja tidak pernah. Dia benar-benar hidup dan mati demi sohyun."

Hati eunhyuk terasa sakit untuk donghae. Rasa sakit yang pasti masih dimiliki pria itu.

"ini untukmu hyukkie." Sungmin memberikan tiga buah kantong yang berisi kardus yang dibungkus kertas kado kepada eunhyuk. Eunhyuk membuka kardus yang paling besar dan menemukan sehelai gaun tebal buatan perancang ternama. Melihat kembali kedalam kantong-kantong, ia menemukan sepatu,dan kardus-kardus lain yang ditandai dengan logo victoria secret. Wajah eunhyuk merona, ia tidak berani membukanya didepan kyuhyun dan sungmin. Tidak, kecuali kalau ia mau mati saking malunya.

"darimana dia tahu ukuranku? Tanya eunhyuk sambil memeriksa label pada gaun tersebut. Kyuhyun yang melihat, mengangkat bahu.

Eunhyuk terdiam saat menemukan sebuah pesan yang ditujukan kepadanya. Tulisan tangan donghae.

Maaf atas apa yang terjadi pada swetermu. Terima kasih karena sudah begitu menyenangkan

-HUNTER

Eunhyuk tersenyum, walaupun sebagian kecil dari dirinya merasa terluka karena donghae masih tidak mau menggunakan nama asli dengannya. Pasti ini cara pria itu untuk menjaga jarak di antara mereka. Biar saja, donghae berhak untuk menjaga privasinya. Berhak untuk menjalani kehidupan abadinya yang berbahaya tanpa berhubungan akrab dengan manusia. Kalau donghae ingin tetap menjadi hunter dimatanya, eunhyuk akan menghargainya.

Tetap saja, setelah semua yang mereka lalui kemarin malam...

Dilubuk hatinya, eunhyuk tidak peduli nama apa yang digunakan donghae, ia tahu sebenarnya tentang pria itu.

Eunhyuk kembali naik untuk bersiap-siap kerja sambil membawa hadiah-hadiahnya, tapi yang benar-benar ingin ia lakukan adalah berterima kasih kepada hunter atas kebaikan pria itu.

-Night Pleasures-

Setelah mandi, eunhyuk membuka semua hadiahnya dan menenukan sehelai lingerie mahal yang terkesan nakal. Donghae membelikannya stoking sutra biru dan garter belt yang serasi. Ia belum pernah mempunyai atau mengenakan yang seperti itu dan membutuhkan waktu beberapa menit untuk mencari tahu cara memakainya. Sebuah bra dan celana dalam sutra yang serasi melengkapi 'kostum nakal' itu.

Untuk ukuran pria yang ingin menjaga jarak. Donghae membuat pilihan-pilihan yang sangat pribadi untuknya. Tapi kalau dipikir lagi, pria itu memang seperti teka-teki. Eunhyuk menggigit bibir sambil mengambil gaunnya, ia luar biasa feminin dan lembut saat mengenakan lingerienya yang baru, dan getaran ringan menjalar di punggungnya ketika memikirkan fakta bahwa tangan donghaelah yang telah menyentuh pakaian itu.

Rasanya sangat erotis karena tahu bahwa tangan donghae mungkin menjelajahi renda lembut pada celana dalam yang sekarang menempel secara intim ditengah-tengah pahanya. Bahwa tangan donghae telah menyentuh bagian dalam cup yang menopang payudaranya. Betapa ia berharap donghae ada disana untuk menelanjanginya. Untuk menyentuhnya seintim pakaian-pakaian itu.

Eunhyuk menarik napas dalam dari sela-sela giginya sambil membayangkan ekspresi berbahaya dan tertutup pada wajah donghae yang pasti ditunjukkan saat pria itu memeluknya dan bercinta dengannya.

Ketika dikenakan, gaun sutra itu meluncur dikulitnya, mengingatkannya pada mimpinya. Rasa dari tangan donghae ditubuhnya. Betapa eunhyuk berharap donghae ada disini. Betapa ia berharap bisa memperhatikan pria itu membuka kancing gaunnya untuk menemukan wanita itu dibaliknya. Tapi itu tidak akan pernah terjadi. Donghae sudah pergi selamanya untuk kembali ke kehidupan yang berbahaya.

Eunhyuk menghela napas lalu memakai sepatu dan turun kelantai bawah dimana kyuhyun sudah menunggu untuk mengantarnya bekerja.

-Night Pleasures-

"aku turut sedih mendengar masalahmu dan siwon."

Eunhyuk menengadahkan kepala dari mejanya dan menghitung sampai sepuluh dengan perlahan. Kalau ada satu orang lagi yang seperti itu kepadanya, ia akan mengamuk dan pergi ke ruangan siwon, kemudian mencincang pria itu menjadi potongan-potongan yang kecil.

Siwon sudah memberitahu semua orang di kantor mengenai putusnya hubungan mereka dan dengan arogannya mengatakan bahwa ia terlalu patah hati untuk masuk kantor kemarin. Lama-lama ia benar-benar bisa membunuh pria itu.

"aku baik-baik saja, sajangnim," kata eunhyuk kepada atasan kantor mereka dengan senyum yang dipaksakan.

"bagus. Kau tetap menjaga semangatmu." Cetus atasannya.

Eunhyuk mengerucutkan bibirnya ketika atasannya pergi. Setidaknya hari ini sudah selesai. Sekarang ia bisa pulang dan...

Dan...

Dan memimpikan pria tampan yang tidak akan pernah ia temui. Mengapa hal itu terasa lebih menyakitkan ketimbang fakta bahwa siwon sudah memutuskan hubungan dengannya? Ada apa dalam diri donghae yang membuatnya begitu merindukan pria itu. Tapi eunhyuk tahu, donghae tampan dan cerdas dan heroik. Donghae misterius dan berbahaya. Lebih hebat lagi, donghae membuat jantungnya berdebar-debar setiap kali menyunggingkan senyum mempesona kepadanya. Dan donghae pergi untuk selamanya.

Eunhyuk merasa tertekan, lebih baik ia bersiap-siap untuk pulang. Setelah memasukkan dokumen-dokumen ke koper, eunhyuk keluar dari kantor, menuju lift, dan menekan tombol lobi. Ia tidak mau menunggu sungmin diluar bersama si kembar. Lagi pula, ia sudah muak dengan kantornya.

Begitu pintu lift terbuka dan menunjukkan lobi yang dibatasi dengan kaca, eunhyuk melangkah keluar dan memandang ke sekeliling. Walaupun diluar gelap, lampu-lapu dilahan parkir sangat terang, sehingga ia tahu sungmin belum sampai disana. Sial! Ia sudah lebih dari sekedar siap untuk pulang. Dengan kesal eunhyuk berjalan dan berdiri didekat pintu.

Sewaktu eunhyuk memindahkan koper, siwon keluar dari lift sebelah, di kelilingi oleh teman-temannya. Siwon melihat eunhyuk yang sendirian, ia berlagak seperti merak yang menghampirinya.

"ada masalah?" tanya siwon.

"tidak. Jemputanku belum datang."jawab eunhyuk dengan singkat.

"kalau kau butuh tumpangan untuk pulang..."

"aku tidak butuh apa-apa darimu,oke?" sela eunhyuk, kemudian keluar melalui pintu untuk menunggu di kegelapan yang dingin. Lebih baik membeku karena hawa musim dingin daripada menghabiskan satu menit lagi di dekat pria terakhir dibumi yang ingin ia lihat.

Siwon menarik eunhyuk sampai berhenti didepan gedung. Lampu jalanan membuat rambut hitam siwon betkilat samar. "dengar eunhyuk-ah, tidak ada alasan mengapa kita tidak bisa berteman."

"jangan sok baik setelah perbuatanmu hari ini. Kau pikir kau siapa, memberitahu semua orang tentang keluargaku?"

"ayolah hyukkie..."

"berhenti memanggilku hyukkie karena kau tau betapa aku membenci panggilan itu jika kau yang memanggil."

Siwon menoleh ke balik bahunya dan eunhyuk menyadari bahwa separuh kantor sedang berdiri disana, mendengarkan."dengar, bukan aku yang harus berdiam diri dirumah kemarin saking putus asanya setelah kejadian sabtu malam."

Amarah eunhyuk tersulut. Putus asa? Dirinya? Karena siwon? Eunhyuk memperhatikan siwon baik-baik. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari musang macam apa siwon itu.

"maaf, tapi aku tidak berdiam diri dirumah kemarin. Kau tahu aku dimana? Aku menghabiskan sepanjang hari dipelukan seorang dewa tampan. Aku sudah melupakanmu sepenuhnya."

Siwon mendengus. "lihat kan? Aku sudah tahu hanya tinggal menunggu waktu sebelum keluargamu menularimu. Kau sama gilanya dengan mereka semua. Kurasa besok kau akan datang dengan pakaian kulit hitam dan bicara tentang memburu vampir."

Seumur hidup, eunhyuk belum pernah ingin menampar orang seperti ia ingin menampar siwon saat itu. Mengapa ia pernah berpikir kalau siwon sepadan? Pria itu kejam dan kasar. Lebih parah lagi, siwon suka menghakimi! Mungkin ryeowook sinting, tapi ryeowook adalah keluarganya, dan orang yang tidak punya hubungan dengan mereka tidak boleh menghinanya!

Tiba-tiba, semua kekurangan yang dulu ia abaikan dari diri siwon muncul dihadapannya. Dan kalau dipikir lagi ia sudah menghabiskan waktu selama satu tahun dalam hidupnya untuk menyenangkan bajingan ini. Ia memang idiot! Dan bodoh, tolol...

Eunhyuk merasakan bulu kuduknya meremang sesaat sebelum ia mendengar suara mobil berputar di kejauhan. Siwon mengalihkan pandangan ke arah jalan dan melongo. Eunhyuk berpaling untuk melihat apa yang menarik perhatian siwon dan membeku ketika melihat sebuah lamborghini hitam mengkilat melintas di jalan masuk dan berhenti dipinggr jalan didepan merela.

Senyum mengembang di wajah eunhyuk.

Pastinya...

Jantungnya berdebar-debar ketika pintu mobil terangkat dan donghae keluar. Mengenakan jins belel, sweter berkerah V yang berwarna abu-abu dan hitam,dan jaket kulit hitam,pria itu sungguh mempesona. Dan gaya berjalan donghae yang berbahaya membuat lutut eunhyuk lemas.

"oh, baby," eunhyuk mendengar atasannya berbisik ketika donghae mengitari mobil.

Donghae berhenti didepan eunhyuk dan memandangi tubuhnya dengan bernafsu.

"hai seksi. Maaf, aku terlambat." Sapa donghae dengan suara yang berat dan menggugah.

Sebelum eunhyuk tahu apa yang sedang dilakukan oleh donghae, pria itu sudah memeluk dan menciumnya dengan panas. Tubuh eunhyuk terbakar sebagai respons atas lidah donghae yang mengecap lidahnya sementara pria itu mengepalkan tangan di punggungnya.

"hunter!" eunhyuk terengah saat donghae menggendongnya tanpa perlu bersusah payah menuju mobil. Donghae menyunggingkan senyum nakal kepada eunhyuk. Matanya hangat dan dipenuhi dengan humor dan gairah.

Dengan ujung sepatu botnya, donghae membuka pintu sisi penumpang dan menurunkan eunhyuk didalam. Ia mengambil koper dan tas eunhyuk dari trotoar dimana eunhyuk menjatuhkannya dan memberikannya kepada eunhyuk. Kemudian, ia membalik badan dan mengulas senyum penuh pengertian kepada siwon.

"seorang pria harus mencintai wanita yang hidup untuk melihatnya telanjang."

Eksperesi wajah siwon tidak karuan ketika donghae menutup pintu sisi penumpang, kemudian dengan anggun berjalan menuju ke sisi pengemudi dari lamborghini itu. Dengan satu gerakan luwes, ia masuk ke mobil dan mereka pun mengarah keluar dari lahan parkir.

Ribuan emosi berkecamuk di dalam diri eunhyuk. Rasa terimakasih, tawa, tapi yang terbesar, kebahagiaan karena bisa melihat donghae lagi, terutama setelah pikiran kyuhyun dan pikirannya sendiri meyakinkan bahwa ia tidak akan pernah melihat donghae lagi. Eunhyuk tidak bisa mempercayai apa yang sudah dilakukan donghae untuknya.

"apa yang kau lakukan disini?" tanya eunhyuk ketika mereka mengarah keluar dari lahan parkir.

"kau sudah membuatku gila seharian ini," bisik donghae. "aku bisa merasakan kebahagiaan dan kesedihanmu, tapi aku tidak tahu mengapa. Jadi, aku menelpon sungmin dan diberitahu bahwa dia harus menjemputmu usai jam kerja."

"kau masih belum memberitahuku mengapa kau ada disini."

"aku harus memastikan kau baik-baik saja."

"kenapa?"

"molla. Harus saja."

"gomawo atas pakaiannya dan atas apa yang kau lakukan disana kepada siwon."

"dengan senang hati."

Sekarang eunhyuk hanya bisa menahan diri untuk tidak mengulurkan tangan dan menyentuh donghae. Untuk tidak mencium pahlawannya yang menggairahkan itu.

"aku hanya punya satu pertanyaan, mengapa seorang wanita seperti dirimu mau menikah dengan makhluk seperti dia?"

Eunhyuk mengerutkan dahinya. "darimana kau..."

"aku paranormal, ingat? Seluruh perasaanmu yang sesungguhnya terhadap bajingan dungu itu melintas di benakmu."

Eunhyuk meringis dan berharap ia bisa membentengi pikiran-pikirannya.

"aku juga mendengar itu," goda donghae, membuat eunhyuk bertanya-tanya apakah pria itu benar-benar mendengarnya.

"apa ada yang bisa kulakukan dengan kebiasaanmu mengintip ke dalam pikiranku? Benar-benar membuatku tidak nyaman."

"kalau kau mau, aku bisa melepaskan kekuatan itu terhadapmu."

"benarkah? Kau bisa menghilangkan setiap kekuatanmu kapanpun kau mau?"

Donghae mendengus. "tidak juga. Satu-satunya kekuatan yang bisa kulepaskan adalah kemampuan untuk meilhat pikiran orang lain."

"begitu dilepaskan, apa kau bisa memilikinya kembali?"

"bisa tapi tidak mudah."

"kalau begitu buang saja bung."

Donghae tertawa dan berusaha untuk memusatkan perhatian kejalan, tapi yang ia perhatikan hanyalah belahan gaun eunhyuk yang menyingkapkan sebagian paha berbalut sutra yang indah. Lebih parah lagi, donghae tahu apa yang dikenakan oleh eunhyuk dibalik gaunnya. Itu merupakan bayangan lain yang menghantui donghae sepanjang hari sementara ia berusaha untuk tidur. Memikirkan lekuk-lekuk menggairahkan dari tubuh eunhyuk yang ditangkup oleh garter belt dan celana dalam...

itu membuat air liurnya menggenang dan yang ia inginkan hanyalan meluncurkan tangan ke bawah keliman yang dijahit dengan baik itu hingga merasakan secarik sutra tipis yang membalut bagian tubuh eunhyuk yang paling pribadi. Oh ya, ia bisa membayangkan menyingkirkan suara itu dengan jemarinya hingga ia mendapat akses penuh ke tubuh eunhyuk. Atau menyobek secarik sutra tipis dan halus itu dari pinggul eunhyuk dan membenamkan tubuhnya dalam-dalam ke tubuh eunhyuk sementara kaki eunhyuk yang berbalut sutra dikaitkan kesekeliling tubuhnya.

Donghae bergerak-gerak di kursinya dan terlambat mengingat bahwa ia harus membeli celana longgar untuk dirinya sendiri.

Menyentuh eunhyuk pasti terasa luar biasa.

Donghae mempererat cengkramannya pada tongkat persneling ketika pikiran itu berkecamuk di dalam benaknya.

"tidak akan ada wanita yang mencintaimu selain karena uangmu. Camkan kata-kataku, nak. Pria seperti kita tidak akan pernah mendapatkan kebutuhan dasar yang satu itu. Yang terbaik yang bisa kau harapkan adalah seorang anak yang menyayangimu."

Napasnya tertahan ketika kenangan yang sudah dibelenggu itu kembali melandanya dengan sangat jelas. Dan setelahnya muncul kata-kata terakhir yang ia katakan kepada ayahnya.

"bagaimana mungkin aku menyayangi pria tak berhati sepertimu? Kau sama sekali tidak berarti bagiku, pak tua. Dan tidak akan pernah berarti."

Kepedihan membuatnya tidak bisa bernapas. Kata-kata yang ia ucapkan dengan penuh amarah itu tidak bisa di tarik kembali. Bagaimana mungkin ia mengatakannya kepada orang yang paling ia sayangi dan hormati?

"jadi?" tanya eunhyuk, mengalihkan perhatian donghae, "apa yang terjadi pada desiderius kemarin malam? Apa kau menangkapnya?"

Donghae menggelengkan kepala untuk menjernihkan pikiran dan memusatkannya kepada tempat ini dan saat ini. "dia kabur ke bolt hole setelah konfortasi kami."

"kemana?"

"bolt hole. Tempat berlindung bagi daimon. Lubang itu merupakan celah astral antar dimensi. Para daimon bisa masuk selama beberapa hari, tapi begitu pintu dibuka, mereka harus pergi lagi."

Eunhyuk terkejut mendengar apa yang di deskripsikan oleh donghae. "aku tidak percaya ada kekuatan yang memberi tempat bernaung seperti itu untuk menghindari keadilan."

"para daimon menemukan lubang itu sendiri. Tapi aku tidak mengeluh, lubang itu membuat pekerjaanku jauh lebih menarik."

"baguslah, aku benar-benar tidak mau kalau pekerjaanmu sampai membosankan."

Donghae melirik eunhyuk dengan tatapan yang membuatnya terbakar. "firasatku mengatakan bahwa merasa bosan saat didekatmu adalah sesuatu yang mustahil."

Kata-kata donghae mengirim suatu gelombang yang menyakitkan kedalam diri eunhyuk. "hanya kau yang merasa seperti itu." Ucap eunhyuk sambil mengingat percakapannya dengan junsu. "ada yang bilang bobotku sama dengan bobot kota kebosanan."

Mobil berhenti dilampu merah dan donghae menatap eunhyuk dengan tajam. "aku tidak memahami komentar itu karena aku sangat terpesona olehmu sejak aku terbangun dan mendapatimu sedang memanggilku 'cowok ganteng'."

Wajah eunhyuk serasa terbakar, ia mentertawakan kenangan itu.

"lagi pula, kau tidak bisa menyalahkan orang lain yang berkata begitu, karena kau sendiri yang memasang perisai." Lanjut donghae.

"maaf?"

Donghae menjalankan mobil lagi dan melintasi jalan. "kau mengubur bagian dirimu yang mendambakan kegembiraan dibalik sebuah karir yang suatu hari nanti pasti akan menggantikan obat penenang. Kau mengenakan warna-warna suram dan turtleneck yang menyembunyikan gairah yang kau kekang."

"tidak." Sergah eunhyuk. "kau belum mengenalku dengan baik dan kau baru melihatku dengan satu jenis pakaian yang aku pilih."

"memang, tapi aku tahu tipemu."

"yang benar saja." Eunhyuk menyangkal.

"dan aku sudah mencicipi gairahmu secara langsung."

Wajah eunhyuk semakin terbakar karenanya. Ia tidak bisa menyangkal kebenaran itu. Akan tetapi, bukan berarti ia harus menyukai bagaimana sepertinya donghae bisa melihat langsung kedalam hatinya.

"menurutku kau takut pada bagian dirimu yang itu. Kau mengingatkanku kepada seorang nymph yunani kuno, yuri. Dia memiliki dua sisi kepribadian. Dua kepingan yang saling berperang, membuatnya... dan semua orang yang mengenalnya... menderita hingga suatu hari seorang tentara yunani mendatangi kedua bagian itu dan menyatukannya. Seja hari itu dia hidup dalam keselarasan dengan dirinya sendiri dan orang lain."

"apa? Maksudmu aku membuatmu menderita?"

Donghae tertawa. "tidak. Menurutku kau menarik. Tapi kurasa kau akan merasa jauh lebih bahagia kalau menerima kepribadianmu yang sesungguhnya dan tidak berusaha begitu keras untuk melawannya."

"ini tidak diucapkan oleh seorang vampir yang bahkan tidak meminum darah manusia. Katakan padaku, bukankah kau juga sedang melawan kepribadianmu yang sesungguhnya?"

Donghae tersenyum mendengarnya, "mungkin kau benar. Mungkin aku akan merasa senang sekali kalau binatan buas didalam diriku dilepaskan." Ia melirik eunhyuk dengan ragu. " aku bertanya-tanya apakah kau bisa menghadapi bagian diriku yang itu."

"apa maksudmu?"

Donghae tidak menjawab. "aku harus membawamu kemana? Rumah kyuhyun, ibumu, atau rumahmu?"

"yah, karena kau sudah mengarah kerumahku, kurasa kesana saja. Aku tinggal beberapa blok dari dari sini."

Donghae berusaha semampu mungkin untuk memusatkan perhatian kepada lalu lintas, tapi ia berkali-kali melihat kilasan mimpi di benaknya. Sial, ia tidak bisa mengingat kapan terakhir kalinya ia memiliki mimpi yang sejelas itu. Ia bangun pagi-pagi dalam keadaan tegang dan mendambakan eunhyuk dan ia bisa bersumpah kalau aroma tubuh eunhyuk ada dibantalnya dan di kulitnya.

Ia menghabiskan sepanjang hari dengan semampu mungkin utnuk tidur, tapi tidurnya yang lelap saja terasa gelisah. Ia menginginkan eunhyuk dengan hasrat yang begitu mendalam sehingga tubuhnya berguncang karena ingin berada di dekat wanita itu. Seumur hidup, belum pernah ia menginginkan sesuatu lebih dari apa yang diusulkan eunhyuk : melepaskan dirinya yang sesungguhnya dan menaklukkan wanita itu.

Kalau saja ia berani.

Begitu langit berubah gelap, ia pergi mencari eunhyuk. Itulah pertama dalam hidupnya sebagai dark hunter dimana ia mengejar seorang manusia.

Eunhyuk memperhatikan donghae ketika pria itu mengemudi. Donghae memakai kacamata hitamnya dan tampak lebih mempesona dari yang diperbolehkan untuk seorang pria.

"katakan padaku." Ucap eunhyuk membuat donghae mengerutkan dahi.

"apa kau benar-benar suka menjadi seorang dark hunter?" tanya eunhyuk.

Donghae melirik eunhyuk dan menyunggingkan senyum yang benar-benar memperlihatkan taringnya. "katakan padaku ada berapa pelajaran diluar sana yang memberimu kesempatan untuk menjadi pahlawan setiap malam. Bayaranku sangat besar dan aku hidup selamanya. Mengapa aku tidak mencintai pekerjaan ini?"

"tapi, apa kau tidak pernah merasa kesepian?"

"kau bisa berada di tengah keramaian dan tetap merasa kesepian."

"kurasa begitu. Tapi tetap saja..."

Donghae melirik eunhyuk dari samping. "kenapa kau tidak menanyakan apa yang ingin kau ketahui dari diriku?"

"karena kau bisa membaca pikiranku mengapa kau tidak menjawabnya?"

Senyum donghae bertambah lebar seperti serigala yang baru menemukan santapannya. "ya, manis. Menurutku kau luar biasa seksi. Dan aku ingin sekali membawamu pulang kerumahku dan membuat jari kakimu melengkung."

Hawa panas membakar wajah eunhyuk. "aku tidak suka caramu melakukannya. Kau lebih parah dari ryeowook. Ya Tuhan, apa semua dark hunter mempunyai kemampuan seperti itu."

"tidak sayang, hanya aku. Masing- masing dari kami memiliki seperangkat kemampuan yang lain."

"kuharap kau memiliki seperangkat kemampuan yang lain."

"baiklah, sayangku. Untukmu, kemampuan yang itu sudah tidak ada. Tidak ada aksi baca pikiran lagi."

Saat eunhyuk memperhatikan donghae, ia menyadari bahwa walaupun donghae suka menggertak dan macho, masih ada hati yang baik di balik semua itu. "kau orang yang baik, hunter."

"mungkin maskdumu aku vampir yang baik."

"iya. Tapi kau tidak menghisap darah."

Salah satu ujung bibir donghae di lengkungkan sewaktu mendengarnya. " jadi, kyuhyun sudah mengatakannya padamu, ya?"

"ya begitulah. Katanya dark hunter, berbeda dari apollite, tidak mendapat bagian hukuman apollo yang itu."

"kurasa kau dan kyuhyun menghabiskan waktu terlalu banyak untuk mengobrol tadi malam."

"mungkin. Apa benar daimon hanya hidup selama dua puluh tujuh tahun?"

Donghae mengangguk. "karena itulah mereka sangat berbahaya. Sebagian besar apollite mau melakukan apa saja untuk membeli hari yang baru bagi diri mereka. Seorang sepertimu adalah santapan favorit para daimon. Dengan mencuri jiwamu, mereka mencuri seluruh kekuatan gaib yang kau milik didalamnya."

Eunhyuk mencibir. "aku tidak punya kekuatan."

"yah, aku terima kebohongan apapun yang bisa membuatmu senang."

"itu bukan kebohongan." Tukas eunhyuk untuk membela diri. "aku tidak mempunyai kemampuan apa-apa selain mengurus angka-angka."

"baiklah pengurus angka, aku percaya padamu."

Donghae mungkin berkata begitu, tapi nada suaranya tidak bisa berbohong. Memicingkan mata kepada pria keras kepala itu, eunhyuk menunjukkan jalan menuju rumahnya. Saat mereka sudah dekat eunhyuk melihat awan abu-abu yang datang dari kepulan asap dilangit malam.

"apa ada rumah yang terbakar?"

"ya, kelihatannya rumahnya besar."

"oh, tidak." Eunhyuk terengah sewaktu mereka mendekat dan ia melihat rumahnya terbakar. Tapi donghae tidak berhenti disana, ia menyusuri jalan sampai kerumah ryeowook dimana api juga sedang berkobar.

Air mata merebak di mata eunhyuk ketika ia mencari-cari kunci pintu.

"ryeowook!" jerit eunhyuk, takut kalau-kalau ryeowook masih ada di dalam rumah.

Lebih cepat dari kerjapan mata, donghae sudah keluar dari mobil dan berlari memasuki rumah yang terbakar. Dengan jantung berdebar-debar, eunhyuk keluar dari mobil dengan terhuyung-huyung. Setelah menendang sepatu hak tingginya sampai lepas, ia berlari menuju beranda, tapi tidak berani masuk dengan kaki telanjang.

"hunter." Panggilnya, berusaha melihat kebalik lidah api.

Kumohon, baik-baiklah, wookie.

Saat eunhyuk menunggu donghae muncul atau bersuara, sebuah motor memasuki halaman ryeowook dan berhenti dengan berisik di jalan masuk. Bergerak secepat kilat, seorang pria melepaskan helm hitamnya, melemparnya ke tanah, kemudian berlari menuju rumah dengan begitu cepat sehingga eunhyuk tidak bisa melihat wajahnya. Pria itu muncul kembali pada saat yang bersamaan dengan donghae yang keluar dari pintu, menggendong teman serumah ryeowook. Eunhyuk mengikuti donghae ke halaman dimana ia membaringkan luna di rerumputan.

"ryeowook tidak ada disini." Kata donghae. Ia menundukkan kepala ke tubuh luna yang tidak sadarkan diri. "dia menghisap banyak asap." Donghae mengamati sekitar, beberapa orang tetangga sedang berdiri di dekat situ, tapi tidak ada yang datang. "dimana ambulannya?" donghae menggeram.

Terminator menghampiri mereka, menjilati wajah luna kemudian wajah eunhyuk. Eunhyuk menepuk-nepuk anjing berwarna putih dan hitam itu, lalu mendongak untuk melihat pria yang datang dengan motor. Pria itu sama tampannya seperti donghae namun ada sesuatu yang terkesan surgawi dalam dirinya.

Ia mengenakan jaket motor berisleting dengan ornamen ukiran kelt merah dan emas yang dilukis di seluruh permukaannya dan seuntai kalung emas tebal di sekeliling lehernya, badannya besar, rambutnya berwarna hitam dan pendek. Ia berlutut disebelah donghae dan mengulurkan tangannya yang bersarung hingga berjarak sekirat dua sentimeter di atas tubuh luna.

"paru-parunya terbakar." Katanya pelan.

"apa kau bisa menolongnya, kangin hyung?" tanya donghae.

Kangin mengangguk. Ia melepas sarung tangannya, kemudian meletakkan tangannya di atas tulang rusuk luna. Setelah beberapa detik, napas luna menjadi pelan dan stabil. Kangin menatap mata eunhyuk. Eunhyuk gemetar saat melihat bahwa pria itu memiliki warna mata yang sama dengan donghae.

Ada sesuatu yang sangat menggelisahkan dan aneh dalam diri dark hunter baru ini. Kangin seperti kesunyian, eunhyuk menyadari. Seperti kolam tak berdasar. Ada kesyahduan nan damai dalam dirinya yang menarik sekaligus menakutkan dan eunhyuk menyadari bahwa sesuatu yang sangat buruk pasti sedang terjadi. Untuk apalagi dark hunter lain berada di tempat ini pada waktu bersamaan?

"desiderius yang menyulut apinya kan?" tanya eunhyuk.

Kedua pria itu menggeleng. Donghae berpaling kepada kangin. "targetmu?"

"tebakanku adalah mereka bergabung. Targetku berusaha memancingmu keluar sementara targetmu bersembunyi."

Akhirnya pemadam kebakaran tiba. Tim medis menangani luna sementara mereka bertiga beranjak untuk berdiri di pinggir.

"wah, sial, hyung. Ini modus baru." Kata donghae sambil mengacak-acak rambutnya dengan tangan. "ini membuat kita semakin rentan."

Kangin memalingkan kepala kearah rumah ryeowook yang terbakar. "ya, aku tahu, rasanya menyebalkan karena mereka bisa menggabungkan kekuatan sementara kita tidak."

"kenapa tidak bisa?" Tanya eunhyuk.

Kangin berpaling kepada donghae. "seberapa banyak yang dia tahu?"

"jauh lebih banyak dari yang seharusnya."

"apa kita bisa mempercayainya?"

Donghae memandang eunhyuk dengan ragu. Ia tidak akan pernah melakukan apapun yang dapat membahayakan pria yang telah menyelamatkan nyawanya.

"aku menerima voice mail dari acheron sore ini yang menyuruhku memberitahukan informasi apapun yang dia inginkan."

"tidak biasanya dia begitu."

"kau tahu, acheron benar-benar tidak menyukainya seperti itu dan aku sulit percaya bahwa dia memberi wanita itu keistimewaan."

"yah, tapi kau kenal acheron. Pasti ada tujuannya dan pada saat nanti, aku yakin dia akan memberikan pencerahan pada kita."

"nah, katakan padaku kalau begitu. Mengapa kalian tidak bisa menggabungkan kekuatan?" desak eunhyuk.

"supaya kami tidak bertarung satu sama lain atau menggunakan kekuatan kami untuk melawan manusia atau para dewa. Begitu kami bersama, kami mulai menghisap kekuatan satu sama lain dan saling melemahkan. Semakin lama kami bersama, semakin lemah kami jadinya." Jelas donghae.

Eunhyuk melongo. "itu tidak adil."

"hidup memang jarang adil nona." Timpal kangin.

Donghae berpaling kepada kangin. "kau tahu dimana targetmu berada hyung?"

"aku kehilangan sinyal pelacak disini. Jadi menurutku ada sebuah bolt hole di dekat sini."

"bagus sekali." kata donghae, kangin sependapat. "menurutku kita harus menghubungi kim bersaudara untuk memancing mereka berdua keluar."

"jangan hyung. Yang kita hadapi bukan daimon biasa, dan firasatku mengatakan bahwa meminta were-hunter untuk menyerang desiderius sama saja seperti melempar granat ke sebuah tong dinamit. Kita tentu tidak ingin desiderius mencuri jiwa were-hunter. Apa kau bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila begitu kejadiannya?"

"were-hunter? Seperti werewolf?" tanya eunhyuk.

Kangin berdeham. "tidak juga."

"kami melindungi malam, karena itu dijuluki dark hunter, sedangkan mereka..." donghae menatap kangin dengan bingung.

Kangin mengambil alih penjelasan itu. "were-hunter adalah..." ia memandang donghae seolah ikut mencari-cari kata yang tepat. Donghae mengangkat bahu.

"penyihir?"

"cukup tepat untukku." Kata kangin.

Itu belum cukup untuk eunhyuk tahu apa yang sedang mereka bicarakan. "penyihir seperti merlin?"

"oh, ya ampun," gerutu kangin. Ia saling pandang dengan donghae. "kau yakin dengan apa yang dikatakan acheron?"

Hunter mengambil ponsel dari kantung celananya, mencari-cari di folder pesan tersimpan, kemudian memberikan ponsel itu kepada kangin. "dengar saja sendiri hyung."

Kangin mendengarkan. Setelah menunggu sebentar, ia mengembalikan ponsel itu kepada donghae dan menghadap eunhyuk. "baiklah, mari kita jernihkan masalah ini. Ada empat jenis daimon atau vampir yaitu penghisap darah, penghisap jiwa, penghisap energi dan mimpi, serta slayer."

Eunhyuk mengangguk. Kedengarannya masuk akal. "kalian ini slayer?"

Donghae mendengus. "mwo? Kau dilahirkan dengan remote di genggamanmu?"

"bukan. Slayer merupakan vampir yang paling kejam karena mereka tidak menginginkan apa-apa dari korban mereka. Mereka menghancurkan hanya karena ingin menghancurkan dan mereka itu vampir yang terkuat." Kangin mengoreksi eunhyuk sambil mengabaikan sindiran donghae.

"eum... apa desiderius salah satunya?"

Donghae menggeleng sedangkan kangin terus menjelaskan kepada eunhyuk. "untuk melindungi dunia yang kita kenal, ada tiga ras pemburu yang diciptakan untuk menertibkan dan menghancurkan daimon. Kami disebut 'piramida perlindungan'. Dark hunter mengejar mereka yang menghisap darah dan jiwa manusia, dream hunter mengejar penghisap mimpi dan energi, dan were hunter mengintai para slayer."

Eunhyuk lagi-lagi mengerutkan dahi. "kurasa yang tidak kupahami adalah mengapa kalian tidak membentuk kelompok yang bisa melakukan semuanya."

"karena tidak boleh, sayang. Kalau ada orang atau kelompok yang cukup kuat untuk berjalan melintasi keempat alam eksistensi, mereka bisa memperbudak dunia. Tidak ada apapun atau siapapun yang bisa menghentikan mereka dan para dewa pasti akan sangat kesal." Kata donghae.

"empat alam apa?"

"waktu, ruang, bumi, dan mimpi." Jawab kangin.

Eunhyuk menghembuskan napas panjang. "oke, itu baru menyeramkan. Beberapa dari kalian berjalan melintasi waktu?"

"juga ruang dan mimpi."

Eunhyuk mengangguk. "jadi, rod serling sang produser tv dan novelis amerika itu were hunter?"

Kedua pria itu tidak kelihatan senang.

"oke, lelucon yang buruk. Aku hanya berusaha memahami semua ini." Lanjut eunhyuk.

Kangin tertawa. "jangan. Aku sudah berusaha memahami semua ini lebih dari seribu lima ratus tahun tapi masih saja harus mempelajari banyak hal."

Donghae meringis. "setiap kali aku mengira aku sudah mengerti, seseorang seperti desiderius datang dan benar-benar mengubah peraturannya."

"memang. Dan ngomong-ngomong tentang hal-hal menyeramkan, aku harus pergi. Pemanduku sudah menghilang bahkan selagi kita bicara." Timpal kangin.

"aku tidak suka kalau kau berurusan dengan orang mati didepanku, hyung."

"apa kau bajingan yang mengirim kaos 'aku bisa melihat arwah' untukku?"

"itu bukan aku hyung, mungkin shindong hyung. Kukira dia bercanda waktu mengatakannya."

"tidak. Aku mendapatkannya tiga hari yang lalu. Aku akan membalasnya untuk itu." Ujar kangin lalu memandang eunhyuk. "jaga dia."

Donghae mengangguk. Kangin melirik ke balik bahunya kepada salah seorang petugas pemadam kebakaran. "ini firasatku saja atau pemadam kebakaran apollite di belakangku memang agak terlalu memperhatikan kita?"

"ya hyung, aku juga menyadarinya. Kurasa aku harus menanyainya."

"jangan malam ini. Amankan wanitamu dulu. Aku yang akan mengintrogasi si apollite."

"kau tidak percaya padaku hyung?"

"tentu saja tidak. Aku terlalu mengenalmu bocah." Kangin kembali ke harley davidson hitamnya dan mengambil helmnya yang tergeletak di tanah. "aku akan mengirimkan hasilnya lewat email kepadamu."

Eunhyuk melihat seorang pria yang sedang berdiri sendirian di bawah bayangan di seberang jalan. Bukannya memperhatikan kebakaran, sepertinya pria itu lebih tertarik pada donghae dan kangin. Kangin kembali bergabung dengan mereka.

"pertanyaan." Bisik eunhyuk sambil memperhatikan bayangan pria tinggi yang tampan di seberang jalan. "apa semua daimon itu tinggi seperti tiang listrik?"

"iya. Begitu juga dengan semua apollite." Jawab donghae.

"jadi, bagaimana kalian menbedakan apollite dengan daimon?"

"kami bisa merasakan mereka, kecuali kalau mereka menghalangi. Tapi satu-satunya cara bagi manusia untuk membedakan adalah kalau seorang apollite menjadi daimon, sebuah simbol hitam yang mirip dengan tato muncul ditengah-tengah dadanya dimana jiwa manusia berpusat." Jawab kangin.

Eunhyuk mengangguk dan masih memperhatikan pria yang sedang mengamati mereka. "katakanlah padaku, apa menurut kalian target kalian sengaja menyatukan kalian untuk mengeringkan kekuatan kalian sebelum mereka menyerang?"

"mengapa kau berkata seperti itu?" tanya kangin.

"yah, aku memang bukan ahlinya, tapi pria di belakangmu itu kelihatan seperti daimon di mataku."

Kata-kata itu baru saja terucap dari bibir eunhyuk. Ketika sekilas cahaya menyambar punggung kangin dan membuatnya terhempas ke tanah. Donghae mengumpat sambil mendorong eunhyuk ke mobil. Ia melompati mobil, dan langsung berlari menuju daimon yang telah menyerang kangin. Mereka berdua berangkulan dan terjatuh ke tanah sambil bergelut hebat.

Eunhyuk menghampiri kangin. Tubuh pria itu berlumuran darah. Jantung eunhyuk berdebar-debar, ia berusaha membantu kangin bangun, tapi sebelum ia bisa melakukan seorang daimon lain sudah menyerang mereka. Bereaksi secara naluriah, eunhyuk menarik belati kelt dari ikat pinggang kangin dan menikam dada si daimon. Daimon itu mendesis, kemudian mundur.

Kangin bangkit berdiri, merebut belati dari genggaman eunhyuk, lalu melemparkanya ke punggung daimon yang sedang berusaha kabur. Si daimon lenyap dalam kelebat cahaya. Donghae kemudiam muncul dari kegelapan, napasnya tersengal-sengal sewaktu memungut belati kangin dari tanah dan mengembalikannya kepada kelt itu.

"kau baik-baik saja hyung?"

"aku sudah pernah mengalami yang lebih parah, kau?" jawab kangin, ia meringis sambil meregangkan lengannya.

"aku juga."

"terimakasih atas bantuanmu." Kangin mengangguk singkat kepada eunhyuk. Ia menggosok-gosok belakang bahunya dengan tangan. "jaga benar-benar wanitamu. Kita bicara lagi nanti."

"baik hyung."

Eunhyuk meringis saat memperhatikan kangin mengayunkan kakinya di motor. Gerakan kangin pelan walaupun mantap dan itu menyiratkan rasa sakitnya.

"apa dia sungguh baik-baik saja?"

"kami pulih dengan cepat. Sebagian besar luka akan mengilang dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam."

Suara sirine terdengar dari kejauhan. Donghae memandang ke jalanan dimana lampu-lampu bercahaya. "polisi datang. Kita harus pergi sebelum mereka sampai."

"bagaimana dengan luna?"

"dia akan baik-baik saja begitu terbangun. Sentuhan kangin bisa menyembuhkan apa saja kecuali kematian."

"dan terminator?"

Donghae bersiul dan membuka pintu mobilnya. Ia mendudukan terminator di kursi eunhyuk. "pasti terasa sesak, tapi kurasa kita bisa mengatasinya."

Eunhyuk masuk ke mobil dan sebisa mungkin menyesuaikan posisi terminator di pangkuannya. Ketika donghae duduk disebelahnya barulah ia melihat darah di tangan dan lengan pria itu. "kau terluka?"

"luka ringan di lengan atasku. Akan sembuh."

"ya ampun, hunter. Bagaimana mungkin kau tahan melakukan apa yang kau lakukan?"

Donghae tertawa. "aku sudah melakukannya untuk waktu yang sangat lama, sejujurnya aku tidak ingat seperti apa rasanya hidup sebelum aku mati."

"kau benar-benar mati,kan? Aku sedikit bingung dengan semua ini. Kau memiliki denyut jantung dan kau bisa berdarah, belum lagi kulitmu hangat saat di sentuh. Itu menandakan keidupan, kan?"

Donghae menghidupkan mobilnya dan melaju untuk menghindari polisi. "ya dan tidak. Saat kami mati, artemis menggunakan kekuatannya untuk memerangkap jiwa kami. Setelah jiwa kami dikendalikan, kami dihidupkan kembali."

"bagaimana caranya?"

"karena aku sudah mati waktu itu, aku tidak tahu. Yang kutahu hanyalah segalanya berubah hitam, lalu aku terbangun dengan kekuatan dan tenaga yang belum pernah kukenal sebelumnya."

Eunhyuk memikirkannya sambil mengusap kepala terminator agar tetap diam. "apa itu artinya kau bisa mati lagi?"

"iya."

"lalu, apa yang akan terjadi?"

Donghae menarik napas dalam-dalam. "kalau kami mati sebelum mendapatkan jiwa kami kembali, kami berjalan di bumi selamanya tanpa kekuatan. Kami terperangkap sebagai bayangan di dalam tubuh jasmani kami, tapi tidak mempunyai inti, artinya kami tidak bisa menyentuh apapun atau didengar oleh siapapun selain para oracle. Kami butuh makan dan minum, tapi tidak bisa memuaskan rasa lapar dan dahaga kami. Itu perjalan singkat dari kutukan parsial menuju kutukan total."

Eunhyuk melongo karena merasa ngeri mendengar nasib semacam itu. Ia tidak tahan membayangkan sesuatu yang seperti itu terjadi kepada donghae. "apa itu juga akan terjadi bahkan kalau seorang daimon membunuhmu?"

Donghae mengangguk.

"itu tidak adil."

Donghae mendengus dan melirik eunhyuk. "kehidupan macam apa yang kau jalani sehingga segala sesuatu menjadi sebuah pertanyaan tentang adil dan tidak adil? Kehidupan dan kematian adalah kehidupan dan kematian. Tidak berhubungan dengan keadilan."

Ada sesuatu dalam pernyataan tersebut yang mengungkapkan banyak hal. Sudah berapa kali donghae mengalami ketidak adilan sehingga merasa seperti itu? Pemikiran itu segera disusul oleh pemikiran lainnya.

"kata kyuhyun kau bisa mendapatkan jiwamu kembali."

"secara teori, iya."

"teori?"

"kami diberikan hak untuk mengundurkan diri, tapi dalam dua ribu tahun terakhir... hanya segelintir yang berhasil. Sebagian besar yang mencoba berakhir sebagai bayangan."

Mengerikan sekali. dari suara donghae, eunhyuk tahu pria itu sudah menyerah hingga mencoba saja tidak mau.

"apa yang harus kau lakukan untuk mendapatkan jiwamu kembali?"

"aku tidak tahu, manis. Tidak ada yang tahu karena jalan menuju penebusan berbeda bagi setiap dark hunter. Yang kutahu hanyalah bahwa begitu waktu untuk menjatuhkan keputusan tiba, si dark hunter akan dibebaskan atau di kutuk sepanjang keabadian."

Yang tidak dikatakan donghae kepada eunhyuk adalah bahwa untuk bebas, seorang dark hunter harus mempercayakan jiwanya di tangan seseorang yang mencintainya. Telah di kecewakan dengan sangat kejam oleh istrinya, ia tidak akan pernah mempercayakan tubuhnya ataupun jiwanya kepada siapa-siapa lagi. Persetan dengan jiwa abadinya. Ia sudah melihat terlalu banyak saudaranya terperangkap sebagai bayangan karena orang yang mereka percayai gagal dalam ujian. Dan dibalik otaknya, tersimpan suatu kesadaran bahwa tidak ada wanita yang bisa mencintainya. Sedikitpun tidak. Apalagi mencintainya dengan cukup supaya bisa membebaskannya.

"mengapa kau mau menjalani kehidupan ini?" tanya eunhyuk.

"sudah kubilang, aku mendapat penghasilan yang tak terbatas dan keabadian. Apalagi yang kucari?"

Eunhyuk tidak mempercayai jawaban donghae. Itu terlalu sederhana dan donghae tidak tampak sedangkal itu. "hanya saja kau tidak terkesan serakah di mataku."

"oh ya?"

"ya. Kau lebih baik dari itu. Lebih murah hati. Orang serakah tidak meninggalkan hadiah-hadiah manis seperti yang kau tinggalkan untuk kyuhyun dan keluarganya. Apa aku bisa mengajukan pertanyaan lain?"

Donghae menghela napas dengan kesal. "apa-apaan ini? Kau sudah menanyakan segalanya padaku."

Eunhyuk tidak menghiraukan kata-kata donghae yang pedas. "mengapa kau menjadi seorang dark hunter?"

"aku ingin membalas dendam dengan cara apapun."

"kepada sohyun, istrimu?"

Kali ini kepedihan di wajah donghae terlihat sangat jelas. Tangannya mencengkram setir dengan begitu erat. Eunhyuk menarik napas dalam-dalam sambil mengelus kepala terminator. Ia tidak bisa menyalahkan donghae kalau pria itu ingin membalas dendam kepada wanita yang sudah begitu berdarah dingin dan menyerahkannya kepada musuh-musuhmu.

"kyuhyun bilang para dewa memberimu waktu dua puluh empat jam untuk membals dendam. Apa yang kau lakukan padanya?"

"demi dirinya, aku meninggalkan keluargaku. Aku melepaskan kerajaan dan melukai orang-orang yang sangat menyayangiku. Karena sohyun, kata-kata terakhir yang kuucapkan kepada orang tuaku begitu menyakitkan dan kejam. Dan saat mereka menyampaikan berita kematianku kepada ayahku, rasa duka membuatnya gila. Ayahku... ayahku... terjun dari jendela kamar yang kutinggali sewaktu aku masih kecil ke halaman batu di bawah, sambil memanggil namaku. Ibuku tidak pernah bicara lagi hingga hari ketika dia mati, dan adik perempuanku yang paling kecil mencukur rambutnya untuk memberitahu dunia betapa dalam dukanya. Tanpa diriku yang memimpin pasukan, tentara romawi menyerang dan mengambil alih kampung halamanku. Rakyatku kehilangan kehormatan dan menderita selama berabad-abad di bawah penjajahan romawi. Ehem, katakan padaku apa yang akan kau lakukan kepada istriku?"

Air mata merebak dimata eunhyuk saat mendengar kepedihan dalam suara hunter. Betapa ia ikut merasa terluka. Oh tuhan, tidak ada orang yang pernah mendapat hukuman seperti itu karena mereka keliru mengira seseorang mencintai mereka. Tapi yang mengejutkan bagi eunhyuk adalah donghae sama sekali tidak menyebutkan apa yang sudah dilakukan sohyun kepadanya. Pria itu hanya menyesali apa yang menimpa keluarga dan negrinya.

"aku tidak tahu. Kurasa aku akan membunuhnya juga sepertimu." Bisik eunhyuk.

"kebanyakan orang berpikir begitu. Tapi aku tidak membunuhnya. Aku mencekiknya dan sudah hampir mengakhiri hidupnya saat dia memandangku dengan mata yang berkaca-kaca dan ketakutan. Sesaat aku ingin membunuhnya, tapi hal selanjutnya yang kusadari, aku menyeka air matanya dan mencium bibirnya yang bergetar, lalu aku meninggalkannya disana dalam damai. Jadi, kau tahu, kau duduk di sebelah orang paling tolol yang pernah dilahirkan. Seorang pria yang menukar jiwanya untuk suatu pembalasan dendam yang tidak pernah ia lakukan."

Seluruh kengerian dari masa lalu donghae menyambar eunhyuk. Setelah segala sesuatu yang donghae alami karena istrinya, setelah sesuatu yang direnggut darinya, ia masih mencintai wanita itu. Secara mendalam. Apapun yang telah dilakukan sohyun kepada donghae, pada akhirnya donghae memaafkan wanita itu. Bagaimana mungkin ada orang yang tega mengkhianati seseorang yang memiliki cinta dan kesetiaan sebesar itu?

Dengan hati sedih, eunhyuk memperhatikan jalan ketika mereka melewati rumah-rumah besar bergaya perang saudara, dimana pohon-pohon pinus besar ditutupi oleh berton-ton lumut yang menggantung.

Donghae berhenti di sebuah jalan masuk rumah yang berada di ujung jalan. Pepohonan menghalangi pandangan eunhyuk ke arah rumah itu dan dua buah tiang batu besar mengapit gerbang besi tebal setinggi tiga setengah meter. Tembok bata merah yang tinggi mengelilingi pekarangan yang tampaknya terbentang tanpa batas. Tempat itu kelihatan seperti benteng.

Donghae mengambil sebuah remote dari laci mobil, menekan tombol, dan gerbang tebal itupun mengayun terbuka. Napas eunhyuk tertahan di tenggorokan ketika donghae mengemudi menyusuri jalan masuk yang panjang dan berbelok dan akhirnya ia bisa melihat dimana pria itu tinggal.

Rumah donghae sangat besar. Gaya arsitektur neoklasiknya merupakan gaya terbaik yang pernah ia lihat. Pilar-pilar tinggi tersebar di sekeliling rumah, dan balkon atasnya dihiasi ornamen-ornamen besi putih.

Donghae mengemudi kebagian belakang rumah dan memasuki garasi yang bisa memuat enam mobil. Eunhyuk melihat donghae juga memiliki mercedes, porsche, jaguar antik, dan sebuah buick baru yang tampak tidak cocok berada disana. Oke, lamborghini itu memang sudah menunjukkan bahwa donghae memiliki banyak uang, tapi eunhyuk belum pernah bermimpi pria itu hidup seperti ini.

Begitu pintu garasi menutup di belakang mereka, donghae membantu eunhyuk keluar dari mobil. Ia melepaskan terminator di pekarangan belakang, kemudian membawa eunhyuk masuk kerumah yang sangat besar itu. Mata eunhyuk berusaha memandang semuanya sekaligus ketika mereka menyusuri lorong kecil yang menuju ke dapur dimana seorang wanita kurus yang sudah agak tua sedang mengeluarkan sesuatu yang lezat dari oven. Dapur donghae sangat besar, dengan pelaratan baja tahan karat dan benda-benda antik yang berjejer di dinding hijau tua dan meja konter yang terbuat dari marmer.

"rosa ahjumma." Cetus donghae dengan nada menegur sambil meletakkan kunci di atas konter yang berada didekat pintu. "apa yang kau lakukan disini?"

Rosa tersentak. "omo! Kau mengagetkanku. Kau membuatku ketakutan dan bertambah tua sepuluh tahun."

"aku akan membuatmu lebih ketakutan lagi kalau ahjumma tidak melakukan apa yang dikatakan oleh dokter. Ahjumma dan aku punya kesepakatan. Apa aku harus menelpon anakmu lagi?"

Rosa memicingkan matanya kepada donghae sambil meletakkan penggorengan yang berisi ayam di atas kompor. "jangan megancamku. Aku yang melahirkan anak itu dan aku tidak akan mengijinkannya menceramahiku tentang apa yang harus kulakukan dan itu juga termasuk dengan dirimu. Aku sudah mengurus rumahku sendiri jauh sebelum kau dilahirkan. Kau dengar aku?"

"ya ahjumma."

Rosa terdiam saat melihat eunhyuk. Senyum lebar mengembang di wajahnya. "senang bisa melihatmu bersama seorang wanita, nak."

Donghae memandang eunhyuk dengan malu-malu. Ia menghampiri kompor dan memeriksa kompor. "baunya lezat, gomawoyo."

Rosa tersenyum bangga waktu melihat donghae menikmati makanannya. "aku tahu, karena itulah aku membuatnya. Aku bosan melihat kantong makanan beku dan siap saji di tempat sampah. Kau harus makan makanan yang sesungguhnya sesekali. Makanan-makanan kemasan itu akan membunuhmu."

Donghae mengulas senyum lembut dengan bibir terkatup kepada eunhyuk. "kurasa aku bisa menanganinya.

Rosa mendengus. "kita semua berpikir kita bisa, dan karena itulah aku harus meminum obat jantung sekarang."

"harusnya kau sudah pulang ahjumma, ahjumma sudah berjanji kepadaku."

"ya ya ya, aku mau pulang. Aku menyimpan salad untukmu di lemari es. Seharusnya cukup untuk kalian berdua."

Donghae mengambil mantel rosa dari punggung kursi dan membantu wanita itu mengenakannya. "besok ahjumma libur."

"tapi besok tukang kebun datang."

"giljun bisa membukakan pintu untuknya."

"tapi..."

"ahjumma, percayalah. Giljun bisa mengurusnya."

Rosa menepuk tangan donghae dengan penuh kasih sayang. "kau anak yang baik,nak. Sampai jumpa hari rabu.

"tapi tidak sebelum tengah hari."

"baiklah. Selamat malam."

"selamat malam ahjumma."

"wah, ternyata kau tahu juga caranya bersikap baik pada seseorang." Goda eunhyuk.

Donghae menahan senyumnya. "kalau sedang ingin."

Donghae mangambil garpu dan pisau, mengiris sepotong kecil ayam yang tadi dimasak oleh rosa. "ini enak. Kau harus mencoba mencicipinya." Donghae mengiris sepotong lagi dan menyuapkan kepada eunhyuk.

"enak sekali."

Tanpa berkata apa-apa lagi, donghae mengeluarkan piring untuk mereka. Saat memperhatikan donghae, seluruh kengerian malam itu melanda eunhyuk.

"rumahku sudah tidak ada, benar-benar musnah. Begitu pula dengan rumah ryeowook." Ucap eunhyuk.

Donghae menyingkirkan piring sewaktu merasakan kesedihan eunhyuk menyentuhnya. Rasa itu merupakan gelombang kehilangan yang mengejutkan. Eunhyuk menatap donghae dengan sedih.

"mengapa dia membakar rumahku?"

"setidaknya kau tidak berada didalamnya."

Sebelum eunhyuk berkata lagi, tanpa berpikir, donghae menarik eunhyuk ke dalam pelukannya. "gwenchana hyukkie, aku bersamamu." Donghae membeku ketika menyadari apa yang sudah ia lakukan. Ia menyebutan nama eunhyuk dan setelahnya, ia merasakan suatu penghalang runtuh di dalam.

Eunhyuk menangis didada donghae, eunhyuk tahu itu hanya sebuah rumah. Tapi, barang-barangnya ada di sana dan banyak kenangan. Donghae memejamkan mata dan menyandarkan pipinya ke kepala eunhyuk semantara wanita itu berpegangan kepadanya. Sudah berabad-abad berlalu sejak terakhir kali ia merasa seperti ini, dan itu membuatnya sangat terguncang.

"apa desiderius bisa menangkap ryeowook?"

"tidak. Selama dia berada di tempat tinggal pribadi manusia, desiderius tidak bisa menangkapnya. Itu salah satu batasan yang diberikan apollo kepada mereka saat mengutuk mereka supaya manusia terlindungi."

"maafkan aku." Eunhyuk menarik napas dengan kasar dan menjauh dari donghae dan menghapus air mata dari wajahnya.

Donghae menggertakkan gigi saat melihat bagaimana tangan eunhyuk gemetar. Ia bisa membunuh desiderius karena menyakiti eunhyuk seperti ini.

"biasanya aku tidak menangis didepan orang. Mian."

Donghae menangkup pipi eunhyuk. "jangan meminta maaf. Kau benar-benar menghadapinya dengan jauh lebih baik ketimbang orang lain yang berada pada situasi seperti ini."

Eunhyuk memandang donghae. Jantung donghae berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya karena kerentanan yang ia lihat. Kerentanan yang begitu menyentuhnya. Ia menginginkan eunhyuk. Sangat menginginkan. Ia sudah tidak pernah merasa seperti ini untuk waktu yang sangat lama. Ia belum pernah merasa seperti ini terhadap wanita lain, atau bahkan tehadap sohyun sekalipun. Ini bukan hanya napsu atau cinta, ia merasakan suatu ikatan dengan eunhyuk. Mereka bagaikan dua bagian dari sebuah hati. Tapi itu bohong. Pasti bohong. Ia sudah tidak percaya lagi. Membuatnya merindukan hal-hal yang sudah ia lupakan. Hal-hal seperti tangan lembut dirambutnya waktu ia bangun. Merasakan hangat tubuh yang berbaring disebelahnya saat ia tidur. Ia nyaris tak berdaya karena itu.

Ponsel donghae berbunyi dan menyadarkan dari lamunannya. Donghae mengangkat panggilan dari kangin.

"apa wanita itu bersamamu?" tanya kangin.

"iya. Waeyo hyung?"

"karena kau punya satu masalah besar. Si apollite memberitahuku bahwa kebakaran-kebakaran itu dipicu oleh pengatur waktu elektronik yang disembunyikan didalam rumah."

Donghae mengerutkan dahinya, kemudian menjadi dingin sewaktu teringat akan sesuatu yang dikatakan eunhyuk padanya kemarin. Ia mengarahkan perhatian eunhyuk kepadanya.

"hyuk, bukankah kau mengatakan bahwa desiderius menangkapmu sewaktu kau ada dirumah ryeowook?"

Eunhyuk mengangguk. "iya. Diruang tamunya."

"apa kau mendengarnya hyung?" tanya donghae pada kangin.

"bagaimana mungkin?" kangin mengumpat.

"pasti ada yang mengundang desiderius masuk, berarti ada manusia yang bekerja dengan atau untuknya. Aku yakin ryeowook tidak sebodoh itu."

"luna juga tidak. Dia tahu harus berhati-hati terhadap orang yang mencurigakan." Eunhyuk menambahkan.

"ada ide?" tanya donghae pada kangin sambil memikirkan perkataan eunhyuk.

"aku tidak tahu."

"apa yang dikatakan pemandumu?"

"dia tidak tahu apa-apa dan ada masalah kecil lainnya, punggungku belum pulih."

"belum pulih? Bagaimana bisa?"

"aku diserang dengan ledakan astral. Sama seperti yang digunakan oleh dewa."

Donghae menghela napas lelah. "masalah apa yang kita hadapi ini?"

"entahlah, tapi sebelum kita tahu lebih banyak, kusarankan kau duduk dekat dengan wanita itu. Dengan kekuatan terpendamnya, dia pasti menjadi incaran desiderius. Aku yakin changmin lebih menginginkannya daripada sepupunya itu."

Donghae menggeser ponsel sewaktu melihat eunhyuk duduk di mejanya. Demi para dewa, ia tidak tahan memikirkan eunhyuk terluka. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh itu membuatnya gelisah.

"apa kau butuh bantuan dengan punggungmu,hyung?"

"tidak. Hanya menimbulkan rasa sakit setengah mati."

Donghae tahu seperti apa saja masih perih karena serangan aphrodite. "kurasa aku mulai mengerti bagaimana desiderius membunuh kedelapan dark hunter sebelumnya yang mengejarnya."

"ya, dan aku tidak mau kita menjadi yang kesembilan dan kesepuluh."

"ya hyung, aku juga tidak mau. Oke, aku akan mengamankan eunhyuk didekatku, tapi kita masih memiliki masalah dengan ryeowook diluar sana."

"aku bisa meminta yesung mengekang ryeowook untuk sementara. Pastikan saja eunhyuk tetap berhubungan dengannya atau kemungkinan dia akan membuat hidup kita menjadi semakin sulit lagi."

"aku akan melakukannya hyung." Donghae menutup telepon dan melempar ponselnya ke konter.

"apa ada yang salah?" tanya eunhyuk.

Donghae tertawa walaupun sedang tidak ingin. "menurutku pertanyaan yang lebih sesuai adalah, apa ada yang tidak salah?"

"maksudmu?"

"maksudku, hidup membosankanmu baru saja berakhir dan selama berapa hari kedepan, sepertinya kau akan mendapati betapa berbahayanya hidupku."

.

.

.

TBC

Finally bab6 update kkk, harusnya aku jadikan dua bagian tapi takut kelamaan dan gak tamat tamat. Huhu maap, saya update telat, masih sedih karena donghae eunhyuk wamil dan saya harus ke jakarta karena panggilan kerja u.u

Thanks to :

cho. .794, elfrida, nurichan4, .1, el, Miss Chocoffee

Chap depan... gatau kapan bakal aku update, masih proses sih hihi see you di chap depan.